BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2.3 Jenis-Jenis Rasio Keuangan
Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa rasio keuangan. Setiap rasio keuangan memiliki tujuan, kegunaan dan arti tertentu. Kemudian, setiap hasil dari rasio yang diukur diinterpretasikan sehingga menjadi berarti bagi pengambilan keputusan. Berikut adalah bentuk-bentuk rasio keuangan menurut beberapa ahli keuangan :
Bentuk-bentuk rasio keuangan adalah sebagai berikut: Kasmir (2019: 106) 1. Rasio Likuiditas (Liquiditiy Ratio)
- Rasio Lancar (Current Ratio)
- Rasio Sangat Lancar (Quick Ratio atau Acid Test Ratio) 2. Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio)
- Total utang dibandingkan dengan total aktiva atau rasio utang (Debt Ratio)
- Jumlah kali perolehan bunga (Times Interest Earned) - Lingkup Biaya Tetap (Fixed Charge Coverage) - Lingkup Arus Kas (Cash Flow Coverage) 3. Rasio Aktivity (Activity Ratio)
- Perputaran Sediaan (Inventory Turn Over)
- Rata-rata jangka waktu penagihan/perputaran piutang (Average Collection Period)
- Perputaran aktiva tetap (Fixed Assets Turn Over) - Perputaran total aktiva (Total Asets Turn Over) 4. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
- Margin laba penjualan (Profit Margin on Sales) - Daya laba dasar (Basic Earning Power)
- Hasil pengembalian total aktiva (Return on Total Assets) - Hasil Pengembangan Ekuitas (Return on Total Equity)
5. Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan mempertahankan posisi ekonominya ditengah pertumbuhan perekonomian dan sektor usahanya.
- Pertumbuhan penjualan - Pertumbuhan laba bersih
- Pertumbuhan pendapatan per saham - Pertumbuhan deviden per saham
6. Rasio penilaian (Valuation Rasio), yaitu rasio yang memberikan ukuran kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai pasar usahanya diatas biaya investasi.
- Rasio harga saham terhadap pendapatan - Rasio nilai pasar saham terhadap nilai buku 2.2.4 Return On Equity (ROE)
“Menurut Kasmir (2019: 201) adalah sebagai berikut: Hasil pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) atau rentabilitas modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya.”
Rumus Return On Equity, menurut Kasmir (2019:201) :
2.2.5 Debt To Equity Ratio
Menurut Sugiyono (2018:71) rasio ini menunjukan perbandingan hutang dan modal. Rasio ini merupakan salah satu rasio penting karena berkaian dengan masalah trading on equiy, yang dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap rentabilitas modal sendiri dan perusahaan tersebut.
Menurut Kasmir (2019:157) debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.
Equity = Laba Bersih Setelah Pajak
Total Ekuitas
Rumusan untuk mencari debt to equity ratio dapat digunakan perbandingan antara total utang dengan total ekuitas sebagai berikut (Kasmir, 2019:158):
Berdasarkan beberapa definisi yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa debt to equity ratio merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya dengan ekuitas yang dimiliki.
2.2.6 Current Ratio
Menurut Kasmir (2019:134) menyatakan bahwa rasio lancar atau (current ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan Membagi kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Rasio lancar dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu perusahaan.
Menurut Hanafi dan Halim (2016:204) menyatakan bahwa rasio lancar dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan hutang lancar. Rasio ini menunjukan besarnya kas yang dipunyai perusahaan ditambah aset- aset yang bisa berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun, relatif terhadap besarnya hutang-hutang yang jatuh tempo dalam jangka waktu dekat (tidak lebih dari 1 tahun), pada tanggal tertentu seperti tercantum pada neraca.
Rumusan untuk mencari current ratio menurut Kasmir (2019:135) yaitu:
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa current ratio merupakan rasio untuk mengukur likuiditas perusahaan dalam Membagi hutang jangka pendek dengan aset lancar yang dimiliki perusahaan.
2.2.7 Net Profit Margin (NPM)
“Menurut Kasmir (2019:200), menyatakan bahwa Net profit margin merupakan ukuran keuntungan yang membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjulan. Rasio ini menunjukkan pendapatan bersih perusahaan atas penjulan. Rasio ini juga dibandingkan dengan rata-rata industri.”
Rumus net profit margin (NPM), menurut (Kasmir, 2018:200):
Semakin tinggi nilai NPM maka menunjukkan semakin baik. Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Net Profit Margin adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba di setiap penjualan yang telah di kurangi bunga dan pajak disetiap periode.
2.2.8 Pengertian Dividen dan Kebijakan Dividen
Menurut Harnanto (2016 : 299) dividen adalah imbalan atau kompensasi yang diterima atau diperoleh atas investasi atau penyertaan modal pada suatu perusahaan atau badan usaha. Sebagai imbalan atas investasi atau penyertaan modal pada suatu perusahaan atau badan usaha, umumnya dividen hanya diberikan atau dibayarkan apabila perusahaan atau badan usaha terkait memperoleh keuntungan dari kegiatan usahanya. Menurut Bambang (2017 : 393) dividen pada dasarnya merupakan bagian dari keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam periode tertentu yang dibagikan kepada pemilik (pemegang saham).
Net Profit Margin = Laba Bersih setelah Pajak Pendapatan Penjualan bersih
Menurut Sartono (2016 : 281) kebijakan dividen merupakan keputusan untuk membagi laba yang diperoleh perusahaan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan menahan dalam bentuk laba ditahan untuk digunakan sebagai pembiayaan investasi pada masa yang akan datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern atau internal financing. Sebaliknya jika perusahaan memilih untuk menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan pembetukan dana intern akan semakin besar.
“Menurut Sumiati (2019 : 193) perusahaan yang menggunakan sumber pendanaan saham mempunyai tanggung jawab yaitu Membagi imbalan kepada pemegang saham yaitu deviden. Keputusan pembagian dividen dilakukan melalui mekanisme dimaa Direksi melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) yang lazimnya dilakukan setiap tahun untuk mempertanggungjawabkan dalam kaitannya dengan pembagian dividen.”
Pedoman Standar Akuntansi Keuangan nomor 23 menyatakan bahwa dividen dari investasi yang tidak dapat diperhitungkan dengan metode ekuitas harus diakui bila hak pemegang saham untuk menerima pembagian ditetapkan dan apabila kemungkinan besar manfaat ekonomik sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir ke entitas dan jumlah pendapatan dapat diukur secara andal dari sudut pandang hukum, hak pemegang saham untuk menerima pembagian dividen dilaksanakan jika nama pemegang saham itu tertera dalam daftar pemegang saham perusahaan yang Membagikan dividen pada tanggal daftar tersebut ditutup untuk menentukan siapa saja pemegang saham yang berhak menerima dividen. Untuk dividen interim, biasanya diperlakukan pengesahan formal dalam rapat umum. Oleh karenanya hak untuk menerima dividen interim
dapat dilaksanakan pada tanggal dividen itu diajukan dan diumumkan oleh dewan direksi.
Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, pasal 71 ayat (2) bahwa seluruh laba bersih setelah dikurangi penyisihan untuk cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1) dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen, kecuali ditentukan lain dalam RUPS. Pasal 71 ayat (3) Dividen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba yang positif. Sedangkan yang dimaksud seluruh laba bersih adalah seluruh jumlah laba bersih dari tahun buku yang bersangkutan setelah dikurangi akumulasi kerugian Perseroan dari tahun buku sebelumnya.
Kebijakan pembagian dividen dijelaskan dalam Undang – Undang Perseroan Terbatas No.40 Tahun 2007 Pasal 71 ayat 1, keputusan pembagian dividen perusahaan ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Pasal 72 ayat 4 pembagian dividen interim ditetapkan berdasarkan keputusan Direksi setelah memperoleh persetujuan Dewan Komisaris. Kebijakan dividen bermula dari bagaimana perlakuan manajemen terhadap keuntungan perusahaan yang umumnya sebagian dari penghasilan bersih setelah pajak dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen dan sebagian lagi diinvestasikan kembali ke perusahaan dalam bentuk laba ditahan.
2.2.9 Teori Kebijakan Dividen
Sebuah teori akan memberikan petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada pengetahuan peneliti. Berikut ini terdapat beberapa teori kebijakan dividen:
Sumiati (2019 : 193)
1. Teori pertama yaitu teori dividen adalah tidak relevan, Modigliani-Miller (MM) berpendapat bahwa di dalam kondisi bahwa keputusan investasi yang given, pembagian dividen tidak berpengaruh terhadap kemakmuran pemegang saham. Lebih lanjut lagi MM berpendapat bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earning power dari aset perusahaan. Dengan demikian perusahaan ditentukan oleh keputusan invesatasi. Sementara itu keputusan apakah laba yang diperoleh akan dibagikan dalam bentuk dividen atau akan ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan. MM membuktikan pendapatnya secara matematis dengan asumsi:
a. Pasar modal yang sempurna dimana semua investor bersikap rasional.
b. Tidak ada pajak perseorangan dan pajak penghasilan perusahaan.
c. Tidak ada biaya emisi dan biaya transaksi.
d. Kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap biaya modal sendiri perusahaan.
e. Informasi tidak tersedia untuk setiap individu terutama yang menyangkut tentang kesempatan investasi.
2. Teori kedua yaitu Bird-In-The Hand Theory, Myron Gordon dan John Lintner berpendapat kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap harga pasar saham. Artinya, jika dividen yang dibagikan perusahaan semakin besar, harga
pasar saham perusahaan tersebut akan semakin tinggi dan sebaliknya.
Investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembagian dividen daripada menunggu capital gain. Hal ini terjadi karena pembagian dividen dapat mengurangi ketidakpastian yang dihadapi investor. Sementara itu MM berpendapat dan telah dibuktikan secara matematis bahwa investor merasa sama saja apakah menerima dividen saat ini atau menerima capital gain di masa datang. Gordon-Lintner beranggapan bahwa investor memandang satu burung di tangan lebih berharga daripada seribu burung di udara.
3. Teori ketiga yaitu Tax Differencial Theory, teori ini berpendapat karena dividen cenderung dikenakan pajak yang lebih tinggi daripada capital gain, maka investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untu saham dengan dividend yield yang tinggi. Jika capital gain dikenakan pajak dengan tarif lebih rendah daripada pajak atas dividen, maka saham yang memiliki tingkat pertumbuhan.
2.2.10 Jenis – Jenis Pembagian Dividen
Jenis-jenis pembagian dividen dibagi menjadi 4 yaitu: Yuniarsih (2018:107-108)
1. Dividen Tunai
Dewan direksi melakukan pemungutan suara untuk mengumukan dividen tunai dan jika hasilnya disetujui, maka dividen segera diumumkan. Sebelum dividen dibayarkan, daftar pemegang saham terakhir harus disiapkan.Karena itu, biasanya teradapat tenggang waktu antara saat pengumuman dan pembagian. Pengumuman dividen tunai merupakan liabilitas, dan karena pembagian biasanya dilakukan dengan segera, maka biasanya disebut sebagai liabilitas lancar.
2. Dividen Properti
Hutang dividen dalam bentuk aset perusahaan selain kas disebut sebagai dividen properti. Dividen properti dapat berupa barang dagang, real estate, atau investasi, atau bentuk lainnya yang dirancang oleh dewan direksi. Ketika dividen properti diumumkan, perusahaan harus menetapkan kembali nilai wajar properti yang akan dibagikan, dengan mengakui setiap keuntungan atau kerugian sebagai perbedaan antara nilai wajar dan nilai buku properti pada tanggal pengumuman.
3. Dividen Likuidasi
Dividen yang tidak didasarkan pada laba ditahan disebut sebagai dividen likuidasi, yang menyiratkan bahwa dividen ini merupakan pengembalian dari investasi pemegang saham dan bukan dari laba. Dengan kata lain, setiap dividen yang tidak didasarkan pada laba merupakan pengurangan mdal disetor perusahaan dan sejauh itu merupakan dividen likuidasi. Perusahaan dalam industri ekstraktif bisa Membagi dividen yag sama dengan total akumulasi laba dan deplesi. Bagian dari dividen itu yang melebihi akumulasi laba merupakan pengembalian sebagian dari investasi pemegang saham.
4. Dividen Saham
Dividen saham merupakan penerbitan oleh suatu perseroan atas saham miliknya sendiri kepada pemegang saham atas dasar prorata. Beberapa akuntan berpendapat bahwa nilai pari saham yang diterbitkan sebagai dividen harus ditransfer dari laba ditahan ke modal saham. Sementara yang lainnya berpendapat bahwa nilai wajar saham yang diterbitkan yaitu nilai pasarnya pada tanggal pengumuman harus ditransfer dari laba ditahan ke modal saham dan tambahan modal disetor.
2.2.11 Hubungan Antar Variabel
2.2.11.1 Hubungan Return On Equity terhadap Kebijakan Dividen
Menurut Kasmir (2019:201) return on equity (ROE) atau rentabilitas modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri.
Semakin tinggi rasio ini, semakin baik.” Penelitian dari Renika, dkk (2016) return on equity berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.
Penelitian dari Puteri, dkk (2016) return on equity berpengaruh terhadap kebijakan dividen karena dalam laporan keuangan perusahaan menyatakan bahwa
dividen yang dibagikan kepada pemegang saham berasal dari laba yang dihasilkan di tahun tersebut.
Beberapa penelitian tentang pengaruh return on equity terhadap kebijakan dividen. Namun, hasil penelitian tersebut tidak sejalan dengan hasil yang dilakukan oleh Pratiwi (2016) return on equity tidak berpengaruh signifikan terhada p kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2014. Dan Aini (2017) return on equity berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen yang di proksikan dengan dividend payout ratio.
2.2.11.2 Hubungan Debt to Equity Ratio terhadap Kebijakan Dividen
Debt to Equity Ratio “menurut Kasmir (2019: 157) adalah debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.” Penelitian dari Sari, dkk (2016) Debt equity ratio berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen.
Sudjarni, dkk (2015) Leverage (DER) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, Rahmawati Dwika Pratiwi, Ely Siswanto, Lulu Nurul Istanti (2016) DER berpengaruh negatif signifikan terhadapkebijakan dividen.
Apriliani, dkk (2017) debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Semakin tinggi debt to equity ratio maka maka semakin rendah
pembagian dividen kepada pemegang saham. Perusahaan lebih memilih Membagi hutang dan beban bunga sehingga perusahaan mengurangi laba bersih yang akan berdampak pada dividen yang lebih rendah kepada pemegang saham.
Beberapa penelitian tentang pengaruh kebijakan hutang terhadap kebijakan dividen. Namun, hasil penelitian tersebut tidak sejalan dengan hasil yang dilakukan oleh Novianto (2017) variabel kebijakan hutang tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Hal tersebut kemungkinan disebabkan adanya tekanan dari pemegang saham terhadap manajer untuk tetap membagikan dividen walaupun dalam keadaan berhutang. Dibagikannya dividen kepada para pemegang saham bertujuan untuk menjaga reputasi perusahaan sehingga perusahaan tetap baik dimata para investor.
2.2.11.3 Hubungan Current Ratio terhadap Kebijakan Dividen
Rasio lancar (current ratio) menurut Kasmir (2019: 134) adalah rasio lancar atau current ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam Membagi kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo.
Kas merupakan salah satu bagian dari likuiditas. Penelitian dari Sari, dkk (2016) current ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, Sudjarni, dkk (2015) current ratio (CR) berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen. Perusahaan yang mampu menjaga likuiditas
keuangannya akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk membagikan dividen karena perusahaan tidak terbebani oleh kewajiban jangka pendeknya.
Namun, hasil penelitian tersebut tidak sejalan dengan hasil yang dilakukan oleh Novianto (2017) Current ratio tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Alasannya dana yang diperoleh dari aset lancar dialokasikan untuk pembagian selain dividen. Dengan tingginya tingkat current ratio pada perusahaan tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan tersebut tidak membagikan dividen mengalokasikan dana dari bagian likuiditas untuk penambahan aset tetap guna menutup kerugian atas risiko yang diakibatkan oleh bencana alam dan risiko lainnya. Dan penelitian yang dilakukan oleh Aini (2017) current ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen 2.2.11.4 Hubungan Net Profit Margin tehadap Kebijakan Dividen
Net profit margin “menurut Kasmir (2019: 202) adalah ukuran keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan pendapatan bersih perusahaan atas penjualan.” Apriliani dkk (2017) net profit margin tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Alasannya semakin rendah net profit margin maka semakin rendah perusahaan Membagi dividen karena rendahnya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.
2.3 Kerangka Konseptual
Kebijakan pembagian dividen melibatkan dua pihak yang mempunyai kepentingan yang berbeda, yaitu pemegang saham dan perusahaan. Ditinjau dari
“Undang – Undang Perseroan Terbatas No.40 Tahun 2007 , keputusan pembagian
dividen perusahaan ditetapkan berdasarkan keputusan direksi setelah memperoleh persetujuan komisaris. Sebagaimana ketentuan yang berlaku bahwa dividen pada dasarnya dibayar dari laba yang diperoleh oleh perusahaan pada tahun berjalan yang merupakan arus kas (cash inflow) yang disisihkan untuk pemegang saham.”
Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh return on equity, debt to equity ratio, current ratio dan net profit margin. Return on equity, net profit margin, current ratio dan debt to equity ratio sebagai variabel bebas ditetapkan sebagai variabel control. Berdasarkan latar belakang, penelitian terdahulu dan kajian teori yang telah dibahas pada bab sebelumnya, maka kerangka konseptual dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.4 Hipotesis / Research Question
1. H1 = Return on Equity berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.
2. H2 = Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.
Kebijakan Pembagian Dividen
(Y) Return On Equity (X1)
Debt to Equity Ratio (X2) Current Ratio (X3) Net Profit Margin (X4)
3. H3 = Current Ratio berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.
4. H4 = Net Profit Margin berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.
35 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Proses Berpikir
Tinjauan Empirik
1. Ariski Novianto dan Nadia Asandimitra (2017) Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial, Dan Kebijakan Hutang Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Sektor Pertanian Yang Terdaftar Di BEI. Volume 5 Nomor 3 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya 2. Marvita Renika Sari, Abrar Oemar, Rita Andini
(2016) Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan, Ukuran Perusahaan, Earning Per Share, Current Ratio, Return On Equity Dan Debt Equity Ratio Terhadap Kebijakan Dividen (Studi Pada Perusahaan Manufaktur di B E I Tahun 2011 – 2014). Volume 2 No.2 Universitas Pandanaran Semarang
3. Amalia Apriliani dan Kartina Natalylova (2017) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia. Vol. 19, No. 1a STIE Trisakti 4. Komang Ayu Novita Sari, Luh Komang Sudjarni
(2015) Pengaruh Likuiditas, Leverage, Pertumbuhan Perusahaan, Dan Profitabilitas Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur Di BEI. Vol. 4,No. 10 ISSN : 2302- 8912 Universitas Udayana
5. Rahmawati Dwika Pratiwi, Ely Siswanto, Lulu Nurul Istanti (2016) Pengaruh Return On Equity,Debt To Equity Ratio dan Umur Perusahaan Terhadap Kebijakan Dividen. Tahun 21, Nomor 2 Universitas Negeri Malang
6. Irene Mardian Puteri dan Sudarto (2016) Analisis Pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, Insider Ownership, Institutional Ownership dan Pertumbuhan Perusahaan terhadap Kebijakan Dividen pada Perusahaan Sektor Properti, Real Estate dan Konstruksi Bangunan. Vol. 2, No. 1 E- ISSN: 2460-9412 Universitas Jendral Soedirman.
7. Fadila Aini (2017) Pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, Dan Harga Saham Terhadap Kebijakan Dividen ( Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011- 2015). Universitas Negeri Padang.
Tinjauan Teoritik
1. Undang-undang No 40 Tentang Perseroan Terbatas (2007) pengertian perusahaan, pengertian dividen dan pengertia kebijakan dividen
2. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2017) No 23 tentang pengertian dividen
3. Kariyoto (2018) pengertian laba 4. Kasmir 43(2019) pengertian return
on equity, debt to equity ratio, current ratio dan net profit margin 5. Harnanto (2016) dan Bambang
(2017) pengertiaan dividen
6. Sartono (2016) pengertian kebijakan dividen
7. Nur Khusniyah Sumiati (2019) teori kebijakan dividen
8. Nia Yuniarsih (2018) jenis pembagian dividen
Gambar 3.1
Sumber : Peneliti (2020)
3.2 Definisi Operasional Dan Pengukuran Variabel 3.2.1 Return On Equity
Merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total aset yang dimiliki.
3.2.2 Debt To Equity Ratio
Merupakan rasio menunjukan perbandingan hutang dan modal. Rasio ini digunakan untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan.
Uji Statistik
Analisis deskriptif, regresi logistik
Hipotesis
1. H1 = Return on Assets berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.
2. H2 = Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.
3. H3 = Current Ratio berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.
4. H4 = Net Profit Margin tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.
DER = Total Utang Total Ekuitas
Equity = Laba Bersih Setelah Pajak
Total Ekuitas
Pengaruh Return On Equity, Debt To Equity Ratio, Current Ratio Dan Net Profit Margin Pada Perusahaan Perdagangan Dan Jasa Non Keuangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia