BAB I PENDAHULUAN
F. Sistematika Pembahasan
2. Implementasi kebijakan publik
pemerintahan, antara lain:
1) Asas Keseimbangan. Asas ini menghendaki adanya keseimbangan antara hukuman jabatan dan kelalaian atau kealpaan seorang pegawai.
Asas ini menghendaki pula adanya kualifikasi yang jela mengenai jenis-jenis atau kualifikasi pelanggaran atau kealpaan yang dilakukan oleh seseorang sehingga memudahkan penerapannya dalam setiap kasus yang ada dan seiring dengan persamaan perlakuan serta sejalan dengan kepastian hukum.
2) Asas Tidak Mencampuradukkan Kewenangan. Seorang pejabat pemerintahan memiliki wewenang yang sudah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan baik dari segi materi, wilayah, maupun waktu. Aspek-aspek wewenang ini tidak dapat dijalankan melebihi apa yang sudah ditentukan dalam peraturan yang berlaku.
3) Asas Keadilan dan Kewajaran. Asas keadilan ini menuntut tindakan secara proporsional, sesuai, seimbang, dan selaras dengan hak setiap orang. Sedangkan asas kewajaran menekankan agar setiap aktivitas pemerintah atau administrasi negara memperhatikan nilai-nilai yang berlaku ditengah masyarakat, baik berkaitan dengan agama, moral, adat istiadat, maupun nilai-nilai lainnya.
Suatu implementasi kebijakan menekankan pada suatu langkah- langkah, baik yang dijalankan pihak pemerintah maupun swasta diartikan untuk dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan untuk suatu keputusan kebijakan sebelumnya. Menurut Winarno mengatakan bahwa implementasi merupakan proses pelaksanaan undang-undang dimana berbagai actor organisasi, prosedur, teknik dalam menjalankan kebijakan dan mencapai tujuan-tujuan kebijakan.33
Menurut Grindle bahwa implementasi kebijakan sebenarnya bukan hanya berkaitan proses penjelasan pertimbangan politik kedalam langkah- langkah yang biasa birokrasi lakukan, melainkan melekat dengan adanya konflik, sikap dan siapa yang memperoleh dari suatu kebijaksanaan.34 Jadi, implementasi kebijakan sangat krusial dalam menentukan apakah suatu kebijakan dapat memberikan manfaat dilihat dari proses melaksanakan kebijakan publik.
a. Teori David L. Weimer dan Aidan R. Vining
Adapun yang saling mempengaruhi antara hubungan kinerja dan keberhasilan impelementasi pelaksanaan suatu kebijakan/program menurut Teori David L. Weimer dan Aidan R Vining ada 3 (tiga) variabel, antara lain:35
1) Logika kebijakan
Logika dari kebijakan yang telah disahkan sehingga masuk akal
33 Kasmad dan Rulinawaty, Studi Implementasi Kebijakan Publik, (Makassar: Kedai Aksara, 2013), h. 78.
34 Kamal Alamsyah, Kebijakan Publik Konsep dan Aplikasi, ... h. 62.
35 A. G. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik: Konsep, Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), h. 103-104.
(reasonable) dan memiliki landasan teoritis. Logika dari suatu jawaban sementara terdapat rumusan masalah pada suatu penelitian seperti mengenai apakah kebijakan menyelesaikan masalah mendasar atau tujuan dan manfaat yang diinginkan oleh masyarakat.
2) Lingkungan tempat kebijakan
Lingkungan tempat kebijakan mencakup keadaan sosial masyarakat, stabilitas politik dan ekonomi, pertahanan dan keamanan serta geografi. lingkungan dimana tempat kebijakan diterapkan dapat mempengaruhi hasil implementasi seperti keadaan yang kondusif memungkinkan keberhasilan implementasi dan sebaliknya lingkungan yang tidak mendukung akan menggagalkan implementasi.
3) Kemampuan impementor kebijakan
Tingkat kompetensi dan keterampilan dari implementor kebijakan sangat berpengaruh pada keberhasilan implementasi. Bahkan pemahaman terhadap tujuan dan proses pelaksanaan dan sumber daya manusia menjadi point penting sebagai implementor.
b. Teori implementasi kebijakan menurut Georgio Edward III
Teori implementasi kebijakan yang dikemukakan oleh Georgio Edward III menjadi pendukung dari teori diatas bahwa terdapat empat variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan maupun kegagalan implementasi kebijakan yaitu sebagai berikut:36
36 A. G. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik: Konsep, Teori dan Praktik, .... h. 90-92.
1) Komunikasi
Keberhasilan dan kegagalan implementasi sangat tergantung kepada implementor mengenai kemampuan dalam bertindak, memahami tujuan dan sasaran kebijakan yang kemudian dijalankan dengan konsisten kepada target sasaran. Dalam komunikasi yang tidak konsisten akan berdampak dalam implementasi kebijakan. Adapun aspek yang memiliki pengaruh dalam komunikasi sebagai berikut:37
a) Tranmisi, melaksanakan suatu kebijakan harus paham bahwa kebijakan itu telah buat untuk di implementasikan dan menjadi kewajiban.
b) Kejelasan, kebijakan yang dibuat selalu memiliki tujuan yang perlu dikomunikasikan secara jelas yang dapat dipahami bukan hanya oleh implementor namun sasaran kebijakan.
c) Konsistensi, kebijakan akan berjalan dengan baik apabila dalam mengimplementasikannya dijalankan secara konsisten.
2) Sumber daya
Kekurangan sumber daya akan mempengaruhi proses implementasi. Sumber daya yang dibutuhkan yaitu sumber daya manusia kompenten dan sumber daya pendanaan agar implementasi berjalan.
3) Disposisi
Implementor harus memiliki karakter (komitmen, kejujuran, dan bersifat demokratis) yang baik sehingga kebijakan berjalan sesuai dengan
37 Budi Winarno, Kebijakan Publik, Teori, Proses dan studi Kasus, (Yogyakarta: CAPS, 2014), h. 85.
tujuan yang telah ditetapkan.
4) Struktur birokrasi
Susunan hierarki dalam organisasi yang bertugas menjalankan kebijakan sangat mempengaruhi efektivitas karena semakin panjang dan banyak akan semakin memperlama proses implementasi. Sehingga, standar operasional prosedur menjadi poin penting yang harus dimiliki oleh implementor agar dalam bertindak memiliki pedoman yang jelas dan juga fragmentasi atau tanggung jawab untuk melakukan koordinasi dalam menjalankan kebijakan.
c. Teori implementasi Van Meter dan Horn
Teori implementasi Van Meter dan Horn terdapat empat variable bebas yang saling mempengaruhi dalam menjalankan kebijakan yaitu sebagai berikut:38
1) Standar dan sasaran kebijakan telah ditentukan dengan kriteria tertentu serta tidak ambigu sehingga mudah dalam menjalankan kebijakan yang telah dibuat.
2) Sumber daya menjadi aspek penunjang dalam menjalankan kebijakan seperti sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
3) Karakteristik implementor mengenai koordinasi yang dilakukan terstruktur dengan instansi terkait dan tidak memiliki hierarki yang rumit sehingga tidak menghambat kinerja implementor.
4) Komunikasi antar organisasi menjadi penentuk keberhasilan karena dalam implementasi bukan hanya satu instansi yang terlibat namun ada
38 Tachjan, Implementasi Kebijakan Publik, (Bandung: AIPI, 2006), h. 39-40.
beberapa sehingga kelancaran komunikasi akan memudahkan di lapangan.
5) Sikap implementor mengenai timbal balik, pemahaman dan rutinitas dalam menjalankan kebijakan.
6) Keadaan sosial, ekonomi, dan politik yang akan menjadikan penentu implementasi kebijakan mendapatkan respon yang mendukung sehingga berhasil atau menolak bahkan gagal.