BAB III METODOLOGI PENELITIAN
H. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
I. Teknik Keabsahan Data
Banyak hasil penelitian kualitatif yang diragukan kebenarannya karena bebrapa hal. Demi terjaminnya keakuratan data dan hasil penelitian yang memenuhi standar hasil penelitian ilmiah maka peneliti harus melakukan keabsahan data. Pengabsahan data dalam penelitian kualitatif sangat diperlukan demi kesasihan dan keandalan serta tingkat kepercayaan data yang telah terkumpul. Teknikkeabsahan data adalah dengan menggunakan teknik tiangulasi.
30
Hal ini merupakan salah satu pemeriksahan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2006 : 330 ).
Melalui teknik pemeriksaan ini penulis menggunakan teknik triangulasi sumer dan triangulasi teknik serta triangulasi waktu. Triangulasi dalam pengujian kredibilitasi ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui bebrapa sumber. sebagai contoh untuk menguji kredibilitas data tentang gaya kepemimpinan seseorang, maka pengumpulan dan penyajian data yang telah diperoleh dilakukan ke bawahan yang dipimpin, ketasan yang menugasi, dan keteman kerja yang merupakan kelompok kerjasama.
Data dari ketiga sumber tersebut tidak bisa dirata-ratakan seperti dalam penelitian kuantitaif, tetapi dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda dan yang mana yang spesifik dari tiga sumber data tersebut. Data yang telah dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan dengan tiga sumber data tersebut.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibiltas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
Misalnya data yang diperoleh dengan wawancara, Lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuesioner. Bila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya berbeda-beda.
3. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakakukan pengecekan dengan cara wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.
Menurut bugin (2003 :204) proses triangulasi dilakukan terus-menerus sepanjang proses pengumpulan data dan analisis data, sampai suatu saat peneliti yakin bahwa sudah tidak ada lagi perbedaan, dan tidak ada lagi yang perlu dikonfirmasi kepada informan, uji keabsahan melalui triangulasi ini dilakukan karena dalam penelitian kualitatif, untuk menguji keabsahan data/informasi tidak dapat dilakukan dengan alat uji statistik, begitu pula materi kebenaran tidak diuji berdasarkan kebenaran alat sehingga substansi kebenaran tergantung pada kebenaran intersubjektif. Oleh karena itu, sesuatu
32
yang dianggap benar apabila kebenaran itu mewakili kebenaran orang banyak atau kebenaran stake holder.
Selain itu peneliti pun melakukan membercheck, menurut sugiyono (2013 : 276). Membercheck adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan membercheck adalah mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Selain itu, membercheck yang diperoleh akan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yang dimaksud sumber data atau informan. Setelah membercheck dilakukan, maka pemberi data dimintai tanda tangan sebagai bukti bahwa peneliti telah melakukan membercheck.
BAB IV
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN A. Deskripsi Wilayah Penelitian
Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Sulawesi Selatan yang letaknya diujung selatan pulau sulawesi dan memanjang ke utara. Ibu kota Kabupaten Kepulaun Selayar adalah Kota Benteng. Kabupaten ini memiliki luas sebesar 10.503,69 km² (wilayah daratan dan lautan) dan berpenduduk sebesar 123.283 jiwa.
Kabupaten kepulauan selayar terdiri dari 12 kecamatan diantaranya 6 kecamatan yang meliputi daerah wilayah daratan dan 6 kecamatan meliputi daerah wilayah kepulauan.
Secara geografis, Kabupaten Kepulauan Selayar berada pada koordinat (letak astronomi) 5°42’ - 7°35’ LS dan 120°15’- 122°30’ bujur timur yang berbatasan dengan :
1. Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Bulukumba dan Teluk Bone.
2. Sebelah selatan berbatasan dengan provinsi NTT
3. Sebelah barat berbatasan dengan Laut Flores dan Selat Makassar.
4. Sebelah timur berbatasan dengan Laut Flores (provinsi NTT).
Penduduk di kabupaten Selayar rata-rata bekerjasebagai petani dan peladang, namun sebagaian juga dari mereka bekerja sebagai nelayan. Tapi apabila Musim Barat mereka tidak melaut. Tingkat pendidikan mereka cukup tinggi. Kebanyakan orang tua yang memiliki kemauan agar anakanak mereka
32
34
mempunyai penghidupan yang layak, mereka mengirimkan anak-anak mereka ke Makassar untuk sekolah sampai ke jenjang yang tinggi. (Selayar dalam Angka, 2005).
B. Deskripsi Bahasa Kabupaten Kepulauan Selayar
Bahasa Selayar adalah bahasa utama yang digunakan oleh masayarakat kabupaten kepulauan selayar. Bahasa Selayar saat ini masih diperdebatkan apakah berupa bahasa atau dialek. Pada prinsipnya bahasa Selayar masih termasuk dalam rumpun bahasa Makassar. Perbedaannya terletak pada beberapa kosa kata yang memiliki arti yang sama dalam bahasa Indonesia tapi dalam bahasa Makassar maupun bahasa Selayar penyebutannya berbeda.
Jumlah pemakai bahasa Selayar cukup banyak, yaitu meliputi beberapa kecamatan yang ada di kabupaten Selayar termasuk didaerah tanadoang atau daerah daratan yang terdiri dari 6 kecamatan. Diselayar sendiri penggunaan bahasa oleh masyarakat luas kabupaten kepulauan selayar terdiri dari dua dialek utama yaitu dialek konjo dan dialek selayar.
BAB V
PERKEMBANGAN BAHASA MAKASSAR DIALEK KONJO DI TANADOANG KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR.
Dalam kajian mengenai akulturasi bahasa, fenomena konvergensi dan divergensi akan muncul dalam framework konteks berbahasa antar etnis.
Sebagai etnis mayoritas masyrakat konjo dihadapkan pada situasi dimana etnis konjo memiliki social power terhadap bahasa-bahasa lain dan social power tersebut dalam penggunaan bahasa Makassar dialek Konjo di Tanadoang Kabupaten Kepulauan Selayar. Bahasa Makassar dialek Selayar dan dialek Konjo pesisir yang banyak dipakai dikecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan. Hubungan kekerabatan antara bahasa Makassar dialek Konjo dan dialek Selayar terbentuk karena mempunyai beberapa faktor-faktor pendukung dan alasan latarbelakang sehingga antara bahasa Makassar dialek Konjo dan dialek Selayar dapat terbentuk suatu akulturasi yang kemudian kedua dialek tersebut dapat lahir dan berkembang di Tanadoang Kabupaten Kepulauan Selayar.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan bapak Burhanuddin selaku tokoh adat di salah satu daerah Kabupaten Kepulauan Selayar mengungkapkan bahwa:
“Ya memang ada beberapa faktor penunjang yang
melatarbelakangi sehingga diselayar ini bisa terjadi penggabungan dialek antara dialek Konjo dan dialek selayar,
35
36
dimana seperti yang kita ketahui bersama bahwa antara Kabupaten Kepulauan Selayar dan Kecamatan Ujung Loe tepatnnya di daerah Bira kan terdapat sebuah pelabuhan yang merupakan daerah penyebrangan dan pelayaran yang biasa ditempati oleh orang-orang untuk menyebrang ke Selayar, karena itu pasti akan terjadi kontak atau interaksi sesama disana yaitu antara orang selayar dan orang-orang sekitar daerah Bira yang menggunakan dialek Konjo tersebut”( hasil
wawancara pada hari kamis 30 juni 2016).
Dari pendapat bapak Burhanuddin, beliau mengatakan bahwa bahasa Makassar dialek konjo dapat lahir dan berkembang di Tanadoang Kabupaten Kepulauan Selayar adalah karena dikecamatan Ujung Loe tepatnya di Daerha bira terdapat sebuah pelabuhan yang mayoritas penduduknya menggunakan dialek Konjo merupakan daerah pelayaran atau penyebrangan antara Kabupaten Kepulauan Selayar dengan Bira.
Bapak Nur Hasli sebagai salah satu pegawai atau pakar kebudayaan dikabupaten kepulauan selayar yang bekerja dikantor kebudayaan dan parawisata Kabupaten Kepulauan Selayar mengungkapkan bahwa:
“dialek Konjo itu bisa ada atau digunakan di Kabupaten
Selayar karna beberapa sebab seperti adanya keturunan dari satu suku antar etnis dimasa lalu. Kemudian beberapa dari mereka yang memiliki keturunan yang sama (keturunan suku konjo)kemudian terpisah karna beberapa faktor yang kemudian
salah satu diantara mereka kemudian menetap diselayar”
(hasil wawancara pada hari kamis tanggal 30 juni 2016).
Dari hasil wawancara peneliti dengan pegawai kantor kebudayaan dan parawisata Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dikatakan bahwa akulturasi antara Bahasa Makassar dialek Konjo dan Dialek Selayar disebabkan oleh faktor biologi, mereka yang mengaku sebagai orang Selayar adalah keturunan kaum berdarah campuran suku yang sama yaitu suku konjo yang mana mereka adalah hasil persilangan antar etnis di masa lalu.
Pendapat lain juga disampaikan oleh bapak Abdul Rahim yang merupakan tokoh adat dan tetua-tetua yang banyak mengetahui tentang peristiwa-peristiwa dan informasi yang terkait dengan Selayar. Beliau menyatakan bahwa:
“iya memang ada percampuran dialek antara Selayar dengan
Konjo yang dipake oleh masyarakat Ujung Loe, selain terkait karna kedua dialek tersebut merupakan satu kesamaan atau kesatuan bahasa yang sama yaitu bahasa makassar juga dilandasi oleh satu faktor yang sepengetahuan saya bahwa pada dahulu kala Selayar dan Bira itu tidak terpisah, kedua daerah ini antara Selayar dan Bira ini bersambung tidak dipisahkan oleh laut dan sebagainya. Tapi karena beberapa faktor alam yang terjadi sehingga kedua daerah ini kemudian menjadi terpisah oleh lautan. Itulah faktor yang mendasari sehingga ada kesamaan antara dialek Selayar dan dialek Konjo yang dipakai
38
di Selayar” ( hasil wawancara pada hari sabtu tanggal 2 juli 2016 ).
Kemuadian peneliti mewawancarai bapak massiarang, beliau mengungkapkan bahwa:
“seperti yang saya ketahui dan sesuai cerita dari orang-orang
terdahulu kita itu mereka mengatakan bahwa mengapa dialek di Selayar bisa sama dengan dialek yang ada di Bira (bulukmba) dan kemudian melesatri dan semakin berkembang menjadi bahasa yang dipakai oleh masayarakat Selayar sebagai bahasa sehari-hari mereka yang sebelumnya selayar memiliki dialek sendiri tetapi karna pada akhirnya semakin banyak terjadi interaksi sosial antara masyarkat Selayar dan masyarakat bira yang mayoritas menggunakan dialek konjo dan kemudian juga semakin banyak juga terjadi perinikahan antara orang Selayar dan orang Bulukmba/Bira yang kemudian setelah menikah kemudian mereka memilih menetap di selayar”
( hasil wawancara pada hari senin tanggal 11 juli 2016).
Dari hasil wawancara tersebut dapat dapat di ambil kesimpulan bahwa berkembangnya dialek Konjo di Tanadoang Kabupaten Kepulauan Selayar adalah di dasari oleh adanya interaksi sosial yang berlangsung secara terus- menerus antara masyarakat Selayar dengan Masayarakat Bira/Bulukumba yang mayoritas menggunakan dilaek Konjo. Di sisi lain juga didasari oleh adanya faktor dari sisi pernikahan yang telah banyak terjadi antara
Masyarakat Selayar dengan Masyarakat bira yang pada akhirnya terjalin interaksi yang sangat kuat di antara mereka, hal ini juga menjadi pemicu terbentuknya akulturasi antara dua budaya asing dalam hal ini dalam hal dialek ataupun bahasa.
Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diberikan kesimpulan bahwanya akulturasi antara bahasa Makassar dialek Konjo dan Dialek Selayar terjadi karena ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya akulturasi tersebut, bukan hanya karena antara dialek Konjo dan Dialek Selayar termasuk dalam satu rumpun bahasa yang sama yaitu bahasa makassar akan tetapi dilandasi oleh beberapa faktor penyebab dan beberapa peristiwa pada masa lampau.
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala terjadi penyatuan dua budaya yang berbeda yang melebur menjadi satu tanpa menghilangkan unsur atau karasteristik budaya asli itu sendiri. Kebudayaan asing itu lambat laun akan diterima dan diolah kedalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contohnya dalam hal ini yaitu akulturasi bahasa Makassar dialek Konjo dan dialek Selayar di Tanadoang Kabupaten Kepulauan Selayar.
Untuk dapat menghasilkan sebuah akulturasi yang baik maka perlu adanya proses sosial. Proses sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia yang ditandai oleh dinamika komunikasi.
Sehubungan dengan hal tersebut dapat dikatakan bahwa suatu akulturasi itu dapat terjadi apabila terjadi kontak antara dua budaya yang
40
berbeda yang kemudian suatu budaya asing yang masuk dan kemudian dapat diterima dengan baik oleh masyarakat tanpa menghilangkan budaya asli dari masyarakat yang menerima unsur kebudayaan asing ini. Kontak budaya ini akan berlangsung ketika terjadi kontak sosial yang bisa saja terjadi antara individu, sebagian masyarakat dan bahkan seluruh lapisan masyarakat.
Proses akulturasi ini terkadang sulit terjadi namu n terkadang pula sangat muda terjadi bahkan terkadang masayrakat tanpa mereka sadari bahwa mereka telah menyerap kebudayaan asing.
Dalam hal akulturasi bahasa/dialek ini maka telah timbul pula sebuah percampuran atau perpaduan bahasa atau dialek yang berbeda. Akulturasi bahasa/dialek dalam hal ini diwujudkan dalam dengan adanya percampuran aksen dua bahasa/dialek yang berbeda kedalam satu model bahasa/dialek percakapan. Dalam hal ini yaitu bahasa Makassar dengan dialek Konjo dan dialek Selayar.
a. Dialek Konjo
Dialek Konjo adalah salah satu dialek yang dimasukkan kedalam rumpun bahasa Makassar di Sulawesi Selatan. Penutur dialek ini pertama kali oleh suku Kajang. Selanjutnya dialek Konjo banyak di pakai diKecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba terutama daerah Bira Provinsi Sulawesi Selatan
Dialek ini mempunyai abjad tersendiri, yang disebut sengan Lontara, namun sekarang banyak juga ditulis dengan huruf latin.
b. Dialek Selayar
Dialek Selayar adalah dialek utama yang digunakan di Kepulauan Selayar. Bahasa Selayar masuk dalam rumpun Bahasa Makassar dengan dialek Konjo. Dalam Bahasa Selayar, juga ditemukan banyak serapan dari bahasa asing, misalnya dari Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Bahasa Cina, Bahasa Portugis, dll.
Dialek selayar mempunyai hubungan kekerabatan dengan dialek konjo yang banyak dipakai oleh masyarakat di kecamatan Ujung Loe terutama daerah Bira Kabupaten Bulukumba.
Adapun informan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut : 1. Pakar kebudayaan/pegawai kantor kebudayaan : 2 orang 2. Tokoh adat dan tetua-tetua adat : 3 orang
3. Masyarakat umum : 1 orang Jumlah : 6 orang
Bahasa Makassar, juga disebut basa Mangkasara adalah bahasa yang dituturkan oleh suku Makassar, penduduk Sulawesi Selatan. Bahasa ini mempunyai abjadnya sendiri, yang disebutdengan Lontara, namun sekarang banyak juga ditulis dengan menggunakan huruf latin.
Kabupaten Selayar merupakan salah satu wilayah tutur Bahasa Makassar yang oleh Friberg disebut dialek Selayar (dalam Grimes dan Grimes, 1987: 31)2. Selain itu, di sebagian wilayah ini juga ditemukan penutur bahasa Konjo yang merupakan sub keluarga Makassar. Wilayah tutur
42
bahasa Konjo di Kabupaten Selayar, yaitu daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bulukumba yang menuturkan dialek Konjo Pesisir (Grimes dan Grimes, 1987: 28).Hal menarik yang ditemukan adalah masyarakat didaerah ini cenderung menggunakan satu bahasa daerah dalam dua dialek yaitu bahasa Makassar dialek Konjo dan dialek Selayar.
Mengenai hal tersebut diatas, dapat dijelaskan bahwa telah terjadi sebuah proses sosial yang menimbulkan adanya akulturasi dimana terdapat dua kebudayaan yang berbeda atau dua kebudayaan asing yang berpadu menjadi satu yang masing-masing mempertahankan karasteristik keasliannya, dalah hal ini akulturasi bahasa yaitu akulturasi Bahasa Makassar dalam segi dialek yaitu dialek Konjo dan Dialek Selayar.
Akulturasi adalah sebuah proses dimana dalam hal ini terdapat atau tersirat suatu pengaruh timbal balik dimana unsur-unsur dua budaya berbaur dan bergabung menjadi satu. Telah dihipotesiskan bahwa salah satu syarat berlangsungnya suatu akulturasi adalah adanya beberapa kesetaraan budaya relatif yang harus dimiliki antara budaya yang memberi dan budaya yang menerima dalam hal ini yaitu antara dialek Konjo sebagai pemberi dan dialek Selayar sebagai penerima.
Selanjutnya mengenai akulturasi antara dua budaya tentunya tidak akan langsung terjadi atau tercipta begitu saja tanpa melalui sebuah proses.
Biasanya proses akulturasi terjadi dalam kurung waktu yang lama. Sehingga antara satu kebudayaan dan kebudayaan lainnya saling memiliki pengaruh yang kuat.kemudian proses akulturasi dapat terjadi apabila ada persenyawaan.
Maksudnya harus ada penerimaan kebudayaan luar tanpa penolakan. Untuk dapat menghasilkan sebuah akulturasi yang baik maka perlu adanya proses sosial. Proses sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia yang ditandai oleh dinamika komunikasi.
Dari pemikiran diatas, jelaslah bahwa dalam permasalahan akulturasi ini mengandung atau menjalani beberapa proses yaitu yang disebut dengan proses sosial yang berlangsung secara terus-menerus dan berkesinambungan sehingga pada akhirnya terciptalah sebuah akulturasi antara dua kebudayaan yang berbeda, dalam hal ini yaitu antara dialek Konjo dan dialek Selayar.
Namun demikian bukanlah hal yang mudah atau berlangsung begitu saja untuk mencapai sebuah akulturasi. Dalam proses untuk mencapai sebuah akulturasi akan terdapat beberapa faktor penunjang yang akan mendukung dan menopang terjadinya akulturasi. Faktor-faktor tersebut merupakan pintu masuk sebuah akulturasi.
Dalam hal ini faktor-faktor penunjang terjadinya akulturasi akan ada beberapa bentuk faktor yang menjadi penunjang baik dalam bentuk peristiwa, atau melalui suatu perantara letak wilayah dan sebagainya. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh bapak Abdul Rahim sebagai tokoh adat dan tetua-tetua adat kabupaten Selayar bahwa :
“jika lahirnya bahasa Makassar dialek Konjo di Tanadoang
Kabupaten kepulaun Selayar dilandasi oleh satu faktor yang berkaitan dengan peristiwa masa lampau yaitu yang dimasa lampau itu antara Tanadoang Kabupaten Kepulauan Selayar dan daerah bira yang merupakan salah satu
44
daerah dikabupaten bulukumba sebagai salah satu penutur dialek Konjo merupakan satu daerah yang satu atau dengan kata lain tidak ada pemisah antara Selayar dan Bira, yang sekarang ini sudah dipisahkan oleh lautan luas”.
Dari pernyataan diatas dapat diliat dan disimpulkan bahwa memang suatu akulturasi tersebut tidak dapat berlangsung begitu saja tanpa melalui suatu proses dan beberapa faktor penunjang yang mendorong terjadinya akulturasi budaya dalam hal ini yaitu akulturasi antara dialek Konjo Dan dialek Selayar.
Pendapat lain yang berkaitan dengan permasalahan mengenai faktor yang menjadi penunjang lahir dan berkembangnya bahasa Makassar dialek Konjo di Tanadoang Kabupaten Kepulauan Selayar sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak burhanuddin selaku tokoh adat di Kabupaten Kepulauan Selayar mejelaskan bahwa:
“yang menjadi dasar penopang lahirnya dialek Konjo di Kabupaten
Kepulauan Selayar ini salah satunya adalah didasari oleh karna di daerah bira yang masyarakatnya merupakan penutur asli Dialek Konjo merupakan daerah penyebrangan dan pelayaran yang menghubungkan antara Bira dan Kabupaten Kepulauan Selayar. Maka dalam hal ini akan terjadi interaksi sosial antara masyrakat Selayar dan Masyarakat Bira ( Bulukumba ) diarea Pelabuhan tersebut ketika masyarkat akan melakukan penyebrangan”.Dan juga banyak faktor lain yang melatarbelakanginya adalah juga tidak terlepas dari pengaruh letak daerah tersebut yang dekat dengan Kabupaten Bulukumba. Selain itu,banyak terjadi perkawinan antara orang Selayar dan
orang Bira (Bulukumba), kemudian mereka menetap di Kabupaten Kepulauan Selayar yang kemudian diantara mereka akan terjalin sebuah komunikasi.
Untuk dapat menghasilkan sebuah akulturasi yang baik maka perlu adanya proses sosial. Proses sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia yang ditandai oleh dinamika komunikasi. Bahasa Konjo kemudian semakin berkembang karna masyarakat selayar telah menggunakan bahasa Konjo sebagai bahasa komunikasi sehari-hari mereka. Selain itu telah banyak perkawinan antara orang Bulukumba (etnis Konjo) dengan orang Selayar yang kemudian disis lain setelah menikah mereka menetap di Kepulauan Selayar.
Dari berbagai pemikiran dari beberapa informan tersebut sepenuhnya didukung oleh penjelasan mengenai faktor pendorong akulturasi yaitu :
1. Inteaksi sosial
Yaitu hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi satu sama lain yang diantara mereka akan menciptakan suatu hasil.
2. Akulturasi bisa terjadi melalui kontak budaya yang bentuknya bermacam- macam, antara lain :
1. Kontak budaya pada seluruh lapisan masyarakat, sebagian masyarakat, atau bahkan antar individu dalam dua masyarakat atau kebudayaa.
2. Kontak budaya antar dua masyarakat atau kebudayaan dalam hal kepentingan baik dalam ekonomi, teknologi, dan kemasyarakatan.
3. Kontak sosial dan komunikasi sosial.
46
Kontak sosial adalah hubunganb masing-masing pihak dalam berinteraksi baik dengan berbicara, tatap muka, maupun bersalaman. Sesuai dengan permasalahan di atas mengenai akulturasi bahasa makassar antara dialek Konjo dan dialek Selayar maka kontak sosial yang terjadi dalam hal ini adalah kontak sosial langsung atau hubungan timbal balik baik anta individu maupun antar kelompok yang terjadi secara fisik seperti berkomunikasi dan berinteraksi langsung.
Komunikasi sosial adalah proses interaksi yang terjadi antara orang- orang atau kelompok bahkan masyarakat luas yang didalamnya terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain untuk suatu tujuan atau hasil yang ingin dicapai bersama.
Sesuai dengan pernyataan diatas mengenai faktor pendorong atau hal yang melatarbelakangi terjadinya akulturasi dalam hal ini akultursi bahasa Makassar dialek Konjo dan dialek Selayar dapat dikatakan bahwa hal yang sangat berpengaruh dala terbentuknya akulturasi ini adalah adalah proses sosial yang terjadi antara masyarakat Selayar dan masyarakat Bira (Bulukumba) sebagai penutur asli dialek Konjo baik itu Interaksi soaial, kontak sosial maupun komunikasi sosial yang terjalin.
Berbicara mengenai interaksi sosial, kontak sosial maupun komunikasi sosial yang menjadi pemicu lahirnya akulturasi bahasa Makassar dialek Konjo dan dialek Selayar, maka sesuai dengan hasil wawancara yang didapat dari beberapa informan dapat di deskripsikan bahwa proses-prosel sosial tersebut seperti interaksi sosial itu berlangsung atau terjadi disaat ketika