BAB III BAB III MEKANISME PELAKSANAAN JUAL BELI IKAN PINDANG DI PASAR JETIS KABUPATEN PONOROGO. Pada bab ini
A. Konsep Jual Beli
5. Hak dan Kewajiban antara Penjual dan Pembeli
Akad transaksi jual beli juga mengatur mengenai hak dan kewajiban penjual dan pembeli. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya kerugian yang dialami oleh salah satu pihak. Sehingga jual beli harus dilakukan atas dasat kejujuran, tidak ada unsur penipuan, paksaan dan hal lain yang mengakibatkan timbulnya sengketa.
Hak penjual yaitu:
a) Berhak menjual barang di lapaknya
b) Menerima pembayaran atas penjualan barang
c) Menerima pembayaran barang pada waktu yang telah ditentukan Kewajiban penjual
a) Memberikan informasi barang dagangan secara jujur b) Menyerahkan barang yang telah dibeli oleh pembeli c) Tidak menjual barang yang dilarang dalam syariat Islam Hak pembeli
a) Menerima barang yang telah dibeli
b) Mendapatkan informasi secara lengkap mengenai barang yang akan dibeli
28
Kewajiban pembeli
a) Membayar sesuai haga yang telah ditentukan b) Membayar tepat waktu sesuai dengan kesepakatan9 6. Jual Beli yang Dilarang 10
Ada beberapa jual beli yang dialarang dalam Islam karena beberapa faktor diantaranya:
a. Dilarang karena tidak memenuhi syarat dan rukunnya dikategorikan sebagai berikut:
1) Jual beli barang yaang zatnya haram, najis atau tidak boleh diperjual belikan seperti babi, berhala, bangkai, dll
2) Jual beli yang belum jelas sehingga dapat merugikan salah satu pihak baik penjual maupun pembeli.
3) Jual beli bersyarat dimana dalam ijab kabul dikaitkan dengan syarat yang tidak ada dalam jual beli dan terdapat unsur merugikan yang dilarang oleh agama.
4) Jual beli yang menimbulkan kemudharatan.
5) Jual beli yang dilarang karena dianiaya
6) Jual beli muhaqalah yaitu menjual tanaman yang masih berada di sawah atau di ladang
9https://adjar.grid.id/read/543472272/hak-dan-kewajiban-penjual-dan-pembeli?page=all, diakses tanggal 21 Maret 2023, 21:17 WIB
10 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Saioudin Shidiq, “Fiqh Muamalat”, (Jakarta:
Kencana, tahun 2010), 80
7) Jual beli mukhadharah yaitu menjual buah buahan yang masih hijau.
8) Jual beli mulamasah yaitu jual beli secara sentuh menyentuh,orang yang menyentuh dianggap telah membeli.
9) Jual beli secara lempar melempar
10) Jual beli muzabanah yaitu menjual buah yang basah dengan buah yang kering.
b. Jual beli yang dilarang karena faktor lain yang merugikan para pihak diantaranya:
1) Jual beli dari otang yang masih tawar menawar
2) Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota/pasar.
3) Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun.
4) Jual beli barang rampasan atau curian.
B. Konsep Ija>rah 1. Pengertian ija>rah
Secara bahasa ija>rah brasah dari kata ajran semakna dengan kata al-
„iwadh yang mempunyai arti ganti dan upah, dan juga dpaat dimaknai dengan sewa atau upah. Sedangkan secara itilah ija>rah adalah akad atas beberapa manfaat atas penggantian.
Menurut ualama Hanafiah, ija>rah diartikan sebagai akad untuk membolekan pemilikan manfaat yang diketahui dan dilakukan dengan sengaja dari suatu zat yang disewa dengan disertai imbalan. Menurut ulama Malikiyah, ija>rah diartikan sebagai nma bagi akad-akad untuk
30
kemanfaatan yang bersifat manusiawi dan juga untuk sebagian yang dapat dipindahkan. Sedangkan menurut sayyid Sabiq ija>rah adalah jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian.
Manfaat yang dimaksud dapat berupa mandaat benda, pekerjaa dan tenaga. Manfaat benda meliputi antara lain mendiami rumah atau mengendarai mobil, manfaat pekerjaan seperti pekerjaan ppenjahit, insinyur dan manfaat tenaga seperti para pembantu dan buruh11
2. Dasar hukum ija>rah QS. Thalaq : 6
َّنُهَرْوُجُا َّنُهْوُ تٰاَف ْمُكَل َنْعَضْرَا ْنِاَف ۚ
Artinya: “Jika mereka menyusukan (anak-anakmu) untukmu, maka berikanlah mereka upahya.” (Q.S. Thalaq 65:6) 12
Di dalam penggalan Al-Qur’an surah Thalaq ayat 6 dijelaskan bahwa apabila ada sepasang suami istri yang bercerai, kemudian wanita tersebut menyusui anak dari suami yang menceraikannya maka suami tersebut wajib meberi nafkah sebagaimana yang diberlakukan secara umum.
QS. Al-Qasash : 26
ٰي اَمُهىٰدْحِا ْتَلاَق ِتَبَا ۚ
ُهْرِجْأَتْسا َّنِا ۚ
َرْ يَخ ِنَم َتْرَجْأَتْسا يِوَقْلا
ُْيِمَْلْا
Artinya : Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata,
“Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita),
11 Qomarul Huda, Fiqh Muamalah, 78
12 DEPAG RI, Al-Qur‟an dan Terjemahan, 946.
sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”13 3. Rukun dan syarat ija>rah
a. „Aqid (orang yang berakad)
Menurut ulama, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh pihak yang hendak melaksanakan akad di antaranya:
1) Baligh, berakal, cerdas, memiliki kecakapan untuk melakukan tasharruf atau mengendalikan harta. Apabila barang bukan milik pribadi maka harus seizin walinya.
2) Memiliki kekuasaan untuk melaksanakan akad.
3) Kedua pihak harus saling rela dan tidak ada paksaan.
4) Kedua belah pihak mengetahui manfaat barang yang disewakan.14
b. Shigah akad
Shighah merupakan bahasa transaksi dalam melaksanakan akad yang terdiri dari ijab dan qabul. Dalam pelaksanaan akad ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi di antaranya:
1) Dilaksanan secara jelas
2) Kedua pihak harus memahami isi akad dengan baik
3) Terdapat kesesuaian antara ucapan pihak penyewa dengan jawaban pihak yang menyewakan.
13 DEPAG RI, Al-Qur‟an dan Terjemahan, 613
14 Andri Soemitra, Hukum Ekonomi Syariah dan Fiqh Muamalah di Lembaga Keuangan dan Bisnis Kontemporer (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2019), 118.
32
c. Ma‟uqud „Alaih (barang atau manfaat) 1) Dapat dimanfaatkan kegunaannya
2) Harus diketahui secara pasti baik bentuk, sifat, tempat, hingga waktunya.
3) Dapat diserah terimakan
4) Manfaat harus dibenarkan menurut syara’, bukan hal yang dilarang
5) Benda yang disewakan disyaratkan kekal „ain (zat)-nya hingga waktu yang ditentukan menurut perjanjian dalam akad.15
d. Ujrah (upah)
Dalam hal penyewaan jasa, jumhur ulama memperbolehkan adanya sewa jasa selama yang dikerjakan bukan merupakan pekerjaan yang diwajibkan menurut syara’ diantarany shalat, puasa, haji dan lainnya.
Ulama Hanafiah berpendapat bahwa akad ija>rah digunakan untuk melakukan ketaatan, seperti memberi upah seseorang untuk melaksanakan solat, mempuasakan, menghajikan, membacakan al quran dianggap tidak sah dan dilarang mengambil upah darinya.
Menurut ulama Hanabilah mengatakan bahwa ija>rah untuk adzan, iqamah, mengajarkan qifh, haidst, badal haji dan jabatan fungsional di pengadilan tidak sah, karena semua itu termasuk ke
15 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah (Jakarta: PT RAJA GRAFINDO PERSADA, 2010), 118.
dalam perbuatan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ulama Malikiyah memperbolehkan pengambilan upah atas pekerjaan mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan dengan imbalan yang telah ditentukan. Ulama Syafi’iah mengatakan boleh hukumnya mengambil upah dari pekerjaan yang berkaitan dengan merawat jenazah mulai dai memandikan, mengkafani, mentalqimi sampai menguburkannya. Sedagkan ulama Hanafiah membatasi hanya memandikan dan menusung jenazah saja yang boleh diambil upahnya
Pemberian ujrah dalam Islam harus jelas guna menghindari unsur ghrarar serta tidak sama dengan manfaat yang ada dalam akad ija>rah. Ujrah diberikan kepada pekerja yang sudah menyelesaikan pekerjaanya, bisa diberikan secara langsung maupun diangsur sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.