H. Teknik Analisis Data
I. Teknik Pengabsahan Data
4. Kehidupan Sosial Budaya
Penduduk yang mendiami Desa Pepandungan sebagian besar adalah masyarakat yang mengidentifikasi diri mereka kedalam masyarakat To Duri (di yakini merupakan masyarakat hasil percampuran budaya antara Budaya Suku Toraja dengan Suku Bugis) hal ini dibuktikan dengan bangunan-bangunan di Desa Pepandungan mempunyai kemiripan dengan bangunan-bangunan yang ada di Tanah Toraja seperti rumah, tempat penyimpanan padi (Lumbun padi), dan bahasa sehari-hari (Bahasa Duri) yang digunakan memiliki kesamaan. Masyarakat
Pepandungan sebagian lagi berasal dari luar Wilayah Desa Pepandungan karena tugas, seperti petugas Kesehatan, Tenaga Pendidik ataupun untuk Usaha Wiraswasta.
Jumlah penduduk yang mendiami wilayah Desa Pepandungan berdasarkan data kependudukan tahun 2010 adalah sebanyak 1.367 jiwa, yang terdiri atas 660 jiwa laki-laki, dan 707 jiwa perempuan. Jumlah tersebut tersebar pada 4 (empat) dusun yakni DusunDa’dah, Dusun Dante Koa, Dusun Pedunian dan Dusun Buntu Riri dengan perincian sebagaimana tabel berikut ini :
Tabel 4.5
Jumlah Penduduk Desa Pepandungan
Nama Dusun Jumlah Penduduk
Dusun Da’dah 350 Orang
Dusun Dante Koa 446 Orang
Dusun Pedunian 370 Orang
Dusun Buntu Riri 201 Orang
Jumlah 1.367 Jiwa
Sumber : ( Dukumen Kependudukan Desa Pepandungan : 2015)
Dari tabel diatas diperlihatkan bahwa jumlah penduduk yang mendiami Dusun Da’dah adalah 350 orang, yang mendiami Dusun Dante Koa adalah 446 orang, yang mendiami Dusun Pedunian 370 orang dan yang mendiami Dusun Buntu Riri adalah 201 orang dari keseluruhan jumlah penduduk adalah 1.367 jiwa 5. Kehidupan Keberagamaan
Wilayah Kabupaten Enrekang merupakan wilayah yang dari dulu terkenal sebagai daerah yang cukup religius, demikian halnya dengan penduduk di Desa
Pepandungan yang merupakan wilayah yang cukup strategis karena rata–rata jumlah penduduknya adalah muslim maka wajar apabila ketika para penyebar agama islam mulai menyebarkan Agama Islam, mereka terlebih dahulu singgah di Desa Pepandungan sebagai berbasis penyebaran agama islam. Dan tak jarang dari masyarakat untuk ikut serta dalam berdakwa menyebarkan Agama Islam.
Keadaan sosial budaya masyarakat di Desa Pepandungan memiliki rasa sosial dan kekeluargaan yang tinggi, hal ini terlihat dengan adanya kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat. Semua masyarakat di Desa ini beragama Islam, adapun orang yang dianggap penting adalah kepala Desa beserta jajaranya dan tokoh-tokoh agama.
Wilayah Desa Pepandungan sebagai wilayah penyebaran Agama Islam memberikan dampak yang signifikan, dari 1.367 jiwa penduduk berdasarkan pemeluk agama yang dikeluarkan dinas kependudukan, semua penduduk Desa Pepandungan memeluk Agama Islam. Untuk lebih jelasnya disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 4.6
Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama yang Dianut
No Dusun Islam Katolik Protestan Hindu Budha Jumlah
1. Dak’dah 350 0 0 0 0 350
2. Dante Koa 446 0 0 0 0 446
3. Pedunian 370 0 0 0 0 370
4. Buntu Riri 201 0 0 0 0 201
Sumber : ( Balai Desa Pepandungan : 2016 )
47 A. Faktor Ekonomi
Perkembangan yang sangat menonjol ketika melihat perekonomian pada saat ini tentunya masyarakat akan berfikir akan bagai mana memenuhi kebutuhan sehari-harinya, di karenakan saat ini kebutuhan masyarakat semakin bertambah namun hasil dari yang di dapatkan dari pekerjaannya itu belum tentu menjamin akan kesanggupan masyarakat memenihi kebutuhannya, khususnya di Desa Pepandungan ini pada saat pertanian sawah atau pun pertanian lainnya tidak dapat lagi menjadi sandaran hidup, orang-orang mulai berfikir meninggalkan daerah asal menuju ke tempat migran yang mereka anggap dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini migrasi disebabkan oleh dorongan ekonomi untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik.
Pada dasarnya motifasi seseorang merantau lebih bayak karena dipaksa kondisi ekonomi keluarga yang ada di daerah asalnya. Oleh karena itu apa yang diperoleh dirantau lebih banyak dimanfaatkan untuk menghidupi keluarga yang memang sangat memerlukan. Kiriman remitan dari para perantau mempunyai dampak positif bagi rumah tangga pedesaan dan ekonomi pedesaan. Lebih lanjut di ungkapkan oleh salah seorang perantau Jamal (49) mengatakan bahwa :
“Yamo akuna ku male marantau sang te’da bang iya na den perubahan na male makale mo pole bongi na susi bang una to te’da bang Assele, na selama na aku’na ratu na inde tarakan jadi penambak pissen riki iya panen na paling ci’dik mi di ampa to 20 juta”. Artinya alasan saya pergi merantau karena selama saya tinggal di sini tidak ada perubahan yang terjadi padahal saya sudah bekerja dikebun mulai dari pagi sampai malam dan selama saya datang ditarakan sebagai penambak paling
sedikit yang saya dapatkan 20 juta setiap 1 kali panen. (Wawancara, Rabu 11/01/2017).
Dari hasil wawancara penulis menyimpulkan bahwa, karena keterbatasan pendapatan di kampung halaman sendiri di anggap sebagai alasan Jamal (49) melakukan kegiatan merantau. Menurut ia (i), setelah merantau jadi petambak hasil yang ia dapatkan lebih menjanjikan dari pada ketika ia masih di kampung halaman sendiri.
Hal serupa juga diungkapkan salah satu responden dalam penelitian ini yaitu Caing (36) yang mengatakan bahwa :
”Yamo akuna ku male merantau imbelai kampongku sang yatonna ku inde unapa aja sussa aku ku sa’ding intiro doik sang den opi iya buah kopi, buah cangkeh ta mane oo mang balanca na iya to alhamdulillah deen unamo iya assele, bahkan aku morakiringanni tomatuangku doik” Artinya alasan saya pergi merantau meninggalkan kampung halaman saya karena dulu biar rokok sebungkus saya tidak mampu beli dikarenakan saya tidak punya uang, kecuali kalau musim berbuah tanaman seperti kopi, dan cengkeh baru saya bisa belanja apa yang saya mau tetapi sekarang selama saya jadi perantauan alhamdulillah boleh dibilang saya sudah berhasil dan malahan saya yang mengirimkan uang kepada bapak saya yang masih ada di kampung. (Wawancara, Rabu 11/01/2017).
Merjuk pada wawancara di atas caing (36), mengungkapkan bahwa pada saat belum merantau untuk mendapatkan seperersen uang pun itu sangat sulit, dia (i), mengungkapkan bahwa satu-satunya harapan untuk mendapatkan uang itu dari hasil berkebun kopi, cengkeh dan lain-lainnya, kemudian itupun hanya bisa di panen satu kali dalam satu tahun. Namun menurutnya setelah merantau ada hasil yang dia dapatkan melebihi apa yang di dapatkan di kampung halamannya sendiri.
Adapun yang di ungkapkan oleh Anwar (27) yang menjadi alasan dia pergi merantau yaitu :
“ya aku’na ku male merantau mane sang eda mo dikka manassa assele’
na tomatuangku sang matuami na eda to majappu bara’bah ku jama ke inde bang na kampong, ku kua mane kua yanna den male toda una mora ia merantau eda bang ia issen i to dallek, apa ke jo ori kita’ to di sanga perantauan dalle’ ta kan”. Artinya saya pergi merantau itu karena orang tua saya penghasilannya sudah tidak jelas, karna orang tua saya sudah tidak kuat lagi berkebun, saya beranggapan bahwa pergi merantau sajalah mungkin di situ (perantauan) rezki kita. ( Wawancara, Jum’at 20/01/2017).
Berdasarkan ungkapan Anwar, alasan dia pergi merantau karena pendapatan orang tuanya sudah terbatas karena faktor usia, dia beranggapan bahwa ketika sudah merantau mungkin disitulah rezekinya.