BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Kerangka Kopseptual
Penelitian ini berjudul “Pandangan Penegak Hukum Tentang Peluang Pemberlakuan Hukum Kebiri Bagi Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur Perspektif Hukum Pidana Islam (Studi di Kota Parepare)”. Untuk lebih memahami mengenai penelitian ini maka perlu untuk menguraikan pengertian judul sehingga tidak menimbulkan pengertian dan penafsiran berbeda. Penguraian pengertian ini dimaksudkan agar terciptanya persamaan pemahaman mengenai penelitian yang akan dilakukan.
1. Hukuman Kebiri
Hukuman kebiri merupakan salah satu bentuk optimal dalam perlindungan hukum terhadap anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Karena pemberlakukan kebiri memberikan bukti bahwa selain secara tegas dinyatakan dalam Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia tentang perlindungan hak-hak anak, berkepentingan pemerintah melalui kekutan ketertiban diwujudkan dalam pemeliharaan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan peraturan yang ada.13
Sejarah hukum kebiri telah diberlakukan jauh sebelum tercatat dalam sejarah.
Kebiri kadang kala dilakukan atas dasar alasan keagamaan, sosial dan budaya tertentu di Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, dan Asia Timur. Setelah peperangan pemenang biasanya mengebiri dengan memotong penis dan testis mayat prajurit yang telah kalah sebagai Tindakan simbolis “merampas” kekuatan dan keperkasaan mereka.
13 Femmy Silaswaty Faried, „Optimalisasi Perlindungan Anak Melalui Penetapan Hukuman Kebiri‟, Jurnal Serabi Hukum, 11.01 (2017).
Dalam sejarah Tiongkok, orang kasim atau disebut sida-sida diketahui memegang kekuasaan yang cukup besar di istana, terkadang merebut kekuasaan dari kaisar yang sah, seperti disebutkan dalam sejarah dinasti Han, dan masa menjelang akhir dinasti Ming. Peristiwa yang sama juga terjadi di Timur Tengah.
Pada masa purba, pengebirian juga melibatkan pemotongan seluruh alat kelamin pria baik testis sekaligus penis. Praktik ini sangat berbahaya dan kerap mengakibatkan kematian akibat pendarahan hebat atau infeksi, sehingga dalam beberapa kebudayaan seperti Kekaisaran Byzantium, pengebirian disamakan dengan hukuman mati. Pemotongan hanya testinya saja mengurangi resiko kematian.14
Pembedahan untuk mengangkat kedua testis atau pengebirian secara kimia secara medis munkin dilakukan sebagai prosedur pengobatan kanker prostat pengobatan dengan mengurangi atau menhilangkan asupan hormone testosterone baik secara kimia atau bedah dilakukan untuk memperlambat kenker
Pengebirian juga dikenal sebagai gonadectomy adalah prosedur pembedahan genital guna menhilangkan fungsi biologis. Hukuman kebiri kimia kini direncanakan pemerintah untuk diterapkan kepada pelaku pedofilia. Ahli psikologi menambahkan bahwa kebiri kimia belum tentu menjadi solusi yang baik apabila ternyata mereka yang menjadi pelaku kekerasan seksual seksual ternyata mengalami gangguan kejiwaan atau merupakan korban kekerasan seksual sesungguhnya bukankah dikarenakan tingginya dorogan seksual. Apabila kebiri kimia dilakukan terhadap
14 Muhammad Syarif Hidayatullah, Tinjauan Yuridis Manfaat Penerapan Hukum Kebiri
Terhadap Pelaku Kejahatan Seksual DiTinjau Dari Aspek Hukum Pidana (Medan: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, 2016).
pelaku dengan tipikal seperti ini dikhawatirkan pelaku justru akan semakin sadis dalam melakukan perbuatannya di kemudian hari.15
Ada dua macam kebiri yang diterapkan di berbagai negara, yaitu kebiri fisik dan kebiri kimia. Kebiri fisik dilakukan dengan cara mengamputasi testis pelaku pedofilia sehingga membuat pelaku kekurangan hormon testosterone yang memegaruhi dorogan seksualnya. “Dorongan seksual atau gairah seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satuanya faktor terpenting ialah hormone testosterone.
Hormone testosterone tidak hanya berpegaruh bagi dorogan seksual pria, melainkan perempuan juga. Testosterone berkurang maka dorogan seksual juga berkurang bahkan hilang sama sekali.
Hukuman kebiri kimia dalam bentuk injeksi antigen memiliki efek negatif yang mempercepat proses penuaan dini bagi tubuh. Cairan antiandrogen yang disuntikan ke dalam tubuh mengurangi masa otot dan meningkatkan lemak, meningkatkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Jika obat antiandrogen digunakan, libido dan fungsi ereksi seseorang akan Kembali. Jadi kebiri kimia tidak bersifat permanen, melainkan hanya sementara.
Sedangkan kebiri bedah tidak melibatkan pengangkatan testis tetapi pengenalan bahan kimia antiandrogen baik melalui suntikan ke dalam tubuh seseorang untuk mencoba melemahkan hormon testosterone. Bahan kimia saat masuk ke dalam tubuh akan mengurangi atau bahkan menhilangkan kemampuan ereksi hasrat seksual.16
15 Herwin Sulistyowati Fauzan Mahmud Hidayat, „Tinjauan Yuridis Normatif Sanksi Pidana Kebiri Pada Pelaku Kekerasan Seksual Anak Berdasarkan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Pelindungan Anak Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia‟, Jurnal Hukum Pidana Delict, 6.2 (2020).
16 Tim Diskusi Dosen Fakultas Syari‟ah, „Hukuman Kebiri Dalam Kajian Fiqih Modern Interdispliner‟ (Surabaya, 2018).
2. Kekerasan Seksual
Pelecehan seksual adalah istilah yang paling tepat untuk memahami makna kekerasan seksual. Pelecehan seksual memiliki cakupan yang saangat luas, mulai dari ekspresi verbal cabul (komentar, lelucon, dll) seperti pemaksaan atau ciuman, hingga ancaman untuk memperumit kehidupan seorang Wanita jika dia menolak untuk memberikan pelayanan seksual, hingga perkosaan.
Kekerasan seksual didefinisikan sebagai suatu tindak kriminal dimana orang dewasa menyentuh anak di bawah umur untuk kepuasan seksual atau sebagai objek seksulnya, seperti pemerkosaan (termasuk perilaku persetubuhan) dan melakukan hubungan seksual. Pelecehan anak merupakan perbuatan yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia, karena kekerasan seksual berdampak pada korban berupa fisik, psikis dan sosial. Dampak dari kekerasan seksual terhadap anak akan menyakiti korban, sehingga menganggu fungsi sosial dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Banyak kasus kekerasan terhadap anak yang tidak dilaporkan, karena keluarga malu untuk melaporkannya karena di anggap sebagai aib keluarga, biasanya masalah ini baru terungkap setelah korban melahirkan. Banyak kasus kekerasan yang tidak dilaporkan karena budaya masyarakat yang memperlakukan masalah keluarga.17
3. Anak di Bawah Umur
Istilah anak di bawah umur tersebut dalam hal ini berasimilasi dengan sebutan anak. definisi anak dalam Bahasa Indonesia yang dapaat disimpulkan sebagai keturunan yang kedua yang berarti dari seorang pria dan wanita yang melahirkan keturunanya yang dimana keturunan tersebut secara biologis berasal dari sel laki-laki
17 Tateki Yoga Tursilarini, „Dampak Kekerasan Seksual Di Ranah Domestik Terhadap Keberlansungan Hidup Anak‟, Jurnal Media Penelitian Kesejahteraan Sosial, 41.1 (2017).
yang kemudian berkembang biak dalam rahim wanita berupa suatu kandungan dan kemudian wanita tersebut melahirkan suatu keturunannya.18
Anak adalah Amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Anak merupakan sumber potensi dan generasi muda penerus bangsa perjuagan cita-cita bangsa dimasa yang akan datang nantinya, oleh karena itu harus kita jaga dan kita lindungi dari perbuatan buruk ataupun sebagai korban perbuatan jahat seseorang.
Pengertian anak memiliki arti yang sangat luas, anak di kategorikan menjadi beberapa kelompok usia, yaitu masa anak-anak (berumur 0-12 tahun), masa remaja (berumur 13-20 tahun), masa dewasa (berumur 21-25 tahun). Pada masa anak-anak sendiri anak cenderung memiliki sifat yang suka meniru apa yang dilakukan orang lain dan emosinnya masih sangat rentan.
Pengertian anak dibawah umur menurut Undang-undang nomor 39 Tahun 1999 tentang ketenakerjaan Pasal 1 angka (20) anak adalah orang laki-laki atau Wanita yang berumur kurang dari 15 tahun. Anak menurut Undang-undang No.12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Pasal 21 (1) Aanak yang belum berumur 18 tahun atau belum kawin, berada dan bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia, dari ayah atau ibu yang memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia dengan sendirinya berkawarganegaraan Republik Indonesia.19
4. Hukum Pidana Islam
Dalam buku Hukum Pidana Islam karangan Dr. Mardani menyatakan bahwa hukum pidana Islam dalam bahasa arab disebut dengan jarimah atau jinayah. Secara
18 Agustinus Muksin, „Pengaruh Pencabulan Anak Di Bawah Umur‟, 2019.
19 Muhammad Basri Fahmi Djibaran, Abdul Masba Magassing, „Tanggung Jawab Notaris Pada Pembuatan Akta Pendirian Komanditer (CV) Yang Membuat Anak Dibawah Umur Sebagai Pengurus‟, Jurnal Petitum, 9.1 (2020).
etimologis jarimah berasal dari kata yajrimu-jarimata, yang berarti “berbuat” dan
“memotong”. Kemudian, secaraa khusus digunakan terbatas pada “perbuatan dosa”
atau “perbuatan yang dibenci”. Kata jarimah juga berasal dari kata bertentangan dengan kebenaran, keadilan, dan mengyimpang dari jalan yang lurus.
Hukum pidana Islam adalah syari‟at yang mengandung kepentingan dalam kehidupan manusia didunia ini dan akhirat. Syariat berarti mengandung kewajiban dasar bagi setiap manusia untuk melakukannya. Konsep kewajiban asasi syariat, yang menetapkan Allah sebagai pemilik segala sesuatu, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.
Pembuat hukum tidak Mengyusun ketentuan-ketentuan hukum dari syari‟ah tanpa tujuan apa-apa. Melainkan disana ada tujuan-tujuan tententu yang luas. Dengan demikian untuk memahami pentinya suatu ketantuan, mutlak perlu mengetahui apa tujuan dari kentuan itu. Di samping itu karena kata-kata dan teks-teks dari suatu ketentuan munkin mengandung beberapa arti di atas berbagai dasar, adalah sukar untuk memilih satu arti dari sekian arti lain kecuali kita mengetahui tujuan nyata dari perbuatan hukum dalam menyusunnya.20
Hukum kebiri adalah tindakan menghilangkan gairah seksual terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Dengan cara menyuntikan atau pemotogan alat kelamin pada laki-laki, namun di Indonesia hukuman kebiri menjadi prokontra ada yang menanggap bahwa hukuman kebiri tersebut pelanggaraan HAM dan ada yang setuju karena dianggap hukuman yang tepat bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Namun di Indonesia hukuman kebiri yang
20 Mukhsin Nyak Umur and Zara Zias, „Studi Hukum Pidana Islam Dan Hukum Pidana Positif Tentang Saksi Pidana Bagi Pelaku Pembantu Tindak Pidana Pembunuhan‟, Jurnal Legitimasi, 4.1 (2017).
direncakan di Indonesia adalah hukuman kebiri kimia itu adalah penyuntikan zat kimia untuk menhilangkan gairah seksualnya namun penyutikan zat kimi tersebut hanya sementara menhilangkan gairah seksualnya. Namun tidak ada dokter yang mau manjadi eksekutor tersebut mereka menganggap bahwa melanggar kode etik kedokteran.