BAB II STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER 12
C. Hasil Penelitian yang Relevan
Berdasarkan penulusuran penulis terhadap beberapa karya tulis dan hasil penelitian sebelumnya, ternyata terdapat beberapa karya yang memiliki tema hampir sama dengan tema yang diangkat penulis. Berikut beberapa karya yang dimaksud:
Pertama, Disertasi karya Tutuk Ningsih pada tahun 2014
“Implementasi Pendidikan Karakter di SMP Negeri 8 dan SMP Negeri 9 Purwokerto”. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menggambarkan dan menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam implementasi pendidikan karakter (IPK) si SMP Negeri 8 dan SMP Negeri 9 Purwokerto. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kualitatif-naturalistik.
Sedangkan hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Implementasi
pendidikan karakter yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan siswa mempunyai peranan yang positif dalam pembentukan kultur sekolah yang berkarakter. (2) Kegiatan PBM (intrakurikuler) dan kegiatan ekstrakurikuler sekolah berperan sangat penting dan positif dalam IPK di sekolah. (3) Aktualisasi nilai-nilai karaketr dalam IPK cenderung mengacu pada prinsip ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku) berbasis karakter kebangsaan dan religius68
Kedua, penelitian dengan judul Pola Pengembangan Pendidikan Karakter Siswa (Sebuah Studi di SDN 1 Polorejo) yang ditulis oleh Hadi Cahyono69 mendeskripsikan bahwa pada dasarnya pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting dan mendasar bagi kehidupan manusia, kelompok masyarakat, atau bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Adapun hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pola pengembangan SDN 1 Polorejo berupa pengembangan karakter melalui proses pembelajaran, manajemen, dan ekstrakurikuler siswa yang lebih inten dan teratur.
Ketiga, penelitian berjudul Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah yang disusun oleh Bambang Dalyono dan Enny Dwi Lestariningsih70 menegaskan perlunya pendidikan karakter untuk dilaksanakan.
Hal tersebut di antaranya disebabkan dengan adanya gejala-gejala yang menandakan tergerusnya karakter bangsa, pada era globalisasi. Kebebasan berkehendak free will, tanpa aturan yang baku, iklim kebebasan, tidak jarang diartikan dengan kebebasan bertindak. Tawuran antar pelajar, antar kampung, main hakim sendiri, dan sebagaimana berlangsung di berbagai tempat, sekaligus menjauhkan kehidupan masyarakat yang beradab, berkarakter, dan berakhlak mulia di mana upaya mewujudkan peradaban bangsa melalui
68 Tutuk Ningsih, ‘Implementasi Pendidikan Karakter di SMP Negeri 8 dan SMP Negeri 9 Purwokerto”, Disertasi (Yogyakarta: UNY, tidak diterbitkan, 2014).
69 Hadi Cahyono, “Pola Pengembangan Pendidikan Karakter Siswa (Sebuah Studi di SDN 1 Polorejo)”, Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 3 No. 2 Juli 2015, 5-12.
70 Bambang Dalyono dan Enny Dwi Lestariningsih, “Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah”, Jurnal Bangun Rekaprima, Vol. 03 Oktober 2017, 33-42.
pendidikan karakter bangsa tidak pernah terlepas dari lingkungan pendidikan baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam hal ini, lembaga pendidikan memegang kunci utama penanaman karakter dan akhlak peserta didik. Hakekat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Adapun model implementasi penguatan pendidikan karakter di sekolah, antara lain model otonomi dengan menempatkan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran tersendiri, model integrasi dengan menyatukan nilai-nilai dan karakter-karakter yang akan dibentuk dalam setiap mata pelajaran, model ekstrakurikuler melalui sebuah kegiatan tambahan yang berorintasi pembinaan karakter siswa, dan model kolaborasi dengan menggabungkan ketiga model tersebut dalam seluruh kegiatan sekolah, seperti melalui keteladanan, pembelajaran di kelas, pengintegrasian dengan semua materi pelajaran, pengintegrasian dalam kegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler, pemberdayaan dan pembudayaan, dan penguatan. Adapun guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral.
Keempat, penelitian dengan judul Penguatan Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di Sekolah yang disusun oleh Asep Dahliyana71 yang bertujuan untuk menggali dan mengkaji informasi tentang pengembangan habituasi pendidikan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Bandung mengindikasikan bahwa hubungan kegiatan ekstrakurikuler dengan pendidikan karakter, yaitu sebagai pengejawantahan antara pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan sikap dan keterampilan yang harus dikembangkan agar dapat dimiliki siswa berupa nilai-nilai budi pekerti luhur yang telah menjadi budaya dalam kehidupan sosial sekolah tersebut.
71 Asep Dahliyana, “Penguatan Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di Sekolah”, Jurnal Sosioreligi, Vol. 15 No. 1, Maret 2017, 54-64.
Kelima, dalam tulisan yang disusun oleh Rusmaini72 dengan judul Manajemen Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan Islam mendeskripsikan bahwa pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara serta membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan. Lembaga Pendidikan Islam sebagai suatu organisasi pendidikan bukan saja besar secara fisik, tetapi juga mengemban misi yang besar dan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan membentuk akhlak al karimah peserta didiknya, tentunya memerlukan manajemen yang profesional. Implementasi manajemen pendidikan karakter di Lembaga Pendidikan Islam dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi dalam setiap bidang studi.
Dari beberapa tulisan dan hasil penelitian di atas, penulis bermaksud mengungkap pelaksanaan pendidikan nilai karakter pada tingkat madrasah ibtidaiyah. Prosedur pelaksanaan pendidikan karakter di tingkat madrasah ibtidaiyah tidak bisa disamakan secara keseluruhan dengan jenjang pendidikan di atasnya. Pembahasan tentang pendidikan nilai karakter ini bersifat komprehensif tidak hanya dalam proses pembelajaran (intrakurikuler), melainkan juga di luar proses pembelajaran, seperti halnya kegiatan ekstrakulikuler, program pembiasaan, budaya sekolah dan tata tertib siswa di MIN 5 Brebes dan MIN 7 Brebes. Di sinilah letak perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.