• Tidak ada hasil yang ditemukan

Infiltrasi dan kontaminasi dalam penafsiran Al-Qur’an (ad-dakhîl fî tafsîr Al-Qur’ân) menjadi salah salah satu permasalahan. Hal ini yang mendorong para ulama untuk membuat metodologi penafsiran secara ketat. Begitu juga dimaksudkan agar seorang mufasir tidak terjebak pada penafsiran bertele-tele yang jauh dari makna Al-Qur’an.

Diantara metodologi penafsiran Al-Qur’an yang disepakati oleh mufasir yaitu dengan Al-Qur’an, hadis, perkataan sahabat dan tabi’in serta ijtihad. Selain metodologi, kritik tafsir juga bisa menjadi salah satu media untuk meminimalisir adanya ad-dakhîl. Ini telah beredar pada kitab-kitab tafsir yang tengah dipelajari oleh kalangan umat Islam.26

25 Muhammad Solihin, “Penciptaan Adam dalam Al-Qur’an (Kajian Kritis atas Penafsiran Tabataba’i),” Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020, h. ii. Tidak diterbitkan (t.d)

26 Wahdah Farhati, “Infiltrasi dalam Penafsiran Al-Qur’an (Studi atas Penafsiran Asy-Syaukani pada Surat Yusuf)”, dalam Jurnal Permata Pendidikan Agama Islam, Vol. 1 No. 1 2020, h. 132

17

Munculnya ad-dakhîl sudah ada sejak diturunkannya Al-Qur’an.

Akan tetapi seiringnya waktu, perkembangan ad-dakhîl semakin kompleks. Terdapat dua sumber ad-dakhîl pada masa turunnya Al- Qur’an. Pertama, munculnya ad-dakhîl karena keraguan orang kafir yang ingin mengesankan pertentangan dalam Al-Qur’an. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an hanya buatan dari Nabi Muhammad. Kedua, terjadinya ad-dakhîl karena kesalahpahaman sebagian sahabat dalam memahami Al-Qur’an. Hal tersebut bukan terjadi disebabkan faktor kesengajaan. Melainkan berawal dari ketergesaan mereka dalam memahami ayat. Ini yang menimbulkan kerancuan mereka dalam memahami ayat Al-Qur’an karena tidak memperhatikan ayat-ayat lain.27

Berbicara mengenai ad-dakhîl, ‘Abd al-Wahhâb Fâyed (w. 1420 H) mengatakan, ad-dakhîl dapat diklasifikasi menjadi tiga jalur yaitu jalur al-ma’tsûr (riwayat), jalur ar-ra’y (rasio) dan jalur al-isyârah (intuisi). Masing-masing jalur kemudian dibagi dalam beberapa bagian. Pertama, ad-dakhîl dari jalur al-ma’tsûr (riwayat) meliputi:

hadis maudhû‘ (palsu), hadis dha‘îf (lemah), riwayat isrâ’iliyyât, pendapat sahabat dan tabi’in yang tidak valid, pendapat sahabat dan tabi’in yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Kedua, ad-dakhîl dari jalur ar-ra’y (rasio) meliputi: tafsir dengan niat buruk dan skeptisme, tafsir eksoteris, penafsiran distorsif, penafsiran yang tidak berbasis pada kaidah tafsir, penafsiran saintifik. Ketiga, ad-dakhîl dari jalur al- isyârah (intuisi) meliputi: tafsir esoterik yang dilakukan oleh sekte

27 Muhammad Misbah, “Dakhîl Ayat Kisah dalam Al-Qur’an: Studi Analisis Kisah Harut dan Marut dalam Tafsir ad-Durr al-Mantsûr Karya Jalâluddîn as-Suyûthî”, dalam Jurnal Hermeneutik Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol. 11 No. 2 2017, h. 228

18

Bâthiniyyah, dan tafsir sebagian kaum sufi yang menafikan makna eksoteris. 28

Sementara menurut Jamâl Mushthofâ an-Najjâr sebagaimana yang dikutip oleh Anisatul Malihah mengatakan, bahwa ada dua jalur klasifikasi ad-dakhîl yaitu jalur al-ma’tsûr (riwayat) dan jalur ar-ra’y (rasio). Pertama, ad-dakhîl dari jalur al-ma’tsûr (riwayat) meliputi:

hadis maudhû‘ (palsu), hadis dha‘îf (lemah), riwayat isrâ’iliyyât yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kedua, ad-dakhîl dari jalur ar-ra’y (rasio) meliputi: tafsir yang didasari dengan niat buruk, penafsiran yang mengutamakan dimensi literal, tafsir yang menyimpang dari dalil-dalil syari’at, menafsirkan tanpa adanya kemampuan dalam kaidah nahwu dan bahasa, menafsirkan Al-Qur’an tanpa memenuhi syarat sebagai seorang mufasir, memaksakan Al- Qur’an agar sesuai dengan pendapat yang diyakininya.29

Sedangkan menurut Ibrâhîm Khalîfah (w. 1434 H) sebagaimana yang dikutip oleh Moh. Alwy Amru Ghozali mengatakan, bahwa klasifikasi ad-dakhîl terbagi menjadi dua yaitu ad-dakhîl an-naqli dan ad-dakhîl ar-ra’y. Pertama, ad-dakhîl an- naqli meliputi: hadis maudhû‘ (palsu), hadis dha‘îf (lemah), riwayat isrâ’iliyyât, hadis mauqûf (hadis yang disandarkan kepada sahabat) yang tidak bisa dipercaya. Hadis maqthû’ (hadis yang disandarkan kepada tabi’in) yang tidak bisa dipercaya. Kedua, ad-dakhîl ar-ra’y meliputi: pengingkaran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan merusak

28 Muhammad Ulinnuha, “Konsep al-Ashîl dan al-Dakhîl dalam Tafsir Al-

Qur’an”, dalam Jurnal Madania, Vol. 21 No 2 Desember 2017, h. 134-135

29 Anisatul Malihah, “Ad-Dakhîl dalam Tafsir Al-Wa’ie Karya Rokhmat S.

Labib (Kritik Terhadap Penafsiran Ayat-ayat Demokrasi),” Skripsi, Institut Ilmu Al- Qur’an Jakarta, 2019, h. 27-28. Tidak diterbitkan (t.d)

19

Islam, pemaksaan dalam menonjolkan kemampuan bahasa dan deklinasi, pemaksaan dalam pengungkapan makna-makna filosofis yang mendalam, pemutarbalikkan logika dan pengabaian makna literal, kesalahpahaman akibat kurang terpenuhinya syarat ijtihad, pengungkapan paksa aspek-aspek mukjizat Al-Qur’an.30

Dari beberapa pendapat tokoh mengenai ad-dakhîl, pada dasarnya hanya satu yang dibahas, yaitu mengenai metode kritik ad- dakhîl fî at-tafsîr. Sementara dalam kritik ad-dakhîl ini, penulis menggunakan teori ‘Abd al-Wahhâb Fâyed.

Lalu bagaimana menganalisa ad-dakhîl pada penafsiran Agus Mustofa terhadap ayat-ayat kisah Adam? ‘Abd al-Wahhâb Fâyed (w.

1420 H) mengatakan, sebelum melakukan kritik terhadap ad-dakhîl harus memberikan penafsiran autentik sebagai basis kerja kritisnya.

Hal pertama yang dilakukan adalah mengkategorikan sumber-sumber autentik. Kemudian setelah itu, melakukan studi kritis terhadap penafsiran yang tidak berbasis pada sumber-sumber autentik tersebut.

‘Abd al-Wahhâb Fâyed menetapkan lima sumber autentik penafsiran Al-Qur’an.31

1. Al-Quran

Al-Qur’an merupakan sumber utama hukum Islam, sekaligus sebagai dalil utama hukum Islam. Begitu juga Al-Qur’an memberikan petunjuk dengan memberikan hukum-hukum yang terkandung dalam sebagian ayat-ayatnya. Kekuatan hujjah Al-Qur’an dapat dilihat dari 30 kali perintah dalam Al-Qur’an untuk mematuhi Allah. Perintah

30 Moh. Alwy Amru Ghozali, “Menyoal Legalitas Tafsir (Telaah Kritis Konsep Al-Ashîl Wa Ad-Dakhîl)”, dalam Jurnal Tafsere, Vol. 6 No. 2 2018, h. 77- 80

31 Muhammad Ulinnuha, Metode Kritik Ad-Dakhil fit-Tafsir, h. 79

20

mematuhi Allah berarti mengikuti apapun yang diucapkan-Nya dalam Al-Qur’an.32

Adapun cara yang dilakukan Al-Qur’an untuk menjelaskan dirinya sendiri, yaitu: (1) tafshîl al-mûjaz (merinci yang global), (2) bayân al-mujmal (menjelaskan yang mujmal), (3) takhshîsh al-‘âm (mengkhususkan yang umum), (4) taqyîd al-muthlaq (membatasi yang mutlak), (5) penjelasan dengan cara naskh (penghapusan), (6) at- taufîq baina mâ yûhim at-ta‘ârudh (mengkompromikan ayat-ayat yang berlawanan), (7) melalui qirâ’ât (bacaan) Al-Qur’an. Seorang mufasir dapat menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan tujuh model rumusan ini.33

2. Sunnah Nabi saw.

Dalam hal ini, sunnah Nabi saw. berperan untuk memberikan penjelasan yang lebih bersifat praktis dan mendetail. Peran sunnah ini secara epistemologis menempatkannya sebagai sumber otoritas kedua setelah Al-Qur’an. Penetapan sunnah ini lebih mudah dipahami karena langsung merujuk pada pemecahan masalah yang dihadapi manusia.34 Dengan demikian, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.

menjadi satu kesatuan pedoman bagi umat Islam. Ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Barangsiapa menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah,” (QS. An-Nisâ’ [4]: 80.35

32 Farid dan Mustofa Anshori L, “Otoritas Wahyu dan Kreativitas Akal dalam Penetapan Hukum Islam (Tinjauan Epistemologis terhadap Hukum Islam), dalam Jurnal Filsafat, Vol. 1 No. 1 Juni 1997, h. 67

33 Muhammad Ulinnuha, Metode Kritik Ad-Dakhil fit-Tafsir, h. 81-86

34 Farid dan Mustofa Anshori L, “Otoritas Wahyu dan Kreativitas Akal dalam Penetapan Hukum Islam (Tinjauan Epistemologis terhadap Hukum Islam), dalam Jurnal Filsafat, Vol. 1 No. 1 Juni 1997, h. 71

35 Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Hadis Revisi, (Jakarta: Penerbit Qibla, 2012), h. 103

21

Adapun metode menafsirkan Al-Qur’an dengan sunnah, antara lain: (1) bayân al-mujmal (menjelaskan ayat yang global), (2) taqyîd al-muthlaq (membatasi yang mutlak), (3) takhshîsh al-‘âm (mengkhususkan yang umum), (4) taudhîkh al-musykil (menjelaskan yang ambigu), (5) bayân an-naskh (penjelasan dengan cara menghapus), (6) bayân at-ta’kîd (penjelasan untuk menegaskan), (7) taqrîr mâ sakata ‘anhu Al-Qur’ân (menetapkan hukum yang belum disebutkan dalam Al-Qur’an).36

3. Pendapat Sahabat dan Tabiin

Pada masa pasca Rasulullah, persoalan-persoalan umat menjadi lebih banyak dan komplek. Sementara, Rasul sendiri sebagai sumber utama hadis telah wafat. Dengan sendirinya para sahabat mencoba untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan baru yang muncul. Mereka berusaha menginventarisasi pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an. Apa yang dilakukan para sahabat tersebut selanjutnya diikuti oleh generasi berikutnya dari kalangan tabiin.

Dalam memahami Al-Qur’an, mereka berupaya menelusuri penafsiran Rasulullah dan para sahabat yang merupakan guru mereka.

Para tabiin terkadang juga dituntut untuk melakukan ijtihad secara terbatas dalam memahami ayat-ayat tertentu. Terutama jika penafsiran sebelumnya tentang hal tersebut tidak ditemukan.37

4. Bahasa Arab

Bahasa Arab menjadi salah satu sumber autentik dalam penafsiran. Dalam ilmu tafsir, bahasa Arab berfungsi untuk mengetahui makna semantik dan maksud yang terkandung dari ayat

36 Muhammad Ulinnuha, Metode Kritik Ad-Dakhil fit-Tafsir, h. 93-95

37 Muhammad Zaini, “Sumber-sumber Penafsiran Al-Qur’an”, dalam Jurnal Substantia, Vol.14 No.1 April 2012, h. 29

22

tersebut. Bahasa Arab juga digunakan sebagai rujukan dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Langkah pertama yang harus dipelajari dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah memahami kosakata dalam Al-Qur’an. Ketidaktahuan kosakata menyebabkan ketidakpahaman terhadap teks secara keseluruhan.

Dalam membedakan makna satu dengan yang lain, seorang mufasir harus melihat pada konteks (siyâq). Adapun konteks-konteks tersebut sebagai berikut. Pertama, konteks yang berhubungan dengan tempat (siyâq al-makân). Kedua, konteks waktu (siyâq az-zamân).

Ketiga, konteks tematik (siyâq al-maudhû‘î). Keempat, konteks tentang maksud dan tujuan ayat-ayat Al-Qur’an (siyâq al-maqâshid).

Kelima, konteks sejarah (siyâq at-târikhî). Dan keenam, konteks kebahasaan (siyâq al-lughawî).38

5. Ijtihad (Ra’y/Rasio/Akal)

Penafsiran bi ar-ra’y muncul sebagai corak penafsiran belakangan, yaitu setelah munculnya tafsir bi al-ma’tsûr. Walaupun sebelumnya, ar-ra’y dalam pengertian akal sudah digunakan sahabat ketika menafsirkan Al-Qur’an. Terutama ketika melihat salah satu sumber penafsiran pada masa sahabat adalah ijtihad. Penyebab munculnya corak tafsir bi ar-ra’y adalah semakin majunya ilmu-ilmu keislaman. Ini dikarenakan banyaknya karya para ulama yang mewarnai disiplin ilmu yang dikuasainya.39

Dalam perkembangannya, pendekatan tafsir bi ar-ra’y sebenarnya terjadi pro dan kontra. Terutama terkait boleh atau tidaknya menafsirkan Al-Qur’an dengan pendekatan nalar. Dari pro

38 Intan Sari Dewi, “Bahasa Arab dan Urgensinya dalam Memahami Al- Qur’an”, dalam Jurnal Kontemplasi, Vol. 4 No. 1 Agustus 2016, h. 43-45

39 Moh. Arsyad Ba’asiyen, “Tafsir bi Ar-Ra’yi sebagai Salah Satu Bentuk Penafsiran Al-Qur’an”, dalam Jurnal Hunafa, Vol. 2 No. 2 Agustus 2005, h. 178

23

dan kontra tersebut bukan berarti tidak mendapat tempat di kalangan ulama. Bahkan sebagian ulama menerima penafsiran dengan pendekatan ar-ra’y ini dengan beberapa syarat. Pertama, menguasai bahasa Arab dan cabang-cabangnya. Kedua, menguasai ‘ulûm Al- Qur’ân. Ketiga, berakidah yang benar. Keempat, menguasai prinsip- prinsip agama Islam. Dan kelima, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bahasan ayat yang akan ditafsirkan.40

F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.41 Sumber data kualitatif yang didapatkan dalam penelitian ini diambil dengan mengumpulkan data pustaka, membaca, mencatat dan mengolah bahan penelitian, yaitu dengan cara mengumpulkan bahan resensi dari berbagai sumber yang berkaitan dengan pembahasan penelitian ini.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai konsep kisah Adam menurut Agus Mustofa. Adapun metodologi penafsiran Agus Mustofa dalam memahami ayat Al- Qur’an melalui riset kepustakaan (Library Research).42 Setelah itu, data yang telah didapat dijadikan pisau analitis untuk mengetahui

40 Junizar Suratman, “Pendekatan Penafsiran Al-Qur’an yang Didasarkan Instrumen Riwayat, Nalar dan Isyarat Batin”, dalam Jurnal Intizar, Vol. 20 No. 1 2014, h. 51

41 Penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Lihat Pupu Saeful Rahmat, “Penelitian Kualitatif”, dalam Jurnal Equilibrium, Vol. 5 No 9 Januari-Juni 2009, h. 2-3

42 Penelitian kepustakaan (Library Research) adalah penelitian yang bersumber pada buku, ensiklopedi, kamus, jurnal, dokumen, majalah dan lain sebagainya. Lihat Nursapia Harahap, “Penelitian Kepustakaan”, dalam Jurnal Iqra’

Vol. 8 No. 1 Mei 2014, h. 68

24

representasi metodologi penafsiran Agus Mustofa dalam karyanya Adam Tak Diusir dari Surga.

2. Sumber Data

Ada dua sumber data dalam penelitian ini, yaitu data primer43 dan data sekunder44. Dalam hal ini data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku Agus Mustofa, yaitu Adam Tak Diusir dari Surga45. Sedangkan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah merujuk pada kitab-kitab tafsir, beberapa buku karya Agus Mustofa lainnya seperti Ternyata Adam Dilahirkan, Memahami Al- Qur’an dengan Metode Puzzle dan beberapa buku kajian ad-dakhîl seperti Ushûl ad-Dakhîl fî Tafsîr Âyi at-Tanzîl, Metode Kritik Ad- Dakhîl fît-Tafsîr, serta beberapa skripsi, tesis, artikel, jurnal atau sumber-sumber lainnya yang mendukung.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentatif. Artinya adalah dengan mencari dan mengumpulkan berbagai data yang berkaitan dengan penelitian ini. Hal yang dilakukan dengan cara penelusuran kepustakaan. Kemudian mengkaji dan menelaah berbagai buku dan

43 Data primer adalah data-data yang merupakan karya sang tokoh yang dikaji, terutama yang terkait dengan teori tokoh itu sendiri. Lihat Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir, (Yogyakarta: Idea Press, 2018), Cet. ke-4, h. 52

44 Data sekunder adalah buku-buku, kitab atau artikel mengenai pemikiran tokoh tersebut yang merupakan hasil interpretasi orang lain, dan buku-buku lain yang terkait dengan objek kajian ini, yang sekiranya dapat digunakan untuk menganalisis mengenai persoalan teori tersebut. Lihat Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al- Qur’an dan Tafsir, h. 52

45 Adam Tak Diusir dari Surga merupakan buku serial ke-15 dari Diskusi Tasawuf Modern yang diterbitkan oleh Padma Press Surabaya tahun 2007.

25

tulisan, baik berupa kitab (tafsir) sebagai referensi utama dan buku- buku lain yang mempunyai kaitan dengan kajian penelitian ini.46

4. Metode Analisis Data

Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analisis. Deskriptif analisis digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis metode yang digunakan Agus Mustofa untuk memahami Al-Qur’an.47 Dalam menganalisa serta mengkritisi pemahaman Agus Mustofa, penulis menggunakan penerapan kritik tafsir ad-dakhîl yang dipakai oleh

‘Abd al-Wahhâb Fâyed dalam ad-Dakhîl fî Tafsîr Al-Qur’an al- Karîm.

Dokumen terkait