BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Generator 3 Fasa
Generator yang dimana dalam sistem melilitnya terdiri dari tiga kumpulan kumparan yang mana kumparan tersebut masing-masing dinamakan lilitan fasa.
Jadi pada statornya ada lilitan fasa yang ke satu ujungnya diberi tanda U – X;
lilitan fasa yang ke dua ujungnya diberi tanda dengan huruf V – Y dan akhirnya ujung lilitan fasa yang ke tiga diberi tanda dengan huruf W – Z. Untuk lebih memperjelas lagi, akan di jelaskan mengenai rangkaian 3 fasa itu sendiri.
D. Rangkaian Tiga Fasa
Rangkaian tiga fasa adalah rangkaian yang menghasilkan tiga tegangan dengan perbedaan fasa pada tiap tegangannya. Perbedaan fasa pada tiap tegangan tersebut sebesar 120 derajat. Pengertian dari fasa itu sendiri sebenarnya adalah perubahan waktu terhadap tegangan yang di representasikan dalam sudut.
Selaintiga fasa, dikenal pula satu fasa yang diartikan sebagai satu sumber tegangan yang langsung dirangkai pada beban.
15
Gamabar 2.4 Rangkaian Tiga Fasa
Pada grafik pertama merupakan grafik untuk arus 3 fasa sedangkan pada grafik kedua merupakan grafik arus dan v biasa untuk satu fasa. Pada kedua grafik juga terlihat bahwa amplitudo ketiga gelombang tersdebut sama. Hal ini kemudian menunjukkan bahwa beban yang diberikan pun pada arus fasa simetri. Dari grafik pertama juga terlihat bahwa beda fasa pada gelombang yang sejajar memilk i selisih jarak sebesar teta yang merupakan besarnya 120 derajat. Dari grafik juga dapat disimpulkan bahwa grafik tiga fasa tersebut lebih stabil dan efektif.
Dikarenakan adanya gelombang sinusidal yang saling mengkover satu sama lain akibat beda fasa yang ada. Hal ini kemudian dapat diandaikan sebagai rangkaian arus DC yang dimulai dari nol. Atau lebih jelas, memiliki loose yang sama seperti arus dc dan tidak seperti AC, namun karena sebenarnya dia merupakan arus AC yang saling mengkover, arus 3 fasa lebih efektif dan tahan lama atau tidak
16
cepat panas dan lebih awet. Sehingga kemudian ketika ditinjau lebih mendalam, rangkaian tiga fasa memiliki beberapa kelebihan yaitu :
- Transmisi rangkaian tiga fasa dibagi menjadi 3 terminal, dimana satu terminal membutuhkan satu kawat konduktor, sehingga arus yang mengalir di tiap kawat akan menjadi sepertiga dari rangkaian satu fasa untuk daya yang sama.
- Lebih ekonomis, disebabkan arus yang mengalir di dalam tiap kawat lebih kecil daripada kawat rangkaian satu fasa, sehingga kawat yang dibutuhkan pun akian lebih kecil.
- Lebih efisien, disebabkan daya disipasi yang lebih kecil - Lebih stabil
Sedangkan dari sisi kerugian, biasanya ditinjau dari kerumitan penyusunan rangkaian dan mahalnya perawatan. Oleh karena kelebihan diatas, mulai banyaklah digunakannya pembangkitan tiga fasa atau biasa kita sebut sebagai generator tiga fasa.
Sistem Hubung Rangkaian Tiga Fasa
Sebelum membahas lebih jauh, dalam tiga fasa kita harus mengetahui lebih mendalam dalam merangkai tiga fasa ini sendiri. Ada dua dasar hubung penyusunan untuk rangkaian tiga fasa.
a. Hubung Bintang (Wye)
Hubung bintang juga dapat dikenal sebagai hubung wye atau hubung Y. Elemen yang dapat dihubungkan pada hubung bintang ini adalah sumber tegangan dan beban.
17
Gambar 2.5. Hubungan Bintang (Y, wye).
Namun biasanya rangkaian ini digunakan pada sumber tegangan di
karenakan bentuk hubungan dari rangkaian ini. Untuk sumber tegangan tiga fasa memiliki tiga terminal yang disebut terminal line dan memiliki terminal ke empat untuk hubung netral yang mengalirkan arus berlebih.
Kelebihan dari hubung wye :
- Memiliki kawat netral yang dapat menyalurkan arus yang berlebih sehingga rangkaian tidak cepat panas.
- Memiliki nilai hambatan total yang lebih kecil.
- Lebih mudah dalam analisa arus dikarenakan arus fasa yang sama denganarus Line.
Kekurangan dari hubung wye:
- Analsisi tegangan yang kompleks
18
- Beban tidak dapat diganti secara lansgung dan saling berhubungan satu sama lain dengan netral
- Diperlukan biaya tambahan untuk kawat netral b. Hubung Delta atau segitiga
Hubungan delta adalah hubungan rangkaian yang membentuk hubungan segitiga atau delta.
Gambar 2.6 Hubungan Segitiga (delta, Δ, D).
Hubungan delta biasa digunakan untuk beban karena tidak adanya kawat netral untuk mengalirkan arus berlebih. Dan karena hubung ini, beban dapat dilepas secara bebas tanpa mengganggu rangkaian secara keseleruhuan. Pada hubung delta, berlaku bahwa besar tegangan line sama dengan tegangan fasa. Kelebihan dari sistem hubungan delta adalah:
19
- Lebih mudah menganalisa tegangan karena Tegangan line sama dengan tegangan fasa
- Beban dapat ditambah, diganti, atau dilepas tanpa mempengaruhi sistem
- Membutuhkan kawat yang lebih kecil dibanding hubung wye akibat arus fasa yang lebih kecil Kekurangan hubung delta.
- Tidak memiliki kawat netral sehingga ketika ada arus berlebih rangkaian akan cepat panas, arus tetap berputar dan sistem rusak
- Memiliki hambatan total yang lebih besar
Gambar 1.7. Hubung Bintang
20
c. Hukum-Hukum pada proses pembangkitan tegangan 3 fasa.
Dalam proses pembentukan tegangan 3 fasa, ada beberapa hukum yang bekerja yaitu, hukum ohm, hukum induksi faraday, hukum lenz.
Hukum ohm
Hukum ini sangat sering di gunakan dalam perhitungan mengenai listrik. Hukum ohm menyatakan bahwa besar kuat arus pada suatu rangkaian tertutup berbanding lurus dengan tegangan yang diberikan. Dilihat dari hukum ini dapat simpulkan bahwa arus akan muncul jika di beri beda potensial serta hambatan pada suatu rangkaian tertutup.
V= I x R (2.3)
Dimana :
V = Tegangan (volt)
I = Besar kuat Arus (ampere) R = Hambatan (ohm)
Hukum Induksi Faraday
Hukum utama yang digunakan pada prinsip kerja generator adalah Hukum Induksi Faraday. Menurut Hukum Induksi Faraday, maka integral garis suatu gaya listrik melalui garis lengkung yang tertutup adalah berbanding lurus dengan perubahan tersebut.
ᵋ = -N dΦ Bdt
= - N 𝑑
𝑑𝑡 (BAcos 𝜃) (2.4)
21 Dimana:
e = Gaya Gerak Listrik N = jumlah lilitan
Φ = arus induksi /flux (weber)
Hukum Lenz
Hukum Lenz menyatakan bahwa “Arus imbas akan muncul di dalam arah yang sedemikian rupa sehingga arah tersebut menentang perubahan yang menghasilkannya”. Hukum inilah yang menyebabkan tanda negative pada hukum induksi faraday.
d. Proses pembangkitan tegangan pada generator 3 fasa
Pembangkitan tiga fasa dihubungkan dengan cara kerja generator. Pada generator sebenarnya telah terpasang 3 set inductor pada stator, di mana pada ketiga inductor tersebut dipasang dengan beda fasa sebesar 120 derajat.
Pada generator tiga fasa ini, telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat tiga bagian yaitu ada bagian stator dan rotor.
Maka pada generator tiga fasa ini, untuk menghasilkan tegangan nominal, tentu dibutuhkan kekuatan magnet pada tiap statornya. Walaupun pada generator tiga fasa, pada stator sudah terdapat medan magnet walaupun nilainya sangatlah kecil. Pada bagian rotor, rotor memiliki kumparan yang kemudian kumparan tersebut diberikan beda potensial, sehingga pada kumparan akan teralirkan arushal ini sesuai dengan berlakunya hukum Ohm itu sendiri.
Dimana di sini, ketika ada tegangan, atau beda potensial, maka akan di hasilkannya suatu arus, I dengan hubungan ke linearan tertentu. Selanjutnya,
22
karena terbentuknya arus, akan terbentuknya medan magnet pada rotor menurut persamaan.
Φ= BA
cos 𝜃 𝐵 =2𝜋𝑟𝜇°𝐼 (2.5)Lebih lanjut, medan magnet tersebut kemudian akan menghasilkan proses lanjutan berupa pembentukan fluks magnetic. Menurut persamaan:
Φ= BA
cos 𝜃 𝐵 =2𝜋𝑟𝜇°𝐼 (2.6)Rotor tersebut kemudian akan digerakkan oleh turbin yang digerakkan darienergy luar seperti energy kinetis dari air terjun, energy panas matahari, atau energy nuklir, dan energy lainnya. Di sini sesuai dan membuktikan prinsip dari generator itu sendiri yaitu untuk mengubah energi mekanik menjadi energy listrik.
Kemudian, saat rotor berputar, terjadi perubahan sudut, dan menyebabkan terjadinya perubahan fluks magenetik yang ada terhadap tiap satuan waktu yang kemudian pada masing-masing stator akan timmbul GGL Induksi atau gaya gerak listrik. Hal ini kemudian sesuai dengan persamaan.
ᵋ = -N dΦ Bdt
= - N 𝑑
𝑑𝑡 (BAcos 𝜃) (2.7)
23
Selanjutnya dari gaya gerak listrik induksi tersebut, akan timbul tegangan dengan beda fasa sebesar 120 derajat. Di sinilah mengapa disebutkan sebagai pembangkit 3 fasa.
Gambar 2.8 Pembangkit tiga Phasa
E. Hal-hal yang di pertimbangkan dalam Perancangan Instalasi Genset
Dalam perancangan Instalasi genset pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadyah Makassar, di rasa perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
24
1. Sering terjadinya pemadaman listrik secara tiba-tiba 2. Kondisi Beban Aktual
3. Keseimbangan Beban fasa ( R,S,T ) pada panel administrasi 4. Daya yang di butuhkan
5. Kapsitas Genset yang akan di gunakan untuk mensuplai listrik pada fakultas teknik
6. Perencanaan pemasangan ATS (automatic transfer swich) 7. Pemeliharaan peralatan listrik
25 BAB III
METODE PENELITIAN A. Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2015. Dan dilaksanakan di Laboratorium Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.
B. Data / Parameter
Pada penelitian Rancang bangun instalasi genset, mempunyai data sebagai berikut:
• Total Daya pada ruang administrasi Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah makassar.
• Rangkain panel ATS ( automatic transfer switch ) yang di gunakan.
C. Cara Kerja
1. Studi Pustaka
Mempelajari teori mengenai sistem Instalasi Genset.
2. Tahap Penelitian
a) Menganalisa kebutuhan Daya pada ruangan administrasi b) Meneliti kabel-kabel yang digunakan.
c) Meneliti MCB n MCCB yang digunakan.
d)Meneliti spesifikasi genset e) Seminar / Ujian
26 1). Flowchart Alur Penelitian
Studi Literature
Pengumpulan Alat/ Bahan
Pembuatan Alat
Pengetesan
Finish
STAR
27 2) Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah :
a. Multimeter adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur suatu tahanan, tegangan dan arus.
b. Tang, obeng.
c. Bor Listrik.
d. Baut.
e. Tripleks, balok.
2. Bahan
Bahan yang di gunakan dalam penelitian ini : a. Gengset Firman 4000 E3.
b. Timer TDR type H3BA Omron.
c. Kontaktor 2 buah 20 A.
d. Kabel Secukupnya.
e. Lampu Indikator 2 buah . f. Push Button 2 buah.
g. Terminal.
h. Lampu
28 BAB IV
HASIL DAN ANALISA Ruang Administrasi
A.
MCB 6 A Lampu Ruang TU,Sipil,Elektro,
MCB 6 A
MCB 6 A Lampu Ruang Lorong dan WC
MCB 6 A Lampu Teras
MCB 16 A Kotak Kontak Ruang Sipil dan
Elektro
Kotak Kontak Mushallah,
MCCB 80 A Lorong dan PD 1
R
Kotak Kontak PD 1 dan Dekan S
Kotak Kontak PD 3, PD 4,Sidang
T dan Simak
Kotak Kontak Alumni, Teras dan TU
MCB 16 A Kotak Kontak AC Administrasi 1
MCB 16 A Kotak Kontak AC Administrasi 2
MCB 16 A Kotak Kontak AC Perpustakaan
dan Dosen
Gambar 4.1 Ruang Administrasi M
C C B
Mushallah,PD 1,PD 2 dan Dekan
Lampu Ruang Alumni,PD 3,PD 4 Sidang, Makan, Simak dan Dapur
MCB 16 A MCB 16 A
MCB 16 A MCB 16 A
29
Denah Ruangan Fakultas Teknik
Gamabar 4.2.Denah Ruang Fakultas Teknik
30
B. Rekapitulasi Daya Berdasarkan Pengaman Tabel 4.1 Ruang Administrasi
No Ruangan Beban MCB Hasil
(VA)
Fase
1
Ruang TU, sipil, elektro,mushallah,
PD 1, PD 2 dan Ruang Dekan
Lampu Neon
6 A x 220 V 1320 T
2
Ruang Alumni, PD 4, PD 3, Sidang, Makan, Simak N
Dapur
Lampu Neon
6 A x 220 V 1320 T
3
Ruang Lorong dan WC
Lampu Neon
6 A x 220 V 1320 T
4 Teras Lampu TL 6 A x 220 V 1320 T
5 Ruang Sipil dan Elektro
Kotak Kontak
16 A x 220 V
3520 S
6
Runag Mushallah, PD 1 dan Lorong
Kotak Kontak
16 x 220 V A
3520 S
7
Ruang PD 2 dan Dekan
Kotak Kontak
16 A x 220 V
3520 S
8
Ruang Simak, Sidang , PD 4 dan
Kotak Kontak
16 A x 220 V
3520 S
31 PD 3
9
Ruang Alumni, Teras dan TU
Kotak Kontak
16 A x 220 V
3520 S
10
Ruang Adminstrasi 1
Kotak Kontak AC
16 A x 220 V
3520 R
11
Ruang Administrasi 2
Kotak Kontak AC
16 A x 220 V
3520 R
12 Perpus dan Dosen
Kotak Kontak AC
16 A x 220 V
3520 R T O T A L 33440
C. Kondisi Beban Aktual
Tabel 4.2 Ruang Administrasi
No Beban Daya
(W)
Keterangan Fase
1 Lampu Neon 7 x 25 Ruang TU, sipil, elektro,mushallah, PD 1, PD 2 dan Ruang Dekan
T
2 Lampu Neon 6 x 25 Ruang Alumni, PD
4, PD 3, Sidang,
T
32
Makan, Simak N Dapur
3 Lampu Neon 7 x 25 Ruang Lorong dan
WC
T
4 Lampu TL 12 x 38 Teras T
5 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Sipil dan
Elektro S
6 Kotak Kontak 4 x 400 Runag Mushallah, PD 1 dan Lorong
S
7 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang PD 2 dan Dekan
S
8 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Simak,
Sidang , PD 4 dan PD 3
S
9 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Alumni, Teras dan TU
S
10 Kotak Kontak AC 3 x 800 Ruang Adminstrasi 1
R
33
11 Kotak Kontak AC 2 x 800 Ruang
Administrasi 2
R
12 Kotak Kontak AC 2 x 800 Perpus dan Dosen R
Analisa Keseimbangan Beban Fase R
3 x 800 = 2400 2 x 800 = 1600
2 x 800 = 1600 + 5600 VA Fase S
4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 +
8000 VA
Fase T
7 x 25 = 175 6 x 25 = 150 7 x 25 = 175 12 x 25 = 456 +
956 VA
34 Tabel 4.3 Fase Total Daya
Fase
R (VA)
Total Daya Fase
S (VA)
Total Daya Fase
T (VA)
Total Daya ( VA )
5 5600 VA 8000 VA
9
956 VA 14556
Berdasarkan hasil perhitungan Kondisi Beban Aktual, Maka perlu melakukan perencanaan keseimbangan beban tiap-tiap fasa (R,S,T).
Tabel 4.4 ruang administrasi
No Beban Daya
(W)
Keterangan Fase
1 Lampu Neon 7 x 25 Ruang TU, sipil, elektro,mushallah, PD 1, PD 2 dan Ruang Dekan
T
2 Lampu Neon 6 x 25 Ruang Alumni, PD
4, PD 3, Sidang, Makan, Simak N Dapur
T
35
3 Lampu Neon 7 x 25 Ruang Lorong dan
WC
T
4 Lampu TL 12 x 38 Teras T
5 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Sipil dan
Elektro T
6 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Mushallah, PD 1 dan Lorong
T
7 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang PD 2 dan Dekan
S
8 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Simak,
Sidang , PD 4 dan PD 3
S
9 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Alumni, Teras dan TU
S
10 Kotak Kontak AC 3 x 800 Ruang Adminstrasi 1
R
11 Kotak Kontak AC 2 x 800 Ruang
Administrasi 2
R
12 Kotak Kontak AC 2 x 800 Perpus dan Dosen R
36 Keterangan :
Kotak Kontak 4 x 400 ruang sipil dan elektro fase-T Kotak Kontak 4 x 400 ruang mushollah Pd 1 fase-T Analisa Keseimbangan Beban
Fase R
3 x 800 = 2400 2 x 800 = 1600 2 x 800 = 1600 +
5600 VA
Fase S
4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 +
4800 VA Fase T
7 x 25 = 175 6 x 25 = 150 7 x 25 = 175 4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 12 x 25 = 456 +
4156 VA
37
Tabel 4.5Total daya Fase Total Daya Fase
R (VA)
Total Daya Fase
S (VA)
Total Daya Fase T (VA)
Total Daya ( VA )
5
5600 VA 4800 VA
9
4156 VA 14556
D. Jenis –Jenis Kabel
Tabel 4.6 Ruang Administrasi Ruang
Administrasi
Ukuran Kabel
(mm2) Keterangan KHA
Sumber Panel 3 4x6 Kabel NYY 44
MCCB 7X4 Kabel NYY 24
1 2x2,5 Kabel NYM 26
2 2x2,5 Kabel NYM 26
3 2x2,5 Kabel NYM 26
4 2x2,5 Kabel NYM 26
38
5 2x2,5 Kabel NYM 26
6 2x2,5 Kabel NYM 26
7 2x2,5 Kabel NYM 26
8 2x2,5 Kabel NYM 26
9 2x2,5 Kabel NYM 26
10 2x2,5 Kabel NYM 26
11 2x2,5 Kabel NYM 26
E. Spesifikasi Genset
Genset yang di gunakan dalam perancangan panel ATS pada fakultas teknik adalah Genset Generator Firman FPG 4000E3
Gambar 4.3 Genset Firman 4000E3
39 Keterangan :
Merk : FIRMAN Type : FPG4000E3 AC Frekuensi : 50 Hz
Tegangan dinilai AC : 220 V Surge AC output : 3100 W Dinilai AC output : 2800 W Faktor daya Cos ø : 1
Fase Fase tunggal : Model mesin SFE220 Pemindahan : 196 cc
Max. Output Power : 7, 0 HP/ 3600 RPM Sistem pengapian : TCI
Mulai Sistem : Mundur
Bahan bakar : Bensin tanpa timbal Kapasitas Tangki Bahan Bakar : 15 L Mesin Minyak Kapasitas : 600 m Waktu berjalan : 13 h
Tingkat Kebisingan @ 7 M : 69 dB ( A) Dimensi ( L x W x H) : 805 x 540 x 557 mm Berat Kering : 52 kg
40 F. Panel Ruang Administrasi
Pada ruang administrasi terdapat panel yang mensuplai arus listrik namun belum di rancang untuk mensupalai daya listrik dari gengset ke beban, berikut gambar panel :
T S R
Mcb 10 A
Gambar 4.4 Panel Ruang administrasi Keterangan:
T : fase T.
S : fase S.
R : fase R.
Mcb 10 A : letak posisi Mcb yang akan disuplai daya listrik dari PLN ke Genset dengan ATS (automatic transfer swicth ).
41
Pada perencanaan pemasangan ATS ( automatic transfer swicth ) hanya di fokuskan pada MCB 10 A pada Fase T yang berhubungan langsung dengan beban atau pada lampu penerangan Pada ruang administrasi.
G. Diagram Detail Rangkaian Genset
Gambar 4.5 Rangkaian genset
Penjelasan
a. Beban yang dimaksud pada rangkaian genset adalah beban penerangan pada ruang administrasi gedung Iqra Fakultas teknik Unismuh (lantai 3).
42
b. Peralatan pengaman beban lebih dan hubung singkat yang terpasang panel hubung bagi (PHB) untuk proteksi instalasi listrik pada ruang administrasi gedung Iqra Fakultas teknik Unismuh (lantai 3) besarnya adalah 10 A.
c. Dalam kondisi normal yang mana beban mendapat suplai tegangan dari jala-jala PLN, kontak NC (normally closed) kontaktor K1 dan K2 dalam kondisi menutup/terhubung, sedangkan kontak NO (normally open) kontaktor K1 dan K2 dalam kondisi membuka/tidak terhubung.
d. Dalam kondisi beban mendapat suplai tegangan dari genset, kontak NC (normally closed) kontaktor K1 dan K2 dalam kondisi kondisi membuka/tidak terhubung, sedangkan kontak NO (normally open) kontaktor K1 dan K2 dalam kondisi menutup/terhubung. Oleh sebab pemisahan instalasi antara jala-jala PLN dengan genset selalu terjadi dengan komponen ATS.
e. Lampu indikator pada rangkaian gambar di atas sebagai petunjuk suplai tegangan yang sedang hidup.
43 H. Rangkaian Kontrol
Gambar 4.6 Rangkaian Kontrol
44 I. Single line diagram Genset
Gambar 4.7 Single Line
45 Penjelasan:
1. Kontaktor K1 dan K2 serta time relay yang digunakan pada rangkaian ATS ( automatic transfer switch) sebagai berikut :
Tabel 4.7 MCB Snider
Kontaktor/time relay Jumlah Kontak Keterangan
NO NC
K1 3 1 20 A
K2 3 1 20 A
TDR type H3BA Omron 2 2 5 A
2. Pada rangkaian kontrol di atas jika sakelar star ditekan (NO, Pushbutton) maka koil kontaktor K1 mendapat tegangan (energized), dan kontak NO kontaktor K1 yang dipakai sebagai rangkaian penahan sakelar star akan menutup, sehingga koil kontaktor K1 tetap mendapat tegangan (energized) sampai sampai sakelat stop (NC, Pushbutton) ditekan. Kontak NC kontaktor K1 yang dihubungkan dengan saluran fasa intalasi PLN akan membuka, dan kontak NO kontaktor K1 yang dihubungkan dengan saluran fasa intalasi Genset akan menutup (lihat gambar 3).
3. Setelah koil kontaktor K1 mendapat tegangan, kontak NO kontaktor K1 yang dihubungkan dengan koil time relay akan menutup, sehingga koil time relay mendapat tegangan. Setting delay waktu dari timer adalah 0
46
sampai 60 detik. Kontak NO timer yang dihubungkan dengan koil kontaktor K2 akan menutup dengan tunda waktu 0 sampai 60 detik ( tergantung set relay) sehingga koil kontaktor K2 mendapat tegangan.
4. Apabila koil kontaktor K2 mendapat tegangan maka kontak NO kontaktor K2 yang menghubungkan saluran fasa dengan beban akan menutup sehingga beban mendapat suplai dari genset. Kontak NC kontaktor K2 yang menghubungkan saluran neutral PLN dengan saluran neutral beban akan membuka, dan Kontak NO kontaktor K2 yang menghubungkan saluran neutral genset dengan saluran neutral beban akan menutup ( lihat gambar 1 )
47 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian dan pembahasan dalam penyelesaian tugas akhir ini maka dapat di peroleh kesimpulan :
1. Pada simulasi percobaan pemanfaatan genset sebesar 33 KVpada Universitas Muhammadyah Makassar pada ruangan administrasi di ketahui bahwa genset dapat menyuplai atau menjadi alternative ketika pemadaman listrik terjadi.
2. Kondisi beban daya pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadyah Makassar pada ruang administrasi seimbang dengan daya total sebesar 14556 VA dan menjadi pokok penting untuk menentukan spesifikasi genset yang akan di gunakan sebagai alternative.
B. Saran
Genset yang digunakan pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar, tidak dalam kondisi yang baik sehingga terdapat banyak kendala dan hambatan karena itu perlunya perawatan dan sarana-prasarana yang memadai untuk mengoptimalkan fungsi genset agar dapat di manfaatkan saat terjadi pemadaman listrik oleh PLN.
48
DAFTAR PUSTAKA
1. Ats Amf Module Selection . http://www.ats-amf.com/.(diakses tanggal 12 Juni 2011).
2. CATERPILLAR, Disel Generator Set, http://www.bokuk.co.kr/diesel generatorset/ dosen. html, diunduh tanggal 8-11-2013.
3. Eugene Clister Mesin dan Rangkaian listrik.
4. Herdiyanto Maulana, Hery. Skripsi. Studi Back-Up System Genset di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Jakarta. Universitas Pakuan Bogor. Tidak dipublikasikan.
5. Mahon L.L.J, Diesel Generator Handbook, Butterworth-Heinemann Ltd., Wellington, 1992.
6. Sumardjati, P. dkk. (2008). Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik Jilid 1.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
49 LAMPIRAN A. Kondisi Beban Aktual
Tabel 4.8 Ruang Administrasi
No Beban Daya
(W)
Keterangan Fase
1 Lampu Neon 7 x 25 Ruang TU, sipil, elektro,mushallah, PD 1, PD 2 dan Ruang Dekan
T
2 Lampu Neon 6 x 25 Ruang Alumni, PD
4, PD 3, Sidang, Makan, Simak N Dapur
T
3 Lampu Neon 7 x 25 Ruang Lorong dan
WC
T
4 Lampu TL 12 x 38 Teras T
5 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Sipil dan
Elektro S
6 Kotak Kontak 4 x 400 Runag Mushallah, PD 1 dan Lorong
S
50
7 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang PD 2 dan Dekan
S
8 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Simak,
Sidang , PD 4 dan PD 3
S
9 Kotak Kontak 4 x 400 Ruang Alumni, Teras dan TU
S
10 Kotak Kontak AC 3 x 800 Ruang Adminstrasi 1
R
11 Kotak Kontak AC 2 x 800 Ruang
Administrasi 2
R
12 Kotak Kontak AC 2 x 800 Perpus dan Dosen R
Analisa Keseimbangan Beban Fase R
3 x 800 = 2400 2 x 800 = 1600 2 x 800 = 1600 +
5600 VA
Fase S
4 x 400 = 1600
51 4 x 400 = 1600
4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 4 x 400 = 1600 +
8000 VA Fase T
7 x 25 = 175 6 x 25 = 150 7 x 25 = 175 12 x 25 = 456 +
956 VA
Tabel 4.3 Fase Total Daya
Fase
R (VA)
Total Daya Fase
S (VA)
Total Daya Fase
T (VA)
Total Daya ( VA )
5 5600 VA 8000 VA
9
956 VA 14556
52
Kontaktor Kontaktor Ins
Gambar 5.1 Kontaktor ins 20 A
Kontaktor Schaneider
Gambar 5.2 Kontaktor Schaneider 20 A
53
Timer TDR type H3BA Omron
Gambar 5.3 TDR type H3BA Omron
MCB Schneider
Gambar 5.4 Schneider 10 amper