• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Kehidupan

Dalam dokumen Akhlak - Jalan Sukses Menggapai Ridha Ilahi (Halaman 118-122)

Bersama Allah SWT dalam Iman, Islam, dan Ihsan

F. Implementasi Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Kehidupan

(HR. Muslim). Tingkatan yang pertama (tingkatan musyahadah) ditunjukkan oleh sabda beliau, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.”

Sedangkan tingkatan muraqabah, yaitu tingkatan yang lebih rendah dari tingkatan musyahadah, ditunjukkan oleh sabda beliau, “Namun, jika engkau tidak bisa melakukannya, maka sesungguhnya Dia (Allah) melihatmu.58

Merujuk pada penjelasan di atas, maka perlu ditegaskan, bahwa ihsân adalah aktualisasi dari iman dan Islam. Karenanya, maka kedudukan ihsân dalam membentuk al-Dîn lebih tinggi derajatnya dibanding iman dan Islam. Walaupun ketiga komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

F. Implementasi Iman, Islam dan Ihsan dalam

berperilaku dan berperan di dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan profesi dan status sosialnya dengan baik dan penuh tanggungjawab. Spirit peran manusia di masyarakat sesuai dengan profesinya tersebut muncul jika iman, islam dan ihsan benar-benar mengawal dinamika seseorang. Namun kurangnya kesadaran religius seperti ini, mengakibatkan hilangnya orientasi kehidupan bermasyarakat dengan baik dalam segala dimensinya.

Iman adalah akar sikap hidup seorang muslim dalam segala dimensinya. Islam adalah perwujudan nyata dari janji dan komitmen seseorang dengan keimanannya.

Sedangkan Ihsan diartikan sebagai pengawasan Allah SWT kepada hamba-Nya dan kondisi merasa diawasi diri hamba oleh Allah. Hal ini dapat kita contohkan seperti sebuah cermin, di mana kita dapat melihat diri kita melalui cermin tersebut. Orang yang berbuat baik (muhsin) adalah orang yang dapat melihat Allah baik melalui zat (nanti di hari kiamat) maupun sifatNya, dan apabila tidak bisa melihatNya maka yakinlah Allah melihatnya. Dengan demikian, muraqabah yaitu perasaan diri diawasi oleh Allah SWT dalam segala hal, termasuk bekerja, belajar, bermu’amalah, merupakan hal penting dan utama untuk dilakukan karena muraqabah adalah merupakan ihsan itu sendiri.

Perbuatan Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, mu’amalah, dan akhlak. Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara

yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh Allah, minimal akan membuatnya dapat menunaikan semua ibadah dengan sungguh-sungguh dan baik.

Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang disebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, belajar, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri/suami, bekerja dan lain sebagainya. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yakni senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.

Dalam bekerja, seharusnya kita bekerja secara Ihsan. Bekerja secara ihsan adalah bekerja dengan ikhlas, bekerja dengan mengharapkan pahala dan ridha dari Allah SWT. Seorang yang bekerja secara ihsan akan melaksanakan pekerjaannya dengan sepenuh hati, baik ketika berada di halayak ramai maupun ketika berada sendirian sehingga dia boleh menghasilkan yang terbaik.

Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang yang diperoleh dari hasil ibadahnya, maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya.

Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri.

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat ditegaskan bahwa ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya.

G. Rangkuman

1. Islam adalah agama yang membawa keselamatan hidup di dunia dan di akhirat (alam kehidupan setelah kematian). Islam juga agama yang mengajarkan umatnya atau pemeluknya (kaum Muslim/umat Islam) untuk menebarkan keselamatan dan kedamaian. Secara istilah Islam adalah persaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah;

menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu melakukannya. Seorang muslim adalah pribadi yang harus dapat melaksanakan rukun Islam dengan baik yang antara lain adalah; pertama, bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, kedua; Mendirikan shalat Fardhu lima waktu; ketiga, membayar zakat; keempat, melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, dan kelima;

menunaikan ibadah haji ke baitullah bila sudah mampu.

2. Iman menurut bahasa artinya percaya. Di dalam Bahasa Indonesia percaya memiliki arti ‘meyakini atau yakin bahwa sesuatu (yang dipercaya) itu memang benar atau nyata adanya’. Adapun secara istilah syar’iyyah iman adalah pembenaran (tashdîq) terhadap Allah, terhadap para malaikat Allah, terhadap kitab- kitab Allah, pembenaran terhadap rasul-rasul Allah, terhadap hari akhirat, serta pembenaran terhadap qadar dari Allah SWT.

3. Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya.

Dalam dokumen Akhlak - Jalan Sukses Menggapai Ridha Ilahi (Halaman 118-122)