BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2019: 91) dalam teknik analisis data terdapat tiga tahapan yang perlu dilalui, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Ketiga tahapan itu akan dijelaskan sebagai berikut.
1. Reduksi data
Pada tahap ini dilakukan kegiatan untuk pengidentifikasian data, penyeleksian data, dan pengklasifikasian data sesuai dengan fokus penelitian untuk menentukan data sesuai dengan fokus penelitian, untuk menentukan data yang dibutuhkan, dan data yang tidak dibutuhkan yang terdiri dari perangkuman data, pengodean data, pengelompokan data.
Data pada penelitian ini berupa komentar netizen dalam jejaring sosial facebook.
2. Penyajian data
Penyajian data dilakukan dengan cara mengorganisasikan semua data yang telah direduksi melalui kegiatan pendeskripsian (penginterpretasian) data sesuai fokus penelitian penggunaan bahasa sarkasme dalam jejaring sosial facebook. Penyajian dilakukan dengan penataan data, pengodean data dengan baik agar mudah untuk dilakukan penarikan kesimpulan. Pada tahap ini semua data yang telah dianalisis dibahas.
3. Penarikan Kesimpulan
Tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi data mencakup kegiatan perumusan generalisasi awal dari data-data yang memiliki
keteraturan dan mencari data-data tambahan untuk menguji generalisasi tersebut. Penyimpulan dilakukan berdasarkan hasil interpretasi dan analisis data terhadap tiga fokus penelitian kemudian diverifikasi ulang untuk divalidasi.
E. Pengecekan Keabsahan Temuan
Pengujian keabsahan data perlu dilakukan untuk membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan bersifat ilmiah. Uji keabsahan data dapat dilakukan dengan beberapa cara. Bentuk pengujian keabsahan data dilakukan berdasarkan penelitian yang dilakukan. Menurut Sugiyono (2019: 375), uji keabsahan data pada penelitian kualitatif meliputi, kriteria keabsahan data yang digunakan berupa uji kredibilitas, dan reliabilitas.
Uji kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, dan triangulasi. Perpanjangan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti akan memberikan hasil yang baik karena proses uji kreadibilitasnya dilakukan dengan teliti dan konsentrasi. Meningkatkan ketekunan juga diperlukan dalam uji kredibilitas (Sugiyono, 2019: 370). Kredibilitas data dapat diperoleh dengan meningkatkan ketekunan. Peningkatan ketekunan dilakukan dengan cara mengamati secara mendalam objek dan subjek pada penelitian. Dengan ini maka ketentuan data dan urutan peristiwa dapat diperoleh dengan pasti dan sistematis. Meningkatkan ketekunan dapat meningkatkan kredibilitas karena peneliti dapat mengecek atau meneliti
kembali objek dan subjek penelitian yang telah dianalisis agar data yang diperoleh lebih akurat.
48 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, tinjauan pustaka, dan metode penelitian yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya maka, pada bab ini dipaparkan hasil dan pembahasan penelitian yaitu; 1) penggunaan bahasa sarkasme dalam jejaring sosial facebook; 2) pelanggaran prinsip kesantunan yang terjadi di jejaring sosial facebook.
A. Hasil Penelitian
Bab ini berisi tentang pemaparan penggunaan bahasa sarkasme dalam jejaring sosial facebook dan pelanggaran prinsip kesantunan yang terjadi di jejaring sosial facebook. Penelitian ini adalah penelitan kualitatif.
Fokus penelitian ini adalah menemukan bahasa sarkasme dan pelanggaran kesantunan dalam berbahasa pada komentar netizen di jejaring sosial facebook. Komentar netizen yang mengandung bahasa sarkasme pada jejaring facebook menjadi data pada penelitian ini. Untuk menganalisis pelanggaran penggunaan bahasa yang terjadi dalam jejaring sosial facebook peneliti menggunakan pendekatan menurut teori leech dengan berpedoman pada (1) Maksim kebijaksanaan, (2) Maksim kedermawanan, (3) Maksim penghargaan, (4) Maksim kesederhanaan, (5) Maksim pemufakatan dan (6) Maksim kesimpatian. Pada maksim kebijaksanaan adanya pengurangan kerugian kepada orang lain dan penambahan keuntungan untuk orang lain. Ujaran diungkapkan dengan
tuturan imposif (perintah) dan komisif (janji atau penawaran). Maksim kedermawanan adalah memberikan sekecil mungkin keuntungan pada diri sendiri dan menambah pengorbanan pada diri sendiri. Ujaran diungkapkan dengan tuturan ekspresi (perasaan) dan asersi (ketegasan).
Maksim penghargaan adalah mengurangi cacian dan kritikan pada orang lain dan menambah pujian kepada orang lain. Ujaran diungkapkan dengan tuturan ekspresi (perasaan) dan asersi (ketegasan). Maksim kesederhanaan adalah memuji sedikit mungkin pada diri sendiri, kemudian mengecam sebanyak mungkin pada diri sendiri atau menambah cacian pada diri sendiri. Ujaran diungkapkan dengan tuturan ekspresi (perasaan) dan asersi (ketegasan). Maksim Pemufakatan adalah mengurangi ketidaksepakatan antara diri sendiri dan orang lain, serta meningkatkan kesesuaian antara diri sendiri dan orang lain. Dan maksim kesimpatian adalah mengurangi antipati antara diri sendiri pada orang lain dan memperbesar simpati kepada orang lain.
1. Penggunaan Bahasa Sarkasme dalam Jejaring Sosial Facebook Kehadiran jejaring sosial dalam kehidupan saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Penggunaannya pun membawa dampak tersendiri. Misalnya memudahkan manusia untuk saling berkomunikasi dalam jarak jauh secara cepat, sebagai wadah bersosialisasi dan interaksi. Dengan menyebarluasnya suatu jaringan, maka manusia pun lebih mudah untuk berkomunikasi.
Namun tidak dapat dipungkiri adanya dampak yang ditimbulkan oleh internet atau media massa. Satu diantara dampak yang muncul yaitu
biasanya ditemukan ujaran kebencian atau bullying serta penggunaan bahasa kasar atau bahasa sarkasme. Beberapa perilaku yang sering dilakukan oleh netizen yaitu mulai dari memaki, dan mengucapkan kata kotor hingga merendahkan si korban atau lawan tuturnya. Hal ini dikarenakan netizen atau pengguna jejaring sosial kurang bijak menggunakan internet yang biasanya berujung dengan sikap merendahkan diri si korban. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa para pengguna jejaring sosial kurang bijak menggunakan jejaring sosial khususnya Facebook.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil peneltian, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar bentuk tindak tutur yang dituliskan oleh pengguna jejaring sosial Facebook dapat dikategorikan kasar, tidak enak didengar, serta melanggar prinsip kesantunan. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal tersebut dapat terjadi. Oleh sebab itu, pada bagian ini akan dijelaskan hasil dari analisis yang dilakukan oleh peneliti terhadap penggunaan bahasa sarkasme oleh pengguna jejaring sosial Facebook dengan mengacu pada wujud jenis gaya bahasa sarkasme.
Berikut ini analisis yang dilakukan oleh peneliti berdasarkan tuturan yang dituliskan oleh pengguna Facebook dalam kolom komentar. Tuturan yang dianalisis adalah semua bentuk tuturan dari data yang diperoleh peneliti, yang termasuk penggunaan gaya bahasa sarkasme. Komentar yang dianalisis merupakan komentar yang diperoleh dari hasil teknik dokumentasi dan teknik catat.
a. Sarkasme Sifat
Sarkasme sifat merupakan jenis kata kasar yang dituturkan dalam wujud sifat seseorang. Sifat yang dituturkan biasanya mengandung makna negatif dan tergolong kurang pantas apabila dituturkan, apalagi digunakan kepada orang yang lebih tua. Dalam sarkasme sifat, fungsi penegasan lebih banyak muncul dibandingkan dengan fungsi yang lain, karena penutur biasa menggunakan kata kasar dengan penggambaran nada yang tinggi atau tegas.
Data 1
DA : Hotman Paris kali yang jelek, menang banyak uang aja Abang ini.
Sumber: Facebook/iNews.com
Pada data 1, pengguna jejaring sosial Facebook menggunakan sarkasme sifat ditandai dengan kata “jelek”. Kata tersebut memiliki makna leksikal buruk atau tidak enak dipandang mata. Penutur atau pengguna Facebook memberikan umpatan tersebut kepada mitra tutur karena perilaku Hotman Paris yang dianggap kurang sopan dan banyak terjadi pelanggaran yaitu memberikan sindiran terhadap Young Lex dalam acara @iNews.com. sehingga mengundang komentar dari netizen yang tidak menerima perlakuan Hotman Paris dalam acara tersebut.
Data 2
NF : blm kodong lancar otaknya skolah, tambah begoi selama corona, cantik-cantik tapi tolol.
Sumber: Facebook/iinfotaDaeng.
Pada data tersebut, terdapat kata sarkasme sifat yang digunakan oleh pengguna Facebook yakni ditandai dengan kata “tolol” yang
memiliki makna leksikal sangat bodoh. Penutur memberikan komentar tersebut kepada lawan tuturnya untuk menghujat SF atas postingan yang telah diunggahnya. SF mengunggah sebuah status sindiran yang sifatnya kasar kepada penjual cendol, padahal yang melakukan kesalahan adalah dirinya sendiri. Sehingga netizen merasa emosi terhadap tindakan yang dilakukan oleh SF dengan memberikan umpatan kasar seperti yang dituliskan oleh pemilik akun Facebook NF yang menyebutnya “tolol”.
Data 3
CAF : Coba ka kalo tidak cantik ki... setidaknyapintar dan sopanlah, ini udah tidak cantik, goblok dan kasa rlagi. Dia yang salah, dia pula yang katain orang “pabalu asu”. Dasar pembeli goblok.
Sumber: Facebook/FitriCs
Pada data (3), sarkasme yang muncul sebanyak dua kali dengan penyebutan yang sama yakni sifat seseorang “goblok” yang memiliki makna leksikal bodoh sekali. Penutur atau pengguna Facebook lainnya memberikan sindiran kepada lawan tutur dengan bentuk penegasan bahwa hal yang dilakukan oleh pemilik akun Facebook SF sudah salah sejak awal namun lawan tutur justru membuat kesalahan dengan menuliskan status sindiran kepada penjual cendol, sehingga membuat para netizen merasa kesal terhadap sikap yang diambil oleh SF.
Menurutnya SF bodoh sekali ketika melakukan tindakan yang jelas sudah memiliki dampak negatif, sehingga netizen mengumpat dengan kata
“goblok”.
Data 4
AM : itu denis gk cantik. hati yah dn mulutnya kotor kaya got yg baunyah hitam kelam
Sumber: Facebook/TransTV.com
Pada data tersebut netizen menggunakan kata sarkasme sifat yakni “gk cantik” yang memiliki makna jelek dan tidak enak dipandang mata. Hal tersebut merupakan kata yang kurang pantas ketika bertutur kata di dunia internet. Netizen mengumpat kepada Denis karena kelakuannya yang selalu mencari masalah dan melakukan pertengkaran dengan beberapa rekan artisnya. Netizen juga merasa marah karena seringkali pertengkaran yang dilakukan oleh Denis hanya sebuah settingan belaka untuk melambungkan namanya.
b. Sarkasme Tindakan
Tindakan merupakan sesuatu hal yang dikerjakan atau perbuatan yang sedang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan sarkasme, tindakan seringkali digunakan ketika orang tersebut melakukan hal yang tidak perlu dilakukan dan biasanya menimbulkan rasa tidak nyaman apabila berada didekatnya. Tindakan merupakan langkah atau tata cara yang seharusnya dilakukan oleh seseorang untuk melakukan sesuatu. Sarkasme tindakan memiliki fungsi penyampaian informasi, karena dalam tuturannya penutur kerap kali menyinggung apa yang dilakukan oleh mitra tutur. Berikut data yang peneliti temukan.
Data 5
FA : Sakit jiwa itu ustadz mau terkenal dengan cara menipu orang.
Sumber: Facebook/TransTV.com
Data tersebut menunjukkan bahwa netizen merasa kesal terhadap Ustadz tersebut karena perilakunya yang sengaja memfitnah tetangganya dengan menyebar berita hoax bahwa tetangganya memelihara babi ngepet. Sehingga netizen memberikan umpatan dengan kata “menipu”
dalam KBBI kata tersebut memiliki makna mengakali, memperdayakan, dan mengenakan tipu muslihat. Dalam masyarakat Indonesia, kata menipu dianggap kasar, karena perilaku tersebut tidak baik sehingga umpatan kata tersebut termasuk golongan kasar atau sarkasme. Kata kasar tersebut bukanlah hal yang baik apabila dituturkan dalam kondisi apapun, karena sedikit saja kata kasar akan mengakibatkan lawan tutur sakit hati.
Data 6
ZA : Kebiri aja pak itu sudah kelewat batas kemanusiaan masjid tempat suci bukan untuk berbuat gak senonoh itulah yg patas hukuman buat dia
Sumber: Facebook/TribunNews.com
Pada data tersebut, netizen menyarankan kepada pihak kepolisian untuk menghukum pelaku pelecehan yang terjadi di masjid tersebut dengan hukuman “kebiri” dalam KBBI memiliki makna menghilangkan, meniadakan dan memotong alat kemaluannya. Komentar yang dituliskan netizen tersebut jelas bermakna kasar dan tidak pantas dituliskan dalam
kolom komentar jejaring sosial Facebook karena memiliki arti yang tidak semua pengguna bisa melihatnya seperti anak-anak di bawah umur.
c. Sarkasme Sebutan
Sebutan adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan pemberian simbol tertentu kepada suatu benda. Kaitannya dengan sarkasme, penyebutan dilakukan dengan cara memberikan label kepada seseorang dengan nama binatang atau hal-hal yang kurang pantas jika dibandingkan dengan benda tersebut. Pada tuturan atau komentar sarkasme penyebutan, penutur lebih menitikberatkan kepada fungsi pendapat, yakni memberikan komentar terhadap apa yang dilakukan oleh mitra tutur.
Berikut data yang peneliti temukan dalam jejaring sosial Facebook.
Data 7
BT : si babikkini nanyaa nya kok kasar kali,,, untung bukan sy si yongleks.
Sumber: Facebook/iNews.com
Pada data tersebut penutur atau netizen menggunakan kata sarkasme berbentuk penyebutan yakni “babikkk”yang merupakan plesetan dari kata binatang babi dan dalam KBBI kata tersebut memiliki makna leksikal binatang yang bermoncong panjang, berkulit tebal dan berbulu kasar. Masyarakat Indonesia menganggap kata babi sebagai kata kasar karena babi dianggap binatang yang menjijikkan dan kotor sehingga sering digunakan sebagai umpatan. Penyebutan binatang kerapkali digunakan para penutur dengan tujuan agar penutur lain tahu bahwa ia sedang marah atau sering disebut dengan “ngegas”.
Data 8
FE : Mau hamil atau tidak gak masalah,,, pemukulannya yg bermasalah Anyyiing.
Sumber: Facebook/Merdeka.com.
Pada data tersebut, terdapat bentuk sarkasme penyebutan yakni
“Anyyiing” yang merupakan pelesetan dari kata binatang “anjing”yang memiliki makna leksikal binatang menyusui yang bertugas untuk menjaga rumah, berburu, dan lainnya. Dalam masyarakat Indonesia, kata anjing dianggap kasar, karena perilakunya yang buas dan sering mengganggu kehidupan warga, sehingga umpatan kata tersebut tergolong kasar.
Penutur seringkali menyingkat atau memberi pelesetan pada beberapa kata dengan tujuan memberikan nuansa yang berbeda namun memiliki makna yang sama.
Data 9
IN : satopl pp anak sundalaaa inne
Sumber: Facebook/Merdeka.com
Pada data tersebut terdapat bentuk sarkasme penyebutan yakni
“sundalaaa” yang berarti anak haram. Netizen memberikan umpatan tersebut ketika akun Facebook @Media.com mengunggah berita mengenai kasus Pasutri dihajar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Gowa. Berita tersebut memancing amarah pengguna jejaring sosial Facebook sehingga mengumpat dengan panggilan kasar yaitu
“sundalaaa”.
Data 10
AM : Sappol setang
Sumber: Facebook/Merdeka.com
Pada data tersebut penutur menggunakan kata sarkasme sebutan yakni “setang” yang merupakan pelesetan dari kata “setan” dan memiliki makna leksikal roh jahat atau orang yang sangat buruk. Umpatan tersebut tergolong sebagai kata kasar karena dapat membuat lawan tuturnya sakit hati. Dalam jejaring sosial Facebook ataupun media pertemanan lainnya penyebutan kata tersebut seringkali digunakan ketika seseorang sedang marah dan ingin mengumpat maupun menyindir kepada seseorang. Hal tersebut mereka anggap wajar dan tidak akan berdampak apapun.
Padahal apabila ditelusuri lebih dalam lagi, kata sarkasme apabila ditujukan kepada seseorang yang mempunyai karakter tertutup, akan berdampak sangat besar baik secara mental maupun psikologis. Penutur mengumpat kepada lawan tutur dengan menyebutnya anjing karena terbawa suasana unggahan dari pengguna lain.
2. Pelanggaran Prinsip Kesantunan yang Terjadi di Jejaring Sosial Facebook
a. Pelanggaran Maksim Kebijaksanaan
Kebijaksanaan mengacu terhadap sifat atau sikap yang dimiliki oleh manusia. Bentuk kebijaksanaan dapat dilihat dari tuturan yang diujarkan oleh seseorang kepada lawan tuturnya. Tuntunan bertutur bijaksana telah dijelaskan dalam bahasa pragmatik agar tercipta hubungan yang baik antara penutur dan lawan tutur dalam peristiwa tutur. Gagasan bertutur
dengan santun dikemukakan oleh Leech dalam maksim kebijaksanaan, yang mengharuskan peserta tutur senantiasa berpegang teguh untuk membuat kerugian orang lain sekecil mungkin tetapi buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Data 1
Dalam postingan acara me Tube.id yang diposting oleh iNews yang menayangkan siaran dengan bintang tamunya Hotman Paris dan Young Lex, video diunggah pada tanggal 23 Desember 2020. Video ini berdurasi 5 menit 39 detik, terdapat 21.971 pengguna Facebook yang menyukai postingan tersebut, dibagikan 189 kali, dan ada 70 komentar dalam postingan tersebut. Dari 70 komentar dalam postingan tersebut, terdapat beberapa komentar yang melanggar prinsip kesantunan dalam berbahasa yaitu maksim kebijaksanaan. Beberapa contoh pelanggaran gaya berbahasa dalam jejaring sosial Facebook tersebut dapat dilihat pada data di bawah ini.
MB: Hotman Paris memang ga punya etika.
Analisis:
Komentar yang dituliskan oleh pemilik akun Facebook MB, ditujukan kepada Hotman Paris karena perilaku dan gaya bicara kepada lawan tuturnya dalam video yang diunggah oleh INews
kurang sopan, menyindir, dan tidak beretika sehingga netizen memberikan komentar berupa sindiran untuk mengungkapkan rasa tidak setuju terhadap perilaku Hotman Paris, dengan komentar “Ga punya etika” yang berarti “Tidak beretika”. Hotman Paris dirugikan karena dikatakan bahwa Ia tidak punya etika dan komentar tersebut tidak sopan karena dapat menyakiti perasaan Hotman Paris, sehingga komentar ini dapat dikategorikanke dalam pelanggaran prinsip kesopanan dengan Maksim Kebijaksanaan.
Data 2
DA : Muka hotman paris kayak pantat babi hhh.
Analisis:
Komentar yang dituliskan oleh pengguna jejaring sosial Facebook ini terlihat tidak sopan karena mengarah pada ejekan fisik seseorang sehingga komentar ini dapat dikategorikan ke dalam pelanggaran prinsip kesopanan dengan Maksim Kebijaksanaan Komentar tersebut merupakan komentar yang melanggar maksim kebijaksanaan. Perumpamaan wajah manusia dengan binatang babi sangat kasar karena kata babi memiliki makna leksikal binatang yang bermoncong panjang, berkulit tebal dan berbulu kasar. Dalam masyarakat Indonesia, babi dianggap kata kasar karena dianggap binatang yang menjijikkan dan kotor sehingga sering digunakan sebagai umpatan pada saat seseorang sedang marah. Hal ini sudah selayaknya tidak digunakan
dalam peristiwa tutur karena akan menimbulkan kesalahpahaman, dan ketersinggungan antara penutur dan lawan tutur.
Data 3, 4, 5
LA : orgnya sombong. Muda2han pengisi neraka nanti lo.
Terlalu sok kau dan sombong.
Analisis:
Komentar yang dituliskan oleh netizen tersebut dinilai tidak sopan.
Karena mengarah pada komentar cacian terhadap lawan tuturnya sehingga tuturan ini dapat dikategorikan ke dalam pelanggaran prinsip kesopanan dengan Maksim Kebijaksanaan.
Pada data 3, 4 dan 5, seorang netizen memberikan komentar
“Muda2han pengisi neraka nanti lo. Terlalu sok kau dan sombong”.
Komentar tersebut jelas mengandung sarkasme dan melanggar Maksim Kebijaksanaan. Hotman Paris jelas dirugikan dalam komentar tersebut karena dikatakan sebagai orang yang sok, sombong dan juga didoakan menjadi penghuni neraka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata
“sok” adalah berlaga suka pamer dan merasa mampu, tetapi sebenarnya tidak. Sedangkan kata “sombong” memiliki makna menghargai diri secara berlebihan, congkak, merasa sangat mulia, kaya dan pongah.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, komentar pada data 3, 4, dan 5 mengandung bahasa sarkasme, hal ini ditandai dengan munculnya kata sok, sombong, dan muda2han pengisi neraka.
Data 6, 7
Sebuah vidio yang diberitakan oleh TRANS7 mengenai “Drama Babi Ngepet dalam Tiga Babak” diunggah pada tanggal 30 April 2021.
Video ini berdurasi 3 menit 34 detik, telah ditonton lebih dari 2 juta pengguna jejaring sosial Facebook, disukai sebanyak 30.058 dan dikomentari sebanyak 5.129 komentar. Setelah dilakukan analisis terhadap komentar pengguna jejaring sosial Facebook dalam unggahan tersebut terdapat beberapa komentar yang melanggar prinsip kesantunan yang dituliskan para netizen sebagai bentuk kekesalan terhadap penyebaran fitnah mengenai babi ngepet. Salah satu contoh pelanggaran tersebut dapat dilihat pada data di bawah ini.
FA: Sakit jiwa itu ustadz mau terkenal dengan cara menipu orang.
Analisis:
Komentar yang dituliskan oleh pemilik akun jejaring sosial Facebook FA terhadap Ustaz tersebut dapat dikatakan melanggar prinsip kebijaksanaan. Penggunaan kata-kata kasar yang menyebut bahwa ustaz sudah mengalami gangguan jiwa, Ia ingin terkenal dengan cara menipu orang lain, itu sangat tidak sopan, kasar dan tidak pantas untuk disampaikan. Apalagi ditulis dalam jejaring sosial yang sifatnya terbuka dan dapat dibaca oleh semua pengguna jejaring sosial. meskipun kalimat itu disampaikan kepada orang yang dibenci, tetapi tetap saja tidak pantas karena sudah mengarah pada ungkapan yang menyindir dan mengolok-olok ustaz tersebut sehingga komentar ini dapat dikategorikan ke dalam pelanggaran prinsip kesopanan dengan Maksim Kebijaksanaan.
Komentar di atas merupakan komentar yang melanggar maksim kebijaksanaan, karena terdapat kata yang sifatnya sarkasme, umpatan dan menyindir seseorang yang tidak disenangi yaitu, mengatakan bahwa Ustaz tersebut sudah sakit jiwa, Ia ingin terkenal dengan cara menipu orang. Pemilik akun tersebut memberikan umpatan kepada Ustaz tersebut karena perilakunya yang sengaja memfitnah tetangganya dengan menyebar berita hoax bahwa tetangganya tersebut memelihara babi ngepet sehingga membuat para pengguna jejaring sosial facebook atau dikenal dengan sebutan netizen merasa kesal dan geram terhadap perbuatan Ustaz tersebut. Menurutnya perbuatan yang dilakukan oleh Ustaz tersebut sudah tidak wajar lagi dan tentunya memiliki dampak negatif bagi yang difitnah dan terkhusus bagi dirinya karena akan diusir dari kampung tempat Ia bermukim.
Data 8, 9, 10
Dalam postingan akun Facebook @CumiCumi.com, mengunggah berita dengan judul “Farhat Abbas Kritik Kehadiran Presiden Jokowi di pernikahan Atta dan Aurel” postingan ini diunggah pada tanggal 7 April 2021 dan telah disukai sebanyak 7.872, dibagikan 170 kali, dan terdapat 1.432 komentar.
SA : Lah ini orang ya mulutnya melebihi perempuan, emberrr comberan, dari dulu sukanya cari mslh, yg namanya presiden hadir yaa pastilah sdh semuanya terencana dgn baik, mulai dari protokol kesehatan dll, iri yaaa bos ga diundang.
Analisis :
Komentar yang dituliskan netizen tersebut tidak sopan. Karena mengandung cibiran dan cacian terhadap lawan tuturnya. Sehingga komentar tersebut dapat dikategorikan ke dalam pelanggaran prinsip kesopanan dengan Maksim Kebijaksanaan.
Konteks tuturan tersebut terjadi ketika akun Facebook
@CumiCumi.com mengunggah berita tentang kritikan yang disampaikan oleh Farhat Abbas terhadap Jokowi dan Prabowo setelah menghadiri pernikahan Atta dan Aurel. Melalui pemberitaan tersebut netizen pun numpang eksis untuk memberikan komentarnya kepada pengacara kontroversi ini. Beberapa komentar yang dilontarkan oleh para netizen justru merugikan bagi Farhat Abbas. Misalnya pada komentar yang ditulis oleh SA, Farhat dirugikan karena Ia dikatakan “mulutnya melebihi perempuan” yang artinya Farhat Abbas bermulut perempuan yang hanya suka mengomentari urusan orang lain.
Farhat Abbas juga dikatakan sebagai “Ember comberan” komentar ini jelas merugikan Farhat Abbas karena ia di pandang sebagai ember comberan, padahal Farhat Abbas adalah pengacara kondang yang sudah terkenal di Indonesia. Farhat Abbas juga dikatakan bahwa Ia iri karena tidak mendapat undangan untuk menghadiri pernikahan Atta dan Aurel.
Kata “iri” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti kurang