• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Teori

Dalam dokumen pembiasaan kegiatan keagamaan (Halaman 44-78)

a. Pengertian Pembiasaan

Berkaitan dengan metode pengajaran, pembiasaan dapat dikatakan dengan sebuah cara yang dapat dilakukan untuk anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.25 Nurul Ihsani dkk., mengungkapkan bahwa pembiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis.26

Teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman belajar merupakan teori behaviorisme. Teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan dan praktik pendidikan serta pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behaviorisme. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behaviorisme menempatkan siswa yang belajar sebagai

25 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi, (Bandung: Alfabeta, 2014), 94- 95

26 Nurul Ihsani, dkk., “Hubungan Metode Pembiasaan dalam Pembelajaran dengan Disiplin Anak Usia Dini”, Jurnal Ilmiah Potensia, (Vol. 3, No. 1, tahun 2018), h. 52.

31

individu yang pasif. Respons atau perilaku tertentu akan muncul bila digunakan latihan atau pembiasaan.27

Berdasarkan penjelasan di atas, yang dimaksud dengan pembiasaan kegiatan keagamaan adalah proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis dengan melalui kegiatan keagamaan yang dilakukan berulang-ulang.

b. Dasar Pembiasaan

Ivan Petrovich Pavlov adalah salah satu tokoh penting dalam perkembangan teori behavioris. Ia adalah seorang fisiolog dan dokter dari Rusia, seorang behavioristik terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons dan hal ini yang dikenang darinya hingga kini. Classical conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.28

Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing yang kelenjar ludahnya dioperasi dan diberi alat menampung cairan dengan sehingga memungkinkan peneliti mengukur air liur yang keluar sebagai respon dan reaksi apabila ada makanan yang disodorkan.

Sebelum dilatih, secara otomatis anjing itu mengeluarkan air liur pada

27 Hamruni Irza A. Syaddad Zakiah Dewi Isnawati Intan Putri, Teori Belajar Behaviorisme Dalam Perspektif Pemikiran Tokoh-Tokohnya, ed. Nur Saidah (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2021), 4.

28 Hamruni Irza A. Syaddad Zakiah Dewi Isnawati Intan Putri, Teori Belajar Behaviorisme Dalam Perspektif Pemikiran Tokoh-Tokohnya, 42.

32

saat dihadapkan dengan daging. Percobaan ini disebut stimulus yang tidak terkondisikan dan respon yang tidak terkondisikan antara daging degan air liur anjing yang spontan keluar. Setelah itu, Pavlov melakukan pelatihan pembiasaan kepada anjing tersebut dengan membunyikan bel bersamaan pemberian makan. Pada awalnya pengujian pembunyian bel tidak menghasilkan respon dari anjing tersebut. Akan tetapi setelah dilakukan berulang-ulang dengan pembiasaan yang serupa dengan sendirinya anjing tersebut bisa di kondisikan. Proses yang terjadi ini disebut stimulus netral berubah menjadi stimulus terkondisikan ditandai dengan bel pertama tidak ada respon sama sekali lama kelamaan ada respon29

Gambar 1.2

Eksperimen Ivan Petrovich Pavlov

Pada 1903 Pavlov menerbitkan hasil eksperimennya dan menyebutnya “refleks terkondisi,” berbeda dari refleks halus. Pavlov menyebut proses pembelajaran ini sebagai “pengkondisian”.30 Ia juga

29 Faizatul Muazzaroh, “Teori Belajar Behavioristik Menurut Edwin Ray Guthrie Di Dalam Pembelajaran,” Jurnal Kependidikan dan Pranata Islam 9, no. 2 (2017): 97.

30 Douglas A. Bersntein & Peggy W. Nash, Essentials of Psychology, (New York: Houghton Mifflin Company, 1999), 151.

33

menemukan bahwa refleks terkondisi akan tertekan bila rangsangan ternyata terlalu sering “salah”. Jika metronom bersuara berulang-ulang dan tidak ada makanan, anjing akan berhenti mengeluarkan liur.

c. Macam-Macam Pembiasaan 1) Pembiasaan Ibadah

Pembiasaan ibadah merupakan pembiasaan yang ditekankan dalam ajaran agama Islam, seperti pembiasaan mengerjakan salat berjamaah, membaca basmalah ketika hendak makan dan memakan dengan menggunakan tangan kanan, puasa dan lain sebagainya.

2) Pembiasaan Akhlak

Pembiasaan akhlak berupa menghormati yang lebih tua, berkata yang sopan, santun, bertingkah laku yang baik dan lain sebagainya.

3) Pembiasaan Ketauhidan

Pembiasaan ketauhidan berupa mencintai Allah, merasa di awasi- Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, serta iman kepada qaḍḥa dan qadar. 31

d. Tujuan Pembiasaan

Pembiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Tujuannya agar peserta didik memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan

31 Supiana, Rahmat Sugiharto, Pembentukan Nilai-nilai Karakter, Jurnal Educan, No. 1 (1), 2017), h. 121

34

ruang dan waktu. Selain itu, arti tepat dan positif di atas adalah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius, tradisional ataupun kultural.32

Tahapan pembiasaan dalam membentuk budaya Islami dalam penelitian ini menggunakan tahapan pembentukan karakter karena kegiatan keagamaan di sini bertujuan memberikan pendidikan karakter di madrasah, mengenalkan dan membiasakan hal-hal positif pada anak dalam lingkup keluarga dan memberikan pengarahan atau pengertian tentang hal- hal positif yang bisa diterapkan dan dilakukan dalam lingkungan Masyarakat.

Proses pembentukan karakter didefinisikan:

Characters are both universal and uniqe. In spite of the fact that the core meaning of each specific character is similar, every individual embodies the character in his own day, at least in part, therefore, character education is also supposed to be based on the specific cultural background. It takes more than the cognitive capacity to make the proper moral decisions when the virtue agents are faced with the increasingly complicated moral situations33

Pembentukan karakter merupakan usaha atau suatu proses yang dilakukan untuk menanamkan hal positif pada anak yang bertujuan untuk membangun karakter yang sesuai dengan norma, dan kaidah moral dalam bermasyarakat. Ada tiga faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan karkter anak yaitu faktor pendidikan (madrasah), lingkungan masyarakat, dan lingkungan keluarga.

32 Supiana dan Rahmat Sugiharto, Pembentukan Nilai-nilai Karakter Islami Peserta didik Melalui Metode Pembiasaan (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Terpadu Ar-roudloh Cileunyi Bandung Jawa Barat), Jurnal Educan, No. 1 (1), 2017), h. 101.

33 Kuangfei Xie, Character Education: From the Perspective of Confucian Ethics” Education Journal, 2006 ; 5 (1) : 1-6.

35

Menurut Heri Gunawan karakter dapat dibentuk melaui beberapa tahapan diantaranya melalui pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit).34 Sedangkan menurut Muhaimin dari Koenjaraningrakrat proses pembentukan karakter pesera didik di madrasah dapat melalui internalisasi nilai-nilai karakter dengan tiga tahapan yang mewakili proses pembentukan karakter yaitu:

1) Tahap transformasi nilai: Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai- nilai yang baik dan yang kurang baik kepada peserta didik.

2) Tahap transaksi nilai: Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik bersifat interaksi timbal balik.

3) Tahap transinternalisasi: Tahap terakhir ini jauh mendalam dari sekedar tahap transaksi. Dalam tahap ini penampilan pendidik dihadapan peserta didik bukan lagi sosok fisiknya, melainkan sikap mentalnya (kepribadiannya).35

Sedangkan menurut Thomas Lickona karakter adalah nilai dalam tindakan. Karakter seseorang terbentuk melalui proses, seiring suatu nilai menjadi suatu kebajikan. Untuk menghasilkan karakter yang baik (components of good character), harus memiliki tiga komponen, yaitu: moral knowing, moral feeling, dan moral action.

Adapun penjelasan tentang tiga komponen karakter tersebut, sebagai berikut:

1) Moral knowing (pengetahuan moral), adalah sebagai langkah pertama dalam pembentukan karakter, dimana pada tahap ini peserta didik diharapkan mempunyai kemampuan dalam pemahaman tentang nilai-nilai. ada enam aspek yang menjadi

34 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi, (Bandung: Alfabeta,2014), 38

35 Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam dari Paradigma Pengembangan Manejemen Kelembagaan Kurikulum Hingga Strategi Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), 325-327

36

dominan sebagai tujuan pendidikan karakter, yaitu moral awareness (kesadaran moral), knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral), perspective taking (penentuan perspektif), moral reasoning (pemikiran moral), decision making (pengambilan keputusan), dan self knowledge (pengetahuan pribadi)

2) Moral feeling (perasaan moral) adalah tahapan emosional, di mana pendidik harus dapat menyentuh ranah emosional, hati dan jiwa peserta didik. Pada tahapan ini peserta didik diharapkan memiliki rasa cinta kesadaran bahwa dirinya butuh untuk berkarakter sehingga peserta didik dapat menilai dirinya sendiri atau intropeksi diri. Tahapan ini adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan kepada peserta didik yang merupakan sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral.

Terdapat 6 hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seorang untuk menjadi manusia berkarakter yaitu : conscience (nurani), self esteem (percaya diri), empathy (merasakan penderitaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran), self control (mampu mengontrol diri), dan humality (kerendahhatian).

3) Moral action (tindakan moral) adalah bagaimana membuat pengetahuan moral agar dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata.

Perbuatan atau tindakan moral ini merupakan hasil dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong sseorang dalam perbuatan yang baik, maka harus dilihat 3 aspek lain dari karakter yaitu: competence (kompetensi), will (keinginan), dan habit (kebiasaan). Tahap ini merupakan tahap puncak keberhasilan dalam strategi pendidikan karakter, saat peserta didik secara mandiri mampu mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari secara sadar. Seperti peserta didik semakin disiplin, tanggung jawab rajin beribadah, sopan, ramah, hormat, penyayang, jujur, cinta kasih, adil dan sebagainya.36

Metode pembentukan karakter yang dapat diterapkan dalam rangka pembentukan karakter peserta didik di antaranya adalah sebagai berikut: 37

1) Metode langsung dan tidak langsung

Metode langsung berarti penyampaian pendidikan karakter dilakukan secara langsung dengan memberikan materi-

36 Indri Fitriyani, “Implementasi Teori Thomas Lickona Terhadap Problem Ketidak Jujuran,”

Jurnal Pendidikan Islam Al-Ilmi 4, no. 1 (2021): 14.

37 Marzuki, Pendidikan Karakter Islam, (Jakarta: Bumi Aksara.2015), 113.

37

materi akhlak mulia dari sumbernya. Sementara itu, metode tidak langsung maksudnya adalah penanaman karakter melalui kisah- kisah yang mengandung nilai-nilai karakter mulia dengan harapan dapat diambil hikmahnya oleh peserta didik.

2) Melalui mata pelajaran tersendiri dan terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran.

Melalui mata pelajaran tersendiri, seperti Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan. Sementara itu, terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran artinya melalui semua mata pelajaran yang ada. Nilai-nilai karakter dapat diintegrasikan dalam materi ajar atau melalui proses pembelajaran yang berlaku.

3) Melalui kegiatan di luar pelajaran, yaitu melaui pembiasaan- pembiasaan atau kegiatan keagamaan

Maksudnya adalah pembentukan karakter peserta didik melalui semua kegiatan di luar pembelajaran yang biasa disebut dengan kegiatan ekstrakulikuler yang berbentuk pembiasaan- pembiasaan nilai-nilai akhlak mulia yang ada di dalamnya, seperti kegiatan keagamaan, dan lain sebagainya.

4) Melalui metode keteladanan (uswah hasanah)

Metode yang sangat efektif untuk pembentukan karakter peserta didik di madrasah adalah melalui keteladanan. Keteladanan di madrasah diperankan oleh kepala madrasah, pendidik, dan karyawan madrasah. Jadi keteladanan pendidik adalah suatu yang

38

patut ditiru oleh peserta didik, pendidik di sini juga dapat disebut sebagai subjek teladan atau orang yang diteladani oleh peserta didik. Maka menjadi teladan merupakan bagian dari pendidik, sehingga menjadi pendidik berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan. Tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan pendidik akan mendapat sorotan oleh peserta didik dan orang di sekitar lingkungannya, maka dari itu pendidik harus menunjukkan teladan terbaik dan moral yang sempurna38

5) Melalui nasihat-nasihat dan memberi perhatian

Para pendidik dan orang tua harus selalu memberikan nasihat- nasihat dan perhatian khusus kepada para peserta didik atau anak mereka dalam rangka pembentukan karakter yang positif.

Cara ini juga sangat membantu memotivasi peserta didik untuk memiliki komitmen dengan aturan-aturan atau nilai-nilai akhlak mulia yang harus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari baik di lembaga madrasah maupun diluar lembaga madrasah

Nasihat merupakan salah satu metode pendidikan yang cukup efektif dalam membentuk keimanan, akhlak, jiwa dan rasa sosial seseorang. Memberi nasihat juga dapat memberi kemanfaatan dan perubahan besar untuk membuka dan menyadarkan hati seseorang terhadap hakikat sesuatu, mendorongnya untuk berperilaku yang baik dan positive thinking

38 Abdullah Munir, Spritual Teaching, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2016), 6.

39

6) Metode reward dan punishment

Metode reward adalah pemberian hadiah sebagai perangsang kepada peserta didik atau anak agar termotivasi berbuat baik atau berakhlak mulia, sedangkan metode punishment adalah pemberian sangsi sebagai efek jera bagi peserta didik atau anak agar tidak berani berbuat jahat atau melanggar peraturan yang berlaku. Bentuk-bentuk dari penerapan reward kepada peserta didik dalam pembelajaran diantaranya pemberian pujian, hadiah, penghormatan

a) Pujian, Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Pujian diberikan sebagai salah satu cara dalam merespon prestasi yang telah dilakukan oleh seseorang. Pemberian pujian kepada seseorang harus diberikan dengan tepat guna memberikan suasana yang dapat menambah gairah seseorang dalam beraktivitas.

b) Hadiah, hadiah merupakan bentuk pemberian motivasi dan sebagai penghargaan atas perilaku baik seseorang. Pemberian hadiah ini bertujuan untuk memberikan reinforcement (penguatan) terhadap perilaku yang baik.

c) Penghormatan, penghormatan dalam hal ini diberikan kepada seseorang atas prestasinya berupa penobatan yang diumumkan dalam forum khusus. Selain itu, penghormatan juga dilakukan

40

dengan memberikan tempat khusus baik berupa pangkat atau jabatan kepada orang tersebut39

2. Kegiatan Keagamaan

a. Pengertian Kegiatan Keagamaan

Menurut W.J.S Poerwadarminta pola pengertian keagamaan yakni: “Keagamaan adalah sifat yang terdapat dalam agama, segala sesuatu mengenai agama”. Untuk itu keagamaan merupakan sikap yang tumbuh atau dimiliki seseorang dan dengan sendirinya akan mewarnai sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk sikap dan tindakan yang dimaksud yakni yang sesuai dengan ajaran agama Islam.40

Agama diartikan sebagai sistem orientasi dan obyek pengabdian. Dalam hal ini semua orang adalah makhluk agamis, karena tak seorangpun yang bisa hidup tanpa suatu sistem yang mengaturnya. Kebudayaan yang berkembang di tengah manusia adalah produk dari tingkah laku keberagamaan manusia.

Berdasarkan pengertian di atas, sebuah agama biasanya mencakup tiga persoalan pokok, yaitu:

1) Keyakinan (credial), yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur dan mencipta alam.

2) Peribadatan (ritual), yaitu tingkah laku manusia dalam

39 Moh. Zaiful Rosid dan Ulfatur Rahmah, Reward dan Punishment: Konsep dan Amplikasi Keluarga, Sekolah, Pesantren, Perusahaan, dan Masyarakat, (Malang: Literasi Nusantara, 2019),18

40 Rara Fransiska Novearti, An-Nizom: Efektivitas Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan Pada Siswa Di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 21 Kota Bengkulu, no. 2 (2017), 410

41

berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekwensi atau pengakuan dan ketundukan.

3) Sistem nilai (hukum/norma) yang mengatur hubungan manusia dengan lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinannya tersebut.41

Dengan demikian, jelas bahwa agama merupakan seperangkat aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam semesta. Sedangkan agama sendiri menurut Madjid mempunyai pengertian seluruh tingkah laku manusia yang terpuji, yang dilakukan demi memperoleh ridha Allah. Dengan kata lain, agama merupakan keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang mana tingkah laku tersebut membentuk keutuhan manusia yang berbudi luhur atas dasar kepercayaan atau iman kepada Allah dan akan ada pertanggung jawaban pribadi di kemudian hari.

Jadi, agama mencakup totalitas tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berlandaskan iman kepada Allah, sehingga akan membentuk akhlakul karimah yang terbias dalam pribadi dan perilakunya sehari-hari.42

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulankan bahwa maksud dari kegiatan keagamaan adalah segala tingkah laku atau usaha terencana dan terkendali yang meliputi perbuatan, perkataan baik lahir

41 Nurhasanah Bakhtiar, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016), 3

42 Muhammad Fathurrohman, Budaya Religius dalam Peningkatan Mutu Pendidikan: Tinjauan Teoritik dan Praktik Kontekstualisasi Pendidikan Agama di Sekolah, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), 49

42

maupun batin individu yang didasarkan pada norma-norma yang berpangkal pada ajaran-ajaran agama Islam yang telah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari untuk mencapai tujuan yang diinginkan berupa membentuk budaya Islami.

b. Tujuan Kegiatan Keagamaan

Segala sesuatu yang dilakukan tentu mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Pada dasarnya kegiatan keagamaan merupakan usaha yang dilakukan terhadap peserta didik agar dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama. Sehingga tujuan kegiatan keagamaan secara umum tidak lepas dari tujuan pendidikan agama Islam.

Tujuan pendidikan agama Islam adalah sesuatu yang ingin dicapai setelah melakukan serangkaian proses pendidikan agama Islam di sekolah atau madrasah. Menurut al-Attas, tujuan pendidikan (agama) Islam adalah manusia yang baik. Sementara Marimba mengatakan bahwa tujuan pendidikan (agama) Islam adalah terciptanya orang yang yang berkepribadian muslim.43

Berbeda dengan pendapat di atas, al-Abrasy mengatakan bahwa tujuan akhir pendidikan (agama) Islam adalah terbentuknya manusia yang berahklak mulia.44 Tujuan pendidikan agama Islam yang lebih operasional tertera dalam kurikulum pendidikan agama Islam yaitu

43 Sri Syafa’ati and Hidayatul Muamanah, “Konsep Pendidikan Menurut Muhammad Naquib Al- Attas Dan Relevansinya Dengan Sistem Pendidikan Nasional,” Palapa 8, no. 2 (2020): 290.

44 Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabeta, 2012), 205

43

menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaan kepada Allah Swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi. 45

Jadi, dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pelaksanaan kegiatan keagamaan adalah menanamkan kepribadian muslim pada manusia dengan cara memberikan pengetahuan serta pengalaman dan pengamalan terhadap peserta didik tentang agama Islam supaya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.

c. Fungsi Kegiatan Keagamaan

Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/madrasah berfungsi sebagai berikut: Pengembangan meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah Swt. yang telah ditanamkan di lingkungan keluarga, Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam, Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki

45 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), 16

44

kesalahan- kesalahan, kekurangan- kekurangan dan kelemahan- kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari, Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia seutuhnya, Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nirnyata), sistem dan fungsionalnya dan Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.46

d. Macam-macam Kegiatan Keagamaan

Kegiatan Keagamaan yang dilaksanakan di MTs Miftahul Ulum Sumberanom Tamanan Bondowoso bermacam-macam yaitu doa bersama sebelum dan sesudah pembelajaran, pelaksanaan salat dhuha dan dhuhur berjamaah, pembacaan asmaul husna setelah salat duha berjamaah, pembacaan naẓam aqidah al-awām setelah salat zuhur berjamaah, pembiasaan 5S (salam, senyum, sapa, sopan, santun) di lingkungan sekolah serta kegiatan ekstrakulikuler keagamaan berupa baca tulis alquran.47 Kegiatan-kegiatan ini dilaksanakan dengan harapan tidak hanya sekedar formalitas ketika berada di lingkungan madrasah saja akan tetapi diamalkan pula di manapun mereka berada

46 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, 15-16

47 Berdasarkan hasil penelitian awal peneliti ketika melaksanakan MTs Miftahul Ulum 02 pada tanggal 23 Maret 2023

45

dan akan terus seperti itu sepanjang hayat.

3. Budaya Islami

a. Pengertian Budaya Islami

Menurut Linton Budaya adalah konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung oleh anggota masyarakat lain.48

Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Berikut pengertian budaya atau kebudayaan dari beberapa ahli:

1) E. B. Taylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, dan keilmuan.

2) hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

3) Koentjaraningrat mengartikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan manusia dengan belajar.

4) Herkovits, kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia

5) Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.49

48 Elly M. Setiadi, dkk, Ilmu sosial dan budaya dasar, (Jakarta: Kencana, 2011), 27.

49 Elly M. Setiadi, dkk, Ilmu sosial dan budaya dasar, 27

46

Berdasarkan beberapa pendapat tokoh tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya adalah suatu perilaku yang diciptakan masyarakat atau kelompok atau golongan tertentu sebagai cara hidup yang di wariskan secara turun menurun dalam tataran kehidupan yang akan membentuk kepercayaan, kebiasaan, kekuasaan bahasa serta karya seni pada masyarakat atau golongan tersebut.

Sedangkan Islam dapat diartikan dengan kata agama. Agama menurut Frazer, sebagaimana dikutip Nuruddin adalah sistem kepercayaan yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan tingkat kognisi seseorang.50 Menurut Musthafa Musallam dan Fathi Muhammad Zaghbi budaya Islami adalah kumpulan pengetahuan dan teori serta pengalaman praktis yang berasal dari Alquran dan Sunnah yang merupakan kreatifitas usaha manusia yang menentukan cara berfikir, berprilaku dan pendekatan manusia dalam kehidupan.51

Jadi, yang dimaksud dengan budaya Islami adalah pengetahuan, teori dan pengalaman berdasarkan alquran dan sunnah yang dapat membentuk cara berpikir, berperilaku dan interaksi dengan orang lain dalam kehidupan.

50 Nuruddin, dkk, Agama Tradisional: Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger, (Yogyakarta: LKIS, 2013), 126.

51 Idris bin Hamīd Muhammad Ibrohīm bin Hammād al-Rā’is, Ahmad bin Uṡmān al-Mazīd, Khālid bin Abdillah al-Qāsim, Alī bin Abdillah al-Sayyah, Al-Madkhal Ilā Aṡ-Ṡaqafah Al- Islamiyah, 2nd ed. (Riyāḍ: Dār al-Ma’ṡūr, 2020), 41.

Dalam dokumen pembiasaan kegiatan keagamaan (Halaman 44-78)

Dokumen terkait