KE DALAM KURIKULUM
A. I NTEGRASI M ULTIMEDIA KE DALAM S TANDAR I SI
Multimedia mempercayakan pada model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) yang berpusat pada berbagai aspek yang mendukung pembelajaran, lingkungan belajar, kelas, laboratorium, komputer, websites maupun worksite. Hal ini mendorong pendidik untuk memilih dan mendisain format lingkungan belajar yang menyertakan banyak pengalaman yang berbeda bagi peserta didik. Dalam lingkungan
58
seperti itu, para peserta didik menemukan hubungan penuh makna antara gagasan abstrak dan aplikasi praktis dalam konteks dunia nyata, konsep diinternalisasi melalui proses menemukan, menguatkan, dan mengaitkannya. Ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Standar Isi, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri.
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi lulusan, kompetensi bahan ajar pada mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memuat: kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22 tahun 2006, standar isi meliputi komponen, sebagai berikut: (i) Standar Kompetensi (SK), merupakan ukuran kemampuan minimal yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dicapai, diketahui, dan mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan dari suatu materi yang diajarkan, (ii) Kompetensi Dasar (KD), merupakan penjabaran SK peserta didik yang cakupan materinya lebih sempit dibanding dengan SK peserta didik. Yoshii, Katada, Alsadeqi, & Zhang (2003) mengatakan bahwa di era globalisasi pendidikan akan mempengaruhi materi pembelajaran yang semakin luas dan global sehingga dunia pendidikan mengalami permasalahan global dalam belajar. Strategi yang harus dilakukan berkenaan dengan materi pembelajaran dengan melibatkan beragam bahasa dan budaya di dunia. Sementara konten berbasis komputer banyak tersedia melalui online.
Permasalahannya adalah bagaimana menjelaskan integrasi multimedia terhadap seluruh isi kurikulum itu suatu hal yang sulit dilaksanakan, sebab setiap materi pelajaran memiliki karakteristik
59 yang berbeda dalam cara penyampaian, menggunakan media dan tujuan dari materi pelajaran tersebut disampaikan. Salah satu contoh penggabungan integrasi multimedia terhadap standar isi ini dilakukan oleh Munir (2001) dalam penelitiannya di bidang pembelajaran bahasa untuk kanak-kanak prasekolah.
Keistimewaan multimedia yang mampu mengintegrasi berbagai media teks, gambar, suara, animasi dan video ke dalam satu program dapat menyentuh seluruh panca indra sehingga materi pelajaran dapat diserap dengan mudah.
Selain itu multimedia mampu menyediakan fasilitas interaktif yang memungkinkan terjadinya umpan balik sehingga kreativitas, inovatif dan motivasi pembelajaran meningkat. John Amos Comenius (Jeng- Yi Tzeng 1996) menegaskan betapa perlunya penyampaian pendidikan melalui penglibatan berbagai panca indra. Sebab khususnya untuk pembelajaran pada tingkat prasekolah misalnya berbagai alat atau objek perlu selalu dekat dengan kanak-kanak untuk bisa dipegang, disentuh dan dirasa.
Untuk tujuan tersebut, penggunaan multimedia dapat membantu memudahkan proses pembelajaran.
Dalam penelitiannya Munir (1997) menggunakan teori bahasa terintegrasi atau bahasa menyeluruh (integrated language/whole language) untuk meningkatkan literasi bahasa kanak-kanak pada usia prasekolah. Teori ini sebelumnya telah dikembangkan oleh Ferguson (1993), Lapp dan Flood (1992), Bergeron (1993), Cullinan (1995) dan MacHado (1995). Mereka telah menunjukkan ciri-ciri pembelajaran bahasa seperti berikut: menyeluruh (whole atau cooperative experiences), bermakna (meaningful), berfungsi (function) dan natural (authentic). Untuk menjelaskan pembelajaran bahasa dengan menggunakan teori ini, multimedia mampu menjawab dan menampilkan materi pelajaran dengan efektif dan menyenangkan.
Contohnya konsep kata "MAKAN" dengan menggunakan multimedia bisa diperkenalkan kepada kanak-kanak sekaligus cara membaca, cara mengucapkan, menjelaskan makna, menjelaskan fungsi dan pandangan penggunaannya. Blanchard (2002) model pembelajaran seperti itu disebutnya model Contextual Teaching
60
and Learning (CTL) yang merupakan suatu konsepsi pembelajaran yang membantu pendidik menghubungkan isi materi pelajaran ke situasi dunia nyata dan memotivasi peserta didik untuk membuat koneksi antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pekerja.
Perhatikan gambar di bawah ini.
Gambar3.1 Ilustrasi Kata Bermakna
Teks kata “makan” bisa dilihat dan dibaca di layar monitor, begitu juga gambar orang yang sedang makan berikut suaranya bisa didengar serta gerakannya dalam bentuk animasi ataupun video juga bisa ditiru. Kalau memungkinkan bisa mensimulasikan menu makanannya dengan fasilitas interaktif yang menarik dan bervariatif. Multimedia juga bisa menjelaskan dengan atraktif makna dan fungsi kata ‘makan’ terhadap berbagai dampak setelah makan. Selain lapar bisa hilang, juga dapat menimbulkan tenaga untuk melaksanakan berbagai aktivitas dan pekerjaan. Jika di daerah pegunungan bisa dengan aktivitas pertanian, mengumpulkan kayu bakar. Mungkin tenaga setelah makan di daerah pesisir diwujudkan dengan mengumpulkan pasir, membuat garam dan menangkap ikan di laut. Di daerah perkotaan tenaga setelah makan dapat disimulasikan dalam aktivitas perdagangan atau mengendarai kendaraan. Untuk meningkatkan pemahaman kata ‘makan’ bisa juga disertakan unsur-unsur yang
61 berhubungan dengan minum, lauk pauk, sayur mayur, peralatan makan dan sebagainya.
Model pembelajaran tersebut di atas seringnya disebut dengan pembelajaran kontekstual yang merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu peserta didik untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan cara mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural). Melalui pembelajaran kontekstual, peserta didik memiliki pengetahuan dan keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan atau konteks ke permasalahan atau konteks lainnya, (Depdiknas, 2003).
PENGERTIAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran ada yang bersifat universal atau semua orang mempelajarinya, seperti berbicara, berjalan, atau makan. Ada pula pembelajaran yang tidak universal, karena seseorang mempelajari sesuatu yang berbeda dari orang lain. Inilah yang menunjukkan bahwa pembelajaran adalah kontekstual. Seseorang belajar apa dan kapan waktunya tergantung pada lingkungan dimana mereka berada dan hal tersebut dianggap penting serta relevan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mempelajari sesuatu karena mereka memiliki kesempatan untuk menerapkan pembelajaran ini dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian, pembelajaran dapat dilakukan oleh seseorang pada waktu yang berbeda dengan orang lain dengan tempat yang berbeda pula, seperti di rumah, di sekolah, atau di masyarakat.
Orang dewasa akan mempelajari sesuatu karena yang dipelajarinya itu berguna dan mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan pembelajaran ini dalam kehidupan nyata sehari- hari. Sedangkan, peserta didik memiliki kesempatan terbatas untuk menerapkan pembelajarannya dalam konteks kehidupan nyata. Mereka masih mengembangkannya, sehingga seringkali tidak melihat relevansi dari isi pelajaran di kelas dengan kehidupan nyata sehari-hari. Upaya pendidik untuk membantu peserta didik memahami relevansi materi pembelajaran yang
62
dipelajarinya adalah dengan melakukan suatu pendekatan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengaplikasikan apa yang pelajarinya di kelas. Pendekatan ini disebut Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL). Pembelajaran kontekstual terfokus pada perkembangan ilmu, pemahaman, keterampilan peserta didik, dan juga pemahaman kontekstual peserta didik tentang hubungan mata pelajaran yang dipelajarinya dengan dunia nyata.
Pembelajaran akan bermakna jika pendidik lebih menekankan agar peserta didik mengerti relevansi apa yang mereka pelajari di sekolah dengan situasi kehidupan nyata dimana isi pelajaran akan digunakan.
Pembelajaran kontekstual pada awalnya dikembangkan oleh John Dewey dari pengalaman pembelajaran tradisionalnya. Pada tahun 1918 Dewey merumuskan kurikulum dan metodologi pembelajaran yang berkaitan dengan pengalaman dan minat peserta didik. Peserta didik akan belajar dengan baik jika yang dipelajarinya terkait dengan pengetahuan dan kegiatan yang telah diketahuinya dan terjadi di sekelilingnya.
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu pendidik mengaitkan antara materi pembelajaran yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Depdiknas, 2004:18). Dengan demikian pembelajaran kontekstual mengutamakan pada pengetahuan dan pengalaman atau dunia nyata (real world learning), berfikir tingkat tinggi, berpusat pada peserta didik, peserta didik aktif, kritis, kreatif, memecahkan masalah, peserta didik belajar menyenangkan, mengasyikkan, tidak membosankan (joyfull and quantum learning), dan menggunakan berbagai sumber belajar.
63
PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Penerapan pembelajaran kontekstual di kelas melibatkan tujuh utama pembelajaran efektif, yaitu:
a. Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme, yaitu mengembangkan pemikiran peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Peserta didik belajar pada dasarnya mencari alat untuk membantu memahami pengalamannya. Pada dasarnya, pengetahuan dibentuk pada diri manusia berdasarkan pengalaman nyata yang dialaminya dan hasil interaksinya dengan lingkungan sosial di sekelilingnya. Belajar adalah perubahan proses mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalamannya yang dialami para peserta didik sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan yang mereka peroleh adalah hasil interpretasi pengalaman tersebut yang disusun dalam pikiran/otaknya. Jadi peserta didik bukan berasal dari apa yang diberikan oleh pendidik, melainkan merupakan hasil usahanya sendiri berdasarkan hubungannya dengan dunia sekitar. Mengajar adalah suatu upaya yang berusaha membantu peserta didik dalam merekonstruksi pengetahuannya berdasarkan pengalamannya masing-masing. Jadi mengajar bukan menyampaikan sejumlah informasi secara utuh kepada peserta didik.
Ada lima elemen belajar yang konstruktivistik, yaitu:
1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).
2) Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge).
3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge).
4) Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman (applying knowledge).
5) Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut (reflecting knowledge)
Konstruktivis ini menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi
64
pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Suatu pengetahuan dianggap benar jika pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Bagi konstruktivis, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari pendidik kepada peserta didik, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing peserta didik. Peserta didik harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri.
Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses ini keaktifan peserta didik yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya amat berperan dalam pengembangan pengetahuannya.
Pengetahuan tidak lepas dari subyek yang sedang belajar, pengetahuan lebih dianggap sebagai proses pembentukan (konstruksi) yang terus menerus, terus berkembang dan berubah.
Pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas).
Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada.
Alat dan sarana yang tersedia bagi peserta didik untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya. Peserta didik berinteraksi dengan obyek dan lingkungannya dengan cara melihat, mendengar, memegang, mencium, dan merasakan. Dari sentuhan inderawi itulah peserta didik membangun gambaran dunianya.
b. Bertanya (questioning)
Bertanya, yaitu mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya. Melalui proses bertanya, peserta didik akan mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Mereka dirangsang untuk mampu mengembangkan ide/gagasan dan pengujian baru yang inovatif, mengembangkan metode dan teknik untuk bertanya, bertukar pendapat dan berinteraksi. Proses pembelajaran memungkinkan untuk dapat mengembangkan kebebasan mengeluarkan aspirasi, berupa pertanyaan atau jawaban, baik peserta didik maupun pendidik, bahkan menguji suatu ide atau teori maupun praktek penyelenggaraannya, sesuai dengan fakta atau penalaran. Hal ini dapat memungkinkan terbentuknya sikap ilmiah. Pertanyaan dapat merangsang timbulnya kegiatan belajar.
65 c. Menemukan (inquiry)
Menemukan atau inquiry, yaitu melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik. Peserta didik diberi pembelajaran untuk menangani permasalahan yang mereka hadapi ketika berhadapan dengan dunia nyata. Pendidik harus merencanakan situasi sedemikian rupa, sehingga para peserta didik bekerja menggunakan prosedur mengenali masalah, menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur penelitian/investigasi, dan menyiapkan kerangka berfikir, hipotesis, dan penjelasan yang relevan dengan pengalaman pada dunia nyata.
d. Masyarakat belajar (learning community)
Masyarakat belajar, yaitu menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok). Peserta didik hidup dalam lingkungan masyarakat tempat tinggalnya atau di sekitar sekolahnya. Dengan demikian, masyarakat dapat dijadikan sumber daya untuk mengembangkan pemahaman pembelajaran kontekstual.
e. Pemodelan (modeling)
Pemodelan, yaitu menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Peserta didik akan lebih mudah memahami dan menerapkan proses dan hasil belajar jika dalam pembelajaran pendidik menyajikan dalam bentuk suatu model, bukan hanya berbentuk lisan. Peserta didik akan mampu mengamati dan mencontoh apa yang ditunjukan oleh pendidik. Oleh karena itu pendidik hendaknya mempertunjukkan hal-hal yang penting dan mudah diterima oleh peserta didik. Pendidik menjadi model dan memberikan contoh untuk dilihat dan ditiru. Apa pun yang pendidik lakukan, maka pendidik akan bertindak sebagi model bagi peserta didik. Ketika pendidik sanggup melakukan sesuatu, maka peserta didik pun akan berfikir sama bahwa dia bisa melakukannya juga. Mereka berfirkir jika pendidik mampu mareka pun pasti mampu. Pikirannya akan mempengaruhi kekuatan fisiknya. Pikiran dan jiwa dapat mempengaruhi tubuh dan sebaliknya.
66
f. Refleksi (reflection)
Refleksi, yaitu melakukan refleksi akhir pertemuan pembelajaran.
Refleksi ini merupakan ringkasan dari pembelajaran yang telah disampaikan pendidik. Peserta didik mengungkapkan, lisan atau tulisan, apa yang telah mereka pelajari. Refleksi ini bisa berbentuk diskusi kelompok dengan meminta peserta didik untuk melakukan presentasi atau menjelaskan apa yang telah mereka pelajari.
Peserta didik pun dapat melakukan kegiatan penulisan mandiri tentang sebuah ringkasan dari hasil pembelajaran yang telah diikutinya.
g. Penilaian sebenarnya (authentic assesment)
Penilaian sebenarnya, yaitu melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. Penilaian bisa dengan cara pendidik memberi pertanyaan berdasarkan isi pelajaran. Tugas pendidik adalah menilai sejauh mana keberhasilan pembelajaran.
KEGIATAN DAN STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Kegiatan dan strategi pembelajaran kontekstual dapat ditunjukan berupa kombinasi dari kegiatan-kegiatan berikut ini:
Pembelajaran otentik (authentic instruction), yaitu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar dalam konteks yang bermakna, sehingga menguatkan ikatan pemikiran dan keterampilan memecahkan masalah-masalah penting dalam kehidupannya.
Pembelajaran berbasis inquiry (inquiry based learning), yaitu memaknakan strategi pembelajaran dengan metode-metode sains, sehingga diperoleh pembelajaran yang bermakna.
Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah- masalah yang ada di dunia nyata atau di sekelilingnya sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan untuk memperoleh konsep utama dari suatu mata pelajaran.
67
Pembelajaran layanan (serve learning), yaitu metode pembelajaran yang menggabungkan layanan masyarakat dengan struktur sekolah untuk merefleksikan layanan, menekankan hubungan antara layanan yang dialami dan pembelajaran akademik di sekolah.
Pembelajaran berbasis kerja (work based learning), yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan konteks tempat kerja dan membahas penerapan konsep mata pelajaran di lapangan. Prinsip kegiatan pembelajaran di atas pada dasarnya adalah penekanan pada penerapan konsep mata pelajaran di lapangan, dan menggunakan masalah-masalah lapangan untuk dibahas di sekolah.
PRINSIP PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Prinsip dasar pembelajaran kontekstual adalah agar peserta didik dapat mengembangkan cara belajarnya sendiri dan selalu mengaitkan dengan apa yang telah diketahui dan apa yang ada di masyarakat, yaitu aplikasi dan konsep yang dipelajari. Adapun secara terperinci prinsip pembelajaran kontekstual sebagai berikut:
a. Menekankan pada pemecahan masalah.
b. Mengenal kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja.
c. Mengajar peserta didik untuk memantau dan mengarahkan belajarnya sehingga menjadi pembelajar yang aktif dan terkendali.
d. Menekankan pembelajaran dalam kontesks kehidupan peserta didik.
e. Mendorong peserta didik belajar dari satu dengan lainnya dan belajar bersama-sama.
f. Menggunakan penilaian otentik.
Pembelajaran kontekstual membantu peserta didik menguasai tiga hal, yaitu:
a. Pengetahuan, yaitu apa yang ada di pikirannya membentuk konsep, definisi, teori dan fakta.
68
b. Kompetensi atau keterampilan, yaitu kemampuan yang dimiliki untuk bertindak atau sesuatu yang dapat dilakukan.
c. Pemahaman kontekstual, yaitu mengetahui waktu dan cara bagaimana menggunakan pengetahuan dan keahlian dalam situasi kehidupan nyata.