• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Keperawatan Keluarga

Dalam dokumen Gangguan rasa nyaman (Halaman 61-70)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan

2.2.4 Implementasi Keperawatan Keluarga

perawat terlebih dahulu membuat kontrak agar keluarga lebih siap baik fisik maupun psikologis dalam menerima asuhan keperawatan yang diberikan.

Tindakan keperawatan keluarga mencakup hal-hal di bawah ini yaitu :

1) Merangsang kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah kesehatan dan kebutuhan kesehatan dengan cara memberi informasi, mengkaji kebutuhan dan harapan tentang kesehatan serta memberi motivasi atau dorongan sikap emosi yang sehat terhadap masalah

2) Membantu keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan cara memberitahu konsekuensi jika tidak melakukan, mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga, dan membicarakan dengan keluarga tentang konsekuensi tiap tindakan.

3) Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit, dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan, memanfaatkan alat dan fasilitas yang ada di rumah, dan mengawasi keluarga dalam melakukan tindakan.

4) Membantu keluarga untuk memodifikasi lingkungan menjadi sehat, dengan cara menggali sumber-sumber yang ada pada keluarga dan memodifikasi lingkungan semaksimal mungkin

5) Memberi motivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, dengan cara mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga, serta membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada. (Widyanto, 2014).

Namun, tidak semua pelaksanaan tindakan ini berjalan dengan baik, ada faktor-faktor penyulit dari keluarga yang dapat menghambat minat keluarga dalam berkerja sama melakukan tindakan kesehatan ini, yaitu :

1. Kurang jelasnya informasi yang didapat keluarga, sehingga membuat keluarga keliru

2. Kurang lengkapnya informasi yang didapat keluarga sehingga keluarga melihat masalah sebagian

3. Keliru, keluarga tidak dapat mengkaitkan informasi yang di dapat dengan kondisi yang dihadapi

4. Keluarga tidak mau menghadapi situasi

5. Anggota keluarga tidak mampu melawan tekanan dari keluarga atau lingkungan sekitar.

6. Keluarga ingin mempertahankan suatu pola tingkah laku

7. Gagalnya keluarga dalam mengaitkan tindakan dengan sasaran atau tujuan upaya keperawatan

8. Keluarga kurang percaya dengan tindakan yang diajukan perawat Selain itu, ada juga kesulitan yang dihadapi petugas dalam tahap pelaksanaan ini, seperti:

1) Perawat kaku dan kurang flekesibel dan cenderung menggunakan 1 pola pendekatan

2) Kurangnya pemberian penghargaan dan perhatian terhadap faktor-faktor sosial budaya dari petugas

3) Perawat kurang mampu dalam mengambil tindakan/menggunakan berbagai macam teknik dalam mengatasi masalah yang rumit. (Mubarak, 2012)

Implementasi yang dilakukan pada asuhan keperawatan keluarga dengan asam urat, yaitu :

a. Gangguan Rasa Nyaman : Nyeri

1) Mengidentifikasi skala nyeri, lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan intensitas nyeri

2) Mengidentifikasi respon nyeri nonverbal

3) Mengidentifikasi factor yang memperberat nyeri

4) Memonitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan 5) Memonitor efek samping pengunaan analgetik

6) Memberikan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri 7) Menjelaskan tentang penyebab, periode dan pemicu nyeri 8) Menganjurkan memonitor nyeri secara mandiri

9) Menganjurkan menggunakan analgetik secara tepat

10) Mengajarkan tentang teknik non farmakologi dengan “kompres hangat rebusan jahe”

b. Gangguan mobilitas fisik

1) Mengajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan.

2) Mengidentifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya 3) Mengidentifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan

4) Memonitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi 5) Memonitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi

6) Memfasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu 7) Memfasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu

8) Melibatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.

9) Menjelaskan tujuan dan prosedur melakukan mobilisasi.

10) Menganjurkan melakukan Mobilisasi dini

c. Defisit pengetahuan d. Ansietas

1) Mengidentifikasi saat tingkat ansietas berubah

2) Mengidentifikasi kemampuan dalam mengambil keputusan 1) Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi

2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat

3) Menyediakan materi dan media pendidikan kesehatan 4) Menjadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan 5) Memberikan kesempatan untuk bertanya

6) Menjelaskan factor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan 7) Mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat

8) Mengajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

3) Memonitor tanda-tanda ansirtas 4) Menciptakan suasana teraupetik

5) Menemani pasien untuk mengurangi kecemasan 6) Memahami situasi yang membuat ansietas 7) Mendengarkan dengan penuh perhatian

8) Menggunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan 9) Menempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan

10) Mendiskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang 11) Menjelaskan prosedur termasuk sensasi yang mungkin dialami

12) Menginformasikan secara factual mengenai diagnosis, pengobatan, dan

prognosis

13) Menganjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien , bila perlu 14) Menganjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi

15) Melatih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat 16) Melatih teknik relaksasi

e. Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan

1) Mengidentifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan 2) Mengidentifikasi budaya, agama, jenis kelamin, dan umur terkait citra tubuh 3) Mengidentifikasi perubahan citra tubuh dan fungsinya

4) Memonitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri

5) Memonitor apakah pasien biasa melihat bagian tubuh yang berubah 6) Mendiskusikan perubahan tubuh dan fungsinya

7) Mendiskusikan perbedaan penampilan fisik terhadap harga diri 8) Mendiskusikan kondisi stress yang mempengaruhi citra tubuh

9) Menjelaskan kepada keluarga tentang perubahan perawatan citra tubuh 10) Menganjurkan menggambarkan gambaran diri terhadap citra tubuh 11) Menganjurkan mengikuti kelompok pendukung

2.2.5 Evaluasi

Menurut Mubarak (2012), evaluasi proses keperawatan ada dua yaitu evaluasi kuantitatif dan evaluasi kualitatif.

1) Evaluasi Kuantitatif

Evaluasi kuantitatif dilaksanakan dalam kuantitas, jumlah pelayanan, atau kegiatan yang telah dikerjakan.

2) Evaluasi Kualitatif

Evaluasi kualitatif merupakan evaluasi mutu yang dapat difokuskan pada salah satu dari tiga dimensi yang saling terkait. Tahapan evaluasi dapat dilakukan pula secara formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan selama proses asuhan keperawatan sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada akhir asuhan keperawatan (Mubarak, 2012).

Evaluasi dilaksanakan dengan pendekatan SOAP (Subyektif, Obyektif, Analisa, dan Planning)

S : adalah hal-hal yang dikemukakan oleh keluarga secara subjektif setelah dilakukan intervensi keperawatan.

O : adalah hal-hal yang ditemui oleh perawat secara objektif setelah dilakukan intervensi keperawatan.

A : adalah analisa dari hasil yang telah dicapai dengan mengacu pada tujuan yang terkait dengan diagnosis.

P : adalah perencanaan yang akan datang setelah melihat respon dari keluarga pada tahapan evaluasi.

Evaluasi yang diharapkan pada asuhan keperawatan keluarga dengan asam urat adalah :

a. Keluarga dapat mengatasi nyeri akut yang terjadi pada Ny.A

S : Keluarga mengatakan sudah memahami dan mampu mengatasi nyeri akut serta akan menerapkan apa yang sudah diajarkan mengenai cara mengatasi nyeri secara mandiri

O : Keluarga dapat menerapkan cara mengatasi nyeri A : Nyeri akut teratasi

P : Intervensi Nyeri Akut dihentikan

b. Gangguan mobilitas fisik pada Ny.A dapat teratasi

S : Klien dan keluarga mengatakan sudah memahami tentang bagaimana cara menangani gangguan mobilitas fisik

O : Klien dapat menerapkan apa yang dianjurkan dan diajarkan tentang cara menangani gangguan mobilitas fisik secara mandiri

A : Masalah gangguan mobilitas fisik teratasi P : Intervensi dihentikan

c. Keluarga dapat mengatahui secara umum mengenai penyakit gout arthritis (asam urat)

S : Keluarga mengatakan sudah memahami tentang penyakit gout arthritis O : Keluarga mampu menyebutkan kembali tentang gout arthritis

A : Masalah defisit pengetahuan teratasi P : Intervensi dihentikan

d. Keluarga dapat memahami tentang ansietas dan bagaimana cara memanajemen kecemasan

S : keluarga mengatakan sudah memahami tentang ansietas dan bagaimana cara memanajemen kecemasan

O :

- Keluarga mampu menyebutkan kembali tentang ansietas dan bagaimana cara memanajemen nya

- Klien tampak lebih tenang A : Masalah ansietas teratasi P : Intervensi di hentikan

62

Dalam dokumen Gangguan rasa nyaman (Halaman 61-70)

Dokumen terkait