• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fungsi, Manfaat, dan Tujuan Analisis SWOT

BAB II LANDASAN TEORI

2. Fungsi, Manfaat, dan Tujuan Analisis SWOT

Analisis SWOT memiliki fungsi, manfaat, dan tujuan sebagai berikut:4

a. Fungsi Analisis SWOT

Secara umum analisis SWOT sudah dikenal oleh sebagian besar tim teknis penyusun rencana perusahaan.

Sebagian dari pekerjaan pereencanaan strategi terfokus pada apakah perusahaan mempunyai sumber daya dan kapabilitas memadai untuk menjalankan misi dan mewujudkan visinya.

Pengenalan akan kekuatan yang dimiliki akan membantu perusahaan untuk menaruh perhatian dan melihat peluang- peluang baru, sedangkan penilaian yang jujur terhadap kelemahan-kelemahan yang ada akan memberikan bobot realism pada rencana-rencana yang akan dibuat perusahaan. Jadi, fungsi

4 Ibid., 10.

analisis SWOT adalah menganalisa mengenai kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan, serta analisa mengenai peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan yang dilakukan melalui telaah terhadap kondisi eksternal perusahaan.

b. Manfaat Analisis SWOT

Analisis SWOT bermanfaat apabila telah secara jelas ditentukan dalam bidang apa bisnis beroprasi dan arah mana perusahaan menuju ke masa depan serta ukuran apa saja yang digunakan untuk meneliti keberhasilan manajemen perusahaan dalam menjalankan misinya dan mewujudkan misinya dari hasil analisis akan memetakan posisi perusahaan terhadap lingkungannya dan menyediakan pilihan strategi umum yang sesuai serta dijadikan dasar dalam menetapkan sasaran-sasaran perusahaan selama 3-5 tahun kedepan untuk memenuhi kebutuhan dan harapan para stakeholder atau analisis SWOT berguna untuk menganalisa faktor-faktor di dalam perusahaan yang memberikan andil terhadap kualitas pelayanan atau salah satu komponennya sambil mempertimbangkan faktor-faktor eksternal.

c. Tujuan Analisis SWOT

Tujuan utama analisis SWOT adalah mengidentifikasi strategi perusahaan secara keseluruhan. Hampir setiap perusahaan maupun pengamat bisnis dalam pendekatannya

banyak menggunakan analisis SWOT. Kecenderungan ini tampaknya akan terus semakin meningkat, yang mana satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling tergantung.

Penggunaan analisis SWOT ini sebenarnya telah muncul sejak lama mulai dari bentuknya yang paling sederhana, yaitu daklam rangka menyusun strategi untuk mengalahkan musuh dalam pertempuran.

Konsep dasar pendekatan SWOT tampaknya sederhana sekali sebagaimana dikemukakan oleh Sun Tzu bahwa apabila kita telah mengenali kekuatan dan kelemahan lawan, sudah dapat dipastikan kita dapat memenangkan pertempuran. Dalam perkembangannya saat ini analisis SWOT tidak hanya dipakai untuk menyusun strategi di medan pertempuran, melaikan banyak dipakai dalam penyusunan perencanaan bisnis yang bertujuan untuk menyusun strategi-strategi jangka panjang sehingga arah dan tujuan perusahaan dapat dicapai dengan jelas dan dapat segera diambil keputusan berikut semua perubahannya dalam menghadapi pesaing.5

Pentingnya analisis SWOT dalam menjalankan suatu usaha juga dijelaskan dalam QS. Al-Hasyr:18, yakni sebagai berikut:

5 Ibid.

ِبَخ ََّللَّا َّنِإ ََّللَّا اوُقَّ تاَو ٍدَغِل ْتَمَّدَق اَم ٌسْفَ ن ْرُظْنَ تْلَو ََّللَّا اوُقَّ تا اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اََ ي ٌير

( َنوُلَمْعَ ت اَِبِ

١٨ )

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Hasyr:18)6

Ayat tersebut di atas menjelaskan, bahwa suatu usaha perlu melakukan adaptasi dalam perencanaan, setiap kegiatan perencanaan harus memperhatikan situasi dan kondisi yang terkait dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan atau yang akan datang, hal ini bisa dipahami karena prinsip keterkaitan satu sama lain dari ketiga masa atau waktu itu.7

Berdasarkan tafsir ayat tersebut di atas, apabila dikaitkan dengan analisis SWOT maka dapat dipahami bahwa suatu usaha bisnis yang dilakukan harus selalu difikirkan (direncanakan) agar tidak rugi dan pada akhirnya bisa bermanfaat.

3. Faktor-Fakor Analisis SWOT

Untuk menganalisis secara mendalam maka perlu melihat faktor-faktor analisis SWOT. Yaitu, faktor eksternal dan internal suatu perusahaan.8

6 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya, (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2010), 547.

7 Hadhiri, choiruddin SP, Klarifikasi Kandungan Al-Quran Jilid 1, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), 157

8 Irham Fahmi, Pengantar Manajemen Keuangan. (Bandung: Alvabeta, 2014), 260

a. Faktor Eksternal

Faktor eksternal ini mempengaruhi terbentuknya opportunities dan threats (O and T). Dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi-kondisi yang terjadi di luar perusahaan yang mempengaruhi dalam pembuatan keputusan perusahaan. Faktor ini mencakup lingkungan industri dan lingkungan bisnis makro, ekonomi, politik, hukum, teknologi, kependudukan, dan sosial budaya.

b. Faktor Internal

Faktor internal ini mempengaruhi terbentuknya strengths dan weakness (S and W). Dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi yang terjadi dalam perusahaan, yang mana ini turut mempengaruhi terbentuknya pembuatan keputusan perusahaan. Faktor internal ini meliputi semua macam manajemen fungsional: pemasaran, keuangan, operasi, sumberdaya manusia, penelitian dan pengembangan, sistem informasi manajemen, dan budaya perusahaan.

Kinerja perusahaan dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan faktor eksternal, untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang timbul dalam perusahaan, maka sangat diperlukan penelitian yang sangat cermat sehingga mampu menemukan strategi yang sangat cepat dan tepat dalam mengatasi masalah yang timbul dalam perusahaan.

B. Kebangkrutan

1. Pengertian Kebangkrutan

Kebangkrutan (bankcruptcy) merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya.

Perusahaan yang mengalami kesulitan ekonomi akan lebih cepat mengalami kebangkrutan, karena kesulitan ekonomi akan memicu semakin cepatnya kebangkrutan perusahaan yang mungkin tadinya sudah sakit kemudian semakin sakit dan bangkrut. Perusahaan yang belum sakitpun akan mengalami kesulitan dalam pemenuhan dana untuk kegiatan operasional perusahaan akibat adanya krisis ekonomi tersebut. Namun demikian, proses kebangkrutan sebuah perusahaan tentu saja tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi saja, tetapi bisa juga disebabkan oleh faktor lain yang sifatnya non ekonomi.9

Kebangkrutan adalah kondisi disaat perusahaan mengalami ketidakcukupan dana untuk menjalankan usahanya. Sehingga perusahaan tidak mampu melanjutkan kegiatan oprasionalnya dengan lancar seperti sebelumnya, dikarenakan dana yang tidak mencukupi.

Sedangkan, Menurut Lesmana kebangkrutan adalah ketidakpastian mengenai kemampuan atas suatu perusahaan untuk melanjutkan

9 Tri Setyono, Analisis Terhadap Faktor-Faktor Kebangkrutanpada Industri jamu Tradisional Parang Husada di Kabupaten Kediri, Simki-Economic, Vol. 01 No. 05, 2017, 10.

kegiatan operasinya jika kondisi keuangan yang dimiliki mengalami penurunan.10

Kebangkrutan merupakan kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba.

Kebangkrutan juga merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya. Kondisi ini biasanya tidak muncul begitu saja di perusahaan, ada indikasi awal dari perusahaan tersebut yang biasanya dapat dikenali lebih dini kalau laporan keuangan dianalisis secara lebih cermat dengan suatu cara tertentu.

Rasio keuangan dapat digunakan sebagai indikasi adanya kebangkrutan di perusahaan.11

Kebangkrutan merupakan masalah yang dapat terjadi dalam sebuah usaha apabila usaha tersebut mengalami kondisi kesulitan.

Kesulitan yang dapat menyebabkan kebangkrutan terdiri dari dua faktor yaitu, kesulitan yang disebabkan dari faktor eksternal dan kesulitan yang disebabkan dari faktor internal. Dari faktor eksternal seperti terjadinya kesulitan bahan baku atau kesulitan sumber daya, sehingganya kehilangan kesempatan dalam melakukan produksi dan menghasilkan profit, kemudian kesulitan diakibatkan faktor alam seperti terjadinya bencana yang memaksa melakukan pembubaran.

Sedangkan untuk faktor internal bisa dilihat dari segi keuangan, yaitu

10 Rico Lesmana, Pedoman Menilai Kinerja Untuk Perusahaan Tbk, Yayasan, BUMN, BUMD, dan Organisasi Lainnya, Edisi Pertama, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2003), 174.

11Prihadi Toto, Analisis Laporan Keuangan Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PPM, 2011), 332.

kesulitan terjadi apabila sudah tidak mampu lagi membayar semua hutang-hutangnya dan memenuhi kewajibannya sehingga mulai melakukan pembubaran.12

2. Dasar Hukum Kebangkrutan

Pengaturan mengenai Kepailitan di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, yang dalam Pasal 2 menyebutkan:

1. Debitor yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.

2. Permohonan dapat juga diajukan oleh kejaksaan untuk kepentingan umum.

Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan kreditor dalam ayat ini adalah baik kreditor konkuren, kreditor separatis, maupun kreditor preferen. Khusus mengenai kreditor separatis dan kreditor preferen, mereka dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit tanpa kehilangan hak

12Ibid.

agunan atas kebendaan yang mereka miliki terhadap harta debitor dan haknya untuk didahulukan.13

Dasar hukum Hukum Kepailitan Indonesia tidak hanya yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, tetapi juga segala sesuatu yang berkaitan dengan kepailitan yang diatur dan tersebar di berbagai peraturan perundang-undangan.

Asas Hukum Kepailitan Indonesia secara umum diatur dalam Pasal 1131 KUH Perdata dan asas khusus dimuat dalam Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.14

Dalam hubungan dengan peraturan perundang-undangan kepailitan, peraturan dimaksud juga berfungsi untuk melindungi kepentingan pihak-pihak terkait dalam hal ini Kreditor dan Debitor, atau juga masyarakat. Mengenai hal ini, penjelasan umum Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 menyebutkan beberapa faktor perlunya pengaturan mengenai kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang. Faktor-faktor dimaksud yaitu:

1. Untuk menghindari perebutan harta debitor apabila dalam waktu yang sama ada beberapa kreditor yang menagih piutangnya dari debitor.

2. Untuk menghindari adanya kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara menjual barang

13 Adrian Sutedi, Hukum Kepailitan, (Bogor, Ghalia Indonesia, 2009), 24

14 Syamsudin Sinaga, Hukum Kepailitan Indonesia, (Jakarta, Tatanusa, 2012), 34

milik debitor tanpa memperhatikan kepentingan debitor atau para kreditor lainnya.

3. Membagikan harta debitor secara adil dan seimbang menurut besar atau kecilnya piutang masing-masing kreditor.

4. Untuk menghindari adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh salah seorang kreditor atau debitor sendiri. Misalnya, debitor berusaha untuk memberi keuntungan kepada seorang atau beberapa orang kreditor tertentu sehingga kreditor lainnya dirugikan, atau adanya perbuatan curang dari debitor untuk melarikan semua harta kekayaannya dengan maksud untuk melepaskan tanggung jawabnya terhadap para keditor.15

Kepailitan ini tidak hanya menimpa pada orang perorangan namun juga pada suatu perusahaan. Suatu perusahaan yang dinyatakan pailit pada saat ini akan membawa dampak dan pengaruh buruk, bukan hanya pada perusahaan itu saja namun juga dapat berakibat global.

3. Faktor-faktor kebangkrutan

Kebangkrutan usaha muncul karena beberapa hal, tetapi bila dikelompokkan akan terdapat 3 faktor utama penyebab kebangkrutan, yaitu:16

1. Kebangkrutan yang disebabkan oleh diri sendiri 2. Kebangkrutan karena faktor dari luar

15 H.Man S. Sastrawidjaja, Hukum Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, (Bandung, Alumni, 2006), 72

16 Prihadi Toto, Analisis Laporan Keuangan Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PPM, 2011), 332.

3. Kebangkrutan bencana alam.

Adapun faktor-faktor yang menjadi penyebab mundurnya sebuah usaha sehingganya terjadilah kebangkrutan yaitu:17

1. Faktor Perencanaan

Banyak usaha yang tiba-tiba tutup karena tidak mempunyai rencana yang jelas. Pemilik usaha membiarkan usaha usahanya berjalan sesuai keadaan sehingga seperti layaknya kapal yang berlayar tanpa arah sehingga terombang ambing ditengah laut.

Tidak adanya perencanaan dalam usaha akan menyebabkan kegagalan dalam usaha. Perencanaan dapat berupa perencannaan jangka panjang dan jangka pendek. Perencanaan bagaimana usaha kedepannya akan menentukan arah gerak pertumbuhan usaha yang pada suatu saat akan membentuk seperti apa usaha kedepannya, perencanaan harus matang dan tersusun rapi serta tercatat

2. Faktor Manusia (SDM)

Manusia adalah penggerak dan pengelola sebuah usaha, baik itu usaha kecil maupun usaha yang besar. Sumber daya manusia yang baik akan menjadi sentral kesuksesan sebuah usaha, ketika sumber daya manusianya buruk maka akan sangat berpengaruh pada perjalanan sebuah usaha dan dapat menyebabkan mundurnya sebuah usaha sehingganya perlu

17 Hendro, Dasar-dasar Kewirausahaan,(Jakarta: Erlangga, 2011), 47.

menentukan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat melaksanakan sebuah usaha sesuai dengan perencanaan.

3. Faktor Keuangan

Kesulitan keuangan menjadi faktor kegagalan sebuah usaha. Sebab masalah keuangan berarti masalah energi sebuah usaha. Tanpa keuangan (arus kas/chas flow) yang lancar sebuah usaha akan sulit atau bahkan tidak bisa berhasil, karena arus kas dalam sebuah usaha bagaikan darah dalam tubuh manusia, apabila arus kas tidak mengalir maka dapat dipastikan sebuah usaha pasti akan berhenti. Sehingganya faktor keuangan ini juga sangat penting bagi kelangsungan sebuah usaha.

4. Faktor Administrasi

Administrasi sering diartikan sebagai serangkaian kegiatan perencanaan keuangan, pencatatan, penagihan, personalia, dan distribusi logisik serta barang dalam suatu usaha. Administrasi sangat membantu dalam proses pengembangan usaha, namun banyak pengusaha yang mengabaikan pencatatan kegiatan oprasional yang dilakukan, padahal banyak dampak yang terjadi jika suatu kegiatan usaha dilakukan tanpa pencatatan, dengan pencatatan yang baik maka pemilik usaha dapat mengevaluasi, apakah usaha yang dijalankan dekat dengan keuntungan atau ancaman kebangkrutan.

5. Pengelolaan Usaha.

Pengelolaan usaha yang baik sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan sebuah usaha, selain perencanaan perlu adanya pengelolaan agar dapat mencapai tujuan dari usaha yang dijalankan, perencanaan yang baik tanpa adanya pengelolaan yang baik akan berakibat pada gagalnya pencapaian tujuan dari usaha yang ada sesuai dengan yang direncanakan. Maka dari itu perlu adanya pengelolaan yang baik dalam sebuah usaha agar kegiatan usaha tetap berjalan.

6. Faktor Pemasaran dan Penjualan

Usaha yang tidak melakukan riset berarti usaha yang asal-asalan atau cenderung nekat sehingga mudah sekali jatuh karena tidak ada link dengan pasarnya . Pemasaran dan penjualan merupakan kendali bagi gerbong-gerbong lainya seperti keuangan, personalia, produktif distribusi, logistik pembelian, jadi pemasaran dan penjualan memainkan peranan penting bagi kelancaran sebuah usaha. Banyak usaha yang gagal karena hanya mementingkan gerbong-gerbongnya saja dan lupa bahwa lokomotifnya belum berjalan dengan baik.

7. Faktor Pesaing.

Perusahaan juga jangan melupakan persaingan karena kalau produk pesaing lebih diterima di masyarakat, maka

perusahaan akan kehilangan konsumen dan hal tersebut akan berakibat menurunnya pendapatan perusahaan.

Menurut Karakaya dan Kobu (1994), identifikasi penyebab kegagalan usaha sehingga menyebabkan kebangkrutan usaha dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:18

1. Berkaitan dengan pasar

a. Waktu peluncuran produk kurang tepat

b. Desain produk yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan pasar

c. Tidak mengikuti selera pasar d. Strategi distribusi yang tidak tepat

e. Kemasan produk dan kualitasnya tidak sesuai dengan target pasar.

2. Berkaitan dengan aspek keuangan

a. Harga terlalu mahal dan tidak terjangkau oleh pasar b. Kesulitan aliran dana ( cash fow ) dan berantakan c. Piutang macet terlalu besar

d. Hutang usaha terlalu besar dan tidak dapat mengembalikan kredit atau membayar beban bunga.

3. Berkaitan dengan manajemen

a. Manajemen kualitas terlalu buruk b. Lemah dalam manajemen

18 Ibid., 54.

c. Konsep tim tidak dibangun dengan baik d. Lemah dalam proses produksi

Banyak hal yang dapat menyebabkan kegagalan dalam berusaha.

Kegagalan dapat terjadi karena kesalahan melakukan perhitungan sampai pada faktor-faktor yang memang tidak dapat dikendalikan oleh manusia.

Sukses tidaknya suatu kegiatan usaha pada dasarnya tidak tergantung pada besar-kecilnya ukuran usaha, tetapi lebih dipengaruhi oleh bagaimana mengelolanya. Maka dari itu perlu adanya pengelolaan yang baik dalam sebuah usaha agar kegiatan usaha tetap berjalan.

C. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) 1. Pengertian Usaha Mikro Kecil Menengah

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomer 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, Menengah yang ada beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan pengertian dan kriteria Usaha Mikro, Kecil, Menengah. Pengertian-pengertian UMKM adalah:19

a. Usaha mikro adalah usaha produktif miliki orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi usaha kriteria usaha mikro sebagaimana di atur dalam undang-undang

b. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau anak cabang perusahaan

19 Undang-undang Republik Indonesia Nomer 20 tahun 2008 tentang usaha mikro, makro, dan menengah.

yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang mempunya kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang.

c. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau anak cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana di atur dalam undang-undang.

2. Dasar Hukum UMKM

Dalam konsideran menimbang Undang-Undang No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dinyatakan: a) bahwa masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 harus diwujudkan melalui pembangunan perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi., b) bahwa masyarakat sesuai dengan amanat Ketetapan MPR XVI/MPR-RI/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi, Usaha Kecil, Mikro, dan menengah perlu diberdayakan sebagai bagian integral ekonomi rakyat mempunyai kedudukan peran dan potensi strategis untuk mewujudkan struktur perekonomian nasional yang makin berkembang dan berkeadilan; c) bahwa

pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sebagaimana dimaksud dalam huruf b, perlu diselenggarakan secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui pengembangan iklim yang kondusif, pemberian kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha seluasluasnya, sehingga mampu meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan.20

Penciptaan iklim usaha merupakan refleksi tugas pemerintah yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kebijakan, peraturan dan perundangan yang mengarahkan untuk mengatasi permasalahan eksternal yang dihadapi UMKM dan memfasilitasi terbukanya peluang berusaha secara berkeadilan.

Sementara sebelum UU No. 20 Tahun 2008 ini diberlakukan, Pemerintah sebelumnya telah menerbitkan UU No. 5 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil yang dalam konsiderannya juga menekankan tentang filosofi pentingnya pemberdayaan ekonomi kecil sebagai bagian intergral pembangunan ekonomi nasional dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesempatan berusaha dalam rangka terciptanya masyarakat adil dan makmur. Undang-undang UMKM

20Yusri, Perlindungan Hukum Terhadap Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Dalam Perspektif Keadilan Ekonomi, Kanun Jurnal Ilmu HukumNo. 62, Th. XVI (Banda aceh:

Universitas Syiah Kuala, 2014), 119.

telah menetapkan tujuan dari UMKM sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 yang berbunyi: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.

Sementara itu tujuan pemberdayaan UMKM adalah :

a) Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan;

b) Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri; dan

c) Meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.21

Tujuan dari UMKM itu sendiri yaitu mengentaskan kemiskinan, menumbuhkan perekonomian masyarakat, terciptanya masyarakat yang berperilaku adil dan makmur, membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.

21Ibid., 120.

3. Kriteria Usaha Mikro Kecil Menengah

Kriteria Usaha Mikro Kecil Menengah menurut undang- undang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UU UMKM) adalah sebagai berikut:

a. Kriteria usaha mikro adalah memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah).

b. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut: Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,- (dua miliar lima ratus juta rupiah).

c. Kriteria Usaha Menengah adalah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunantempat usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,- (dua miliar lima

ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.

50.000.000.000,- (lima puluh miliar rupiah).22

Sebagaimana usaha pada umumnya UMKM memiliki kelebihan dan kekurangan.23

a) Kelebihan UMKM

1) Pemilik memiliki kebebasan untuk bertindak,

2) Meningkatkan perubahan struktur ekonomi di daerah tempat berdirinya usaha kecil,

3) Meningkatkan kemampuan produktif sumber daya manusia.

b) Kekurangan UMKM

1) Sistem produksi dan pemasaran relatif lemah, 2) Sulit mendapatkan modal jangka panjang,

3) Pemilik tidak mampu mengelola usaha dan sumber daya manusia.

22 Mukti Fajar, UMKM DI INDONESIA perspektif hukum ekonomi(Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2016), 112.

23 Akifa P Nayla, Komplet Akuntansi Untuk UKM Dan Waralaba, ( Yogyakarta:

Laksana, 2004), 3.

BAB III

METODELOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sifat Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), Menurut Abdurrahmat Fathoni, penelitian lapangan yaitu “suatu penelitian yang dilakukan di lapangan atau di lokasi penelitian, suatu tempat yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif sebagai terjadi di lokasi tersebut, yang dilakukan juga untuk penyusunan laporan ilmiah”.1

Penelitian lapangan (field research) dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode untuk mengumpulkan data kualitatif. Ide pentingnya adalah bahwa peneliti berangkat ke lapangan untuk mengadakan penelitian tentang sesuatu fenomena dalam suatu keadaan ilmiah. Perihal demikian, maka pendekatan ini terkait erat dengan pengamatan-berperan serta. Peneliti lapangan biasanya membuat catatan secara ekstensif yang kemudian dibuatkan kodenya dan dianalisis dalam berbagai cara.2

Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa penelitian ini adalah penelitian lapangan dimana peneliti ke lapangan untuk meneliti secara

1 Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2011), 96.

2 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), 26.

Dokumen terkait