BAB II STUDI PUSTAKA STUDI PUSTAKA
E. Subyek Penelitian
4.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan
Banyak perubahan telah dialami manusia seiring dengan perkembangan zaman yang terus berlangsung. Saat ini manusia sedang berada pada era modernitas yang ditandai dengan pencapaian era teknologi tinggi dan sistem mekanik yang canggih. Seiring dengan proses modernisasi, pemikiran masyarakat mengalami perkembangan dari tradisional dengan mitos- mitos yang irasional menuju alam modern dengan logika yang rasional. Berbagai pemikiran dan pandangan baru lahir untuk kemajuan ilmu dan kehidupan manusia. Modernitas dalam kehidupan manusia dapat dicapai melalui saluran pendidikan yang merata bagi masyarakat.
Dalam pandangan masyarakat pendidikan lebih dianggap sebagai jembatan untuk mendapatkan status baru, kesuksesan, dan kekayaan. Pendidikan bisa menabah akses seseorang terhadap pasar kerja. Tetapi selain itu pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan dan kepribadian manusia. Pengaruh pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dalam perkembangan serta kehidupan masyarakat. Hal inilah yang merubah pola pikir masyarakat saat ini, dimana banyak dari mereka yang mulai menyadari bahwa pendidikan bukan lagi monopoli kaum pria namun juga kaum perempuan juga layak untuk mendapatkannya.
Tingginya animo kaum perempuan untuk mengakses pendidikan mengakibatkan peningkatan jumlah perempuan yang mulai bekerja di ranah public, ini merupakan keberhasilan dari para kaum feminis yang telah berhasil merubah mindset masyarakat bahwa tugas perempuan tidak hanya dalam kisaran rumah tangga saja.
Pada hakekatnya, gerakan feminisme adalah isu kaum perempuan kelas menengah yang ingin membebaskan diri dari pekerjaan-pekerjaan rutin rumah tangga. Hal ini tampak dari buku Betty Friedan “The Feminine Mystique” (1963), yang mencoba untuk mengkampanyekan isu persamaan kekuasaan, dan buku Juliet Mitcher “Women’s estate” (1971) yang menyatakan bahwa motherhood is slavery (tugas yang diemban para ibu rumah tangga merupakan perbudakan). Bahkan Millet dalam bukunya “Sexual Politics” mengatakan bahwa lembaga keluarga adalah old age evil (setan tua). Gerakan ini lahir pada era pencerahan di Eropa yang
dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Pada saat menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Meskipun para feminisme mempunyai kesadaran yang sama mengenai ketidakadilan gender, menurut Yunahar Ilyas, mereka berbeda pendapat dalam sebab-sebab terjadinya ketidakadilan gender tersebut dan juga dalam target yang akan dicapai dalam perjuangan mereka.
Ilmu merupakan suatu pengetahuan yang dipelajari manusia karena dipandang mempunyai arti dan makna bagi kelangsungan hidupnya. Seseorang cenderung mempunyai minat pada ilmu pengetahuan yang mereka anggap sesuai dengan kebutuhan mereka, sesuai dengan jenis kelamin mereka. Sebaliknya, mereka cenderung tidak tertarik pada ilmu pengetahuan yang mereka anggap tidak relevan dan tidak sesuai dengan jenis kelaminnya sehingga akan mempengeruhi individu dalam pemilihan lapangan pekerjaan. Perbedaan karakteristik antara laki-laki dan perempuan baik dilihat dari segi fisik dan psikis akan membentuk minat yang berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Perempuan selalu dicitrakan sebagai makhluk yang lembut, butuh perlindungan, penuh kasih sayang dan selalu berdandan agar tampil cantik biasanya memilih pekerjaan yang ringan dan tidak membutuhkan tenaga fisik yang besar seperti guru, perawat, resepsionis, dan sekretaris, sedangkan laki-laki yang dicitrakan sebagai sosok yang maskulin, pemberani, kuat biasanya mempunyai minat pada pekerjaan yang mempunyai tantangan yang lebih tinggi seperti insinyur, arsitek, dan mekanik.
Menjadi seorang perempuan di Indonesia berdasarkan budaya, identic dengan sosok ibu rumah tangga yang hanya bertugas mengurusi pekerjaan ranah domestic. Pekerjaan seperti merawat anak, mengurus rumah, memasak, menjaga nama baik suami, dan lain sebagainya dibebankan di atas pundak perempuan yang nantinya akan menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Oleh sebab itu, pemahaman tentang kesetaraan gender gencar disosialisasikan oleh para aktivis feminis di Indonesia dan kini perjuangan itu mulai membuahkan hasil. Perempuan tidak lagi dilarang untuk mengenyam pendidikan tinggi, justru gelar sarjana menjadi sebuah modal simbolik tersendiri bagi kaum perempuan karena hal tersebut merupakan sebuah prestise. Namun yang menjadi masalah adalah pemahaman kesetaraan gender belum sepenuhnya dimaknai secara
mendalam pada sebagian besar masyarakat. Hal ini terlihat dari penspesialisasian profesi berdasarkan jenis kelamin. Guru menjadi salah satu profesi yang ramai disosialisasikan oleh para orang tua untuk dijadikan alternative pilihan karir bagi anak perempuannya karena guru identic dengan sosok “ibu”.
“Setiap perempuan akan menjadi guru, guru bagi anak-anak mereka kelak” jargon inilah yang kerap kali disosialisasikan oleh masyarakat. Tidak bisa kita pungkiri, di era modernisasi dan globalisasi seperti saat ini, perempuan juga dituntut untuk dapat mengembangkan human capitalnya dan berkontribusi bagi pembangunan. Mayoritas orang tua pun mulai berlomba-lomba memberikan pendidikan layak bagi anak perempuannya, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya dimana masih banyak orang tua yang enggan menginvestasikan uangnya untuk pendidikan anak perempuan. Perempuan kini dianggap setara dengan kaum laki-laki, bias gender di masyarakat perlahan mulai memudar berganti dengan kesadaran gender yang cukup tinggi.
Walau demikian, tetap saja bagi perempuan tidak semua profesi ‘direstui’ oleh masayarakt untuk dipilih oleh perempuan. Sebagai makhluk yang diposisikan sebagai seorang istri dan ibu, perempuan tidak memiliki banyak pilihan profesi untuk dipilih sebagai tujuan masa depan mereka. Anak perempuan biasanya akan disosialisasikan untuk menjadi seorang istri ataupun ibu dan juga pendorong karir suami, ia akan dipersiapkan sedemikian rupa untuk dapat menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu yang baik. Menjelang dewasa, pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh laki-laki (Gonibala: 2007). Tidak hanya dalam hal penampilan fisik saja patriarki telah mengontrol perempuan agar melakukan apa yang dianggap ‘benar’ melainkan juga dalam hal akademis.
Seperti penjelasan pada bab sebelumnya yang mengulas mengenai profesi bagi perempuan, pada saat ini perempuan dituntut untuk dapat berperan ganda yaitu di ranah public dan ranah privat. Perempuan kini boleh berkreasi di ranah public namun tetap tidak mengenyampingkan urusan rumah tangga. Profesi guru dianggap sangat cocok bagi perempuan karena profesi ini lebih membutuhkan ketelatenan, kesabaran yang tinggi dan sesuai dengan kodrat perempuan yang nantinya akan mengasuh anak-anaknya. Profesi guru dianggap mulia dan
terhormat di mata masyarakat Indonesia karena pekerjaan mendidik dianggap membuat anak menjadi pintar. Guru dijadikan salah satu profesi yang paling banyak diminati oleh mayoritas perempuan di Indonesia, tidak terkecuali siswi SMAN 1 Cileungsi. Banyak dari mereka yang memilih untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke Perguruan Tinggi dengan mengambil jurusan keguruan, seperti yang diungkapkan oleh salah seorang siswi kelas XII IPS yang bernama EF (17 tahun)
“saya mau ambil jurusan pendidikan Bahasa Indonesia bu, soalnya saya mau jadi guru. Ibu saya kan guru juga bu jadi saya selalu lihat ibu saya kerja tapi ga ninggalin keluarga, kebetulan ibu saya guru SD jadi masuk pagi nanti siang juga udah pulang. Enak kan dapat uang tapi tetap bisa masak untuk keluarga hehehe..saya juga mau jadi kayak ibu saya bu, kata ibu saya jadi guru itu bagus untuk perempuan soalnya ga nyita banyak waktu.”
Dari jawaban salah satu siswi tersebut dapat kita lihat bahwa dalam mindset dirinya, profesi yang cocok untuk perempuan adalah guru. Hal ini dikarenakan waktu kerja guru yang fleksibel dan tidak terlalu menyita waktu sehingga urusan rumah tangga tetap bisa dikerjakan dan tidak terbengkalai. Pemahaman itu ia dapatkan dari sosialisasi yang dilakukan oleh ibunya yang juga berprofesi sebagai seorang guru, menurut ibunya sebagai seorang perempuan yang nantinya akan menjadi istri dan seorang ibu maka seorang perempuan dituntut untuk dapat menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, namun karena tuntutan jaman seperti saat ini, dimana perempuan juga diharapkan dapat berkontribusi dalam pembangunan maka seorang perempuan juga harus bisa mengembangkan human capitalnya dan membantu perekonomian keluarga. Oleh sebab itu, alangkah baiknya apabila seorang perempuan yang nantinya akan menjadi seorang istri dan ibu dapat membagi waktunya secara baik dimana ia bekerja sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga yang baik.
Anak-anak mendapat kesempatan dari orang tua, guru, dan orang dewasa lain untuk belajar mengenal apa saja yang oleh kelompok budaya mereka dianggap sesuai untuk mereka, dan mereka tidak diberi kesempatan untuk menekuni minat yang dianggap tidak sesuai bagi mereka oleh kelompok budaya mereka. Sehingga minat pada individu yang dianggap tidak sesuai sengan kaidah norma dan budaya akan sulit untuk dikembangkan dan biasanya mendapatkan perlawanan dari lingkungannya. Misalnya, seorang anak perempuan dari etnis jawa bercita-cita untuk menjadi atlet tinju. Keinginan anak ini dianggap tidak sesuai dengan norma
dan budaya jawa yang mendeskripsikan anak perempuan adalah sosok individu yang lemah lembut dan luwes.
Status sebagai istri memiliki peran yang sangat penting sebagai delegasi suami dalam mendidik terkhusus di waktu saat suami sebagai kepala keluarga sibuk mencari nafkah di tempat kerja. Menjadi seorang guru dianggap dapat meluangkan banyak waktu untuk quality time bersama keluarga karena jam kerja yang tidak terlalu menyita waktu serta waktu libur yang cukup panjang dibandingkan dengan pekerja kantoran. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong banyak orang tua menginginkan anak perempuannya berprofesi sebagai seorang guru, dan hal tersebut disosialisasikan kepada anak perempuannya sedari kecil sehingga mindset tentang wanita karir dan pekerja rumah tangga menyatu pada profesi guru.
Sebagai makhluk individu dan sosial, individu harus berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat di sekitarnya. Karena itu individu menyadari akan kondisi tersebut akan bertindak dan bertingkah laku yang dianggap sesuai dengan nilai dan norma masyarakat. Hal ini akan berpengaruh pada perkembangan minat pada diri individu. Pada dasarnya Minat seseorang selalu mengalami perubahan. Sejak dari kecil, mula-mula minat masih mudah berubah-ubah tetapi dengan bertambahnya umur saat memasuki masa remaja maka minat pada individu akan semakin tetap dan mantap. Perubahan minat pada individu ini meliputi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Dimyati mahmud (1990: 165) menyatakan bahwa ”Minat seseorang dipengaruhi oleh keadaan jasmaninya, status mental, dan perasaan, serta lingkungan sosialnya”. Adapun penjelasan dari faktor yang mempengaruhi minat tersebut adalah sebagai berikut.
1) Keadaan Jasmani
Keadaan jasmani sangat menentukan dalam perkembangan minat, sebab dengan tubuh yang sehat seseorang akan dapat melakukan apa yang menjadi keinginannya. Seseorang akan bebas untuk melakukan sesuatu dan mewujudkan semua yang diinginkannya. oleh karena itu seseorang perlu dijaga agar selalu mempunyai ketahanan badan atau fisik yang sehat dan kuat. Misalnya, seorang anak berkeinginan untuk menjadi atlet basket bila dia sudah bisa dewasa nanti, tetapi saat balita anak tersebut terserang penyakit polio yang menyebabkan ketidaknormalan pada kakinya sehingga cita-citanya tidak bisa tercapai.
2) Status mental
Kondisi mental sangat erat hubungannya dengan keadaan batin seseorang. Misalnya pada keadaan tidak tentram dan kacau seseorang tidak mudah menaruh perhatian pada suatu hal walaupun rangsangan dari luar sebenarnya menarik. Sebaliknya bagi seseorang yang pikirannya tenang maka ia akan mudah menerima suatu yang menarik perhatiananya.
3) Perasaan
Perasaan sangat erat hubungannya dengan kegiatan psikis dan kondisi kejiwaan seseorang.
Perasaan dalam suatu waktu dapat bersifat tidak stabil sehingga pada suatu situasi tertentu dapat menmpakkan rasa senang, sedih, gembira, bosan, terpaksa, dan sebagainya. Perasaan senang dapat menumbuhkan minat pada diri individu yang diperkuat oleh sikap yang positif sebab perasaan senang merupakan suatu keadaan jiwa yang nyaman karena adanya peristiwa yang datang pada subyek yang bersangkutan. Kondisi psikis sangat mempengaruhi perkembangan minat dari individu. Agus Sujianto (2001: 85) mengemukakan bahwa, ”aspek-aspek psikis yang mempengaruhi minat meliputi kesadaran, kemauan, kesenangan, dan perhatian”. Adapun penjelasan dari aspek psikis yang mempengaruhi minat tersebut adalah sebagai berikut:
a) Kesadaran
Seseorang dikatakan berminat apabila individu tersebut memiliki kesadaran. Dengan kesadaran individu akan mengenal objek yang dapat menimbulkan daya tarik sehingga akan timbul rasa senang. Aktivitas semacam ini membutuhkan adanya perhatian dari individu, dan perhatian hanya dimiliki bagi individu yang memiliki kesadaran karena dengan kesadaran,minat terhadap sesuatu akan berarti.
b) Kemauan
Kemauan dimaksudkan sebagai pendorong kehendak yang terarah pada suatu tujuan hidup yang dikendalikan oleh akal pikiran. Dorongan kehendak ini akan menimbulkan suatu keinginan sehingga akan muncul minat pada individu yang bersangkutan.
c) Kesenangan
Perasaan senang pada suatu objek atau benda akan menimbulkan minat pada diri seseorang. Pada diri orang yang merasa senang akan muncul perasaan tertarik dan kemudian diikuti dengan
keinginan agar objek tersebut dapat dia kuasai. Dengan kata lain terdapat hubungan yang erat antara kesenangan dengan timbulnya minat karena minat akan muncul dengan adanya perasaan senang pada suatu objek.
d) Perhatian
Perhatian menjadi salah satu aspek dari psikis yang mempunyai pengaruh yang besar pada minat, karena minat dan perhatian memiliki hubungan yang erat. Seseorang dikatakan mempunyai minat pada suatu objek apabila individu tersebut menaruh perhatian yang lebih pada objek tersebut.
4) Lingkungan Sosial
Yang dimaksud lingkungan sosial disini adalah lingkungan yang berada disekitar individu yang dapat mempengaruhi hidupnya. Minat dan perasaan seseorang dapat dipengaruhi oleh pihak- pihak lain atau orang-orang yang berada disekitarnya seperti orang tua, guru, dan teman sebaya.pergaulan dengan lingkungan sekitar akan membawa individu pada suatu minat yang bisanya juga dikehendaki oleh lingkungannya karena seorang individu tidak bisa hidup terlepas dari budaya yang dianut dan tumbuh di lingkungannya.
Guru dikatakan sebagai profesi yang luhur karena tugas dan perannya yang komplek.
Sadirman AM (1996: 148) menyatakan bahwa ”Tugas guru adalah mendidik, membimbing anak didik, agar menjadi manusia berpribadi”. Seseorang dikatakan sebagai guru tidak cukup tahu sesuatu materi yang akan diajarkan, tetapi juga harus melatih beberapa ketrampilan dan sikap mental dari anak didik. Melalui pengajaran guru membentuk konsep berpikir, sikap jiwa, dan menumbuhkan afeksi yang terdalam pada anak didik. Sehingga sebelum mengajar seorang guru yang profesional harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga bahan yang diajarkan dapat dikuasai dengan baik dan dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu kemampuan yang telah dimiliki oleh seorang guru harus terus digali dan dikembangkan sehingga tidak tertinggal dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Pengertian ini rupanya dipahami betul oleh masyarakat, khususnya sebagian besar siswi SMAN 1 Cileungsi sehingga membuat mereka berkeinginan untuk menjadi guru sebagai profesinya kelak di masa depan.
Pemahaman ini tentunya mereka dapatkan melalui sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua maupun lingkungan social sekitar mereka.
“yaa..ga bisa saya pungkiri sih bu, niat saya untuk jadi guru memang keinginan saya sendiri tapi ada dorongan juga dari mamah bu. Mamah saya sering banget bilang kalau pengen punya anak jadi guru, pas saya Tanya alasannya terus mamah saya bilang karena saya perempuan. Orang tua saya udah nyekolahin saya tinggi- tinggi masa nanti saya ga kerja? Nah jadi musti kerja kan bu tapi ya itu, kalau kata mamah saya jangan kerja di kantoran kayak bank atau dimana gitu soalnya pulangnya malam. Paling bagus sih jadi guru karena pulangnya ga malam jadi masih bisa ngurusin keluarga.”
Jawaban di atas dikemukakan oleh NK (17 tahun) salah seorang siswi SMAN 1 Cileungsi yang sangat menginginkan untuk menjadi guru SD. Alasan yang ia kemukakan adalah karena profesi sebagai guru khususnya di Sekolah Dasar tidak menyita banyak waktu. Sehingga kelak saat ia sudah memiliki keluarga (suami dan anak), ia tidak akan kehilangan waktu untuk mengurus keluarganya.
Profesi guru bukan profesi yang mudah karena mempunyai beban dan tanggungjawab moral yang tinggi. Seorang guru dituntut supaya mempunyai etika yang bagus, moral baik, perilaku sopan,cara berbicara sopan dan ramah, memiliki kompetensi profesional dan sosial, memiliki perhatian untuk mendidik orang lain, memberikan waktunya untuk membimbing siswa, mengabdikan hidupnya untuk pendidikan bagi siswa dan masyarakat. Dengan mendidik dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai pengetahuan yang diiringi dengan contoh-contoh teladan dari sikap dan tingkah laku diharapkan anak didik akan menghayati dan menumbuhkan sikap mental yang baik. Dengan demikian dalam proses pendidikan guru tidak hanya berperan sebagaui pengajar yang transfer of knowledge tetapi juga pendidik yang transfer of values. Oleh sebab itu, tidak sembarang orang yang dapat menjadi seorang guru professional.
Yang dianggap dapat menjadi guru professional oleh masyarakat adalah seorang perempuan, mengapa perempuan? Karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang lembut, tekun, teliti serta memiliki naluri alamiah untuk membimbing seorang anak sehingga perempuan dianggap lebih mampu mengemban tugas yang memiliki tanggung jawab moral tinggi ini. Alasan inilah yang peneliti duga kuat sebagai faktor pendorong pengidentikkan profesi guru kepada perempuan.
“iyalah bu guru identic sama perempuan, coba deh ibu lihat kasus-kasus kekerasan di sekolah, kebanyakan yang ngasih hukuman fisik kayak mukul, nampar, nendang, dll kan guru laki-laki. Kalau laki-laki kan ga sabaran bu jadi
menurut saya sih ga cocok jadi guru, beda sama perampuan yang keibuan, lagian kalau laki-laki biasanya lebih cocok yang berhubungan sama kekuatan fisik bu, misalnya nih jadi guru olahraga. Pekerjaan yang jarang ngomong tapi banyak aktivitas fisik bu, kalau jadi guru kan musti banyak omong, nah yang biasanya suka ngomong kan perempuan hehehe…”.
SRN (17 tahun) sebagai anak dari seorang guru berpendapat demikian, ia merasa bahwa sebagai seorang guru dituntut untuk ‘cerewet’ dan yang memiliki naluri untuk ‘cerewet’ adalah seorang perempuan. Berbeda dengan kaum laki-laki yang lebih berminat pada aktivitas fisik sehingga profesi guru dianggap lebih cocok untuk kaum perempuan, kalaupun menjadi guru biasanya laki-laki lebih cocok menjadi guru olah raga yang dianggap lebih banyak aktivitas fisik ketimbang berbicara. Ia juga beranggapan bahwa perempuan itu lebih layak menjadi guru karena perempuan memiliki ketelatenan dalam membimbing siswa ketimbang laki-laki, oleh sebab itu ia menginginkan untuk menjadi guru karena merasa bahwa dirinya memiliki sifat ‘cerewet’.
Berdasarkan karakteristik seks tersier laki-laki, tanda-tanda kelamin tersier yang berwujud tanda-tanda psikis sebagai berikut:
(a) Laki-laki menunjukkan kecenderungan mempergunakan kemampuan atau daya pikir, sedang perempuan lebih emosional.
(b) Laki-laki tertarik pada sikap kejantanan, berani, gagah, suka melindungi (maskulin), sedangkan perempuan lebih tertarik pada sikap ingin dilindungi dan penuh kasih saying (feminism).
(c) Laki-laki tertarik pada keinginan/pekerjaan diluar rumah, sedangkan perempuan cenderung melakukan pekerjaan/kegiatan yang ada di dalam rumah.
Pada remaja akhir yang berusia 16/17-18 tahun mulai memikirkan masa depan mereka secara bersungguh-sungguh karena tidak setiap anak nantinya mempunyai kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka remaja mulai memikirkan pekerjaan apa yang akan mereka geluti setelah lulus sekolah nanti. Sedangkan remaja yang mempunyai kesempatan untuk melanjutka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi mulai memikirkan jurusan apa yang akan mereka ambil sehingga tidak ada penyesalan dikemudian hari. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam minat pada pekerjaan, anak laki-laki biasanya lebih bersungguh-
sungguh dalam hal pekerjaan dibandingkan dengan anak perempuan karena perempuan kebanyakan memandang pekerjaan sebagai kegiatan untuk membantu menyokong perekonomian keluarga yang dimilikinya nanti sedangkan laki-laki adalah tulang punggung keluarga yang utama. Oleh karena itu anak laki-laki menginkan pekerjaan yang menarik dan mempunyai prospek ekonomi tinggi seperti hukum atau insinyur sesuai dengan stereotip yang disajikan dalam masyarakat tanpa memperhatikan kemampuan yang mereka miliki. Sehingga arahan dan bimbingan dari orang tua sangat diperlukan pada masa-masa ini agar nantinya anak tidak mengalami kekecewaan dengan kenyataan yang akan dia dapat di dunia pekerjaan sesungguhnya.
4.2 Reproduksi Patriarki Dalam Pemilihan Profesi Guru Oleh Siswi SMAN 1 Cileungsi