• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemampuan menghindar

Total Safety Culture: Pergeseran Paradigma Kerjasama Team (Teamwork)

Elemen 6: Perubahan Standar

4. Kemampuan menghindar

Faktor yang terakhir yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan adalah kemampuan untuk menghindari dari bahaya yang sudah diidentifikasi, dikenali dan diputuskan untuk dihindari. Pekerja bisa saja sudah memutuskan untuk menghindar dari potensi kecelakaan yang bisa terjadi, namun kecelakaan akan bisa dihindari jika pekerja tersebut mampu menghindari bahaya atau risiko tersebut dengan tepat, mengetahui cara menghindari bahaya atau mengetahui cara melakukan pekerjaan dengan aman. Kemampuan menghindar akan terlihat dari perilaku yang aman dari pekerja tersebut dalam melakukan pekerjaannya. Kemampuan yang dibutuhkan adalah kemampuan secara fisik untuk menghindari bahaya dan kemampuan secara skill untuk menghindari bahaya. Kedua kemampuan tersebut harus dimiliki pekerja agar dapat menghindari bahaya yang terdapat diarea kerja mereka.

Menghindari bahaya sebelum terjadi kecelakaan dengan berprilaku aman dalam bekerja dan menghindari bahaya pada saat terjadi kecelakaan dengan mengetahui cara penanganan bahaya atau keadaan darurat.

Keempat faktor-faktor pribadi yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan tersebut bisa diperbaiki dengan cara memberikan pelatihan dan edukasi kepada pekerja, sehingga para pekerja mampu mengidentifikasi bahaya, mengenali bahaya, mengambil keputusan yang tepat untuk menghindari bahaya dan mampu menghindari bahaya tersebut dengan cara berperilaku aman dalam pekerjaan mereka.

SEMOGA BERMANFAAT HSP

Ijin Masuk Confined Space by HSP,

Masuk kedalam confined space harus melalui proses prosedur ijin masuk yang dikenal dengan Confined Space Entry Permit (ijin masuk confined space). Ijin masuk confined space adalah suatu dokumen untuk mengontrol personel yang akan masuk kedalam confined space dengan tujuan kehatian-hatian agar tidak terjadi kecelakaan.Suratijin ini harus ditanda tangani oleh personel yang berwenang. Tapi jangan salah diartikan bahwa dengan adanya surat ijin masuk confined space maka kecelakaan tidak akan terjadi, jadi surat ijin masuk confined space bukan merupakan jaminan bahwa pekerjaan akan aman (safe), surat ijin masuk confined space merupakan bagian dari prosedur keselamatan bekerja di confined space. Biasanya juga diperlukan ijin kerja panas atau ijin kerja dingin yang menyertai ijin masuk confined space.

Secara umum isi dari dokumen ijin masuk confined space adalah sbb:

location of work;

description of work;

names of entrants and standby attendants;

permit validity period;

process and electrical isolation information;

gas test results with gas tester’s name and signature;

information on the remaining hazards;

precautions to be undertaken;

rescue procedures;

approval by the Issuing Authority;

acceptance by the Performing Authority;

confirmation on completion of work;

entry cancellation and permit withdrawal.

Keuntungan atau kegunaan dari surat ijin masuk confined space adalah sbb:

Sebelum masuk:

o Memastikan bahwa otorisasi yang tepat telah diperoleh

o Memastikan bahwa manajemen mengetahui semua yang masuk ke confined space

o Untuk mengecek bahwa tempat pekerjaan sudah aman sebelum memulai pekerjaan

o Mendapatkan informasi tentang potensi bahaya yang didalamnya

o Memastikan bahwa tidak ada pekerjaan diluar yang dapat mempengaruhi orang yang bekerja didalam confined space

Sedang didalam:

o Memastikan bahwa pekerjan dimulai dan dilakukan dengan aman

o Mencegah masuknya orang yang tidak berkepentingan

Setelah keluar:

o Melarang orang untuk masuk setelah periode waktu yang ditentukan atau diijinkan Sebelum menberikan ijin masuk confined space, sebaiknya diajukan pertanyaan berikut terlebih dahulu:

Bisakah confined space tersebut dimodifikasi menjadi tidak confined space sehingga tidak perlu ijin masuk confined space.

Bisakah pekerjaan dilakukan dari luar (tidak perlu masuk) sehingga tidak perlu ijin masuk confined space.

Jika jawabanya bisa, maka lakukan risk assessment dan lakukan pekerjaan tanpa perlu masuk dan ijin masuk confined space. Namun jika jawabannya tidak, maka lakukan risk assessment confined space dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:

Apa isi confined space sebelumnya.

Residu yang masih tersisa di dalamnya.

Konsentrasi oksigen.

Dimensi ruang, dan alat-alat yang ada didalamnya

Bahan kimia yang akan digunakan didalamnya

Sumber nyala

Isolasi dan kemungkinan masuknya bahan kimia lainnya

Ruang untuk bernapas

Untuk keselamatan bekerja di dalam confined space maka surat ijin masuk harus ditanda tangani oleh personel yang berkompeten, dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:

Memindahkan semua bahan berbahaya jika memungkinkan.

Pengawasan pekerjaan harus dilakukan oleh personel yang berkompeten.

Sistem komunikasi dengan pihak luar.

Pengujian udara atau gas

Purging dan ventilasi

Penghilangan residu bahan kimia sebelumnya

Isolasi

Peralatan yang sesuai

Suplai gas/udara (dengan pipa, selang dan selinder)

Pintu masuk dan keluar

Pencahayaan

Pencegahan kebakaran

Listrik statis

Prosedur emergency

Batas / lama waktu kerja

Merokok didalam ruang confined space tidak diperbolehkan, dan ini betul-betul harus diawasi karena banyak pekerja yang tidak mengindahkan hal ini.

Jika alternatif yang aman untuk bekerja dalam confined space tidak dapat ditemukan, langkah-langkah berikut harus dilakukan sebelum masuk:

1. Siapkan surat ijin masuk dan instruksi-instruksi yang diperlukan sebelum masuk.

2. Lakuan purging, flushing dan pemindahan residu-residu bahan kimia yang ada didalamnya.

3. Isolasi confined space dan hilangkan semua energi-energi yang tersimpan didalamnya (misalnya tekanan, panas, dsb).

4. Siapkan ventilasi

5. Lakukan pengujian udara didalamnya dengan gas detector

6. Lakukan pengecekan bahwa semua bahan berbahaya sudah dikontrol atau diminimalkan.

7. Pastikan bahwa surat ijin masuk telah diisi dengan lengkap dan ditanda tangani oleh personel yang berwenang.

Bagi personel yang akan bekerja didalam confined space, ada beberapa hal yang harus diperhatikan atau dipersiapkan sebelum masuk, yaitu:

Penerangan dengan lampu yang aman dan tegangan rendah

Peralatan listrik yang dilengkapi dengan grounding

Integritas selang oxy-acetylene dan kabel listrik

Peralatan komunikasi

Peralatan dan bantuan keselamatan

Safety sign dan tanda pembatas

Ruang confined space pada umumnya memiliki pencahayaan terbatas sehingga memerlukan penerangan yang cukup selama bekerja. Untuk penerangan tersebut diperlukan sumber cahaya sperti lampu. Namun sumber cahaya atau lampu yang digunakan harus aman, terutama jika ruang confined space mengandung bahan mudah terbakar, karena sedikit saja percikan api dari lampu atau sumber cahaya yang digunakan dapat menimbulkan kebakaran bahkan ledakan. Maka sangat disarankan untuk menggunakan lampu yang explosion proof atau senter yang tidak menggunakan listrik. Pilihan lain adalah menggunakan lightsticks, yang aman digunakan didekat bahan-bahan yang flammable atau

mudah terbakar. Bisa juga menggunakan droplight yang vapour-proof, explosion proof dan dilengkapi dengan ground fault circuit interupters (GFCIs).

Beberapa kesalahan yang sering terjadi adalah:

Gagal dalam mengidentifikasi confined space (tidak bisa menentukan mana confined space dan mana bukan confined space).

Gagal dalam mengisolasi vesel

Gagal dalam mengisolasi peralatan internal, seperti mixer.

Gagal dalam memeriksa kelengkapan isolasi

Terpapar bahan explosive, beracun atau asphyxiating

Terpapar bahan berbahaya

Ketidak mampuan untuk keluar dengan cepat dalam keadaan darurat.

Gagal mengurangi risiko dari aktivitas luar confined space SEMOGA BERMANFAAT

HSP

Sekilas Tentang Global Harmonize System (GHS) by HSP – Penulis: Ismail. A

Global Harmonize System atau disingkat GHS cukup ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Soalnya menteri perindustrian telah mengeluarkan keputusan no 87/M-IND/PER/9/2009 tentang sistem harmonisasi global klasifikasi dan label pada bahan kimia. Menurut peraturan manteri ini semua bahan kima yang dipasarkan di Indonesia wajib mengikuti klasifikasi dan label yang ditetapkan oleh sistem GHS. Maksudnya adalah semua bahan kimia harus memiliki Material Safety Data Sheet (MSDS) atau dalam peraturan ini disebut Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) yang mengacu pada sistem pengklasifikasian yang ditetapkan oleh sistem GHS. Demikian pula halnya dengan label bahan kimia harus mengacu pada sistem GHS yang sama.

Apa itu GHS?

GHS adalah sistem pengklasifikasian keselamatan bahan kimia yang dikeluarkan oleh United Nation.

Sampai saat ini UN telah melakukan 3 kali revisi terhadap sistem GHS yang dikeluarkan, sistem GHS yang dikeluarkan dikenal dengan Purple Book.

Kenapa perlu GHS?

UN mecoba untuk menyamakan klasifikasi bahan kimia diseluruh dunia. Karena selama ini masing- masing negara memiliki klasifikasi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, suatu bahan kimia dikategorikan bersifat high toxic disuatu negara akan tetapi dinegara lain bisa jadi bersifat low toxic, atau suatu produk dikategorikan bersifat flammable disuatu negara dan tidak bersifat flammable dinegara lain. Dampaknya adalah, negara-negara yang mengklasifikasikan produk tersebut sebagai high toxic atau flammable akan membuat berbagai peraturan untuk mengontrol produk tersebut, sementara negara yang mengkategorikan produk tersebut low toxic / tidak flammable akan membiarkan penjualan secara bebas tanpa kontrol. Hal ini juga akan menyulitkan negara pengimpor atau pengekspor bahan kimia karena berbedanya klasifikasi bahan kimia antara negara pengekspor dan pengimpor. Perbedaan ini juga berdampak pada MSDS dan sistem pelabelan bahan kimia tersebut yang nantinya akan menyulitkan negara pengimpor karena mereka harus merevisi MSDS dan melakukan pelabelan ulang sesuai dengan klasifikasi yang mereka miliki. Berdasarkan hal ini UN menguarkan sistem GHS untuk memudahkan dunia industri dalam melakukan perdagangan bahan kimia dan juga untuk melindungi lingkungan dan manusia dari dampak penggunaan bahan kimia.

Didalam purple book disebut bahwa tujuan dari GHS adalah sebagai berikut:

Untuk lebih meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan dengan menyediakan sistem yang lebih komprehensif secara internasional untuk mengkomunikasikan bahaya bahan kimia.

Menyediakan framwork untuk negara-negara yang belum memiliki sistem klasifikasi dan label bahan kimia.

Mengurangi kebutuhan akan pengujian dan evaluasi bahan kimia.

Memfasilitasi perdagangan internasional bahan kimia dimana bahaya bahan kimia tersebut sudah dikaji dan diidentifikasi dengan basis internasional.

Apa saja ruang lingkup GHS?

Didalam purple book dinyatakan bahwa ada dua elemen ruang lingkup GHS, yaitu:

Kriteria yang harmonis untuk klasifikasi bahan kimia tunggal dan campuran sesuai dengan bahaya kesehatan, lingkungan dan fisik bahan kimia tersebut.

Elemen komunikasi bahaya yang harmonis, termasuk persyaratan untuk label dan safety data sheet.

Ada beberapa jenis produk kimia yang tidak termasuk dalam ruang lingkup ini, yaitu farmasi, additif untuk bahan makanan, kosmetik, dan residu pestisida didalam bahan makanan.

Bagaimana mengaplikasikan GHS?

Untuk mengaplikasikan GHS di Indonesia tentu saja mengacu pada peraturan menteri perindustrian nomor 87/M-IND/PER/9/2009. Disana sudah ditetapkan format LDKB atau MSDS dan persyaratan untuk label. Namun untuk klasifikasi bahan kimia mengacu pada purple book revisi 2, hal ini disebutkan dalam keputusan dirjen industri Agro dan Kimia kementerian perindustrian no 21/IAK/PER/4/2010 tentang petunjuk teknis penerapan sistem harmonisasi global klasifikasi dan pelabelan bahan kimia. Namun dalam petunjuk ini tidak disebutkan tentang teknis building blok yang harus diadopsi, ini berarti Indonesia mengadopsi 100% building blok yang ditetapkan pada purple book revisi 2. Berdasarkan peraturan menteri perindustrian tersebut diatas, sistem GHS untuk kimia tunggal sudah mulai berlaku sejak bulan Maret 2010 sementara untuk bahan kimia campuran masih bersifat sukarela dalam penerapannya, dan mulai berlaku efektif untuk bahan kimia campuran pada awal tahun 2014.

Untuk mengklasifikasikan bahan kimia sesuai dengan klasifikasi GHS diperlukan training dan keahlian khusus. Meskipun didalam purple book sudah dijelaskan secara rinci bagaimana cara melakukan klasifikasi setiap bahaya bahan kimia tersebut, namun diperlukan keahlian dan pengetahuan yang baik tentang bahan kimia dan bahayanya dalam melakukan klasifikasi tersebut agar tidak terjadi kekeliruan. Menurut peraturan menteri perindustrian tentang GHS, semua bahan kimia harus diklasifikasikan berdasarkan kriteria bahaya GHS yang terdiri dari bahaya fisik, bahaya terhadap kesehatan dan bahaya terhadap lingkungan akuatik. Bahaya fisik misalnya eksplosive, gas mudah menyala, cairan pengoksidasi, korosif pada logam, dan lain-lain. Bahaya terhadap kesehatan misalnya toksisitas akut, korosi/iritasi kulit, karsinogenisitas, dan lain-lain.

Dan setiap bahan kimia tersebut juga harus diberi label sesuai dengan GHS yang ditetapkan, dimana label tersebut harus mengandung unsur penanda produk, piktogram bahaya, kata sinyal, pernyataan bahaya, identifikasi produsen dan pernyataan kehati-hatian. Label tersebut juga harus mudah terbaca, jelas terlihat, tidak mudah rusak, tidak mudah lepas dari kemasannya dan tidak mudah luntur karena

pengaruh sinar, udara atau lainnya. Piktogram yang digunakan juga harus sesuai dengan peraturan GHS yang terdapat pada lampiran I dari peraturan menteri tentang GHS.

Bahan kimia juga harus dilengkapi dengan MSDS (LDKB), didalam peraturan menteri tentang GHS bahwa MSDS dan Label wajib berbahasa Indonesia. Informasi yang terkandung didalam GHS adalah informasi bahaya fisik, bahaya terhadap kesehatan dan bahaya terhadap lingkungan akuatik yang sudah diklasifikasikan sesuai dengan kriteria bahaya GHS, dan informasi lainnya sesuai dengan format yang sudah ditetapkan. Format MSDS/LDKB sesuai dengan peraturan menteri tentang GHS (lampiran II) terdiri dari 16 section, yaitu:

1. Identifikasi senyawa (Tunggal atau Campuran) 2. Identifikasi bahaya

3. Komposisi/Informasi tentang bahanpenyusun senyawa tunggal 4. Tindakan pertolongan pertama

5. Tindakan pemadaman kebakaran

6. Tindakan penanggulangan jika terjadi kebocoran 7. Penanganan dan penyimpanan

8. Kontrol paparan/perlindungan diri 9. Sifat fisika dan kimia

10. Stabilitas dan Reaktifitas 11. Informasi Toksikologi 12. Informasi Ekologi

13. Pertimbangan pembuangan / pemusnahan 14. Informasi transportasi

15. Informasi yang berkaitan dengan regulasi

16. Informasi lain termasuk informasi yang diperlukan dalam pembuatan dan revisi SDS.

Sebaiknya mulai dari sekarang anda menyesuaikan MSDS/LDKB bahan kimia yang anda produksi sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh peraturan menteri perindustrian tersebut diatas. Jika anda membeli bahan kimia dari pemasok bahan kimia, maka sebaiknya anda meminta MSDS/LDKB yang sudah mengikuti GHS.

SEMOGA BERMANFAAT!

HSP Team.

Mengenal Debu (Dust) dan Pengendaliannya (Dust Control)

by HSP,

Debu atau Dust adalah partikel padat yang berukuran sangat kecil yang dibawa oleh udara. Partikel- partikel kecil ini dibentuk oleh suatu proses disintegrasi atau fraktur seperti penggilingan, penghancuran atau pemukulan terhadap benda padat. Mine Safety and Health Administration (MSHA) mendefinisikan debu sebagai padatan halus yang tersuspensi diudara (airbone) yang tidak mengalami perubahan secara kimia ataupun fisika dari bahan padatan aslinya.

Ukuran partikel debu yang dihasilkan dari suatu proses sangatlah bervariasi, mulai dari yang tidak bisa terlihat dengan mata telanjang sampai pada ukuran yang terlihat dengan mata telanjang. Ukuran partikel yang besar akan tertinggal pada permukaan benda atau turun kebawah (menetap sementara diudara) dan ukuran partikel yang kecil akan terbang atau tersuspensi diudara. Debu umumnya dalam ukuran micron, sebagai pembanding ukuran rambut adalah 50-70 micron.

Jenis industri yang menghasilkan debu dan banyak mencemari lingkungan atau udara adalah seperti konstruksi, agrikultur dan pertambangan. Didalam proses manufaktur, debu juga dapat dihasilkan dari berbagai aktifitas seperti crushing, grinding, abrasion dan lain-lain. Banyaknya debu yang dihasilkan oleh aktifitas industri sangat tergantung kepada jenis proses dan bahan yang digunakan atau diproses.

Debu fibrogenic seperti Kristal silica (free crystalline silica – FCS) atau asbestos adalah jenis debu yang sangat beracun dan jika masuk kedalam paru-paru dapat merusak paru-paru dan mempengaruhi fungsi atau kerja paru-paru.

Nuisance dust atau inert dust dapat didefinisikan sebagai debu yang mengandung kurang dari 1%

quartz (kuarsa). Karena kandungan silica yang rendah, nuisance dust hanya sedikit mempengaruhi kesehatan paru-paru dan dapat disembuhkan jika terhirup. Akan tetapi jika konsentrasi nuisance dust sangat tinggi diudara area kerja maka dapat mengurangi penglihatan dan bisa menyebabkan masuk kedalam mata, telingga dan tenggorokan sehingga timbul rasa tidak nyaman dan juga bisa menyebabkan luka pada kulit atau mucous membrane baik karena aksi kimiawi atau mekanik. Dari sisi occupational health, debu diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu:

Respirable Dust

Inhalable Dust

Total Dust

Respirable dust adalah debu atau partikel yang cukup kecil yang dapat masuk kedalam hidung sampai pada sistem pernapasan bagian atas dan masuk kedalam paru-paru bagian dalam. Partikel yang masuk kebagian paru-paru bagian dalam atau sistem pernapasan bagian dalam secara umum tidak bisa dikeluarkan oleh sistem mekanisme tubuh secara alami (cilia dan mucous) maka akibatnya partikel tersebut akan tinggal selama-lamanya didalam paru-paru.

MSHA mendefinisikan respirable dust sebagai fraksi dari airbone dust yang lolos dari alat saring ukuran partikel dengan karakteristik sebagai berikut:

Aerodynamic diameter, Mikron (unit density spheres)

Percent passing selector

2.0 2.5 3.5 5.0 10.

90 75 50 25 0.0

EPA menggambarkan inhalable dust sebagai debu yang bisa masuk kedalam tubuh akan tetapi terperangkap atau tertahan di hidung, tenggorokkanm atau sistem pernapasan bagian atas, ukuran inhalable dust berdiameter kira-kira 10 mikron.

Total dust adalah semua airborne partikel tanpa mempertimbangkan ukuran dan komposisinya.

Pelepasan debu secara berlebihan keudara dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan juga masalah di industri tersebut, beberapa gangguan dan masalah tersebut diantaranya adalah:

Bahaya kesehatan

Penyakit pernapasan ditempat kerja

Iritasi pada mata, telinga, hidung dan tenggorokkan

Iritasi pada kulit

Risiko dust explosion dan kebakaran

Merusak peralatan

Mengganggu penglihatan

Bau yang tidak enak

Masalah bagi komunitas sekitar pabrik

Perhatian terbesar adalah efek kesehatan pada pekerja karena mereka terpapar secara berlebihan terhadap debu yang membahayakan. Oleh karena itu untuk mengevaluasi tingkat bahaya kesehatan ditempat kerja, American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) telah mengadopsi sejumlah standar threshold limit values (TLV’s) atau nilai ambang batas (NAB). Nilai TLV digunakan sebagai pentunjuk atau guidance untuk mengevaluasi bahaya kesehatan. Nilai TLV (NAB) adalah nilai batas paparan selama 8 jam kerja dimana tidak ada efek kesehatan yang ditimbulkan. MSHA menggunakan nilai TLV untuk mengevaluasi kesehatan.

Tidak semua debu memberikan dampak kesehatan dengan level yang sama, hal tersebut tergantung pada faktor-faktor berikut:

Komposisi debu

o Kimia

o Mineral

o Konsentrasi debu

Berdasarkan berat: mg dust /m3 udara

Berdasarkan jumlah: jutaan partikel/cubic foot udara

Ukuran dan bentuk partikel

Distribusi ukuran partikel didalam rentang ukuran respirable

Fiberous atau spherical

Lama paparan

Paparan yang berlebihan atau waktu yang lama terhadap respirable dust yang berbahaya (harmful) dapat menyebabkan penyakit pernapasan yang disebut pneumoconiosis. Penyakit ini disebabkan oleh terkumpulnya atau menumpuknya debu mineral didalam paru-paru dan merusak jaringan paru-paru.

Pneumoconiosis adalah nama umum dari penyakit paru-paru yang disebabkan oleh debu. Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis adalah:

Silicosis – Silicosis adalah pneumoconiosis yang disebabkan oleh debu kuarsa atau silca.

Kondisi paru-paru ditandai dengan nodular fibrosis (parut pada jaringan paru-paru), mengakibatkan sesak napas. Silikosis adalah penyakit yang irreversible atau tidak bisa disembuhkan, bahkan tahapan lanjut bersifat progresive meskipun sudah tidak terpapar lagi.

Black Lung (Paru Hitam) – paru hitam adalah bentuk pneumokoniosis yang disebabkan oleh penumpukan debu batubara didalam paru-paru yang membuat jaringan paru-paru menjadi gelap atau hitam. Penyakit ini juga bersifat progresif. Meskipun nama penyakit ini banyak dikenal sebagai penyakit paru hitam, namun nama resminya adalah pneumokoniosis pekerja batubara (coal worker’s pneumoconiosis (CWP)).

Asbestosis – Asbestosis adalah suatu bentuk pneumokoniosis yang disebabkan oleh serat asbes. Dan penyakit ini juga bersifat irreversibel.

Pengendalian debu (dust control) adalah proses pengurangan emisi debu dengan menggunakan prinsip-prinsip enjineering. Sistem kontrol yang dirancang dengan baik, dirawat dengan baik dan dioperasikan dengan baik akan dapat mengurangi emisi debu sehingga mengurangi paparan debu berbahaya bagi pekerja. Pengendalian debu juga dapat mengurangi kerusakkan mesin, perawatan dan downtime, peneglihatan yang baik (bersih) dan meningkatkan moral dan semangat kerja para pekerja.

Ada tiga sistem pengendalian paparan debu terhadap pekerja, yaitu:

Pencegahan

Sistem kontrol

Dilusi atau isolasi.

Pencegahan – Pepatah mengatakan ” mencegah lebih baik daripada mengobati”. Pencegahan terjadinya debu di area kerja juga dapat diterapkan. Meskipun dalam proses produksi yang massal, dimana bahan baku atau produk yang digunakan menghasilkan debu, maka tentu saja sistem pencegahan hampir tidak mungkin dilakukan. Namun jika proses tersebut dirancang secara baik untuk memenimalkan debu, misalnya dengan menggunakan sistem penanganan yang tidak menimbulkan debu, maka emisi debu dapat dikurangi.

Sistem Kontrol – Setelah semua usaha pencegahan dilakukan secara maksimal, dan jika masih terdapat debu dari proses tersebut, maka barulah dilakukan pengendalian atau pengontrolan terhadap debu tersebut. Beberapa teknik pengendalian yang dapat dilakukan adalah seperti dust collection systems, sistem pwet dust suppression systems, and airborne dust capture through water sprays.

Dust Collection Systems – menggunakan prinsip ventilasi untuk menangkap debu dari sumbernya. Debu disedot dari udara dengan menggunakan pompa dan dialirkan kedalam dust collector, kemudian udara bersih dialirkan keluar.

Wet Dust Suppression Systems – menggunakan cairan (yang banyak digunakan adalah air, tapi bisa juga bahan kimia yang bisa mengikat debu) untuk membasahi bahan yang bisa menghasilkan debu tersebut sehingga bahan tersebut tidak cenderung menghasilkan debu.

Airborne Dust Capture Through Water Sprays – menyemprot debu-debu yang timbul pada saat proses dengan menggunakan air atau bahan kimia pengikat, semprotan harus membentuk partikel cairan yang kecil (droplet) sehingga bisa menyebar diudara dan mengikat debu yang berterbangan membentuk agglomerates sehingga turun kebawah.

Dilution Ventilation – teknik ini adalah untuk mengurangi konsentrasi debu yang ada di udara dengan mendilusi udara berdebu dengan udara tidak berdebu atau bersih. Secara umum sistem ini masih kurang baik untuk kesehatan karena debu pada dasarnya masih terdapat diudara, akan tetapi sistem ini bisa digunakan jika sistem lain tidak diijinkan untuk digunakan.

Isolation – teknik ini adalah dengan cara memisahkan pekerja dengan udara yang terkontaminasi, pemisahan bisa dilakukan dengan mengisolasi pekerja kemudian di suplai dengan udara bersih dari luar. Contoh Supplier air system.

To be continued……….

SEMOGA BERMANFAAT BY HSP

Dokumen terkait