• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

B. Kerangka Pikir

Tindak tutur adalah awal perkataan yang diucapkan seseorang dalam melakukan komunikasi.Ilokusi adalah tekanan komunikatif dari tuturan. Bahasa adalah alat sistematis untuk menyampaikan gagasan, maksud dan perasaan kepada orang lain dengan memakai bunyi atau tanda lain yang telah disepakati. Dengan

kata lain bahasa adalah alat komunikasi antara masyarakat berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan berikut ini:

BAGAN KERANGKA PIKIR

Penggunaan Bahasa

Merekam Menulis

Berbicara Menyimak

Lingkungan Situasi Waktu Sintaksis

Morfologi Fonologi

Tindak Tutur, Ilokusi

Faktor Kebahasaan Faktor Non

Kebahasaan

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Metode Penelitian

Suryabrata (2008:76) mengatakan bahwa penelitian deskriftif kualitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk membuat deskripsi mengenai situasi dan kejadian.

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif.Deskriptif kualitatif adalah suatu rancangan penelitian yang mendeskripsikan fenomena yang menjadi sasaran penelitian secara ilmiah. Alamiah maksudnya fenomena yang,menjadi sasaran penelitian dideskripsikan sebagaimana adanya tanpa disertai perlakuan, pengukuran, dan perhitungan statistik. Adapun lokasi penelitian ini adalah Pasar PattallassangTakalar provinsi sulawesi Selatan.

B. Desain Penelitian

Adapun desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif.Menurut Arikunto (1997: 209) jenis penelitian ini bertujuan menggambarkan keadaan atau status fenomena, dimana peneliti ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan. Sedangkan pendekatan deskriptif dimaksudkan sebagai usaha pemberian data kebahasaan secara rinci, jelas dan objektif (sebagaimana adanya tanpa berpikir bagaimana seharusnya).Dalam mengumpulkan data mengenai tindak tutur, ilokusi dalam transaksi jual beli,

32

penulis melakukan observasi, rekaman dan teknik simak libat cakap dengan penulis langsung terlibat dalam percakapan tersebut.

C. Batasan Istilah

Agar penelitian ini terarah pada objek penelitian, maka istilah yang digunakan perlu di batasi.

1. Tindak tutur adalah merupakan awal perkataan yang diucapkan oleh seseorang dalam melakukan aktifitas komunikasi.

2. Ilokusi adalah tekanan komunikatif dari tuturan yang digunakan pada saat melakukan komunikasi.

3. Transaksi jual beli adalah suatu peristiwa atau kejadian di mana ada penjual dan pembeli yang pada akhirnya menghasilkan kesepakatan.

4. Kesepakatan yang dimaksud yaitu adanya saling pemahaman antara penjual dan pembeli yang diakhiri dengan transaksi.

D. Instrumen penelitian

Instrumen penelitian adalah alat perekam yang digunakan untuk mengumpulkan data lapangan. Menurut Koencaraningrat (1983:52), bahwa instrumen merupakan komponen kunci dalam suatu penelitian tersebut.

Penelitian menggunakan beberapa instrumen penelitian, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui data atau informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu instrumen yang dimaksud

dalam penelitian ini adalah alat bantu atau perekam yang digunakan dalam penelitian untuk mengukur dan mendapatkan data yang relevan dengan masalah yang diteliti, antara lain :

a. Pedoman Wawancara

Adapun instrumen kedua yang penulis gunakan adalah pedoman wawancara, yakni sejumlah daftar pertanyaan dalam melakukan tanya jawab dengan informan untuk mendapatkan keterangan yang dibutuhkan.

b. Pedoman obeservasi

Kemudian instrumen ketiga adalah pedoman observasi, yakni catatan tentang pengamatan yang dilakukan oleh penulis terhadap objek penelitian kemudian mencatat hal-hal yang dianggap perlu sehubungan dengan masalah yang diteliti.

Sasaran/Fokus Penelitian

Objek yang menjadi penelitian iniadalah wujud tuturan serta tekanan dari penuturan yang digunakan dalam interaksi jual-beli di pasar PattallassangTakalar.

E. Data dan Sumber Data 1. Data

Data penelitian ini adalah semua rekam tindak tutur, ilokusi yang terjadi pada transaksi jual beli di pasar pattallassang Takalar yang diperoleh melalui rekaman dan wawancara dan simak libat cakap.

2. Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini berupa tuturan kata yang terjadi pada saat interaksi jual-beli di pasar Pattallassang Takalar

F. Populasi dan Sampel a. Populasi

Populasi adalah seluruh data yang menjadi pusat perhatian dalam ruang lingkup dan waktu yang ditentukan (Putrawan, 1990:5).Dengan demikian populasi penelitian ini adalah seluruh pedagang di pasar pattallassang Takalar.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian jumlah populasi yang digunakan untuk menentukan sesuatu atau ciri yang dikehendaki (Putrawan, 1990: 5).Sedangkan menurut Arikunto (1997: 104) sampel adalah wakil atau sebagian dari populasi yang diteliti.

Karena jumlah populasinya cukup besar, penulis menarik suatu sampel penelitian. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penulis dalam mengumpulkan data penelitian, sehubungan dengan hal tersebut, Arikunto (1992: 112) berpendapat bahwa:

“Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika subyeknya besar dapat diambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% atau berapa saja, tergantung dari kemampuan peneliti dilihat dari besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti”.

Berdasarkan definisi tersebut, maka sampel penelitian ini sebanyka 10 orang atau 10% dari keseluruhan jumlah populasi yang ada yakni sebanyak 48 orang.

G. Sasaran/Fokus Penelitian

Objek yang menjadi penelitian iniadalah wujud tuturan serta tekanan dari penuturan yang digunakan dalam interaksi jual-beli di pasar Pattallassang Takalar.

H. Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Teknik Observasi

Margono (2007:158) mengartikan observasi sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian Teknik observasi dilakukan dengan menggunakan panduan obeservasi untuk mencatat data dan informasi yang berkenaan dengan masalah penelitian

2. Teknik Wawancara

Teknik wawancara dilakukan untuk memperoleh data secara alamiah yang diucapkan oleh penutur pada interaksi yang terjadi, mulai dari awal pembicaraan hingga bagaimana mengakhiri pembicaraan.

a. Teknik Rekam

Teknik rekam ini peneliti lakukan dengan maksud untuk mendapatkan data yang lebih akurat, dengan merekam tuturan yang diucapkan oleh sekelompok orang yang terlibat dalam kegiatan transaksi jula beli di Pasar Sentral Takalar.

b. Teknik Simak Libat dan Simak Bebas

Teknik simak libat cakap merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan cara peneliti menyimak percakapan yang terjadi dalam transaksi jual beli di pasar tersebut, kemudian peneliti ikut terlibat dalam percakapan tersebut dan berperan sebagai pembeli.

I. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Yang dimaksud dengan teknik deskriptif kualitatif adalah teknik yang digunakan untuk menganalisis data atau masalah dengan cara memaparkan secara apa adanya dengan kata-kata yang jelas dan terinci berdasarkan disiplin ilmu pengetahuan atau asas lain (Moeliono, 1990:201)

Pendekatan ilmu pengetahuan yang digunakan dalam menganalisis data dengan teknik deskriptif kualitatif ini adalah pendekatan sosioolinguistik yang mengkaji bahasa dari segi kehidupan masyarakat pemakainya.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Tatacara Penggunaan Tindak Tutur yang Dilakukan Oleh Para Penjual dan Pembeli Di Pasar Pattallassang Takalar

Pada bagian analisis data ini, diuraikan beberapa pokok permasalahan.Permasalahan yang dimaksud adalah tindak tutur serta ilokusi pada interaksi jual beli di pasar Pattallassang Takalar.

Mengawali suatu komunikasi yang biasa disebut sebagai tindak tutur merupakan gaya bahasa yang mayoritas dipergunakan oleh masyarakat khususnya para pedagang di pasar Pattallassang Takalar. Dalam melakukan aktifitas perdagangan sesuai dengan hasil penelitian, didapatkan beberapa karakter atau ragam tutur bahasa dipergunakan yakni:

1. Tindak tutur bahasa Takalar

Tindak tutur bahasa Takalar adalah alat komunikasi yang dimiliki oleh masyarakat yang berasal dari Daerah Takalar. Keberadaan bahasa daerah Takalar di Pasar Pattallassang hampir menjadi bahasa persatuan di antara para pedagang walaupun masih ada pedagang yang berasal dari daerah lain.

Penggunaan bahasa daerah Takalar, bukan hanya digunakan oleh masyarakat Takalar itu sendiri, akan tetapi pedagang yang berasal dari daerah lain sebagian besar sudah mempergunakan. Demikian pula sebaliknya pedagang yang berasal dari daerah lain sangat berminat mempelajari bahasa daerah Takalar. Hal tersebut disebabkan karena pembeli yang mengunjungi tempat transaksi adalah

38

mayoritas berasal daerah Daerah Takalar.Sehingga terjadi Interferensi bahasa yang bermaksud adanya pembauran dialek yang disebabkan oleh pengaruh bahasa daerah yang dimiliki oleh masing-masing pedagang. Hal tersebut berkaitan dengan pendapat Bell dalam bukunya yang berjudul: “Sosiolinguistic: Goals Approach and Problem”(dalam Rukmini, 1999: 7) menyatakan bahwa:

“Interferensi timbul karena dwibahasawan menerapkan sistem satuan bunyi (fonem) bahasa pertama kepada sistem bunyi bahasa kedua sehingga mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan atau gangguan pada sistem fonemik bahasa pertama”.

Hal ini terjadi karena para pedagang yang melakukan aktifitas jual beli berasal dari beberapa banyak Daerah misalnya Daerah Takalar, Daerah bugis serta Daerah mandar, Daerah jawa dan lain sebagainya sehingga pada saat melakukan komunikasi didapatkan beberapa dialet.

Adapun tindakan tutur sesuai dengan hasil percakapan yang dilakukan oleh Dg. Tutu (sebagai penjual) dan Dg. Siama (sebagai pembeli) sebagai berikut:

(percakapan 1)

PJ : Laki-laki, sekitar 30 tahun PB : Laki-laki, sekitar 45

PJ : Sengkaki Pa...Apa ni keroki?

PB :iye, a’baluki’ songko?

PJ :iye, nia’ katte, erokki’?

PB : nia’ warna le’leng?

PJ : nia’ ja katte, ki coba mi rong!

PB : siapa hargana songko kammayya anne?

PJ : tujuh pulo sa’bu katte!

PB : tena mo na kurang antu daeng, limam pulo sa’bu mo daeng?...

PJ : tena na rapikimodala’na katte PB :siapa ji paeng ki sa’reanga hargana?

PJ :kusa’re maki annang pulo lima sa’bu PB : iye paeng, kisa’re ma’!

Pada percakapan di atas kata Tabe singgaki merupakan tintak tutur yang dipergunakan oleh pedagang untuk mengajak pembeli berkomunikasi. Ucapan tersebut menurut salah satu responden (Oktober:5-10-2014) mengungkapkan bahwa: tindak tutur yang diucapkan oleh pedagang (Tabe Singgaki) merupakan ucapan yang mengandung makna sikap kesopanan,

menghargai pada saat proses transaksi jual beli berlangsung.

2. Tindak tutur dialek bahasa Bugis

Pada interaksi jual beli di Pasar pattallassang Takalar, bahasa indonesia yang digunakan oleh penjual dan pembeli kadang dipengaruhi oleh bahasa daerah.

Dikatakan tindak tutur bahasa bugis karena dalam interaksi tersebut bahasa indonesia dicapur dengan dengan bahasa daerah bugis. Hal ini terjadi karena sebagian besar pedagang yang ada di pasar pattallassang berasal dari Daerah bugis.Bahkan berdasarkan survey penulis, kebanyakan pedagang adalah mayoritas masyarakat bugis.Masyarakat bugis yang dimaksud adalah bugis pangkep, sinjai, bone, bulukumba, soppeng dan sebagainya.Dalam kesehari-hariannya ada yang sudah menyatu dengan masyarakat Takalar sehingga tidak nampak lagi kebugisannya.Sebagian lagi masih menggunakan bahasa bugis, bergantung pada bugis asal masing-masing. Munculnya tindak tutur bahasa bugis terkadang

digunakan penjual dan pembeli dalam proses jual beli. Untuk lebih jelasnya mengenai hal tersebut, dapat dilihat pada percakapan antara penjual (Awal) dan pembeli (Rahma).

Percakapan 2

PJ : laki-laki, sekitar 34 tahun PB : perempuan sekitar 25 Tahuan Topik Pakaian:

PJ : Apa dicari Bu?

Singgaki...

PB : adakah baju kos?

PJ : ada, siniki

PB : mana bagus ini apa itu?

PJ : Bagus semuanya Bu.

PB : berapa hargana?

PJ : Tak dua ratus sebbu PB : Tidak Kurang?

PJ : Wedding

PB :Seratus lima puluh

PJ : Eh...tidak bisa kasian bu.

Tena narapiki modala’na PB : Ka begituji juga di tempat lain PJ : Tapi beda kainna bu

Tamba-tambai Cedde

PB : Itumo PJ : Ambil saja

Pada percakapan di atas, pedagang bertindak tutur kepada penjual dengan mengucapkan singgaki dengan cara menyapa pembeli yang merupakan bahasa daerah makassar, dalam bahasa indonesia artinya singgah (untuk mengajak pembeli). Berkaitan dengan hal itu, penulis juga dapatkan dalam transaksi jual beli antara pedagang ikan yang berasal dari suku makassar dengan pembeli yang berasal dari jawa. Akan tetapi dalam transaksi ini yang dominan dipergunakan adalah bahasa makassar. Pembauran kata tersebut dapat disimak pada percakapan di bawah ini:

Percakapan III

Dg. Jarre : Laki-laki umur 34 Tahun (sebagai Penjual) Mbak Rina : Perempuan Umur 27 Tahun (Sebagai pembeli) Topik : Transaksi jual beli ikan

PJ : Juku apa bu kikeroki Daeng?

PB : Ya, berapa perekornya?

PJ : Maaf bu saya kira orang Takalar juga, kalau ini bu 10.000/ekor.

PB : Kok Mahal Banget Pa ikannya?

PJ : Memang begitu bu harganya

PB : Oo ia. Bungkus dua ekor makasih pa yah.

Tintak turur yang dipergunakan antara penjual dan pembeli terjadi pembauran antara bahasa jawa dengan bahasa bugis makassar, keragaman bahasa

tersebut bukan berarti menjadi suatu hambatan dalam transaksi jual beli.

Berkaitan dengan hal ini menurut salah satu responden mengungkapkan; aktifitas jual beli di pasar sentral bukan hanya didominasi oleh penduduk asli pribumi, akan tetapi banyak ragam suku yang terlibat baik terhadap pedagang maupun terhadap pembelinya.

3. Tindak tutur dialek bahasa jawa

Sebagaimana pada bab I di uraikan masyarakat Takalar adalah masyarakat majemuk. Terdiri dari berbagai Daerah dengan bahasa daerah yang berbeda pula.Di antra sekian bahasa daerah, terdapat bahasa jawa yang digunakan oleh para pembeli dan para penjual yang ada di pasar Sentral Takalar untuk berinteraksi.Hal ini diketahui berdasarkan logat bahasa yang digunakan oleh penutur, yakni dilihat dari intonasi dan juga pilihan kata, misalnya pemakaian kata sapaan atau kata ganti.Hal ini biasanya nampak pada saat penjual atau pembeli mengawali pembicaraan. Hal ini dapat dilihat pada percakapan berikut:

Ratna : Wanita, sekitar 28 Tahun Adi : Laki-Laki, sekitar 30 Tahun Topik : Pedagang Pekaian

Ratna : Singgah pak

Adi : Berapa ini celana daeng?

Ratna : Seratus ribu

Adi : I, Ka’jalakamma Mbak Ratna : Masih kurang kok Bu Adi :Enam puluh ribu

Ratna : Nggak bisa Bu, itumi modalnya aja nggak sampai

Pada percakapan tersebut di atas didapatkan karakter tindak tutur yang dipergunakan oleh pedagang yang berasal dari daerah lain yakni dari kata mbak yang merupakan ciri khas pembeli yang berasal daerah jawa sebagai ajakan sekaligus sapaan pembuka bagi para penjual.dan kata mbak yang merupakan sapaan hormat untuk semua pembeli dalam bahasa daerah jawa.

Pemakaian tindak tutur bahasa jawa dalam interaksi jual beli, bukan hanya dilakukan antar suku seperti (bugis dan jawa) akan tetapi juga terjadi dalam satu suku. Percakapan antara satu suku jawa dapat disimak di bawah ini:

Mbak Ati : Umur 25 Tahun Mas Parto : Umur 20 Tahun Topik

: Pedagang barang Campuran Mbak Ati : Monggo Mas cari opo?

Mas Dedi : Ya, cuma lihat barang Mbak Ati : Asal dari jawa mana mas?

Mas Dedi : Mbak, kalau ini berapa harganya?

Mbak Ati : itu ya mas, lima sewu.

Mas Dedi : Bungkus aja Mbak.

Berdasarkan hasil percakapan tersebut, dapat dipahami bahwa di daerah Kabupaten Takalar terdapat beberapa ragam bahasa yang dipergunakan para pedagang di Pasar Pattallassang yang dipergunakan baik penjual maupun pembeli.Keragaman tindak tutur tersebut menggambarkan situasi yang kondusif

yang terjadi di kawasan pasar Pattallassang Takalar. Berkaitan dengan hasil analisis percakapan di atas, yang dilakukan oleh peneliti melalui wawancara kepada responden; bahwa penggunaan kata “monggo mas” merupakan kata sapaan bagi suku jawa baik dalam transaksi jual beli maupun dalam menjalin hubungan terhadap sesama manusia. (wawancara tanggal 23 september 2014).

B. Analisis Tindak Tutur, Ilokusi dalam Transaksi Jual Beli Di Pasar Pattallassang Takalar

Komunikasi sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Selama manusia itu hidup maka selama itu pula diperlukan bahasa sebagai alat komunikasi, karena manusia tidak akan pernah hidup tanpa berhubungan atau berinteraksi dengan yang lainnya. Secara kodrat Allah Swt. menciptakan manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus sebagai makhluk sosial. Dalam hal ini kapan pun dan dimana pun manusia berada, maka di situ pun ada komunikasi, bahkan dalam kesendirian pun terjadi komunikasi yakni komunikasi antara manusia dengan sang penciptanya.

Komunikasi merupakan proses alih informasi. Tanpa komunikasi akan mengakibatkan pengabaian keberadaan manusia dari segala aspek prilaku manusia yang berhubungan dengan banyak masalah atau membentuk proses pengiriman serta penerimaan informasi (Higham, dkk, 1992: 4) Sejalan dengan pendapat Muhammad (2000: 4) yang mengatakan bahwa komunikasi adalah pertukaran pesan verbal atau non verbal antara si pengirim dan si penerima pesan untuk mengubah tingkah laku.

Berdasarkan pendapat di atas tentang komunikasi, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa komunikasi adalah adanya hubungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu yang lainnya sehingga terjadi proses interaksi.

Oleh karena itu, dalam proses komunikasi komponen dasar yaitu sebagai berikut:

1. Pengirim pesan atau individu yang mengirim pesan/informasi 2. Pesan yakni informasi yang dikirim kepada orang lain (penerima) 3. Paluran yakni jalan yang dilalui pesan pengirim ke penerima

4. Penerima pesan yakni orang yang menerima, menganalisis dan menginterpretasikan isi pesan yang diterima

5. alikan (feed back) yaitu respon terhadap yang diterima atau tanggapan balik si penerima pesan (informasi) kepada si pengirim pesan.

Selanjutnya dalam komunikasi seseorang harus memiliki keterampilan dan cara tersendiri agar komunikasi yang mereka lakukan dapat tercipta dengan baik dan lancar. Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga orang yang akan melakukan komunikasi harus pandai melihat dan membaca karakteristik lawan bicaranya agar pesan yang disampaikan mudah dimengerti dan menarik perhatian orang lain

Mengawali suatu komunikasi yang biasa disebut dengan tindakan tutur adalah merupakan alat komunikasi yang efektif dipergunakan oleh masyarakat secara umum dan lebih khusus kepada para pelaku ekonomi yang dalam hal ini adalah para pedagang di Pasar pattallassang Takalar.Sehubungan dengan hasil analisis data yang dilakukan oleh peneliti bahwa mempergunakan tindak tutur

serta ilokusi dalam melakukan aktifitas ekonomi oleh pedagang di Pasar pattallassang Takalar adalah merupakan alat komunikasi yang eksistensinya dapat mempengaruhi efektifitas jalannya perdagangan.

Misalnya ketika seorang pedagang (penjual) adalah berasal dari Daerah bugis, maka pembelinya mayoritas orang bugis pula.Hal ini disebabkan karena dalam mempergunakan tindak tutur sebagai contoh penjualnya berbahasa bugis, maka yang dapat memahami bahasa tersebut adalah pembeli yang berasal dari daerah bugis. Misalnya leppakki mae yang dalam bahasa indonesia diartikan singgah. Berkaitan dengan hal ini menurut salah satu pedagang yang berasal dari

daerah bugis bone saat dimintai keterangannya, mengungkapkan: bahwa dalam transaksi jual beli, penggunaan tindak tutur yang diiringi dengan sikap kesopanan kepada penjual, maka hal itu dapat memotivasi pembeli untuk melakukan transaksi pembelian. (wawancara tanggal 2-10-2014).

Penggunaan tindak tutur seperti kata singgaki adalah kata sapaan yang dipergunakan oleh masyarakat (sebagian pedagang) Takalar walaupun bahasa tersebut sudah terinferensi dengan bahasa indonesia, akan tetapi bahasa tersebut dapat dipahami dengan baik. Hal ini sesuai dengani hasil wawancara mengungkapkan; bahasa yang dipergunakan di pasar pattallassang Takalar pada umumnya bahasa Daerah Makassar, sehingga dalam aktifitas perdagangan baik penjual maupun pembeli terpengaruh oleh bahasa daerah tersebut. (Wawancara, 10 September 2014).

Keberadaan beberapa pedagang dengan masing-masing bahasa (tindak tutur) serta ilokusi yang dimiliki di Pasar Pattallassang Takalar memicu timbulnya

ragam bahasa yang artinya terdapat beberapa dialek yang berasal dari bahasa daerah yang dipergunakan oleh pedagang dalam melakukan interaksi jual beli dengan tanpa disadari dialek tersebut terinferensi kedalam bahasa indonesia.

Berkaitan dengan hasil analisis data di atas, maka penulis memahami bahwa tindak tutur yang dimiliki oleh masing-masing pedagang di pasar Pattallassang Takalar merupakan karakter kebahasaan yang dimiliki yang berasal dari bahasa daerah dimana ia di lahirkan. Sehingga terdapat beberapa ragam bahasa yang didapatkan di pusat perbelanjaan, mengingat pedagang yang melakukan aktifitas penjualan bukan hanya datang dari satu Daerah, akan tetapi banyak Daerah seperti: Daerah bugis, Daerah Takalar, daerah jawa dan sebagianya.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, penulis memberikan kesimpulan yakni:

1. Terdapat beberapa penggunaan tindak tutur, ilokusi di pasar Pattallassang Takalar yakni tindak tutur dialek Takalar seperti kata Tabe singgaki, maeki, barang apa kiboya.

2. Eksistensi tindak tutur serta ilokusi pada pedagang di pasar Pattallassang Takalar adalah merupakan alat komunikasi untuk mempererat hubungan antara penjual dan pembeli. Di sisi lain tindak tutur mengandung makna kesopanan dalam menjalin hubungan komunikasi seperti dalam bahasa makassar kata tabe singgaki yang bermakna singgah. Dalam bahasa makassarkata tersebut ucapan yang mengadung makna menghormati dan menghargai kepada orang diajak berkomunikasi.

B. Saran

1. Kepada para dwibahasawan atau pengguna dua bahasa agar tidak terbiasa melakukan transfer (pemindahan) unsur, antar bahasa satu dengan bahasa lainnya atau antara dialek bahasa daerah dengan bahasa Indonesia yang menyebabkan terjadinya interferensi.

2. Kepada para pemakai tindak tutur sebaiknya memperhatikan situasi dan kondisi serta orang yang diajak berkomunikasi, agar si penerima dan si

49

pendengar tidak merasa kaku atau tersinggung dengan kata atau bahasa yang digunakan oleh si pemberi pesan.dan informasi.

3. Kepada para pedagang di pasar pattallassang Takalar, agar dalam menggunakan tindak tutur yang mangandung unsur saling menghargai atau unsur kesopanan. Karena hal itu dapat mempengaruhi efektifitas perdagangan baik kepada penjual maupun kepada pembeli.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 1986. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa

Anonim, Pedoman Umum EYD dan Pembentukan Istilah.1975.Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa Depdikbud RI. Edisi Lengkap. Jakarta:

Erlangga

Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Azies, F dan Alwasilah, A. Chaedar. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif, Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Basang, Djirong. 2002. “Bahasa Bantu”. Diktat. Makassar: FKIP Unismuh Makassar.

Chaer, A. Leonie Agustina. 1986. Sosiologi (Perkenalan Awal). Jakarta: Rineka Cipta.

Hambali. 2000. “Interferensi Fonologi Bahasa Bugis terhadap Bahasa Asing Ranah Keagamaan di Kec. Mallawa Kab. Maros”.Tesis. Pascasarjana Unhas Makassar.

Higham, D.M. dkk. 1992. Komunikasi. Semarang: Dahara Prize Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik, Jakarta: Gramedia.

Lado, Robert. 1982. Linguistik Across Cultures, Michigan: The University of Michigan press.

Miles, Mattew B dan Michael Hubserman.1992.Analisis Data Kualitatif.Jakarta:

Universitas Indonesia.

Muhammad, Arni. 2000. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Dokumen terkait