BAB IV. PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
1. Potensi Zakat Mal di Kabupaten Nagekeo pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo
Potensi zakat dapat diartikan sebagai tingkat kemampuan zakat dalam pemberdayaan masyarakat dan pemberantasan kemiskinan. Zakat dapat menjadi instrumen yang baik dalam pemerataan kekayaan apabila dikelola dengan profesional oleh lembaga yang berwenang. Dalam hal ini dapat kita lihat bahwa, Potensi Zakat mal di Kabupaten Nagekeo terbilang besar, hal ini di buktikan dari data yang diberikan oleh BAZNAS Kabupaten Nagekeo ditinjau dari jumlah masyarakat di Kabupaten Nagekeo. secara keseluruhan jumlah penduduk di Kabupaten Nagekeo sebesar 144.414 jiwa dengan jumlah umat muslim sebesar 14.167 jiwa yang terbagi menjadi 10.675 jiwa muzaki dan 1.724 jiwa mustahik yang berasal dari 30 masjid dan 20 musola, dari data diatas menunjukan bahwa zakat mal di Kabupaten Nagekeo berpotensi mensejahterakan mustahik.
Adapun indikator yang mempengaruhi pengembangan potensi zakat mal di kabupaten nagekeo yaitu, sistematika persyaratan dalam menentukan potensi zakat mal, strategi dalam meningkatkan potensi zakat mal, dan tolak ukur potensi zakat mal di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Nagekeo.
a. Sistematika Persyaratan Dalam Menentukan Potensi Zakat Mal Di Kabupaten Nagekeo
Untuk mengetahui potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo, maka ketentuan persyaratan atau prosedur harus diketahui terlebih dahulu, sebagaimana dalam wawancara dengan, Informan IJ (22 Juli 2020) beliau mengatakan bahwa, sistematika persyaratan dalam menentukan potensi zakat mal di kabupaten nagekeo, dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang mayoritas islam dan mempunyai penghasilan senilai 85 gram emas dalam 1 tahun, dan semua ASN yang memiliki gaji dalam 1 tahun 48 juta wajib serta petani yang menghasilkan 652 kilo beras wajib membayar zakat mal.
Dalam hal ini Informan berinisial AB (22 Juli 2020) berpendapat bahwa sistematika persyaratan dalam menentukan potensi zakat mal itu sesuai haul dan nisab untuk Kabupaten Nagekeo sendiri masih memprioritaskan petani dalam pengumpulan zakat mal sedangkan untuk zakat berupa emas dan hewan hampir rendah sekali bahkan hampir tidak ada karena tidak adanya kesadaran dari Muzaki.
Selain itu Informan berinisial AS (24 Juli 2020) mengatakan bahwa sistematika persyaratan dalam menentukan potensi zakat mal di
Kabupaten Nagekeo itu dengan melakukan pendataan terhadap orang-orang yang memiliki kecukupan harta, dan hartanya merupakan miliknya dan telah mencapai haul maka itu wajib untuk mengeluarkan zakat mal, sehingga dengan dilakukannya pendataan seperti ini kita bisa mengetahui potensi zakat mal yang berada di Kabupaten Nagekeo.
sistematika persyaratan dalam menentukan potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo ialah jumlah penduduk mayoritas islam dan pendapatan ekonomi penduduk diatas rata-rata. kemudian dilakukan pendataan tentang yang layak membayar zakat (Muzaki) dan yang layak menerima zakat (Mustahik). sehingga dengan ini dapat diketahui potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo Khususnya di Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo dalam meningkatkan kesejahteraan mustahik.
b. Strategi Dalam Meningkatkan Potensi Zakat Mal
Dalam melakukan peninjauan terhadap potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo, melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo tentu memerlukan strategi dalam mengembangkan dan meningkatkan potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo. dalam wawancara Informan IJ (22 Juli 2020) menyatakan bahwa ada beberapa strategi dalam dalam mengembangkan dan meningkatkan Potensi zakat Mal di Kabupaten Nagekeo yaitu, melakukan sosialisasi misalnya melakukan pendekatan kepada petani pada saat waktu dia panen dan melakukan penjelasan secara umum kepada para petani sehingga timbul kesadaran membayar zakat.
Strategi merupakan suatu pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Untuk mengetahui strategi dalam meningkatkan potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo peneliti melakukan wawancara terhadap informan yaitu Informan berinisial AB (22 Juli 2020) beliau mengatakan bahwa strategi yang perlu dimaksimalkan yaitu sosialisasi karena kebanyakan wajib zakat juga tidak mengetahui bahwa mereka wajib zakat dan kebiasaan membayar zakatnya tidak pada UPZ dan BAZNAS melainkan melalui personal. Sehingga langkah awal yang harus diambil adalah sosialisasi agar masyarakat dapat menunaikan kewajiban zakat karena masyarakat di Kabupaten Nagekeo masih minim pemahamannya tentang zakat.
Dalam wawancara ini informan berinisial AS (24 Juli 2020) menjelaskan bahwa strategi utama dalam meningkatkan Potensi Zakat Mal itu adalah menimbulkan kesadaran terhadap masyarakat wajib zakat dengan melakukan pendekatan baik secara personal ataupun kelompok karena dengan upaya seperti ini bisa menimbulkan kesadaran membayar zakat, sehingga kami bisa mengoptimalkan pengelolaannya dan bisa memanfaatkan potensinya untuk pemberdayaan mustahik. Dari ketiga jawaban yang diberikan oleh informan dapat disimpulkan bahwa pemahaman masyarakat Kabupaten Nagekeo tentang zakat mal masih sangat minim oleh karena itu strategi yang diterapkan oleh Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo adalah sosialisasi tentang zakat mal kepada masyarakat dan pendekatan secara religious sehingga potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo dapat di efektivitaskan dengan baik.
c. Tolak Ukur Zakat Mal Di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo Berpotensi Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Nagekeo
Dalam menentukan potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo tentu memiliki tolak ukur oleh karena itu selaku peneliti melakukan wawancara terhadap informan mengenai tolak ukur potensi zakat mal di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Nagekeo, sebagaimana yang dinyatakan oleh Informan IJ (22 Juli 2020) mengatakan bahwa tolak ukur zakat mal yang berpotensi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yaitu apabila dana dari zakat mal ini telah mampu melakukan pemberantasan kemiskinan dan melakukan pemberdayaan kepada mustahik.
Dalam menentukan tolak ukur potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo dalam meningkatkan kesejahteraan mustahik informan berinisial HY (23 Juli) mengemukakan bahwa tolak ukur zakat mal terhadap kesejahteraan masyarakat dapat kita lihat dari pemberdayaan BAZNAS Kabupaten Nagekeo terhadap mustahik yang berada di daerah ini, dengan mengoptimalkan pembayaran zakat dari Muzaki kemudian didistribusikan secara optimal kepada Mustahik sehingga dapat dilakukan pemberdayaan kepada mustahik.
Sedangkan menurut RAP (24 Juli 2020) mengatakan bahwa tolak ukur potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo dalam Menyejahterakan mustahik itu dapat dibandingkan atau menjadi pembanding apabila kegiatan meminjam uang kepada rentenir oleh mustahik di Kabupaten
Nagekeo ini telah berkurang sehingga hal ini membuktikan bahwa zakat di kabupaten nagekeo dengan potensi yang besar ini telah mampu dimanfaatkan dengan baik sehingga para mustahik tidak perlu berhutang ke rentenir dengan bunga yang mencekik leher, akan tetapi para mustahik ini dibantu dengan dana zakat yang diberikan oleh BAZNAS Kabupaten Nagekeo kepada Mustahik untuk membuka usaha sebagai bentuk pemberdayaan terhadap mustahik tersebut.
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan informan menunjukan bahwa yang menjadi tolak ukur dari zakat mal yang berpotensi dalam mensejahterakan Mustahik adalah pemberdayaan terhadap mustahik di Kabupaten Nagekeo. Dari data yang di dapatkan jumlah mustahik di Kabupaten Nagekeo berjumlah 1.724 jiwa. Secara umum klasifikasi pekerjaan mustahik di Kabupaten Nagekeo yaitu, ada yang sebagai penjual ikan, pedagang sayur, dan pedagang kaki lima. Untuk mengetahui lebih jauh tentang besar potensi zakat mal di Kabupaten Nageskeo maka akan di sajikan data laporan pengelolaan zakat mal pada tahun 2019/1440 H dan pada tahun 2020/1441 H Pada Tabel 4.2 sebagai berikut:
BAZNAS KABUPATEN NAGEKEO
LAPORAN PENERIMAAN ZAKAT TAHUN 1440-1441 H
JUMLAH UPZ
ZAKAT FITRAH
ZAKAT MAL INFAK
NO KECAMATAN PEMBERI (Orang) PENERIMA (Orang) UANG (Orang) BERAS (Kg)
1440 H 1441 H 1440 H 1441 H 1440 H 1441 H 1440 H 1441 H 1440 H 1441 H 1440 H 1441 H 1440 H 1441 H
1 AESESA 19 6,391 4,365 956 730 124,341,500.00 93,850,000.00 4,230.00 2,950.00 56,585,000.00 19,300,000.00 28,633,500.00 24,348,000.00
2 WOLOWAE 1 329 661 89 126 13,875,000.00 16,050,000.00 152.00 80.00 20,000,000.00 13,890,000.00 1,969,000.00 1,312,000.00
3 NANGARORO 7 1,184 849 276 180 30,928,000.00 24,014,000.00 35.00 0.00 3,820,000.00 1,536,000.00 3,784,000.00 2,761,000.00
4 KEO TENGAH 5 928 482 116 79 23,200,000.00 13,370,000.00 0.00 0.00 3,510,000.00 775,000.00 2,733,000.00 1,910,000.00
5 MAUPONGGO 6 1,554 467 204 23 30,690,000.00 12,095,000.00 828.50 67.50 7,395,000.00 1,665,000.00 8,510,000.00 1,835,000.00
6 BOAWAE 1 289 88 83 66 6,850,000.00 10,170,000.00 37.50 0.00 8,500,000.00 7,800,000.00 405,000.00 1,705,000.00
7
39 0 10,675 6,912 1,724 1,204 229,884,500.00 169,549,000.00 5,283.00 3,097.50 99,810,000.00 44,966,000.00 46,034,500.00 33,871,000.00
Berdasarkan Tabel di atas maka dapat kita lihat bahwa pada tahun 2019 penerimaan zakat dari setiap UPZ yang berada di 7 Kecamatan mencapai Rp.99.810,000.00 namun mengalami penurunan pada tahun 2020 sebesar Rp.44,966,000.00, dikarenakan pendemi. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa potensi zakat mal di Kabupaten Nagekeo memiliki potensi besar dalam mensejahterakan dan melakukan pemberdayaan kepada mustahik.
2. Efektivitas Pengelolaan Zakat Mal di Kabupaten Nagekeo pada Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo
Efektivitas dalam konteks pengelolaan zakat dapat diartikan sebagai suatu usaha dalam proses tercapainya kesadaran Muzaki dalam berzakat kepada BAZNAS selaku lembaga yang diamanahkan untuk mengelolah zakat sehingga masyarakat Kabupaten Nagekeo terentaskan dari kemiskinan dan mencapai suatu kesejahteraan. Adapun indikator yang ada dalam efektivitas pengelolaan zakat mal di badan amil zakat nasional kabupaten nagekeo yaitu, sistematika prosedur pengumpulan dan pengelolaan zakat mal di Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo, strategi dalam mengektivitaskan pengelolaan zakat mal di Badan Amil Zakat Kabupaten Nagekeo, dan tolak ukur efektivitas pengelolaan zakat mal di Badan Amil Zakat (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo.
a. Sistematika Prosedur Pengumpulan dan Pengelolaan Zakat Mal di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo
Untuk mengetahui sistematika prosedur pengumpulan dan pengelolaan zakat mal di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo peneliti melakukan wawancara kepada beberapa
informan terkait prosedur pengumpulan dan pengelolaan zakat Mal.
sebagaimana dikatakan oleh Informan IJ (22 Juli 2020) mengatakan bahwa prosedurnya itu melalui Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) yang ada di musala atau masjid di setiap kecamatan, dari UPZ kemudian diserahkan untuk dikelola oleh BAZNAS Kabupaten Nagekeo kemudian didistribusikan kepada 8 asnaf atau 8 golongan tersebut.
Dalam wawancara dengan Informan berinisial AB (22 Juli 2020) beliau mengatakan bahwa prosedur pengumpulan di Unit Pengumpulan Zakatnya (UPZ) tidak secara Individu untuk membayar langsung ke BAZNAS, hanya ada satu atau dua orang yang langsung membayar ke BAZNAS, untuk dua tahun berjalan ini zakat mal dikumpulkan oleh Unit Pengumpulan Zakat di masjid masing-masing kemudian dari UPZ diserahkan ke BAZNAS kemudian dilakukan pendataan, setelah itu dikumpulkan, kemudian bagian keuangan juga mulai memberikan informasi kepada UPZ tentang berapa banyaknya zakat mal yang masuk, apabila sudah saatnya untuk dikeluarkan biasanya, melakukan pendataan terhadap orang yang berhak menerima zakat (Mustahik).
Sistematika prosedur pengumpulan dan pengelolaan zakat mal tidak terlepas dari muzaki dan mustahik sebagai orang yang membayar dan menerima zakat, sebagaimana wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap informan berinisial HB selaku Muzaki (24 Juli 2020) yang mengatakan bahwa dia melakukan pembayaran di Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) di masjid terdekat, jadi dia mengamanahkan zakat mal yang diberikan kepada UPZ yang kemudian akan diserahkan ke BAZNAS untuk dikumpulkan, dikelola dan didistribusikan. Dan
menurut informan berinisial RM selaku mustahik (25 Agustus 2020) beliau mengatakan bahwa, ia menerima bantuan zakat dari BAZNAS melalui UPZ di masjid atau musala di setiap Kecamatan. Dari UPZ kemudian di berikan kepada mustahik yang telah di data oleh BAZNAS Kabupaten Nagekeo.
Berdasarkan hasil wawancara diatas menunjukan bahwa persyaratan prosedurnya itu melalui Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) yang ada di musala atau masjid di setiap kecamatan, dari UPZ kemudian diserahkan untuk dikelola oleh BAZNAS Kabupaten Nagekeo kemudian didistribusikan kepada 8 asnaf tersebut dalam penyalurannya baik berupa uang ataupun bahan pokok.
b. Strategi dalam Mengektivitaskan Pengelolaan Zakat Mal di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo
Dalam melakukan peninjauan terkait efektivitas pengelolaan zakat mal di Kabupaten Nagekeo, dalam hal ini diperlukan strategi dalam mengektivitaskan zakat mal di Kabupaten Nagekeo, sehingga peneliti melakukan wawancara dengan informan yang terkait dengan penelitian ini. Menurut Informan IJ (22 juli 2020) menyatakan bahwa strategi dalam mengektivitaskan zakat mal di Kabupaten Nagekeo dipengaruhi oleh dukungan pemerintah berupa bantuan dana operasional dan juga penetapan hukum yang efektif sehingga masyarakat sadar akan kewajiban membayar zakat di lembaga zakat yaitu Badan amil zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo sehingga zakat dapat dikelola dengan baik dan menjadi instrumen pemberantasan kemiskinan.
Dalam mengektivitaskan pengelolaan zakat mal di Kabupaten Nagekeo diperlukan strategi untuk dapat mengoptimalkan pengelolaan zakat di daerah ini. sebagaimana yang di kemukakan oleh informan berinisial HY (22 Juli 2020) dalam wawancaranya beliau mengatakan bahwa strategi dalam mengektivitaskan zakat mal di Kabupaten Nagekeo tidak terlepas dari visi dan misi dari Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Nagekeo yaitu Bersama Pemerintah dalam pemberantasan kemiskinan di Kabupaten Nagekeo terutama untuk umat Islam.
Sedangkan menurut informan berinisial RAP menjelaskan bahwa strategi dalam mengektivitaskan pengelolaan zakat mal di Kabupaten Nagekeo itu yang paling utama adalah pengembangan terhadap UPZ (Unit pengumpulan zakat) karena dengan adanya UPZ dapat memudahkan masyarakat di pelosok untuk membayar zakat, dan mengoptimalkan pengumpulan zakat mal di Kabupaten Nagekeo.
Dalam hal ini strategi yang perlu diterapkan adalah kerja sama antara lembaga zakat dengan pemerintah dan penegakan perundang-undangan zakat secara optimal melakukan penghimbauan kepada masyarakat untuk membayar zakat di lembaga zakat sehingga masyarakat menaati aturan serta melakukan sosialisasi ke pelosok-pelosok guna memberikan bimbingan kepada masyarakat awam.
c. Tolak Ukur Efektivitas Pengelolaan Zakat Mal di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo
Untuk mengetahui tolak ukur efektivitas pengelolaan zakat mal di Kabupaten Nagekeo pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Nagekeo, peneliti melakukan wawancara kepada informan
berinisiaL IJ (22 Juli 2020) beliau menjelaskan bahwasanya BAZNAS ini baru efektif dari tahun 2018 ke tahun 2020 belum banyak pembandingnya tapi yang diharapkan kedepannya bisa lebih Menyejahterakan para mustahik, dan bisa dibilang masih tahap membangun In syhaa Allah kedepannya akan lebih efektif. Pada tahun 2020/1441 H zakat mal yang dikumpulkan oleh BAZNAS Kabupaten Nagekeo dari setiap Kecamatan itu sebesar Rp.44.966,000 pengumpulan zakat mal pada tahun 2020 lebih kecil dari tahun tahun sebelumnya, pada tahun 2019 zakat mal yang dikumpulkan sebesar Rp.99.810,000 penyusutan pengumpulan zakat ini diakibatkan oleh pendemi semoga kedepannya akan lebih baik lagi sehingga BAZNAS Kabupaten Nagekeo bisa mengektivitaskan pengelolaan zakat mal dengan baik.
Menurut informan berinisial RAP (24 Juli 2020), mengatakan bahwa tolak ukur dari efektivitas pengelolaan zakat mal di Kabupaten Nagekeo itu setelah melihat beberapa mustahik membangun usaha dan mengembangkan usaha tersebut dari dana zakat mal yang diberikan oleh BAZNAS kepada mereka, sehingga yang awalnya adalah seorang Mustahik setelah membangun usaha, bisa jadi mereka menjadi Muzaki dan akan timbul kesadaran mereka untuk membayar zakat mal, karena mereka bisa membangun usaha dari dana zakat mal itu sendiri.
Sedangkan menurut informan berinisial HB selaku Muzaki (24 Juli 2020) yang diwawancarai oleh peneliti beliau mengatakan bahwa tolak ukur efektivitas pengelolaan zakat mal di Kabupaten Nagekeo itu berupa adanya himbauan dari pemerintah untuk membayar zakat di lembaga
zakat yang telah ditetapkan sehingga timbul kepercayaan dari Muzaki untuk menunaikan zakat sehingga lembaga zakat di daerah bisa secara efektif dan efisien mengelolah zakat mal.
Dalam hal ini informan berinisial RM selaku mustahik (25 Juli 2020) mengemukakan bahwasanya tolak ukur efektivitas pengelolaan zakat mal pada BAZNAS Kabupaten Nagekeo itu dikatakan efektif ketika orang-orang seperti kami ini berkurang sekiranya dari 100% menjadi 70% dari bantuan dana zakat mal tersebut sehingga yang 30% ini bisa menjadi Muzaki sehingga semakin banyak Mustahik yang tertolong dari zakat mal ini. Dari wawancara diatas peneliti menyimpulkan bahwa tolak ukur efektivitas pengelolaan zakat di BAZNAS Kabupaten Nagekeo itu sendiri adalah berjalannya regulasi seefektif mungkin yang dimaksud dengan regulasi disini ialah penerapan perundang-undangan No. 14 tahun 2014 tentang pelaksanaan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat sehingga tidak terjadi perbedaan petunjuk dari pihak kementerian atau lembaga pemerintah non departemen tingkat pusat kepada aparat daerah. Selain itu dengan diterapkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 maka pengelolaan zakat di Kabupaten Nagekeo akan meningkat baik dari segi potensi ataupun efektivitas.
Ditinjau dari segi pemberdayaan maka dapat kita lihat dari rencana kerja BAZNAS Kabupaten Nagekeo yaitu terbentuknya UPZ pada semua masjid sehingga memudahkan BAZNAS dalam melakukan pengumpulan dan pendistribusian zakat, berupa usaha kepada mustahik sehingga para mustahik dapat memperbaiki keadaan ekonominya.