• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Faktor Penguat

DIstribusi Umur Responden

5.1.4 Gambaran Faktor Penguat

Faktor penguat dalam penelitian kali ini antara lain faktor keluarga, teman sebaya dan peraturan sekolah.

a. Gambaran Perilaku Merokok Keluarga

Ada 5 pertanyaan untuk menggambarkan perilaku merokok keluarga.

Sebanyak 30,9% responden mengaku selalu melihat ayahnya merokok di rumah, 21,3% sering, 21,7% kadang – kadang dan 26,1% tidak pernah. Sementara 100%

responden tidak pernah melihat ibunya merokok di rumah. 72,6% responden tidak pernah melihat kakak/adiknya merokok di rumah, 4,3% selalu melihat, 11,7%

sering dan 11,3% kadang – kadang. Hanya 20,9% responden tidak pernah melihat anggota keluarga lain merokok di rumah, sisanya pernah melihat. 35,2% responden tidak pernah disuruh ayahnya untuk membelikan rokok di warung, 16,1% selalu, 24,8% sering dan 23,9% kadang – kadang. Berikut penjelasan dapat dilihat pada tabel 5.6.

Tabel 5.7

Hasil Pernyataan Terkait Perilaku Merokok Keluarga kadang Pernyataan

Selalu Sering Kadang-

Tidak

(%) (%)

(%) Pernah(%) Saya melihat ayah saya merokok di 30,9 21,3 21,7 26,1 rumah

Saya melihat ibu saya merokok di rumah 0 0 0 100

Saya melihat Kakak/adik saya merokok di rumah

4,3 11,7 11,3 72,6

Saya melihat anggota keluarga lainnya merokok di rumah

12,6 28,3 38,3 20,9

Ayah menyuruh saya membelikan rokok untuknya di warung

16,1 24,8 23,9 35,2

Seluruh komponen perilaku merokok keluarga memiliki jumlah skor 20. Skor tertinggi dari responden adalah 17, sedangkan terendah adalah 5. Untuk median sendiri adalah 10. Responden dikatakan memiliki keluarga yang perilaku merokoknya tidak baik jika skor ≥ median (10), sementara memiliki keluarga yang perilaku merokoknya baik jika skor < median (10). Berikut merupakan diagram distribusi gambaran perilaku keluarga responden. Hasil menunjukkan responden memiliki keluarga yang perilaku merokoknya tidak baik dan responden memiliki keluarga yang perilaku merokoknya baik seimbang, yaitu masing – masing 50%.

Gambar 5.7

Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Merokok Keluarga

Jika dipisahkan berdasarkan sekolah, variabel keluarga menunjukkan bahwa pada sekolah swasta responden yang memiliki keluarga dengan perilaku merokok yang tidak baik jumlahnya lebih banyak diibandingkan dengan responden yang memiliki keluarga dengan perilaku merokok yang baik. Hal sebaliknya terjadi pada sekolah negeri di mana responden yang memiliki keluarga dengan perilaku merokok yang baik lebih banyak dibandingkan dengan responden yang memiliki keluarga dengan perilaku merokok yang tidak baik, data lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

kurang baik 50%

baik 50%

Tabel 5.8

Klasifikasi Kategori Keluarga Berdasarkan Sekolah

No Variabel Kategori Sekolah Total

Negeri Swasta

1 Keluarga Kurang

Baik

80(47%) 35(58%) 115(50%)

Baik 90(53%) 25(42%) 115(50%)

Total 170 (100%) 60(100%) 230(100%)

Menurut penuturan seorang guru, dikatakan bahwa rata-rata orang tua siswa SMP di sekolahnya memang merupakan perokok, jumlah orang tua yang merokok lebih besar dibandingkan dengan yang bukan perokok.

“hampir rata-rata orang tua siswa itu merokok, mungkin tidak ada sampai 10% wali murid yang tidak merokok(IF3)”

b. Gambaran Perilaku Merokok Teman Sebaya

Terdapat 5 pertanyaan untuk menggambarkan perilaku teman sebaya terhadap merokok. Sebanyak 95,2% responden mengatakan bahwa temannya tidak pernah merokok di depan responden. Kemudian 80,4% responden tidak pernah ditawari oleh temannya untuk merokok, 87,8% responden tidak pernah dijauhi oleh teman jika tidak tidak mau ikut merokok. Responden yang tidak pernah diingatkan oleh temannya untuk tidak merokok sebesar 93,9%, dan 64,3% responden tidak pernah berdiskusi dengan temannya bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan.

Tabel 5.9

Hasil pernyataan responden terkait perilaku merokok teman sebaya

Pernyataan Selalu Sering Kadang-

kadang

Tidak Pernah Teman saya merokok di depan saya 0,4 2,6 1,7 95,2 Teman saya menawarkan saya untuk 0,4

merokok

11,7 7,4 80,4

Saya dijauhi oleh teman jika tidak mau 0,9 ikut merokok

9,1 2,2 87,8

Teman mengingatkan saya untuk tidak 0 4,8 1,3 93,9 merokok

Seluruh komponen perilaku teman sebaya terhadap perilaku merokok memiliki jumlah skor 20. Hasil skoring menunjukkan skor tertinggi untuk perilaku teman sebaya dalam merokok adalah 17, dan terendah adalah 5 dengan median

11. Responden dikategorikan memiliki teman sebaya yang berperilaku baik jika skornya ≤ median (11), dan memiliki teman sebaya yang berperilaku merokok tidak baik jika skornya > median (11).

Gambar 5.8

Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Merokok Teman Sebaya

Diagram di atas menunjukkan bahwa responden yang memiliki teman sebaya yang berperilaku baik hanya sebesar 33%, sisanya 67% memiliki teman sebaya dengan perilaku merokok yang tidak baik.

Jika dipisahkan berdasarkan sekolah variabel teman sebaya menunjukkan bahwa pada sekolah swasta maupun sekolah negeri, keduanya memiliki jumlah teman yang berperilaku merokok tidak baik yang lebih banyak dibandingkan dengan yang berperilaku merokok baik. Data lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut

baik 33%

tidak baik 67%

Tabel 5.10

Klasifikasi Kategori Teman Sebaya Berdasarkan Sekolah

No Variabel Kategori Sek olah Total

Negeri Swasta

1 Teman Sebaya Baik 119 (70%) 35(58%) 154 (67,2%) Kurang

Baik

50(29,4%) 25(42%) 75(32,4%)

Total 169 (99,4%) 60(100%) 229(99,6%) Missing (1)

c. Gambaran Peraturan sekolah

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 230 siswa, 53,9% nya (124 siswa) menjawab tidak ada peraturan terkait merokok di sekolahnya. Sementara 46,1% (106) menjawab ada peraturan terkait merokok di sekolahnya. Hasil tersebut didapatkan melalui jawaban dari 5 pertanyaan yang diberikan kepada siswa, jika siswa tersebut menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan “YA”, maka peraturan terkait merokok ada, tetapi jika ada satu pernyataan saja yang tidak dijawab dengan “YA” maka peraturan terkait merokok dikatakan tidak ada.

Terkait dengan peraturan sekolah para guru dan kepala sekolah memberikan jawaban yang serempak bahwa memang di sekolah mereka untuk larangan merokok hanya dituangkan berupa tata tertib, belum ada peraturan yang khusus mengatur mengenai larangan merokok pada siswa. Berikut beberapa cuplikan pernyataannya

“secara umum di tata tertib(IF2)”

“masih berupa larangan aja. Belum ada yang spesifik(IF5)”

“sampai sekarang ini nggak ada, hanya di tata tertib, karena masih di level SMP mah masih belum urgent lah ya(IF6)”

Tata tertib yang ada pada kedua sekolah tersebut telah dibuat sejak lama bahkan sejak awal berdirinya sekolah. Dalam pelaksanaannya jika ditemukan kasus siswa yang merokok maka siswa tersebut akan dikenakan sanksi. Sanksi yang diberikan pun beragam, mulai dari teguran hingga pemanggilan orang tua, menulis surat pernyataan bahkan ada yang sampai dihukum berdiri di lapangan dengan dipakaikan tulisan-tulisan.

“Iya..sanksinya berupa teguran, kan ada tingkatannya, mulai dari teguran sampai pemanggilan orang tua(IF2)”

“Kalau masih sekali dua kali mah ditegur aja, kalau udah tiga kali baru dihukum, di tengah lapangan.(IF4)”

“mereka buat pernyataan saja, mereka buat pernyataan bahwa tidak akan mengulang lagi, tidak akan berbuat lagi di sekolah(IF5)”

“kalo ketahuan di kantin kan, di giring sama osis atau sama piket,di bawa ke tengah lapangan, tulisin disini (menunjuk dada) pake kertas “tidak akan merokok lagi” pokoknya dibikin dihukum sejera mungkin (IF1)”

Pihak yang bertanggungjawab untuk menangani siswa tersebut adalah guru BP, bagian kesiswaan, wali kelas, guru piket bahkan sampai kepala sekolah juga bertanggungjawab menangani apabila ditemukan siswa yang merokok di sekolah.

“yang paling bertanggung jawab itu kan bagian kesiswaan, itu bagian kesiswaan bersama-sama dengan walikelas dan juga dengan BP(IF5)”

“eh yang paling jelas mah harusnya wali kelas dulu, sebelum masuk ke BP wali kelas dulu, kepala sekolah mah udah paling akhir(IF6)”

Dokumen terkait