• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Pikir

Dalam dokumen rcetoh -tr B (Halaman 71-74)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

F. Kerangka Pikir

Kegiatan kejahatan Psikotropika merupakan fakta sosial yang terjadi di Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar dimana prilaku kejahatan Psikotropika adalah tindakan menyimpang dari norma dan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat, prilaku kejahatan Psikotropika tidak dilakukan manakala tidak ada faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam berbuat kejahatan Psikotropika walaupun awalnya hanyalah kegiatan untuk mengisi waktu luang, namun lama- kelamaan prilaku kejahatan Psikotropika menyatuh dalam diri beberapa masyarakat di Kecamatan Tamalanrea. Pentingnya peranan anggota kepolisian atau tokoh masyarakat baik mencegah dan mengurangi kejahatan Psikotropika di

Kecamatan Tamalanrea dengan cara pendekatan dan memberikan sosialisasi bahwa kejahatan Psikotropika merupakan prilaku yang menyimpang baik dari norma hukum atapun norma yang ada di Kecamatan Tamalanrea, dan bagi pelaku kejahatan Psikotropika yang sudah terbukti melakukan kejahatan Psikotropika maka mereka sebaiknya dihukum sesuai peraturan Undang-undang pidana yang ada.

Pelaku kejahatan Psikotropika di Kecamatan Tamalanrea mengenal bermacam-macam jenis kejahatan.Prilakukejahatan Psikotropika yang umumnya adalah melanggar norma yang ada dikehidupan bersyarakat, maka prilaku ini pasti memiliki dampak bagi pelaku atau masyarakat sekitar, begitupula persepsi yang berbeda-beda bagi masyarakat ataupun keluarga kejahatan yang ada di Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.

Harus disadari bahwa masalah penyalahgunaan psikotropika adalah suatu problema yang sangat kompleks, oleh karena itu diperlukan upaya dan dukungan dari semua pihak agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Terciptanya kehidupan yang bebas dari narkotika dan psikotropika semuanya sangat tergantung pada partisipasi semua pihak baik pemerintah, aparat keamanan, keluarga, lingkungan maupun guru di sekolah, sebab hal tersebut tidak dapat hilang dengan sendirinya meskipun telah dikeluarkan undang-undang yang disertai dengan sanksi yang keras.

Skema kerangka piker penanggulangan kejahatan dan pencegahan peredaran psikotropika:

Tinjauan Sosiologis Kejahatan Psikotropika

Faktor Penyebab

Internal

Eksternal

Keluarga

Teman

Lingkungan

Upaya Pencegahan

Upaya Preventive

Upaya Represif

Upaya Pre-emptif

61 A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1995:3), mengungkapkan bahwa metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskritif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan studi kasus (dalam Bungin, 2008:48) dimaksudkan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, situasi atau berbagai variabel yang timbul di dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian serta mementingkan kedalaman data.

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan kurang lebih satu bulan yakni bulan Oktober sampai dengan bulan November 2016 di Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar, di Jalan Perintis Kemerdekaan IV (Kelurahan Tamalanrea), dengan pertimbangan adalah untuk mengetahui lebih lanjut tinjauan sosiologis kejahatan psikotropika.

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada tinjauan sosiologis kejahatan psikotropika (studi kasus masyarakat Tamalanrea Kota Makassar). Peningkatan jumlah tindak pidana psikotropika ini disebabkan karena dua hal, yaitu: pertama, bagi pengedar menjanjikan keuntungan yang besar, sedangkan bagi para pemakai menjanjikan ketenangan dan ketentraman hidup. Kedua, janji yang diberikan psikotropika itu

sebaliknya akan menimbulkan rasa keberanian.

Penegakan hukum terhadap tindak pidana psikotropika, telah banyak dilakukan oleh aparat penegak hukum dan telah banyak mendapat putusan hakim.

Dengan demikian, penegakan hukum ini diharapkan mampu menjadi faktor penangkal terhadap merebaknya perdagangan gelap serta peredaran narkotika dan psikotropika, tapi dalam kenyataannya justru semakin intensif dilakukan penegakan hukum, semakin meningkat pula peredaran serta perdagangan gelap narkotika dan psikotropika tersebut.

D. Sasaran Penelitian

Menurut Moeliono (1993: 82), bahwa sasaran penelitian sebagai orang yang diamati sebagai subjek penelitian. Sejalan dengan defenisi tersebut Moleong (2010: 132) mendeskripsikan subjek penelitian sebagai informan, yang artinya orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi tentang latar penelitian.Berdasarkan pengertian tersebut. Maka yang menjadi sasaran penelitian, sekaligus sebagai informan kunci dalam penelitian ini adalah BNN, pemerintah sekitar, masyarakat yang terlibat dan masyarakat sekitar.

Dalam penelitian kualitatif terdapat dua jenis pendekatan yakni proposive sampling dan snowball sampling, hal yang menjadi bahan pertimbangan utama dalam penggunaan jenis penelitian sangat tergantung dari pengumpulan data dengan metode yang mana lebih tepat dalam mengumpukan informasi. Dalam penelitian kualitatif tidak digunakan istilah populasi namun istilah

sampling.

Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju kecil yang menggelinding lama-lama menjadi besar. Sehingga dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu hingga dua orang sampel, tetapi karena dengan dua orang sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang mengetahui permasalah dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak (Gerytry.blogspot.co.id). Dapat juga dikatakan, snowball sampling memiliki informan kunci (BNN, dan pemerintah sekitar) yang telah di wawancara diminta memberikan nama-nama atau keterangan orang-orang yang dapat dijadikan sebagai informan selanjutnya.

E. Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana kedudukan peneliti yaitu sebagai instrumen utama, (Meleong, 2007:23). Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya peran manusia dalam pelaksanaan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang peneliti gunakan yaitu lembar observasi, pedoman wawancara, alat perekam (Handphone) dan dokumentasi yang dianggap relevan dengan penelitian ini.

Alat perekam berguna Sebagai alat Bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tampa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat

mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung.

F. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif.

a. Data kualitatif, yaitu data yang disajikan dalam bentuk kata verbal bukan dalam bentuk angka. yang termasuk data kualitatif dalampenelitian ini yaitu gambaran umum obyek penelitian, meliputi: penyalahgunaan narkotika dan psikotropika di area Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.

b. Data kuantitatif adalah jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung, yang berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau berbentuk angka. Dalam hal inidata kuantitatif yang diperlukan adalah: Jumlah masyarakat yang menyalahgunakan psikotropika.

2. Sumber Data

Ada pun jenis data yang penulis peroleh dalam penelitian lapangan ini adalah:

a. Sumber data primer, yaitu Menurut Idrus (2007:113) adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber asli (langsung dari informan 4 orang) yang memiliki informasi atau data tersebut. Data ini diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara secara mendalam, dalam penelitian ini peneliti memperoleh data primer dari Kepala Lingkungan, dan staf

kepemudaan (OKP) dan organisasi masyarakat (Ormas) yang ada pada saat peneliti ada di lapangan, dan masing-masing 1 orang.

b. Sumber data skunder, yaitu Menurut Strauss dan Juliet (2007:43) data sekunder atau data penunjang adalah data yang akan dijadikan penguat atau data yang akan melengkapi atas segala informasi yang telah di dapat melalui data primer atau data pokok dalam penelitian. Data ini dapat berupa Peraturan Daerah No. 14 Tahun 2009 dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2009 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Sekretariat Badan Narkotika Dan Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi Sulsel.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian adalah untuk mendapatkan data.

Pengumpulan data dapat dilakukan berbagai cara, berbagai sumber, dan dengan pengaturan–pengaturan tertentu. Pada penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah, tehinik pengumpulan data banyak dilakukan pada wawancara, oservasi, dokumentasi dan studi pustaka.

1. Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan sistematis dari fenomena-fenomena yang diselidiki (dalam Agustang; 2011).Teknik ini dilakukan untuk mengamati berbagai hubungan pada masyarakat Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar. Selama masa penelitian, peneliti akan mengamati berbagai bentuk

lembaga Organisasi Masyarakat (ormas).

Menurut Nawawi (2005:34) bahwa observasi langsung adalah cara mengumpulkan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala- gejala yang tampak pada obyek penelitian yang pelaksanaannya langsung pada tempat dimana suatu peristiwa, keadaan atau situasi sedang terjadi.

Cartwright & Cartwright (dalam Suharsaputra; 2012) mendefenisikan observasi sebagai suatu proses melihat, mengamati dan mencermati serta merekam perilaku secara sistematis untuk suatu tujuan tertentu. Jadi observasi dapat dilakukan hanya pada perilaku/suatu yang tampak, sehingga potensi perilaku seperti sikap, pendapat jelas tidak dapat diobservasi.

2. Wawancara

Menurut Sugiyono (2008 : 194) Interview atau wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui pertanyaan yang peneliti buat, baik tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Kegunaan wawancara menurut Usman dan Purnomo (2006 : 58) adalah untuk mendapatkan data ditangan pertama, pelengkap teknik pengumpulan lainnya, menguji pengumpulan data lainnya. Metode wawancara dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh keterangan, informasi, atau penjelasan-penjelasan dari narasumber/ subjek penelitian masalah yang harus diungkap peneliti dengan menggunakan panduan wawancara.

Lebih lanjut Amirin, 1994 menjelaskan bahwa In Depth- interview merupakan suatu percakapan yang diarahkan kepada satu masalah tertentu melalui

secara fisik, metode wawancara mendalam ini digunakan untuk mendapatkan keterangan secara mendalam dari permasalahan yang dikemukanan, dengan metode ini diharapkan akan memperoleh data primer yang berkaitan dengan penelitian ini dan untuk mendapat gambaran yang lebih jelas.

3. Dokumentasi

Dokumentasi meupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar, maupun hasil karya.

Pendokumentasian merupakan pelengkap dari penggunaan metode wawancara dan hasilnya akan lebih kredibal atau dapat dipercaya apabila didukung oleh foto- foto atau media audio visual yang telah diperoleh kemudian dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistemasis, terpadu, dan utuh. Dalam penelitian ini, dokumentasi yang digunakan adalah foto, karena foto menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan dalam penelitian-penelitian kualitatif, serta merupakan sumber data yang stabil dan akurat.

G. Teknik Analisis Data

Secara general teknik analisis data digunakan dalam penelitian untuk

menjawab rumusan masalah, analisis data kualitatif bersifat induktif artinya suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh. Berdasarkan pendapat Sugiyono, (2008:89) dijelaskan mengenai pengertian analisis data yaitu proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan

kategori,

Menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Teknik analisis data yang dilakukan berjalan secara terus menerus hingga datanya valid karena teknik analisis data harus dilakukan oleh peneliti secara interaktif dan terus menerus, maka dalam aktifitasnya peneliti harus melalui beberapa tahap sebagai berikut:

1. Pengumpulan data

Tahap ini merupakan tahap awal dalam teknik analisis data peneliti melakukan pengumpulan dan pencarian akan data yang dibutuhkan pada tahap ini, peneliti pun dapat melakukan tahap klasifikasi awal yang secara ideal peneliti melakukan pengorganisasian, pelacakan, serta pencatatan data yang relevan dan yang dibutuhkan oleh peneliti.

a) Data reduksi

Tahap ini merupakan tahap dimana peneliti melakukan seleksi data setelah peneliti memiliki berbagai data yang telah terkumpul selain menyeleksi, proses reduksi data pun melalui tahapan-tahapan dimana peneliti harus merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting serta dicari tema dan polanya.

Reduksi data dilakukan berpandu pada tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tersebut sehingga dengan demikian, proses reduksi data

peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

b) Data display

Data display merupakan tahap kedua dalam teknik analisis data dimana pada tahap ini data disajikan atau mendisplaykan. Penyajian data dalam penelitian kulaitatif dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya dalam penelitian yang dilakukan peneliti, penyajian data didominasi oleh teks yang bersifat naratif dan didukung oleh data berbentuk bagan.

2. Conclusion verification

Tahap conclution verification merupakan tahap terakhir dalam teknik analisis data dalam tahap ini, data yang telah diperoleh, direduksi dan disajikan pada akhirnya melalui tahap penyimpulan atau disebut juga dengan tahap verifikasi, dalam tahap ini, kesimpulan pada awalnya masih bersifat sementara yang kemudian akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.

Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal namun tidak sepenuhnya seperti itu karena masalah dan rumusan masalah akan berkembang sesuai dengan yang terajadi di lapangan.

H. Teknik Pengabsahan Data

Teknik pengabsahan data adalah menimbang, menyaring, mengatur dan mengaplikasikan, menimbang dan menyaring data berarti benar-benar memilih secara hati-hati data yang relevan tepat dan berkaitan dengan masalah yang

mengelompokkan menjadi satu, kemudian dapat dibuat menjadi klasifikasi dan kategori juga dapat dikatakan mengelolah adalah usaha yang kongkrit untuk membuat data berbicara, (Mulyana, 2003:109).

Dengan demikian data yang terkumpul perlu untuk di olah seteliti mungkin sehingga kongkrit, beberapa langkah yang ditempuh peneliti dalam mengolah data hasil penelitian adalah sebagai berikut:

1. Seleksi data, pada tahap ini pemilihan data yang valid dan paling erat hubungannya dengan inti permasalahan dan tujuan penelitian. Data yang sudah dipilih kemudian dikelompokkan berdasarkan kategori- kategori tertentu sesuai dengan item pertanyaan pedoman wawancara dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengolahan dan menarik kesimpulan.

2. Mengumpulkan hasil, hasil penelitian menggunakan dari hasil latar belakang dari data yang terkumpul kemudian disusun, setelah memulai analisa dan menghubungkannya dengan teori-teori yang relevan dengan penelitian ini.

3. Menyimpulkan hasil, sebagai bagian akhir peneliti menggunakan kalimat-kalimat ilmiah atau pola standar komunikasi tertulis dalam penyusunan skripsi.

71

PENELITIAN DAN DESKRIPSI KHUSUS KECAMATAN TAMALANREA SEBAGAI LATAR PENELITIAN A. Deskripsi Umum Kota Makassar Sebagai Daerah Penelitian

1. Sejarah Singkat Kota Makassar

Kota Makassar biasa juga disebut Kota Daeng atau Kota Anging Mamiri.

Daeng adalah salah satu gelar dalam strata atau tingkat masyarakat di Makassar atau disulawesi selatan pada umumnya, Daeng dapat pula diartikan “kakak”. Ada tiga klasifikasi “Daeng”, yaitu: nama gelar, panggilan perhormatan dan panggilan umum. Sedang Anging Mamiriartinya “angin bertiup” adalah salah satu lagu asli daerah makassar yang sangat populer pada tahun 1960-an. Lagu ini sangat disukai oleh Presiden Republik Indonesia, Ir.Soekarno ketika berkunjung ke Makassar pada tanggal 5 Januari 1962.

Mattulada menguraikan bahwa kota makassar terbentuk pada hari jumat 9 November 1607 yang menjadi tonggak penting sejarah lahirnya Kota Makassar dan mengawali semangat Kebangkitan Persatuan Nasional Indonesia. Selanjutnya, tanggal 9 November diperingati sebagai hari jadi kota makassar sejak tahun 2000, yang sebelumnya hari jadi kota makassar selalu diperingati setiap tanggal 1 April.

Kota Makassar sebagai salah satu daerah kabupaten kota/di lingkungan provinsi sulawesi selatan, secara yudiris formil didasarkan pada undang-undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan daerah-daerah tingkat II di Sulawesi, sebagaimana yang tercantum dalam lembaran Negara RI tahun 1959 Nomor 74 dan tambahan lembaran Negara RI Nomor 1822. Selanjutnya, Kota Makassar

13 tahun 1965, (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 94), dan kemudian berdasarkan undang-undang Nomor 8 tahun 1965 daerah Tingkat II Kota Praja Makassar diubah menjadi daerah Tingkat II Kotamadya Makassar.

Pada masa pemerintahan H. M. Dg. Patompo (1965-1978) menjabat walikotamadya makassar, terjadi perubahan nama kota makassar pada tanggal 1 September 1971 berubah menjadi Ujung Pandang dan terjadi pemekaran luas kota dari 21 Km2 menjadi 175,77 Km2 daratan dan termasuk 11 pulau di selat Makassar dengan ditambahnya luas pencairan kurang lebih 100 Km2. Pemekaran tersebut dengan mengadopsi sebagian wilayah Kabupaten tetangga yaitu Gowa, Maros, dan Pangkajene Kepulauan, hal ini berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 51 tahun 1971 tentang perubahan batas-batas daerah Kotamadya Makassar, Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan dalam lingkup daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Perkembangan Selanjutnya, nama Kota Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar lagi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 tahun 1999 tentang perubahan nama Kota Ujung Pandang menjadi Kota Makassar pada tanggal 13 Oktober 1999, terjadi pada saat pemerintah Walikota Baso Amiruddin Maula (1999-2004). Hal ini atas keinginan masyarakat yang didukung DPRD Tk.

II Ujung Pandang saat itu serta masukan dari kalangan Budayawan, seniman, sejarawan, hukum dan pelaku bisnis, sesuai undang-undang pemerintah daerah dengan luas wilayah 27.577 Ha. Daratan dan bertambah luas lautan kurang lebih 4 (empat) mill ke arah laut 10.000 Ha.

memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif karena terletak di tengan-tengan kepulauan Indonesia dan secara ekonomis daerah ini memiliki posisi yang sangat strategis kompetitif, serta terletak diselat Makassar yang merupakan salah satu jalur pelayaran Internasional.

2. Kondisi Geografis

Secara geografis Kota Metropolitan Makassar terletak di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan pada koordinat 119°18'27,97" 119°32'31,03" BT dan 5°00'30,18"–5°14'6,49" LS dengan luas wilayah 175.77 km2dengan batas:

 Batas Utara : Kabupaten Pangkajene Kepulauan

 Batas Selatan : Kabupaten Gowa

 Batas Timur : Kabupaten Maros

 Batas Barat : Selat Makasar

Peta Kota Makassar

Sumber: Badan Pusat Statistik Makassar 2015

a. Topografi

Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2:

(datar) dan kemiringan lahan 3-15: (bergelombang) dengan hamparan daratan rendah yang berada pada ketinggian antara 0-25 meter dari permukaan laut. Dari kondisi ini menyebabkan Kota Makassar sering mengalami genangan air pada musim hujan, terutama pada saat turun hujan bersamaan dengan naiknya air pasang.

Secara umum topografi Kota Makassar dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:

1) Bagian Barat ke arah Utara relatif rendah dekat dengan pesisir pantai.

2) Bagian Timur dengan keadaan topografi berbukit seperti di Kelurahan Antang Kecamatan Panakukang.

Perkembangan fisik Kota Makassar cenderung mengarah ke bagian Timur Kota. Hal ini terlihat dengan giatnya pembangunan perumahan di Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala, Panakkukang, dan Rappocini.

b. Geologi

Jenis-jenis tanah yang ada di wilayah kota Makassar terdiri dari:

Tanah Inceptisol, Jenis tanah incepsitol terdapat hampir diseluruh wilayah kota Makassar, merupakan tanah yang tergolong sebagai tanah muda dengan tingkat perkembangan lemah yang dicirikan oleh horizon penciri kambik. Tanah ini terbentuk dari berbagai macam bahan induk, yaitu aluvium (fluviatil dan marin),

dataran struktural berelief datar, landform structural/tektonik, dan dataran/perbukitan volkan. Kadang-kadang berada pada kondisi tergenang untuk selang waktu yang cukup lama pada kedalaman 40 sampai 50 cm. Tanah Inceptisol memiliki horizon cambic pada horizon B yang dicirikan dengan adanya kandungan liat yang belum terbentuk dengan baik akibat proses basah kering dan proses penghayutan pada lapisan tanah. Sedangkan Tanah Ultisol merupakan tanah berwarna kemerahan yang banyak mengandung lapisan tanah liat dan bersifat asam. Warna tersebut terjadi akibat kandungan logam terutama besi dan aluminium yang teroksidasi (weathered soil). Umum terdapat di wilayah tropis pada hutan hujan, secara alamiah cocok untuk kultivasi atau penanaman hutan.

Selain itu juga merupakan material yang stabil digunakan dalam konstruksi bangunan. Tanah ultisol berkembang dari bantuan sedimen masam (batupasir dan batuliat) dan sedikit dari bantuan volkan tua. Penyebaran utama terdapat pada landform tektonik/struktural dengan relief datar hingga berbukit dan bergunung.

Tanah yang mempunyai horizon argilik atau kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm atau lebih di bawah batas atas horizon argilik atau kandik. Tanah ini telah mengalami pelapukan lanjut dan terjadi translokasi liat pada bahan induk yang umumnya terdiri dari bahan kaya aluminiumsilika dengan iklim basah, sifat-sifat utamanya mencerminkan kondisi telah mengalami pencucian intensif, diantaranya: miskin unsure hara N, P, dan K, sangat masam sampai masam, miskin bahan bahan organik, lapisan bawah kaya aluminium (AI), dan peka terhadap erosi.

Makassar adalah jenis tanah batuan, iklim, dan geomorfologi lokal, sehingga perkembangannya ditentukan oleh tingkat pelapukan batuan pada kawasan tersebut. Kualitas tanah mempunyai pengaruh yang besar terhadap intensitas penggunaan lahannya. Tanah-tanah yang sudah berkembang horisonnya akan semakin intensif di pergunakan, terutama untuk kegiatan budidaya. Sedangkan kawasan-kawasan yang mempunyai perkembangan lapisan tanahnya masih tipis biasa di manfaatkan untuk kegiatan budi daya. Penentuan kualitas tanah dan penyebarannya ini akan sangat berarti dalam pengembangan wilayah di Makassar, karena wilayah Makassar terdiri dari laut, dataran rendah dan dataran tinggi, sehingga perlu dibuatkan prioritas-prioritas penggunaan lahan yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan intensitas pemanfaatnya.

c. Hidrologi

Kota Makassar adalah kota yang letaknya berada dekat dengan pantai, membentang sepanjang koridor Barat dan Utara, lazim dikenal sebagai kota dengan ciri “Waterfront City”, di dalamnya mengalir beberapa sungai yamg kesemuanya bermuara ke dalam kota (Sungai Tallo, Jeneberang, Pampang).

Sunga Jeneberang misalnya, yang mengalir melintasi wilayah Kabupaten Gowa dan bermuara ke bagian selatan Kota Makassar merupakan sungai dengan kapasitas sedang (debit air 1-2 m/detik). Sedangkan sungai Tallo dan Pampang yang bermuara di bagian utara Makassar adalah sungai dengan kapasitas rendah berdebit kira-kira hanya mencapai 0-5 m/detik di musim kemarau.

Dalam dokumen rcetoh -tr B (Halaman 71-74)

Dokumen terkait