• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

44

makanan ringan seperti kacang disko, jambu mete, kue bagea, kue baruasa, markisa, dodol, sirup DHT, kopi toraja dan kue-kue kering khas Makassar lainnya. Sementara obat-obatan yang terkenal dari Makassar dan banyak diminati adalah minyak gosok cap tawon dan cap beruang.

Jalan yang namanya diambil dari nama benteng peninggalan kerajaan Gowa ini juga terkenal sebagai pusat penjualan perhiasan emas di Makassar. Tak heran ketika berada di jalan tersebut, bukan hanya penjual ole-ole khas Makassar yang akan ditemui, namun juga deretan toko perhiasan emas di kiri-kanan jalan tersebut. Konon emas yang dijual di sini, kadar emasnya lebih tinggi dibanding rata-rata kadar emas di Jakarta. Umumnya pedagang di sini, baik penjual emas maupun ole-ole berasal dari etnis Tionghoa yang sudah lama bermukim di Makassar. Jalan Somba Opu ini biasanya mulai ramai menjelang siang sampai malam hari. Namun di malam hari sebagian besar toko emas yang berada di bagian utara (gerbang masuk) biasanya sudah tutup, hanya penjual souvenir, toko- toko alat olahraga dan musik yang melayani pembeli sampai menjelang larut malam.

kelancaran usaha mereka dengan tindakan-tindakan yang sangat rentan dengan ketidakstabilan politik.

Pada dasarnya kerja sama ini sangat menguntungkan kedua belah pihak terutama etnis Tionghoa yang memilih pengusaha baru dan mendominasi perekonomian di Indonesia baik dari segi akomodasi modal maupun dari segi jumlah pajak yang telah dibayarkan. Sehingga dari uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa etika masyarakat etnis Tionghoa sangat mendominasi perekonomian di Indonesia.

Pembahasan dalam penelitian ini ditekankan dalam menganalisis bentuk dominasi etika masyarakat Tionghoa khususnya di Jalan Somba Opu kota Makassar. Wawancara dengan Johny Mailan selaku salah satu etnis Tionghoa yang berdomisili di Jalan Somba Opu kota Makassar mengemukakan bahwa :

Dominasi etnis Tionghoa khususnya di Jalan Somba Opu adalah beberapa bidang seperti : perdagangan emas, dan bidang usaha lainnya (wawancara tgl. 1 Agustus 2016)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Johny selaku salah satu pelaku usaha maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Etnis Tionghoa menguasai perdagangan emas dan usaha lainnya. Kemudian wawancara dengan salah satu warga jalan Somba Opu kota Makassar yaitu mengatakan bahwa :

Dalam perdagangan wilayah jalan Somba Opu di kota Makassar hampir kurang lebih 95% etnis Tionghoa menekuni perdagangan dan semuanya memiliki profesi sebagai pedagang emas (wawancara tgl. 1 Agustus 2016)

Dari hasil wawancara dengan salah satu warga jalan Somba Opu kota Makassar maka dapat disimpulkan bahwa dominasi perdagangan di Jalan Somba

46

Opu kota Makassar hampir 100% berprofesi sebagai pedagang dan mayoritas etnis Tionghoa rata-rata membuka toko emas.

Selanjutnya wawancara dengan Coang Him selaku salah satu masyarakat di Jalan Somba Opu mengenai bentuk dominasi etnis Tionghoa dalam menguasai perdagangan yaitu sebagai berikut :

Bentuk dominasi etnis Tionghoa di Somba Opu dalam menguasai perdagangan adalah lebih cenderung menguasai bidang perdagangan emas, hal ini terjadi sudah sejak lama (wawancara tgl. 2 Agustus 2016)

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan maka dapat dikatakan bahwa bentuk dominasi etnis Tionghoa di Jalan Somba Opu kota Makassar pada umumnya lebih didominasi dalam bidang perdagangan emas dan hal ini terjadi sejak cukup lama.

Kemudian Abdul Azis selaku warga Pribumi yang berdomisili di Jalan Somba Opu kota Makassar mengatakan :

Bentuk dominasi etnis Tionghoa yang berdomisili di Jalan Somba Opu kota Makassar adalah monopoli, dimana semua warga etnis Tionghoa monopoli perdagangan sedangkan pribumi hanya rata-rata 5-10% yang berprofesi pedagang emas (wawancara tgl. 2 Agustus 2016).

Dari hasil wawancara dapat dikatakan bahwa bentuk dominasi etnis Tionghoa di Jalan Somba Opu kota Makassar monopoli didominasi oleh etnis Tionghoa yang menetap di Jalan Somba Opu 95% menguasai perdagangan emas, sedangkan 5% dikuasai oleh pribumi, itupun pedagang emas masyarakat pribumi Cuma di area jalan saja atau di muka toko pengusaha etnis masyarakat Tionghoa.

Kemudian wawancara dengan Oie Tiong selaku salah satu masyarakat etnis Tionghoa yaitu :

Bentuk dominasi perdagangan emoas Tionghoa di Jalan Somba Opu adalah bentuk monopoli karena faktor turun temurun, dan sudah berlangsung sejak lama mulai dari tahun 1930 hingga sekarang (wawancara tgl. 3 Agustus 2016).

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu warga masyarakat etnis Tionghoa maka dapat dikatakan bahwa bentuk dominasi perdagangan etnis Tionghoa di jalan Somba Opu lebih banyak dimonopoli oleh etnis Tionghoa dan hal ini disebabkan oleh karena faktor keturunan, yang artinya selain turun temurun warga di Jalan Somba Opu memiliki pekerjaan sebagai pengusaha emas dan hal ini terjadi sejak tahun 1930 hingga sekarang.

Selanjutnya wawancara dengan Steven Wijaya selaku warga etnis Tionghoa yang beralamat di Jalan Somba Opu yaitu sebagai berikut :

Selama orde lama hingga orde reformasi ini pedagang emas lebih banyak dikuasai oleh masyarakat etnis Tionghoa karena didasari dari faktor pengalaman dan faktor keturunan sebelum menekuni profesi sebagai pedagang (wawancara tgl. 5 Agustus 2016)

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu warga etnis Tionghoa di Jalan Somba Opu maka dapat dikatakan bahwa sejak orde lama hingga orde reformasi saat ini menunjukkan bahwa etnis Tionghoa di jalan Somba Opu lebih banyak menguasai perdagangan, hal ini didasari dari faktor pengalaman dan faktor keturunan dan aspek permodalan yang sebelumnya bergerak di bidang perdagangan emas, hingga sisa meneruskan usaha ayahnya.

48

Kemudian wawancara dengan Abdullah salah satu warga pribumi yang berdomisili di Jalan Somba Opu dan juga sebagai pedagang emas yaitu sebagai berikut :

Bentuk dominasi warga etnis Tionghoa di Jalan Somba Opu adalah pedagang monopoli. Dominasi warga di jalan Somba Opu memonopoli usaha perdagangan sehingga warga pribumi yang tinggal di jalan Somba Opu sangat kecil sekali (wawancara tgl. 10 Agustus 2016).

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu warga pribumi yang tinggal di jalan Somba Opu maka dapat disimpulkan bahwa bentuk dominasi warga etnis Tionghoa khususnya berdomisili di Jalan Somba Opu lebih banyak memonopoli perdagangan hingga warga pribumi hanya mendapatkan peluang yang sangat kecil sekali dalam usaha perdagangan emas di Jalan Somba Opu.

Selanjutnya wawancara dengan Razak selaku salah satu warga pribumi yang juga sebagai pedagang emas yaitu :

Dominasi warga etnis Tionghoa yang menguasai perdagangan emas karena didasari dari pengalaman dan selain itu warga etnis Tionghoa memiliki aspek permodalan yang cukup besar jika dibandingkan dengan pedagang emas pribumi (wawancara tgl. 10 Agustus 2016).

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan maka dapat dikatakan bahwa dominasi warga etnis Tionghoa yang sebagian besar memonopoli perdagangan di Jalan Somba Opu karena ditunjang oleh adanya pengalaman yang dimiliki selama berdagang emas dan selain itu karena ditunjang oleh adanya aspek permodalan yang cukup besar jika dibandingkan dengan warga pribumi yang menekuni profesi sebagai pedagang emas.

Selanjutnya wawancara dengan Hasanuddin selaku warga pribumi yang berdomisili di Jalan Somba Opu yaitu :

Monopoli masyarakat etnis Tionghoa dalam perdagangan emas hampir 95% sedangkan sisanya yakni 5% hanya didominasi oleh masyarakat pribumi (wawancara tgl. 11 Agustus 2016).

Berdasarkan hasil wawancara maka dapat dikatakan bahwa pedagang emas lebih banyak dimonopoli oleh etnis Tionghoa khususnya di Jalan Somba Opu kota Makassar yakni sebesar 95% dan sisanya sebesar 5% hanya didominasi oleh masyarakat non pribumi yang berada di Jalan Somba Opu.

2. Implikasi Dominasi Ekonomi Etnis Tionghoa di Jalan Somba Opu kota Makassar

Sudah merupakan pendapat umum bahwa golongan minoritas etnis Tionghoa memegang peranan yang amat menentukan dalam kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia, sehingga apabila diadakan perbedaan golongan ekonomi lemah dan golongan ekonomi kuat maka yang kuat selalu diartikan golongan etnis Tionghoa atau non pribumi. Hal ini dapat dilihat dari setiap perkotaan di Indonesia umumnya dalam perkotaan milik golongan non pribumi atau etnis Tionghoa.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa etnis Tionghoa di Indonesia menguasai seluruh perdagangan. Hal ini didasari dari masa orde baru yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi sudah makin kondusif yang didorong banyaknya usaha dan modalyang dimiliki oleh etnis Cina dan ditunjang oleh kemampuan teknologi dan hubungan perekonomian dengan pihak luar negeri terutama dengan sesama etnis Cina di Luar Negeri seperti : Hongkong, Singapura

50

akibatnya etnis Tionghoa mengalami status sosial ekonomi yanglebih baik jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Dari peningkatan status sosial ekonomi yang dimiliki oleh etnis Tionghoa maka akan dilakukan analisis mengenai implementasi dominasi ekonomi Tionghoa dengan obyek di Jalan Somba Opu kota Makassar. Hal ini didasari dari wawancara dengan Bapak Azis selaku warga pribumi yang tinggal di Jalan Somba Opu mengatakan bahwa :

Keberhasilan etnis Tionghoa yang berdomisili di Jalan Somba Opu dalam menguasai perdagangan emas karena adanya keberanian dalam membentuk jaringan kerja dan kerja sama antara sesama pengusaha emas (wawancara tgl. 12 Agustus 2016)

Berdasarkan hasil wawancara dengan warga pribumi yang tinggal di jalan Somba Opu karena didukung oleh adanya keberanian Etnis Tionghoa dalam membentuk jaringan kerja dengan pengusaha emas yang tergabung sebagai etnis Tionghoa dimana karena didukung dengan adanya kerja sama antara pengusaha emas dengan pengusaha emas lainnya.

Kemudian wawancara dengan Cho Ming selaku warga keturunan etnis Tionghoa yang berdomisili di Jalan Somba Opu mengatakan::

Salah satu perwujudan pengusaha emas sehingga berhasil dalam menguasai perdagangan karena kepercayaan, rasa tanggungjawab dan kerja sama dalam menekuni bisnis perdagangan emas (wawancara tgl. 13 Agustus 2016)

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan etnis Tionghoa dalam menguasai perdagangan emas di Makassar karena didorong oleh adanya kerja sama dengan sesama pengusaha emas yang merupakan golongan etnis Tionghoa

dan selain itu didukung oleh adanya kepercayaan yang ditanamkan oleh pengusaha emas di jalan Somba Opu.

Selanjutnya wawancara dengan Jeffry selaku pengusaha emas etnis Tionghoa yang berdomisili di Jalan Somba Opu kota Makassar yaitu :

Implementasi yang dijalankan oleh pengusaha emas khususnya bagi etnis Tionghoa karena kepercayaan yang ditanamkan kepada pelanggannya khususnya dalam hal penjualan emas sangat tinggi sebab emas yang dijual rata-rata memiliki kondisi emas 95%.

(wawancara tgl. 15 Agustus 2016).

Hasil wawancara dengan salah satu warga di Jalan Somba Opu maka dapat dikatakan bahwa implementasi yang dijalani dalam menekuni profesi sebagai pedagang emas sehingga dapat mendominasi perdagangan emas karena adanya kepercayaan yang ditanamkan kepada pelanggan dan pengusaha emas dibuat dengan kadar emas 95%.

Kemudian keunggulan pedagang emas sehingga dapat mendominasi perdagangan emas sesuai wawancara yang dilakukan oleh Novalia Wijaya yaitu sebagai berikut :

Keunggulan pedagang emas di Jalan Somba Opu sehingga mengungguli bisnis emas karena pengalaman yang dimiliki olehpedagang dalam membuat emas sesuai dengan pesanan dan pembeli emas, dan selain itu didukung oleh adanya kejujuran yang dimiliki oleh setiap pedagang emas (wawancara tgl. 15 Agustus 2016).

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan selama ini maka dapat dikatakan bahwa keunggulan pedagang emas jika dibandingkan dengan pedagang emas lainnya karena adanya pengalaman yang dimiliki oleh pedagang dalam

52

membuat emas dan selain itu karena didukung oleh adanya kejujuran yang ditanamkan oleh pedagang saat melakukan perdagangan emas.

Wawancara dengan Malik yang salah satu pedagang emas pribumi mengatakan bahwa :

Kelompok etnis Tionghoa sangat menguasai perdagangan emas jika dibandingkan dengan kelompok pribumi karena memiliki keunggulan yang sangat besar karena memiliki kepercayaan, pengalaman dan memiliki aspek permodalan yang besar jika dibandingkan dengan golongan pribumi (wawancara tgl. 15 Agustus 2016)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Malik yakni selaku salah satu pengusaha emas yang termasuk golongan pribumi yang menjual emas di jalan Somba Opu, dimana dari hasil wawancara maka dapat dikatakan bahwa kelompok etnis Tionghoa jika dibandingkan dengan pribumi karena golongan etnis Tionghoa memiliki keunggulan seperti : kepercayaan, pengalaman dan aspek permodalan yang cukup besar.

Selanjutnya wawancara dengan Mirna selaku salah satu pembeli emas golongan pribumi yang membeli emas di salah satu Toko emas di Jalan Somba Opu mengatakan bahwa :

Kepercayaan yang saya rasakan selama membeli emas pada Toko emas yang dimiliki oleh orang Cina sangat tinggi, hal ini disebabkan karena emas yang saya beli selalu murni dan tidak salah-salah sehingga sudah bertahun-tahun saya berlangganan di toko Emas orang Cina (wawancara tgl. 15 Agustus 2016).

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan selama ini maka dapat dikatakan bahwa keunggulan toko emas yang dikelola oleh Etnis Tionghoa khususnya berlokasi di Jalan Somba Opu karena kepercayaan yang dimiliki tinggi

karena emas yang dibeli murni dan tidak menimbulkan kekecewaan bagi warga pribumi.

Kemudian wawancara dengan Haji Salam selaku pembeli emas di Jalan Somba Opu mengatakan bahwa :

Dominasi orang Cina menguasai perdagangan emas di Jalan Somba Opu sudah sangat lama sekali semenjak saya masih kecil, itu karena budaya orang Cina memiliki pengalaman berdagang, kemampuan untuk melayani pembeli ramah, sopan hingga banyak pembeli emas pribumi berdatangan membeli emas di Toko Emas Somba Opu (wawancara tgl. 15 Agustus 2016).

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa salah satu kegiatan usaha etnis tionghoa sehingga banyak didominasi oleh golongan pribumi karena pedagang emas golongan etnis tionghoa ramah, sopan dalam melayani pelanggan.

Dokumen terkait