BAB III METODE PENELITIAN
E. Instrumen Penelitian
F. Teknik Analisis Data 1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data kemampuan penalaran analogi matematik yang diperoleh kedua kelompok berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Penelitian ini menggunakan uji Lilliefors untuk menguji normalitas data dengan prosedur pengujiannya sebagai berikut:
1) Pengamatan x1, x2, … , xn dijadikan bilangan baku z1, z2, … , zn dengan menggunakan rumus z = ̅ , dimana x dan s masing-masing merupakan rata-rata dan simpangan baku sampel.
2) Untuk tiap bilangan baku ini dan menggunakan daftar distribusi normal baku, kedian dihitung peluang F (zi) = P (z < zi).
3) Selanjutnya dihitung proporsi z1, z2, … , zn yang lebih kecil atau sama dengan zi. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S (zi), maka
4) Hitunglah selisih F (zi) - S (zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.
Untuk menerima atau menolak Hipotesis nol, kita bandingkan L0 ini dengan nilai kritis L yang diambil dari daftar nilai kritis untuk uji Lilliefors untuk taraf nyata α yang dipilih. Kriterianya adalah: tolak hipotesis nol bahwa populasi berdistribusi normal jika L0 yang diperoleh dari data pengamatan melebihi L dari daftar. Dalam hal lainnya hipotesis nol diterima.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk melihat kedua kelas yang diuji memiliki kemampuan dasar yang sama atau tidak. Terlebih dahulu menguji kesamaan variansinya dengan menggunakan uji F sebagai berikut:
H0 : ₁² = ₂² kedua populasi mempunyai varians yang sama.
Ha : ₁² ≠ ₂² kedua populasi mempunyai varians yang berbeda.
F =
(sudjana,2005:250) Kreteria pengujian adalah sebagai berikut:
Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima dan Jika Fhitung ≥ Ftabel maka H0
ditolak. Dimana Fa(v1.v2) didapat dari daftar distribusi F dengan peluang , sedangkan derajat kebebasan v1 dan v2 masing-masing sesuai dengan derajat kebebasan pembilang = (n1 – 1) dan derajat kebebasan penyebut = (n2 – 1) dengan taraf nyata = 0,05.
3. Analisis Pengujian Hipotesis
Hipotesis yang akan di uji dirumuskan sebagai berikut:
H0 : ₁ ≤ ₂ Ha : : ₁> ₂ Keterangan :
H0 :Pembelajaran siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode berfikir metaphorical thinking lebih rendah atau sama dengan kemampuan belajar
siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvesional pada materi Bangun Ruang Sisi-sisi Lengkung dikelas VII SMP Muhammadiyah 8 Medan.
Ha :Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode berfikir metaphorical thinking lebih rendah atau sama dengan kemampuan belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvesional pada materi Bangun Ruang Sisi-sisi Lengkung dikelas VII SMP Muhammadiyah 8 Medan.
₁ :Rata-rata hasil belajar matematika kelas eksperimen (pengajaran dengan metode berfikir metaphorical thinking)
₂ :Rata-rata hasil belajar matematika kelas kontrol (pengajaran konvensional)
Alternatif pemilihan uji - t
1. Jika data berasal dari populasi yang homogeny ( ₁ ≠ ₂ tidak diketahui), maka digunakan rumus uji - t yaitu:
t = ͞₁ ͞₂
₁ ₂ (sudjana,2005:239) dengan
S² = ( ₁ ) ₁² ( ₂ ) ₂² ₁ ₂
2. Jika data berasal dari populasi yang tidak homogeny ( ₁ ≠ ₂ tidak diketahui),maka digunakan rumus uji - t yaitu:
t = ͞₁ ͞₂
₁²
₁ ₂² ₂ (sudjana,2005:241) keterangan:
t = luas daerah yang dicapai
n1 = banyaknya siswa pada sampel kelas eksperimen n2 = banyaknya siswa pada sampel kelas control S1 = simpangan baku kelas eksperimen
S2 = simpangan baku kelas control
X1 = rata-rata selisih skor siswa kelas eksperimen X2 = rata-rata selisih skor siswa kelas control
Criteria pengujian adalah : terima H0 Jika thitung < ttabel dan tolak H0
Jika thitung ≥ ttabel dengan dk = (n1 + n2 – 2) dengan peluang (1 – ) dan taraf nyata = 0,05.
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 8 Medan pada kelas VII A yang terdiri dari 24 siswa dan kelas VII B yang terdiri dari 22 siswa yang turut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Kedua kelas ini diberikan perlakuan yang berbeda, kelas VII A sebagai kelas eksperimen mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan berfikir metaphorical thinking, sedangkan kelas VII B sebagai kelas kontrol mendapatkan perlakuan pembelajaran secara konvensional. Pokok bahasan matematika yang diberikan kepada kedua kelas yaitu Bangun Ruang Sisi Lengkung.
Setelah diberikan perlakuan pembelajaran yang berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, kedua kelas diberikan tes kemampuan penalaran analogi matematik yang sama berbentuk essai yang sebelumnya sudah dilakukan uji validitas, reabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda pada soal tes tersebut.
Tes ini dilakukan untuk mengukur kemampuan penalaran analogi matematik siswa dan membandingkan hasilnya antara kedua kelas tersebut.
Analisis data hasil tes kemampuan penalaran analogi matematik siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol selanjutnya dilakukan setelah data terkumpul.
Berikut disajikan analisis data hasil perhitungan akhir tes kemampuan penalaran analogi matematik siswa setelah pempelajaran diterapkan.
matematik siswa memiliki nilai rata-rata (mean) 61,50; dan nilai tertinggi pada kelas ini yaitu 96 sedangkan terendah 29 dengan simpangan baku 17,43. Dibawah ini adalah data hasil tes kemampuan penalaran analogi matematik siswa kelas eksperimen dalam bentuk distribusi frekuensi.
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Kemampuan Penalaran Analogi Matematik Kelas Eksperimen
TEST
Kelas Eksperimen
N Min Max Mean SD Varians Pretest 30 20 65 42 12.077 145.862 Posttest 30 65 95 80.5 9.130 83.362
Berdasarkan tabel 4.1, terlihat bahwa nilai paling banyak diperoleh siswa kelas eksperimen. Siswa yang mendapat nilai di atas rata-rata kelas sebanyak 11 orang dengan prosentase 145,862, yaitu pada kelas interval nomor 3, 4, 5 dan 6 (pada kelas interval nomor 3, siswa yang memperoleh nilai di atas rata-rata kelas sebanyak 2 orang. Siswa yang mendapat nilai di bawah rata-rata kelas sebanyak 13 orang, yaitu pada kelas interval nomor 1,2 dan 3 (pada kelas interval nomor 3, siswa yang memperoleh nilai di bawah rata- rata kelas sebanyak 6 orang dengan prosentase sebesar 25%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang diberikan pembelajaran menggunakan berfikir metaphorical thinking mendapat nilai di bawah rata-rata kelas.
ini:
Gambar 4.1
Grafik Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi Kemampuan Penalaran Analogi Matematik Kelas Eksperimen
Pada tabel 4.1, nilai yang sering muncul terdapat pada batas pretest dengan jumlah siswa 8 orang. Begitu pula pada gambar 4.1, terlihat bahwa nilai untuk interval paling tinggi secara visual terdapat pada interval dengan frekuensi sebanyak 8 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa modus pada kelas eksperimen terletak pada batas interval. Selain itu, berdasarkan visualisasi histogram kelas eksperimen terlihat puncak mengerucut pada interval. Hal ini menjelaskan bahwa pengumpulan nilai terjadi pada interval tersebut.
2. Kemampuan Penalaran Analogi Matematik Siswa Kelas Kontrol Pada kelas kontrol, diperoleh hasil tes kemampuan penalaran analogi matematik siswa memiliki nilai rata-rata (mean) 45,59. Selain itu perolehan nilai tertinggi pada kelas ini yaitu 88 dan terendah 21 dengan simpangan baku 16,42.
0 20 40 60 80 100
Pretest Posttest
Kelas Eksperimen
Series 1
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Kemampuan Penalaran Analogi Matematik Kelas Kontrol
TEST
Kelas Kontrol
N Min Max Mean SD Varians Pretest 30 20 60 39.66 13.06 170.575 Posttest 30 60 90 76.16 8.375 70.143
Berdasarkan tabel 4.2, terlihat bahwa nilai paling banyak diperoleh siswa kelas kontrol. Gambaran rata-rata hasil belajar siswa kelas kontrol dapat ditunjukkan dengan grafik dibawah ini :
Gambar 4.2
Grafik Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi Kemampuan Penalaran Analogi Matematik Kelas Kontrol
Dari output diatas dapat dilihat bahwa rata-rata skor pretest dan skor posttest pada kelas eksperimen adalah 42 dan 80.5. Sedangkan pada kelas kontrol adalah 39.67 dan 76.16. Dari data tersebut terlihat bahwa terdapat peningkatan
0 20 40 60 80
Pretest Posttest
Kelas Kontrol
Series 1
dilakukan uji statistic dengan menggunakan hasil dari deskripsi data gain yaitu selisih antara nilai posttest dengan nilai pretest pada masing-masing kelas. Berikut adalah nilai gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
B. Analisis Data Hasil Penelitian
Data hasil penelitian yang dianalisis adalah rata-rata skor kemampuan penalaran analogi matematik siswa pada kelas eksperimen dan kontrol. Data ini diolah menjadi skor rata-rata, standar deviasi dan varians. Selanjutnya untuk mengetahui apakah perbedaan rata-rata signifikan secara statistik, maka dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t. namun sebelum menggunakan uji-t, lebih dulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas sebagai syarat dapat dilakukannya analisis data.
1. Uji Normalitas
Analisis data untuk uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Lilliefors. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Data dikatakan berasal dari populasi yang berdistribusi normal apabila memenuhi kriteria Lhitung (L0) <
Ltabel dengan taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan tertentu. Hasil uji normalitas antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3
Output Uji Normalitas data Pretest Tests of Normality
Kode Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
Pretest 1 .131 30 .197 .962 30 .351
2 .113 30 .200* .936 30 .070
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Dari output diatas dapat dilihat untuk kelas eksperimen Kolmogorov-Sminov sig.
0.197, untuk kelas kontrol Kolmogorov-Sminov sig. 0,200. Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut :
1) Kriteria Pengujian
- Jika signifikansi < 0,05 maka tidak normal - Jika signifikansi > 0,05 maka normal 2) Kesimpulan
Dari ouput dapat dilihat bahwa signifikansi untuk kelas eksperimen adalah 0.197, karena signifikansi > 0,05, maka distribusi normal. Kemudian untuk kelas kontrol signifikansi adalah 0.200, karena signifikansi > 0,05, maka distribusi normal. Jadi, dapat disimpulkan bahwa distribusi nilai pretest untuk kelas eksperimen dan kontrol adalah distribusi Normal.
varians atau tidak. Uji homogenitas ini menggunakan SPSS 20.00. Hasil homogenitas nilai pretest dan posttest adalah sebagai berikut :
a. Uji Homogenitas Pretest
Tabel 4.4
Output Uji Homogenitas Pretest Test of Homogeneity of Variances
PRETEST Levene Statistic
df1 df2 Sig.
1.285 7 20 .307
ANOVA PRETEST
Sum of Squares
df Mean
Square
F Sig.
Between
Groups 753.869 9 83.763 .400 .921
Within Groups 4192.798 20 209.640
Total 4946.667 29
1) Deskripsi Output Test Of Homogeneity of Variances
Kriteria pengujiannya yaitu, jika signifikansi < 0,05 maka varian kelompok tidak homogeny. Sebaliknya, jika signifikansi > 0,05, maka varian kelompok data adalah homogeny. Dari output dapat dilihat bahwa signifikansi 0,307. Jadi dapat disimpulkan bahwa varian kedua kelompok data yaitu, eksperimen dan kontrol adalah homogen.
2) Deskripsi Hasil ANOVA
Uji Anova adalah deskripsi untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil antara kelas kontrol dan homogeny. Langkah-langkah pengujian ANOVA adalah sebagai berikut :
a) Merumuskan Hipotesis
Ha : Ada perbedaan rata-rata antara nilai pretest kelas eksperimen dan kontrol b) Kriteria Pengujian berdasarkan Signifikansi
- Jika signifikansi > 0,05, maka H0 diterima - Jika signifikansi < 0,05, maka H0 ditolak c) Membuat Kesimpulan
Karena signifikansi > 0,05 (0,475 > 0,05) maka H0 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara nilai pretest kelas eksperimen dan kontrol pada kondisi awal.
3. Pengujian Hipotesis
Pada pengujian persyaratan analisis didapat hasil data kelas eksperimen dan kontrol berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, sehingga hal ini memenuhi persyaratan pengujian hipotesis. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat dilakukan langkah selanjutnya yaitu menguji hipotesis dengan menggunakan uji-t untuk mengetahui apakah rata-rata kemampuan penalaran analogi matematik siswa kelas eksperimen yang menerapkan berfikir metaphorical thinking lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan rata- rata kemampuan penalaran analogi matematik siswa kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional. Hasil uji hipotesis dapat di lihat pada tabel berikut:
Kelas n Mean thitung
ttabel (α =
Kesimpulan 0,05)
Eksperimen 24 61,50
Tolak H0 dan 3,18 1,68
Kontrol 22 45,59
terima H1
Berdasarkan hasil uji-t pada tabel 4.5 terlihat bahwa thitung > ttabel, dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima dengan taraf signifikansi 5%.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis terdapat perbedaan rata-rata kemampuan penalaran analogi matematik siswa antara kelas eksperimen dan kontrol. Kelas eksperimen mendapatkan nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan berfikir metaphorical thinking lebih baik daripada pembelajaran konvensional dalam hal mengembangkan kemampuan penalaran analogi matematik siswa. Hal ini dikarenakan melalui berfikir metaphorical thinking, siswa belajar menganalogikan suatu model dan interpretasi atas pengetahuan yang mereka bangun. Proses dalam penganalogian tersebut cukup berpengaruh terhadap pengembangan kemampuan penalaran analogi. Bahkan Presmeg menyatakan bahwa metaphor dapat didefinisikan sebagai implisit dari sebuah analogi. Selain
dari metafora.
Penalaran analogi matematik merupakan salah satu bentuk kemampuan bernalar yang membandingkan dua hal atau konsep yang berlainan dengan melihat kesamaan karakteristiknya, dimana perbandingan tersebut dibangun berdasarkan pengetahuan matematik pada masalah sebelumnya (sumber) untuk menyelesaikan masalah yang lain (target), sehingga masalah yang dikerjakan tersebut terselesaikan berdasarkan kesimpulan dari kesamaan antara keduanya.
Oleh sebab itu, salah satu aktivitas yang diperlukan dalam mengembangkan kemampuan penalaran analogi adalah pemberian konsep ke dalam konsep matematika yang lain yang memiliki keserupaan karakteristik, sehingga siswa lebih memahami interelasi antar konsep-konsep yang mereka pelajari. Proses pengaplikasian antar konsep ini bukan merupakan kegiatan yang mudah untuk siswa, diperlukan kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Dengan demikian, diperlukan suatu bantuan dalam membangun pengetahuan tersebut. Salah satu bantuan tersebut melalui proses bermetafora dalam matematika yang tersaji dalam berfikir metaphorical thinking.
Melalui proses bermetafora dalam metaphorical thinking, siswa dilatih untuk melihat hubungan antara pengetahuan yang telah mereka peroleh dengan pengetahuan yang akan diperolehnya, sehingga siswa lebih memahami interelasi antar konsep-konsep yang dipelajari. Selanjutnya melalui metafora ide-ide siswa dapat dipetakan secara kuat dan bermakna ke dalam berbagai konteks yang berbeda. Selain dapat menghubungkan antar satu konsep dengan konsep lainnya,
proses pentransferan ini lebih memudahkan siswa memahami konsep yang mereka pelajari.
Proses pembelajaran dengan berfikir metaphorical thinking pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung pada penelitian ini, siswa mengaitkan konsep yang mereka pelajari dengan pengalaman atau pengetahuan yang mereka peroleh sebelumnya. Seperti memetaforakan konsep tabung, kerucut dan bola ke dalam benda-benda yang dapat dijumpai pada dunia nyata atau keseharian yang serupa dengan konsep tersebut. Dari sinilah siswa belajar menganalogikan suatu model dan interpretasi atas pengetahuan yang mereka bangun (konsep abstrak) berdasarkan keserupaan dengan konsep konkrit. Proses dalam penganalogian tersebut cukup berpengaruh besar terhadap pengembangan kemampuan penalaran analogi. Selain itu, pada pendekatan ini siswa tidak hanya sekedar menghapal suatu konsep dan prosedur saja, tetapi lebih mengeksplor pengetahuan mereka dengan cara mengkonstruk pengetahuan yang dipelajari berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang mereka peroleh sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pandangan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang berasal dari luar yang kemudian dikonstruksi dan diinterpretasi oleh dan dari dalam diri seseorang. Dengan demikian melalui pendekatan ini, pembelajaran yang dialami siswa pun menjadi lebih bermakna.
Seperti yang telah dijelaskan pada bab II sebelumnya, Metaphorical thinking memiliki tiga komponen, yaitu grounding, redefinitional dan linking
discovery (penemuan), invention (penciptaan), application (aplikasi). Komponen dan tahapan tersebut kemudian diadaptasi dan diterapkan pada pembelajaran di kelas, terutama tersaji dalam LKS yang dikerjakan siswa secara kelompok. Pada grounding metaphor, tahapan pertama yaitu connection (koneksi). Pada tahap ini, guru merancang penyampaian materi yang dimulai dari pemberian masalah kontekstual yang disajikan dalam LKS. Selanjutnya siswa diminta untuk menghubungkan permasalahan yang diberikan dengan konsep yang sedang dipelajari. Tahapan kedua yaitu discovery (penemuan), siswa mengeksplorasi perbandingan pada tahap sebelumnya secara mendalam dan diminta untuk mengilustrasikan konsep-konsep utama dari masalah kontekstual yang telah diberikan. Tahapan ketiga yaitu invention (penciptaan), merupakan hasil temuan siswa berupa konsep yang sedang dipelajari berdasarkan eksplorasi metafora pada tahapan sebelumnya. Tahapan keempat yaitu application (aplikasi), siswa menerapkan konsep yang ditemukan. Berikut ini contoh hasil pengerjaan siswa pada LKS 2 yang merupakan komponen grounding metaphor.
Jika pada grounding metaphor menjelaskan konsep yang sedang dipelajari melalui konsep konkrit ke konsep abstrak, maka pada redefinitional metaphor terjadi sebaliknya. Siswa diminta untuk membuat metafora mereka sendiri berdasarkan konsep yang sedang dipelajari (abstrak). Berikut merupakan contoh hasil pengerjaan siswa pada LKS 2 yang merupakan komponen redefinitional metaphor.
penganalogian tersebut cukup berpengaruh besar terhadap pengembangan kemampuan penalaran analogi pada siswa.
Komponen selanjutnya yaitu linking metaphor. Peneliti menyajikan komponen ini pada bagian asah kemampuan di LKS. Tahapan yang diterapkan pada asah kemampuan juga diadaptasi dari tahapan metaphorical thinking yang dikemukakan oleh Siler, yang mana pada tahapan connection (koneksi) siswa diminta untuk membandingkan dua soal berbeda yang telah disajikan, serta siswa diminta mengidentifikasi dan mencari keserupaan apa yang terdapat pada kedua soal tersebut. Selanjutnya pada tahapan discovery (penemuan), siswa diminta untuk menemukan dan memecahkan persoalan yang disajikan tersebut. Pada tahapan invention (penciptaan), siswa diminta untuk menuliskan hasil temuan yaitu berupa rumus atau konsep dari kedua soal. Kemudian tahapan terakhir yaitu application (aplikasi), siswa mengaplikasikan konsep yang telah disimpulkan pada tahap sebelumnya pada konteks permasalahan lain yang berkaitan atau serupa. Berikut merupakan contoh hasil pengerjaan siswa pada LKS 2 yang merupakan komponen linking metaphor.
Linking metaphor merupakan komponen metafora-metafora dalam matematika yang menyediakan konsep matematika ke konsep matematika yang lain yang memiliki keserupaan karakteristik. Melalui komponen inilah kemampuan analogi matematik siswa menjadi lebih berkembang, karena kemampuan penalaran analogi matematik merupakan kemampuan dalam melihat keserupaan dalam dua hal yang berbeda dalam konteks matematika.
secara langsung kepada siswa, kemudian memberikan contoh-contoh soal, melakukan tanya jawab, memberikan latihan soal di papan tulis, siswa mengerjakan latihan dan mendiskusikannya dengan teman sebangku. Setelah itu, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis, kemudian guru mengoreksi dan membahasnya bersama-sama siswa guna meluruskan jawaban dan pemahaman yang salah. Berikut aktivitas siswa kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Dari deskripsi dan ilustrasi pembelajaran kelas kontrol terlihat bahwa pembelajaran masih bersifat prosedural dengan pembelajaran berfokus pada guru.
Dalam pembelajaran konvensional tidak ada tuntutan siswa untuk belajar sendiri dan mengkontruksi sendiri pengetahuannya namun pembelajaran lebih mengutamakan hafalan daripada pengertian, menekankan pada keterampilan berhitung, mengutamakan hasil daripada proses dan pengajaran berpusat pada guru. Dengan demikian kemampuan penalaran matematik siswa tidak diasah dan dilatih dengan baik yang berakibat tidak ada kecendrungan siswa untuk berupaya mengkontruksi sendiri pengetahuannya, khususnya dalam meningkatkan kemampuan penalaran analogi matematik siswa.
Setelah dilakukannya pembelajaran dengan beberapa pertemuan pada kedua kelas, peneliti mengadakan posttest yang dilaksanakan pada akhir pertemuan. Posttest yang diberikan pada akhir proses pembelajaran kedua kelas sama dan bertujuan untuk mengetahui kemampuan penalaran analogi matematik siswa. Dalam hal ini pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung. Perbedaan
Perbedaan cara menjawab soal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dideskripsikan sebagai berikut:
Siswa pada kelas eksperimen menyertakan alasan yang benar dan lengkap berdasarkan keserupaan karakteristik dengan soal sumber dan selanjutnya menjawab dengan benar pertanyaan pada soal target berdasarkan keserupaan tersebut. Sedangkan pada kelas kontrol, siswa cenderung memberikan alasan yang tidak tepat walaupun jawabannya benar.
Beberapa siswa pada kelas kontrol mampu memberikan alasan analogi dengan benar baik lengkap, kurang lengkap maupun tidak lengkap walaupun alasan analoginya terlihat masih kaku. Tapi Sebagian besar siswa pada kelompok kontrol tidak tepat dalam memberikan alasan analogi bahkan banyak yang tidak memberikan alasan atau salah dalam memberikan alasan. Sedangkan pada kelompok eksperimen sebagian besar siswa mampu memberikan alasan analogi dengan benar baik lengkap, kurang lengkap maupun tidak lengkap.
Pada kelompok eksperimen siswa yang memperoleh nilai di bawah ratarata kelas kebanyakan dikarenakan kekurangtelitian dalam berhitung dan memberikan alasan yang tidak lengkap atau kurang tepat. Setidaknya siswa yang memperoleh nilai di bawah rata-rata pada kelompok eksperimen bisa terlihat kemampuan penalaran analoginya namun masih perlu dikembangkan lagi.
Sedangkan pada kelompok kontrol siswa yang memperoleh nilai di bawah rata- rata kelas dikarenakan salah dalam menjawab soal dan salah dalam memberikan alasan analogi bahkan banyak yang tidak memberikan alasan sehingga belum
Dari pemaparan-pemaparan diatas terlihat perbedaan antara kedua kelas dalam menjawab soal. Perbedaan dari pemahaman dan cara menjawab soal tersebut mempengaruhi kemampuan penalaran analogi matematik siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal tersebut menunjukan adanya perbedaan perlakuan pada saat pembelajaran dikelas antara kedua kelas. Dengan demikian kemampuan penalaran analogi matematik siswa kelas eksperimen yang menerapkan pembelajaran dengan berfikir metaphorical thinking lebih baik dari pada kemampuan penalaran analogi matematik siswa kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional.
D. Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari penelitian ini masih belum sempurna. Berbagai upaya telah dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini agar diperoleh hasil yang optimal. Walaupun demikian, masih ada beberapa faktor yang sulit dikendalikan sehingga membuat penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan diantaranya.:
1. Penelitian ini hanya diteliti pada pokok bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung, sehingga belum bisa digeneralisasikan pada pokok bahasan lain.
2. Kondisi siswa di awal yang cukup kesulitan beradaptasi dengan berfikir metaphorical thinking, karena dalam proses pembelajaran yang biasa mereka jalani sebelumnya cenderung pasif dan berpusat pada guru.
3. Ketersediaan waktu yang singkat menyebabkan penerapan pembelajaran dengan berfikir metaphorical thinking di kelas kurang optimal. Hal ini
Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan mengenai pembelajaran matematika dengan berfikir metaphorical thinking terhadap kemampuan penalaran analogi matematik siswa di SMP Muhammadiyah 8 Medan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kemampuan penalaran analogi matematik siswa yang diajarkan dengan berfikir metaphorical thinking memiliki nilai rata-rata sebesar 61,50. Adapun nilai rata- rata untuk masing-masing indikator soal kemampuan penalaran analogi matematik dari yang paling tinggi yaitu menyelesaikan masalah jari-jari alas bangun ruang sisi lengkung berdasarkan kesimpulan dari keserupaan data atau proses sebesar 65,63, dan yang paling rendah adalah menyelesaikan masalah jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung berdasarkan kesimpulan dari keserupaan data atau proses dan menyelesaikan masalah perbandingan volume bangun ruang sisi lengkung berdasarkan kesimpulan dari keserupaan data atau proses sebesar 57,29.
2. Kemampuan penalaran analogi matematik siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional memiliki nilai rata-rata sebesar 45,59. Adapun nilai rata-rata untuk masing-masing indicator soal kemampuan penalaran analogi matematik dari yang paling tinggi yaitu menyelesaikan masalah unsur- unsur bangun ruang sisi lengkung (panjang sisi lengkung) berdasarkan kesimpulan dari keserupaan data atau proses sebesar 54,55, dan yang paling