BAB III METODE PENELITIAN
4.4 Implikasi Konversi Agama Hindu ke Agama Kristen Terhadap Hak
4.4.1 Implikasi Yuridis Hak Waris Menurut Hukum Adat Bali
Ahli waris adalah orang yang menerima warisan. Mengenai ahli waris, dalam hukum adat dikenal adanya penggolo ngan ahli waris berdasarkan garis pokok keutamaan dan garis pokok pengganti. Garis pokok keutamaan adalah garis hukum yang menentukan urutan-urutan keutamaan dalam diantara golongan –golongan keluarga pewaris dengan pengertian dengan golongan yang satu leb ih diutamakan dari golongan yang lain. Garis pokok pengganti adalah garis hukum yang bertujuan untuk menentukan siapa siapa diantara kelompok keutamaan tertentu, tampil sebagai ahli waris.
Dalam ahli waris yang menentukan berdasarkan garis pokok keutamaan dan garis pengganti ini harus diperhatikan dengan seksama system kekeluargaan yang berlaku. (Soerjono Soekanto, 2002:261). Dengan garis -garis pokok keutamaan tadi, maka orang –orang yang memiliki hubungan darah dibagi dalam golongan-golongan, yaitu :
a. Kelompok keutamaan pertama adalah keturunan pewaris;
b. Kelompok keutamaan kedua adalah orang tua waris;
c. Kelompok keutamaan ketiga adalah saudara -saudara pewaris dan keturunanya;
d. Kelompok keutamaan keempat adalah kakek dan nenek pewaris dan seterusnya.
Dalam hukum Adat Bali yang berdasarkan pada system kekeluargaan kepurusa, orang-orang yang dapat diperhitungkan sebagai ahli waris dalam garis pokok keutamaan dan garis pokok pengganti adalah para laki -laki dalam keluarga yang bersangkutan, sepanjang tidak terputus haknya sebagai
ahli waris. Kelompok orang-orang yang termasuk dalam garis keutamaan adalah pertama sebagai ahli waris adalah keturunan ahli waris kencang kebawah, adalah anak kandung laki -laki atau anak perempuan yang ditingkatkan statusnya sebagai penerus keturunan (sentana rajeg) dan anak angkat (sentana paperasan). Sentana rajeg dan sentana paperasan mempunyai hak yang sama dengan anak kandung laki -laki terhadap harta warisan. Anak perempuan dan janda bukanlah ahli waris, tetapi apabila anak perempuan itu tidak kawin (deha tua). Maka ia berhak atas harta orang tuanya sebagai nafkah hidupnya (pengupa jiwa). (Gde Panetja,1989:164).
Apabila ahli wris dari golongan keutamaan pertama tidak ada, maka yang berhak harta warisan adalah golongan ahli waris keutaan kedua, yaitu orang tua pewaris, jika masih ada. Setelah itu barulah diperhitungkan saudara - saudara pewaris sebagai kelompok keutamaan ketiga dan keturunanya sebagai ahli waris pengganti.
Pewarisan dalam hukum adat Bali bukan semata-mata hanya berisi hak ahli waris terhadap waris terhadap warisan, lebih dari itu yang terpenting adalah kewajiban ahli waris terhadap pewaris. Sebagai konsekuensi dari hak yang diterima, seorang ahli waris memiliki kewajiban -kewajiban tertentu, yaitu :
1. Memelihara pewaris dalam keadaan tidak mampu;
2. Menguburkan jenazah pewaris atau menyelenggarakan pengabenan (upacara pembakaran jenazah) bagi pewaris untuk menyemayamkan arwahnya disanggah /merajan (tempat persembahyangan keluarga), 3. Menyembah arwah leluhur yang bersemayam di sanggah/merajan.
4. Melaksanakan kewajiban-kewajiban (ayahan) terhadap banjar/desa.
Kelalaian terhadap kewajiban -kewajiban diatas dapat di jadikan alasan untuk memecat seseorang sebagai ahli waris (1971) disebutkan bahwa ahli waris terputus haknya menerima harta warisan antara lain disebabkan :
1. Anak laki-laki kawin nyeburin
2. Anak laki-laki tidak melaksankan Dharmaning anak, misalnya durhaka terhadap leluhur, durhaka terhadap orang tua.
3. Sentana rajeg yang kawin keluar.
Pada dasarnya Hukum Adat Bali menyatakan bukan semata-mata berisi hak, tetapi ada juga kewajiban -kewajiban yang harus dipenuhi dalam upaya mendapat warisan dan apabila salah satu kewajiban di abaikan maka akan dapat menimbulkan terputusnya hak untuk menerima warisan. Pengertian Hukum Adat Bali di atas menjadi dasar penulisan awig-awig Desa Medahan, Berikut tulisan awig-awig mengenai waris, ahli waris, pewaris dan hilangnya hak waris karma/warga Desa Medahan :
(1) Warisan inggih punika tetamian artha brana saha ayah -ayahan ngupadi kasukertan sekala-niskala keluhurania ring tuturanya.
Artinya :
Warisan adalah peninggalan baik berupa harta benda maupun kewajiban - kewajiban yang harus dilakukan untuk menjaga keharmonisan lahir bathin dari leluhurnya terhadap ahli warisnya.
(2) Kang sinanggeh Warisan luwire:
(Ha) Due tengah, mekadi tegal, ayahan desa, khayngan pusaka siwa pakarana lan sapanunggalnya (Na) Pamrajan (Ca) Pangunakaya, tadtadan/jiwa dana, hutang piutang
Artinya :
Yang disebut sebagai harta warisan diantaranya
(a) Harta milik bersama, sep erti ladang, kewajiban desa Perkraman/adat, (b) Pura Kelurga (merajan/sanggah) (c) Penghasilan Jeri Payah, harta benda bekal perkawinan dan hutang piutang
Pawos 55(pasal 55) Swadarmaning ahli waris
(ha) Nerima saha ngusahayang tetamian pahan saking keluh urania, mekadingarempon sanggah, pure sahapangupakarania miwah nyeledihin ayah-ayahan pewaris.
(na) ngabenan pewris saha ngelanturang upacara -upacara pitra.
(ca) Naurin hutang-hutang pewaris manut pangalogika.
Artinya ;
Kewajuban seorang ahli waris:
(a) Menerima dan menguasai bagian warisan dari pewarisnya, seperti memelihara sanggah, pura serta segala upacaranya dan juga meneruskan kewajiban pewaris.
(b) Melakukan upacara pita yadnya (ngaben) untuk pewaris serta melanjutkan upacara-upacara pita yadnya.
(c) Membayar hutang-hutang pewaris sesuai ketentuan
Pawos 56 (pasal 56) Pengepahan waris manutmanut sekadi ring sor:
(Ha) Risampun kalaksanayang Pitra Yadnya lan hutang -hutang pawaris buntas
(Na) Para ahli waris polih pahan sangkaning pangunakaya, saha tegal/
karang ayahan desa kaemong olih waris, kang sinanggeh Karma Ngarep.
(Ca) sinalih tunggilahli waris kengin tan polih pahan prade:
1) Nilar kawitan lan sasaning agama 2) Alpaka guru rupaka
3) Sentana rajeg, kesah mawiwahe utawi pratisentana nyeburin soang - soang kabawos ninggal kadaton.
(Ra) Boye ahli waris, kengin muponin hasil manut dudonan, luire:
1) Sentana luh,salami during kesah mawiwaha
2) Balu luh wiadin muani nyeburin (soang -soang boye sentana).
3) Mulih deha utawi truna, riantukan ring pawiwahan pecak sampun kabawos nunggal kadaton.
Artinya :
Pembagian waris sepatutnya seperti dibawah:
(b) Sesudah pelaksanaan ngaben dan pelunasan hutang -hutang leluhur selesai di bayar
(c) Para ahli waris dapa bagian atas harta guna kaya atau harta kekayaan leluhur, dan karang/ tegal ayahan desa keamong olih ahli waris, yang dsebut Karma Marep.
(d) Salah satu penyebab ahli waris tidak mendapatkan bagian waris:
1) Meninggalkan hak kepatutan (hak waris) dan meninggalkan kewajiban beragama atau pindah agama (hindu).
(2) Durhaka terhadap leluhur
(3) Ahli waris perempuan, kawin keluar atau ahli waris laki -laki kawin nyeburin atau nyentana masing -masing disebut ninggal kedaton atau meninggalkan hak warisnya.
(Awig-awig Pararem Desa Medahan, 2002:58 -60) Dari kutipan awig-awig diatas sudah sangat jelas diatur bahwa orang yang tidak melaksanakan kewajiban beragama (Hindu) maka hak -hak dan kewajiban dalam desa Pekraman ditiadakan. Namun hak -hak yang merupakan harta kekayaan keluarga diluar statusnya Ayahan Desa atau hak yang menyangkut desa Medahan. K eputusan untuk memutuskan memberikan atau tidak hak-hak itu, dikembalikan kepada kebijakan keluarga masing - masing seperti; tanah hasil pembelian orang tua tanpa ada hubungan dengan ayah-ayahan desa Pekraman.
Begitu pula keterangan yang didapat oleh penuli s pada saat wawancara dengan : I Made Surija 56 tahun. Yang mengatakan:
“Ada beberapa hal yang menyebabkan orang yang berpindah agama kehilangan hak warisnya, ada beberapa alasan kenapa karma/warga tersebut kehilangan waris. Desa Medahan begitu banyak memi liki kahyangan atau Pura yang harus dipelihara kelangsunganya baik secara fikik maupun upacara -upacaranya maka, untuk menjaga itu semua masyarakat Desa Medahan pada jaman dahulu di berikan karang (pekarangan) dan tegal (ladang) kemudian tersebut Tanah Ayahan Desa Medahan.
Tanah tersebut digunakan sebagai tempat tinggal dan digunakan untuk menopang kehidupan masyarakat. Dengan alasan tersebut maka apabila ada warga yang berpindah agama lain maka hak waris yang ada hubunganya dengan Tanah Ayahan Desa dicabut haknya karena dengan berpindah agama maka mereka tidak dapat lagi melakukan
kewajibanya sebagaimana masyarakat yang ada di Desa Medahan.
(Wawancara, 22 Agustus 2015)
Dan keterangan dari Ni wayan Nerti adalah orang tua Dari I putu Raka 56 tahun mengatakan :
Hak waris dirumah sebenarnya sepenuhnya dimiliki oleh I Putu Raka (anaknya) apalagi Putu Raka adalah anak laki -laki satu-satunya dirumah dan bapaknya juga sudah meninggal akan tetapi karena dia sudah tidak peduli dengan warisan dan memilih berpidah agama dan meninggalkan rumah. Saya tidak bisa berbuat banyak dan memlilih untuk mengiklaskan semuanya.
(Wawanacara 22 Agustus 2015)
Keterangan yang sama juga di ungkapkan oleh I Putu Raka mengenai hak warisnya di Rumah,di Desa Medahan :
“Saya sudah tidak perduli dengan harta warisan atau hak warisan saya dirumah orang tua, karena saya yakin tuhan Yesus bisa ngasi yang lebih besar dari pada itu, dan mungkin nanti hak waris yang ada dirumah orang tua akan di ambil oleh keluarga yang lain”
(Wawancara 23 Agustus 201 5)
Infoman lain juga mengatakan hal yang sama mengenai alasan hilangnya hak waris Di desa Medahan, seperti yang diungkapkan oleh I Made Ruja 51 tahun, dirumahnya di Desa Medahan mengatakan :
“Orang atau warga desa Medahan akan kehilangan hak warisnya.
Terutama yang menyangkut ayahan Desa, yang disebabkan orang tersebut berpindah agama akan tetapi kalau masalah harta warisan pribadi atau harta warisan dirumahnya tergantung dari keluarga yang bersangkutan. (Wawancara 23 Agustus 2015)
4.4.2 Implikasi Yuridis Terha dap Hak Waris Menurut Hukum Hindu Sebelum membahas tentang ahli waris sangat penting diketahui terlebih dahulu mengetahui tentang pewaris. Pewaris adalah oran yang meninggalkan warisan, sedangkan ahli waris adalah orang yang menerima warisan, sedangkan ahli waris adalah orang yang menerima warisan (harta milik pewaris) dari pewaris.
Dalam Hukum Waris Hindu ditentukan bahwa pewaris hakekatnya adalah orang tua (bapak), sedangkan ahli waris yang terpenting adalah anak laki-laki, artinya warisan turun dari bapak kepada anak laki-lakinya Hal ini diatur dalam Pasal 156, 158,159, dan 185. Bab IX. Kitab Menawa Dharmasastra.
Samawarnamsu ye jatah sarwe putras dwijanmanam uddahram jya yase datwa bhajeran nitare samam. (MD.1X.156)
Artinya:
Semua anak-anak dari orang dwijati yang lahir dari isteri sederajatkan memperoleh bagian yang sama dari harta warisan setelah satu dengan yang lainya member bagian tambahan kepada saudara tertuanya.
Putrandwadaca yanaha nrnam swa yambhuwo manuh tesam sad badha dayadah sad dayadhah bandhawah. (MD.IX.156)
Artinya :
Sesungguhnya ada duabelas anak dari seseorang menurut Manuswayambhu, enam diantaranya adalah mewaris dan keluarga, sedangkan yang lainya adalah keluarga.
Aurasah ksetrajaccaiwa datah krtrima ewaca gudhotpanno pawidhaccah dayada bandhawac casat. (MD.IX.159)
Artinya :
Anak sah dari seoarang anak yang lahir dari hubungan dengan isteri, anak yang lahir dari rahasia, anak yang dibuang adalah anak yang mewaris dan keluarga
Kanincca sahodhacca kritah paunarbhawasttha swayam dattac ca caudracca sad dayada bandhawah. (MD.IX.160).
Artinya :
Anak dari wanita yang tidak dikawini, anak yang diterima di dalam isteri, anak yang dibeli, anak dari wanita yang kawin lagi, anak yang menyerahkan diri dan anak dari seorang sudra yang tidak dinik ahi adalah keluarga bukan pewaris.
Isanasah pitrvittsya rayah. (Rgveda:1. 37.9) Artinya :
Anak laki-laki mewarisi milik (harta) leluhurna.
Prajabhyah pustim wibhajantha aastate (Rgveda: 1.13.4) Artinya :
Para orang tua memberikan bagian mereka pada an ak laki-laki
Dari bunyi sloka-sloka di atas, anak yang termasuk ahli waris dalam Hukum Hindu adalah anak laki -laki, baik itu anak kandung maupun anak angkat. Sedangkan anak yang bukan dari ahli waris tetapi masih sebagai keluarga adalah, anak yang lahir d ari perkawinan yan tidak sah (tidak dinikahi), anak yang dapat dari membeli, anak yang menyerahkan diri (anak pungut).
Pasal 198 Kutara Menawa, yang mengacu pada kitab Menawa Dharmasastra ada enam anak yang sebagai ahli waris, Enam anak yang akan mendapat warisan itu adalah :
1) Anak yang lahir dari perkawinan pertama.
2) Anak yang lahir dari isteri kedua (perkawinan mendapat persetujuan orang tuanya)
3) Anak pemberian saudara, anggota keluarga.
4) Anak yang diminta dari orang lain.
5) Anak yang diperoleh dari isteri yang atas perintah suaminya bercampur dengan iparnya.
6) Aanak buangan yang dipungut dan diakui sebagai anak
Sedangkan enam anak yang tidak mendapatkan wrisan adalah
1) Anak yang tidak diketahui siapa bapaknya, diperoleh ibunya ketika masih gadis.
2) Anak campuran orang (dihamili oleh banyak laki -laki)
3) Anak seorang isteri yang sudah doceraikan, kemudian kawin lagi dengan laki-laki lain
4) Anak yang diperoleh karena pemberian.
5) Ank orang lain yang diminta diakui sebagai anak.
6) Anak hamba yang berasal dari keturunan rendah , yang diakui anak.
Disamping anak laki-laki, anak perempuan berhak mendapat waris.
Amajur iva patrohsaca sati samanada a asadasas tvaam iye bhagam kridhipraketam upa masya bhara daddhi bhagam tanvo yanemamahah.(Rgveda:II.17.7)
Artinya :
Seorang anak yang selalu tinggal dengan orang tuanya, seperti seorang wanita yang tinggal menjadi orang tua dirumah, meminta uang kepada orang tuanya. Semoga orang tuanya memikirkan itu.
Perhitungkan dan berikan bagianya kepadanya untuk perawatan untuk melayani para tamu.
Yataiwama tathaputra patrena duhita soma tasyamatmani tishantayam kathamanyo dhanam haret (MD:IX.130)
Artinya :
Seorang anak sama dengan dirinya sebagaimana anak perempuan sama dengan anak laki, bagaimana mngkin orang lain memperoleh harta warisan sedangkan anak perempuan yang ditunjuk, seorang yang ditunjuk yang sama dengan dirinya masih hidup.
Matusu yautakam yat syakumara bhaga ewash dauhita ewa ca hareda putrasyakilam dhanam ( MD.IX.131)
Artinya :
Tetapi apapun juga harta sendiri milik ibu harta itu ad alah satu- satunya merupakan bagian anak perempuan dan anak wanita yang diangkat statusnya menjadi anak laki -laki menerima seluruh warisan orang tuanya yang tidak berputra lagi.
Dari bunyi pasal diatas dapat diketahui bahwa seorang anak perempuan berhak m endapatkan warisan orang tuanya baik ibu maupun bapaknya, terlebih lagi jika perempuan itu diangkat statusnya menjadi laki - laki (putrika).
Tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang anak laki -laki atau seorang wanita yang bestatus laki (patrika), sebag aimana bunyi sloka-sloka diatas adalah :
a. Melakukan upacara-upacara ritual untuk para leluhurnya.
b. Menghormati leluhur, orang tua,kakak dan juga para gurunya dan senantiasa menyenangkan hati mereka.
c. Menghindari perselisihan, perkelahian dengan orang tua dan keluarga.
d. Selalu berbakti kepada orang tuanya.
A. Hilangnya Hak Mewaris Dalam Hukum Hindu
Setiap ahli waris sebenarnya mendapatkan hak waris dari pran orang tuanya(pewaris), namun ada kalanya seseorang, baik itu kan kehilangan hak warisnya disebebkan karen a perbuatanya yang bertentangan dengan norma - norma hukum yang berlaku baik itu hukum agamanya ataupun hukum adatnya(Gelgel,2006:148).
Perbuatan yang memungkinkan hilangnya hak mewaris terhadap harta warisan disebabkan oleh beberapa hal :
a. Membunuh dan berusaha menghilangkan nyawa pewaris atau anggota keluarga atau pewaris.
b. Melakukan penganuayaan atau berbuat merugikan kehidupan si pewaris.
c. Berbuat tidak baik ataupun menjatuhkan nama baik pewaris atau kerabat pewaris karena perbuatan tercela.
d. Meninggalkan agamanya atau berpindah agama atau kepercayaanya.
(Gde Wiratana,2005:265).
Dalam hukum Hindu seorang ahli waris akan kehilangan hak warisnya atau tidak berhak mewaris seperti apa yang diatur dalam pasal 201,214 Bab IX. Kitab Menawa Dharmasastra adalah jika:
1. Ahli waris menolak untuk mewaris.
2. Ahli waris durhaka terhadap pewaris leluhurnya.
3. Ahli waris diangkat anak oleh orang lain.
4. Ahli waris menikah dengan putrika (anak wanita yang berstatus purusa)
5. Ahli waris menderita penyakit jiwa dan tidak sempurna indrany a.
Dalam masyarakat Hindu di Bali, seorang anak dapat pula kehilangan hak mewarisnya jika anak tersebut mempunyai tingkah laku dan perbuatanya
merugikan atau mengancam kedudukan pewarisnya.Misalnya seorang anak yang meninggalkan agama leluhurya atau pewari snya. Hal ini diberlakukan karena seorang anak yang berpindah agama tidak dapat melaksanakan kewajiban leluhurnya sebagai seorang anak yang suputra(baik) terhadap leluhurnya seperti melakukan yadya dan melakukan kewajiban -kewajiban social di lingkungan mas yarakat
B. Harta Warisan Dalam Hukum Hindu
Harta warisan adalah segala harta benda yang ditinggalkan atau yang menjadi hak milik orang yang telah meninggal dunia atau pewaris, baik yang menyangkut harta, yang akan dapat dibagikan ataupun harta yang belum dapat dibagi. Harta warisan ini dapat berupa harta benda yang tidak berwujud dan dapat pula berupa harta benda yang tidak terwujud.
Harta warisan dalam Hukum waris hindu dikenal dengan nama drasvya dapat digolongkan menjadi :
a. Harta warisan yang dapat di bagi.
b. Harta warisan yang tidak dapat dibagi.
c. Harta warisan yang tidak berwujud.
Harta warisan mempunyai nilai ekonomis , seperti tanah ,uang, rmah emas dan sebagainya. Sedangka harta warisan yang tidak dapat dibagi - bagikan disebut harta pusaka seperti keris, te mpat pemujaan/suci(rumah ibadah) benda-benda yang memiliki nilai -nilai religious magis seperti pretima dan sebagainya. Harta warisan yang berwujud adalah harta warisan yang dapat dilihat dan diraba secara fisik material, sedangkan harta warisan yang tidak terwujud berupa hak dan kewajiban. (MD.X.115)
Sapta witagama dharmya dayo labhah krayo jayah, prayoga karmayogacca satpratigraha ewa ca.
Artinya :
Ada tujuh cara yang sah dalam memperoleh hak milik yaitu:
pewarisan, perjumpaan, atau hadiah persahabatan, p embelian dan penaklukan peminjaman dengan bunga, melakukan pekerjaaan menerima hadiah dari orang -orang saleh.
Dari bunyi sloka 115 Bab,X. Menawa Dharmasastra diatas, ada tujuh cara yang sah atau cara membenarkan untuk memperoleh warisan dalam hukum hindu yaitu :
a. Pewarisan b. Pembelian c. Penaklukan d. Perjumpaan
e. Pemunjaman dengan bunga f. Melakukan pekerjaan
g. Penerimaan dari orang yang saleh
Jadi dari hasil uraian diatas dapat ditarik benang merah terhadap waris dalam kajian Hukum Hindu. Bahwa orang yang tidak dapat me lakukan/
melanjutkan kewajiban orang tua atau pewaris. Menurut Hukum Hindu, maka tidak dibenarkan untuk mendapatkan Waris dari Pewarisnya, Sama halnya dengan orang yang berubah/ berpindah agama dari Agama Hindu ke Agama yang lainya.
4.4.3 Implikasi Menurut Huku m Nasional (positif) Indonesia
Kebebasan beragama di Indonesia sangat dijunjung tnggi karena Negara menjamin kehidupan kebebasan beragama seluruh warga Negara
sesuai dengan bunyi Undang -undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.
Pasal 29 (1) dan (2) tenta ng agama yang berbunyi sebagai berikut : Pasal 29
AGAMA
(1) Negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yhang Maha Esa (2) Negara yang menjamin kemerdekaan tiap -tiap penduduk untuk
memeluk agamanya dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaanya itu.
Berdasarkan penjelasan Undang-undang diatas maka jelas tidak ada implikasi dari tindakan atau perbuatan berubah/berpindah agama.
4.4.4 Kedudukan Anak Laki-Laki Yang Berpindah Agama
Menurut Awig-Awig yang ada di Desa Medahan “kalau anak laki-laki menikah dengan agama lain selain agama Hindu maka hak untuk mewaris dirumahnya juga akan hilang” Begitu pula Hukum Adat Bali menyatakan bahwa hak pewaris yang berpindah agama tuidak berhak atas warisanya. Pendekatan masalah yang dipakai dalam penelitian ini adalah sosilogis yuridis. Secara sosiologis penelitian ini didasarkan pada penelitian lapangan yang menjelaskan kedudukan ahli waris yang berpindah agama dari agama Hindu Bali keagama lainnya menurut hukum adat waris Bali. Secara yuridis artinya mengkaji permasalahan dari aspek hukum secara teoritis.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ahli waris yang berpindah agama dari pewaris tidak berhak mewaris karena tidak melaksanakan kewajiban atau drowaka (durhaka kepada leluhur). Kewajiban ahli waris dalam masyarakat hukum adat Bali tidak dapat dipisahkan dari kewajiban dalam bidang keagamaan dalam hal ini agama Hindu.
Kewajiban ahli waris adalah melakukan sembah (penghormatan ) kepada leluhur atau pewaris pada saat upacara pengabenan atau pembakaran mayat. Melaksanakan upacara ditempat persembahyangan seperti sanggah atau merajan dilingkungan keluarga dan Pura Khayangan Tiga untuk masyarakat Hindu pada umumnya. Terhadap harta kekayaan, ahli waris yang berpindah agama hanya dapat diberikan pemberian –
pemberian sebatas harta pemberian pengonokaya atau harta gonogini orang tuanya.
Kata kunci : Kedudukan ahli waris yang Pindah agama, menurut hukum adat Bali.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah penulis menguraikan secara maksimal tentang “ Kedudukan Ahli Waris Pada Konversi Agama Di Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar”
Maka dapat ditarik kesimpulan seperti berikut.
1. Proses terjadinya konversi agama di Desa medahan, Kecamatan Blahbatuh Kabupaten gianyar diakibatkan oleh terjadinya mukjizat kesembuhan terhadap sakit yang dialami oleh keluarga I Putu Raka dengan istrinya Ni Ketut Agustini.
2. Kedudukan ahli waris terhadap keluarga I Putu Raka dan Ni Ketut Agustini di Desa Medahan Awig-Awig yang ada di Desa Medahan “kalau anak laki-laki menikah dengan agama lain selain agama Hindu maka hak untuk mewaris dirumahnya juga akan hilang” Begitu pula Hukum Adat Bali menyatakan bahwa hak pewaris yang berpindah agama tuidak berhak atas warisanya
5.2 Saran – Saran
Bagi penduduk Desa Medahan baik yang beragama Hindu ataupun Islam agar tetap memelihara kerukunan hidup beragama supaya komflik - konflik yang terjadi diawal keberadaan agama islam tidak akan terjadi dimasa depan. Bagi pemerintah agar aktif mengadakan penyuluhan agama dikalangan hindu maupun islam sehingga k erukunan agama akan terjamin dan juga untuk mengurangi factor-faktor terjadinya konversi agama Hindu ke Islam dan agama lainya hendaknya pemerintah terkait dalam hal ini Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan para pemuka agama hindu untuk melakukan berbagai langkah- langkah guna untuk mengatasi turunya jumlah agama hindu yang mulai menurun jaman sekarang, dengan memberikan pemahaman tentang ajaran agama hindu yang lebih
55