BAB III PEMBAHASAN
B. Implementasi Penyelesaian Pembiayaan Modal Kerja
ditolak. Dalam praktiknya penerapan 5C dilakukan pada saat AO terjun langsung ke lapangan untuk menilai kelayakan nasabahnya.
Analisis 5C dilaksanakan oleh seorang account officer (AO). Account officer (AO) adalah petugas yang melakukan pemasaran pembiayaan, alangkah baiknya jika seorang AO lebih berhati-hati kepada nasabah yang memilikipinjaman di bank lain dan pemeriksaan langsung ke tempat calon nasabah untuk meneliti secara fisik kebenaran data atas usaha calon nasabah dengan cara pihak account officer (AO) BMT Al-Iqtishady Paesangan Mataram menanyakan langsung kepada masyarakat tentang tempat dan character calon nasabah melalui tetangga, teman atau rekan kerja usahanya agar tidak membawa berbagai masalah bagi pihak BMT Al-Iqtishady Pagesangan Mataram dikemudian hari.
B. Implementasi Penyelesaian Pembiayaan Modal Kerja bermasalah dengan
mengetahuai proses penanganan pembiayaan bermasalah dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini.
Proses Penanganan Pembiayaan Bermasalah Tabel 3.1
No Kategori Proses
1 Lancar Monitoring usaha, stock, dll.
2 Kurang Lancar
Surat pemberitahuan, teguran, dan kunjungan.
(preventif : Reschedule, Restruktur,Rekondusi) 3 Diragukan Surat pemberitahuan, teguran, dan kunjungan.
(Reschedule, Restruktur,Rekondusi) 4 Macet Penagihan, penahanan jaminan, dll.
Sumber: wawancara dengan Bapak Pauzi, SE, CO Pendanaan BMT Al- Iqtishady Pagesangan Mataram, 11 November 2020.
1. Revitalisasi Proses
Dalam penyelesaiannya pun pihak BMT Al-Iqtishady Pagesangan Mataram melakukan dengan beberapa cara melakukan Revitalisasi Proses yaitu dengan secara bertahap dari penjadwalan ulang (reschedulling), penataan ulang (restructuring), persaratan ulang (rescondutioning).
Revitalisasi prose ini dilakukan apabila berdasaarkan evaluasi ulang pembiayaan yang dilakukan terdapat indikasi bahwa usaha nasabah masih berjalan dan hasil usaha nasabah diyakini masih mampu untuk memenuhi kewajiban angsuran kepada BMT.70
70Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005), hlm. 268.
a. Reschedulling
Hal ini dilakukan dengan memperpanjang jangka waktu untuk penyelamatan pembiayaan dengan merubah syarat-syarat perjanjian pembiayaan yang berkenaan dengan jadwal pembayaramn pembiayaan kembali atau jangfka waktu, termasuk grace periode baik termasuk besarnya jumlah angsuran atau tidak.Dalam hal ini nasabah diberikan keringanan dalam masalah jangka wauktu pembiayaan misalnya perpanjangan jangka waktu pembiayaan dari 6 bulan menjadi satu tahun sehingga nasabah mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya.
Tindakan rescheduling dapat diberikan kepada nasabah yang masih menunjukan iktikad baik untuk melunasi kewajibannya yang bersdasarkan pembuktian secara kuantitatif merupakan alternatif yang terbaik.Faktor-faktor yang mendukung diberikannya tindakan rescheduling tersebut umpamanya adalah pemasaran dari produk nasabah masih baik dan usaha yang dijalankan masih berjalan normal.71
b. Restructuring
Rescructuring adalah upaya penyelamatan dengan melakukan perubahan syarat-syarat perjanjian pembayaran atau melakukan konversi
71Veithzal Rivai, Andria Permata Veithzal. Credit Management Hand Book,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), hlm. 510.
atas seluruh atau sebagian dari pembiayaan menjadi equity perusahaan dan equity bank yang dilakukan dengan atau tanpa rescedulling dan atau reconditioning atau lebih jelasnya sebagai berikut:
1) BMT Al-Iqtishady melakukan evaluasi permasalahan nasabah mengenai sebab terjadinya tunggakan yang dudasari atas laporan keuangan, cash flow, proyeksi keuangan, kondisi pasar dan faktor lain yang berkaitan dengan usaha nasabah/anggota.
2) Membuat perkiraan pengembalian kewajiban sebelum dan sesudah restrukturisasi.
3) Peninjauan efesiensi menajemen nasabah untuk menentukan apakah diperlukan restrukturisasi organisasi nasabah.
4) Pendekatan dan asumsi yang digunakan dalam menetapkan proyeksi arus kas serta dalam memperhitungkan nilai tunai dari angsuran pokok dan margin yang akan diterima.
5) Jadwal pembasyaran kembali yang telah direvisi mencerminkan persyaratan yang telah disesuaikan dengan kemampuan nasabah.
6) Analisis kesimpulan dan rekomendasi dalam melakukan penyelesaian persyaratan pembiayaan seperti:
a) Penurunan margin atau bagi hasil
b) Pengurangan tunggakan pokok atau margin c) Perubahan jangka waktu
d) Penambahan fasilitas
7) Penyesuaian persyaratan pembiayaan dilakukan dengan mempertimbangkan siklus usaha dan kemampuan membayar nasabah.
8) Tujuan dan penggunaan tambahan pembiayaan, apabila restrukturisasi pembiayaan dilakukan dengan cara penambahan pembiayaan, maka tambahan pembiayaan tersebut tidak diperkenankan untuk melunasi tunggakan dan kewajibasn nasabah.
9) Rincian kelengkapan dokumen yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi pembiayaan.
10)Dilakukan pengikatan ulang kembali secara notarial terhadap pelaksanaan restrukturisasi pembiayaan.
11)Cabang atau unit kerja yang terkait harus menyusun laporan pemantauan atau loporan pembiayaan yang direstruktur setiap bulannya mengena:
a) Pemenuhan kewajiban nasabah (sesuai persyaratan restrukturisasi pembiayaan).
b) Perkembangan usaha nasabah.
c) Kemungkinan pembayaran kembali.
12)Review legalitas akad pembiayaan, guna memastikan bahwa seluruh pihakpihak yang terkait dengan pembiayaan sudah dilakukan pengikatan dengan sempurna.
c. Resconditioning
Hal ini dilakukan untuk penyelamatan pembiayaan dengan cara merubah sebagian atau seluruh syarat perjanjian kredit atau pembiayaan yang tidak terbatas. Hanya pada perubahan jadwal angsuran atau jangka waktu pembiayaan saja, namun perubahan tersebut tanpa memberikan tambahan pembiayaan atau tanpa melakukan konversi atas seluruh atau sebagian dari pembiayaan menjadi equity perusahaan atau lembaga.72
Bentuk strategi penyelamatan pembiayaan yang dilakukan oleh BMT adalah dengan cara memperpanjang jangka waktu pembiayaan dan mengurangi jumlah angsuran (Rescheduling), melakukan perubahan sebagian atau seluruh perjanjian pembiayaan dengan mengurangi besaran bagi hasil (Reconditioning), memberikan tambahan pembiayaan kepada nasabah yang dianggap mampu memperbaiki usahanya (Restructurisasi).
Berdasarkan pemaparan teori tentang penyelamatan pembiayaan bermasalah dan data yang ditemukan pada bab sebelumnya dapat dilihat bahwa strategi penyelamatan pembiayaan bermasalah dapat ditempuh dengan Rescheduling (perpanjangan waktu dan mengurangi jumlah angsuran), Reconditioning (Perubahan akad atau perjanjian) dan Restructurisasi (Penataan kembali).
72Ibid, hlm. 515.
2. Penyelesaian Melalui Jaminan Hak Tanggungan
Penyelesaian pembiayaan adalah upaya yang dilakukan bank untuk menyelesaikan pembiayaan bermasalah yang tidak mempunyai prospek setelah usaha-usaha pembinaan, penyelamatan dan dengan jalan apa pun ternyata tidak mungkin dilakukan lagi, dengan tujuan untuk mencegah resiko bank yang semakin besar serta mendapatkan pelunasan kembali atas pembiayaan tersebut dari nasabah dengan berbagai macam upaya yang dapat di tempuh oleh bank.73
Penyelesaian melalui jaminan hak tanggungan ini dilakukan apabila berdasarkan hasil evaluasi ulang pembiayaan nasabah sudah tidak prospektif usaha yang dimiliki sudah menurun, dan nasabah sudah tidak cooperative untuk menyelesaikan pembiayaan dan kewajibannya kepada bank.
Penyelesaian melalui jaminan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu penyelesaian dengan cara non litigasi dan litigasi.Adapun litigasi itu adalah penyelesaian pembiayaan memalui jalur hukum yang penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan.Untuk melakukan penyelesaian atau penagihan atas pembiayaan macet, maka bank dapat melakukan upaya-upaya seperti, eksekusi groosse akta pengakuan hutang eksekusi barang jaminan.74
73Suhardjono, Manajemen Perkreditan Usaha Kecil dan Menengah, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2003), hlm. 253
74 Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm.69.
Penyelesaian dengan cara non litigasi adalah penyelesaian pembiayaan yang penyelesaiannya dilakukan tidak melalui jalur hukum dan pengadilan.
Selama penagihan pembiayaan bermasalah dilakukan dengan kesepakatan antara bank dan nasabah, maka penegihan melalui proses litigasi di pengadilan tidak akan dilakukan oleh bank. Proses litigasi hanya akan ditempuh apabila debitor tidak beritikad baik dalam arti tidak menunjukan kemauan untuk melunasi pembiayaan tersebut, Sedangkan sebenarnya debitor masih mempunyai harta kekayaan lain, yang tidak dikuasai oleh bank, atau sumber-sumber lain, yang dapat digunakan untuk menyelesaikan pembiayaan tersebut.75
Dalam pengoperasiannya BMT Al-Iqtishady lebih menegakkan prinsip tolong menolong antara pihak BMT dan nasabah sehingga dalam menjalankan usahanya menciptakan sistem kekeluarhaan yang harmonis serta ukhwah Islamiyah yang kuat.Prinsip tolong menolong ini sangat dianjurkan oleh agama, lebih-lebih dalam hal kebaikan yang menyangkut kemaslahatan individu dan umat.
Strategi penyelesaian pembiayaan bermasalah yang diterapkan oleh BMT Al-Iqtishady ialah terus melakukan kunjungan dan lebih mengutamakanprinsip kemanusiaan pada nasabah sampai dimana nasabah akan benar-benar sadar untuk memenuhi dan menyelesaikan pembiayaannya.
75Ibid, hlm. 70.
Prinsip kemanusiaan adalah prinsip atau nilai yang menyangkut harkat dan martabak manusia.Manusia merupakan makhluk yang tertinggi di antara makhluk ciptaan Tuhan sehingga nilai-nilai kemanusiaan tersebut mencerminkan kedudukan manusia sebagai makhluk tertinggi di antara makhluk-makhluk lainnya.Seseorang mempunyai nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi menghendaki masyarakat memiliki sikap dan perilaku sebagai layaknya manusia. Sebaliknya dia tidak menyukai sukap dan perilaku yang merendahkan dan menyusahkan manusia lain.76
Prinsip kemanusiaan ialah lebih mengedepankan rasa kemanusiaan antara pihak BMT Al-Iqtishady dengan nasabah sehingga menghindari konflik antara pihak nasabah dengan pihak BMT itu sendiri.Sehingga dengan bentuk penyelesaian pembiaayaan bermasalah yang lebih mengutamakan dan mengedepankan prinsip kemanusiaan, diharapkan secara psikologi nasabah tidak merasa ketakutan dan terbebani.77
Bentuk penerapan strategi penyelesaian pembiayaan bermasalah pada BMT Al-Iqtishady kurang merujuk pada teori, yang seharusnya ketika semua upaya sudah dilakukan akan tetapi nasabah masih tidak ada itikad untuk menyelesaikan pembiayaannya akan dilakukan penjualan, penyitaan jaminan, pelelangan jaminan dan penyelesaian pembiayaan dengan pihak ketiga. BMT Al-Iqtishady lebih menggunakan prinsip kemanusiaan.
76 Kamrani Buseri, Dasar, Asas dan Prinsip Pendidikan Islam, ( Banjarmasin: IAIN Antasari, 2014), hlm. 252.
77Ibid..,
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri pada kenyataannya setiap upaya penyelamatan dan penyelesaian pembiayaan bermasalah yang dilakukan tidak semua dapat berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi karena upaya penyelamatan, dan penyelesaian pembiayaan bermasalah yang membutuhkan dukungan dari kedua pihak untuk saling kooperatif menyelesaikan permasalahan yang ada sesuai dengan ketentuan yang berlaku sesuai dengan hukum islam dan perundang-undangan.78
Berdasarkan temuan peneliti, peneliti menganalisis bahwa antara teori dengan yang diterapkan oleh BMTAl-Iqtishady sudah hampir sesuai dari mulai melakukan penyelamatan akan tetapi bentuk strategi penyelesaian yang digunakan oleh BMT Al-Iqtishady masih menggunakan prinsip kemanusiaan dan ini berbanding terbalik dengan teori penyelesaian yang langsung mengambil sikap menjual agunan dan menyelesaikan dengan pihak ketiga.Penghapusan hutang juga dilakukan di BMT Al-Iqtishady dengan maksimal jumlah hutang nasabah/anggota sebesar Rp 200.000 dengan memenuhi kriteria sebagai berikut yaitu usaha nasabah bangkrut dan nasabah
meninggal dunia.
78Rachmat Firdaus, Maya Aryanti, Manajemen Perkreditan Bank Umum, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm.98.
77 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan terhadap penyelesaian pembiayaan bermasalah di BMT Al-Iqtishady Pagesangan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Penyelesaian pembiayaan modal kerja bermasalah oleh pihak BMT Al- Iqtishady Pagesangan Mataram dengan melakukan revatilisasi proses.
Rescheduling yaitu perubahan ketentuan yang hanya menyangkut jadwal pembayaran atau jangka waktunya, Resctructuring yaitu perubahan sebagian atau seluruh ketentuan-ketentuan pembiayaan termasuk perubahan maksimum saldo pembiayaan, dan rescondittioning yaitu perubahan sebagian atau seluruh ketentuan pembiayaan termasuk perubahan jangka waktu dan persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimum saldo pembiayaan.
2. Faktor penyebab terjadinya pembiayaan modal kerja bermasalah pada BMT Al-Iqtishady Pagesangan salah satunya faktor-faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor intern disebabkan oleh pihak BMT sehingga menimbulkan penyebab terjadinya pembiayaan modal kerja dengan akad mudharabah dan musyarakah bermasalah yang tidak mengatur dengan baik salah satunya yaitu : faktor analisa pembiayaan, faktor perhitungan modal kerja, faktor sumber pengembalian, faktor jaminan, dan faktor lemahnya suvervisi dan monitoring.
Sedangkan faktor ekstenal disebabkan oleh pihak nasabah yang tidak amanah
dalam mengembalikan kewajibannya, sehingga menimbulkan faktor pembiayaan modal kerja bermasalah dengan akad mudharabah dan musyarakah. Adapun faktor ekstern yang disebabkan oleh nasabah atau anggota yaitu : faktor character, faktor chapacity tidak memadai, faktor condition, dan faktor lingkungan.
B. Saran
Berikut beberapa saran peneliti terhadap pihak BMT dan nasabah dalam melaksanakan perjanjian pembiayaan modal kerja dengan akad mudharabah dan musyarakah di BMT Al-Iqtishady Pagesangan Mataram.
1. Kepada BMT Al-IqtishadyPagesangan Mataram, dalam memberikan pengajuan pembiayaan disini pihak BMT harus lebih selektif dalam memiliki nasabah yang berhak dalam menerima pembiayaan tersebut, hal ini guna untuk menghindari terjadinya kredit macet atau pembiayaan bermasalah.
2. Kepada para nasabah yang ingin mengajukan pembiayaan modal kerja dengan akad mudharabah dan musyarakah, sebelumnya nasabah tersebut harus mengetahui kondisi dirinya sendiri, apakah ia mampu dalam menjalankan usahanya, peneliti disini juga berharap nasabah untuk memenuhi kewajibannya dalam melunasi pembiayaan yang telah disepakati dalam perjanjian, jika nasabah tidak mampu melunasi pembiayaan tersebut maka sebaiknya nasabah mengikuti prosedur penyelesaian pembiayaan yang telah dilakukan oleh pihak BMT.
DAFTAR PUSTAKA
Adolf Huala. Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Jakarta: Sinar Grafika, 2008.
Arif M, Nur Rianto Al. Pengantar Ekonomi syariah Teori dan Praktik. Bandung: CV Pustaka Setia, 2015.
Arikunto Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI.
Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011.
Arifin Zainudin.Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah. Jakarta: Pustaka Alfabet, 2006.
Asri Andini. “Penerapan Rescheduling pada Pembiayaan Modal Kerja Bermasalah dengan Akad Murabahah (Studi Kasus pada PT. BPRS Bandar Lampung).”Skripsi. Lampung: FEBI UIN Raden Intan Lampung, 2018.
Buseri Kamrani.Dasar, Asas dan Prinsip Pendidikan Islam. Banjarmasin: IAIN Antasari, 2014.
Bahsan M. Penilaian Jaminan Kredit Perbankan Indonesia. Jakarta: Rezeki Agung, 2001.
Bambang Rianto Rustam. Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia.
Jakarta: Salemba Empat, 2013.
Fahm Irham. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Teori dan Aplikasi.Bandung:
Alfabeta, 2014.
Firdaus Rachmat, Maya Ariyanti. Manajemen Perkreditan Bank Umum. Bandung:
Alfabeta, 2011.
Hidayatullah,“Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Di Bank Syariah”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Syariah. 12 (1):2. 2014 http://ejournal.iain- jember.ac.id/index.php/interest/article/view/268
Ibrahim Azharsyah,“Analisis Solutif Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Di Bank Syariah”, Work Ethis Journal of Usuluddin. 13 (08): 2. 2017.
http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/IQTISHADIA/article/view/3319
Ibrahim M. Kasir. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: PT Pustaka Tinta Mas, 1994.
Ismail. Manajemen Perbankan dari Teori Menuju Aplikasi. Jakarta: Kencana Prenada media, 2010.
Ismail. Perbankan Syariah. Surabaya: Kencana, 2010.
Karim Adiwarman A., Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2013.
Kasmir. Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016.
Kasmir. Dasar-dasar Perbankan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005.
Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rordakarya, 2007.
Manan Abdul.Hukum Ekonomi Syariah dalam Perspektif Kewenangan Peradilan Agama. Jakarta: Kencana, 2012.
Mufraini Arif. Akuntansi dan Manajemen Zakat. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2006.
Muhammad. Manajemen Bank Syariah. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. 2002.
Muhammad. Manajemen Pembiayaan Bank Syariah.Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
2005.
Muhammad. Sistem Bagi Hasil dan Pricing Bank Syariah. Yogyakarta: UII Press, 2016.
Muhammad Syafi’I Antonio. Bank Syariah Wacana Ulama dan Cendekiawan.
Jakarta: Dar Al ittibata, 1999.
Muhammad Syafi’i Antonio.Bank Syariah dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press, 2001.
Nurul Huda dan Muhammad Heykal. Lembaga Keuangan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.
Salim HS. Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Soemitra Andri. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana, 2009.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2011.
Trisadini. P., Transaksi Bank Syariah, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yang berkaitan dengan Tanah, Jakarta. 1996.
Rivai Veithzal, Andria Permata Veithzal. Credit Management Hand Book. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada. 2007.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Pedoman Wawancara
Untuk pihak BMT al-Iqtishady
1. Apa saja faktor penyebab terjadinya pembiayaan bermasalah di BMT al- Iqtishady pagesangan ?
2. Apa saja upaya yang dilakukan BMT al-Iqtishady pagesangan untuk mengantisipasi nasabah yang ingkar janji ?
3. Apa saja gejala dini yang menimbulkan pembiayaan bermasalah ?
4. Bagaimana cara penyelesaiaan BMT al-Iqtishady pagesangan dalam mengatasi pembiayaan bermasalah ?
5. Apa saja yang dilakukan oleh pihak BMT al-Iqtishady pagesangan menganalisa pembiayaan kepada calon nasabah/anggota ?
6. Apa yang diharapkan oleh pihak BMT al-Iqtishady pagesangan dari pembiayaan modal kerja ?
7. Berapakah denda jika nasabah telat membayar kewajibannya ?
Untuk nasabah
1. Apa anda mengetahui pembiayaan modal kerja?
2. Apakah pihak BMT memberitahukan kepada anda keuntungan yang diperoleh dalam melakukan pembiayaan modal kerja?
3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan anda tidak bisa melunasi angsuran yang telah disepakati di perjanjian