GOLONGAN BARANG
3) Impor
Nilai impor melalui DKI Jakarta periode Januari-Desember 2015 mencapai 71.154,56 juta US $ atau lebih rendah 15,92 persen dari periode yang sama tahun 2014 yakni sebesar 84.628,51 juta US $.
Sepanjang periode 2015 tercatat nilai impor melalui DKI Jakarta tertinggi terjadi pada bulan April (6.390,52 juta US $) dan terendah terjadi di bulan Juli (4.744,37 juta US $). Berdasarkan golongan penggunaan barang atau Broad Economic Category, nilai impor Januari-Desember 2015 untuk seluruh golongan mengalami penurunan dibandingkan dengan periode Januari-Desember 2014. Golongan penggunaan barang konsumsi mengalami penurunan 13,64 persen, penggunaan barang bahan baku dan penolong mengalami penurunan 14,08 persen dan penggunaan barang modal mengalami penurunan 21,48 persen.
Grafik 2.3
Nilai Ekspor Melalui DKI Jakarta dan Ekspor Produk DKI Jakarta Bulan Januari-Desember 2013, 2014 dan 2015
Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2015 Audited Bab II hal 7
Uraian Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
Impor melalui DKI
Jakarta 6.278,83 6.049,10 6.297,11 6.390,52 5.611,40 6.216,95 4.744,37 6.161,88 5.667,87 5.679,43 6.013,05 6.044,04 Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta 2016
- 1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00 5.000,00 6.000,00 7.000,00
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
Adapun impor yang dilakukan melalui DKI Jakarta dapat dilihat pada Grafik 2.5 berikut.
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Impor melalui
DKI Jakarta 48.099,00 70.069,00 88.874,00 96.926,00 90.108,00 84.628,51 71.154,56 Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta 2016
- 10.000,00 20.000,00 30.000,00 40.000,00 50.000,00 60.000,00 70.000,00 80.000,00 90.000,00 100.000,00
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Grafik 2.4
Impor Melalui DKI Jakarta Tahun 2015 (Juta US$)
Grafik 2.5
Impor Melalui DKI Jakarta Tahun 2009 – 2015 (Juta US$)
Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2015 Audited Bab II hal 8
Sedangkan nilai impor melalui DKI Jakarta menurut golongan barang dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut.
NILAI CIF (JUTA US$) 1 Mesin-mesin/Pesawat Mekanik 13.169,04
2 Mesin/Peralatan Listrik 11.090,61
3 Kendaraan dan Bagiannya 4.682,01 4 Plastik dan Barang dari Plastik 4.444,29
5 Besi dan Baja 3.578,94
6 Bahan Bakar Mineral 2.409,41
7 Bahan Kimia Organik 2.002,22
8 Perangkat Optik 1.567,84
9 Kapas 1.472,93
10 Benda-benda dari Besi dan Baja 1.339,32
Total 10 Komoditi 45.756,61
Lainnya 25.397,95
Total Impor Melalui DKI Jakarta 71.154,56
Sumber : BPS Provinsi DKI Jak arta 2016
GOLONGAN BARANG
Selanjutnya impor melalui DKI Jakarta menurut negara dapat dilihat pada Tabel 2.4 berikut.
NILAI CIF (JUTA US$)
ASEAN 17.254,99
1 Singapore 5.216,71
2 Thailand 5.717,84
3 Malaysia 2.707,20
4 Vietnam 2.314,30
Asean Lainnya 1.298,94
ASIA 38.381,74
5 China 17.063,49
6 Japan 10.540,44
7 Korea, Republic Of 5.005,14
8 Taiwan, Province Of China 2.107,39
9 Hongkong 1.352,45
Asia Lainnya 2.312,83
AUSTRALIA dan OCEANIA 2.292,97
10 Australia 1.855,24
Australia dan Oceania Lainnya 437,73
AMERIKA 5.706,10
11 United States 4.115,88
Amerika Lainnya 1.590,22
EROPA 7.619,66
12 Germany 2.180,35
Eropa Lainnya 5.439,31
Total 12 Negara 60.176,43
Lainnya 10.978,13
Total 71.154,56
Sumber : BPS Provinsi DKI Jak arta 2016 NEGARA ASAL
Tabel 2.3
Nilai Impor Melalui DKI Jakarta menurut Golongan Barang HS 2 Dijit
Tabel 2.4
Impor Melalui DKI Jakarta menurut Negara
Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2015 Audited Bab II hal 9
Selanjutnya Impor Melalui DKI Jakarta Menurut Golongan Penggunaan Barang dapat dilihat pada Grafik 2.6 berikut.
Uraian Januari-Desember 2014 Januari-Desember 2015
Barang Konsumsi 7.109,12 6.139,53 Bahan Baku & Penolong 56.311,46 48.381,26 Barang Modal 21.184,22 16.633,77
Sumber : BPS Provinsi DKI Jak arta 2016
- 10.000,00 20.000,00 30.000,00 40.000,00 50.000,00 60.000,00
Januari-Desember 2014 Januari-Desember 2015
Barang Konsumsi Bahan Baku & Penolong Barang Modal
Selain ekspor dan impor, potensi daerah juga dapat dilihat dari gambaran tingkat pariwisata. Sebagai kota tujuan wisata, DKI Jakarta memiliki fasilitas yang cukup memadai seperti hotel, tempat pembelanjaan dan objek wisata yang beragam. Disamping itu event- event nasional-internasional seperti konferensi dan pameran turut mendorong tingginya wisman yang datang ke DKI Jakarta.
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke DKI Jakarta pada tahun 2015 meningkat sebesar 2,16 persen yaitu sebesar 2,37 juta kunjungan jika dibandingkan tahun 2014 yang berjumlah 2,32 juta kunjungan. Secara grafis kunjungan wisatawan mancanegara dapat dilihat pada Grafik 2.7 berikut.
Grafik 2.6
Impor Melalui DKI Jakarta Menurut Golongan Penggunaan Barang, Januari-Desember 2014 dan Januari-Desember 2015
Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2015 Audited Bab II hal 10
Uraian Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
Kunjungan Wisatawan Mancanegara (Ribu Kunjungan)
174,50 178,10 208,20 166,80 195,20 179,50 179,80 258,90 217,90 203,40 223,10 186,80
Sumber : BPS Provinsi DKI Jak arta 2016
- 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 300,00
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des
Adapun jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke DKI Jakarta dapat dilihat pada Grafik 2.8 berikut.
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Kunjungan Wisatawan Mancanegara (Juta Kunjungan)
1,45 1,89 2,00 2,13 2,31 2,32 2,37
Sumber : BPS Provinsi DKI Jak arta 2016
- 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Grafik 2.7
Jumlah Wisatawan Mancanegara Yang Berkunjung ke DKI Jakarta Tahun 2015 (Juta Kunjungan)
Grafik 2.8
Jumlah Wisatawan Mancanegara Yang Berkunjung ke DKI Jakarta Tahun 2009 - 2015 (Juta Kunjungan)
Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2015 Audited Bab II hal 11
b. Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian DKI Jakarta tahun 2015 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (tahun dasar 2010) mencapai Rp 1.983,42 triliun dan PDRB perkapita per tahun mencapai Rp 194,87 juta. Ekonomi DKI Jakarta tahun 2015 tumbuh sebesar 5,88 persen, melambat dibanding tahun 2014 sebesar 5,95 persen. Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. Jasa-jasa merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,29 persen, diikuti oleh Industri Pengolahan sebesar 14,71 persen dan Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan sebesar 13,90 persen.
Struktur perekonomian DKI Jakarta menurut lapangan usaha tahun 2014 didominasi oleh empat lapangan usaha utama yaitu Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan (36,27 persen); Perdagangan, Hotel dan Restoran (21,99 persen); Industri Pengolahan (13,84 persen) dan Konstruksi (13,16 persen). Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta tahun 2015, Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,47 persen; diikuti Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 1,22 persen; dan Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 0,72 persen.
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
DKI Jakarta 5,02 6,50 6,73 6,53 6,11 5,95 5,88 Nasional 4,63 6,20 6,48 6,23 5,78 5,01 4,79
Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta 2016
- 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
DKI Jakarta Nasional
Grafik 2.9
Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta dan Nasional 2009-2015 (Persen)
Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2015 Audited Bab II hal 12
c. Inflasi
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi rendahnya tingkat harga.
Inflasi di DKI Jakarta selama tahun 2015 adalah sebesar 3,35 persen, lebih rendah dari inflasi tahun 2014 yaitu 8,95 persen. Serta berada dalam kisaran sasaran inflasi 2015 yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar empat plus minus satu persen (yoy).
Pencapaian sasaran inflasi tersebut tidak terlepas dari kebijakan pengendalian inflasi yang ditempuh oleh Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, melalui Tim Pengendali Inflasi (TPI) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Melalui peningkatan produksi dan memperbaiki distribusi serta meminimalkan berbagai distorsi harga bahan pangan. Dan didukung oleh reformasi subsidi berupa penyesuaian harga bahan bakar minyak dan LPG 12 kilogram serta penyesuaian tarif listrik, di tengah menurunnya harga minyak dan gas global. Selain itu, inflasi DKI Jakarta tahun 2015 ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,35 persen. Yang didorong oleh lebih rendahnya harga komoditas kelompok administered prices, terutama untuk komoditas yang terkait dengan energi, seperti bensin, solar, dan bahan bakar rumah tangga. Perkembangan ini juga berdampak pada turunnya tarif dalam subkelompok tranportasi, terutama pada angkutan udara dan angkutan antarkota. Relatif lebih rendahnya inflasi 2015 dari 2014 juga didorong oleh aktivitas perekonomian Jakarta yang juga lebih rendah dari tahun sebelumnya yang disebabkan terbatasnya tekanan inflasi dari sisi permintaan masyarakat.
Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2015 Audited Bab II hal 13
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
DKI Jakarta 2,34 6,21 3,97 4,52 8,00 8,95 3,30 Nasional 2,78 6,96 3,79 4,30 8,38 8,36 3,35
Sumber : BPS Provinsi DKI Jak arta 2016
- 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
DKI Jakarta Nasional
d. Struktur Ekonomi