BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Kenakalan Remaja
a. Pengertian kenaakalan remaja
Drs. H.M. Arifin, M.Ed., berpendapat bahwa batas bawah dan batas atas dari usia anak adalah menjadi penentu bagi perbuatan delinquency dan nondeliquency tersebut. Pada umumnya para
psikolog, ahli pedagogik, sosiolog, dan kriminolog memberikan batas bawah kenakalan reamaj (juvenile delinquency) adalah tingkah laku atau perbuatan yang berlawanan dengan hukum yang berlaku, yang dilakukan oleh anak- anak antara umur 10 tahun sampai umur 18 tahun. Perbuatan yang dilakukan oleh anak- anak di bawah usia 10 tahun dan di atas 18 tahun, dengan sendirinya tidak dikategorikan dalam apa yang disebut kenakalan remaja (delinquency) tersebut.18
Sedangkan menurut Hurlock bahwa kenakalan remaja ini salah satu bersumber dari perilaku yang sering dilakukan dan mengakibatkan bahaya dan resiko bagi anak tersebut.Menurut Hurlock sendiri, penyebab dari kerusakan perilaku atau moral tersebut bersumber dari sebuah kehidupan di dalam keluarganya misalnya orang tuanya yang terlalu sibuk dengan karirnya sehingga lupa akan kewajibannya sebagai orang tua, kemudian ada pula keluarga yang mengalami brokenhome menyebabkan anak menjadi terbengkalai, dan juga keluarga yang single parenst dimana yang menjadi pengasuh anak hanya diasuh oleh salah satu dari pihak
18 Samsul Munir Amin, Bimbingan Konseling Islam, (Jakarta: Amzah, 2015), hlm. 368.
keluarga seperti ibu, atau ayah bahkan dari pihak kelurga yang lain sehingga menyebabkan kurang dalam merasakan sebuah kasih sayang dari keluarga yang utuh. Dapat diketahui kewibawaan sekolah dalam mendidik remaja ini tidak mampu menangani masalah moral bahkan mental dari seorang anak tersebut. Betapa pentingnya seorang pengasuh dalam kehidupan keluarga sangat diperlukan demi masa depan yang baik dan cerah untuk remaja dalam membentuk kepribadian seorang remaja yang baik atau positif.19
Beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kenekalan remaja salah satu pnyebabnya karena suatu bentuk pengabaian dalam kehidupan sosialnya dan kemudian kurangnya perhatian dari lingkungan sosialnya tersebut, sehingga remaja ini melakukan perilaku- perilaku yang menyimpang yang tidak sesuai dengan ajaran yang baik dan keluar dari norma dan aturan yang ada dalam suatu tatanan hidupnya yang sudah dibangun.
b. Macam- macam kenakalan remaja
Yang dimaksud dengan kenakalan di sini yaitu suatu perilaku yang menyimpang dari norma- norma yang ada dan dapat meresahkan masyarakat. Kemudian ada beberapa bagian kenalan sebagai berikut:
19Hurlock,Psikologi Keluarga Terhadap Kenakalan Remajai,(Jakarta:Cipta, 1973),hlm.25- 27.
1) Sebuah kenakalan yang dapat menelan korban fisik pada orang lain, seperti: ada perampokan, pemerkosaan, perkelahian, dan pembunuhan.
2) Kemudian ada kenakalan yang bisa menimbulkan seorang korban materi, salah satunya pencurian, perusakan, pemerasan, pencopetan, dan lain sebagainya.
3) Selanjutnya kenakaln yang berkaiatan dengan sosial tetapi tidak menimbulkan korban terhadap pihak orang lain, seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan pelacuran.
4) Dan yang terakhir adalah kenakalan yang melawan status, seperti contoh seorang yang mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, dan mengingkari status orang tua dengan cara membantah perintah mereka.
c. Faktor- faktor penyebab kenakalan remaja
Menurut Simanjuntak bahwa faktor- faktor yang menyebabkan kenakaln reamaj menjadi dua klasifikai, yaitu:
1) Faktor internal:
a) Cacat keturunan yang bersifat biologis-psikis
b) Pembawaan negatif yang mengarah pada perbuatan nakal.
c) Ketidakseimbangan pemenuhan kebutuhan pokok dengan keinginan. Hal ini menimbulkan frustasi dan ketegangan.
d) Lemahnya kontrol diri dan persepsi sosial.
e) Ketidakmampuan penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan yang baik dan kreatif.
f) Tidak ada kegemaran, tidak memiliki hobi yang sehat.
2) Faktor eksternal:
a) Rasa cinta dari orang tua dan lingkungan
b) Pendidikan yang kurang mampu menanamkan bertingkah laku sesuai dengan alam sekitar yang diharapkan orang tua, sekolah dan masyarakat.
c) Menurunya wibawa orang tua, guru dan pemimpin masyarakat.
d) Pengawasan yang kurang efektif dalam pembinaan dalam dominan efektif, konidisi dari orang tua, masyarakat dan guru.
e) Kurangnya pemahaman dalam remaja dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
f) Kurangnya sarana penyaluran waktu senggang.
g) Ketidaktahuan keluarga dalam menangani masalah remaja baik dalam segi pendektan sosiolagik, psikologik, maupun pedagogik.
d. Keterkaitan Family therapy dalam mengatasi kenakalan remaja Dalam kehidupan berumah tangga ini, hal yang harus dimualai yakni dari proses pembinaannya dari pembentukan keluarga, sehingga terbentulah sebuah keluarga, keluarga disini merupakan
sekelompok individu terderi dari ayah, ibu dan anak dalam ikatan pernihakan. Dimulai dari seorang pria dan wanita yang membangun hidup bersama dengan ikatan yang syakral yaitu perkwinan, setelah itu melahirkan seorang anak hasil dari nikah tersebut dan terbangunlah rumah tangga yang bahagia.20
Kemudian sebuah kehiduapan keluarga, dari seorang pria dan wanita yang mempunyai ikatan pernikahan kemudian lahirlah seorang anak yang harus dibesarkan dari anak-anak, tumbuh remaja, kemudian dewasa hingga samapai menikah. Tanggung jawab keluarga terutama orang tua terhadap perkembangan anak yang sudah beranjak remaja itu sangat dibutuhkan sehingga menjadi remaja yang lebih baik.
Namun, dalam kehidupan sehari- hari banyak sekali kasus- kasus yang terjadi dalam masyarakat dan permasalahan atau kasus yang paling sering terjadi itu dikalangan remaja sehingga timbulah yang disebut kenakalan remaja dan dalam berbagai kasus yang terjadi mulai dari hal yang terkecil bahkan sampai hal yang terbersar, contohnya dari merokok samapai mengonsumsi obat- obat terlarang.
Dalam penelitian ini peneliti akan melakukan pengamatan terhadap penerapan dengan menggunakan family therapy yaitu sebuah usaha untuk membantu individu remaja untuk mengaktualisasikan potensinya atau mengantisipasi masalah yang
20Ines Virgianita, “Family Therapy Dalam Menangani Kesenjangan Komunikasi Desa Pepelegi Waru Sidoarjo”(Skripsi,Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2015),hlm.43
dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga dan berusaha supaya terjadi perubahan terhadap perilaku yang baik pada diri individu yang nantinya akan berdampak baik pula terhadap kehidupan remaja lainnya.