BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Kerangka Pikir
adalah Retribusi Izin Mendirikan Bangunan, Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol.
Menurut Andi Devita, dkk (2014) dalam jurnal Pengaruh pendapatan asli daerah, dana alokasi umum dan jumlah penduduk terhadap belanja daerah kabupaten/kota jambi mengemukakan bahwa pendapatan asli daerah atau PAD menunjukaan pengaruh signifikan positif dalam mempengaruhi belanja langsung.
Sedangkan koeisien jumlah penduduk memiliki hubungan yang negatif terhadap belanja langsung pada pemerintah kabupaten/kota jambi. Hal ini dapat menimbulkan dampak untuk peningkatan upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi di kabupaten/kota jambi (Devita et al., 2014).
Menurut Masayu Rahma Wati dan Catur Martian Fajar (2019) dalam penelitian Pengaruh Pendaptan Asli Daerah Dan Dana Perimbangan Terhadap Belanja Daerah mengemukakan bahwa pendapatan asli daerah adalah representasi dari pendapatan yang dihasilkan oleh daerah. Pemerintah daerah harus lebih mengoptimalkan pendapatan asli daerahnya agar dapat membiayai pengeluaran daerah dan tidak menghambat kegiatan ekonomi di daerah yang bersangkutan (Rahma & Martin, 2019).
Kerangka pikir memiliki peranan sangat penting karena kerangka pikir merupakan kerangka berpikir mengenai hubungan antara indikator/ variabel yang terlibat dalam penelitian atau hubungan antara kosep dengan kopsep lainnya dari masalah yang di teliti sesuai dengan apa yang telah di uraikan pada tinjauan pustaka. Sehubung dengan itu maka kerangka pikir pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah bagaimana Perencanaan, Pengorganisasian, Penggerakan, dan Pengawasan Pengelolaan Retribusi Pasar Soreang dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Takalar.
Pengelolaan Retribusi Pasar Soreang dalam Peningkatan Pendapatan Asli
Daerah KabupatenTakalar George R. Terry
Pengorganisasian (Organizing)
Peningkatan pendapatan asli daerah Kabupaten Takalar
Perencanaan (Planning)
Penggerakan (Actuating)
Pengawasan (Controlling)
E. Deskripsi Fokus
Berdasarkan dari kerangka pikir diatas, adapun deskripsi fokus penelitian adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning) merupakan landasan pokok dan menjadi salah satu fungsi manajemen yang memegang peranan penting dalam menjamin tercapainya tujuan diinginkan di Pasar Soreang Desa Tamalate Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
a. Target penerimaan retribusi
b. Tindakan yang di ambil pemerintah
2. Pengorganisasian (Organizing) merupakan suatu proses untuk merancang struktrul formal mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas- tugas atau pekerjaan diantara para anggota organisasi dapat di capai dengan efisien di Pasar Soreang Desa Tamalate Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
a. Pembagian tugas b. Metode pelaksanaan c. Standar kerja d. Sarana prasarana
3. Penggerakan (Actuating) merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya secara efektif dan efesien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi di Pasar Soreang Desa Tamalate Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
a. Hubungan manusia dalam kepemimpinan
b. Mengikat para bawahan agar bersedia menyumbangkan tenaganya secara efektif dan efesien
4. Pengawasan (Controlling) merupakan fungsi manajemen yang dimaksudkan untuk mengetahui pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah di susun sebelumnya sesuai yang telah di tetapkan di Pasar Soreang Desa Tamalate Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
a. Pengawasan langsung b. Pengawasan tidak langsung.
24 A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlangsung selama 2 (dua) bulan mulai 29 Mei sampai 29 Juli tahun 2021. Adapun lokasi penelitian ini berlokasi di Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan dan Pasar Soreang Desa Tamalate Kecamatan Gaelesong Utara Kabupaten Takalar. Karena dalam penelitian Pengelolaan retribusi Pasar cara meningkatkan pendapatan asli daerah di Kabupaten Takalar.
B. Jenis dan Tipe Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang disajikan secara deskriptif kualitatif. Menganalisi dokumen-dokumen/artikel yang berhubungan dengan yang akan diteliti. Dalam kaitannya dengan diatas maka analisis deskriprif ini akan menjelaskan bagaimana persebaran sarana dan prasarana Pasar Soreang.
C. Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah dari mana di peroleh, diambil dan dikumpulkannya data. Sehubungan dengan permasalahan penelitian maka data diperlukan dalam penelitian ini adalah:
1). Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung pada sumber data yaitu dari informan yang bersangkutan dengan cara wawancara dan observasi pada informan tentang upaya peningkatan pendapatan asli daerah melalui pengelolaan retribusi pasar.
2). Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang di peroleh secara tidak langsung kepada objek peneliti yang dapat berupa dokumen-dokumen, buku-buku, catatan- catatan, makalah laporan , arsip, dan lain-lain, terutama yang berkenan dengan upaya peningkatan pendapatan asli daerah melalui penerimaan retribusi pasar.
D. Informan
Informan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang yang dapat dimintai keterangan ataupun informasi yang terkait dengan pengelolaan retribusi pasar Soreang di Kabupaten Takalar yang dilakukan penelitian.
Adapun informan tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No Nama Inisial Jabatan/Status Keterangan
1 Supriadi,S.I.P.,M.Si. SP Kepala seksi pengembangan
perdagangan luar Negeri/dalam Negeri
1
2 Makmur, A.md MM Kepala Pasar Soreang 1 3 DG. Lili DL Penagih retribusi Pasar
Soreang
1
4 Hj. Tino HT Pedagang pakaian 1
5 Herni HR Pedagang pakaian 1
6 DG. Siama DS Pedagang sandal/sepatu 1
7 DG. Tika DT Pedagang sayur mayor 1
8 Musdalifah MD Pengunjung pasar 1
9 Nur Ikni NI Pengunjung pasar 1
Jumlah 9
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang di kumpulkan secara langsung dengan menitik beratkan pada pengamatan langsung ke lokasi penelitian untuk melihat dan mengetahui secara pasti mengenai pengelolaan retribusi Pasar Soreang
2. Wawancara
Wawancara yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, dalam percakapan di lakukan dua orang atau lebih.
Dalam penelitian ini wawancara dilakukan secara bebas terpimpin yaitu dengan menyiapkan beberapa pertanyaan-pertanyaan sebagai
pedoman, tetapi dimungkinkan adanya variasi pertanyaan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi diluar pedoman-pedoman yanh telah dibuat dengan tidak menyimpang dari tujuan semula.
Tujuan penulis menggunakan metode ini, untuk memperoleh data secara jelas dan konkrit tentang peningkatan pendapatan asli daerah dalam pengelolaan retribusi Pasar Kabupaten Takalar.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah cara pengumpulan data dimana dokumen- dokumen yang dianggap menunjang dan releven dengan permasalahan yang akan diteliti.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan setelah berbagai data terkumpul berdasarkan teknik pengumpulan data sebelumnya. Menurut (Huberman &
Saldana, 2014) komponen-komponen analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yaitu:
1. Kondensasi Data
Kondensasi data yang mengacu pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstrakan, dan atau transformasi data yang muncul dari catatan yang ditulis dilapangan, transkip wawancara, dokumen, dan bahan-bahan empiris lainnya. Data kualitatif tersebut dapat diubah dengan cara seleksi, ringkasan, atau uraian menggunakan kata-kata sendiri dan lain-lain. Berdasarkan data yang dimiliki, peneliti akan
mencari data, tema dan pola mana yang penting, sedangkan data yang dianggap tidak penting akan dibuang.
2. Penyajian Data
Data yang disajikan adalah data yang telah melewati tahap reduksi.
Penyajian data dilakukan dengan tujuan agar penulis lebih mudah untuk memahami permasalahan yang terkait dalam penelitian dan dapat melanjutkan langkah berikutnya. Pada umumnya penyajian merupakan suatu pengaturan, kumpulan informasi yang telah dikerucutkan sehingga dapat sebuah kesimpulan. Penyajian data dapat dilakukan dengan bagan, uraian singkat, skema dan lain-lain.
3. Pengambilan Kesimpulan
Apabila tahap kondensasi dan penyajian data telah dilakukan, maka langkah terakhir yang dilakukan adalah mengambil kesimpulan.
Pengambilan kesimpulan merupakan suatu proses dimana peneliti menginterpretasikan data dari awal pengumpulan disertai pembuatan pola pada uraian atau penjelasan. Pengambilan kesimpulan merupakan bukti terhadap penelitian yang dilakukan.
G. Teknik Pengabsahan Data
Triangulasi adalah salah satu cara yang digunakan dalam uji keabsahan hasil penelitian. Teknik pengumpulan data triangulasi diartikan sebagai pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Menurut (Sugiyono, 2006) dalam buku berjudul Metode penelitian ada tiga macam triangulasi diantaranya:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber berarti membadingkan dengan cara mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik adalah untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
3. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu adalah untuk menguji kreabilitas data dilakukan dengan pengecekan data melalaui wawancara, observasi, dan teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Keadaan Pasar Soreang
Pasar Soreang terletak diporos jalan utama Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar, tepatnya di Desa Tamalate. Pasar Soreang ini didirikan pada tahun 1980-an yang memiliki luas area pasar efektif yaitu sebesar 1.359 m2 dan luas bangunan eksisting yaitu sebesar 950 m2. Pada akhir tahun 2019-2020, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar melakukan perenovasian di Pasar Soreang dan dengan adanya covid-19 sehingga membuat perenovasian pada Pasar Soreang tersebut ditunda untuk sementara waktu, pada tahun 2021 Pasar Soreang kembali dibuka oleh Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan.
Pasar Soreang merupakan salah satu wadah yang didalamnya terdapat nilai-nilai kekeluargaan dari hasil interaksi dan komunikasi antar masyarakat. Di Pasar Soreang ini pula, interaksi antar penjual dan pembeli menemukan eksistensinya dalam proses tawar-menawar antara pedagang dan pembeli. Tawar-menawar tersebut menghilangkan monopoli harga penjual yang menjadi ciri system ekonomi kapitalis. Selain itu, pola bangunan Pasar Soreang sangatlah khas dimana Pasar Soreang memiliki los-los yang memungkinkan interaksi antara pedagang dan pembeli berlangsung dan terbuka.
Mayoritas penduduk Galesong Utara Kabupaten Takalar hidup di sektor pertanian dan perikanan, karena itu diperlukan berbagai pemikiran dan aktivitas untuk mendukung usahanya sehingga dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Agar ada kelangsungan usaha dan kehidupannya, masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan sangat mengharapkan agar dapat dengan mudah menjual produksinya dengan harga yang wajar guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keberadaan Pasar Soreang tersebut sangat memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat pedagang dan berbagai kalangan terkait didalamnya. Jalur menuju Pesar Soreang sangatlah mudah dijangkau oleh setiap masyarakat yang ingin berkunjung kesana. Karena tempatnya tidak jauh dari jalan raya dan juga pasar tersebut terletak ditengah pemukiman masyarakat serta sangat mudah dilalui oleh kendaraan apapun baik beroda dua maupun beroda empat serta pejalan kaki. Akses jalan menuju Pasar Soreang sangatlah baik dan dekat dari pemukiman padat penduduk.
Pasar Soreang merupakan salah satu aset daerah yang dikuasai oleh Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar. Pasar Soreang diharapkan mampu memberikan Pendapatan Asli Daerah dari sektor Retribusi Daerah. Dalam melakukan penarikan retribusi tersebut, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan mengajak masyarakat sekitar untuk terlibat dalam pengelolaan Pasar Soreang.
Adapun jadwal hari Pasar Soreang pada bulan juni tahun 2021 dalam wilayah Kabupaten Takalar.
Gambar 4.1 Jadwal Pasar Soreang bulan Juni
Sumber: kantor Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar tahun 2021
2. Keadaan Fasilitas Pasar
Tabel 4.1 Jenis dan Jumlah Fasilitas yang dimiliki oleh Pasar Soreang di Kabupaten Takalar
No Jenis Fasilitas Jumlah Fasilitas
1 Kios 9
2 Los 40
3 Lapak 60
Sumber: kantor Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar tahun 2021
Dengan melihat tabel di atas, dapat disimpulkan jumlah keseluruhan fasilitas yang terdaftar di Pasar Soreang sebanyak 109 baik yang menyewa kios, los maupun lapak, sehingga jumlah pedagaang juga di Pasar Soreang sebanyak 109 yang terdaftar di Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan.
B. Pengelolaan Retribusi Pasar Soreang Dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Takalar
Pengelolaan atau yang sering disebut manajemen merupakan suatu proses yang diartikan sebagai usaha yang sistematis untuk menjalankan suatu pekerjaan, proses ini merupakan serangkaian tindakan yang berjenjang, berlanjut dan berkaitan dengan pencapaian tujuan yang ditetapkan. Proses tersebut merupakan kaitan antara fungsi dari manajemen itu sendiri yang terdiri atas perenanaan, pengorganisasaian, penggerakan dan pengawasan.
Demikian pula pada pengelolaan penerimaan retribusi Pasar Soreang di Kabupaten Takalar yang dalam hal ini dikelola oleh Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan yang senantiasa menerapkan fungsi- fungsi manajemen dalam pengelolaannya agar dalam pelaksaaannya senantiasa merujuk pada upaya pencapaian tujuannya.
1. Perencanaan ( Planning)
Perencanaan adalah landasan pokok menjadi salah satu fungsi manajemen yang memegang peranan penting dalam menjamin tercapainya tujuan yang diinginkan. Perencanaan ini memiliki variable:
a. Target Penerimaan Retribusi
Proses penerimaan retribusi pasar dilakukan oleh pihak penagih retribusi yang langsung melakukan penagihan ke pedagang- pedagang di Pasar Soreang dimana hasil tagihan perpedagang sebesar Rp.3.000 dihitung satu kali pasar yang kemudian disetor ke pemerintah rata-rata Rp. 300.000 per pasar. Adapun hasil tagihan tersebut selanjutnya akan diberikan ke kepala pasar yang kemudian disalurkan ke Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan, hasil dari retribusi ini yang kemudian menjadi penghasilan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar.
Tabel 4.2 Jenis Fasilitas dan Tarif Retribusi Pasar Soreang di Kabupaten Takalar
NO. Jenis Fasilitas
Tarif Retribusi Pasar
Perhari Pasar Perbulan
1. Kios 3000 62.500
2. Los 3000 10. 000
3. Lapak 3000 10. 000
Sumber: kantor Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar Tahun 2021
Dengan melihat tabel jenis fasilitas dan tarif retribusi Pasar Soreang di Kabupaten Takalar, tarif paling tinggi dan penggunaan fasilitas tersebut diperuntukkan ke pedagang–pedagang yang mempunyai omsek atau penghasilan besar yang menyewa kios contohnya penjual emas, penjual pakaian, penjual elektronik, penjual barang campuran dan lainnya. Sedangkan tarif paling kecil di peruntukkan ke pedagang-pedagang yang mempunyai omsek atau penghasilan yang lebih kecil, sepeti lapak pedagang yang menjual dipinggir jalan contohnya pedagang sayur-sayuran dan pedagang kaki lima lainnya.
Tabel 4.3 Target Penerimaan Retribusi dan Relealisasinya di Pasar Soreang.
No. Tahun Target Realisasi Persentase Capaian 1. 2018 Rp. 28.980.000 Rp. 11.266.000 37%
2. 2019 Rp. 28.980.000 Rp. 11.883.000 40%
3 2020 Rp. 28.980.000 0 0%
Sumber: kantor Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar Tahun 2021
Adapun kriteria penelitian target di Pasar Soreang dalam meningkatkan pendapatan asli daerah Kabupaten Takalar, seperti melihat data pedagang termasuk jumlah dan motivasi pedagang dalam hal pembayaran retribusi setiap kali pasar.
Berdasarkan data hasil observasi rata-rata penerimaan retribusi dan realisasi di pasar Soreang bahwa pada tahun 2018 dengan target sebesar Rp. 28.980.000, kemudian yang terealisasi hanya sebesar Rp.
11.266.000 persentase pencapaian 37%. Kemudian pada tahun 2019 target pasar sebesar Rp. 28.980.000 dan yang terealisasi hanya sebesar Rp. 11.883.000 persentase pencapaian 40%. Sedangkan pada tahun 2020 target pasar yang sama pada tahun sebelumnya yaitu Rp.
28.980.000, akan tetapi tidak terealisasi atau tidak ada pemasukan ke Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan, dikarenakan pada tahun 2020 terjadi renovasi besar besaran Pasar Soreang dan adanya covid-19 sehingga para pedagang tidak melakukan proses penjualan di pasar tersebut melainkan mereka harus berpindah ke halaman rumah warga sekitar dan pencapaian targetnya 0%.
Jumlah pemungutan retribusi perpedagang di lahan yang di tempati berjualan selama pasar dalam tahap perenovasian yaitu Rp 3000 perpedagang. Hal ini mengakibatkan para pedagang tidak melakukan setoran atau pembayaran ke pihak pemerintah setempat atau ke Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan tetapi para pedagang melakukan pembayaran lahan ke masyarakat pemilik lahan yang pedagang sewa.
Oleh karena itu target retribusi dapat dikatakan tidak terealisasi pada tahun 2020.
Peneliti mewawancarai salah satu staf kantor Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar mengenai target
penerimaan retribusi pada tahun 2020 yang mengatakan bahwa
“ Target retribusi pada tahun 2020 di pasar Soreang di kosongkan karena pasar dalam tahap perenovasian sehingga hasil retribusinya masuk di masyarakat yang lahannya di sewa”(Wawancara SP, tanggal 07 juni 2021)
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan SP dapat disimpulkan bahwa pemungutan retribusi pada tahun 2020 tata kelola dikosongkan, dalam hal ini menurut SP karena adanya perenovasian pasar dan hasil pemungutan retribusi tersebut disetor ke masyarakat yang lahannya di tempati berjualan.
Adapun hasil wawancara target penerimaan retribusi dengan penagih retribusi yang mengatakan bahwa
“Dalam pencapaian target retribusi ini, biasanya diakibatkan oleh para wajib retribusi yang semaunya saja membayar tidak sesuai dengan ketetapan yang di karcis.” ( Wawancara DL, tanggal 21 juni 2021)
Dalam hal ini, DL sebagai penagih retribusi Pasar Soreang memberikan informasi bahwa setiap pedagang pasar atau target penerimaan retribusi tidak mentaati ketentuan yang telah berlaku dan tertuliskan di dalam karcis. Terkadang ada pedagang yang memberikan bayaran atau retribusi dibawah dari ketentuan yang telah disepakati.
Dari hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa target penerimaan retribusi tidak tercapai karena adanya wajib retribusi yang masih acuh tak acuh dalam persoalan membayar retribusi pasar yang ia tempati.
Selanjutnya hasil wawancara penulis dengan staf kantor Dinas
Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar mengatawakan bahwa:
“Kami di Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar khususnya di Bidang Perdagangan, senantiasa mengatur perencanaan dengan sebaik mungkin agar bisa mencapai tujuan yang di inginkan seperti meningkatkan pendapatan retribusi pasar .( Wawancara SP, tanggal 07 juni 2021).
Dalam hal ini, Pihak Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan, senantiasa melakukan perencanaan sebaik mungkin. Perencenaan ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan daerah dari sektor retribusi pasar.
Dari hasil wawancara di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa Dinas Perdagangan Kabupaten Takalar sangat bekerja keras dalam pencapaianya dengan segala rencana yang dibuat agar pencapaian target retribusi pasar bisa dicapai setinggi mungkin sehingga pendapatan daerah dalam hal retribusi bisa mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Menurut keterangan staf Kantor Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar mengatakan bahwa:
“ Penentuan target pertahun di dasarkan pada potensi yang dimiliki setiap pasar dengan melihat realisasi yang dapat dicapai setiap tahunnya dan menambah persentase jenis penerimaan yang memungkinkan untuk dicapai, disitu menjadi acuan kami untuk menetapkan target. Persoalan mendasar yang kami lakukan dalam penentuan target pertahunnya yaitu tidak adanya data yang akurat tentang potensi yang sebenarnya dan pembangunan pasar yang membutuhkan waktu yang lama dikerja sehingga terjadi perbedaan target antara yangditetapkan dengan realisasinya”(Wawancara SP, tanggal 07 juni 2021)
Dalam hal ini, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan selalu melihat realisasi yang dicapai setiap tahunnya dalam menentukan target penerimaan pendapatan daerah dari sektor retribusi daerah.
Selain itu, tidak adanya data yang akurat menjadi salah satu kendala dalam membuat perencanaan.
Sedangkan menurut Kepala Pasar Soreang mengatakan bahwa:
“Tidak tercapainya target juga biasa disebabkan oleh wajib retribusi yang tidak memiliki tempat khusus didalam pasar.
Jumlah mereka juga yang tidak menentu karena kadang penjual pasar lain berjualan juga di pasar Soreang itu yang membuatki kesulitan untuk mendata pedagang. (Wawancara MM, tanggal 07 juni 2021).
Dalam hal ini, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan kesulitan melakukan pendataan dikeranakan tidak adanya kepastian tempat di dalam Pasar Soreang. Kepastian tempat yang dimaksud yaitu lokasi berdagang seorang pedagang selalu berubah-ubah dan adanya pedagang yang sudah berdagang di pasar lain yang ikut berdagang di Pasar Soreang sehingga ketika dimintai retribusi pasar selalu mengelak bahwa dia sudah membayar uang di pasar sebelah yang jarak waktunya cuman dua hari.
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa perencanaan dalam hal penentuan target penerimaan retribusi pasar Soreang pertahunnya senantiasa dilakukan berdasarkan potensi yang ada dan sangat tergantung pada realisasi pertahun yang dapat tercapai. Namun, karena tidak adanya data yang akurat tentang potensi yang dimiliki oleh pasar serta pembangunan pasar membuat
realisasi penerimaan retribusi tidak sesuai yang direncanakan.
b. Tindakan yang Diambil Pemerintah
Setelah penulis mewawancarai kepala Pasar Soreang mengenai tindakan yang di ambil pemerintah mengenai pemungutan retribusi Pasar Soreang Desa Tamalate Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar dia mengatakan bahwa,
“ Ya tindakan yang kami ambil yaitu dengan melakukan koordinasi dengan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar. Supaya dengan adanya penambahan modal dagang bagi para pengusaha yang berjualan di pasar”(
Wawancara MM, tanggal 07 juni 2021)
Dalam hal ini, kepala Pasar Soreang telah melakukan koordinasi dengan Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar dalam hal penambahan modal. Guna meningkatkan pendapatan asli daerah.
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa peran dari Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Takalar cukup baik karena adanya kepedulian yang mereka lakukan walaupun bukan mereka yang langsung turun tangan memberi bantuan dalam hal ini pinjaman bagi para pelaku pedagang melainkan adanya koordinasi oleh Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan.
Kemudian Kepala Pasar Soreang menambahkan bahwa:
“Kami lumayan tegas dalam memerintah bawahan agar dalam melakukan penagihan retribusi ke pedagang itu tidak main- main dilapangan” (Wawancara MM,tanggal 07 juni 2021)
Ketegasan kepala Pasar Soreang sangatlah diperlukan dalam memerintah bawahannya melakukan penarikan retribusi. Sehingga pedagang pasar tidak main-main lagi di lapangan.
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa kepala pasar dalam memerintah bawahannya sangatlah tegas guna memberi motivasi kepada bawahan supaya tidak semaunya saja dalam melaksanakan tugas.
“ Kami juga melakukan tinjauan langsung dilapangan untuk melihat keadaan pasar serta aktivitas-aktivitas yang dilakukan para pedagang dalam waktu pasar”( Wawancara SP, tanggal, 07 juni 2021)
Staf Kantor Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan senantiasa turun kelapangan guna meninjau langsung aktivitas-aktivitas yang ada di Pasar Soreang, sehingga dapat meminimalisir penyimpangan- penyimpangan yang ada di Pasar Soreang.
Dari hasil wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa kegiatan tinjauan langsung yang seperti itu sepatutnya harus dilakukan setiap pasar karena untuk melihat keluhan-keluhan dan yang dibutuhkan para pedagang yang ada dipasar sehingga dinas perdagangan melihat secara langsung keadaan dilapangan.
“ Yaa memberi peringatan kepada pedagang-pedagang yang malas-malasan membayar retribusi pasar sehingga tidak mengulangi hal-hal seperti itu” (Wawancara DL, tanggal 21 juni 2021)
Salah satu metode yang dilakukan oleh DL dalam menindak pedagang- pedagang pasar yang malas membayar retribusi dengan