BAB III. METODE PENELITIAN
A. Faktor Pendukung
Kabupaten Gowa dan Dinas Perhubungan Kota Makassar dan b). Saling percaya antara instansi, Sedangkan faktor penghambat yaitu a). Sopir dan pengusaha tambang belum taat aturan dan b). Kelengkapan sarana dan prasarana yang
kurang. Untuk lebih jelasnya berdasarkan narasi diatas maka dapat kita lihat bagan kerangka pikir sebagai berikut
Bagan Kerangka Pikir :
G.Fokus Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan melihat Koordinasi Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa dengan Pemerintah Kota Makassar dalam penataan operasional angkutan truk 10 roda di Kota Makassar. Ada dua indikator Koordinasi yang di gunakan yaitu a). Komunikasi, dan b). Pembagian Kerja. Adapun faktor pendukung yaitu a). Kerjasama antara Dinas Perhubungan Kabupaten Gowa dan Dinas Perhubungan Kota Makassar, dan b). Saling percaya antara instansi.
Koordinasi Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa Dengan Pemerintah Kota Makassar
Penataan Operasional Angkutan Truk 10 Roda di
Kota Makassar Variabel Koordinasi 1. Komunikasi.
2. Pembagian Kerja.
Faktor Pendukung 1. Kerjasama antara
Dishub Gowa dan Dishub Makassar.
2. Saling percaya antara Instansi.
Faktor Penghambat 1. Sopir dan
pengusaha tambang belum taat aturan.
2. Kelengkapan Sarana dan Prasarana yang kurang.
Sedangkan faktor penghambat yaitu a). Sopir dan pengusaha tambang belum taat aturan, dan b). Kelengkapan sarana dan prasarana.
H. Deskripsi fokus penelitian
1. Komunikasi yang dimaksud adalah : Bagian dari pola interaksi unsur-unsur dalam sistem sosial, ada tiga sub dari komunikasi tersebut, Yaitu : a). Tukar menukar Pendapat, b). Komunikasi untuk merubah sikap, dan c). Pesan atau ide.
2. Pembagian Kerja yang dimaksud adalah: Untuk dapat berhasil dengan baik dalam usaha mencapai tujuan, adapun dua sub dari pembagian kerja, yaitu : a). Perincian tugas, dan b). Tanggung jawab dalam pelaksanaan kegitan.
3. Kerjasama yang dimaksud adalah : Apabila diperoleh manfaat bersama bagi semua pihak yang terlibat didalamnya ( Win-win ).
4. Saling Percaya antara Instansi yang dimaksud adalah : Adanya kedekatan atau hubungan emosional sehingga terbagun sinergitas antara Instansi.
Adapun sub dari saling percaya antara Instansi, yaitu : a). Merencanakan, b). Mengorganisasikan, c). Mengontrol, dan d). Mengevaluasi.
5. Sopir dan pengusaha tambang yang dimaksud adalah : Sebagai subjek atau pelaku yang terlibat daripada penelitian ini.
6. Kelengkapan Sarana dan Prasarana yang di maksud yaitu : sumber yang berpengaruh daripada terlaksanya pelayanan secara maksimal.
7. Penataan Operasional Angkutan Truk 10 Roda di Kota Makassar yaitu untuk mengurangi tingkat kecelakaan dan kemacetan sehingga kendaraan dapat beroperasi dengan baik sesuai tujuan yang ingin di capai.
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian deskriktif kualitatif mengungkapkan suatu masalah atau keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya sehingga bersifat mengungkapkan fakta dan memberikan gambaran secara objektif tentang keadaan sebenarnya dari objek yang disesuaikan dengan masalah yang akan dibahas menyangkut penataan operasional angkutan truk 10 roda di Kota Makassar .
2. Tipe Penelitian
Tipe Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, peneliti berusaha mengetahui bagaimana proses Koordinasi Pemerintah Kabupaten Gowa dengan Pemerintah Kota Makassar dalam Penataan Operasional
Angkutan Truk 10 Roda di Kota Makassar. Studi kasus adalah suatu inkuiri emperis yang menyelidiki fakta dalam konteks tak tampak dengan tegas, dimana multi sumber bukti di manfaatkan untuk menganalisi data yang diperoleh.
C. Informan Penelitian
Pemilihan informan dalam penelitian ini digunakan metode dengan cara pemilihan secara purposive, informan dipilih berdasarkan pada tujuan penelitian dan pertimbangan tertentu. Adapun yang dijadikan informan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
NO NAMA INISIAL JABATAN KET.
1 Azis Sila AS Kabag Humas
Dishub Kota Makassar
1
2 Abd. Kadir AK Kabid Lalu Lintas
Dishub Kab. Gowa
1
3 Andi Faisal AF Kabid Angkutan
Dishub Kota Makassar
1 4 Abdul Haris AH Kepala seksi angkutan
Dishub Kab. Gowa
1
5 Heryanto HY Koordinator LLAJ
Dishub Kota Makassar
1
6 Darwis DW Staf Seksi Angkutan
Dishub Kab. Gowa
1 7 Isma Wahyuni IW Staf Bidang angkutan
Dishub Kota Makassar
1
8 Sarifuddin SF Sopir Truk 10 roda 1
9 Jamaluddin JM Sopir Truk 10 roda 1
10 Sangkala SK Sopir Truk 10 roda 1
Jumlah 10 Orang
Untuk memperoleh data yang relevan sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan penelitian, maka digunakan teknik pengumpulan data. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang dilakukan secara langsung.
2. Wawancara
Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka, dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan (dialog) kepada pegawai Dinas Perhubungan Kota Makassar, Dinas Perhubungan Kabupaten Gowa dan sopir truk 10 roda yang berhubungan dengan penelitian ini.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui dokumen tertulis, terutama berupa arsip-arsip, dan termasuk juga buku-buku, dokumen resmi maupun statistik yang berhubungan dengan masalah penelitian. Teknik ini dilakukan dengan cara mengadakan penelaahan terhadap bahan-bahan yang tertulis yang meliputi hasil-hasil seminar dan buku-buku serta majalah.
Beberapa data sekunder yang dicari dalam penelitian ini adalah informasi tertulis baik dari dalam maupun dari luar yang dianggap relevan.
F. Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti diolah dan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatifdalam bentuk reduksi data, sajian data serta penarikan kesimpulan dengan menggunakan proses siklus serta pengambilan kesimpulan akhir dengan menggunakan penalaran sistematik. Kemudian peneliti me-nginterprestasikan menjadi seperangkat informasi yang menjabarkan mengenai Koordinasi pemerintah daerah Kabupaten Gowa dengan Pemerintah Kota Makassar dalam penataan operasional angkutan truk 10 roda di Kota Makassar.
Metode analisis yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian kemudian ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif. Hasil analisis data tersebut dijadikan kesimpulan akhir dalam penelitian seperti yang dijelaskan oleh Seiddel (1998) dalam Lexy J.
Moleong (2012:248) bahwa Teknik analisis data mempunyai beberapa proses yaitu:
1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelesuri.
2. Mengumpulkan, memilih-milih, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya.
3. Berpikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum.
G. Pengabsahan Data
Menurut Sugiyono (2009:366), teknik pengumpulan data triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Menurut Sugiyono (2009:368), ada 3 macam triangulasi yaitu:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber berarti membandingkan dengan cara mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, membandingkan antara apa yang dikatakan secara umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
Misalnya data yang diperoleh dengan wawancara, lalu di cek dengan observasi dan dokumentasi.
3. Triangulasi Waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpul dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu, dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga ditemukan kepastian datanya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Obyek Penelitian
1. Gambaran Umum Kota Makassar
Makassar adalah kota besar dengan penduduk mencapai lebih dari 1,3 juta.
Makassar juga merupakankota tujuan bagian timur Indonesia . saat ini Makassar menjadi kota niaga dan bisnis penting di bagian timur Indonesia, sehingga lalu lintas manusia dari dan ke makassar terus mengalami peningkatan. Lalu lintas manusia tersebut ditambah dengan penduduk yang menetap mengakibatkan Makassar semakin padat dan macet. Secara historis, kota Makassar adalah kota yang mayoritas penduduknya beragama islam dengan sumber penghasilan sebagian besar adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS), perindustrian, pengusaha dan sebagian kecil bergerak di bidang perdagangan. Kota Makassar mempunyai posisi strategis karena berada di persimpangan jalur lalu lintas dari arah selatan dan utara dalam provinsi di Sulawesi, dari wilayah kawasan barat ke wilayah kawasan timur Indonesia dan dari wilayah utara ke wilayah selatan indonesia. Dengan kata lain, secara geografis kota Makassar terletak antara 119 derajat bujur timur dan 5,8 derajat lintang selatan dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 permukaan laut. Kota Makassar merupakan daerah pantai yang datar dengan kemiringan 0-5 derajat kearah barat, diapit dua muara sungai yakni sungai tello yang bermuara di bagian utara Kota dan sungai jeneberang yang bermuaran di selatan Kota.
Luas wilayah kota Makassar seluruhnya adalah kurang lebih 175,75 Km dataran dan termasuk 11 pulau di selat Makassar, 14 kecamatan, dan ditambah
1.Visi dan Misi Dinas Perhubungan Kota Makassar a. Visi
“Menuju transportasi perkotaan yang terpadu, berkelanjutan, berorientasi global, serta ramah lingkungan.
Makna pokok yang terkandung dalam visi dinas perhubungan Kota Makassar tersebut, antara lain:
1. Transportasi perkotaan, secara harfiah mengandung makna transportasi yang dapat melayani dan dan beroperasi di wilayah perkotaan Makassar dan sekitarnya.
2. Pelayan transportasi harus sinergi dengan moda-moda transportasi lainnya, yaitu transportasi darat, laut dan udara.
3. Berkelanjutan adalah pembangunan dan pelayanan transportasi dilakukan terus menerus tidak tergantung dengan kondisi apapun.
4. Berorientasi global, artinya sejalan dengan visi kota Makassar, maka pembangunan transportasi harus sejalan dengan perkembangan teknologi dan bermanfaat bagi masyarakat.
5. Ramah lingkungan, artinya teknologi transportasi yang dipilih haruslah teknologi yang ramah terhadap lingkungan guna kelangsungan bumi.
b. Misi :
1. Mewujudkan sarana transportasi yang aman, handal, ramah lingkungan dan terjangkau lapisan masyarakat.
2. Mewujudkan prasarana transportasi yang berkualitas dan memiliki standar nasional dan internasional.
3. Meningkatkan kenyamanan dan keselamatan transportasi.
4. Meningkatkan aksebilitas masyarakat terhadap terahadap pelayanan jasa transportasi.
5. Meningkatkan manajemen transportasi perkotaan yang mudah di akses melalui jaringan transportasi terpadu.
6. Memberdayakan sumber daya aparatur dan meningkatkan kesadaran masyarakat dengan budaya tertib berlalu lintas.
7. Memperkecil tingkat pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh transportasi.
c. Kebijakan :
1. Peningkatan pengadaan, pemeliharaan sarana dan prasarana perhubungan.
2. Peningkatan manajemen transportasi perkotan.
3. Peningkatan pelayanan angkutan anak sekolah gratis.
4. Peningkatan pelayanan angkutan massal.
5. Peningkatan sumber daya aparatur yang cakap, terampil dan terciptanya kesadaran masyarakatterhadap budaya tertib berlalu lintas.
6. Peningkatan pengawasan dan pengendalian operasional lalu lintas dan angkutan.
7. Peningkatan kenyamanan dan keselamatan transportasi.
2. Struktur Organisasi Dinas Perhubungan Kota Makassar
Semua Organisasi yang ada di dunia pasti memiliki struktur organisasi.
Dengan struktur organisasi yang baik maka kerja organisasi dapat berjalan dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Menurut Handjito (2001), organisasi adalah kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar yang memungkingkan anggota mencapai tujuan yang tidak dapat di capai melalui tindakan secara terpisah.
Berdasarkan pengertian diatas, menunjukkan bahwa organisasi merupakan wadah untuk bekerjasama dari sejumlah orang secara formil dalam mencapai suatu tujuan. Dari sekumpulan orang-orang yang ada didalam organisasi diberikan tugas dan wewenang sesuai dengan keahliannya. Maka sangat diperlukan dibentuk sebuah struktur organisasi yang akan memberikan gambaran tentang kedudukan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing individu dalam organisasi.
Adapun struktur organisasi yang dimiliki oleh dinas perhubungan Kota Makassar adalah :
1. Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar.
2. Sekretaris.
a. Kepala sub bagian umum dan kepegawaian.
b. Kepala sub bagian keuangan.
c. Kepala sub bagian perlengkapan.
3. Kepala bidang lalu lintas.
a. Kepala seksi prasarana lalu lintas b. Kepala seksi manajemen lalu lintas.
c. Kepala seksi rekayasa lalu lintas.
4. Kepala bidang angkutan.
a. Kepala seksi angkutan barang.
b. Kepala seksi angkutan orang.
c. Kepala seksi angkutan laut.
5. Kepala bidang pengendalian operasional.
a. Kepala seksi pengumpulan dan pengelohan data.
b. Kepala seksi ketertiban LLAJ.
c. Kepala seksi bimbingan keselamatan LLAJ.
6. Kepala bidang teknik sarana dan prasarana.
a. Kepala seksi perparkiran b. Kepala seksi terminal.
c. Kepala seksi teknik teknik kendaraan dan perbengkelan.
7. Kepala UPTD Pengujian kendaraan bermotor.
a. Kepala tata usaha UPTD-PKB.
C. Profil Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gowa.
Berdasarkan peraturan Pemerintah RI Nomor : 8 Tahun 1995 Kabupaten Gowa ditunjuk sebagai salah satu daerah Tingkat II percontohan urusan pemerintahan di bidang perhubungan yang dituangkan dalam peraturan menteri Nomor 22 tahun 1990, Tentang penyerahan sebagai urusan dalam bidang lalu lintas dan angkutan jalan kepada Dareah Tingkat II.
Konsekwensi dari peraturan pemerintah RI Nomor : 22 Tahun 1990 dan Nomor : 8 Tahun 1995, Maka dibentuk Dinas Lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ). Selanjutnya berubah menjadi Dinas perhubungan Kabupaten Gowa berdasarkan undang-undang Nomor : 22 Tahun 1999 dan peraturan daerah Kabupaten Gowa Nomor : 03 Tahun 2001 Tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Dinas-dinas Kabupaten Gowa.
Pada tahun 2008, Dinas perhubungan Kabupaten Gowa berubah menjadi Dinas perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gowa berdasarkan :
1. Peraturan Daerah Kabupaten Gowa Nomor : 3 Tahun 2008, Tentang : Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Gowa.
2. Peraturan Daerah Nomor : 7 Tahun 2008, Tentang Organisasi dan tata kerja Dinas daerah kabupaten Gowa ( Lembaran Daerah Kabupaten Gowa Tahun 2008 Nomor : 7 ).
Dengan berubahnya Dinas Perhubungan Kabupaten Gowa menjadi dinas perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gowa, maka kantor
informasi dan komunikasi ( Infokom ) di hapus dan sebagian besar urusan/
kegiatan kantor infokom masuk dalam Struktur Organisasi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gowa dan sebagian lagi bergabung dengan unit yang terkait.
1. Visi Misi Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informasi Kabupaten Gowa.
a. Visi
“ Terwujudnya kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pelayanan perhubungan komunukasi yang handal dalam rangka mendukung dan mendorong pertumbuhan ekonomi.”
Makna pokok yang terkandung dalam visi Dinas Perhubungan Komunikasi dan informasi kabupaten gowa yaitu:„ Dinas prhubungan komunikasi dan informasi Kabupaten Gowa, melalui penyelenggaraan pelayanan yang professional diharapkan mampu mendorong terwujudnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas sesuai dengan peraturan dan norma yang berlaku dimasyarakat sehingga tercipta lalu lintas yang selamat aman dan tertib.
b. Misi
Adapun Misi dari Dinas perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Gowa yaitu :
a. Menciptakan peningkatan kualitas pelayanan umum dan tertib penyelenggaraan administrasi perkantoran melalui pemberdayaan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA).
b. Menciptakan penyelenggaraan pelayanan jasa perhubungan komunikasi dan informasi yang berkelanjutan dan kesesuaian guna terwujudnya penyelenggaraan pelayanan yang selamat, aman dan efesien dan dapat dipertanggungjawabkan.
c. Mewujudkan peningkatan jaringan sistem informasi manajemen penyelenggaraan perhubungan komunikasi dan informasi secara terkoordinasi antara pemerintah daerah secara terpadu dan berkesinambungan.
2. Struktur Organisasi Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informasi Kabupaten Gowa.
Semua Organisasi yang ada di dunia pasti memiliki struktur organisasi.
Dengan struktur organisasi yang baik maka kerja organisasi dapat berjalan dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Menurut Handjito (2001), organisasi adalah kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar yang memungkingkan anggota mencapai tujuan yang tidak dapat di capai melalui tindakan secara terpisah.
Berdasarkan pengertian diatas, menunjukkan bahwa organisasi merupakan wadah untuk bekerjasama dari sejumlah orang secara formil dalam mencapai suatu tujuan. Dari sekumpulan orang-orang yang ada didalam organisasi diberikan tugas dan wewenang sesuai dengan keahliannya. Maka sangat diperlukan dibentuk sebuah struktur organisasi yang akan memberikan gambaran tentang kedudukan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing individu dalam organisasi.
Adapun struktur organisasi yang dimiliki oleh dinas perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Gowaadalah :
1. Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi kab. Gowa.
2. Sekretaris.
a. Kepala sub bagian umum dan kepegawaian.
b. Kepala sub bagian perencanaan dan pelaporan.
c. Kepala sub bagian keuangan.
3. Kepala bidang lalu lintas dan angkutan.
d. Kepala seksi lalu lintas e. Kepala seksi angkutan.
f. Kepala seksi pengujian dan perizinan.
4. Kepala bidang teknis sarana dan prasarana.
a. Kepala seksi pembinaan operasional.
b. Kepala seksi peralatan dan pemeliharaan.
c. Kepala seksi terminal dan perpakiran.
5. Kepala bidang informasi dan telematika.
a. Kepala seksi media cetak dan teknologi informasi.
b. Kepala seksi pembinaan radio film dan televisi.
c. Kepala seksi pos dan Telekomunikasi.
6. Kepala bidang pelayanan dan Informasi.
a. Kepala seksi promosi pameran dan penerbitan.
b. Kepala seksi pemb. klp komunikasi dan informasi Masyararakat.
c. Kepala seksi penyuluhan Mobile.
D. Karakteristik Informan
Karakteristik Informan akan dipaparkan berdasarkan jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan.
1. Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin
Keterangan Frekuensi Presentase %
Laki - Laki 9 90 %
Perempuan 1 10 %
Jumlah 10 100 %
Sumber : Diolah dari data Wawancara, September 2016
Distribusi informan jenis kelamin berdasarkan pada tabel diatas menunjukkan bahwa 9 orang berjenis kelamin laki-laki atau sebesar 80 persen, 2 orang berjenis kelamin perempuan atau sebesar 10 persen dari keseluruhan jumlah informan.
2. Karakteristik Informan Berdasarkan Umur.
Karakteristik informan berdasarkan umur dapat dilihat pada table di bawah ini :
Keterangan Frekuensi Presentase %
31-40 6 60 %
40-60 4 40 %
Jumlah 10 100 %
Sumber : Diolah dari data Wawancara, September 2016
Distribusi informan mengenai umur berdasarkan pada tabel diatas menunjukkan bahwa kebanyakan informan memiliki umur yang berkisar dari 31- 40 sebanyak 6 orang informan atau sebesar 60 persen, informan yang berumur 40- 50 sebanyak 4 orang informan atau sebesar 40 persen dari keseluruhan informan.
3. Karakteristik Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan.
Karakteristik informan berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Keterangan Frekuensi Presentase %
S 1 7 70 %
SMA 0 0 %
SMP 3 30 %
SD 0 0 %
Jumlah 10 100 %
Sumber : Diolah dari data Wawancara, September 2016
Distrubusi informan mengenai tingkat pendidikan berdasarkan pada tabel diatas menunjukkan bahwa yang berpendidikan S1 sebanyak 7 orang atau sebesar 70 persen, informan yang berpendidikan SMA atau sebesar 0 persen, informan yang berpendidikan SMP 3 orang atau sebesar 30 persen dan orang yang berpendidkan SD atau sebesar 0 persen dari keseluruhan jumlah informan.
4. Karakteristik berdasarkan pekerjaan.
Karakteristik informan berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Keterangan Frekuensi Presentase %
Pegawai 5 50 %
Staf 2 20 %
Sopir 3 30 %
Jumlah 10 100 %
Sumber : Diolah dari data Wawancara, September 2016
Distribusi informan mengenai pekerjaan berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa 5 orang yang bekerja sebagai pegawai atau 50 persen,
2 orang yang bekerja sebagai staf atau sebesar 20 persen, dan 3 orang yang bekerja sebagi sopir atau sebesar 30 persen dari keseluruhan jumlah informan.
5. Karakteristik informan berdasarkan pendapatan.
Karakteristik informan berdasarkan pendapatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Keterangan Frekuensi Presentase %
<Rp 500.000 – 1.500.000 5 50 %
2.000.000 – 4.000.000 5 50 %
Jumlah 10 100 %
Sumber : Diolah dari data Wawancara, September 2016
Distribusi informan pendapatan perbulan perbulan berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa 5 orang berpenghasilan kurang lebih Rp 500.000 – Rp 1.500.000 perbulan atau sebesar 50 persen, dan 5 orang yang berpenghasilan dari Rp 2.000.000 – 3.000.000 perbulan atau sebesar 50 persen dari keseluruhan jumlah informan.
E. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hal ini penulis menyajikan semua data yang diperoleh dengan cara wawancara kepada responden di Dinas Perhubungan Kota Makassar dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Gowan yang berhubungan dengan Koordinasi Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa Dengan Pemerintah Kota Makassar Dalam Penataan Operasional Angkutan Truk 10 Roda Di Kota Makassar. Dalam variabel koordinasi antar kedua instansi tersebut dalam upaya penataan operasional angkutan truk 10 roda di Kota Makassar, Penulis
menjabarkan kedalam beberapa indikator yang di uraikan menjadi beberapa pertanyaan-pertanyaan.
1. Komunikasi
Komunikasi tidak dapat dipisahkan dari koordinasi, karena komunikasi, sejumlah unit dalam organisasi akan dapat dikoordinasikan berdasarkan rentang dimana sebagaian besar ditentukan oleh adanya komunikasi. Adapun indikator dari variabel Komunikasi adalah : a). Tukar menukar pendapat, b).Pesan atau ide.
, dan c). Komunikasi untuk merubah sikap.
1.a. Tukar Menukar Pendapat.
Tukar menukar pendapat yang di maksud adalah adanya pertukaran informasi dilakukan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain dengan menyampaikan pendapat agar hubungan keduanya terjalin dengan baik.
Berikut wawancara peneliti dengan Kabag Humas Dinas perhubungan Kota Makassar, mengatakan bahwa :
“ Tetap berkomunikasi dengan Dinas perhubungan Kabupaten Gowa, karena saya menganggap dengan komunikasi itu kitadapat bertukar pendapat serta bisa menyatukan presepsi dalam penataan terkait jalur angkutan truk baik 10 roda maupun truk sumbu 8 dan komunikasi juga membuat hubungan kami tetap berjalan.” ( As, Wawancara Tanggal 18 April 2017 )
Pernyataan Kabag Humas Dinas Perhubungan Kota Makassar tentang Komunikasi memperlihatkan bahwa tukar menukar pendapat atau informasi yang dilakukan kedua instansi sangat di butuhkan unuk dapat menyatukan pendapat di dalam penataan truk 10 yang akan beroperasi di Kota Makassar sehingga dapat mewujudkan tujuan masing-masing kedua instansi tersebut
Kemudian wawancara peneliti dengan Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Gowa mengatakan bahwa :
“Tetap ada komunikasi dengan Dinas Perhubungan kota Makassar, bahkan ini sudah pernah duduk bersama yang mana Makassar itu di wakili Kepala Dinas Perhubungan, Meskipun yang diharapkan hadir itu Bapak Walikota termasuk juga di Gowa yang diharapkan hadir adalah Bapak Bupati tetapi diwakili oleh Kepala Dinas perhubungan Masing- masing, bahkan sudah pernah dipertemukan dua kali tetapi hasil dari pertemuan itu membuat tempat penampungan diperbatasan yang tidak mengganggu jam operasi di Gowa dan tidak mengganggu operasi di Makassar.” ( Ak, Wawancara Tanggal 19 April 2017 ).
Hasil wawancara dengan informan diatas menunjukkan bahwa Komunikasi memang menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam mencapai tujuan bersama dalam penataan angkutan truk 10 roda di kota Makassar dan Kabupaten Gowa, Walaupun dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Gowa tidak bisa hadir maupun dan hanya mengutus pegawai lain dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Gowa yang menghadiri undangan dari Dinas Perhubungan Kota Makassar, mereka tetap melakukan komunikasi dengan baik agar kedua instansi tersebut tidak putus dan saling menghargai ketika ada kegiatan/agenda yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Makassar sehingga hal ini dapat mengurangi misskomunikasi antara kedua instansi .
Hasil wawancara dengan salah satu Staf Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Makassar mengatakan bahwa :
“ Komunikasi yang dilakukan selama ini dengan dinas perhubungan Kabupaten Gowa terjalin dengan baik, meskipun komunikasi yang dilakukan terkadang hanya lewat sms atau telpon karena Saya ingin hubungan kami ( Dinas Perhubungan Kota Makassar dengan Dinas