• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. Metodelogi Penelitian

2) Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis. Kehadiran peneliti sudah pasti dibutuhkan, karena peneliti dalam lokasi penelitian berperan sebagai instrumen kunci dalam keseluruhan penelitian di lapangan. Kehadiran peneliti bukan dengan tujuan untuk mempengaruhi subjek penelitian, namun untuk memperoleh data dan informasi yang akurat23.

22Abidin, Yusuf Zainal dan Beni Ahmad Saebani. “Pengantar Sistem Sosial Budaya di Indonesia.

Bandung”. Bandung. Pustaka Setia. 2014. Hal. 167

23 Juliansyah Noor, “Metodelogi Penelitian Skripsi, tesis, Disertasi, dan Karya Ilmiah”. (PT Kencana, Jakarta). Hal. 33

Untuk mendapatkan data yang akurat dapat digunakan beberapa metode, yaitu metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Sebelum melakukan langkah-langkah tersebut peneliti sebelumnya melakukan survey lokasi penelitian sebanyak tuju (7) kali. Tujuannya untuk mendapatkan bahan-bahan dalam pembuatan proposal skripsi.

3. Sumber Data

Dalam hal sumber data ini yang menjadi kunci informasi adalah kasi koleksi dan bimbingan edukasi. Karena dalam bidang inilah yang paling banyak menguasai dan mengetahui tentang fokus penelitian yang akan peneliti teliti di Museum Negeri Prov. NTB. Adapun jenis-jenis data itu adalah sebagai berikut:

a) Data Primer

Data primer merupakan data yang dihasilkan dari sumber terdekat dengan orang, informasi, periode, atau ide yang dipelajari24. Seperti file arsip museum bisa didapatkan melalui petugas pepustakaan museum, dan informasi mengenai jenis pameran serta informasi tata kelola museum bisa didapatkan dari pegawai bagian umum.

b) Data Sekunder

Data sekunder merupakan data pelengkap dan bersifat menguatkan data primer. Data ini bisa berupa buku-buku, atau penelitian orang yang berkaitan dengan penelitian yang sedang

24 Ibid, hal. 40

diteliti25. Peneliti menggunakan buku panduan museum dan hasil searching melalui media sosial museum sendiri.

4. Teknik Pengumpulan Data

Data Prosedur penelitian tidak distandarisasi dan bersifat fleksibel.

Jadi yang ada adalah petunjuk yang dapat dipakai, tetapi bukan aturan.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.

1) Metode Observasi

Observasi adalah mengamali dan mendengar perilaku seseorang selama beberapa waktu tanpa melakukan pengendalian, serta mencatat penemuan yang memungkinkan atau memenuhi syarat untuk digunakan ke dalam tingkat penafsiran analisis26. Dalam penelitian ini, peneliti berkunjung ke museum dan mengamati setiap kegiatan-kegiatan yang lakukan, separti memperhatikan petugas tiket yang melayani pengunjung hingga bimbingan edukasi untuk siswa-siswi.

2) Metode Wawancara

Metode wawancara merupakan suatu cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi dari responden dengan cara bertanya langsung secara bertatap muka27. Peneliti mengambil waktu-waktu senggang atau waktu istirahat untuk melakukan wawancara dengan tatap muka dan peneliti disini menggunakan wawancara tidak terstruktur

25 Ibid, hal. 41

26 James A. A Black dan Dean, J. Champions, “Metode dan Masalah Sosial” (Bandung. PT Repika Aditana, 1999), hal. 268

27 Ibid, hal. 270

namun tetap memfokuskan pertanyaan berdasarkan garis-garis besar pertanyaan saja.

3) Metode Dokumentasi

Dokumentasi itu merupakan arsip, sejarah milik negara atau pribadi, privasi, milik pribadi seperti surat wasiat ijazah, berkas rahasia agenda catatan pribadi dan sebagainya, serta data atau informasi yang tercantum di berbagai media massa, kepustakaan, bahan publikasi, instansi dan pengumpulan publik28. Selama melakukan penelitian dilokasi, peneliti memperoleh dokumen terkait seperti, sejarah museum, visi misi, struktur organisasi, sumber daya museum, kegiatan-kegiatan museum, jam kunjungan serta semua data yang berkaitan dengan struktur organisasi, suber daya museum, sejarah museum, visi misi, dan jam kunjungan museum.

5. Teknik Analisis Data

Secara umum, teknik analisis data dalam penelitian kualitatif begerak secara induktif, yaitu dari data/fakta menuju ketingkat abstraksi yang lebih tinggi, termasuk juga melakukan sintesis dan mengembangkan teori (bila diperlukan dan datanya menunjang)29. Artinya, analisis data pada penelitian kualitatif lebih bersifat open ended dan harus di selesaikan dengan data/informasi di lapangan sehingga prosedur analisinya sukar untuk dispesifikasikan dari awal30.

28Sugyono, “Memahami Penelitian Kualitatif” (Bandung, CV Alfabeta, 2014). Hal. 20

29 Ibid, hal. 276

30 Nur Hikmatul Auliya, Grad.Cert.Biotech. “Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (Yogyakarta, CV. Pustaka Mulia). Hal. 36

Adapun beberapa teknik dalam menganalisis data, yaitu:

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok yang penting, untuk dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang Sudah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, mempemudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Peneliti mereduksi dengan menajamkan, menggolongkan, dan membuang data yang tidak diperlukan dan menata data yang sesuai dengan fokus penelitian sehingga kesimpulan akhir dapat dimmuskan dan membuat ringkasan.

Peneliti melakukan kegiatan ini secara terus menerus sampai penelitian ini selesai31.

b. Data Display (Penyajian Data)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya.

Dalam hal ini Miles and Huberman menyatakan bahwa yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam pnelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dari semua hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, peneliti memilih semua data yang sesuai dengan fokus penelitian untuk disajikan dengan uraian singkat, padat dan jelas32.

31 Ibid, hal. 40

32 Ibid, hal. 40

c. Conslusion Drawing/verification (penyimpulan data)

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif bersifat sementara dan berkembang sctelah peneliti berada di lapangan33. Oleh karena itu, kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan data dari sebelumnya. Dalam hal ini peneliti melakukan penyimpulan data dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Menelaah basil pengamatan, observasi, serta dokumentasi kemudian memisahkan data yang penting untuk keperluan penelitian

2) Mendeskripsikan data yang telah diklasifikasikan untuk penelaahan Iebih lanjut dengan memperhatikan dua fokus penelitian

3) Menelaah deskripsi data dan membandingkannya dengan teori yang dijadikan sebagai acuan penelitian dan peneliti membuat analisis akhir terhadap dua fokus penelitian34.

6. Validitasi Data

Keabsahan merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek pcnelitian dengan data yang dilaporkan oleh peneliti. Dcngan demikian data yang dinyatakan valid dalam penelitian kualitatif adalah data tidak ada perbedaannya antara yang dilaporkan peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.

Uji keabsahan data dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

33 Ibid, hal. 42

34 Ibid, hal. 45

a. Metode Triangulasi

Triangulasi merupakan proses pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Terdapat tiga jenis triangulasi yaitu triangulasi sumber, teknik dan waktu. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua jenis triangulasi yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Triangulasi sumber, peneliti melakukan analisis sementara dengan cara peneliti selalu mengkonfirmasi data dari informasi baru sasja yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Begitu juga dengan hasil wawancara, peneliti selalu membandingkan dengan hasil wawancara sebelumnya dengan wawancara yang baru. Sedangkan triangulasi teknik, peneliti selalu mendokumentasikan aktifitas petugas mesuem di berbagai pihak dengan tetap berada dalam fokus penelitian.

BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Hasil Observasi di Lokasi Penelitian

l. Sejarah Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat

Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat berlokasi di Jalan Panji Tilar Negara No.6 Mataram, dengan areal seluas 8.613 m2. Museum ini merupakan museum yang dirintis pembangunannya sejak (tahun 1976/1977. Pada tahun tersebut NTB memperoleh dana pembangunan dengan nama proyek rehabilitasi dan perluasan museum. Berdasarkan proyek tersebut berani di dalamnya tersirat semacam pengakuan bahwa di NTB telah ada museum yang perlu direhabilitasi dan diperluas. Maka pada tahun 1976/1977 sampai dengan 1980/1981, pembangunan sarana prasarana gedung museum satu persatu dilaksanakan sampai akhimya terwujudlah museum tingkat provinsi di Nusa Tenggara Barat yang diberi nama Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat.35

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat berdasarkan jenis koleksinya yang beragam diklasifikasikan sebagai museum umum. Koleksi yang dimiliki museum ini sebanyak 7900 buah dalam pengelolaannya dibagi menjadi 10 jenis, yaitu: geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, dan heraldika, filologika, keramologika, teknologika, dan seni rupa. Pembagian jenis koleksi berdasarkan disiplin

35Arsip file Museum Negeri NTB, “Sejarah Museum Negeri Nusa Tenggara Barat”. hal. 01

ilmu dan sub disiplin ilmu tersebut bertujuan antara lain untuk memudahkan dalam pengelolaan, penelitian, dan pemanfaatan koleksi.

Kelembagaan museum ini ditetapkan berdasarkan SK Mendikbud RI N0. 022/0/1/1092 tanggal 21 Januari 1982. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 1982 oleh Mendikbud RI Bapak Dr. Daoed Yoesoef. Museum negeri prov. NTB merumuskan banding "Museum Sebagai Citra Peradaban Bangsa”. Pencitraan ini tidaklah berlebihan karena pada dasarnya museum merupakan lembaga yang menyatukan mata rantai masa lalu, masa kini, dan proyek masa yang akan datang. Sejarah museum menunjukkan bagaimana peran lembaga ini dari sekedar tempat menyimpan barang yang ditransformasikan sebagai lembaga kebudayaan dan saat ini menjadi Iembaga ilmu pengetahuan dan sekaligus dapat memberi inspirasi untuk rancang bangun peradaban pada masa yang akan damng. Pasang surut petjalanan Museum Negeri Provinsi NTB dalam pclaksanaanmgas pokok dan fungsinya tetap mempenahankan tiga pilar kebijakan yaitu sebagai lembaga yang berwatak ilmiah, seni dan menyenangkan dengan orientasi pelestari warisan budaya, lembaga pendidikan dan penguatan wawasan36. 2. Visi & Misi

Visi, Museum sebagai cinta peradaban bangsa, visi ini menggambarkan kecemerlangan historis, keluhuran nilai, keunggulan ekspresi bangsa pada masanya untuk menimbulkan kebanggaan dan kecintaan kepada budaya bangsa dan merangsang kreativitas untuk

36 Ibib, hal. 2

membangun peradaban yang bermartabat berdasarkan keunggulan dan nilai luhur budaya bangsa37.

Misi:

a) Menata kelola koleksi secara bertanggung jawab menurut prosedur standar baik secara fisik maupun substansi.

b) Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat pcngunjung dengan informasi yang akurat dan terstandar sesuai dengan karakteristik pengunjung .

c) Mengkaji dan meneliti koleksi dan mempublikasikan hasilnya untuk berbagai kepentingan dalam rangka pendidikan karakter bangsa, ketahanan nasional dan wawasan nusantara.

d) Meningkatkan jumlah dan jenis koleksi Museum Negcri NTB sesuai dengan sejarah perkembangan kebudayaan dan karakteristik kebudayaan dan peradaban masyarakat.

e) Mengembangkan fungsi museum sebagai pusat informasi kebudayaan dan sebagai lembaga pendidikan karakter bangsa.

f) Mengembangkan jaringan kerjasama Museum Negeri NTB dan membangun kelja kemitraan dengan komunitas pecinta museum sebagai wadah partisipasi masyarakat.

g) Meningkatkan sarana dan prasarana Museum Negeri NTB sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni.38

37 Ibid, hal. 2

38 Ibid, hal. 04

3. Struktur Organisasi

Sejak diresmikan sampai dengan tahun 2000, Museum Negeri NTB mempakan UPT (Unit Pelaksana Teknis) Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Ada pun struktur organisasinya berdasarkan SK Mendikbud NO.

001/011991 tentang Organisasi dan Tata Kerja Museum Negeri Provinsi NTB, dengan bagan struktur sebagai berikut39:

Sejak berlakunya Undang-undang NO. 22 Tahun l999 yang kemudian diubah dengan UU NO. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Museum Negeri Prov. NTB bemaung dibawah Pemerintah Prov. NTB dan menjadi UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Nusa Tenggara Barat, dengan struktur organisasi berdasarkan Peraturan Daerah Prov. NTB NO. 53. Pasal 6 Tahun 2016 sebagai berikut40:

39 Ibid, hal. 05

40 Ibid, hal. 5

KEPALA MUSEUM

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

SUB BAGIAN TATA USAHA

4. Staf-staf Umum Museum

Sumber daya manusia yang dimiliki Museum Negeri Prov. NTB berjumlah 78 orang yang berdasarkan kedudukannya dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pejabat struktural, tenaga teknis atau pejabat fungsional, dan tenaga administrasi atau staff. Pejabat struktural terdiri dari kepala museum, sub bagaian tata usaha, kepala seksi koleksi, sub bagian perawatan dan pengkajian dan seksi layanan bimbingan edukasi, serta kepala kelompok jabatan fungsional, yang dibantu oleh staf administrasi dalam melaksanakan tugasnya, pejabat struktural dan pejabat fungsional memiliki tanggung jawab yang sama secara proporsional dibagi menjadi tanggung jawab teknis substantif dan tanggung jawab manajemen. Tanggung jawab teknis substantif antara lain meliputi pengadaan koleksi, penelitian koleksi, SEKSI PENGKAJIAN

DAN PERAWATAN

SUB BAGIAN TATA USAHA

SEKSI PENYAJIAN DAN LAYANAN

EDUKASI

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL KEPALA MUSEUM

perawatan koleksi, penataan koleksi di ruang pameran, dan bimbingan edukatif kultural41.

Tanggung jawab kelola administrasi antara lain pengelolaan administrasi koleksi, pendukung sumber daya, data-data kepegawaian, pengelolaan perpustakaan museum, pengelolaan dan penataan lingkungan dan lain-lain yang berkaitan dengan fungsi manajemen kemuseuman

5. Koleksi Museum

Museum Negeri N'l'B sampai tahun 2020 mempunyai koleksi Sebanyak 7.908 buah. Terdiri dari 10 kelompok: (Geologika / Geografika, biologika, arkeologika, historika, filologika, numismatika, kramologika, etnografika, teknologika, seni rupa dan seni karya)42.

a) Etnografika

Koleksi etnografi adalah kolcksi benda budaya yang berasal dari berbagai suku bangsa yang ada di NTB, sperti suku Sasak, Samawa, dan Mbojo. Koleksi ini berupa peralatan mata pencaharian hidup (berburu, berladang, bertani, dan menangkap ikan), peralatan transportasi, peralatan rumah tangga (menerima tamu, memasak atau dapur), peralatan upacara adat, dan lain-lain.

b) Arkeologi

Koleksi arkeologi adalah benda budaya hasil temuan berupa peninggalan masa pra sejarah dan sejarah.

41 Ibid, hal. 7

42 Ibid. hal. 8

c) Historika

Historika adalah koleksi sejarah berupa benda budaya bukan hasil temuan atau eskavasi, tetapi dapat dijadikan sebagai bukti suatu peristiwa sejarah, yaitu benda-benda sejarah sebagai bukti peninggalan sejarah lokal. Koleksi tersebut antara lain: sejarah masuknya Islam (cungkup masjid, Al-qur’an dan tulisan tangan), sejarah kesultanan Bima (pakaian Sultan, pondi) dan sejarah perjuangan masyarakat NTB melawan colonial (baju perang, topi perang dan senapan).

d) Fiologi

Koleksi fiologi adalah naskah kuno yang ditulis menggunakan aksara dan bahasa tradisional yang berisi tentang ilmu pemerintahan, sastra, pengobatab dan hukum. Sebagian besar naskah kuno yang ditulis diatas daun lontar dengan menggunakan aksara traditional.

e) Keramologika

Keramologika adalah benda yang terbuat dari tanah liat, bahan batuan dan porselin yang dibakar dengan suhu tinggi atau rendah.

f) Teknologi

Teknologi adalah peralatan traditional sebagai alat produksi untuk menghasilkan benda budaya seperti pande besi dan alat tenun.

g) Seni rupa

Seni rupa merupakan benda-benda hasil daya cipta, karsa, dan perasaan manusia yang diungkapkan secara kongkrit ke dalam bentuk dua atau tiga dimensi yang mempunyai nilai fungsi ekspresi dan estetik.

Koleksi ini terdiri dari : lukisan, alat musik traditional NTB (topeng, wayang sasak, serta hasil anyaman dan ukiran43.

6. Pengunjung Museum NTB

Pengunjung Museum Negeri NTB jika diperhatikan sangat sepi dari kunjungan, tidak banyak pengunjung yang datang untuk berkunjung setiap harinya dan kunjungan belum mencapai target jika diperhatikan dari jumlah pengunjung yang berkunjung ke museum. Peneliti menyaksikan sendiri keadaan Museum NTB yang sepi akan kunjungan saat meneliti keadaan di lokasi.

7. Jam Kunjungan Museum

Untuk mengunjungi Museum NTB kita bisa melihat jadwal kunjugannya sebagai berikut:

1) Senin hingga Kamis : pukul 08.00 -16.00 2) Jum’at : pukul 08.00-16.00

3) Sabtu : pukul 08.00-14.00

4) Minggu : pukul 08.00-14.00 khusus hari libur nasional museum tutup.44

8. Harga Tiket Masuk

1) Perorangan anak-anak : Rp. 2.000, 2) Perorangan dewasa : Rp. 4.000, 3) Wisatawan mancanegara : Rp. 7.000,.”

43Ibid, hal. 10

44 Ibid, hal. 12

B. Strategi Museum NTB Dalam Mempertahankan Budaya Lokal

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai lembaga penyimpanan, perawatan dserta pelestarian benda-benda bersejarah, museum NTB telah melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mencapai visi dan misi yang telah di tetapkan demi menjaga keberlangsungan benda-benda peninggalan tersebut tetap tejaga keasliannya dan kemudian bisa di pajang di pameran-pameran nantinya.

Museum kehadirannya sangat diharapkan mampu mewujudkan masyarakat cinta akan budaya dan kaya akan sejarah nenek moyang. Adapun beberapa kegiatan untuk mempertahankan benda-benda atau koleksi yang ada, maka museum telah melakukan beberapa upaya antara lain:

1. Kegiatan Museum

Sebagai lembaga yang bertugas untuk mengumpulkan, merawat, menyelamatkan, menginformasikan benda-benda peninggalan sejarah dan budaya, Museum Negeri Prov. NTB membagi tugas-tugas tcrsebut dalam dua bagian, yaitu administrasi dan teknis. Tugas administrasi dilaksanakan oleh bagian ketatausahaan yang langsung dikomadoi kepala bagian tata usaha. Adapun kegiatan-kegiatan museum dalam menjalankan tugasnya adalah sebagai berikut:

1) Membagikan browser-browsur kepada pengunjung yang pertama kali datang dan berkunjung ke museum

2) Menerjemahkan sekaligus menginformasikan nama dan sejarah benda- benda koleksi kepada pengunjung wisatawan asing

3) Melakukan diskusi rutin kemuseuman yang di ikuti oleh seluruh staff museum terkait

4) Membagikan masker kepada pengendara motor dan melakukan bersih- bersih sampah area pantai sembalun.

2. Kelompok Kerja Koleksi dan Bimbingan Edukasi

Kelompok kerja ini mempunyai tugas dalam pengadaan koleksi, dokumentasi, survei pengadaan koleksi, bimbingan edukatif kultural, dan publikasi museum. Adapun kelompok kerja tersebut:

a. Pengadaan Koleksi

Pengadaan koleksi adalah suatu kegiatan pcngumpulan benda- benda atau pembuatan replika yang dijadikan koleksi museum dan berguna sebagai bahan pembuktian sejarah alam, budaya manusia dan lingkungannya dan wilayah nusantara yang dapat menggambarkan identitas kesatuan bangsa45.

Pengadaan koleksi ini dapat dilakukan dengan beberapa macam, yaitu: (imbalan jasa atau ganti rugi, sumbangan atau hibah, titipan, barang sitaan, pertukaran dengan museum lain) Benda-benda yang akan dikoleksi museum harus mempunyai kriteria-kriteria lenemu, yaitu:

Pertama: Benda harus mcmpunyai nilai sejarah, nilai ilmiah, tanpa mengesampingkan nilai keindahan (esletis).

Kedua: Benda harus dapat diidentifikasi, baik mcngenai bentuk atau wujud (morfologis), tipe (tipologis), gaya (stylistis), fungsi dan asalnya

45Ibid, hal. 12

secara historis, geografis, genisnya dalam ordo biologi alau periodisasi dalam geologi (untuk benda-benda sejarah alam).

Ketiga: Benda itu harus dapat dijadikan monumen atau bakal jadi monument dalam sejarah alam dan budaya.

Keempat: Reproduksi atau replika yang sah menurut persyaratan46. b. Dokumentasi Koleksi

Dokumentasi koleksi adalah usaha pengumpulan keterangan tertulis, rekaman suara, rekaman visual (foto, slide, dan film) mengenai koleksi dan latar belakangnya47. Petugas bagian kelola koleksi rajin mengumpulkan dan kemudian membersihkan lalu ditempatkan ke dalam tempat yang baru dengan tujuan untuk menjaganya tetap awet.

c. Survei Pengadaan Koleksi

Survei pengadaan koleksi adalah suatu metode penelilian dengan menggunakan pendekatan secara menyeluruh dan terpadu untuk mendapatkan semua bahan mengenai semua aspek kebudayaan termasuk pada wilayah yang mempunyai kebudayaan material tradisional yang sudah terdesak atau punah48.

d. Bimbingan Edukatif

Bimbingan edukatif kultural merupakan suatu kegiatan untuk memperkenalkan museum dan koleksinya kepada pengunjung dengan

46 Ibid, hal. 13

47 Ibid, hal. 13

48 Ibid, hal. 13

sistem dan metode yang betsifat edukatif. Kegiatan ini dapat dilaksanakan apabila koleksi-koleksi museum sudah berada di ruang pameran49.

Kegiatan bimbingan edukatif kultural tidak terlepas dari fungsi museum sebagai sarana pendidikan dan edukasi. Dengan demikian akan tercipta suatu system yang mengarah pada pencapaian tujuan, yaitu mencerdaskan kehidupan berbangsa dan mengesampingkan unsur-unsur hiburan.

Supaya pengunjung mengetahui letak-letak koleksi perlu adanya kesiagaan oleh staff bimbingan edukatif disetiap pameran koleksi sehingga pengunjung hanya tinggal menanyakannya saja.

Kegiatan bimbingan edukatif kultural tidak terlepas dari fungsi museum sebagai sarana pendidikan dan rekreasi. Dengan demikian akan tercipta suatu sistem yang mengarah pada pencapaian lujuan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tidak mengesampingkan unsur- unsur hiburan.

Ada beberapa macam dalam melakukan kegiatan ini, sehingga pengunjung atau masyarakat selain mengenal dan memahami museum juga dapat meningkatkan apresiasinya terhadap museum, yaitu:

Pertama: Bimbingan atau pemanduan keliling. Hal ini dilakukan oleh pihak museum ketika ada para pengunjung yang datang ke Museum Negeri Provinsi NTB pada hari-hari kunjungan.

49 Ibid, hal. 14

Kedua: Pemutaran slide program dan film. Pemutaran slide program dilakukan ketika museum mengundang siswa-siswa atau pun mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam memeriahkan acara pemutaran film-fllm sejarah museum dan semua koleksinya.

ketiga: Pembagian LKS (lembar kerja siswa). Pembagian lembar kerja siswa ini dilakukan ketika siswa-siswa melakukan kunjungan rombongan dari sekolah. Pihak museum akan membagikan lembar kerja sebagai penunjang pemahaman tentang museum.

Keempat Metode ceramah. Metode ini dilakukan oleh museum ketika mengadakan acara workshop atau seminar yang sengaja diprogramkan oleh Museum Negeri Nusa Tenggara Barat untuk menyampaikan informasi tentang museum dan semua koleksinya.

Kelima: Diskusi atau tanya jawab terhadap koleksi yang dipamerkan50. e. Pameran Koleksi

Museum juga menyediakan tempat khusus sebagai ruang pameran tetap.

Bagi para pengunjung yang datang berkunjung akan mendapatkan pelayanan bimbingan terhadap apa yang akan pengunjung tanyakan kepada staf museum tentang sejarah dan semua koleksi Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan pelayanan di museum dalam memberikan informasi kepada pengunjung tentang museum dan koleksinya menjadi tugas pengelola museum, khususnya bagian bimbingan edukasi. Pelayanan

50Arsip file Museum Negeri NTB, “Sejarah Museum Negeri Nusa Tenggara Barat”. Hal. 14

terhadap pengunjung yang dilakukan dengan sistem dan metode yang bersifat edukatif bertujuan untuk menanamkan dan meningkatkan daya apresiasi dan pengetahuan nilai warisan budaya serta ilmu pengetahuan51.

Kegiatan pameran museum berdasarkan hasil wawancara:

Munawir mengatakan,,

“Museum sebenarnya tempat perkenalan benda-benda koleksi sejarah masa lampau. Makanya pameran di anggap sangat mendukung sekali dalam proses pengenalan dan menciptakan masyarakat yang cinta akan museum. Kami berharap dengan pameran koleksi ini mampu memberitahukan macam-macam koleksi apa saja yang di pamerkan di museum ini, kami menjamin koleksi di museum akan membuat pengunjung terhibur dan mendapatkan wawasan tambahan mengenai budaya adat yang ada di NTB ini”

Faras mengatakan,,

“pameran bertujuan untuk menata koleksi berdasarkan tema dan sistematika koleksi-koleksi museum supaya masyarakat mengetahui asal-usul latar belakang koleksi. Supaya pameran berjalan dengan tertib, perlu adanya perencanaan pelaksanaan seperti tata penyajian koleksi atau tata pameran oleh karena itu kita di tuntut untuk sigap dalam menghadapi situasi yang tak terduga seperti rusak pencahayaan di beberapa bagian koleksi dan menyebabkan kegelapan. ”

Akbar juga mengatakan,,

“Demi berlangsungnya kegiatan pameran yang terstruktur dan tidak membuat pengunjung merasa tidak puas dengan informasi yang pada papan informasi maka kami dengan senang hati akan menjelaskan secara luas dan lengkap bagaimana sejarah-sejarah dari setiap koleksi yang dipamerkan, tidak hanya itu koleksi di sini bisa di bilang cukup di mengerti karena kami sudah memasang informasi terkait koleksi yang di pamerkan”52

51 Ibid, hal. 15

52Fauzi, wawancara, Museum Negeri NTB, 1-8-2020

Dokumen terkait