• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Instrumen Penelitian

Agar lebih memperjelas dari mana informasi itu didapatkan, peneliti mengabadikan dalam bentuk foto-foto dan data yang relevan dengan penelitian. Adapun secara dokumentasi yaitu foto-foto pengurus pesantren serta pihak lain yang memberi informasi, penghuni pesantren, dan lokasi dari mana peneliti mendapatkan informasi.

dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yang merupakan upaya yang berlanjut dan berulang-ulang, data yang diperoleh di lapangan diolah dengan maksud dapat memberikan informasi yang berguna untuk dianalisis. Suryabrata menyatakan bahwa analisis data merupakan langkah yang paling kritik dalam penelitian. Analisis data adalah suatu cara yang digunakan untuk mengolah atau menganalisis data hasil penelitian yang selanjutnya dicari kesimpulan dari hasil penelitian yang diperoleh.47 Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif yaitu upaya yang dilakukan dengan cara mengorganisasikan data, memilah-33milahnya menjadi satuan yang dikelolah, menyintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.48 Adapun teknis analisis data dalam penelitian kualitatif secara umum dimulai dari:

1. Analisis Data Analisis selama pengumpulan data, biasanya dilakukan dengan triangulasi. Kegiatan-kegiatan analisis data selama pengumpulan data meliputi: menetapkan focus penelitian, penyusunan temuan-temuan sementara berdasarkan data yang terkumpul, pembuatan rencana pengumpulan data berikutnya, penetapan sasaran pengumpulan data (informan,situasi, dokumen).

2. Reduksi Data Dalam proses ini peneliti dapat melakukan pemilihan- pemilihan data yang hendak dikode mana yang dibuang mana yang merupakan ringkasan, cerita-cerita apa yang sedang berkembang.

47 Sugiyono, Metode Penelitian Sosial (Cet. VII; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), h.67-68.

48Sumadi Suryabrata. Metodologi Penelitian (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), h. 40

3. Penyajian Data Penyajian data yakni menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun dan memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data yang telah diperoleh dari lapangan terkait dengan seluruh permasalahan penelitian kemudian dipilih sesuai dengan yang dibutuhkan dengan baik dan yang tidak, lalu di kelompokkan kemudian diberikan batasan masalah. Dari penyajian data tersebut, maka diharapkan dapat memberikan kejelasan data yang substantive dengan data pendukung.

4. Verifikasi/Penarikan Kesimpulan Selanjutnya adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan sebenarnya adalah sebagian dari satu kegiatan yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama kegiatan berlangsung juga merupakan tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan yang ada.

44 A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Kelurahan Katangka

Lokasi penelitian ini terdapat di Desa/Kelurahan Katangka yang merupakan satu dari 14 desa dan kelurahan di kecamatan Bontonompo, kabupaten Gowa, provinsi Sulawesi-Selatan. Merupakan desa pemekaran dari Bontolangkasa, Ta'buakkang dan Passalanggang dua dusun dari Bontolangkasa yang menjadi desa baru Katangka.

Katangka berbatasan dengan beberapa desa dan kelurahan lain di Bontonompo, sebelah barat berbatasan dengan Bontolangkasa dan Bontolangkasa Selatan, pada bagian timur berbatasan dengan kelurahan Kalase'rena dan Bategulung, pada bagian utara berbatasan dengan Bontolangkasa dan kelurahan Kalase'rena, dan pada bagian selatan berbatasan dengan Bategulung.

Katangka terbagi atas dua dusun masing-masing Ta'buakkang dan Passallanggang. Nama Katangka diabadikan dari nama sebuah pohonyang sejak empat tahun silam telah dikonservasi oleh Rumah Hijau Denassa (RHD) untuk menyelamatkan tanaman ini. (TGC)34

34 Anonim. Badan Pusat Statistik Kabupaten Gowa

a. Kependudukan

Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk (SP) 2020, jumlah penduduk Kabupaten Gowa sebanyak 8.761 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 4.332 jiwa dan perempuan sebanyak 4.445 jiwa.

Sumber : Anonim, 2020, Hasil Sensus Penduduk tahun 2020, Data Agregat per- Kelurahan, Badan Pusat Statistik Kabupaten Gowa.

b. Pemerintahan

Kelurahan Katangka terdiri dari 2 KA. Lingkungan, 8 RW, dan 23 RT.

Lingkungan tersebut adalah lingkungan Katangka dan lingkungan Lakiyung.

c. Keadaan Geografis

Kondisi umum wilayah Katangka merupakan salah satu Kelurahan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Somba Opu, Provinsi Sulawesi Selatan dengan jarak sekitar 3 km dari ibukota Kabupaten Gowa dan kurang lebih 10 km dari ibukota provinsi.

Adapun luas wilayah Kelurahan Katangka kurang lebih 3.78 Ha dengan batas wilayah sebagai berikut:

Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Rappocini Kota Makassar

Timur : Berbatasan dengan wilayah Kelurahan Kalegowa/ Pandang-pandang Selatan : Berbatasan dengan wilayah Kelurahan Pandang-pandang

Barat : Berbatasan wilayah Kelurahan Makassar/ Pandang-pandang

d. Pendidikan

1) Jumlah Sekolah Taman Kanak-Kanak pada tahun 2004-2006 sebanyak 58 sekolah dan pada tahun 2007-2009 sebanyak 41 sekolah, jumlah guru sebanyak 163 orang (perempuan), dengan jumlah murid laki-laki sebanyak 1.124 orang dan murid perempuan sebanyak 1.203 orang.

2) Jumlah Sekolah Dasar sebanyak 44 sekolah dengan perincian berdasarkan status yaitu sekolah negeri sebanyak 14 buah, sekolah Inpres 29 buah, dan sekolah swasta 1 buah.

3) Jumlah guru SD sebanyak 241 orang (laki-laki) dan 335 orang (perempuan) dengan perincian berdasarkan status yaitu guru sekolah negeri sebanyak 103 orang (laki-laki) dan 123 orang (perempuan), guru sekolah Inpres sebanyak 135 orang (laki-laki) dan 207 (perempuan), sedangkan guru sekolah swasta sebanyak 3 orang (laki-laki) dan 5 orang (perempuan).

4) Jumlah murid SD yang laki-laki sebanyak 6.835 orang dan murid perempuan sebanyak 7.935 orang dengan perincian berdasarkan status yaitu murid sekolah negeri sebanyak 2.630 orang (laki-laki) dan 3.320 orang (perempuan), murid sekolah Inpres sebanyak 4.126 orang (laki-laki) dan 4.520 orang (perempuan), sedangkan murid sekolah swasta sebanyak 79 orang (laki-laki) dan 95 orang (perempuan).

5) Jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) sebanyak 1 sekolah, jumlah guru sebanyak 8 orang (laki-laki) dan 10 orang (perempuan), dengan jumlah

murid laki-laki sebanyak 51 orang dan murid perempuan sebanyak 52 orang.

6) Jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebanyak 2 sekolah, jumlah guru sebanyak 8 orang (laki-laki) dan 4 orang (perempuan), dengan jumlah murid laki-laki sebanyak 92 orang dan murid perempuan sebanyak 82 orang.

7) Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebanyak 17 sekolah dengan perincian berdasarkan status yaitu sekolah negeri sebanyak 6 buah, dan sekolah swasta 11 buah.

8) Jumlah guru SLTP sebanyak 145 orang (laki-laki) dan 215 orang (perempuan) dengan perincian berdasarkan status yaitu guru sekolah negeri sebanyak 82 orang (laki-laki) dan 144 orang (perempuan), guru sekolah swasta sebanyak 63 orang (laki-laki) dan 71 (perempuan).

9) Jumlah murid SLTP yang laki-laki sebanyak 2.321 orang dan murid perempuan sebanyak 2.567 orang dengan perincian berdasarkan status yaitu murid sekolah negeri sebanyak 1.832 orang (laki-laki) dan 2.814 orang (perempuan), murid sekolah swasta sebanyak 484 orang (laki-laki) dan 548 orang (perempuan).

10) Jumlah Madrasah Tsanawiyah (MTs) sebanyak 5 sekolah, jumlah guru sebanyak 36 orang (laki-laki) dan 60 orang (perempuan), dengan jumlah murid laki-laki sebanyak 437 orang dan murid perempuan sebanyak 400 orang.

11) Jumlah Sekolah Menengah Umum (SMU) sebanyak 10 sekolah dengan perincian berdasarkan status yaitu sekolah negeri sebanyak 2 buah, dan sekolah swasta 8 buah.

12) Jumlah guru SMU sebanyak 120 orang (laki-laki) dan 130 orang (perempuan) dengan perincian berdasarkan status yaitu guru sekolah negeri sebanyak 35 orang (laki-laki) dan 32 orang (perempuan), guru sekolah swasta sebanyak 85 orang (laki-laki) dan 98 (perempuan).

13) Jumlah murid SMU yang laki-laki sebanyak 1.213 orang dan murid perempuan sebanyak 1.547 orang dengan perincian berdasarkan status yaitu murid sekolah negeri sebanyak 622 orang (laki-laki) dan 892 orang (perempuan), murid sekolah swasta sebanyak 591 orang (laki-laki) dan 655 orang (perempuan).

14) Jumlah Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 5 sekolah, jumlah guru sebanyak 45 orang (laki-laki) dan 55 orang (perempuan), dengan jumlah murid laki- laki sebanyak 286 orang dan murid perempuan sebanyak 389 orang.

15) Jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 8 sekolah dengan perincian berdasarkan status yaitu sekolah negeri sebanyak 2 buah, dan sekolah swasta 6 buah.

16) Jumlah guru SMK sebanyak 125 orang (laki-laki) dan 155 orang (perempuan) dengan perincian berdasarkan status yaitu guru sekolah negeri sebanyak 20 orang (laki-laki) dan 63 orang (perempuan), guru sekolah swasta sebanyak 105 orang (laki-laki) dan 92 (perempuan).

17) Jumlah murid SMK yang laki-laki sebanyak 900 orang dan murid perempuan sebanyak 1.030 orang dengan perincian berdasarkan status yaitu murid sekolah negeri sebanyak 433 orang (laki-laki) dan 342 orang (perempuan), murid sekolah swasta sebanyak 467 orang (laki-laki) dan 688 orang (perempuan).

e. Keagamaan

a. Jumlah tempat ibadah berdasarkan jenisnya adalah sebagai berikut :Mesjid : 107 buah

Musholla : 16 buah Langgar : 16 buah Gereja : 7 buah

b. Jumlah Rohaniawan Islam adalah sebagai berikut : Ulama : 6 orang

Khatib : 168 orang

Mubaligh : 93 orang Penyuluh agama muda : 13 orang Penyuluh agama madya : 7 orang

B. Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja di Kelurahan Katangka

Dalam hal ini peneliti melihat bahwa pada hakekatnya kenakalan remaja di Kelurahan Katangka bukanlah suatu problem sosial yang hadir dengan sendirinya di tengah-tengahmasyarakat, akan tetapi masalah tersebut muncul karena beberapa keadaan yang terkait, bahkan mendukung kenakalan tersebut. Kehidupan keluarga yang kurang harmonis, perceraian dalam bentuk broken home. Memberi dorongan yang kuat sehingga anak menjadi nakal . Kondisi perilaku dan kepribadian anak- anak remaja dewasa ini sangat jauh dari yang diharapkan. Perilaku mereka cenderung menyimpang dari nilai-nilai ajaran agama, nilai-nilai sosial dan nilai- nilai budaya. Adanya anak-anak remaja yang terjerumus pada pergaulan bebas atau bahkan seks bebas, pemakai dan pengedar narkoba, terlibat dalam kasus- kasus kriminal, seperti pencurian, perampokan dan pemerkosaan. Hal ini menunjukkan betapa kondisi anak-anak remaja pada saat ini berada dalam masalah besar.

Pengenalan sasaran dakwah dalam meminimalisir kenakalan remaja di Kelurahan Katangka lebih ditekankan kepada komunitas yang terjerumus dalam kegiatan hal negatif, seperti narkoba, minum-minuman keras, free sex.

Terkat hal tersebut, menurut salah seorang Muballigh di kelurahan Katangka, ustadz Aziz, mengatakan bahwa :

“Adapun bentuk kenakalan remaja di Kelurahan Katangka sangatlah bervariasi, seperti dalam hal narkoba, minum-minuman keras, meminum obat-obatan terlarang, tawuran, pencurian, balapan liar dan free sex.”35 Sedangkan menurut, lurah Katangka, Nikmatullah mengatakan:

“bentuk kenakalan remaja di kelurahan katangka yaitu pergaulan bebas antara sesama remaja, selain itu bentuk kenakalan yang lain seperti minum-minuman keras dan balapan liar yang biasa mereka lakukan di malam hari yang mengganggu ketenangan masyarakat setempat.”36

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk patologi social di keluarahan Katangka adalah Narkoba dan Free Sex

C. Faktor Terjadinya Kenakalan Remaja di Kelurahan Katangka

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada remaja Beserta warga, bahwa penyebab perilaku kenakalan remaja di Kelurahan Katangka, dipengaruhi oleh berbagai macam hal.

Berdasarkan hasil wawancara bersama Andi Rahim, warga masyarakat katangka, beliau mengatakan bahwa :

“Penyebab kenakalan remaja antara lain, kurang pahamnya anak-anak remaja terhadap ilmu agama, selain itu penyebab yang lain adalah

35Aziz,Muballigh Kelurahan Katangka, Wawancara Pribadi, Katangka, 10 Maret 2020.

36Nikmatullah lurah katangka, Wawancara Pribadi, Katangka, 10 Maret 2020.

kurangnya perhatian orang tua terhadap diri mereka, sehingga mereka bisa bergaul bebas melakukan sesuatu yang meresahkan masyarakat.”37

Selainitu, menurut Khairuddin, warga masyarakat katangka beliau mengatakan bahwa :

“Faktor kenakalan remaja kelurahan katangka adalah lingkungan yang kurang baik sehingga para remaja mudah terbawa atau ikut-ikutan sama temanya yang kuran baik.”38

Faktor yang mempengaruhi penyebab kenakalan remaja diantaranya terbagi menjadi faktor Internal dan Eksternal.

1. Faktor Internal

a. Krisis Identitas

Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompokmasih tetap penting.Lambat laun mereka mulai mendambakan suatu identitas diri. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam masyarakat, apakah ia seorang anak atau seorang dewasa, dan sebagainya. Kenyataan yang terjadi di Kelurahan Katangka adalah orang tua mengabaikan terhadap keharusan menyiapkan anak-anak mereka agar memiliki identitas diri yang kuat semenjak usia kanak-kanak. Orang tua

37Andi Rahim warga masyarakat katangka, Wawancara Pribadi, Katangka, 10 Maret 2020.

38Khairuddin warga masyarakat katangka, Wawancara Pribadi, Katangka, 10 Maret 2020.

menganggap belum masanya dan masih mengabaikan tanggung-jawab untuk menumbuhkan, menyamaidan menguatkan, sehingga mereka benar-benar mengalami krisis identitas saat memasuki usia remaja. Tanpa identitas diri yang kuat, anak lebih mudah terpengaruh teman sebaya. Bukan sibuk mengejar apa yang menjadi tujuannya karena ia memang belum memilikinya secara kuat. Ini pun menyisakan pertanyaan penting, yakni mengapa ada anak yang mudah terpengaruh oleh temannya, dalam kondisi tak memiliki identitas diri yang kuat, remaja cenderung mengidentifikasikan diri dengan sosok yang dianggap besar.Siapa yang mereka idolakan? Tergantung kemana mediamembawa mereka dan apa yang paling membekas dalam diri mereka. Media sedang bergerak menjadikan artis, atlet dan siapa pun menjadi idola. Media menggambarkan mereka sebagai sosok luar biasa, sehingga remaja dapat mengalami histeria karena memperoleh apa-apa yang berhubungan dengan idola.Masalahnya adalah, orang- orang yang mereka idolakan itu tidak memberi arah hidup yang jelas. Remaja hanya memperoleh info yang setengah-setengah dan masalah yang jauh lebih serius, sosoktersebut bahkan tidak memiliki integritas pribadi yang dapat diandalkan.

Peneliti menganalisa masalah krisis identitas yang perlu dibenahi dalam diri remaja adalah dengan cara tidak menganggap remeh persoalan-persoalan yang muncul pada para remaja sebagai kewajaran, persoalan yang biasa seharusnya diselesaikan segera. Kemudian menyiapkan anak-anak memasuki masa remaja semenjak mereka masih kanak-kanak.Ini bukan terutama dengan memberi keterampilan atau mengasah kecerdasan. Tetapi yang jauh lebih penting

adalahmembangun orientasi hidup yang jelas, tujuan hidup yang kuat serta orientasi belajar. Lebih lengkap lagi jika semenjak awal anak diajak untuk mengenali diri sendiri dan menerima sepenuhnya kelebihan maupun kekurangannya.

b. Kontrol Diri yang Lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku menyimpang. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. kenakalan remaja di Kelurahan Katangka kebanyakan sudah mengenal minuman alkohol, menganiaya dan seks bebas, mereka tidak memperdulikan lagi kehormatan dirinya. Kebanyakan remaja melakukan hal-hal negatif seperti ini karena alasan ingin coba-coba, tidak mau dianggap culun oleh teman sebayanya karena tidak melakukan hal yang dilakukan kelompoknya.

Peneliti menganalisa bahwa remaja yang ada di Kelurahan Katangka dengan kontrol diri yang rendah senang melakukan resiko dan melanggar aturan tanpa memikirkan efek jangka panjangnya, karena keterkaitan antara kontrol diri sebagai salah satu faktor penyebab kecenderungan perilaku kenakalan remaja.

Sehingga remaja harus harus mampu meningkatkan kontrol diri yang tinggi diwujudkan melalui sikap seperti tetap tekun dan bertahan dengan tugas yang harus dikerjakan, tidak menunjukan perilaku yang emosional, memiliki sifat

toleran atau dapat menyesuaikan diri terhadap situasi yang tidak dikehendaki, dan dapat mengubah perilaku menyesuaikan dengan aturan dan norma yang berlaku di masyarakat, agama dan negara.

2. Faktor External

a. Faktor Keluarga

Remaja adalah bagian dari anggota keluarga yang serta merta harus mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Semua ini bisa terwujud dalam lingkungan keluarga manakala terciptanya keharmonisan dalam keluarga.

Sebaliknya apabila dalam keluarga terdapat ketidak harmonisan seperti pertengkaran, tidak ada komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, kurangnya ekonomi dan pendidikan dalam keluarga, maka keharmonisan tidak akan terwujud. Sehingga perhatian dan kasih sayang berkurang dan anak remaja merasa diterlantarkan. Suasana semacam ini kenakalan remaja terjadi, misalnya remaja membantah perintah kedua orang tua, berkelahi dengan remaja lain, keluyuran hingga larut malam, miras dan lain sebagainya. Hal serupa terjadi di Kelurahan Katangka yang bermula dari masalah di dalam keluarga yaitu orang tua yang kurang menjalin komunikasi dengan anak remajanya, sehingga perhatian dan pengawasan terhadap anak tidak terjalin di dalam keluarga sehingga menyebabkan mayoritas remajanya begadang sampailarut malam. Mujiburrahman Dg, Sigollo selaku tokoh masyarakat mengungkapkan bahwa kebanyakan remaja lebih

senangberada diluar rumah untuk berkumpul dengan teman-temannya karena tidak merasa nyaman ketika berada di rumah mereka.39

Mereka berkumpul di tempat warung-warung atau di pinggir jalan, ataupun pergi kesuatu tempat yang memicu para remaja bergerombol atau berkelompok dan membeli minuman beralkohol untuk mabuk miras bersama- sama. Seperti yang dikemukakan oleh salah seorang aparat Kelurahan Katangka Pak Arfah bahwa:

“Bukan karena orang tua tidak menasehatin dek, tapi karena anaknya saja yang sulit dinasehatin, sudah jadi kebiasaan tiap malam remajanya sini pada kumpul dan minum. Setiap malam takbiran dan tahun baru remajanya sini pada kumpul-kumpul lalu pada iuran buat beli minum”.40

Bergaul dengan orang tidak baik dalam lingkungan atau pekerjaan dan tanpa ada lagi pengawasan dan nasehat dari orang tua mereka. Permasalah lain dari keluarga juga adanya indikasi kekerasan dalam keluarga menunjukkan kecenderungan meningkat. Secara kualitas kekerasan dalam keluarga menunjukan peningkatan yang mengkhawatirkan, tidak jarang kekerasan di dalam keluarga menyebabkan korban jiwa. Tindak kekerasan dapat terjadi dimana saja, di tempat umum ataupun lingkungan tertentu. Kekerasan terhadap keluarga dapat bermacam-macam bentuknya mulai dari serangan fisik seperti penyiksaan, maupun serangan secara mental seperti penghinaan atau pelecehan.

39Mujiburrahman,Tokoh Masyarakat Kelurahan Katangka, Wawancara Pribadi, Katangka, 12 Maret 2020.

40Arfah, Binmas Kelurahan Katangka, Wawancara Pribadi, Katangka, 12 Maret 2020.

Menurut Wawan, salah satu remaja di Kelurahan Katangka mengatakan bahwa:

“Saya malas tinggal di rumah, karna kurangnya perhatian orang tua terhadap saya, sehingga saya lebih memilih tinggal di luar bersama teman- teman.”41

Permasalahan multidimensi yang dialami keluarga, yaitu antara lain kehidupan perekonomian yang tidak stabil, masalah pekerjaan, masalah rumahtangga, ketidak harmonisan di dalam keluarga, dan lain sebagainya.

Seringkali memicu orang tua untuk melampiaskan kekecewaan, kegelisahan dan ketidakstabilan emosinya, dengan melakukan kekerasan fisik dan mental kepada anaknya. Sehingga memunculkan sikap depresi bagi anak akibat yang perlakuan kasar oleh orang tua mereka. Hal ini didukung pula oleh persepsi masyarakat bahwa persoalan-persoalan yang terjadi dalam keluarga adalah persoalan internal keluarga dan tidak layak untuk dicampuri. Persepsi ini menimbulkan sikap diam atau pasif dari masyarakat sekitar anak, sehingga budaya kekerasan fisik terhadap anak tetap berlangsung dan mengakibatkan kelakuan anak diluar rumah lebih tidak terkontrol yang menimbulkan kenakalan bagi anak.

b. Faktor Pendidikan

Penulis menganalisis, faktor ini merupakan salah satu penyebab remaja menjadi nakal. Seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin rendah melakukan kenakalan. Sebab dengan pendidikan yang semakin tinggi,

41Wawan, Remaja Kelurahan Katangka, Wawancara Pribadi, Katangka 15 Februari 2020.

nalarnya semakin baik. Artinya mereka tahu aturan-aturan ataupun norma remaja yang ada di Kelurahan Katangka mereka yang tamat SLTP justru paling banyak melakukan tindak kenakalan. Demikian juga mereka yang pendidikan terakhirnya SLTA atau masih masa SLTA, yang malah paling banyak membuat kekacauan bukan hanya di Kelurahan Katangka namun juga di luar, seperti contoh tawuran, dengan sekolah lain, pengeroyokan, seks bebas dan masih banyak lagi. Sedang mereka yang hanya tamat SD, melakukan kenakalan yang didasari karena pengaruh teman sebaya dan faktor ikut-ikutan.

Abdul Karim selaku masyarakat menuturkan bahwa:

“Harusnya semakin tinggi sekolah anak remaja maka semakin baik akhlak dan budi pekertinya bukan tambah nakal.”42

Demikian maka tidak ada hubungan antara tingkatan pendidikan dengan kenakalan yang dilakukan, artinya semakin tinggi pendidikannya tidak bisa dijamin untuk tidak melakukan kenakalan. Artinya di lokasi penelitian yakni Kelurahan Katangka kenakalan remaja yang dilakukan bukan karena rendahnya tingkat pendidikan mereka, karena disemua tingkat pendidikan dari SD sampai dengan SLTA proporsi untuk melakukan kenakalan sama kesempatannya. Perihal yang terjadi terkait masalah pendidikan remaja di Kelurahan Katangka karena banyaknya remaja yang pengangguran dimulai dari faktor kurang pemahaman akan arti pentingnya menuntut ilmu oleh orang tua maupun remajanya sendiri,

42Abdul Karim, Maysarakat Kelurahan Katangka, Wawancara Pribadi, Katangka 17 Februari 2020.

seperti yang dibenarkan oleh pengakuan salah satu remaja yang bernama Bagong berikut ini:

“Aku tidak ingin melanjutkan sekolah dikarenakan sudah tidak ingin berfikir pusing pelajaran lagi, lebih baik mencari pekerjaan agar punya uang sendiri.”43

Remaja yang belum bekerja atau istilahnya menganggur mengakibatkan mereka mudah bergerombol dan dalam istilah sekarang “tongkrong”. Semua kegiatan yang dilakukan remaja tidak terkontrol oleh pengawasan orang tua maupun masyarakat. Maka remaja akan merasa ada kebebasan dalam melakukan sesuatu.

c. Faktor Masyarakat

Faktor ini merupakan salah satu wadah yang digunakan anak remaja dalam mengenal lingkungan luar. Dari sinilah mereka akan memperoleh berbagai pengalaman yang selama ini belum diperoleh dari lingkungan keluarga. Menurut analisis peneliti lingkungan masyarakat merupakan tantangan bagi remaja dalam mengarungi kehidupan. Sebab lingkungan masyarakat yang paling banyak pengaruhnya terhadap perilaku kematangan remaja itu sendiri. Semua ini tergantung masyarakat yang dijumpai oleh remaja yang berada di Kelurahan Katangka. Seandainya yang dijumpai adalah masyarakat dengan lingkungan yang baik maka akan membentuk perilaku yang baik pula, akan tetapi yang dijumpai adalah masyarakat dengan lingkungan yang serba kekerasan, kebebasan, dan

43Bagong, Remaja Kelurahan Katangka, Wawancara Pribadi, Katangka, 15 Februari 2020.

Dokumen terkait