• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4.4 Data Resistivitas 1-D

4.4.5 Interpretasi VES 5

VES 5 merupakan titik sounding yang berada pada jarak kurang lebih 2 kilom dari lokasi semburan gas dangkal. Panjang bentangan adalah 300 m yang membentang dari Barat ke Timur dan berada pada elevasi 45.77 m. Nilai error yang dihasilkan sebesar 4.84%, semakin kecil nilai error maka model penampang yang dihasilkan akan semakin mendekati kondisi bawah permukaan yang sesungguhnya. Dibawah ini merupakan hasil inversi data dengan software Progress 3.

Gambar 4.22 Kurva Resistivitas pada VES 5

Pada VES 4 tersebut mempunyai 5 lapisan dan kedalaman hasil inversi yang diperoleh hingga 65.33 m. Nilai resistivitas 0.35 – 120.79 Ωm, tersusun atas lapisan penutup (top soil), lempung, serta batupasir. Hasil interpretasi lapisan bahwa permukaan berdasarkan model 1-D dapat dilihat pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Tabel Interpretasi VES 5

Depth (m) ρ (Ωm) Dugaan Jenis Batuan

0 – 0.35 4.41 Top Soil

0.35 – 3.01 22.17 Pasir

3.01 – 9.73 6.11 Lempung

9.73 – 65.33 120.79 Pasir

>65.33 22.94 Pasir

Berdasarkan model kurva pada Gambar 4.22 tersebut tidak ditemukan indikasi dugaan adanya keberadaan gas dangkal pada sebuah batuan, hal ini di buktikan dengan adanya tampilan dengan nilai resistivitas relatif sedang hingga rendah. Diduga batuan tersebut menyimpan fluida berupa air, dimana pada

dasarnya air memiliki nilai resistivitas yang rendah dibandingkan gas (Selley, 1998).

Berdasarkan hasil interpretasi dengan model resistivitas 1-D Data Resistivitas 1-D diperoleh pada 5 (lima) titik sounding secara keseluruhan wilayah penelitian memiliki struktur lapisan batuan yang sama yaitu didominasi oleh pasir, pasir kuarsa dan lempung. Potensi keberadaan gas berada pada titik sounding yaitu VES 1, VES 2, dan VES 4 dengan kedalaman 60 – 80 m dengan anomali nilai resistivitas >400 Ωm dan indikasi adanya dugaan gas di bawah permukaan tidak menyebar pada seluruh lapisan. Nilai resistivitas pada daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Tabel Resistivitas daerah penelitian

ρ (Ωm) Dugaan Jenis Batuan

<10 Lempung

20 – 150 Pasir

400 – 800 Pasir Kuarsa

Syarat terdapatnya gas yaitu ditemukannya batuan induk (source rock), batuan reservoir, batuan penutup (cap rock) serta jebakan (trap) (Selly, 1998).

Pada daerah penelitian yang diduga menjadi batuan reservoir yaitu batupasir, karena batupasir memiliki sifat batuan yang berpori (porositas) dan mampu mengalirkan fluida (permeabilitas), dimana gas dianggap terakumulasi pada batuan tersebut. Munculnya semburan gas pada lokasi penelitian ini disebabkan adanya aktivitas pemboran sumur air sehingga gas yang terjebak di dalam batuan tersebut keluar dan diduga disebabkan karena adanya retakan atau rekahan yang terjadi pada lapisan penutup gas. Lapisan yang diduga sebagai lapisan penutup merupakan lapisan yang memiliki permeabilitas yang rendah yaitu lempung.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Berdasarkan sebaran batuan daerah penelitian dibagi menjadi tiga satuan batuan yaitu satuan batupasir sisipan batubara, satuan batulempung, dan satuan batupasir sisipan batulempung. Satuan batupasir sisipan batubara diduga menjadi source rock dan reservoar gas dangkal, dimana batubara diduga dapat berperan sebagai source rock, sedangkan batupasir diduga berperan sebagai reservoar gas dangkal. Sedangkan satuan batulempung diduga menjadi cap rock.

2. Berdasarkan hasil rekontruksi penampang geologi, struktur yang berkembang pada daerah penelitian yaitu antiklin dan sinklin dengan arah kedudukan azimuth sumbu (a) Antiklin N 350˚E, sumbu (b) Sinklin N 347˚E, (c) Antiklin N 345˚E, (d) Sinklin N 339˚E, dan (e) Antiklin N 334˚E membentang dari arah Barat Laut – Tenggara.

3. Berdasarkan parameter yang digunakan dalam pendugaan zona kerentanan gas dangkal (shallow gas) yang meliputi tata guna lahan, jenis batuan (litologi), dan struktur geologi dengan bobot yaitu tata guna lahan memiliki bobot sebesar 65%, diikuti dengan jenis batuan sebesar 13% dan struktur geologi sebesar 13%. Dari parameter tersebut analisis overlay menghasilkan 3 (tiga) zona kerentanan yaitu zona rendah, zona sedang, dan zona tinggi.

4. Berdasarkan hasil interpretasi dengan model resistivitas 1-D, diperoleh nilai resistivitas sebesar <10 Ωm (lempung), 20 – 150 Ωm (pasir) dan 400 – 800 Ωm (pasir kuarsa). Potensi keberadaan gas berada pada titik sounding yaitu VES 1, VES 2, dan VES 4 dengan kedalaman 60 – 80 m dengan anomali nilai resistivitas >400 Ωm.

5.2 Saran

1. Berdasarkan hasil peta sebaran zona kerentanan gas dangkal, zona dengn kerentanan tinggi (warna merah) pada wilayah Balikpapan Selatan tersebar hampir seluruh wilayah. Hal ini telah dikonfirmasi bahwasanya dari peta

tersebut, berdasarkan kondisi bawah permukaan gas dangkal berada di kedalaman sekitar 60 – 80 m. Sehingga disarankan kepada masyarakat untuk tidak melakukan pengeboran sumur air hingga lebih dari maksimal kedalaman tersebut.

2. Penelitian selanjutnya dapat menambah parameter lain pada zona kerentanan gas dangkal seperti data log sumur pemboran yang memperlihatkan source rock dari gas dangkal, sehingga tingkat keakuratannya lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Agustien, Rizki. (2020). Studi Karakteristik Batuan Gas dangkal Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan. Balikpapan. Tugas Akhir Teknik Perminyakan STT Migas Balikpapan

Allen, G.P., and Chambers, J.L.C., (1998), Sedimentation in the Modern and Miocen Mahakam Delta, IPA, p. 236.

Anisa, dkk. (2015). Analisis Potensi Ggas Biogenik dengan Metode Geolistrik sebagai Alternatif Energi Baru Daerah Sidengok, Kecamatan Pekawaran, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. UGM Departemen Teknik Geologi. Yogyakarta.

Arif, Irwandy. (2016). Geoteknik Tambang: Mewujudkan Produksi Tambang yang Berkelanjutan dengan Menjaga Kestabilan Lereng. Jakarta: Gramedia.

Pustaka Utama.

Bachtiar, Andang. (2006). Geologi Pulau Kalimantan. Bandung. ITB

Basuki, K. (2019). Studi Pemetaan Daerah Rawan Banjir Dengan Metode Skoring Dan Pembobotan Pada Daerah Kota Tarakan. ISSN 2502-3632 (Online) ISSN 2356-0304 (Paper) Jurnal Online Internasional & Nasional Vol. 7 No.1, Januari – Juni 2019 Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, 53(9), 1689– 1699.

www.journal.uta45jakarta.ac.id

Biantoro, E., Muritno, B.P., Mamuaya, J.M.B., (1992). Inversion faults as the major structural control in the northern part of the Kutei Basin, East Kalimantan. Proceedings of the Indonesian Petroleum Association. 21st Annual pp. 45-68.

Buana, R., (2021) Ilmiah, J., Sipil, T., Sipil, J. T., Negeri, P., Jl, M., Kota, S. N., &

Press, U. Pemetaan Daerah Rawan Banjir di Kabupaten Bondowoso dengan Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis. 6(1), 48–60.

Brahmantyo, B. dan Bandono (2006): Klasifikasi bentuk muka bumi (landform) untuk pemetaan geomorfologi pada skala 1 : 25.000 dan aplikasinya untuk penataan ruang. Jurnal Geoaplika, 1, 71 – 78.

Chandra, B. (2006). Pengantar kesehatan lingkungan. EGC. Jakarta.

Cokar, M. Kallos, M. S. Huang, H. Larter, S. R. Gates, I. D. (2010). Biogenic Gas Generation From Shallow Organic –Matter-Rich Shales. Presentation of CSUG/SPE 135323. University of Calgary: Canada.

Doust, Harry & Noble, Ron A. (2008). Petroleum System Of Indonesia. Marine and Petroleum Geology ; Elsevier

Fahrunnisa W. A., Andri S., & Arwan P. W. (2016). Pembuatan Peta Potensi Lahan Berdasarkan Kondisi Fisik Lahan Menggunakan Metode Weighted Overlay.

Jurnal Geodesi Undip Vol. 5(2).

Fajriyah, F.S., (2017). Identifikasi Penyebab Rembesan Gas Kayangan Api Bojonegoro dengan Menggunakan Metode Self-Potential (SP). Tugas Akhir Fis. FMIPA ITS 34-35

Geomazz. (2012). geologi.esdm.go.id. Gas Biogenik sebagai Energi Minyak dan Gas Bumi Non Konvensial. (diakses pada 5 Februari 2019).

Hakim, Arif Rahman, Hairunisa dan Nurjumiati. (2017). Studi Akumulasi Rembesan Air Lindi dengan Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Wenner Mapping. Bima: Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi. Vol.3, No.2: 239-248.

Hendrajaya, L., Arif, L., (1990). Geolistrik Tahanan Jenis, Monografi: Metode Eksplorasi. Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Hidayat, A.N., Darmanto, Darsono, (2014). Interpretasi Salt Water-Fresh Water Zone menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Wenner- Schlumberger di Desa Majasto dan Ponowaren, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. J. Fis. dan Apl. Fis. MIPA ITS 10, 2.

Hidayat S., Umar I., (1994). Peta Geologi Lembar Balikpapan, Kalimantan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Kingston, J., (1988).Undicovered Petroleum Resources of Indonesia. U.S. Geological Survet Open - File Report 88-379. P 2017

Lubis, S. (2015). Prospeksi Gas Methan Biogenic Perairan Dangkal: Sumber Gas Non - Konvensional?. Short Course on SM IAGI UNPAD: Jatinangor.

Luthfi dan Sunarwan. (2009). Tinjauan Geologi terhadap Potensi dan Tingkat Kerawanan Bahaya Longsor di Kota Balikpapan - Kalimantan Timur. Jurnal Teknik. Vol.10. No.1. Juni

Loke H.M. (1999). Electrical Imaging Surveys for Environmental and engineering studies. A practival guide to 2D and 3D Survetys

Minarto, E., (2007). Pemodelan Inversi Data Geolistrik untuk Menentukan Struktur Perlapisan Bawah Permukaan Daerah Panasbumi Mataloko. J. Fis. dan Apl. Fis. MIPA ITS 3, 2.

Muchibin, R.., (2009). Interpretasi Persebaran Bijih Mangan (Mn) Dengan Metode Resistivitas Wenner-Schlumberger di Kec. Kademangan, Kab. Blitar. J.

Fis. FMIPA ITS.

Ott, H.L., (1987). The Kutei Basin-a unique structural history. Proceedings of the Indonesian Petroleum Association, 16th Annual Convention, Jakarta, pp.

307-316.

Peraturan Daerah Kota Balikpapan Nomor 2 Tahun 2018 tentang “Penanggulangan Bencana Daerah”. Balikpapan

Purwono. 2008. Proses Pembentukan Minyak Bumi. https://geologi.co.id (Diakses 5 April 2019).

Puslittanak. (2004). Laporan Akhir Pengkajian Potensi Bencana Kekeringan, Banjir dan Longsor di Kawasan Satuan Wilayah Sungai Citarum-Ciliwung, Jawa Barat Bagian Barat Berbasis Sistem Informasi Geografi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Balikpapan tahun 2021 – 2023.

bappedalitbang.balikpapan.go.id

R. Holmes. (1997). “The Issue Surrounding A Shallow Gas Database In A Relation To Offshore Hazard,” Edinburgh.

Rice, D.D, dan Claypool, G.E. (1981). Generation, accumulation, and resource potential of biogenik gas.American Association of Petroleum Geologists, Bulletin. Liberty.

Rice, D.D. (1993).The Future Of Energi Gases. Washington : USG Printing Office.

Rina Dwi, Indriana; Nurwidyanto, M. Irham. (2007). “Interpretasi Bawa Permukaan dengan Metode Self potential Daerah Bledug Kuwu Kradenan Grobogan”.

Jurnal Berkala Fisika, Vol 3. P. 155-167

Romlah, Siti. (2019). Identifikasi Sebaran Gas Biogenik dengan Menggunakan Geolistrik Resistivitas (Studi Kasus: Semburan Gas di Desa Sidolaju Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi). Tugas Akhir Jurusan Fisika Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Rose, R., Hartono, P., (1978). Geological evolution of the Tertiary Kutei-Melawi Basin, Kalimantan, Indonesia. Proceedings of the Indonesian Petroleum Association, 7th Annual Convention, Jakarta, pp. 225-252

Saerina, Anisa Nevi, dkk.,. (2015). Analisis Potensi Gas Biogenik dengan Metode Geolistrik Sebagai Alternatif Energi Baru daerah Sidengok, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Semarang. Teknik Geologi Universitas Diponegoro.

Sapto Heru Yuwanto, dkk.,. (2019). Identifikasi Keberadaan Gas Biogenik Dengan Metode Geolistrik sebagai energi alternatif daerah kampil dan sekitarnya, Kecamatan Wiradesa, Kbupaten Pekalongan, Jawa Tengah. ITS. Surabaya Sato and Money, (1960), the Electrochemical Mechanism of Sulphida Self

Potential,Geophysics, Vol.XXV, p. 226-246.

Schoell, M. (1983). Genetic Characterization of Natural Gas, AAPG Bulletin, Volume 67, N0. 12.

Selley, Richard C. (1998). Elemens of Petroleum Geology. Second Edition. London, United Kingdom. halaman 307

Simpen, I Nengah. (2015). Modul Praktikum Metoda Geolistrik Fakultas Teknik.

Bali : Universitas Udayana.

Soeharto, Harry Gani. (2016). Biogenic Gas; Sebuah Prospektivitas Energi Non- Konvemsional di Daerah Pertanian? (Studi Kasus pada daerah karawang, Jawa Barat)

Supriatna S., Sukardi R., Rustandi E. (1995). Peta Geologi Lembar Samarinda, Kalimantan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung.

Indonesia.

Telford, W.., (1990). Applied Geophysics. Cambridge Press, London.

Tomi, dkk. (2021) Interpretasi Data Seismik 2D dan Data Sumur Untuk Identifikasi Morfologi Jebakan Gas Biogenik di Barat Daya Perairan Kangean. Jurnal Geosaintek. DOI: 10.12962/j25023659.v7i1.8546

Van de Weerd, A.A., Armin, R.A., (1992). Origin and evolution of the Tertiary hydrocarbon bearing basins in Kalimantan (Borneo), Indonesia. American Association of Petroleum Geologists Bulletin 76 (11), 1778-1803.

Widiyanto DW. (2016). Studi Penentuan Fasies Lingkungan Pengendapan Batubara Dalam Pemanfaatan Potensi Gas Metana Batubara Di Daerah Balikpapan, Kalimantan Timur Berdasarkan Analisis Proximate dan Petrografi Mindagi.

Wood, G.H., Kehn, T.M., Carter,M.D and Culbertson,W.C. (1983). Coal Resource Classification System of the U.S. Geological Survey . United States Government Printing Office

Yul Kifli K.,. (2018). Penentuan Arah Patahan dangkal sebagai Jalur Keluarnya Gas Menggunakan Metode Geolistrik 2-D di Kayangan Api Bojonegoro.

Tugas Akhir Fis. FMIPA ITS.

Zetri, Helen dkk.,. (2020). Interpretasi Lingkungan Pengendapan Formasi Balikpapan dan Formasi Kampungbaru berdasarkan Data Sounding Pada Area Tepi Sungai Dekat Pesisir Balikpapan, Kalimantan Timur. Teknik Geofisika.

ITERA. https://repo.itera.ac.id/depan/submission/SB2009160011

Zuidam, R.A, (1985). Guide to Geomorphology Aerial Photographic Interpretation And Mapping. ITC: Enschede The Netherlands

Zuraida, R, dkk (2003), Kajian Penyebaran Gas Biogenik di Indonesia, Laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, (tidak dipublikasikan).

11:46 PM

PETA INDEKS:

PETA TATA GUNA LAHAN 2023

DAERAH KECAMATAN BALIKPAPAN SELATAN KOTA BALIKPAPAN, KALIMATAN TIMUR

Skala 1 : 35.000 Balikpapan

Timur Balikpapan

Utara

Balikpapan Tengah

Balikpapan Kota

S E L A T M A K A S S A R

PETA JENIS BATUAN 2023

DAERAH KECAMATAN BALIKPAPAN SELATAN KOTA BALIKPAPAN, KALIMATAN TIMUR

Skala 1 : 35.000

PETA INDEKS:

LEGENDA:

Batas Kecamatan

Batupasir sisipan Batulempung Batulempung Batupasir sisipan Batubara

Jenis Batuan (Litologi) a. Kontur

b. Kontur Indeks

50 m a b

Strike Dip Sungai

Balikpapan Timur Balikpapan

Utara

Balikpapan Tengah

Balikpapan Kota

S E L A T M A K A S S A R

13˚

17˚ 19˚

˚12

17˚ 10˚

17˚

15˚ 16˚

19˚

14˚

14˚

19˚

19˚

13˚

16˚ 20˚

14˚ 19˚

19˚

15˚

10˚

14˚

19˚

14˚

11˚

17˚

15˚ 11˚

18˚

19˚

14˚ 14˚ 12

˚

19˚ 12˚

19˚

PETA BUFFER STRUKTUR GEOLOGI 2023

DAERAH KECAMATAN BALIKPAPAN SELATAN KOTA BALIKPAPAN, KALIMATAN TIMUR

Skala 1 : 35.000

PETA INDEKS:

LEGENDA:

< 800 m Batas Kecamatan

800 - 1400 m

> 1400 m Riwayat Titik

Semburan Gas Dangkal

Jarak Terhadap Struktur

a. Kontur

b. Kontur Indeks

50 m a b

S E L A T M A K A S S A R Balikpapan

Kota Balikpapan

Tengah

Balikpapan Utara

Balikpapan

Timur

PETA ZONA KERENTANAN GAS DANGKAL 2023

DAERAH KECAMATAN BALIKPAPAN SELATAN KOTA BALIKPAPAN, KALIMATAN TIMUR

Skala 1 : 35.000

LEGENDA:

Zona Kerentanan Tinggi Zona Kerentanan Sedang Zona Kerentanan Rendah Batas Kecamatan

Titik Riwayat Semburan Gas Titik Pengamatan Geolistrik PETA INDEKS:

Balikpapan Timur Balikpapan

Utara

Balikpapan Tengah

Balikpapan Kota

S E L A T M A K A S S A R

PETA LINTASAN DAN LOKASI PENGAMATAN 2023

DAERAH KECAMATAN BALIKPAPAN SELATAN KOTA BALIKPAPAN, KALIMATAN TIMUR

Skala 1 : 35.000

PETA INDEKS:

Balikpapan Timur Balikpapan

Utara

Balikpapan Tengah

Balikpapan Kota

13˚

17˚ 19˚

˚12

17˚ 10˚

17˚

16˚ 15˚

19˚

14˚ 14˚

19˚

19˚

13˚

16˚ 20˚

14˚ 19˚

19˚

15˚

10˚

14˚

19˚

14˚

11˚

17˚

15˚ 11˚

18˚ 19˚

14˚ 14˚

12˚

19˚

12˚ 19˚

S E L A T M A K A S S A R

STA8 STA7

STA18 STA24

STA25 STA6

STA26

STA9 STA28

STA22 STA35

STA34 STA5

STA36

STA21

STA16

STA11

STA13 STA 12 STA37

STA30 STA29

STA31

STA4 STA20

STA3

STA14

STA23 STA32 STA

17 STA10

STA33

STA1

STA15

STA19

STA27

STA2

PETA POLA PENGALIRAN 2023

DAERAH KECAMATAN BALIKPAPAN SELATAN KOTA BALIKPAPAN, KALIMATAN TIMUR

Skala 1 : 35.000

PETA INDEKS:

Balikpapan Timur Balikpapan

Utara

Balikpapan Tengah

Balikpapan Kota

13˚

17˚ 19˚

˚12

17˚ 10˚

17˚

15˚ 16˚

19˚

14˚

14˚

19˚

19˚

13˚

16˚ 20˚

14˚ 19˚

19˚

15˚

10˚

14˚

19˚

14˚

11˚

17˚

15˚ 11˚

18˚

19˚

14˚ 14˚ 12

˚

19˚ 12˚

19˚

S O

S R

S

S

S S

S

S

S

S S S

S S S

S S

S

S S

S

O

O O

O O

S O

O O

O

O

R O

R R

R

R R R

R

R R

R R

R

R

S

S

O

S E L A T M A K A S S A R

Balikpapan Timur Balikpapan

Utara

Balikpapan Tengah

Balikpapan Kota

13˚

17˚ 19˚

˚12

17˚ 10˚

17˚

15˚ 16˚

19˚

14˚

14˚

19˚

19˚

13˚

16˚ 20˚

14˚ 19˚

19˚

15˚

10˚

14˚

19˚

14˚

11˚

17˚

15˚ 11˚

18˚

19˚

14˚ 14˚ 12

˚

19˚ 12˚

19˚

A B

C D

D’

C’

B’

A’

PETA GEOLOGI 2023

DAERAH KECAMATAN BALIKPAPAN SELATAN KOTA BALIKPAPAN, KALIMATAN TIMUR

Skala 1 : 35.000

PETA INDEKS:

KETERANGAN SIMBOL :

A A’

B B’

Sayatan A - A’

Sayatan B - B’

Antiklin Sinklin a. Kontur b. Kontur Indeks

50 m a

b

Strike Dip Satuan Batupasir sisipan batulempung

Satuan Batulempung Satuan Batupasir sisipan batubara

Batas Satuan Batuan

C

C’ Sayatan C - C’

D

D’ Sayatan D - D’

a. Sungai Utama b. Anak Sungai

a b

S E L A T M A K A S S A R

PENAMPANG GEOLOGI SAYATAN A - A’

SKALA 1 : 35.000 H : V = 1 : 5

0 m 50 m

- 50 m 100 m

-100 m

0 m 50 m

- 50 m 100 m

-100 m

(a)Antiklin (b)Sinklin (c)Antiklin

A A’

N 60˚E N 243˚E

PENAMPANG GEOLOGI SAYATAN B - B’

SKALA 1 : 35.000 H : V = 1 : 5

0 m 50 m

- 50 m 100 m

-100 m

0 m 50 m

- 50 m 100 m

-100 m

(a)Antiklin

(c)Antiklin

(e)Antiklin

(b)Sinklin (d)Sinklin

B B’

N 230˚E N 64˚E

PENAMPANG GEOLOGI SAYATAN C - C’

SKALA 1 : 35.000

H : V = 1 : 5 (d)Sinklin

0 m 50 m

- 50 m 100 m

-100 m

0 m 50 m

- 50 m 100 m

-100 m

(a)Antiklin (c)Antiklin (b)Sinklin

C C’

N 67˚E N 234˚E

SKALA 1 : 35.000 H : V = 1 : 5

(e)Antiklin

0 m 50 m

- 50 m 100 m

-100 m

D

0 m 50 m

- 50 m 100 m

-100 m

D’

(b)Sinklin

N 226˚E N 64˚E

Satuan Batupasir sisipan batulempung

Satuan Batulempung Satuan Batupasir sisipan batubara

Legenda:

a b a. Rekontruksi Lipatan b. Sumbu Lipatan

Perlapisan Batuan Sayatan Geologi

B B’

Antiklin Sinklin UMUR

GEOLOGI ZAMAN KALA

STRATIGRAFI FORMASI SATUAN

BATUAN

WARNA BATUAN

Batupasir sisipan batulempung

Batupasir sisipan batubara Batulempung Tersier Miosen Akhir - Pliosen (S. Supriatna, Sukardi & E. Rustandi, 1995)

Formasi Kampung

Baru (Tpkb)

Satuan Batupasir sisipan batulempung : Satuan ini didominasi oleh batupasir dengan sisipan batulempung, litologi batupasir tersebar relatif menyeluruh. Batupasir didominasi dengan jenis batupasir quartz wacke dengan memperlihatkan warna segar kuning cerah dan warna lapuk kemerahan (oksidasi),ukuran butir terdiri dari pasir sedang hingga sangat halus.

Kondisi singkapan umumnya dalam keadaan lapuk, meskipun pada sebagian tempat dalam keadaan fresh, sehingga struktur sedimen tidak dapat diamati dengan baik dan yang dijumpai hanya masif dan perlapisan. Berdasarkan geologi regional, satuan ini berumur Miosen Akhir. Satuan ini menempati sekitar 65% dari total leseluruhan daerah penelitian Satuan Batulempung : Satuan ini didominasi oleh batulempun, serpih yang tersebar setempat. batulempung memperlihatkan warga segar coklat keabuan dan warna lapuk coklat kemerahan, ukuran butir lanau hingga lempung. Kondisi singkapan umumnya dalam keadaan lapuk, meskipun pada sebagian tempat dalam keadaan fresh, sehingga struktur sedimen tidak dapat diamati dengan baik dan yang dijumpai hanya masif dan perlapisan Pada sebagian tempat juga hadir batupasir dengan ukuran butir pasir sedang. Berdasarkan geologi regional, satuan ini berumur Miosen Akhir.

Satuan ini menempati sekitar 25% dari total keseluruhan daerah penelitian, Satuan Batupasir sisipan batubara : Satuan ini terdiri dari batupasir quartz wacke, sisipan batubara, dan batuserpih yang tersebar setempat. sisipan batubara memperlihatkan warna segarhitam kecoklatan dan warna lapuk coklat gelap, kilap kusam dengan tingkat kekerasan britte dan ukuran butir lempung. Kondisi singkapan umumnya dalam keadaan lapuk, meskipun pada sebagian tempat dalam keadaan fresh, sehingga struktur sedimen tidak dapat diamati dengan baik dan yang dijumpai hanya masif dan perlapisan. Berdasarkan geologi regional, satuan ini berumur Miosen Akhir. Satuan ini menempati sekitar 10% dari total keseluruhan daerah penelitian.

DATA GEOLISTRIK RESISTIVITAS

KONFIGURASI SCHLUMBERGER

Kel : Sepinggan Elevasi : 38.88 m

Kec : Bal-Sel Koordinat : (-1.241694, 116.916854)

Kota : Balikpapan VES 1

No AB/2 MN/2 K V I ρ

(METER) (METER) (METER) (mV) (mA) (OHM.M)

1 1.5 0.5 6.28 0.73 148.5 30.9

2 2.5 0.5 18.84 0.19 148.5 24.1

3 4 0.5 49.46 0.05 148.8 16.6

4 6 0.5 112.26 0.02 148.9 15.1

5 6 2 25.12 0.09 149 15.2

6 8 2 47.10 0.03 149.1 9.5

7 10 2 75.36 0.02 148.9 10.1

8 12 2 109.90 0.01 149 7.4

9 15 2 173.49 0.01 149 11.6

10 15 5 62.80 0.03 148.8 12.7

11 20 5 117.75 0.03 148.5 23.8

12 25 5 188.40 0.02 148.2 25.4

13 30 5 274.75 0.01 148.7 18.5

14 30 12.5 93.42 0.04 148.9 25.1

15 40 12.5 181.34 0.03 147.7 36.8

16 50 12.5 294.38 0.01 148.8 19.8

17 60 12.5 432.54 0.02 147.4 58.7

18 75 12.5 686.88 0.02 146 94.1

19 75 25 314 0.02 146 43.0

20 100 25 588.75 0.01 148.6 39.6

21 125 25 942 0.01 149.6 63.0

22 150 25 1373.75 0.01 149.6 91.8

23 150 50 628 0.01 149.6 42.0

No AB/2 MN/2 K V I ρ (METER) (METER) (METER) (mV) (mA) (OHM.M)

1 1.5 0.5 6.28 0.06 150.2 2.5

2 2.5 0.5 18.84 0.01 150.4 1.3

3 4 0.5 49.46 0.011 150.4 3.6

4 6 0.5 112.26 0.01 150.4 7.5

5 6 2 25.12 0.04 150 6.7

6 8 2 47.10 0.01 150.3 3.1

7 10 2 75.36 0.01 147.1 5.1

8 12 2 109.90 0.02 149.3 14.7

9 15 2 173.49 0.01 149.4 11.6

10 15 5 62.80 0.02 149.5 8.4

11 20 5 117.75 0.01 150.2 7.8

12 25 5 188.40 0.01 150.5 12.5

13 30 5 274.75 0.01 150.6 18.2

14 30 12.5 93.42 0.02 150.6 12.4

15 40 12.5 181.34 0.01 150.5 12.0

16 50 12.5 294.38 0.01 149.7 19.7

17 60 12.5 432.54 0.005 150.7 14.4

18 75 12.5 686.88 0.01 150.7 45.6

19 75 25 314 0.01 150.6 20.8

20 100 25 588.75 0.005 150.7 19.5

21 125 25 942 0.01 149.6 63.0

22 150 25 1373.75 0.01 150 91.6

23 150 50 628 0.01 150 41.9

No AB/2 MN/2 K V I ρ (METER) (METER) (METER) (mV) (mA) (OHM.M)

1 1.5 0.5 6.28 1.34 28.85 291.69

2 2.5 0.5 18.84 0.3 16.72 112.68

3 4 0.5 49.46 0.13 24.68 33.08

4 6 0.5 112.26 0.27 200.8 8.44

5 6 2 25.12 1.49 177.3 52.78

6 8 2 47.10 1.06 245.1 27.16

7 10 2 75.36 0.14 51.01 17.24

8 12 2 109.90 0.03 20.52 9.18

9 15 2 173.49 0.02 15.51 8.10

10 15 5 62.80 0.09 14.76 38.29

11 20 5 117.75 0.09 10.5 53.83

12 25 5 188.40 0.04 97.1 2.59

13 30 5 274.75 0.05 3.49 89.97

14 30 12.5 93.42 0.01 3.48 18.05

15 40 12.5 181.34 0.01 5.97 10.52

16 50 12.5 294.38 0.01 4.53 13.86

17 60 12.5 432.54 0.01 34.04 1.84

18 75 12.5 686.88 0.01 291.6 0.22

19 75 25 314 0.02 291.8 0.43

20 100 25 588.75 0.02 293.2 0.43

21 125 25 942 0.01 286.6 0.22

22 150 25 1373.75 0.01 292.9 0.21

23 150 50 628 0.01 292.7 0.21

No AB/2 MN/2 K V I ρ

(METER) (METER) (METER) (mV) (mA) (OHM.M)

1 1.5 0.5 6.28 1.66 143.6 72.6

2 2.5 0.5 18.84 0.62 141 82.8

3 4 0.5 49.46 0.22 136 80.0

4 6 0.5 112.26 0.08 126.6 70.9

5 6 2 25.12 0.34 125.7 67.9

6 8 2 47.10 0.07 58.72 56.1

7 10 2 75.36 0.05 90.9 41.5

8 12 2 109.90 0.03 63.7 51.8

9 15 2 173.49 0.02 52.8 65.7

10 15 5 62.80 0.04 52.49 47.9

11 20 5 117.75 0.02 86.7 27.2

12 25 5 188.40 0.02 100.1 37.6

13 30 5 274.75 0.01 136.1 20.2

14 30 12.5 93.42 0.05 136.2 34.3

15 40 12.5 181.34 0.02 108.3 33.5

16 50 12.5 294.38 0.01 106.9 27.5

17 60 12.5 432.54 0.01 135.2 32.0

18 75 12.5 686.88 0.01 145.5 47.2

19 75 25 314 0.02 145.2 43.3

20 100 25 588.75 0.01 143.4 41.1

21 125 25 942 0.01 137.1 68.7

22 150 25 1373.75 0.01 105.2 130.6

23 150 50 628 0.01 102.1 61.5

No AB/2 MN/2 K V I ρ (METER) (METER) (METER) (mV) (mA) (OHM.M)

1 1.5 0.5 6.28 0.27 149.5 11.3

2 2.5 0.5 18.84 0.11 149.6 13.9

3 4 0.5 49.46 0.04 149.9 13.2

4 6 0.5 112.26 0.01 149.8 7.5

5 6 2 25.12 0.1 149.8 16.8

6 8 2 47.10 0.03 149.6 9.4

7 10 2 75.36 0.03 149.7 15.1

8 12 2 109.90 0.03 149.8 22.0

9 15 2 173.49 0.01 149.7 11.6

10 15 5 62.80 0.03 149.7 12.6

11 20 5 117.75 0.02 149 15.8

12 25 5 188.40 0.01 148.4 12.7

13 30 5 274.75 0.01 146 18.8

14 30 12.5 93.42 0.03 145.9 19.2

15 40 12.5 181.34 0.03 148.9 36.5

16 50 12.5 294.38 0.02 133.7 44.0

17 60 12.5 432.54 0.01 129.2 33.5

18 75 12.5 686.88 0.01 140.7 48.8

19 75 25 314 0.01 141.2 22.2

20 100 25 588.75 0.01 133.9 44.0

21 125 25 942 0.01 147.5 63.9

22 146 25 1299.39 0.01 128.5 101.1

23 150 50 628 0.01 128.6 48.8

TABULASI DATA LAPANGAN

Lokasi

Pengamatan Koordinat Elevasi

(m) Kedudukan

Batuan Ketebalan

(cm) Keterangan

X Y Deskripsi Azimuth Foto

STA 1 116.892062 -1.219258 75.55 N 200˚ E/16

80 Batulempung, warna segar; abu-abu kecoklatan, clay (<1/265 mm), masif

N 40˚ E 150 Batupasir, warna

segar; putih, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

STA 2 116.903039 -1.227062 63.43 N 190˚ E/19 brittle

N 360˚ E

205 Batulempung, warna segar; abu-abu kecoklatan, clay (<1/265 mm), masif

360 Batupasir, warna segar; putih, warna

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

STA 3 116.880426 -1.249711 29.51 N 353˚ E/16 230 Serpih, warna segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

N 350˚ E

45 Batubara, warna;

hitam, gores hitam, brittle

130 Batulempung, warna segar; abu- abu kehitaman, clay (<1/265 mm), masif

segar; putih, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

STA 4 116.880757 -1.25333 45.18 N 20˚ E/12 120 Batupasir, warna segar; putih, warna

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

N 180˚ E

70 Batubara, warna;

hitam, gores hitam, brittle

segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

STA 5 116.889352 -1.240979 25.87 N 190˚ E/19 350 Batulempung, warna segar; abu- abu, warna lapuk;

abu-abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

N 20˚ E

345 Serpih, warna

segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

hitam, gores hitam, brittle

STA 6 116.905211 -1.233087 57.47 N 190˚ E/19 185 Batulempung, warna segar; abu-

abu kehitaman, warna lapuk; abu-

abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

N 300˚ E

85 Batupasir, warna segar; putih, warna

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

STA 7 116.917528 -1.242436 36.85 N 40˚ E/14 segar; hitam, warna lapuk; hitam kecoklatan, gores

hitam, brittle

N 325˚ E

600 Serpih, warna segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

680 Batupasir, warna segar; putih, warna

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir halus (1/8 – 1/4), masif

STA 8 116.921037 -1.254277 16.55 N 344˚ E/13

150

Batupasir, warna segar; putih, warna

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir halus (1/8 – 1/4), masif

N 31˚ E

50

Batulempung,

warna segar; abu- abu kehitaman, warna lapuk; abu-

abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

segar; putih, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir halus (1/8 – 1/4), masif

20

Batulempung,

warna segar; abu- abu kehitaman, warna lapuk; abu-

abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

STA 10 116.878756 -1.232459 53.93 N 350˚ E/12 10 Batubara, warna segar; hitam, warna

lapuk; hitam kecoklatan, gores

hitam, brittle

N 345˚ E

segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

620 Batulempung,

warna segar; abu- abu kehitaman, warna lapuk; abu-

abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

STA 11 116.88921 -1.251873 31.11 N 235˚ E/11 130 Batulempung, warna segar; abu- abu, warna lapuk;

abu-abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

N 205˚ E

abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

35 Batubara, warna segar; hitam, warna

lapuk; hitam kecoklatan, gores

hitam, brittle

45 Batulempung,

warna segar; abu- abu, warna lapuk;

kecoklatan, clay (<1/265 mm), masif

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

50 Batulempung,

warna segar; abu- abu, warna lapuk;

abu-abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif STA 13 116.893738 -1.256891 32.99 N 198˚E/18 100 Batupasir, warna

segar ; putih, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

N205˚ E

25 Batulempung,

warna segar; abu- abu, warna lapuk;

abu-abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masiF

segar ; putih, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

60 Batulempung,

warna segar; abu- abu, warna lapuk;

abu-abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

140 Batupasir, warna segar ; putih, warna

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif, dengan

sisipan lempung

STA 15 116.902764 -1.218693 68.61 N 300˚ E/20 460 Serpih, warna segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

N 286˚ E

70 Batubara, warna segar; hitam, warna

lapuk; hitam kecoklatan, gores

hitam, brittle

640 Batulempung,

warna segar; abu- abu, warna lapuk;

abu-abu kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir halus (1/8 – 1/4), masif

STA 16 116.891406 -1.249911 54.39 N 212˚ E/13 300 Serpih, warna segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

N 333˚ E

45 Batubara, warna segar; hitam, warna

lapuk; hitam kecoklatan, gores

hitam, brittle

warna segar; putih abu-abu, warna lapuk; kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

85 Batupasir, warna segar; putih, warna

lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

STA 17 116.881309 -1.238795 38.24 N 348˚ E/14 145 Batubara, warna segar; hitam, warna

lapuk; hitam kecoklatan, gores

hitam, brittle

N 315˚ E

segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

370 Batulempung,

warna segar; putih abu-abu, warna lapuk; kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

STA 18 116.916335 -1.23756 41.75 N 300˚ E/10

150 (soil) batupasir, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

N 280˚ E

segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

230 Batubara, warna segar; hitam, warna

lapuk; hitam kecoklatan, gores

hitam, brittle

140 Batulempung,

warna segar; putih abu-abu, warna lapuk; kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

lapuk; hitam kecoklatan, gores

hitam, brittle

110 Serpih, warna

segar; hitam keabu- abuan,warna lapuk;

hitam kecoklatan, clay (<1/265 mm)

90 Batulempung,

warna segar; putih abu-abu, warna lapuk; kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

segar; putih, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir halus (1/8 – 1/4), masif

STA 20 116.877787 -1.251225 20.64 N 190˚ E/19 245 Batulempung, warna segar; putih

abu-abu, warna lapuk; coklat kehitaman, clay (<1/265 mm), masif

N 203˚ E

30 Batupasir, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

warna segar; putih abu-abu, warna lapuk; kecoklatan, clay (<1/265 mm),

masif

STA 21 116.896229 -1.248157 28.93 N 315˚ E/11 250 Batupasir, warna lapuk; putih kekuningan, ukuran

butir sedang (1/4 – 1/2), masif

N 248˚ E

350 Batulempung, warna segar; abu- abu, warna lapuk;

abu-abu kehitaman , clay (<1/265 mm),

masif

Dokumen terkait