• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORITIS

A. Kajian Teori

1. Kemampuan Guru Mengintegrasikan Pelajaran Umum dan Agama a. Pengertian kemampuan guru dalam mengintegrasikan pelajaran

umum dan agama.

Kemampuan berasal dari kata “mampu” yang berarti kuasa, sanggup melakukan, atau dapat. Hoetomo, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,. Kartini Kartono dan Dali Dula dalam kamus psikologi menjelaskan tentang pengertian kemampuan yaitu istilah umum yang dikaitkan dengan kemampuan atau potensi menguasai suatu keahlian ataupun pemikiran itu sendiri.(Hoetomo, 2005: 332)

Kemampuan menurut Kunandar adalah suatu yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. (Kunandar, 2008: 52 ) Berdasarkan defenisi tersebut dapat penulis ambil kesimpulan bahwa kemampuan guru adalah potensi atau kesanggupan yang dimiliki guru untuk melakukan suatu aktifitas atau kegiatan.

Integrasi berasal dari bahasa Inggris, integration, yang artinya terpadu. Istilah integrasi (terutama berkaitan dengan ilmu Agama dan Sains) mulai banyak diperbincangkan sejak sekitar tahun 1960-1970an ditandai dengan berbagai gagasan sarjana muslim mengenai “ilmu pengetahuan dan islam” (Khozin 2016:13).

Menurut Sanusi yang dikutip Suprapto, integrasi adalah suatu kesatuan yang utuh, tidak terpecah belah dan bercerai berai atau terpadu (Suprapto, 2014:28).Pendapat lain menyebutkan bahwa integrasi memiliki dua makna pertama, reintegrasi yaitu penyatuan kembali ilmu dan agama setelah terpisah dan kedua, unity yaitu bahwa ilmu dan agama merupakan kesatuan dari awal (Khozin, 2016:58)

Pengertian pertama dari pendapat tersebut memberikan gambaran adanya dikotomi sedangkan yang kedua menjelaskan bahwa Islam (ilmu agama) dan sains adalah sebuah kesatuan. Artinya, tanpa adanya integrasi sebenarnya keduanya sudah terintegrasi dari asalnya. Jika ada pemisahan antara Islam dan sains, sebagaimana yang terjadi di dunia Islam, itu disebabkan karena kesalahpahaman dalam memahami nilai- nilai ajaran Islam yang universal (Hidayat, 2015: 309).

Sejalan dengan perkembangan pembahasan mengenai integrasi dalam dunia pendidikan kemudian muncul konsep pembelajaran terpadu (integratif). Pembelajaran terpadu mulai mendapatkan perhatian setelah diadakan konferensi-konferensi dunia dalam kurun waktu 1968- 1978 yang membahas mengenai pembelajaran terpadu pada bidang Sains. Di Indonesia pembelajaran terpadu mulai dikenalkan pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK) (Trianto, 2007: 6). Sayangnya model pembelajaran terpadu yang dikaji dalam kurikulum hanya terbatas pada keterpaduan antar rumpun keilmuan (sosial dan sains), belum sampai pada keterpaduan antar ilmu-ilmu seperti ilmu Agama

dan Sains.. Namun konsep pembelajaran terpadu tersebut dirasa cukup relevan dengan pembahasan pada penelitian ini.

Pembelajaran terpadu menurut Joni, T.R yang dikutip oleh Trianto adalah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermaka dan otentik (Trianto, 2007: 6). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu dilaksanakan dengan mengintegrasikan beberapa pengetahuan dari mata pelajaran yang berbeda melalui tema yang sama yang telah ditentukan.

Pembelajaran terpadu pada dasarnya merupakan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan beberapa materi dari beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik (Suprapto, 2014: 27).

Secara teknis pembelajaran terpadu dilakukan dengan memadukan pokok bahasan atau sub pokok bahasan antar bidang studi, atau yang disebut juga lintas kurikulum, atau lintas bidang studi (Siregar, 2014: 237).

Jadi yang dimaksud kemampuan guru dalam mengintegrasikan pelajaran umum dan agama adalah kemampuan individu guru dalam melaksanakan tugas pengajaran yang integratif antara pelajaran umum dengan nilai-nilai pelajaran agama.

Mata pelajaran yang diajarkan di sekolah sesuai dengan lembaga pendidikan dan tingkatnya. Lembaga yang di bawah Dinas pendidikan

pemuda dan olah raga seperti SMP berbeda dengan MTS lembaga di bawah Kemenag. Di SMP pelajaran umum ditambah dengan pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam). Sedangkan yang ada di SMP Islam Al Abidin , Pelajaran Umum dan PAI ditambah pelajaran ciri khusus Keislaman yaitu Bahasa Arab dan Al Qur’an (tahfidz).

b. Pentingnya Kemampuan Guru Dalam mengintegrasikan pelajaran umum dan Agama.

Kemampuan guru sangat penting dalam dunia pendidikan sebagai pelaksana kurikulum yang telah dibakukan dan dalam rangka melaksanakan inovasi sekolah untuk itu selalu diupayakan pengembangan kemampuan guru oleh departemen pendidikan Nasional melalui penataran-penataran.

Peningkatan kemampuan profesional guru dapat diartikan sebagai upaya membantu guru yang belum matang menjadi matang, yang tidak mampu mengelola sendiri menjadi mampu mengelola sendiri, yang belum memenuhi kualifikasi menjadi memenuhi kualifikasi, yang belum terakreditasi menjadi terakreditasi (Bafadal 2003: 44).

Menurut Bafadal (2003:v), semua komponen dalam proses pembelajaran di sekolah dasar–materi, media, sarana dan prasarana, dana pendidikan–tidak akan banyak memberikan dukungan yang maksimal atau tidak dapat dimanfaatkan secara optimal bagi pengembangan proses pembelajaran tanpa didukung oleh keberadaan guru yang profesional yang didayagunakan secara profesional. Guru

dalam melakukan kegiatan pembelajaran harus memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran itu sendiri. Kemampuan mengelola kegiatan pembelajaran yang baik tentu akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak didik belajar secara optimal.

Pendapat para ahli tersebut menunjukkan bahwa kemampuan guru sangat berarti dalam pencapaian tujuan pendidikan. Guru yang berkompeten dalam bidangnya, baik secara professional,sosial ataupun kepribadiannya akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

Agar tujuan pendidikan sekolah tersebut bisa tercapai maka diperlukan kemampuan mengintegrasikan antara pendidikan umum dan agama dalam lembaga pendidikan atau sekolah terpadu. Keberhasilan pendidikan tidak terlepas dari kemampuan guru dalam membersamai proses pendidikan di sekolah. Kemampuan guru salah satu faktor yang utama dalam proses pendidikan untuk meraih tujuan pendidikan.

Demikian pula keberhasilan pendidikan dalam mengintegrasikan pendidikan umum dan agama di sekolah- sekolah Islam terpadu akan dipengaruhi oleh kemampuan gurunya dalam proses belajar mengajar bersama peserta didik.

c. Cara-cara dalam mengintegrasikan pelajaran umum dan Agama.

Implementasi pembelajaran integrasi pelajaran umum dan agama dapat dilakukan pada beberapa hal sebagai berikut ini, yaitu:

1. Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan merupakan tahap awal yang ditempuh dalam implementasi pembelajaran integrasi. Perencanaan pembelajaran integrasi adalah gambaran umum dari kegiatan yang akan dilakukan guru selama melaksanakan kegiatan pembelajaran (Daryanto, 2014:

121), Adapun tahap yang dilalui dalam perencanaan pembelajaran adalah:

a. Menentukan jenis mata pelajaran dan keterampilan yang diintegrasikan. Sebelum melakukan pembelajaran integrasi, terlebih dahulu dilakukan analisis pada karakteristik mata pelajaran yang diintegrasikan.

b. Memilih kajian materi, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator, Setelah jenis mata pelajaran ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis materi, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator masing-masing pembelajaran yang diintegrasikan. Langkah ini akan mengarahkan guru untuk menentukan sub ketrampilan dari masing-masing ketrampilan yang dapat diintegrasikan kedalam unit pembelajaran.

c. Menentukan sub ketrampilan yang diintegrasikan, Setelah mendapatkan titik temu dari masing-masing ketrampilan, maka langkah selanjutnya yang dapat ditempuh adalah menentukan sub ketrampilan. Secara umum ketrampilan yang harus dikuasai

peserta didik dalam pembelajaran adalah: ketrampilan berfikir, ketrampilan sosial dan ketrampilan mengorganisir.

d. Merumuskan indikator hasil belajar, Indikator hasil belajar dirumuskan berdasarkan ketrampilan dan sub ketrampilan yang telah dipilih.

e. Menentukan langkah-langkah pembelajaran, Langkah pembelajaran ditentukan sebagai strategi guru dalam melaksanakan pembelajaran terintegrasi. Langkah-langkah tersebut kemudian tertuang dalam perangkat pembelajaran yaitu:

1) Silabus pembelajaran Pembuatan silabus dalam pembelajaran terpadu harus mencerninkan adanya keterkaitan antar beberapa mata pelajaran dilihat pada kompetensi dasar yang diintegrasikan.

2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Isi dan proses RPP pembelajaran integrasi harus mencerminkan proses keterpaduan dan upaya pencapaian kompetensi dasar yang telah ditetapkan (Daryanto, 2014: 122).

Guru sebagai tenaga pendidik yang professional maka harus juga bisa merencanakan kegiatan yang akan dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Guru harus bisa membuat perencanaan yang meliputi tujuan yang ingin dicapai dari KBM, bagaimana cara meraih tujuan yang diinginkan dan bahan atau materi apa yang bisa digunakan untuk meraih tujuan itu. Materi pembelajaran dalam integrasi dikaitkan dengan Al qur’an dan hadist sebagaimana yang

sudah dibuat dalam standart kurikulum sebagai tambahan materi di sekolah Islam Terpadu (Standar Mutu JSIT, 2014: 55).

Dalam pengintegrasi pelajaran umum dan agama juga diperlukan kemampuan guru dalam membuat perencanaan, yang meliputi tujuan pembelajaran yang terintegrasi antara umum dengan agama, materi yang diintegrasikan, dan juga metode yang digunakan dalam pembelajaran integrasi serta alat-alat yang dibutuhkan. Semua itu direncanakan dan tersusun di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Sekolah Islam terpadu menerapkan pembelajaran yang terpadu antara pelajaran umum dengan agama dengan menerapkan prinsip kekhasannya yaitu melaksanakan pembelajaran yang didasari pada prinsip sajikan, internalisasi dan terapkan. Dan model pembelajarannya menurut buku panduan standar mutu JSIT adalah dengan menerapkan singkatan ‘TERPADU’ yaitu,

a. Telaah yaitu mengkaji konsep-konsep dasar materi melalui aktifitas tadabur dan Tafakur.

b. Eksplorasi artinya melakukan aktifitas menggali pengetahuan melalui beragam metode dan pendekatan pembelajaran

c. Rumuskan artinya menyimpulkan hasil eksplorasi dengan berbagai bentuk penyajian

d. Presentasikan artinya menjelaskan atau mendiskusikan rumusan hasil eksplorasi

e. Aplikasikan artinya menerapkan hasil pembelajaran yang didapat untuk memecahkan masalah dan mengkaitakn dengan bidang yang relevan.

f. Duniawi artinya mengkaitakan hasil pembelajaran yang didapat dengan kehidupan yang nyata.

g. Ukhrowi artinya menghubungkan hasil pembelajaran yang didapat dalam melaksanakan pengabdian kepada Allah SWT. (Standart Mutu JSIT, 2014: 169).

Guru-guru sekolah Islam terpadu dalam merencanakan atau merancang pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip Sajikan, internalisasi dan terapkan (SIT), dan model pembelajaran TERPADU. Oleh karena itu guru harus memahami akan prinsip- prinsip itu dan model pemnelajaran yang terpadu. Sehingga Rencana pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat oleh guru-guru yang ingin memadukan pelajaran agama dengan umum sesuai dengan pedoman prinsip keterpaduan.

2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran merupakan tahapan terpenting dalam pembelajaran terpadu yaitu mencakup implementasi dari perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pada dasarnya pelaksanaan pembelajaran integrasi adalah sama dengan pelaksanaan

pembelajaran pada umumnya, namun terdapat perbedaan pada tahap kegiatan yang harus mencerminkan integrasi. Adapun langkah yang ditempuh dalam pembelajaran integrasi adalah :

a. Kegiatan Awal Kegiatan awal dalam proses pembelajaran terpadu ditujukan untuk menciptakan kondisi peserta didik siap melakukan pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan awal dilakukan melalui : (1) Menjelaskan secara umum model pembelajaran yang akan dilaksanakan, (2) Menjelaskan tujuan yang harus dicapai serta kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dan (3) Menginformasikan topik yang akan menjadi pembahasan dalam pembelajaran

b. Kegiatan Inti Kegiatan inti merupakan tahapan yang penting dalam proses pembelajaran. Berikut merupakan hal-hal yang diperhatikan dalam kegiatan inti pembelajaran integrasi : (1) Memberikan stimulus terkait tema untuk mendorong peserta didik aktif, (2) Penyampaian materi harus menggunakan urutan yang tepat sesuai tahapan berfikir peserta didik, (3) Melakukan klarifikasi untuk menlihat temuan gagasan dalam pembelajaran dan respon peserta didik terhadap proses pembelajaran, (4) penekanan integrasi yaitu upaya penyatuan pemahaman peserta didik pada kaitan antar konsep materi yang diintegrasikan.

c. Kegiatan Akhir Kegiatan akhir pada pembelajaran integrasi dilakukan dengan tujuan : (1) Memusatkan perhatian peserta

didik, (2) Merangkum persoalan, (3) Mengonsolidasi perhatian peserta didik, (3) Mengorganisasi seluruh kegiatan yang telah dilakukan, (4) Melakukan unjuk kerja sesuai dengan pengalaman yang telah didapatkan (5) Melakukan evaluasi (Daryanto, 2014:

123-125).

Di dalam proses pembelajaran yang terpadu pada tahap awal kegiatan diupayakan menghubungkan nilai-nilai spiritual dengan isi materi yang akan dibahas. Di dalam kegiatan inti melaksanakan apa yang sudah direncanakan yang memuat prinsip-prinsip ‘SIT’ dan ‘TERPADU’. Dan di akhir kegiatan penutup yaitu menvalidasi konsep yang telah dikonstruksi peserta didik.mendorong peserta didik untuk menerapkan sesuai bidang yang relevan dan mengintisari hasil pembelajaran untuk diaplikasikan dalam kehidupan duniawi dan ukhrowi (Standart Mutu JSIT, 2014: 170).

3. Evaluasi pembelajaran

Evaluasi pembelajaran merupakan alat untuk menilai pencapaian tujuan dan menilai keberhasilan proses pembelajaran (Rusman dkk, 2013: 42). Adapun prinsip evaluasi pembelajaran integrasi adalah : (1) Memberi kesempatan peserta didik untuk melakukan evaluasi diri dan (2) Guru bersama-sama peserta didik mengadakan evaluasi hasil belajar berdasarkan keberhasilan indikator yang telah ditentukan. Sedangkan tahap evaluasi pada

pembelajaran integrasi berupa evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar peserta didik (Trianto, 2007: 17).

Evaluasi pada proses dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung, sedangkan evaluasi hasil adalah dengan melihat ketercapaian kompetensi dasar dari masing-masing materi yang diintegrasikan (Daryanto, 2014: 157).

Sekolah Islam terpadu yang menerapkan keterpaduan antara pendidikan umum dan agama melakukan penilaian juga terhadap pencapaian kompetensi lulusan yang meliputi:

1. Memiliki Aqidah yang lurus 2. Melakukan ibadah yang benar

3. Berkepribadian yang matang dan berakhlak mulia

4. Menjadi pribadi yang sungguh-sungguh,disiplin dan mampu menahan nafsunya

5. Memiliki kemampuan membaca,menghafal dan memahami Al Qur’an dengan baik

6. Memiliki wawasan yang luas 7. Memiliki ketrampilan hidup

Dalam penilaian pembelajaran yang menerapkan keterpaduan guru melakukan pengamatan dan pengukuran terhadap pencapaian indikator kompetensi kekhasan Islam terpadu secara periodik sesuai tugas masing-masing. Sehingga indikator kompetensi yang diharapkan bisa diukur ketercapainnya.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan guru mengintegrasikan pelajaran umum dan Agama.

Menurut Zainun dalam Sukoco (2010:76), pendidikan adalah untuk mempersiapkan SDM sebelum memasuki pasar kerja. Dengan pengetahuan yang diperolehnya dari pendidikan yang diharapkan sesuai dengan syarat-syarat yang dituntut oleh suatu pekerjaan.

Sedangkan Sedarmayanti (2007: 379) dalam Dienul Ihsan (2008) berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses, teknik, dan metode belajar mengajar dengan maksud mentransfer suatu pengetahuan diri seseorang kepada orang lain melalui produser yang sistematis dan terorganisir

Latar belakang pendidikan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu kesesuaian antara bidang ilmu yang ditempuh dengan bidang tugas dan jenjang pendidikan. (Rio Tanjung, 2011: 8)

1. Jenjang Pendidikan Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan. (Undang-undang No. 20, 2003: 8). Jenjang pendidikan formal terdiri dari: a. Pendidikan dasar yaitu jenjang pendidikan awal selama 9 (Sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah. b. Pendidikan atas yaitu jenjang pendidikan lanjutan

pendidikan menengah. c. Pendidikan tinggi yaitu jenjang pendidikan setelah pendidikan atas yang mencakup program sarjana, magister, doctor, dan spesialis yang diselenggarakan pleh perguruan tinggi.

2. Spesifikasi/Jurusan Keilmuan Kesesuaian jurusan adalah sebelum karyawan direktur terlebih dahulu perusahaan menganalisis kesesuaian jurusan pendidikan karyawan tersebut agar nantinya dapat ditempatkan pada posisi jabatan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikannya tersebut. Dengan demikian karyawan dapat memberikan kinerja yang baik bagi perusahaan.

Kemampuan guru banyak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya. Dengan pendidikan maka seorang guru mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Jenis pendidikan tempat membina dan mengembangkan kompetensi mengajar guru dialami sebelum seorang guru mulai melaksanakan tugasnya dalam bentuk pre-service, maupun pendidikan tambahan dan penataran pada waktu mereka sudah bertugas yakni dalam bentuk in-service.

Menurut Sudarwan Darwin (2002: 30-31), “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif.

Pertama, latar belakang pendidikan dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain”.

Menurut Hamdani (2006), “Dalam hal latar belakang pendidikan, maksudnya guru harus memiliki latar belakang ilmu keguruan dan ilmu kependidikan. Ini artinya guru dengan latar belakang non kependidikan atau 38 non keguruan tidak dapat disebut

memiliki standar kompetensi guru”

(http.freelist.org/aechives/PPC/02-2006/msg00498.html).

Pendidikan non formal yang pernah ditempuh guru juga akan berpengaruh terhadap kompetensinya. Pendidikan non formal ini meliputi kursus-kursus dan pelatihan-pelatihan, kajian-kajian keagamaan tentunya akan lebih meningkatkan kemampuan guru secara profesional dalam melaksanakan tugas utamanya yaitu mengajar. Apalagi dalam tugas tanggung jawab di sekolah terpadu, yaitu melaksanakan pembelajaran yang terintegrasi antara pelajaran umum dengan pelajaran agama.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, bisa ditarik benang merah bahwa faktor-faktor kemampuan guru dalam mengintegrasikan pelajaran umum dan agama adalah faktor dari dalam guru sendiri (intrinsic) dan faktor dari luar guru sendiri (ektrinsik) . Faktor ektrinsik meliputi yaitu latar belakang pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan non formal seperti pelatihan, penataran atau kajian-kajian keagamaan.

2. Latar belakang pendidikan guru

a. Pengertian latar belakang pendidikan guru

Latar belakang pendidikan merupakan pengalaman seseorang yang telah diperoleh dari suatu program pembelajaran. Pengalaman tersebut dapat berupa (1) pengetahuan, atau yang berhubungan dengan kognisi, (2) sikap, maupun (3) perilaku tertentu. Kognisi yang berbeda, seperti dikemukakan Kreech, Crutchfield, dan Ballachey , menyebabkan terjadinya cara belajar daan berfikir yang berbeda. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa latar belakang pendidikan yang berbeda akan menyebabkan terjadinya perkembangan pengetahuan yang berbeda pula dimana perkembangan pengetahuan terjadi sesuai dengan pengalaman- pengalaman belajar yang telah diperolehnya.

Yang dimaksud latar belakang pendidikan guru adalah pendidikan yang telah ditempuh sebelum menjadi guru yang berupa pendidikan keguruan (SPG, PGA, SGO, FKIP, F. Tarbiyah, PGSD/MI, PGTK/RA) maupun pendidikan non keguruan (SMA, SMK dan pendidikan tinggi non keguruan), sehingga mempengaruhi kompetensi guru.

Jadi yang dimaksud dengan latar belakang pendidikan guru di sini adalah pendidikan formal yang dialami oleh seorang guru pada tingkat pendidikan tinggi atau Universitas yang menjadi syarat keprofesionalan seorang guru. Latar belakang pendidikan guru dikelompokkan berdasarkan program studi menjadi dua yaitu Program studi (prodi) agama dan program studi umum. Program studi umum pengelompokannya

sebagaimana mana pelajaran di sekolah formal tingkat SMP/ MTs seperti:

Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia dsb. Sedangkan kelompok Program studi Agama seperti, PAI, Ilmu Al Qur’an, Bahasa Arab dsb.

b. Pentingnya latar belakang pendidikan

Latar belakang peindidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru.

Kualitas pendidikan guru sangat menentukan dalam penyiapan sumber daya manusia yang handal. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 pasal 28, bahwa “pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.

Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud adalah latar belakang pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Dari penjelasan diatas jelas bahwa peran pendidikan formal sangat penting dalam pembentukan keperibadian seseorang. Pendidikan formal

yang diikuti telah menanamkan nilai-nilai kebenaran dan pengetahuan untuk menjalani kehidupan masa depannya. Sehingga pendidikan yang dialami sebelumnya akan mempengaruhi kepribadiannya dalam bersikap, bertingkah laku dan bagaimana menghadapi persoalan.

Demikian juga latar belakang pendidikan seorang guru akan mempengaruhi guru dalam bersikap, bertingkahlaku dan bekerja dalam profesi keguruan. Sikap tingkah laku guru akan terbawa dalam proses pembelajaran atau dalam tugas-tugas kependidikan. Seperti dalam perencanan pembelajaran, proses pembelajaran juga penilaian pemebelajaran

c. Jenis-jenis latar belakang pendidikan Guru

Latar belakang pendidikan guru dapat dilihat dari dua sisi, yaitu kesesuaian antara bidang ilmu yang ditempuh dengan bidang tugas dan jenjang pendidikan.Untuk profesi guru sebaiknya juga berasal dari lembaga pendidikan guru. ( Ahmad Barizi, 2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung 14 pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.

Jenis pekerjaan yang berkualifikasi profesional memiliki ciri-ciri tertentu, diantaranya memerlukan persiapan/ pendidikan khusus bagi calon pelakunya, yaitu membutuhkan pendidikan prajabatan yang relevan. Latar

belakang pendidikan seorang guru akan berpengaruh terhadap praktek pembelajaran di kelas, seperti penentuan cara mengajar serta melakukan evaluasi. Latar belakang pendidikan juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif.

Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” (Sudarwan Danim,2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:

a. Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,

b. Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,

c. Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.” (Ravik Karsidi :2005: 10) mengatakan: “Profesionalisme guru harus didukung oleh kompetensi standar yang harus dikuasai oleh para guru profesional.

Kompetensi tersebut adalah pemilikan kemampuan atau keahlian yang bersifat khusus, Latar belakang pendidikan minimal, dan sertifikasi keahlian haruslah dipandang perlu sebagai prasarat untuk menjadi guru profesional.” Semakin tinggi latar belakang pendidikan yang dimiliki seseorang guru maka diharapkan akan semakin tinggi pula tingkat

Dokumen terkait