• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Madrasah

Dalam dokumen KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA MADRASAH (Halaman 149-154)

BAB VII PENDIDIKAN DI MADRASAH

A. Pengertian Madrasah

embaga pendidikan Islam yang memiliki ciri khas dan menjadi mediasi dua sistem pendidikan di Indonesia (kutub dikotomi pendidikan yakni umum dan Islam), yang sering disebut dengan istilah madrasah. Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang lahir dari konsensus sejarah pendidikan khususnya di Indonesia, baik secara politik, budaya, maupun ilmu pengetahuan. Kata „madrasah‟ berasal dari bahasa Arab „madrasah‟yang artinya „tempat belajar‟.

Sebagai tempat belajar, kata „madrasah‟ dapat disamakan dengan kata „sekolah‟ (Kosim, 2007: 42). Pengertian sederhana tersebut menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam yang dipersepsikan sama dengan sekolah disebut dengan madrasah.

Kata madrasah dalam bahasa Arab adalah bentuk kata keterangan tempat (zharaf makan) dari kata darasa. Secara harfiah madrasah diartikan sebagai tempat belajar para pelajar atau tempat untuk memberikan pelajaran (Nakosteen, 1996: 66).

Selanjutnya pandangan lain, madrasah merupakan isim makan dari “darasa” yang berarti tempat duduk untuk belajar. Istilah madrasah ini sekarang telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan (terutama Islam) (MS. Poerwadarminta, 1990:

618). Pengertian di atas menunjukkan bahwa madrasah dalam perjalanannya merupakan khazanah pendidikan di Indonesia karena dari sisi pengertian memberikan kedudukan yang sama dengan sekolah yang fungsinya mencerdaskan anak banga.

L

Secara umum, kata madrasah jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti sekolah, kendati pada mulanya sekolah itu sendiri bukan berasal dari bahasa Indonesia melainkan dari bahasa asing, yaitu school atau scola (Fadjar, 1998: 111).

Secara harfiyah, kata madrasah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah sekolah. Meskipun berakar dari tradisi Timur Tengah, namun fenomena madrasah di Indonesia memiliki interprestasi yang berbeda. Di Timur Tengah madrasah disebut sebagai lembaga pendidikan tradisional yang tidak mengenal sistem klasikal dan penjenjangan, sementara istilah madrasah yang ada di Indonesia diadopsi dari sistem persekolahan Barat untuk memenuhi kebutuhan modernisasi pendidikan Islam (Asrohah, 1999: 193). Meskipun di Indonesia terdapat institusi pendidikan yang bersifat tradisional, yakni pesantren, tetapi kebijakan pemerintah cenderung mempertahankan identitas tersebut dengan memanfaatkan istilah lain yakni Madrasah sebagai „kompromi sejarah‟.

Jika dilihat dari konteks kurikulum, madrasah yang ada di Timur Tengah sama dengan materi kurikulum pondok pesantren yang ada di Indonesia. Pengaruh Timur Tengah tersebut dapat dilihat dari pembidangan ilmu agama yang diajarkan di madrasah yang dikelompokkan menjadi empat bidang utama, yaitu: (1) Hadits, (2) Fiqh/ushul fiqh, (3) Kalam, dan (4) Tafsiral-Qur'an (Rahman, 1984: 275). Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam, dapat dipahami mengingat pemberian nama lebih cenderung pada fungsi esensialnya sebagai lembaga pendidikan Islam, yaitu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan Islam dan sekaligus menyebarluaskan paham keagamaan (Ninik Masruroh dan Umiarso, 2011: 129). Madrasah dilihat dari istilah yang lahir dalam „rahim‟ khazanah pendidikan Islam, tetap dipertahankan sebagai wahana transmisi dan ekspansi ilmu pengetahuan Islam

Melalui perkembangan tuntutan dan kebutuhan, berbagai identitas baru dilabelkan kepada madrasah, seperti madrasah berbasis research, madrasah berbasis entrepreneurship, madrasah berbasis Ipteks, madrasah berbasis agribisnis, madrasah berbasis pesantren, dan seterusnya.

Madrasah dari segi istilah tidak melepaskan dari identitas pembelajaran agama Islam, madrasah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang menyediakan pembelajaran dalam pengetahuan agama Islam (Eliade, 1993:77). Pemberian label yang dilekatkan pada madrasah merupakan upaya mengintegrasikan pendekatan lain dalam basis pendidikan di madrasah. Sikap inklusif (keterbukaan) madrasah terhadap dinamika dan kebutuhan masyarakat menjadi sebuah keharusan agar tetap eksis sebagai institusi pendidikan Islam dan sekaligus asset masyarakat muslim.

Dinamika madrasah telah menampilkan berbagai

„wajah‟ baru yang tidak hanya belajar pada dimensi ajaran Islam, tetapi juga menampilkan dimensi ilmu pengetahuan umum. Madrasah menurut orang awam adalah lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah yang mengajarkan agama Islam saja, perpaduan antara ilmu agama Islam dan ilmu umum, maupun ilmu berbasis ajaran Islam (Nata, 2012: 204).

Ekspansi sistem pendidikan di madrasah berimplikasi kepada pengenalan generasi muda tentang epistemologi ilmu pengetahuan secara umum, di samping mempertahankan tradisi keilmuan di dalam Islam. Ekspektasi masyarakat menjadikan madrasah sebagai institusi pendidikan yang mampu melahirkan generasi muslim yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat mengembangkan peradaban Islam.

Transformasi kehidupan social dan sains mengalami akselerasi tak terkontrol, sehingga berdampak disrupsi pada tatanan kehidupan khususnya dalam dunia Islam. Generasi muda Islam menghadapi berbagai tantangan secara diametral

juga dialami oleh lembaga pendidikan Islam. Ilmuwan muslim berusaha mencari solusi atas problematika tersebut, dengan tetap mempertahankan identitas dan kepribadian muslim di tengah akselerasi Ipteks melalui lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan alternatif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan umum dengan tetap berpijak pada motif keagamaan lembaga tersebut adalah madrasah (Makmun, 2010:

138). Lahirnya ilmuwan muslim meletakkan value fundament terhadap pendidikan Islam yakni membuka „gerbang‟

kebebasan berkreasi dan berijtihad dalam memformulasikan sistem pendidikan madrasah sejalan dengan dinamika zaman.

Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki dua sisi, yakni menjaga tradisi Islam secara komprehensisf dalam masyarakat yang bersifat kontiniunitas dan mengembangkan kreativitas dan inovasi sebagai bagian dari paradigma ilmu pengetahuan dan teknologi, yang disebut relativitas. Kontiniunitas dan relativitas menjadi dua sisi yang terus dipertahankan agar selalu melekat dan nilai dasar dalam sistem pendidikan di madrasah. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Zuhairi (1993: 25) yang menyebutkan bahwa madrasah dalam arti tempat belajar adalah untuk mengajarkan dan mempelajari ajaran-ajaran agama Islam, ilmu pengetahuan dan keahlian lainya yang berkembang pada zamannya. Dengan demikian, madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang selalu terbuka terhadap perkembangan zaman sehingga dapat memberi solusi terhadap berbagai permasalahan umat Islam.

Pendidikan di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri, karena dipengaruhi oleh berbagai elemen, seperti keanekaragam budaya dan agama, demografi, sejarah sosial, ideologi, dan cita-cita pembangunan nasional. Perkembangan madrasah di Indonesia merupakan akumulasi dari perjalanan panjang sejarah yang „mewarnai‟ dalam formulasi sistemnya.

atas tradisi persekolahan yang dikembangkan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Dengan struktur dan mekanisme yang hampir sama, dan sekilas madrasah merupakan bentuk lain dari sekolah dengan muatan dan corak keislaman (Simanjuntak, 1972: 24). Awalnya sekolah yang dibentuk Belanda, mendapat penolakan dari sebagian besar masyarakat Islam, karena tidak mempelajari agama, pada sisi lain, juga mengakui keterbatasan generasi muda terhadap ilmu pengetahuan umum dan teknologi.

Konteks ini menjadi diskusi penting untuk mengakomodasi permasalahan tersebut, dan madrasah menjadi solusinya.

Pembentukan madrasah, sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam di luar pesantren yang tidak seluruhnya menerapkan kurikulum keislaman dan yang menerapkan sistem klasikal, juga membawa perubahan terhadap otoritas kyai dilembaga pendidkan Islam. Madrasah tidak menerapkan manajemen pendidikan dengan otoritas. Hal itu juga berlaku pada kebanyakan madrasah swasta yang didirikan atas dukungan kyai dan elemen masyarakat lainnya (Djamas, 2009: 205). Madrasah sebagai ejawantah pendidikan modern dari sistem tradisional, berimplikasi kepada sistem manajerial dan kepemimpinan yang modern, sehingga dapat lebih otonom, kreatif, kooperatif, inklusif, dan kompetitif.

Madrasah sebagai saluran representatif masyarakat muslim mengikuti pendidikan, dapat melahirkan generasi yang kredibel dan fungsional di masyarakat. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam alternatif terhadap moderasi Islam dan sains sejatinya menjadi kebanggaan umat Islam.

Kemunculan dan perkembangan madrasah tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan Islam yang diawali oleh usaha sejumlah tokoh intelektual agama kemudian dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam baik di Jawa, Sumatra, maupun Kalimantan (Noer, 1995: 7). Madrasah sebagai refleksi kebangkitan Islam melalui jalur pendidikan formal, baik

sebagai sarana pendidikan Islam yang mentradisi maupun sebagai instrument pengembangan ilmu pengetahuan dan tenologi.

Dalam dokumen KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA MADRASAH (Halaman 149-154)