BAB II PELAKSANAAN PASAL 152 KHI TENTANG NAFKAH IDDAH
A. Analisis implementasi Pasal 152 KHI tentang Nafkah
Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 149 menyebutkan bahwa
“Bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib;
a. Memberikan mut’ah yang layak kepada bekas istrinya, baik berupa uang atau benda, kecuali bekas istri tersebut qobla al dukhūl;
b. Memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas istri selama dalam iddah, kecuali bekas istri telah dijatuhi talak bā’in atau nusyūz dan dalam keadaan tidak hamil;
c. Melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya dan separoh apabila qobla al dukhūl;
d. Memberikan biaya hadānah untuk anak anaaknya yang belum mencapai umur 21 tahun.
Pasal 149 (b) berkaitan erat dengan pasal 152 yang mengatakan
“Bekas istri berhak mendapatkan nafkah iddah dari bekas suaminya kecuali ia nusyūz”
Dari pembahasan di atas maka pemberian nafkah kepada mantan istri harus dilakukan hal ini juga berdasarkan Q.S. At-Talak ayat 6
يِّه نُحٌَكَس ُثۡيَح ۡيِه َّيُهىٌُِك ۡسَأ ٍل ۡوَح ِثَٰل ْوُأ َّيُك ىِإَو َّيِهۡيَلَع ْاىُمِّيَضُحِل َّيُهوُّزٓاَضُج َلََو ۡنُكِد ۡجُو
َزىُجُأ َّيُهىُجاَ ـَف ۡنُكَل َي ۡعَض ۡزَأ ۡىِئَف َّيُهَل ۡوَح َي ۡعَضَي ًَّٰحَح َّيِهۡيَلَع ْاىُمِفًَأَف َسَف ۡنُج ۡسَساَعَج ىِإَو ٍفوُس ۡعَوِب نُكٌَۡيَب ْاوُسِوَجۡأَو َّيُه ٰيَس ۡخُأ ٓۥُهَل ُعِض ۡسُح
Terjemahan: Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu
40
menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.
Dengan adanya penjelasan dari Kompilasi Hukum Islam dan dalam Al-Qur‟an sudah di atur tentang pemberian nafkah iddah, mantan suami harus memberikan hak tersebut kepada mantan istrinya.
Berdasarkan data yang peneliti uraikan pada bab sebelumnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tidak terlaksananya pasal 152 KHI tentang pemberian nafkah pada masa iddah oleh mantan suami kepada mantan istrinya yaitu;
1. Perceraian di Luar Pengadilan
Proses pernikahan yang tidak di catatkan dan proses peerceraian yang tidak sampai ke meja pengadilan, hanya selesai pada pemerintaah Desa setempat. Hal inilah yang menjadi salah satu latar belakang tidak terlaksananya ketentuan yang ada dalam pasal 152 KHI sehingga pemberian hak nafkah iddah kepada mantan istri selama masa iddah tidak dilakukan. Karena dalam penyelesaian perkara perceraiannya juga dilakukan berdasarkan tradisi yang ada dan pemberian hak bagi isteri atas nafkah iddah tidak pernah dipersoalkan. Akan berbeda hasilnya jika perceraian itu dilakukan di depan siding Pengadilan Agama, tentu nafkah iddah yang menjadi kewajiban suami akan masuk dalam salah satu poin putusan hakim. Terutama dalam perkara cerai talak, tergugat harus hadir ke proses persidangan utuk mendapatkan hak-haknya. Apabila tidak hadir dalam persidangan maka tidak mendapatka apa-apa.
2. Kurangnya Pengetahuan
41
Pengetahuan memberikan banyak pengaruh besar dalam kehidupan, begitupun sebaliknya, tidak adanya pengetahuan mempengaruhi kehidupan, seperti dalam hal tidak adanya pengetahuan tentang nafkah pada masa iddah. Sehingga mantan suami tidak memberikan hak pada mantan istri dan mantan istri tidak menuntut nafkah pada masa iddah kepada mantan suami. Rendahnya pemahaman atas ketentuan pasal 152 terkait nafkah iddah memberi dampak terhadap perilaku suami maupun isteri dalam menghadapi persoalan hak dan kewajiban pasca perceraian.
Karena kurannya pemahaman maka suami tidak merasa berkewajiban membayar nafkah iddah karena merasa hubungan suami isterinya sudah putus. Demikian pula isteri menganggap bahwa dengan dijatuhkannya talak kepadanya berarti ia kehilangan hak atas nafkah dari suaminya sehingga ia pun tidak pernah mempersoalankannya dan tidak menuntut kepada suaminya untuk memmenuhinya.
3. Faktor Ekonomi
Kesulitan ekonomi tidak jarang menjadi salah satu fator penyebab runtuhnya bangunan rumah tangga yang berakhir dengan perpisahan antara suami isteri dalam bentuk perceraian. Keadaan ekonomi bisa menyebabkan munculnya pertengkaran kecil dalam rumah tangga. Namun apabila terjadi pertengkaran secara terus menerus, maka yang tadi persoalan kecil menjadi tambah besart dan berakibat kepada berkembangnya menjadi pertengkaran yang serius sehingga berakhir dengan hal yang tidak di inginkan. Faktor ekonomi adalah faktor yang paling sering menjadi alasan terjadinya perceraian, bahkan hal inilah yang menjadi salah satu faktor tidak terlaksananya pemberian nafkah iddah sebagaimana yang diamanatkan oleh pasal 152 KHI.
4. Tidak Adanya Tuntutan dari isteri
Tidak adanya tuntutan dari mantan istri disebabkan beberapa alasan antara lain karena malas, dan rasa bencinya kepada mantan suami
42
sehingga memilih untuk tidak menuntut. tidak hanya itu, pengambilan sebagian perabotan rumah tangga di anggap sudah cukup menjadi bagian dari mantan istri, sehingga tidak perlu untuk menuntut nafkah pada masa iddah. Sikap ini diambil oleh para mantan isteri karena tradisi yang berlaku selama ini adalah demikian, bahkan bisa jadi menuntut hak berupa nafkah iddah tidak pernah terpikirkan bukan hanya oleh istri tetapi juga semua keluarga istri tidak pernah mempersoalkannya.
5. Kebencian Suami
Kebencian suami terhadap mantan istrinya juga menjadi faktor tidak terpenuhinya nafkah pada masa iddah di Desa Lekor. Dimana sebelum perceraian terjadi, adanya perselingkuhan dan menimbulkan rasa muak karena perilaku istri sehingga kata talak pun terucapkan oleh mantan suami. Dengan di dasari kebenciaan tersebut membuat mantan suami tidak peduli lagi dengan mantan istri, sehinngga bekas suami tidak memberikan nafkah pada masa iddah kepada mantan istrinya.
6. Faktor Perselingkuhan
Hadirnya orang ketiga memberi dampak yang sangat buruk dalam rumah tangga. Karena pada dasarnya hubungan suami istri bermula dari 2 (dua) orang yang tidak saling mengenal namun menimbulkan rasa dan memilih untuk berkomitmen membina rumah tangga. Begitu pula dengan orang ke tiga, apabila membatasi pergaulan maka dapat memungkinkan tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Apalagi dalam rumahtangga terjadi hubungan perzinahan yang pasti membuat suami marah besar dan langsung menceraikan istrinya. Meskipun perceraian di latar belakangi perselingkuhan, namun nafkah iddah mestinya tetap diberikan karena bagaimanapun juga perilaku isteri adalah juga menjadi tanggung jawab suami untuk memperbaikinya sehingga dalam ketentuan pasal 152 KHI perselingkuhan tidak menjadikan kewajiban suami berupa nafkah iddah di masa iddah menjadi terhapus.
43 7. Tidak Adanya sosialisasi dari KUA
Tidak adanya tanggung jawab bekas suami kepada bekas istrinya tidak terlepas dari rendahnya sosialisasai yang dilakukan oleh pejabat pemerintah dari Kantor Urusan Agama setempat. Akibat tidak langsung dari lemahnya sosialisasi ini maka para pasangan suami isteri tidak mengetahu hak dan kewajibannya terutama dalam masa iddah isterinya.
Mantan suami tidak mengetahui apakah diwajibkan atau malah tidak ada tanggujawab kepada mantan istri pada masa iddah. Dengan adanya sosialisasi dan arahan yang dilakukan secara rutin sejak dini maka dapat mengurangi angka perceraian sekaligus dapat membantu pemahaman para pasangan akan adanya kewajiban bagi suami untuk memenuhi nafkah pada masa iddah sebagai ketentuan yang ditetapkan dalam pasal 152 KHI.
8. Faktor Adat
Adat kebiasaan pada masyarakat sering bertolak belakang dengan hukum, misalnya dalam hal nafkah pada masa iddah. Adat masyarakat setelah terjadinya perceraian, adalah mantan suami memulangkan mantan istri kerumah orang tuanya. Seandainya itu tidak terjadi, maka pihak keluarga dari mantan istri pasti akan menyuruh mantan istri untuk pulang, dikarenakan untuk apa mantan istri tinggal di rumah mantan suami padahal mereka sudah bercerai. Tidak hanya keluarga dari pihak mantan istri yang akan berkomentar demikian, tetangga setempat pun akan melakukan hal yang sama, bila sudah terjadi perceraian dalam sebuah keluarga.
Dari hasil wawancara kepada tokoh agama, dan pemerintah setempat penyebab tidak terlaksananya ketentuan pasal 152 HKI tentang pemberian nafkah iddah dikarenakan adat kebiasaan yang terjadi di Desa Lekor.
Sehingga ketika terjadi perceraian, mantan istri pulang kerumah orang tuanya dan menjalankan masa iddah di rumahnya.
44
Dengan sebab ini para mantan suami melepas tanggung jawabnya untuk memberi nafkah pada masa iddah kepada mantan istri. Ada juga yang tidak memberi nafkah kepada anaknya, dikarenakan persoalan ekonomi, dan ada juga yang memberikan nafkah pada anaknya, karna tanggung jawab seorang ayah kepada anak adalah yang utama. Padahal ketentuan hukumnya yang tertuang dalam pasal 152 KHI suami wajib memberikan nafkah pada masa iddah kepada mantan istrinya, bukan hanya pada anaknya. Karena tujuan nafkah iddah adalah untuk membuka pemikiran dan penaungan suami- istri apakah akan melakukan rujuk dan memperbaiki rumah tangganya kembali atau memutuskannya sampai habis masa iddah.
B. Analisis Efektivitas Pelaksanaan Pasal 152 KHI Tentang Nafkah Iddah di