BENTUK KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BANJAR MENUJU DESA TANGGUH BENCANA BANJIR
C. Kearifan Lokal Sistem Pertanian Suku Banjar
Rumah Bubungan Tinggi
Gambar 6.7. Jenis-Jenis Rumah Adat Banjar Dengan Konstruksi Panggung
76 ■ Pemberdayaan Masyarakat Melalui Nilai Kearifan Lokal Banjar
1. Pengelolaan air. Sistem pengelolaan air yang sesuai di lahan pasang surut adalah sistem satu arah pada lahan-lahan tipe luapan A dan B, dan sistem konservasi/tabat pada lahan tipe luapan C dan D. Secara spesifik pengelolaan air di lahan pasang surut bertujuan untuk: (1) memenuhi kebutuhan air pada penyiapan lahan, (2) memenuhi kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman, (3) mengatur tinggi muka air tanah, (4) memperbaiki sifat fisika-kimia tanah dengan cara mencuci zat-zat yang bersifat racun bagi tanaman, (5) mengurangi semaksimal mungkin terjadinya oksidasi pirit pada tanah sulfat; (6) mencegah terjadinya proses kering pada gambut, (7) mencegah terjadinya penurunan permukaan tanah (subsidence) terlalu cepat; dan (8) meminimalisir masuknya air asin ke sawah.
2. Penataan lahan. Guna mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa pasang surut untuk usaha pertanian dan pelestarian sumber daya lahannya maka perlu dilakukan penataan lahan. Dalam melakukan penataan lahan perlu diperhatikan hubungan antara tipologi lahan, tipe luapan, dan pola pemanfaatannya. Seperti pada tipologi sulfat masam potensial dengan tipe luapan A, maka penataan lahan sebaiknya untuk sawah, karena pirit akan lebih stabil tidak mengalami oksidasi dan tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Tetapi bila tipe luapan B, maka pola pemanfaatan lahan dapat dilaksanakan dengan sistem surjan. Sistem surjan adalah salah satu contoh usaha penataan lahan untuk melakukan diversifikasi tanaman di lahan rawa. Selain tipe luapan B, sistem surjan juga dapat diterapkan pada tipe luapan C sedangkan tipe luapan D lebih baik untuk sistem pertanian lahan kering. Sistem surjan dapat digunakan untuk tanaman palawija, sayuran atau buah-buahan. Untuk tanah gambut tekstur lapisan tanah di bawahnya sangat menentukan dalam pola pemanfaatan lahannya.
Tabel 6.2. Pemanfaatan Lahan Berdasarkan Tipologi Lahan dan Tipe Luapan Air Pasang Surut
TIPE LUAPAN AIR P
E M A N F A A T A N L A H A N Kode Tipologi
Lahan A B C D
SMP-1 Aluvial bersulfida dangkal
Sawah Sawah Sawah -
SMP-2 Aluvial bersulfida dalam
Sawah Sawah
/surjan Sawah/surjan Sawah/tegalan /kebun
SMP-3 Aluvial bersulfida sangat dalam
- Sawah/
surjan
Sawah/tegalan
/surjan Tegalan/kebun SMA-1 Aluvial
bersulfida 1 - Sawah/
surjan Sawah/surjan Sawah/tegalan /kebun
SMA-2 Aluvial
bersulfida 2 - Sawah/
surjan Sawah/surjan Sawah/tegalan/
kebun SMA-3 Aluvial
bersulfida 3 - - Sawah/kebun Tegalan/kebun HSM Aluvial
bersulfida dangkal bergambut
- Sawah Sawah/tegalan Tegalan/kebun
G-1 Gambut
dangkal - Sawah Sawah/tegalan Tegalan/kebun
G-2 Gambut
sedang - - Kebun Kehutanan
G-3 Gambut
dalam - - Kebun Konservasi
Sumber: Massinai et al., 2013). Ket: SMP (sulfat masam potensial), SMA (sulfat masam aktual), HSM (histik sulfat masam), G (gambut).
78 ■ Pemberdayaan Masyarakat Melalui Nilai Kearifan Lokal Banjar
Adapun tujuan penataan lahan adalah untuk: (1) mengurangi resiko kegagalan total dalam usaha tani, (2) meningkatkan keragaman usaha tani melalui diversifikasi tanaman, (3) meningkatkan pendapatan usaha tani melalui diversifikasi tanaman; dan (4) mempertahankan kesuburan tanah.
3. Pemilihan Komoditas Adaptif. Melalui penerapan sistem tata air dan penataan lahan yang sesuai, lahan rawa pasang surut tidak hanya dapat diperuntukan untuk tanaman padi, namun berbagai komoditas dapat dikembangkan. Identifikasi jenis komoditas dan varietas untuk pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut sangat penting agar dapat memberikan hasil yang optimal, karena kondisi lahan rawa yang spesifik menyebabkan hanya beberapa jenis komoditas dan varietas tertentu saja yang dapat tumbuh dan memberikan hasil. Khusus untuk padi varietas unggul yang beradaptasi baik pada sawah lahan rawa pasang surut dengan tingkat keasaman dan kadar besi tidak terlalu tinggi adalah Ciherang, Cisadane, IR 42 dan IR 66. Sedangkan untuk lahan dengan keasaman dan kadar besi tinggi dapat digunakan beberapa varietas unggul lokal seperti Siam Lemo, Siam Unus, Siam Padak, Karang Dukuh, dan lain-lain.
4. Ameliorasi dan Pemupukan. Pemberian bahan ameliorasi (bahan pembenah tanah) dan pemupukan merupakan faktor penting untuk memperbaiki kondisi tanah dan meningkatkan produktivitas lahan. Bahan ameliorasi dapat berupa kapur, abu sekam, maupun serbuk kayu gergajian (Arsyad et al., 2014; Massinai et al., 2013). Pemberian pupuk disesuaikan dengan ketersediaan unsur hara di dalam tanah dan varietas yang ditanam. Keseimbangan unsur N, P, K dan Ca sangat penting dalam pengelolaan unsur hara dan pemupukan khususnya di lahan rawa pasang surut (Masulili, 2015; Ratmini, 2012). Hal ini dipertegas dengan hasil penelitian Ar-Riza (2014) menunjukkan bahwa untuk memperoleh hasil optimal, unsur hara harus diberikan secara lengkap yakni N, P, K, dan Ca.
5. Pengelolaan Bahan Organik. Bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia maupun dari segi biologi tanah. Di samping itu, sekitar lebih dari setengah kapasitas tukar kation (KTK) yang berasal dari bahan organik merupakan sumber hara bagi tanaman dan sumber energi dari sebagian besar organisme tanah (Suryana, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa bahan organik merupakan indikator kunci bagi kualitas tanah dan kualitas lingkungan. Pemberian bahan organik dalam jangka panjang tidak saja mampu mempertahankan lahan dari proses degradasi, tetapi juga memperbaiki kualitasnya. Pemberian bahan organik jerami padi sebanyak 4 ton/ha yang dikomposkan dengan Trichoderma Reesei di lahan sulfat masam dapat mengurangi kandungan besi dan sulfat, meningkatkan ketersediaan unsur K, serta meningkatkan hasil padi (Suryana, 2016).
6. Penerapan Teknologi yang Sesuai. Selain faktor pengelolaan air, penataan lahan, pemilihan komoditas yang adaptif, ameliorasi dan pemupukan, serta pengelolaan bahan organik, penerapan teknologi yang sesuai harus dilakukan dalam upaya untuk mengoptimalkan produktivitas lahan rawa. Penerapan teknologi yang sesuai untuk lahan rawa pasang surut (khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan) dapat dilihat dari proses penyiapan lahan. Penyiapan lahan adalah kegiatan penebasan dan atau pembersihan rerumputan serta pengolahan tanah, yang ditujukan agar lahan menjadi rata dan lebih seragam serta memberikan media tumbuh yang baik bagi perakaran tanaman (Arsyad et al., 2014).
Penyiapan lahan untuk tanaman padi lokal umumnya dilakukan dengan sistem olah tanah minimum (minimum tillage). Penyiapan lahan yang dilakukan oleh petani suku Banjar dikenal dengan istilah tapulikampar (tabas, puntal, balik, ampar) dengan menggunakan alat tradisional berupa tajak. Penggunaan tajak untuk mencegah lapisan pirit teroksidasi karena hanya sedikit permukaan tanah yang terkikis akibat sabetan tajak. Tapulikampar meliputi kegiatan: tabas (membabat rumput pada kondisi lahan yang berair), puntal (membuat gundukan-gundukan rumput
80 ■ Pemberdayaan Masyarakat Melalui Nilai Kearifan Lokal Banjar
dari hasil tabas), balik (membalik gundukan rumput agar cepat membusuk), dan ampar (menyebarkan rumput yang sudah membusuk di lahan yang akan ditanami padi).
Tiap suku di Indonesia memiliki kearifan lokal yang spesifik dalam pemilihan lokasi untuk dijadikan sawah, komoditas yang dipilih, sistem budidaya, pengelolaan lahan dan air, sampai pada penyimpan hasil panen.
Dalam kearifan lokal terkandung nilai-nilai pelestarian atau konservasi terhadap lingkungan, selain itu juga terdapat bentuk pantangan-pantangan atau kepercayaan (tabu) yang dipercayai petani Suku Banjar. Berikut kearifan lokal bahuma (bertani) di lahan rawa pasang surut yang dimiliki petani Suku Banjar.
1. Pengelolaan Air.
Penerapan sistem tata air merupakan hal yang sangat penting dan mempengaruhi keberhasilan usaha tani di lahan rawa pasang surut. Awal pembuatan sistem tata air dikarenakan tanah-tanah subur yang berada di pinggir sungai semakin menyempit (habis dibuka untuk lahan pertanian).
Keberadaan lahan subur di pinggir sungai yang semakin sedikit memicu berkembangnya kearifan lokal berupa pembuatan handil.
Gambar 6.8. handil sumber https://balittanah.litbang.pertanian.go.id/
Petani Suku Banjar memanfaatkan gerakan pasang dan surut untuk pengairan dan pengatusan (irigasi dan drainase) dengan membuat saluran- saluran masuk menjorok dari pinggir sungai ke arah pedalaman yang disebut dengan handil (bahasa Banjar) atau parit kongsi (bahasa Sumatera).
Dorongan air pasang dimanfaatkan untuk memasukkan air sepanjang handil dan petakan sawah. Pada saat pasang tunggal (purnama) yang merupakan puncak pasang, air dapat meluapi lahan untuk wilayah tipe luapan A dan B.
Lama genangan hanya 4-5 jam dengan selang waktu seiring dengan posisi peredaran bulan. Sistem pengairan dan pengatusan yang diterapkan petani yang memanfaatkan satu saluran handil (tersier) untuk masuk dan keluar air disebut aliran dua arah.
Catatan yang terdapat dalam manuskrip Haji Idak (Suryana, 2016) menjelaskan bahwa pembukaan lahan rawa pada awalnya dipimpin oleh seorang tokoh yang dijadikan pimpinan atau kepala. Pekerjaan pertama yang dikerjakan adalah menggali saluran yang disebut handil (handil dari kata aandeel=bahasa Belanda, yang artinya gotong royong, bekerjasama).
Pimpinan pembukaan lahan ini disebut kapala handil. Handil dibuat menjorok masuk dari pinggir sungai sejauh 2-3 km dengan kedalaman 0,5-1,0 m, dan lebar 2-3 m .
Handil-handil yang terdapat di Kalimantan Selatan memiliki nama yang berbeda antara satu dengan lainnya. Nama handil yang ada di daerah barito Kuala antara lain: Handil Berahim, Handil Paipat, Handi Barabai, dan Handil Mahang. Asal mula penamaan handil ini berdasarkan orang yang pertama kali membuka handil atau sekelompok orang yang berasal dari daerah asal.
Seperti Handil Berahim, nama handil ini berasal nama bapak Ibrahim (orang pertama yang membuka handil). Begitu pula dengan nama Handil Paipat, nama Paipat diambil nama orang tua (Bapak) dari anak yang bernama Ipat (jadi disingkat Paipat). Sedangkan nama Handil Barabai dan Handil Mahang diambil dari penduduk yang membuka handil pertama kali dan berasal dari daerah Barabai dan Mahang (Kabupaten Hulu Sungai Tengah).
82 ■ Pemberdayaan Masyarakat Melalui Nilai Kearifan Lokal Banjar
Keadaan rejim air sangat dominan berpengaruh di lahan rawa melalui gerakan pasang surut yang secara berkala dan banjir kiriman yang datang tidak menentu yang terjadi di lahan rawa pedalaman (lebak) sehingga pengelolaan rawa lebih bersifat pada pengelolaan adaptif (adaptive management approach). Pada sistem handil, air sungai masuk ke dalam saluran handil yang selanjutnya dijadikan sebagai saluran pengairan dan sebaliknya tatkala surut, air yang keluar dari sawah ditampung pada saluran handil. Selanjutnya bersamaan dengan terjadinya surut, air mengalir memasuki sungai. Dalam usaha tani tanaman pangan, khususnya padi sawah umumnya petani di lahan rawa memanfaatkan air yang masuk melalui handil ke saluran kuarter untuk kemudian ditahan dengan pembuatan tabat (dam overflow). Tabat dibuat dan difungsikan mulai dari penyiapan lahan sampai musim tanam padi. Selain itu, untuk memperlancar aliran air yang masuk ke sawah, petani di Desa mekarsari membuat saluran kecil yang mengelilingi areal sawah yang dikenal dengan saluran cacing. Kearifan lokal berupa pembuatan saluran air (handil) merupakan bentuk dari proses adaptasi petani terhadap keadaan lingkungan lahan rawa pasang surut. Hal ini sejalan dengan (Suwanda & Noor, 2020) keberhasilan pengembangan usaha pertanian di lahan rawa pasang surut sangat ditentukan oleh keberhasilan sistem tata air.
Pada lahan rawa pasang surut sulfat masam, tabat sangat penting untuk mempertahankan tanah berpirit tetap basah atau tergenang sehingga terhindar dari pemasaman (Noor 2010; Noor, 2004). Berkenaan dengan sifat tanah rawa, upaya mempertahankan muka air pada batas di atas lapisan pirit merupakan kunci keberhasilan dalam pengembangan pertanian di lahan rawa.
Sebab, pada kondisi pirit teroksidasi akibat kekeringan, tanah menjadi sangat masam (pH 2-3) dan larutan Al, Mn, dan Fe meningkat (Suwanda & Noor, 2020). Kondisi tanah yang masam akibat pirit yang teroksidasi menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh di lahan ini.
Gambar 6.9. Pengelolaan air sistem tabat. Sumber: (Alwi, 2014)
84 ■ Pemberdayaan Masyarakat Melalui Nilai Kearifan Lokal Banjar
Sistem handil merupakan suatu kearifan lokal dalam upaya mencukupi kebutuhan air bagi tanaman padi sehingga produktivitas meningkat dan berkelanjutan. Untuk menjaga eksistensi handil supaya berfungsi dengan baik, maka petani setiap tahun melakukan gotong royong untuk membersihkan handil dari pendangkalan dan tumbuhan purun tikus yang tumbuh subur di aliran air.
Pembuatan handil dikerjakan dengan sistem gotong royong yang menurut istilah lokal Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan disebut baarian. Handil berfungsi sebagai saluran irigasi pada saat air pasang dan drainase pada saat air surut. Adanya saluran handil juga mempercepat proses pencucian kemasaman tanah yang ada di sawah. Handil juga dimanfaatkan sebagai jalur transportasi untuk dilewati jukung (sejenis sampan kecil dalam bahasa banjar). Dalam perkembangan selanjutnya, petani Suku Banjar membuat galangan/paritan yang berfungsi sebagai pembatas sawah dan juga sebagai penahan air. Kegiatan membuat galangan/paritan biasanya dilakukan sebelum musim tanam, tepatnya setelah masa panen.
Pembuatan galangan/paritan ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang dimiliki petani Suku Banjar. Galangan/paritan ini berfungsi untuk menahan air yang ada di sawah sehingga ketika hujan datang atau ketika pasang, air tetap berada di dalam petak sawah sehingga membuat tanah yang masam tetap berada di lapisan bawah.
Tindakan petani Suku Banjar ini memiliki makna bahwa dengan membiarkan paritan mengelilingi sawah, maka tanah masam yang berada di lapisan bawah tidak terangkat ke permukaan. Karena apabila tanah masam ini terangkat ke permukaan, akan membuat tanaman padi akan mati. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Alwi, 2014; Suwanda & Noor, 2020) pengaturan air di lahan rawa pasang surut dengan membuat paritan diharapkan dapat menahan air hujan selama mungkin, hal ini dilakukan untuk keperluan pertumbuhan tanaman. Hal ini diperkuat dengan penelitian (Subagio, 2019) bahwa di bawah kondisi tergenang secara alami, oksidasi tidak dapat terjadi di dalam kondisi tanah yang anaerobik ini. Apabila tanah
dikeringkan, tanah terbuka terhadap udara dan pirit yang teroksidasi menghasilkan ion besi serta asam sulfat. Tanah sulfat masam terbentuk apabila produksi asam melampaui kemampuan bahan induk untuk menetralkan asam tersebut sehingga menyebabkan pH menjadi kurang dari 4, hal ini menyebabkan tanah tidak sesuai bagi sebagian besar tanaman.
2. Pengolahan Lahan a. Tabas.
Secara turun-temurun, petani Suku Banjar tidak menggunakan cangkul dan traktor dalam mengolah lahan. Pengolahan tanah di rawa pasang surut dilakukan dengan menggunakan alat berupa tajak (sejenis parang tetapi pada bagian ujungnya diberi tangkai panjang). Prinsip kerja alat ini adalah memotong rumput atau sisa tanaman padi tahun sebelumnya dengan menebas tipis lapisan tanah (± 5 cm).
Gambar 6.10. Tajak
86 ■ Pemberdayaan Masyarakat Melalui Nilai Kearifan Lokal Banjar
Gambar 6.11. Cara menggunakan tajak
Cara menggunakan tajak yaitu dengan diayun dari atas dan agak menyamping sehingga tajak hanya sedikit menyentuh tanah. Kegiatan ini untuk menghindari tersingkapnya lapisan pirit dalam tanah yang berpotensi menimbulkan oksidasi pirit. Tajak dikembangkan petani sejak ratusan tahun lalu sebagai bentuk peralatan yang adaptif dan sekaligus dapat mencegah terbongkarnya lapisan pirit pada bagian bawah yang dapat menyebabkan tanaman mati. Sistem pengolahan tanah dengan tajak dalam bidang pertanian modern dikenal dengan istilah pengolahan tanah secara minimum (minimum tillage). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian (Dewi et al., 2011) yang menjelaskan bahwa petani suku Banjar melakukan pengolahan lahan secara minimum dengan menggunakan tajak. Pengolahan lahan dilakukan bersamaan dengan pengelolaan rumput dan jerami, hal ini merupakan
tindakan konservasi bagi tanah karena rumput dan jerami yang dikembalikan ke tanah berfungsi sebagai pupuk organik. Selain sebagai pupuk organik, rumput dan jerami yang ditaburkan secara merata menutupi permukaan lahan sawah juga berfungsi sebagai penekan pertumbuhan gulma (Alwi, 2014;
Suwanda & Noor, 2020).
b. Puntal.
Puntal/Mamuntal adalah kegiatan menggulung/menumpuk rumput yang tersebar di sawah dari hasil kegiatan tabas/manabas menjadi gundukan/
puntalan (dalam bahasa banjar) dengan diameter 30-40 cm dan ditata berderet di persawahan. Kegiatan mamuntal biasanya dilakukan sekitar 10 hari setelah selesai penebasan rumput. Gumpalan/puntalan disusun berderet di hamparan sawah, agar lebih mudah dalam menyebarkannya. Kegiatan lainnya selain mamuntal adalah manyisir. Sama halnya dengan proses mamuntal, kegiatan manyisir ditujukan agar rumput yang ditebas cepat membusuk. Pada saat manyisir, rumput yang sudah ditebas dibuat alur-alur/galur di areal sawah yang disebut dengan istilah baluran. Perbedaannya mamuntal dan manyisir terletak pada: mamuntal dilakukan ketika air di sawah kurang dari 15 cm sehingga gumpalan/puntalan rumput tidak hanyut, sedangkan manyisir dilakukan apabila kedalaman air di sawah lebih dari 15 cm.
Gambar 6.12 Kegiatan Mamuntal
88 ■ Pemberdayaan Masyarakat Melalui Nilai Kearifan Lokal Banjar Gambar 6.13. Kegiatan Manyisir
Para petani memiliki pengetahuan tentang cara mempercepat proses pembusukan sisa potongan rumput dan jerami dengan cara pembalikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Alwi, 2014) proses pembusukan dan pembalikan rumput dan jerami dapat meningkatkan dan mempercepat proses dekomposisi yang dilakukan oleh bakteri aerob. Walaupun petani tidak mengetahui tentang peranan bakteri ini, tetapi pengalaman dan pengetahuan mereka telah memberikan pelajaran tentang cara efektif untuk membusukkan sisa-sisa gulma dan rumput tersebut.
c. Balik
Mambalik adalah kegiatan membalik puntalan/baluran dari bagian bawah ke atas agar rumput yang dipuntal/dibalur cepat membusuk. Kegiatan ini dilakukan sekitar 15-20 hari setelah proses mamuntal/manyisir. Bentuk puntalan akan diangkut ke pinggir galangan (pematang sawah) dan jika bentuk tumpukan tersebut berupa baluran/sisiran maka tetap dibiarkan di tempatnya.
Kegiatan mengangkut sisa potongan rumput dan jerami ini dikenal dengan istilah bahangkut dan dilakukan secara manual atau dengan bantuan alat kakakar.
Gambar 6.14. Kegiatan Mambalik d. Ampar.
Maampar adalah kegiatan menyebarkan rumput hasil puntalan/sisiran yang telah membusuk sebagai tambahan unsur hara dalam tanah. Kegiatan ini umumnya dilakukan sekitar 10-15 hari setelah proses balik/mambalik. Setelah rumput dan jerami ditebas, areal persawahan ini kemudian diberi kapur dengan dosis sesuai kemampuan petani (rata-rata sekitar 350 kg/ha). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Alwi, 2014; Subagio, 2019;
Suwanda & Noor, 2020) bahwa pemberian berbagai jenis amelioran berupa abu dan kapur dapat memperbaiki beberapa komponen sifat kimia tanah, P (Phospor) tersedia, pH, dan N total serta berpengaruh positif terhadap produktivitas tanaman di lahan rawa. Setelah kegiatan ampar/maampar, lahan siap untuk ditanami.
Gambar 6.15. Kegiatan Maampar
90 ■ Pemberdayaan Masyarakat Melalui Nilai Kearifan Lokal Banjar
Pengolahan lahan yang dilakukan petani merupakan salah satu bentuk kearifan yang dimiliki oleh Suku Banjar yang merupakan hasil dari bentuk adaptasi dengan lingkungan di lahan rawa pasang surut. Pengolahan yang sekaligus sebagai penyiapan lahan ini bertujuan untuk membuat kondisi lahan dalam keadaan ideal bagi tanaman (khususnya padi) agar mempunyai ruang mikro dan makro yang seimbang. Hal ini sejalan dengan penelitian (Subagio, 2019) bahwa proses tabas, puntal, balik dan ampar dapat mengeliminasi tanaman dari keracunan Fe akibat terkhelasinya (ikatan kimia) oleh bahan organik yang berasal dari kompos jerami dan gulma lainnya.
Pentingnya pemberian bahan organik, ditunjukkan oleh hasil penelitian (Massinai et al., 2013; Subagio, 2019; Suwanda & Noor, 2020) yang menyatakan bahwa pemberian bahan organik jerami dan rumput purun 5 ton/ha dapat menurunkan dan mempertahankan kondisi reduksi tanah, sehingga meningkatkan pH tanah dan menekan kelarutan Fe2+ tanah.