BAB I PENDAHULUAN
F. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian studi lapangan (field research). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif.
Penelitian kualitatif sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.14
13 Ismayanti dan Syaharuddin, Analisis Pengelolaan Hotel Al-Badar Syariah di Kota Makassar, . https://ejournal.undip.ac.id › index.php › sabda › article › download. Diakses pada 4 November 2021 pukul 21.22 WIB. h. 1
14 Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung,:
Remaja Rosdakarya, 2002) h. 9
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Hotel Umro Kepahiang pada bulan November 2021 sampai dengan Januari 2022.
3. Informan Penelitian
Informan penelitian ini yaitu General Manager Hotel Umro Kepahiang yaitu Efrizal Pahlevi selaku general manajer, Edi Aprianto selaku receptionis/karyawan dan pengunjung hotel yang ada pada saat penelitian ada di lapangan yang diperoleh melalui wawancara maupun observasi. Jadi informan dalam penelitian ini adalah 7 orang.
Metode dalam penelitian ini ialah metode kualitatif.
Metode kualitatif merupakan metode yang fokus pada pengamatan yang mendalam. Oleh karenanya, penggunaan metode kualitatif dalam penelitian dapat menghasilkan kajian atas suatu fenomena yang lebih komprehensif.15
15 Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif,... h. 11
4. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data a. Sumber Data
1) Sumber Data Primer
Dalam penelitian ini, data primer diperoleh langsung dari manajemen dan karyawan Hotel Umro Kepahiang serta pengunjung yang diperoleh melalui wawancara maupun observasi.
2) Sumber Data Sekunder
Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain dan data lainnya bersumber dari referensi artikel, jurnal, dan bahan-bahan lainnyaDalam penelitian ini data sekunder didapatkan dari buku, jurnal, serta data penunjang dari Hotel Umro Kepahiang.16
16 Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif,... h. 13
5. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi
Observasi i(observation) iatau ipengamatan iadalah isuatu iteknik iatau icara imengumpulkan idata idengan i imengadakan ipengamatan iterhadap ikegiatan iyang isedang iberlangsung. iObservasi idilakukan idengan imengamati apakah hotel umro kepahiang sudah menerapkan bisnis hotel syariah. Dalam hal ini, peneliti melakukan pengamatan secara langsung dan mencatat kejadian-kejadian yang berkaitan dengan pelayanan di Hotel Umro Kepahiang.
b. Wawancara
Wawancara, adalah salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan secara langsung dengan diwawancarai tetapi dapat juga diberikan daftar pertanyaan dahulu untuk dijawab pada kesempatan lain. Dalam penelitian ini, peneliti
melakukan wawancara dengan manajemen dan karyawan serta pengunjung Hotel Umro Kepahiang.17 c. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal- hal variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan sebagainya.
iDokumentasi idilakukan iuntuk imemperoleh idokumen iberupa igambar pengunjung Hotel Umro Kepahiang. 18 6. Teknik Analisis Data
Analisa data adalah menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan
17 Juliansyah Noor, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup. 2011), h. 138.
18 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), h. 234
sehingga dapat mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.19
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja melalui data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan pada orang lain.20
Tahapan analisis data yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian dan penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Dalam reduksi data inilah peneliti menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara yang sedemikian rupa sehingga
19 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
(Bandung: Alfabeta. 2012), h. 244.
20 Lexy J Moelong, Meodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Rosda, 2016), h. 247.
kesimpulan-kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan diverifikasi.
b. Penyajian Data, pada bagian kedua ini, setelah mereduksi data selanjutnya mengumpulkan informasi yang dapat memberikan peluang untuk mengambil kesimpulan. Sehingga data dapat tersaji dengan baik tanpa ada data yang sudah tidak dibutuhkan.
c. Penarikan Kesimpulan, penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Verifikasi dapat dilakukan untuk mencari pembenaran dan persetujuan, sehingga validitas dapat tercapai.
Untuk menganalisis data digunakan berbagai macam jenis teknik analisis data, karena beda jenis data beda pula teknik analisisnya. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis domain. Dalam teknik analisis ini lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data. Data yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan data selanjutnya dianalisis secara
deskripsi yang mendetail tentang siatuasi, kegiatan, atau peristiwa maupun fenomena tertentu, baik menyangkut manusianya maupun hubungannya dengan manusia lainnya.
Hasilnya berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati. Selanjutnya peneliti mengolah data yang terkumpul untuk dianalisis dengan pola pikir induktif abstraktif yakni bermula dari hal-hal yang bersifat khusus ke umum yaitu mengenai strategi pemasaran.
G. Sistematika Penulisan
BAB1 Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitiandan sistematila penelitian pengertian Hotel, Klasifikasi Hotel, Hotel Syariah, Kriteria Hotel Syariah, Bisnis Syariah, Pengertian Bisnis Syariah, Bisnis Berbasis Syariah, Dasar Hukum Bisnis Syariah, Konsep Bisnis dalam Islam, Prinsip- Prinsip Bisnis Syariah dan kerangka konseptual.
BAB III Deskripsi Wilayah penelitian yang meliputi Sejarah Singkat Hotel Umro Kepahiang, Visi dan Misi Hotel
Umro Kepahiang, Maksud dan Tujuan Hotel Umro Kepahiang, Fasilitas dan kelas Kamar Hotel Umro Kepahiang, Struktur Organisasi Hotel Umro Kepahiang, Prinsip dan Kriteria Hotel Umro Kepahiang.
BAB IV Merupakan bagian penelitian dan pembahasan. bab ini berisikan tentang karakteristik responden, hasil penelitian dan pembahasan.
BAB V Merupakan bagian penutup yaitu akhir dalam penelitian skripsi, bagian ini memuat kesimpulan dan saran yang dapat diberikan dalam penelitian.
23 BAB II KAJIAN TEORI A. Hotel
1. Pengertian Hotel
Hotel merupakan bangunan berkamar banyak yang disewakan sebagai tempat untuk menginap dan tempat makan orang yang sedang dalam perjalanan bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan, penginapan, makan dan minum.21
Hotel adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang- orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus.22
21 Diknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta : Gramedia, 2016, h. 207
22Agus Sulatiyono, Seri Manajemen Usaha Jasa Sarana Pariwisata dan Akomodasi, Manajemen Penyelenggaraan Hotel (Bandung: Alfabeta, 1999), h.
5
Hotel merupakan sebuah bangunan yang disediakan kepada publik secara komersial untuk para tamu yang ingin mendapat pelayanan menginap, makanan atau minuman dan pelayanan lainnya.23
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hotel adalah suatu jenis akomodasi menggunakan bangunan fisik menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa lainnya diperuntukkan bagi umum dikelola secara komersial. Sedangkan yang dimaksud dengan dikelola secara komersial adalah dikelola dengan memperhitungkan untung atau ruginya, serta yang utama adalah bertujuan untuk mendapatkan keuntungan berupa uang sebagai tolak ukurnya.
2. Klasifikasi Hotel
Klasifikasi atau penggolongan hotel merupakan sistem pengelompokan hotel kedalam berbagai kelas atau tingkatan, berdasarkan ukuran penilaian tertentu. Hotel dapat dikelompokan kedalam beberapa kriteria menurut
23 Bagyono dan Ludfi Orbani, Dasar-Dasar House Keeping Dan Laundry Hotel (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa ), h. 2
kebutuhannya, namun ada beberapa kriteria yang dianggap paling umum digunakan.24
Berdasarakan Surat Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi No.KM37/PW.340/MPPT-86 tentang Peraturan Usaha dan Penggolongan Hotel, diberikan penjelasan sebagai berikut:
a. Hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan,dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial.
b. Akomodasi adalah wahana untuk menyediakan pelayanan jasa penginapan, yang dapat dilengkapi dengan pelayanan makan dan minum serta jasa lainnya.
c. Penginapan atau losmen adalah suatu usaha komersial yang menggunakan seluruh atau sebagian dari suatu bangunan yang khusus.
24 Syarifudin, “Analisis Produk, Pelayanan, dan Pengelolaan Bisnis Perhotelan Syariah Pada Hotel Syariah Walisongo Surabaya”, (Skripsi:
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2015), h. 50.
Fasilitas usaha hotel sebagai bagian integral dari usaha pariwisata, yang merupakan usaha akomodasi yang dikomersialkan, meliputi:
a. Kamar tidur (kamar tamu) b. Makanan dan minuman
c. Pelayanan penunjang lainnya, seperti tempat rekreasi, fasilitas olahraga, fasilitas laundry dan sebagainya.25
Fasilitas tersebut dapat digunkan oleh tamu yang menginap pada hotel tersebut selama 24 jam. Sedangkan penggolongan jenis hotel adalah sebagai berikut:
a. Hotel Bintang 1
1) Jumlah kamar standar, minimal 15 Hotel bintang dua kamar
2) Kamar mandi di dalam
3) Luas kamar standar, minimum 20 m2 b. Hotel Bintang 2
1) Jumlah kamar standar, minimal 20 kamar
25 Syarifudin, “Analisis Produk, Pelayanan, dan Pengelolaan Bisnis Perhotelan Syariah Pada Hotel Syariah Walisongo Surabaya”, Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2015, h. 51.
2) Kamar suite minimum 1 kamar 3) Kamar mandi di dalam
4) Luas kamar standar minumum 22 m2 5) Luas kamar suite minimum 44 m2 c. Hotel Bintang 3
1) Jumlah kamar standar minimal 30 kamar 2) Kamar suite minimal 2 kamar.
3) Kamar mandi di dalam
4) Luas kamar standar minimum 24 m2 5) Luas kamar suite minimum 48 m2 d. Hotel Bintang 4
1) Jumlah kamar standar minimal 50 kamar 2) Kamar suite minimum 3 kamar
3) Kamar mandi di dalam
4) Luas kamar standar minimum 24 m2 5) Luas kamar suite minimum 48 m2 e. Hotel Bintang 5
1) Jumlah kamar standar minimal 100 kamar 2) Kamar suite minimum 4 kamar
3) Kamar mandi di dalam
4) Luas kamar standar minum 26 m2 5) Luas kamar suite minimum 52 m2.
Jenis-jenis kamar hotel dilihat dari fasilitas tempat tidur yang ada dikamar pada dasarnya dapat dibedakan menjadi:
a. Single room adalah kamar untuk satu orang yang dilengkapi dengan satu buah tempat tidur berukuran single untuk satu orang.
b. Twin room adalah kamar untuk dua orang yang dilengkapi dengan dua buah tempat tidur berukuran single.
c. Double room adalah kamar untuk satu orang dilengkapi dengan satu buah tempat tidur berkuran double untuk dua orang.
d. Double-double room adalah kamar untuk empat orang yang dilengkapi dua kamar dengan dua buah tempat tidur berukuran double untuk dua orang.26
Adapun jenis kamar menurut harga atau tarif dan fasilitas kamar, dapat dibedakan sebagai berikut:27
a. Standart Room adalah kamar yang memiliki fasilitas paling standar yang biasanya didalamnya hanya berupa satu atau dua ranjang (berbeda setiap hotel), sebuah kamar mandi, televisisi, meja dan telepon. Dengan fasilitas yang demikian standart room merupakan kamar dengan harga termurah dalam sebuah hotel.
b. Superior Room adalah kamar yang fasilitasnya sebenarnya menyerupai standart room dalam sebuah hotel, namun yang membedakan superior room ini biasanya merujuk pada kamar khusus dengan pemandangan atau lokasi yang lebih baik.
26 Widanaputra, “Akuntansi Perhotelan: Pendekatan Sistem Informasi”, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h. 20.
27Widanaputra, “Akuntansi Perhotelan: Pendekatan Sistem Informasi”, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h. 20.
c. Moderate Room adalah kamar yang didesain khusus agar tampilannya terlihat lebih berkelas dari berbagai hal mulai dari penampilan, ukuran dan lokasi. Moderate Room dalam sebuah hotel terkadang juga disebut Deluxe Room.
d. Suite Room adalah kategori bagi sebuah kamar hotel yang menyerupai apartemen kecil. Dimana ukuranya lebih besar dari standar room, di dalamnya memiliki ruang tidur, ruang tamu, dan ruang masak terpisah.
Kamar ini biasanya digunakan oleh para pebisnis dan keluarga yang menginap dihotel dalam waktu yang lebih lama.
e. Excecutive Room adalah sebuah kamar yang antara ruang tidur dan ruang tamu tidak dipisahkan oleh dinding ataupun pintu dan biasanya sudah dilengkapi dengan meja kerja.
f. Penthouse adalah kamar yang biasanya terletak dilantai teratas hotel, dengan ruangan besar serta pemandangan
dan fasilitas terbaik yang ditawarkan oleh hotel dan merupakan kelas kamar termahal yang ada dihotel.28 3. Hotel Syariah
Hotel syariah adalah hotel yang dalam penyediaan, pengadaan dan penggunaan produk dan fasilitas serta dalam operasionalnya usahanya tidak melanggar aturan syariah.
Seluruh komponen kriteria teknis oprasional hotel, mulai dari hal kecil seperti informasi apa yang harus tersedia di front office, perlengkapan istinja’ di toilet umum, sampai pada penyajian dari jenis makanan dan minuman yang tersedia di reception policy and procedure, house-rules, harus dipastikan semua memenuhi kriteria syariah.29
Hotel syariah adalah hotel yang menyediakan jasa pelayanan penginapan, makan, minum serta jasa lainnya bagi umum, dikelola secara komersial serta memenuhi
28 Widanaputra, “Akuntansi Perhotelan: Pendekatan Sistem Informasi”,... h. 34
29 Rianto Sofyan, Bisnis Syariah Mengapa Tidak?, (Jakarta: Gramedia Utama, 2011), h. 64.
ketentuan persayratan yang di tetapkan pemerintah, industri dan syariah.30
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa hotel syariah adalah hotel yang menerapkan syariah Islam kedalam kegiatan operasional hotel. Kesyariahan hotel ditonjolkan oleh manajemen dengan memunculkan moto, logo, fasilitas kamar, fasilitas hotel maupun seragam atau pakaian yang dikenakan para karyawan hotel.31
B. Bisnis Syariah
1. Pengertian Bisnis
Kata bisnis diartikan usaha dagang, usaha komersial dalam dunia perdagangan, bidang usaha. Bisnis adalah pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan atau memberikan manfaat. Pada dasarnya bisnis memiliki makna sebagai “the buying and selling of goods and service”. sedangkan perusahaan bisnis adalah
30M. Rayhan Janitra, Hotel Syariah Konsep Dan Penerapan, (Jakarta:
RajaGafindo Persada, 2003), h. 13.
31 Kuat Ismanto, Manajemen Syariah: Implementasi TQM dalam Lembaga Keuangan Syariah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h.24-25.
suatu organisasi yang terlibat dalam pertukaran barang, jasa, atau uang tunai untuk menghasilkan keuntungan.32
Secara terminologi, bisnis merupakan suatu kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok. Oleh karena itu, kegiatan bisnis sebenarnya telah muncul sejak dulu, hanya kegiatan bisnis ini sangat tertutup karena dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, seperti keluarga, kelompok masyarakat maupun kelompok tertentu.33
Upaya untuk mendefinisikan istilah “bisnis”
memang sangat beragam sekali, tergantung dari sudut pandang mana seseorang menafsirkanya. Dalam kamus Bahasa Indosnesia, bisnis diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan dan bidang usaha.
Skinner mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan dan memberikan manfaat bagi para pelakunya. Adapun dalam
32 Francis Tantri, Pengantar Bisnis, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), h. 4
33Kustoro budiarto, Pengantar Bisnis, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2009), h, 1
pandangan Straub dan Attner, bisnis tak lain adalah suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit. Barang yang dimaksud adalah suatu produk yang secara fisik memiliki wujud, sedangkan jasa adalah aktivitas-aktivitas yang meberi manfaat pada konsumen atau pelaku bisnis lainya.34
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bisnis merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menyediakan barang dan atau jasa dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Adapun pandangan lain yang menyatakan bahwa bisnis adalah sejumlah total usaha meliputi pertanian, produksi, konstruksi, distribusi, transportasi, komunikasi, usaha jasa dan pemerintahan, yang bergerak dalam bidang pembuatan dan pemasaran barang dan jasa untuk memberikan kepuasan pada konsumen. Istilah bisnis ini pada umumnya ditekankan
34 M Ismail Yusanto &M Karebet Widjajakusuma, Menggagas Bisnis Islami, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h, 15
pada tiga hal yaitu: usaha perseorangan kecil-kecilan dalam bidang barang dan jasa, usaha perusahaan besar seperti pabrik, transportasi, perusahaan surat kabar, hotel dan sebagainya, dan usaha dalam bidang struktur ekonomi suatu bangsa
2. Bisnis Berbasis Syariah
Setiap manusia memerlukan harta untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Maka dari itu, manusia akan berusaha untuk selalu mendapatkan harta tersebut salah satunya dengan bekerja, dan salah satu dari ragam bekerja tersebut yakni berbisnis.
Secara umum bisnis diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan atau rizki dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya ekonomi secara efektif dan efisien.
Adapun sektor-sektor ekonomi bisnis tersebut meliputi sektor pertanian, sektor industri, jasa, dan perdagangan.35
Islam mewajibkan setiap umatnya untuk bekerja dan berusaha mencari nafkah. Maka dari itu, Allah SWT melapangkan bumi dan menyediakanberbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan manusia untuk mencari rezeki. Seperti yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya Surah Ibrahim ayat 32-34.
{ اًق ْصِس ِتاَشَََّثىا ٍَِِ ِِٔب َجَشْخَأَف ًءاٍَ ِءاَََّغىا ٍَِِ َهضَّأَٗ َض ْسلأاَٗ ِتاَٗاَََّغىا َقَيَخ ِٛزَّىا ُ َّاللَّ
( َساَّْٖلأا ٌُُنَى َشَّخَعَٗ ِِٓشٍَْأِب ِشْحَبْىا ِٜف َِٛشْجَحِى َلْيُفْىا ٌُُنَى َشَّخَعَٗ ٌُْنَى ٌُُنَى َشَّخَعَٗ )23
َٗ َوَّْٞيىا ٌُُنَى َشَّخَعَٗ َِِْٞبِئاَد َشَََقْىاَٗ َظََّْشىا ( َساََّْٖىا
ُِْإَٗ َُُُٓ٘حْىَأَع اٍَ ِّوُم ٍِِْ ٌُْماَجآَٗ )22
( ٌساَّفَم ًٌُ٘يَظَى َُاَغّْلإا َُِّإ إَُ٘صْحُج َلْ ِ َّاللَّ َةََْعِّ اُّٗذُعَج
23 ) }
Artinya: Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.
Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu
35Muslich, Etika Bisnis Islami. Landasan Filosofis, Normatif dan Substansi Implementatif, (Yogyakarta : Ekonesia, 2004), h. 46
menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).36
Dari paparan yang dijelaskan di atas, bisnis Islam/
bisnis berbasis syariah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuk yang dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya termasuk keuntungan, juga dibatasi dalam aspek halal dan haramnya baik segi perolehan maupun pendayagunaanya.
Bisnis syariah adalah implementasi/perwujudan dari aturan syariat Allah. Sebenarnya bentuk bisnis berbasis syariah tidak jauh beda dengan bisnis pada umumnya, yaitu upaya memproduksi/mengusahakan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan konsumen. Namun aspek syariah inlah yang membedakanya dengan bisnis pada umunya juga menjalankan syariat dan perintah Allah dalam hal bermuamalah. Bentuk bisnis syariah dilihat dari segi masanya pertukaran itu terdiri dari (naqdan) dan tangguh
36Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung:
Percetakan Diponegoro, 2005), h. 232
(bay’ al-mu’ajal). Adapun objek pertukaran terdiri dari aset keuangan yaitu uang dan sekuritas. Untuk kedua aset ini dapat dipertukarkan.37
Jika ditelusuri dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, dan agama Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan.38
Dari penjelasan di atas dapat simpulkan bahwa prilaku bisnis bukan semata-mata perbuatan dalam hubungan kemanusiaan semata tetapi mempunyai sifat Ilahiyah. Adanya sikap kerelaan diantara yang berkepentingan, dan dilakukan dengan keterbukaan merupakan ciri-ciri dan sifat-sifat keharusan dalam bisnis.
Jika ciri-ciri dan sifat-sifat di atas tidak ada, maka bisnis
37Mardani, Hukum Bisnis Syariah, (Jakarta : Prenadamedia Group, 2014), h. 23
38 Muhammad Ismail Yusanto, Menggagas Bisnis Islami,... h, 34
yang dilakukan tidak akan mendapat keuntungan dan manfaat.39
Tujuan dari bisnis syariah yaitu sebagai berikut:
a. Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri.
b. Pertumbuhaan, artinya terus meningkat
c. Keberlangsungan, dalam kurun waktu selama mungkin dan
d. Keberkahan atau ridha Allah.
Target hasil: profit-materi dan benefit-non materi, maksudnya adalah bahwa bisnis tidak hanya untuk mencari profit (qimahmadiyah atau nilai materi) setinggi-tingginya, akan tetapi bisnis juga harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (keuntungan atau manfaat) nonmateri kepada internal organisasi perusahaan dan eksternal (lingkungan), seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial dan sebagainya.40
3. Dasar Hukum Bisnis Syariah
39 Muhammad Ismail Yusanto, Menggagas Bisnis Islami,Jakarta:
Gema Insani Pers, 2002), h, 18.
40 Muhammad Ismail Yusanto, Menggagas Bisnis Islami,... h, 32.
Dalam agama Islam diatur tata cara berhubungan atau bersosialisasi, baik dengan sesama hamba (muamalah) atau hamba dengan tuhan-Nya yang lebih dikenal dengan ibadah. Dalam kaitanya dengan bisnis, hendaknya tidak hanya diniatkan kepada urusan dunia saja atau keuntungan duniawi. Namun menjadi lebih baik jika akhirat juga diperhatikan. Artinya niat dalam berbisnis benar-benar ditujukan kepada ridho Allah SWT. Al-Quran adalah sumber utama bagi hukum bisnis syariah karena di dalamnya banyak ditemukan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan bisnis dan hukum-hukumnya. Ayat al-qur’an yang berhubungan dengan bisnis syariah yaitu firman Allah pada QS. Al-Jaatsiyah (45): 18.
َُ ََُْ٘يْعَٝ َلْ َِِْٝزَّىا َءۤإََْ٘ا ْعِبَّحَج َلَْٗ اَْٖعِبَّجاَف ِشٍَْ ْلْا ٍَِِّ ٍةَعِْٝشَش ٰٚيَع َلْْٰيَعَج ٌَُّث Artinya: Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.41
Ayat di atas jika ddikaitkan dengan bisnis adalah anjuran kepada manusia agar tidak terjebak oleh hawa
41Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung:
Percetakan Diponegoro, 2005), h. 314