BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.8 Uji Coba Instrumen Data
3.8.2 Hasil Uji Reliabilitas
Program SPSS digunakan untuk uji reliabilitas penelitian. Saat menggunakan alat pengukur yang sama berulang kali, keandalan mengacu pada seberapa baik hasil pengukuran benar. Jika nilai Cronbach's Alpha lebih tinggi dari 0,6 pada saat uji reliabilitas, maka data dianggap reliabel. Skor Alpha Cronbach untuk data kuesioner pengetahuan tentang tumor payudara jinak adalah 0,725, lebih tinggi dari 0,6, menunjukkan bahwa semua kuesioner dalam data dapat dipercaya.
Skor Alpha Cronbach untuk kuesioner perilaku SADARI adalah 0,903, yang lebih tinggi dari 0,6, menunjukkan bahwa semua kuesioner perilaku SADARI juga dapat diandalkan.
Tabel 3.4 Hasil uji reliabilitas kuesioner pengetahuan Cronbach’s Alpha Jumlah pertanyaan
0,725 10
Tabel 3.5 Hasil uji reliabilitas kuesioner perilaku sadari Cronbach’s Alpha Jumlah pertanyaan
0,903 11
3.9 Pengolahan Data dan Analisis Data 3.9.1 Pengolahan Data
Langkah-langkah dalam pengolahan data yaitu:
1. Pemeriksaan data atau editing. Untuk menghindari data yang tidak lengkap atau tidak akurat, dilakukan pengecekan data untuk memastikan keakuratan dan kelengkapan data yang telah diterima
2. Pemeriksaan kode atau coding. Setelah data terkumpul, dilakukan pengecekan keakuratan dan kelengkapan data sebelum kode data diperiksa.
Data tersebut kemudian diberi kode secara manual oleh peneliti sebelum dimasukkan ke dalam komputer.
3. Memasukkan data atau entry. Aplikasi SPSS digunakan untuk memasukkan data yang telah diverifikasi sebelumnya untuk pengolahan data selanjutnya.
4. Pembersihan data atau cleaning. Untuk mencegah kesalahan pengisian data, periksa kembali semua data yang telah diinput ke dalam komputer.
5. Menyimpan data atau saving, menyimpan data untuk siap dianalisis.
3.9.2 Analisis Data
Setiap data (variabel) parameter pengamatan dikumpulkan dan dicatat.
Menggunakan program bantuan statistik SPSS, data kuantitatif (variabel dependen) dievaluasi signifikansinya dalam kaitannya dengan pengaruh kelompok perlakuan (variabel independen).
3.9.2.1 Analisis Univariat
Untuk menentukan karakteristik, tabel distribusi frekuensi berdasarkan variabel independen dan dependen yang diteliti digunakan dalam analisis univariat.
Data akan disajikan sebagai nilai persentase.
3.9.2.2 Analisis Bivariat
Untuk mendapatkan nilai p, analisis ini dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square. Uji Fisher akan dilakukan sebagai uji cadangan jika parameter
chi-square tidak terpenuhi. Pada penelitian ini dilakukan uji bivariat untuk mengetahui apakah mahasiswi FEB dan FKIP memiliki perbandingan tingkat pengetahuan yang mengenai tumor payudara jinak dan apakah memiliki perbandingan pada perilaku SADARI.
3.10 Alur Penelitian
Pengisian inform consent dan kuesioner
Tahap pelaksanaan
Tahap pengolahan Menginput data dan menganalisis dengan software pengolahan data dan statistik
Pengumpulan hasil kuesioner danmendata ulang Tahap persiapan
Mahasiswi FEB dan FKIP angkatan 2019-2022 yang memenuhi kriteria inklusi Proposal, perizinan, kaji etik
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di FEB dan FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Jl. Kapt. Mukhtar Basri No.3 Medan Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 192 mahasiswi FEB dan FKIP dengan jumlah masing-masing mahasiswi setiap fakultas yaitu 96 orang. Hasil penelitian ini diuraikan dengan analisis data univariat dan analisis data bivariat.
4.1.1 Analisis Univariat
Analisis data univariat adalah analisis data yang menggambarkan mengenai distribusi sampel yang diteliti yaitu mahasiswi FEB dan FKIP sebagai variabel independen sedangkan pengetahuan dan perilaku sebagai variabel dependen.
4.1.1.1 Distribusi Berasarkan Usia
Pada penelitian ini rata-rata usia mahasiswi adalah 18 tahun, dengan usia termuda 17 tahun dan usia tertua 25 tahun.
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi usai
Usia responden Frekuensi Persentase (%)
17 tahun 11 5,7
18 tahun 116 60,4
19 tahun 38 19,8
20-25 tahun 27 14,1
Total 192 100
Tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswi ini berusia 18 tahun yaitu 116 orang (60,4%), kemudian usia 19 tahun sebanyak 38 orang (19,4%), kemudian usia 20-25 tahun sebanyak 27 orang (14,1%), dan usia 17 tahun sebanyak 11 orang (5,7%).
26
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
4.1.1.2 Distribusi Berdasarkan Fakultas Tabel 4.2 Distribusi frekuensi fakultas
Fakultas Frekuensi Persentase (%)
FEB 96 50
FKIP 96 50
Total 192 100
Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa responden dalam penelitian ini yaitu fakultas mahasiswi pada penelitian ini adalah FEB sebanyak 96 orang (50%) dan FKIP sebanyak 96 orang (50%).
4.1.1.3 Distribusi Berdasarkan Riwayat Tumor Payudara Jinak Tabel 4.3 Distribusi frekuensi riwayat tumor payudara jinak
Riwayat tumor payudara jinak
Frekuensi Persentase (%)
Iya 1 0,5
Tidak 191 99,5
Total 192 100
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswi FEB dan FKIP dalam penelitian ini tidak memiliki riwayat tumor payudara jinak yaitu 191 orang (99,5%) dan 1 orang (0,5%) yang memiliki riwayat tumor payudara jinak.
4.1.1.4 Distribusi Berdasarkan Pernah Mendapatkan Informasi Tabel 4.4 Distribusi frekuensi
payudara jinak
pernah mendapatkan informasi tentang tumor
Pernah mendapatkan informasi
Frekuensi Persentasi (%)
Iya 79 41,1
Tidak 113 58,9
Total 192 100
Berdasarkan tabel di atas mahasiswi FEB dan FKIP yang tidak pernah mendapat informasi tentang tumor payudara jinak sebanyak 113 orang (58.9%) dan yang pernah mendapat informasi tentang tumor payudara jinak sebanyak 79 orang (41,1%).
4.1.1.5 Distribusi Berdasarkan Pengetahuan Tentang Tumor Payudara Jinak Tabel 4.5 Distribusi frekuensi pengetahuan tentang tumor payudara jinak
Tingkat Mahasiswi FEB Mahasiswi FKIP
Pengetahuan Frekuensi (%) Frekuensi (%)
Baik 40 41,7 49 51
Kurang baik 56 58,3 47 49
Total 96 100 96 100
Berdasarkan tabel di atas bahwa mahasiswi FEB yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 40 orang (41,7%) dan yang memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 56 orang (58%), sedangkan pada mahasiswi FKIP yang memiliki pengetahuan baik lebih banyak yaitu 49 orang (51%) dan yang memiliki pengetahuan kurang baik lebih sedikit yaitu sebanyak 47 orang (49%).
4.1.1.6 Distribusi Berdasarkan Perilaku SADARI Tabel 4.6 Distribusi frekuensi perilaku SADARI
Perilaku Mahaisiwi FEB Mahasiswi FKIP
SADARI Frekuensi (%) Frekuensi (%)
Baik 48 50 39 40,6
Kurang baik 48 50 57 59
Total 96 100 96 100
Berdasarkan tabel di atas bahwa mahasiswi FEB yang memiliki perilaku SADARI baik sebanyak 48 orang (50%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang baik sebanyak 48 orang (50%), sedangkan pada mahasiswi FKIP yang memiliki perilaku SADARI baik lebih sedikit yaitu sebanyak 39 orang (40,6%) dan yang memiliki perilaku SADARI kurang baik lebih banyak yaitu 57 orang (59%).
4.1.2 Analisis Bivariat
Analisis data bivariat adalah analisis data yang digunakana untuk melihat apakah terdapat perbandingan antara variabel independen (mahasiswi) dan variabel dependen (pengetahuan dan perilaku SADARI) dengan menggunakan uji Chi- square.
4.1.2.1 Perbandingan pengetahuan tentang tumor payudara jinak pada mahasiswi FEB dan FKIP
Tabel 4.7 Perbandingan pengetahuan tentang tumor payudara jinak pada mahasiswi FEB dan FKIP
Tingkat Pengetahuan
total P
Fakultas Baik Kurang baik Value
n % n % n %
FEB 40 44,9 56 54,4 96 50,0 0,193
FKIP 49 55,1 47 45,6 96 50,0
Total 89 100,0 103 100,0 192 100,0
Dari analisis ini menunjukkan bahwa terdapat 40 orang (44,9%) dari mahasiswi FEB yang memiliki pengetahuan baik tentang tumor payudara jinak, sedangkan dari mahasiswi FKIP terdapat 49 orang (55,1%) yang memiliki pengetahuan tentang tumor payudara jinak yang baik. Hasil uji statistik diperoleh p-value 0,193 lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbandingan yang signifikan tingkat pengetahuan antara responden dari mahasiswi FEB dengan responden dari mahasiswi FKIP.
4.1.2.2 Perbandingan perilaku SADARI pada mahasiswi FEB dan FKIP Tabel 4.8 Perbandingan perilaku SADARI pada mahasiswi FEB dan FKIP
Tingkat Pengetahuan
total P
Fakultas Baik Kurang baik Value
n % n % n %
FEB 48 55,2 48 45,7 96 50,0 0,192
FKIP 39 44,8 57 54,3 96 50,0
Total 87 100,0 105 100,0 192 100,0
Dari analisis ini menunjukkan bahwa terdapat 48 orang (55,2%) dari mahasiswi FEB yang memiliki perilaku SADARI yang baik, sedangkan responden dari mahasiswi FKIP terdapat 39 orang (44,8%) yang memiliki perilaku SADARI yang baik. Hasil uji statistik diperoleh p-value 0,192 lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbandingan yang signifikan perilaku
SADARI antara responden dari mahasiswi FEB dengan responden dari mahasiswi FKIP.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Analisis Univariat
Hasil penelitian ini menunjukkan responden yaitu mahasiswi FEB dan FKIP berusia dari 17-25 tahun, dengan usia terbanyak yakni 18 tahun (60,4%). Menurut WHO usia tersebut termasuk dalam usia dewasa mudah. Usia berpengaruh penting terhadap kejadian tumor payudara jinak seperti fibroadenoma mammae, karena fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita muda. Berdasarkan New South Wales Breast Cancer Intitute yang melaporkan bahwa lebih dari 9% populasi yang mengalami fibroadenoma mammae adalah wanita yang berusia 21 sampai 25 tahun.
Berdasarkan laporan Western Services Alliance terdapat lebih dari satu per enam wanita (sekitar 16%) yang berumur 15 sampai 25 tahun mengalami fibroadenoma mammae.22
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak mahasiswi yang tidak memilki riwayat tumor payudara jinak daripada yang memiliki riwayat tumor payudara jinak. Riwayat tumor payudara jinak hanya dimiliki pada 1 mahasiswi (0,5%) dan selebihnya tidak memiliki riwayat tumor payudara jinak yaitu 191 mahasiswi (99,5%). Hal ini juga sejalan dengan penelitian Adaming dan Lutfiyati (2022), menyatakan bahwa mayoritas responden tidak memiliki riwayat tumor payudara jinak sebanyak 38 (95%) dan terdapat 2 (5%) responden yang memiliki riwayat tumor payudara jinak. Salah satu yang mempengaruhi pengetahuan dan perilaku seseorang adalah pengalaman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Adaming dan Lutfiyati (2022), disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki riwayat tumor payudara jinak seperti fibroadenoma mammaea memiliki pengetahuan baik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Alini dan Widya (2018), menyatakan bahwa seseorang dengan riwayat tumor payudara jinak seperti fibroadenoma mammae berisiko enam kali lipat untuk mengalaminya kembali jika dibandingkan dengan seseorang yang tidak memiliki riwayat tumor payudara jinak.1,22
Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa mahasiswi yang tidak pernah mendapatkan informasi tentang tumor payudara jinak lebih banyak daripada yang pernah mendapatkan informasi tentang tumor payudara jinak. Mahasiswi yang mendapatkan informasi tentang tumor payudara jinak sebanyak 79 orang (41%) dan yang tidak mendapatkan informasi tentang tumor payudara jinak sebesar 113 orang (58,9%). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Adaming dan Lutfiyati (2022), yang menyatakan bahwa sebagian responden pernah mendapatkan informasi tentang tumor payudara jinak, yaitu sebesar 22 responden (55%) dan yang tidak pernah mendapatkan informasi tentang tumor payudara jinak sebesar 18 responden (35%). Menurut teori Mubarak (2012), menyatakan kemudahan untuk memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan yang baru.22
Hasil persentase pengetahuan tentang tumor payudara jinak pada penelitian ini, menunjukkan bahwa mahasiswi FEB yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 40 orang (41,7%) dan yang memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 56 orang (58%). Artinya pada fakultas FEB lebih banyak mahasiswi yang memiliki pengetahuan kurang baik tentang tumor payudara jinak. Hal ini sejalan dengan penelitian Siti Rabiah dan Dewi Arlina (2020), yang menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 80 orang (72%), yang memiliki pengetahuann cukup baik sebanyak 30 orang (27%) dan yang memiliki pengetahuan baik hanya 1 orang (1%). Pada mahasiswi FKIP yang memiliki pengetahuan baik lebih banyak yaitu sebanyak 49 orang (51%) dan yang memiliki pengetahuan kurang baik lebih sedikit yaitu sebanyak 47 orang (49%). Sejalan dengan penelitian Siti Haeriyah (2019), menyatakan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 57 orang (58%), responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 12 orang (12,4%) dan yang berpengetahuan cukup sebanyak 28 orang (28,9%).23,24
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa mahasiswi FEB yang memiliki perilaku SADARI baik sebanyak 48 orang (50%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang baik sebanyak 48 orang (50%), artinya pada fakultas FEB mahasiswi yang memiliki perilaku SADARI baik dan kurang baik berjumlah
sama. Pada mahasiswi FKIP yang memiliki perilaku SADARI baik lebih sedikit yaitu sebanyak 39 orang (40,6%) dan yang memiliki perilaku SADARI kurang baik lebih banyak yaitu 57 orang (59%). Hal ini sejalan dengan penelitian Ni Ketut Citrawati dan Ni Luh Putu (2022), yang menyatakan bahwa responden yang memiliki perilaku SADARI kurang baik sebanyak 150 orang (88,24%), dan responden yang berperilaku SADARI baik sebanyak 20 orang (11,76%). Berbeda dengan penelitian Siti Haeriyah dkk (2019), yang menyatakan bahwa responden yang memiliki perilaku SADARI yang tidak baik sebanyak 29 orang (29,9%) dan yang berperilaku baik sebanyak 68 orang (70%).24,25
4.2.2 Analisis Bivariat
Hasil analisis bivariat untuk variabel tingkat pengetahuan tentang tumor payudara jinak, menunjukkan bahwa terdapat 40 orang (44,9%) dari mahasiswi FEB yang memiliki pengetahuan baik tentang tumor payudara jinak, sedangkan responden dari mahasiswi FKIP terdapat 49 orang (55,1%) yang memiliki pengetahuan tentang tumor payudara jinak yang baik. Hasil uji statistik diperoleh p-value 0,193 lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbandingan yang signifikan tingkat pengetahuan tentang tumor payudara jinak antara responden dari mahasiswi FEB dengan responden dari mahasiswi FKIP.
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Veronica Debora dkk (2018), yang melakukan penelitian dengan responden yakni mahasiswa kedokteran dan non kedokteran. Dimana pada penelitannya didapatkan bahwa responden mahasiswa kedokteran memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu sebesar 62 (52,1%) dan responden mahasiswa non kedokteran memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak hanya 14 (11,8%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p-value sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05 yang menunjukkan terdapat perbandingan yang signifikan antara tingkat pengetahuan mahasiswa kedokteran dan non kedokteran. 26
Analisis bivariat pada variabel perilaku SADARI menunjukkan bahwa terdapat 48 (55,2%) responden dari mahasisiwi FEB yang memiliki perilaku SADARI yang baik, sedangkan responden dari mahasisiwi FKIP ada 39 (44,8%) yang memiliki perilaku SADARI yang baik. Hasil uji statistik diperoleh p-value 0,192 lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbandingan
perilaku SADARI antara responden dari mahasiswi FEB dengan responden dari mahasiswi FKIP. Penelitian ini tidak sejalan dengan yang dilakukan oleh Cut Gina Inggriyani dkk (2022) yaitu didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara perilaku mahasiswa medis dan non medis dimana didapatkan nilai p-value yaitu 0,009.27
Hal ini terjadi karena pada penelitian sebelumnya sampel berupa mahasiswa kedoktean dan non kedokteran memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda.
Mahasiswa kedokteran telah mendapatkan pembelajaran secara lengkap dan terperinci saat proses perkuliahan, sedangkan pada mahasiswa non kedokteran tidak pernah mendapatkan pembelajaran pada perkuliahan, mahasiswa non kedokteran mendapatkan informasi dari internet ataupun situs-situs kesehatan sehingga tidak mengetahui secara lengkap di karenakan internet atau media sosial hanya memberikan informasi secara garis besar saja, sehingga dalam penelitiannya di dapatkan perbandingan yang signifikan tingkat pengetahuan antara mahasiswa kedokteran dan non kedokteran yaitu tingkat pengetahuan mahasiswa kedokteran lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengetahuan mahasiswa non kedokteran.
Pada penelitian ini baik tingkat pengetahuan tentang tumor payudara jinak dan perilaku SADARI pada mahasiswi FEB dan FKIP tidak terdapat perbandingan yang signifikan. Artinya keduanya memiliki tingkat pengetahuan yang sama tentang tumor payudara jinak dan memiliki perilaku SADARI yang sama. Hal ini dapat terjadi oleh karena mahasiswi FEB dan FKIP memiliki latar belakang pengetahuan tentang tumor payudara jinak yang sama. Dalam menempuh pendidikan di kampus baik FEB dan FKIP pada proses perkuliahan tidak mendapatkan pembelajaran mengenai tumor payudara jinak dan perilaku SADARI, selama proses pendidikan mereka hanya mendapatkan materi tentang jurusannya masing-masing, sehingga sedikit terpapar pengetahuan mengenai tumor payudara jinak dan perilaku SADARI. Berdasarkan teori Notoatmodjo (2012), menyatakan bahwa tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, beberapa diantaranya, yaitu pendidikan, pengalaman dan informasi yang diperoleh. Perilaku juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu yaitu pendidikan, jenis kelamin dan lingkungan termasuk lingkungan perkuliahan. Selain itu pengetahuan seseorang
juga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku seseorang. 20
4.3 Keterbatasan Penelitian
Pada penelitian ini yang digunakan hanya kuesioner pada variabel perilaku SADARI, sehingga tidak dapat diketahui teknik perilaku SADARI yang dilakukan oleh responden apakah sudah secara benar atau tidak.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Tingkat pengetahuan tentang tumor payudara jinak pada mahasiswi FEB Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara didapatkan mahasiswi yang berpengetahuan baik yakni 40 orang (41,7%) sedangkan yang berpengetahuan kurang baik yakni 56 orang (58,3%)
2. Tingkat pengetahuan tentang tumor payudara jinak pada mahasiswi FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara didapatkan mahasiswi yang berpengetahuan baik yakni 49 orang (51%), sedangkan mahasiswi yang berpengetahuan kuang baik yakni 47 orang (49%).
3. Perilaku SADARI pada mahasiswi FEB Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara didapatkan mahasiswi yang berperilaku SADARI baik dan kurang baik sama banyaknya yakni 48 orang (50%).
4. Perilaku SADARI pada mahasiswi FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara didapatkan mahasiswi yang berperilaku SADARI baik yakni 39 orang (40,6%), sedangkan mahasiswi yang berperilaku SADARI kurang baik yakni 57 orang (59%).
5. Dari hasil analisis bivariat didapatkan nilai p value yakni 0,193 lebih besar dari 0,05 yang artinya tidak terdapat perbandingan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang tumor payudara jinak pada mahasiswi FEB dan FKIP, keduanya memiliki tingkat pengetahuan tentang tumor payudara jinak yang di kategorikan kurang baik.
6. Dari hasil analisis bivariat didapatkan p value yakni 0,192 lebih besar dari 0,05 yang artinya tidak terdapat perbandingan yang signifikan antara perilaku SADARI pada mahasiswi FEB dan FKIP keduanya memiliki perilaku SADARI yang di kategorikan kurang baik.
5.2 Saran
1. Diharapkan agar penelitian selanjutnya dapat memberikan edukasi dan penyuluhan tentang penyakit tumor payudara jinak dan melakukan observasi terhadap cara melakukan SADARI.
2. Bagi responden diharapkan meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengetahuan tentang tumor payudara jinak dan perilaku SADARI guna mendapatkan informasi lebih banyak terkait hal tersebut, sehingga dapat diaplikasikan sebagai upaya preventif terhadap penyakit tumor payudara.
DAFTAR PUSTAKA
1. Alini, Widya L. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kejadian Fibroadenoma Poliklinik Spesialis Bedah Umum RSUD Bengkalis. J Ners Univ Pahlawan.
2018;2(1):1-10
2. Jesica F, Hayu R, Meysetri FR, et al. Hubungan Riwayat Keluarga Dan Konsumsi Junk food Dengan Kejadian Fibroadenoma Mammae (FAM) Di RSUD. Dr Hanafiah SM Batusangkar. Jurnal Kesehatan Media Saintika.
2022;13(1):134-140.
3. Arafah ABR, Notobroto HB. Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Ibu Rumah Tangga Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari). Indones J Public Heal. 2018;12(2):143. doi:10.20473/ijph.v12i2.2017.143-153
4. Ahsani RF, Machmud PB. Hubungan Riwayat Reproduksi dengan Tumor Payudara pada Perempuan Usia Muda di Indonesia (Analisis Riset PTM 2016).
Media Kesehat Masy Indones. 2019;15(3):237.
doi:10.30597/mkmi.v15i3.6278
5. Mulia IGBLP, Dewi IGASM, Sumadi IWJ. Karakteristik Klinikopatologi Pasien Fibroadenoma Mammae Di Rsup Sanglah Denpasar Tahun 2017-2018.
J Med Udayana. 2021;10(4):75-79. https://www.jurnalmedika.com/blog/124- Retensio-Urine-Post-Partum
6. Rohani Siregar. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Pada Remaja Putri Kelas X. Indones J Heal Sci.
2022;6(1):35-42. litabmas.umpo.ac.id
7. Khairunnissa A, Wahyuningsih S, Irsyad NS. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta Tahun 2017. Jurnal Profesi Medika. 2018;11(2):73- 80.
8. Karnawati PWW, Suariyani P. Faktor Yang Memengaruhi Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) Pada Wanita Usia Subur. Publish online 2022;9(1):150-160
9. Sari P, Sayuti S, Ridwan M, Rekiaddin LO. Hubungan antara Pengetahuan dan
Dukungan Tenaga Kesehatan dengan Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) pada Wanita Pasangan Usia Subur (PUS) Relationship between Knowledge Support of Health Officers With Breast Self Examination Behavior. Indonesia Journal Of Health Promoyion and Behavior. 2020;2(2):76- 81
10. Apriliani IM, Purba NP, Dewanti LP, Herawati H, Faizal I. Open access Open access. Citizen-Based Mar Debris Collect Train Study case Pangandaran.2021;2(1):56-61.
11. Peng Y, Xie F, Zhao Y, Wang S. Clinical practice guideline for breast fibroadenoma: Chinese Society of Breast Surgery (CSBrS) practice guideline 2021. Chin Med J (Engl). 2021;134(9):1014-1016.
doi:10.1097/CM9.0000000000001462
12. Li J, Humphreys K, Ho PJ, et al. Family History, Reproductive, and Lifestyle Risk Factors for Fibroadenoma and Breast Cancer. JNCI Cancer Spectr.
2018;2(3):1-7. doi:10.1093/JNCICS/PKY051
13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Teknis PengendalianKanker Payudara dan Kanker Leher Rahim. Igarss 2013.
2013;(1):1-5.http://www.p2ptm.kemkes.go.id/dokumen- ptm/pedoman-teknis- pengendalian- kanker-payudara-kanker-leher-rahim
14. Purwanto H, Handojo D, Haryono SJ, Harahap WA. Panduanpenatalaksanaan kanker payudara. dalam panduan penatalaksanaan kanker. Published online 2014:21-50.
15. Hateriah S, Ulva IM, Andirasari B. The Differences of Knowledge Management Principles About Early Detection Fibroadenoma Mammae (FAM) Using Sadari Method In Smpn 18 Banjarmasin. Advances in Health Science Research. 2017;6
16. W RC. Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku. Wineka Media;2019.
17. Loke BN, Md Nasir ND, Thike AA, et al. Genetics and genomics of breast fibroadenomas. J Clin Pathol. 2018;71(5):381-387.
doi:10.1136/jclinpath2017-204838
18. Ajmal M, Fossen K Van. Breast Fibroadenoma Pathophysiology.
StatsPearl.Published online 2020:1-5.
19. Tan BY, Tan PH. A Diagnostic Approach to Fibroepithelial Breast Lesions.
Surg Pathol Clin. 2018;11(1):17-42. doi:10.1016/j. path.2017.09.003
20. Prof.Dr. Soekidjo Notoatmodjo. S.K.M. MCH. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan (edisi revisi 2012). Jakarta: rineka cipta. 2012.
21. Realita F, Aisyaroh N, Erah. Hubungan Penyuluhan SADARI dengan Tingkat Pengetahuan SADARI : Literature Riview. The Indonesian Journal of Health Promotion. 2022;5(5).
22. Adaming SFS, Lutfiyati A. Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang Fibroadenoma Mammae (FAM) dan Perilaku SADARI pada Wanita Usia Subur (WUS). JPKM Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat. 2022;2(3):101- 110
23. Juliana SR, Sari DEA. Gambaran Pengetahua Dan Sikap Mahasiswi Angkatan XI, XII dan XIII Tentang Fibroadenoma Mammae Di Akademi Kebidanan Husada Gemilang. Jurnal Kesehatan Husada Gemilang. 2020;3(2)
24. Haeriyah S, Nuryanti, Ariani S, et al. Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Dengan Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri di SMPN 2 TigaRaksa Kabupaten Tangerang Tahun 2019. Jurnal Kesehatan. 2019;8(2)
25. Citrawati NK, Dewi NLPT. Gambaran Perilaku Sadari Pada Wanita Usia Subr Di UPT Puskesmas Tembuku I Bangli. Bali Medikal Jurnal. 2021;8(2).
26. Debora V, Oktarlina RZ, Perdani RRW. Perbedaan Tingkat Pengetahuan, Persepsi, Dan Pengalaman Terhadap Penggunaan Obat Generik Pada Mahasiswa Kedokteran Dan Non Kedokteran Di Universitas Lampung.
Majoraty. 2018;7(2).
27. Inggriyani CG, Putra TRI, Sagala KNA. Perbedaan Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Mengenai Pencegahan Covid-19 pada Mahasiswa Medis dan non Medis di Universitas Syiah Kuala. The Indonesian Journal of Public Health. 2022;17(2)
LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER
PERBANDINGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG TUMOR PAYUDARA JINAK DAN PERILAKU SADARI PADA MAHASISWI FEB
DAN FKIP UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA A. Data identitas
1. Nama responden : 2. Nomor responden :
3. Usia :
4. Jenis kelamin :
5. Fakultas :
6. Angkatan :
7. Bersedia menjadi responden: YA / TIDAK 8. Pernah menderita tumor payudara jinak:
Ya tidak
9. Pernah mendapatkan informasi tentang tumor payudara jinak:
Ya Tidak