• Tidak ada hasil yang ditemukan

S

ebagaimana dipahami bersama bahwa istilah ideologi sebenarnya memiliki sejarah yang sangat panjang dan kompleks, yang tampak dalam karya beberapa penulis dan merambah ke beberapa disiplin modern dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Dari sejarah perkembangan ideologi tersebut, dan jika dicermati penggunaannya menunjukkan bahwa istilah ideologi digunakan dalam dua cara yang sangat berbeda. Di beberapa bagian ‘ideologi’ digunakan sebagai istilah yang murni deskriptif, yang mengandung arti ‘sistem berpikir’, ‘sistem kepercayaan’, ‘praktik-praktik simbolik’ yang berhubungan dengan tindakan sosial dan politik. Dalam konteks ini penggunaan istilah ideologi berhubungan dengan apa yang disebut konsepsi netral (neutral conception) tentang ideologi. Artinya, bahwa tidak ada upaya pada basis konsepsi ini, untuk memisahkan antara jenis-jenis tindakan dengan animasi ideologi. Sementara di bagian lain ideologi secara mendasar digunakan dalam hubungannya dengan proses pembenaran relasi kekuasaan yang tidak simetris, yakni berhubungan dengan proses pembenaran dominasi (Thompson, 2003:17).

Mengingat penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kajian budaya, maka istilah ideologi yang dimaksud dalam kajian ini lebih pada pemahaman yang kedua, yakni ideologi dalam hubungannya dengan pembenaran relasi kekuasaan yang tidak simetris atau pembenaran dominasi. Pihak dominan dalam hal pemilihan jurusan di SMA, adalah berupa dominasi kelompok ilmu pengetahuan sains (IPA) yang telah menguasai hampir sebagian besar struktur kognitif masyarakat dewasa ini termasuk masyarakat Denpasar. Kelompok Ilmu Pengetahuan Alam (ilmu sains) yang sering juga disebut positivisme telah melembagakan pandangan dunia objektivistiknya dalam suatu doktrin kesatuan ilmu (unified science). Doktrin ini mengatakan bahwa seluruh ilmu, baik ilmu alam maupun manusia, harus berada di bawah payung paradigma positivistik.

Jadi, dalam konteks penelitian ini hubungan pembenaran relasi kekuasaan yang tidak simetris atau hubungan pembenaran dominasi dimaksudkan adalah berupa dominasi pengetahuan sains terhadap Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa, yang secara empirik terlihat begitu jelas. Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa dan orang tuanya terlihat bahwa sebagian besar di antara mereka mengatakan lebih suka memilih juruas IPA dengan alasan jurusan IPA lebih menjanjikan masa depan yang lebih baik, IPA lebih bergengsi, dan bahkan ada yang mengatakan bahwa jurusan IPA lebih prospektif dibandingkan dengan jurusan IPS dan jurusan Bahasa. Hal ini menjukkan betapa imperialisme pengetahuan sains terhadap pengetahuan sosial dan bahasa telah menguasai struktur kognisi masyarakat secara luas, termasuk masyarakat Denpasar.

Sementara di sisi lain, pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan, para ahli pendidikan, tokoh masyarakat seakan membenarkan kondisi ini terjadi tanpa ada upaya yang berarti untuk melakukan pembenahan terhadap sistem yang ada, terutama sistem penjurusan di SMA. Dari hasil wawancara dengan Kepala SMA Negeri 1 Denpasar saat itu (Drs. I Wayan Tumbuh, M.Pd.) terungkap bahwa dirinya tidak berdaya untuk membenahi sistem yang ada. Hal ini terlihat dari apa yang diakatan oleh Tumbuh seperti di bawah ini.

‘’...saya tidak berdaya untuk mengarahkan anak-anak agar memilih jurusan IPS atau Bahasa, sehingga tidak terjadi penumpukan anak-anak di jurusan IPA, sementara jurusan IPS dan Bahasa sepi peminat. Seharusnya ada regulasi peraturan perundang-undangan yang mengatur kondisi ini sehingga terjadi keseimbangan jumlah anak yang memilih jurusan IPA dan jurusan IPS atau Bahasa. Hal ini penting sebab pada hakikatnya antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial/humaniora atau bahasa harus dapat berkembang seiring dan sejalan’’ (Wawancara, 14 Februari 2012).

Hal senada dikatakan pula oleh Kepala SMA Dwijendra Denpasar (Ida Bagus Alit Bajra Manuaba, S.Pd.) berikut penuturannya:

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sebagai Ideologi Serta Praktik Hidden Curriculum di Sekolah Menengah

... sebenarnya sebagai praktisi pendidikan saya menyadari bahwa kondisi ini dapat berakibat tidak baik bagi pengembangan kedua bidang ilmu tersebut, baik bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) maupun bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan Sosial ataupun Bahasa. Sebab anak-anak yang pintar pasti semua akan terkonsentrasi pada jurusan IPA, sementara anak-anak yang memiliki kemampuan agak kurang terpaksa memilih jurusan IPS atau pun jurusan Bahasa. Hal demikian pertama, akan berdampak pada image bahwa jurusan IPS adalah identik dengan anak- anak bodoh, nakal, dan pemalas. Kedua, karena anak-anak yang cerdas cenderung memilih jurusan IPA, sementara anak-anak yang memilik kemampuan kurang cenderung memilih jurusan IPS atau Bahasa maka hal ini dapat berakibat perkembangan Ilmu Pengetahuan Sosial/Bahasa akan tertinggal dibandingkan dengan pengembangan Ilmu Pengatahuan Alam. Ketiga, jika hal ini dibiarkan terus berlanjut maka, bukan tidak mungkin akan terjadi disequilibrium antara pemikiran masyarakat yang terikat dengan para meter ilmiah dan matematis dengan pemikiran yang bersifat santai, imajinatif, kreatif, dan mencipta. Selain itu, jika kondisi ini tetap dibiarkan berlanjut lama kelamaan tidak akan ada anak yang mau memilih jurusan IPS atau pun Bahasa. ‘’

Apa yang dikatakan oleh kedua Kepala Sekolah di atas sejalan dengan pandangan Chris Barker (2005:89) yang mengatakan bahwa pentingnya bahasa dalam memahami kebudayaan dan konstruksi pengetahuan telah menjadi agenda utama dalam ilmu-ilmu sosial humaniora, termasuk ilmu pengetahuan sains (IPA). Ada dua alasan utama menurut Barker terkait dengan hal ini yakni, bahasa adalah medium utama yang digunakan dalam pembentukan dan penyampaian makna- makna kultural; dan bahasa merupakan alat dan medium yang kita pakai untuk membentuk pengetahuan tentang diri kita dan dunia sosial. Berangkat dari pandangan Barker di atas, maka dapat dideskripsikan betapa pentingnya bahasa sebagai alat dan medium untuk membentuk pengetahuan, baik mengenai diri kita, dunia sosial, maupun tentang keberadaan alam semesta ini.

Semua uraian di atas dapat diringkas dalam sebuah bagan seperti ini.

Bagan di atas dengan tegas memperlihatkan bahwa Modernisme yang di dalamnya ada ideologi, kekuasaan, hasrat/keinginan, dan harapan telah terkonstruksi dari politik pendidikan, pola pikir masyarakat, kebijakan sekolah, pola pikir peserta didik/ teman sejawat, informasi media massa, dunia industri/pasar kerja, dan keluarga, dalam memahami ilmu pengetahuan. Ini tentu sangat berpengaruh terhadap pemilihan jurusan. Begitu pula sebaliknya politik pendidikan, pola pikir masyarakat, kebijakan sekolah, pola pikir peserta didik/ teman sejawat, informasi media massa, dunia industri/pasar kerja, dan keluarga mempengaruhi dan membentuk ideologi, kekuasaan, hasrat/keinginan, dan harapan di era Modernisme dalam memahami ilmu pengetahuan, yang berimplikasi pada pemilihan jurusan.

Kebijakan Politik Pendidikan

- Ideologi - Kekuasaan - Hasrat - Harapan Modernisme

Media Masa

Masyarakat

Keluarga Pasar Tenaga Kerja

Peserta Didik/Teman Sepermain

Sekolah

Penjuruan IPA IPA & Bahasa