• Tidak ada hasil yang ditemukan

ERA POST-TRUTH

2. Kekurangan

a. Kedamaian NKRI terancam oleh negara yang gagal. Apabila dalam suatu negara, pemerintah gagal berfungsi untuk melindungi warganya karena adanya perang saudara atau pembunuhan massal, maka pada kondisi inilah negara lain dapat membenarkan diri untuk melakukan intervensi kemanusiaan. Dalam era post-truth ini, terutama memasuki tahun politik, penyebaran berita hoaks politik menjadi isu yang berbahaya dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat di Indonesia oleh pihak asing. Isu suku, agama, ras, dan antar golongan (Sara) hingga ujaran kebencian dapat memperlemah ketahanan nasional jika ketahanan nasional kita lemah maka bisa terjadi disintegrasi bangsa, dan bisa mengancam keutuhan NKRI. Pendapat ini dijusti kasi oleh hasil survei yang dilakukan secara online oleh Masyarakat Telematika Indonesia pada bulan Februari 2017 kepada 1.116 responden. Hasil survei tersebut menunjukkan, sebanyak 96,6% responden berpendapat bahwa hoaks dapat menghambat pembangunan. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa jika ketahanan nasional lemah dan keutuhan NKRI terancam akibat maraknya berita hoaks politik maka proses pembangunan menjadi terhambat.

b. Konsepsi nasional digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pembangunan nasional. Relevansi ketahanan nasional dengan pembangunan nasional tercermin pada konsepsi ketahanan nasional untuk menumbuhkan kondisi kehidupan nasional yang diinginkan melalui pembangunan nasional.

Makin meningkatnya intensitas pembangunan nasional akan meningkatkan ketahanan nasional. Sebaliknya, kukuhnya ketahanan nasional akan mendorong lajunya pembangunan nasional. Oleh karena itu, perlu mengimplementasikan ketahanan nasional sebagai strategi dalam menghadapi era post-truth untuk menangkal berita hoaks politik.

c. Intervensi menjadi salah satu pilihan dan dapat dibenarkan. Praktik- praktik negara saat ini telah menimbulkan suatu preseden, di mana intervensi kemanusiaan dapat dianggap sebagai suatu kebiasaan internasional. Intervensi kemanusiaan terjadi ketika ada suatu pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang dapat dilakukan baik secara individual maupun secara kolektif. Intervensi kemanusiaan yang dilakukan secara kolektif dilakukan melalui otoritas Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan membentuk kerja sama internasional. Hal ini sesuai dengan bab VII Piagam, yang

Penerapan Intervensi dalam Konfl ik Internal Suatu Negara Menurut Hukum Internasional

Piagam PBB dalam Pasal 2 (4) dan 2 (7) jelas menyatakan bahwa hubungan antar-negara tidak diperbolehkan adanya intervensi.

Pengaturan tersebut semakin dikuatkan dengan Resolusi Majelis Umum PBB No. 2625 (XXV) yang dikeluarkan pada 24 Oktober 1970, yang kemudian diterima sebagai Deklarasi Majelis Umum tentang Prinsip- prinsip Hukum Internasional Mengenai Hubungan Persahabatan dan Kerjasama Antarnegara yang Berkaitan dengan Piagam PBB. Namun, dalam praktik negara-negara dewasa ini, prinsip-prinsip tersebut sering kali dilanggar dengan alasan-alasan kemanusiaan. Intervensi kemanusiaan yang terjadi di Irak tahun 1991, Somalia tahun 1992, dan Kosovo pada tahun 1999 merupakan bukti bahwa doktrin tersebut telah dilakukan oleh Negara-negara dalam hubungan internasionalnya.

Tindakan Negara dalam melakukan intervensi yang bersifat kemanusiaan sering didasari dengan alasan yang menyatakan bahwa telah terjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa sehingga dapat mengancam perdamaian dan keamanan internasional sebagaimana tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa.1 Atas dasar itulah beberapa negara mengartikan bahwa intervensi yang dilakukan tidak melanggar ketentuan yang telah diatur oleh Hukum Internasional.

Dari perspektif masyarakat internasional, intervensi kemanusiaan muncul karena dua alasan utama. Pertama, dilakukan dengan penggunaan kekerasan (use of force) yang dalam aspek legal, yang sangat tidak dibenarkan. Kedua, intervensi kemanusiaan dijalankan dengan cara melanggar kedaulatan Negara yang diintervensi. Alasan yang kedua ini lebih peka dari alasan yang pertama karena dalam masyarakat internasional, masalah kedaulatan (sovereignty) berada di atas segalanya. Aspek kedaulatan ini yang membuat suatu negara dianggap bermartabat.

Ada beberapa parameter yang digunakan sebagai alasan untuk melakukan intervensi kemanusiaan menurut Awaludin, yaitu:

1. Negara yang Gagal. Apabila dalam suatu negara, pemerintah gagal berfungsi untuk melindungi warganya karena adanya perang saudara atau pembunuhan massal maka pada kondisi inilah negara lain dapat membenarkan diri untuk melakukan intervensi kemanusiaan.

2. Kesadaran Kemanusiaan. Bila dalam suatu Negara terjadi pembunuhan secara massal, perbudakan massal dan peledakan

yang menimbulkan kematian yang besar (shocking the conscious of mankind) maka kondisi itulah yang membenarkan suatu Negara untuk melakukan intervensi kemanusiaan.

3. Jalan Terakhir. Bila semua cara nonmiliter telah dilakukan tetapi tetap gagal maka intervensi menjadi salah satu pilihan dan dapat dibenarkan. Praktik-praktik negara saat ini telah menimbulkan suatu preseden, di mana intervensi kemanusiaan dapat dianggap sebagai suatu kebiasaan internasional. Intervensi kemanusiaan terjadi ketika ada suatu pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang dapat dilakukan baik secara individual maupun secara kolektif. Intervensi kemanusiaan yang dilakukan secara kolektif dilakukan melalui otoritas Dewan Keamanan Perserikatan BangsaBangsa dengan membentuk kerja sama internasional.

Hal ini sesuai dengan bab VII Piagam, yang berbicara tentang pengecualian penggunaan kekerasan bersenjata.

Intervensi kemanusiaan memang tidak mendapatkan pengaturan yang tertulis dalam Piagam. Akan tetapi, ketentuan larangan untuk penggunaan kekuatan bersenjata yang diatur dalam piagam pun masih dapat ditafsirkan berbeda-beda, apakah merupakan sebuah larangan yang absolut atas penggunaan kekuatan bersenjata atau batasan dalam penggunaan kekerasan bersenjata. Terlepas dari motif politik yang dimiliki oleh para pihak asing dalam melakukan tindakan intervensi di Libya, dengan melihat dari sudut pandang Hukum Internasional, ada dua hal yang mendasari tindakan intervensi ke Libya ini, yaitu:

1. Hukum Internasional menjunjung tinggi prinsip non-intervensi dalam arti Negara lain atau organisasi mana pun pada dasarnya tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan dalam negeri suatu Negara.

2. Intervensi yang pada awalnya direncanakan dalam rangka melindungi rakyat sipil di Libya dari tentara pro-Khada , mengakibatkan jumlah korban warga sipil ribuan jiwa dan puluhan ribu untuk mengungsi.

Masyarakat internasional sepakat bahwa intervensi kemanusiaan hanya bisa dilakukan secara kolektif melalui otoritas Dewan Keamanan dengan membentuk kerja sama internasional. Hal ini sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa Bab VII, yang merupakan pasal tentang pengecualian penggunaan kekerasan bersenjata. Intervensi kemanusiaan bukanlah sebuah persoalan hukum, melainkan permasalahan kepentingan, kekuatan dan dominasi.

Dampak Intervensi Negara Asing Terhadap Kedaulatan NKRI

Intervensi asing dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari yang bersifat tradisional sampai modern, yang terkini dengan bantuan dan mengandalkan kecepatan dan kecanggihan teknologi (Nainggolan, 2020). Di masa kolonialisme, intervensi asing didahului aksi pendudukan, di era dewasa ini teknologi memungkinkannya bersifat langsung tanpa perlu aksi penguasaan wilayah lebih dulu. Karena itu, sesuai dengan perkembangan zamannya, peran kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, menjadi dominan. Intervensi semacam ini ditandai dengan pembobolan akses masuk ke sumber data nasional sebuah negara, untuk kemudian dikacaukan dan diintervensi, dengan memasukkan data hasil rekayasa, berisi propaganda negara yang berkepentingan. Keterlibatan dan intervensi asing yang diwaspadai rawan dilakukan dewasa ini melalui propaganda rehouse falsehood dinilai sebagai salah satu ciri dari era post-truth, yang ditandai dengan mudahnya masyarakat begitu saja mempercayai informasi instan yang mereka terima tanpa menyelidiki atau mengujinya lebih lanjut.

Lebih jauh lagi, era ini dikaitkan dengan kondisi yang berkembang di masyarakat, yang tidak mendasarkan lagi setiap informasi yang mereka terima berdasarkan objektivitas dan reliabilitas, serta logika. Sikap dan respons masyarakat dalam menerima informasi dari luar menjadi cenderung mencari dan membuat pembenaran (justi cation) daripada mencari Poltak Partogi Nainggolan Pemilu Presiden dan Intervensi Asing 5 kebenaran (truth) yang sesungguhnya. Ketimpangan informasi antara yang benar dengan yang palsu (direkayasa) di negara yang akan dan tengah menyelenggarakan pemilu membuat terciptanya negara yang dipenuhi informasi asimetris.

Indonesia merupakan sebuah entitas sosial budaya, selain tentu saja sebagai sebuah entitas politik. Sebagai sebuah entitas sosial budaya, Indonesia memiliki nilai-nilai luhur dan cara pandang yang berasal dan mengakar dari budaya tersebut. Seperti apa kontekstualisasi nilai-nilai luhur dan cara pandang bangsa Indonesia tersebut dapat dilihat pada apa yang menjadi konsensus dasar kebangsaan Indonesia, yakni Pancasila, UUD NRI 1945, Sesanti Bhinneka Tunggal Ika, dan konsepsi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dampak negatif intervensi pihak asing di era post-truth terhadap karakter bangsa Indonesia apabila tidak disikapi dengan langkah-langkah yang memadai. Kita semua tentu tak ingin terjadi segregasi sosial, kon ik horizontal yang kian

melebar di masyarakat, hingga terciptanya generasi instan yang hanya menumpukan pemahaman dan proses konstruksi berpikir mereka pada perangkat informasi yang penuh dengan berita bohong, tnah, dan propaganda (anugrah, 2021). Dampak negatif intervensi pihak asing Ikut campur yang berlebihan malah akan dapat memperkeruh suatu suasana yang sedang tidak baik. Oleh sebab itu, intervensi ini sebetulnya tidak disarankan untuk dilaksanakan oleh sebuah negara.

Ternyata ada pun negara yang senang mengerjakan intervensi, tentu terdapat niat terselubung dibalik seluruh itu. Pengertian intervensi ini juga dapat membuka wawasan penduduk negara supaya dapat lebih berhati hati andai ternyata terdapat yang mengerjakan intervensi. Ketika seorang pihak ketiga ikut campur ke dalam urusan pihak lain, hal tersebut malah bisa menyebabkan kondisi menjadi semakin buruk. Apalagi jika kegiatan intervensi memang dilakukan dengan tujuan negatif, sudah tentu tak akan memperbaiki keadaan dan menambah kon ik yang sedang terjadi. Tak heran jika banyak negara di dunia memandang negatif terhadap negara yang suka melakukan intervensi kepada sesuatu yang bukan urusannya (Febriyandra, 2021).

Dalam dokumen Pendidikan Islam Dalam Guncangan Post-Truth (Halaman 106-110)

Dokumen terkait