KORUPSI BI!
MENYONGSONG 87 TAHUN BAHASA INDONESIA
B. Harapan Pengajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi
Harapan di masa depan pengajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi diperlukan strategi pengajaran yang menyenangkan dengan pendekatan dan metode yang menarik. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan kontruktivisme. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode simulasi dan metode kelompok belajar.
1. Pendekatan Kontruktivisme
Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan kita merupakan konstruksi (bentukan) dari kita (Wilson, 1999:16). Belajar merupakan proses aktif, mahasiswa mengkonstruksi teks, dialog, pengalaman pribadi, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang dimiliki oleh mahasiswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Cox dan Zarrillo (1998:7) bahwa bagi kontruktivisme kegiatan belajar merupakan kegiatan yang aktif bagi mahasiswa. Mahasiswa mencari arti sendiri dari apa yang dipelajari.
Pencarian arti itu dilakukan dengan cara menyesuaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir yang telah dimiliki. Oleh karena itu, mahasiswa belajar harus mengalami sendiri dalam membuat hipotesis, menguji hipotesis, memecahkan masalah, mencari jawaban, mendeskripsikan, meneliti, berdialog, mengadakan refleksi, mengungkapkan pertanyaan, mengekspresikan gagasan, dan lain-lain untuk membentuk konstruksi baru.
Dengan kata lain, bahwa pembelajaran di dalam kelas berpusat pada mahasiswa, peran dosen adalah membantu mahasiswa menemukan fakta, konsep, atau prinsip bagi diri mereka, bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan kelas. Oleh karena itu, kata kunci belajar konstruktivisme adalah pembelajaran dengan pengaturan diri (self regulated learning), yaitu seseorang yang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar efektif dan bagaimana serta kapan menggunakan pengetahuan itu.
Kontruktivisme memandang bahwa belajar adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Artinya, mahasiswa akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangun atas dasar realitas yang ada di dalam masyarakat. Konsekuensi pembelajaran harus mampu memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa. Sehingga model pembelajarannya dilakukan secara natural.
Penekanan pendekatan konstruktivisme bukan pada membangun kualitas kognitif,
4
tetapi lebih pada proses untuk menemukan teori yang dibangun dari realitas lapangan.
Oleh karena itu, pendekatan yang tepat untuk proses pembelajaran adalah pendekatan konstruktivisme. Paham ini menitikberatkan peranan aktivitas dan pengalaman pembelajaran dalam membentuk proses pembelajaran. Konstruktivisme memandang mahasiswa sebagai agent knowledge schemata atau aset pengetahuan yang harus dikembangkan. Sehingga, pendekatan ini menempatkan dosen sebagai fasilitator yang akan mendorong mahasiswa untuk lebih interaktif dalam sistem pengajaran.
Dengan pendekatan konstruktivisme, akan terjadi penyaluran pengetahuan (transfer of knowledge). Misalnya, pendekatan belajar dengan melakukan learning by doing akan mendorong siswa menjadi manusia kritis, reflektif, invetif, dan produktif. Di samping itu, pendekatan konstruktivisme membuat mahasiswa dapat berpikir aktif.
Pendekatan ini memungkinkan sistem penilaian melalui banyak sumber, tidak hanya melalui ujian, tetapi bisa melalui observasi yang dilakukan mahasiswa atau kegiatan- kegiatan di kelas. Pendekatan konstruktivisme juga membuka akses bagi mahasiswa untuk mengungkapkan pertanyaan, menyelesaikan persoalan, dan berpikir kritis. Bagi dosen, pendekatan ini membuat mereka mampu memberikan pengajaran, menulis, dan berbicara secara konstruktif.
2. Prosedur Pembelajaran Konstruktivisme
Prosedur pembelajaran berdasarkan pendekatan konstruktivisme adalah memfasilitasi mahasiswa membangun sendiri konsep-konsep baru berdasarkan konsep lama yang telah dimiliki. Pembangunan konsep baru itu tidak terjadi di ruang hampa melainkan dalam konteks sosial bahwa mahasiswa dapat berinteraksi dengan orang lain untuk mereskontrukturisasi ide-idenya (Riyanto, 2010: 143).
Konsep lama yang dimiliki mahasiswa digali pada pembelajaran pendahuluan, pada saat mereka mendapat orientasi berupa peristiwa alam, model atau simulasi yang relevan dengan konsep yang akan dipelajari. Konsep lama itu diperoleh mahasiswa baik dari kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun maupun dari pembelajaran sebelumnya. Tidak jarang di antara konsep-konsep itu ada yang salah (miskonsepsi), yang akan sangat menggganggu proses belajar selanjutnya apabila tidak diperbaiki sejak awal. Konsep lama yang sudah sesuai dengan konsep ilmiah sangat penting artinya bagi penanaman konsep-konsep baru yang akan dilakukan dalam pembelajaran inti.
5
3. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran tatap muka secara umum terdiri dari tiga bagian, yaitu (a) pembelajaran pendahuluan, (b) pembelajaran inti, (c) pembelajaran penutup. Dalam pembelajaran konstruktivisme pembelajran pendahuluan dapat dimanfaatkan untuk memberikan “orientasi” dan “penggalian ide” untuk mengetahui prakonsepsi mahasiswa. Pembelajaran inti, yang merupakan bagian terbesar pembelajaran, dapat digunakan untuk memfasilitasi “restrukturisasi ide” mengarah ke perbaikan konsep.
Evaluasi pada akhir proses restrukturisasi akan menilai apakah ide-ide itu sudah mendekati konsep ilmiah yang sesungguhnya.
Selanjutnya dosen memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk
“mengaplikasikan ide-ide” yang baru dipelajari untuk memecahkan berbagai masalah.
Pemahaman mahasiswa atas ide-ide itu sebenarnya baru akan mantap setelah digunakan untuk memecahkan masalah. Pada pembelajaran penutup dilakukan “review perubahan ide” untuk membandingkan ide yang telah dipelajari itu dengan ide awal yang muncul pada saat penggalian ide.
4. Metode
Metode yang digunakan dalam pembelajaran konstruktivisme adalah sebagai berikut. (a) pembelajaran kelompok besar, (b) pembelajaran kelompok kecil, (c) sindikat, (d) triad, (e) penugasan terstruktur, pekerjaan rumah, (f) penugasan mandiri, dan (g) seminar.
Metode kelompok besar sangat cocok untuk topik yang dapat dipelajari sendiri oleh mahasiswa. Mereka bekerja dalam kelompok. Masing-masing anggota mempelajari satu aspek masalah secara mendalam sebelum bertemu dengan anggota lain dalam sindikatnya, memecahkan masalah secara bersama-sama secara intensif.
Metode pembelajaran kelompok kecil biasanya terdiri dari 4—6 mahasiswa; mereka saling mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah sebelum akhirnya mengambil kesimpulan. Beberapa mahasiswa kurang berani berbicara dalam kelompok seukuran itu. Sebagai jalan keluarnya dosen perlu sekali-sekali membentuk “triad”, yaitu kelompok yang hanya terdiri dari 3 orang. Dengan kelompok kecil itu mau tidak mau mahasiswa akan berani berbicara.
6