A. Teori Antropologi-Sosial
2. Kebudayaan : Perspektif Antropologi-Sosial
pola-pola sistem kekerabatan yang dianut oleh suatu komunitas masyarakat manusia.
asumsi besar bahwa antara kebudayaan sebagai kumpulan gagasan, ide-ide, kepercayaan-kepercayaan manusia tidak dapat dilepaskan dari aksi-aksi (tindakan sosial) dari apa yang menjadi landasan manusia berfikir sebagai hasil dalam setiap kebudayaan manusia. Semua hasil pemikiran manusia (produk kebudayaan) akan selalu sampai pada tahap aksi atau tidakan sosial. Tindakan-tindakan manusia, misalnya, perkawinan, dalam prosesnya ditemukan berbagai tindakan yang berkorelasi dengan ide-ide, gagasan- gagasan dan kepercayaan-kepercayaan yang dianut oleh suatu komunitas keluarga. Realisasi dari semua tindakan dalam perkawinan, merupakan suatu simbol dari suatu pola tertentu yang dalam penelitian ini disebut sebagai sistem kekerabatan. Oleh sebab itu, dalam antropologi sosial, secara teoretis merupakan perpaduan konsep-konsep kebudayaan sebagai kumpulan ide- ide, gagasan-gagasan, kepercayaan-kepercayaan manusia dengan perbuatan nyata (tindakan sosial) sebagai simbol dari suatu kebudayaan.
Dalan kaitan itulah dibutuhkan teori-teori pendukung, khususnya teori-teori tindakan sosial (social action) yang menjadi media untuk mendeskripsikan segala produk kebudayaan manusia, khususnya dalam kaitannya dengan sistem kekerabatan.
Ralph Linton yang terkenal dengan melihat kebudayaan sebagai latar belakang individu mendefinsikan kebudayaan sebagai berikut :
“ Seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang mana pun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Dalam arti cara
hidup masyarakat itu kalau kebudayaan diterapkan pada cara hidup kita sendiri, maka tidak ada sangkut pautnya dengan main piano atau membaca karya sastrawan terkenal. Untuk seorang ahli ilmu sosial.
kegiatan seperti main piano itu. merupakan elemen-elemen belaka dalam keseluruhan kebudayaan kita. Keseluruhan ini mencakup kegiatan-kegiatan duniawi seperti, mencuci piring atau menyetir mobil dan untuk tujuan mempelajari kebudayaan. hal ini sama derajatnya dengan "hal-hal yang lebih halus dalam kehidupan". Karena itu. bagi seorang ahli ilmu sosial tidak ada masyarakat atau perorangan yang tidak berkebudayaan. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan.
bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia adalah mahluk berbudaya dalam arti mengambil bagian dalam sesuatu kebudayaan”35.
Definisi tentang kebudayaan tersebut menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Kata itu meliputi cara-cara berlaku. kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu. Dalam persfektif antropologi – sosial, khususnya dalam sistem kekerabatan, teori ini mengusung suatu asumsi teoretis bahwa setiap produk kebudayaan manusia selalu dilatar belakangi oleh kemampuan seseorang untuk memahami segala sesuatu sebagai hasil dari produk kebudayaan kelompoknya sendiri. Produk kelompoknya sendiri dapat berupa, tanda-tanda kultural, seperti, mitologi, ritual, peraturan kekerabatan, dsb 36. Konsep ini sesuai dengan asumsi teori The elementary Systems of Kinship dari Levi-Strauss. Bahkan, menurut Levi- Strauss bahwa “ sistem kekerabatan sangat dipengaruhi oleh segi historis,
35 Dikutip dalam buku Ihroni, op.cit. 1980, hal.18.
36 Dapat dilhat dalam Buku Peter Beillhars berjudul “ Social Theory : A Guide to Central Thinkers” yang diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko menjadi ” Teori-Teori Sosial, Obsevarsi Kritis terhadap Para Filosof Terkemuka, Pustaka Pelajar, Cet. Ketiga, Yogyakarta, 2003, Hal. 261.
demografis serta kendala lainnya”37. Padangan C. Levi-Strauss tersebut membuktikan bahwa pembentukan dan pelestarian suatu sistem kekerabatan umat manusia tidak dapat dilepaskan dari faktor sistem kultural masyarakatnya sendiri.
Napoleon Chagnon (1968: 84) memberi penegasan kebudayaan dengan mencontohkan Indian Yamonamo dari perbatasan Venezuela Brasilia mempunyai adat tertentu yang kemungkinan besar akan dinilai secara negatif oleh kebanyakan orang, hanya karena adat itu tidak sesuai dengan gagasan kebanyakan orang tentang cara berlaku wajar bagi anak-anak. Bila putra- putri Yamonamo marah pada orang tuanya dianjurkan untuk menyatakan kemarahan itu dengan menempeleng kepalanya bukannya dihukum malahan dipuji. Pada umur empat tahun, sebagian besar anak laki-laki telah tahu, bahwa cara yang sudah dimaklumi bersama dan disetujui, untuk menunjukkan kemarahan dalam masyarakat mereka adalah dengan memukul orang.
Selanjutnya, adat yang demikian tidak diterima sebagian besar masyarakat. Karena penggunaan kekerasan fisik dalam hubungan antar manusia di larang. Adat demikian melanggar sistem sikap, nilai-nilai dan prilaku yang dimiliki sebagian besar masyarakat. Karena itu, seperti hanya semua konsep-konsep ilmiah, konsep kebudayaan berhubungan dengan beberapa aspek “di luar sana” yang hendak diteliti oleh seorang ilmuwan.
37 Ibid.
Konsep-konsep kebudayaan yang dibuat membantu peneliti dalam melakukan pekerjaannya sehingga ia tahu apa yang harus dipelajari. Tingkah laku pada binatang sudah terprogram dalam gen mereka yang berubah secara sangat lambat dalam mengikuti perubahan lingkungan di sekitamya.
Perubahan tingkah laku lebah akhirnya harus menunggu perubahan dalam gennya. Berbeda dengan manusia, tingkah laku manusia sangat fleksibel.
Hal ini terjadi karena kemampuan yang luar biasa dari manusia untuk belajar dari pengalamannya. Benar bahwa manusia tidak terlalu istimewa dalam belajar karena mahluk lainnya pun ada yang mampu belajar, tetapi kemampuan belajar dari manusia sangat luar-biasa dan hal lain yang juga sangat penting adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan apa yang telah dipelajari itu.
Uraian tentang pengertian dan makna kebudayaan tersebut memberikan arah kepada pembentukan asumsi-asumsi teortis bahwa suatu kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kehidupan manusia. Suatu kebudyaan baru dapat dikenal sebagai suatu wujud kebudayaan ketika berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kaitan itu, konsep kebudayaan dalam persfektif antropologi-sosial memberi suatu makna spesifik dari suatu kebudayaan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial tidak hanya hidup dalam arti hanya menggunakan ide-ide, atau gagasan- gasannya sendri, akan tetapi ide-ide, gagasan-gasan, kepercayaan-
percayaan yang dimiliki suatu kmunitas yang dikomunikasikan setiap orang secara simbolik baik melalui bahasa (ucapan) dan perilaku (perbuatan).