BAB I PENDAHULUAN
E. Kerangka Teori
1. Strategi internalisasi a. Pengertian strategi
Istilah strategi (strategy berasal dari kata benda dan kata kerja dalam bahasa yunani. Sebagai kata benda, strategos merupakan kata stratos (militer) dengan ago (memimpin). Sebagai kata kerja, stratego berarti merencanakan (to plan).12 Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.13
Menurut Abdul Majid, strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan.14
Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (david, 1976). Maka strategi dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang didesain
12 Abdul Majid, Strategi Pembelajaran (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 3.
13 Pengertian Strategi, https://id.wikipedia.org/wiki/Strategi, diakses 21 November 2015 jam 09.35
14 Ibid
13
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.15 Oleh karena itu sebelum menentukan strategi harus dirumuskan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai.
Strategi dengan metode sering disamakan, padahal antara keduanya mempunyai perbedaan. Strategi adalah a plan of opertaion achieving some thing. Sedangkan metode adalah a way in achieving some thing, maksudnya adalah strategi menunjukkan pada sebuah perencanaan untuk mencapai tujuan, sedangkan menurut Akhmad Sofa dalam bukunya Pengertian Dan Hakikat Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dikutip Muh Sya’roni mendefinisikan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.16
b. Pengertian internalisasi
Menurut Reber dalam bukunya Dictionary of Psychology yang dikutip Rohmat Mulyana mendefinisikan Internalisasi adalah menyatunya nilai dalam diri seseorang, atau dalam bahasa psikologi merupakan penyesuaian keyakinan, nilai, sikap, praktik, dan aturan baku pada diri seseorang.17
15 Sutarjo Adisusilo, JR, Pembelajaran Nilai-Karakter; Konstruktivisme dan VCT Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 85
16 Muh. Sya’roni (ed) Kapita Selekta Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), (Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta, 2009), hlm. 3.
17 Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeta, 2004), hlm. 21.
14
2. Nilai-nilai karakter islami a. Pengertian nilai
Kata value, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia menjadi nilai, berasal dari bahasa latin valere atau bahasa prancis kuno valoir. Sebatas arti denotatifnya, valere, valoir, value, atau nilai dapat dimaknai sebagai harga. Namun, ketika kata tersebut sudah dihubungkan dengan suatu obyek atau dipersepsi dari suatu sudut pandang tertentu, harga yang terkandung di dalamnya memiliki tafsiran yang bermacam-macam. Ada harga menurut ilmu ekonomi, psikologi, sosiologi, antropologi, politik, maupun agama.18
Dalam bukunya Eka Darmaputera yang berjudul Pancasila:
Identitas dan Modernitas Kepada Anak yang dikutip Sutarjo Adisusilo memaparkan pengertian nilai perspektif para tokoh, Menurut steeman, nilai adalah sesuatu yang memberi makna pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup. Nilai adalah yang dijunjung tinggi, yang dapat mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang. Nilai lebih dari sekedar keyakinan, nilai selalu menyangkut pola pikir dan tindakan, sehingga ada hubungan yang amat erat antara nilai dan etika.19
dalam bukunya Linda dan Richard Eye yang berjudul Mengajarkan Nilai-Nilai Kepada Anak menulis, yang dimaksud dengan nilai adalah standar-standar perbuatan dan sikap yang
18 Ibid., hlm. 7.
19 Sutarjo Adisusilo, J.R, Pembelajaran Nilai-Kreatif ..., hlm. 56.
15
menentukan siapa kita, bagaimana kita hidup, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Tentu saja, nilai-nilai yang baik yang bisa menjadikan orang lebih baik, hidup lebih baik, dan memperlakukan orang lain secara lebih baik.20
Dalam bukunya T brameld yang berjudul Education as Power yang dikutip Rohmat Mulyana mengangkat definisi nilai dari Klukckhohn yaitu sebagai konsepsi (tersirat atau tersurat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan.21
Dalam bukunya Richard N. Eyre yang berjudul Teaching Your Children Values yang dikutp Zaim Mubarok menjelaskan Secara garis besar nilai dibagi dalam dua kelompok yaitu nilai-nilai nurani (values of being) dan nilai-nilai memberi (values of giving).
Nilai-nilai nurani adalah nilai yang ada dalam diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku serta cara kita memperlakukan orang lain. Yang termasuk dalam nilai-nilai nurani adalah kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, disiplin, tahu batas, kemurnian, dan kesesuaian. Nilai-nilai memberi adalah nilai yang perlu dipraktikkan atau diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan. Yang termasuk pada kelompok nilai-nilai
20 Ibid., hlm. 57.
21 Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai ..., hlm. 10.
16
memberi adalah setia, dapat dipercaya, hormat, cinta kasih sayang, peka, tidak egois, baik hati, ramah, adil, dan murah hati22
Pendidikan nilai bertujuan mendampingi dan mengantar peserta didik kepada kemandirian, kedewasaan, kecerdasan, agar menjadi manusia profesional (artinya memiliki keterampilan, komitmen pada nilai-nilai dan semangat dasar pengabdian/pengorbanan) yang beriman dan bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kemakmuran warga masyarakat, nusa dan bangsa indonesia.23
Nilai sebagai sesuatu yang abstrak menurut Raths, et al dalam bukunya yang berjudul Values and Teaching yang dikutip Sutarjo Adisusilo. Mempunyai sejumlah indikator yang dapat kita cermati, yaitu:
1) Nilai memberi tujuan atau arah (goals or purposes) ke mana kehidupan harus menuju, harus dikembangkan atau harus diarahkan.
2) Nilai memberi aspirasi (aspirations) atau inspirasi kepada seseorang untuk hal yang berguna, yang baik, yang positif bagi kehidupan.
3) Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku (attitudes), atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai itu
22 Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai ..., 7.
23 Ibid., hlm. 14.
17
memberi acuan atau pedoman bagaimana seharusnya seseorang harus bertingkah laku.
4) Nilai itu menarik (interests), memikat hati seseorang untuk dipikirkan, untuk direnungkan, untuk dimiliki, untuk diperjuangkan dan untuk dihayati.
5) Nilai mengusik perasaan (feelings), hati nurani seseorang ketika sedang mengalami berbagai perasaan, atau suasana hati, seperti senang, sedih, tertekan, bergembirak, bersemangat, dan lain-lain.
6) Nilai terkait dengan keyakinan atau kepercayaan (beliefs and convictions) seseorang, suatu kepercayaan atau keyakinan terkait dengan nilai-nilai tertentu.
7) Suatu nilai menuntut adanya aktivitas perbuatan atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai tersebut, jadi nilai tidak berhenti pada pemikiran, tetapi mendorong atau menimbulkan niat untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nilai tersebut.
8) Nilai biasanya muncul dalam kesadaran, hati nurani atau pikiran seseorang ketika yang bersangkutan dalam situasi kebingungan, mengalami dilema atau menghadapi berbagai persoalan hidup.24 b. Pengertian Karakter islami
Secara etimologis, kata karakter (inggris: character) berasal dari bahasa yunani, yaitu charassein yang berarti to engrave. Kata to engrave bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau
24 Sutarjo Adisusilo, J.R, Pembelajaran Nilai-Kreatif ..., hlm.
18
menggoreskan. Dalam kamus besar bahasa indonesia kata karakter diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak. Dengan demikian orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak.
Menurut Ibnu Miskawaih, karakter adalah keadaan jiwa.
Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikir atau dipertimbangkan secara mendalam. Karakter dapat tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Pada mulanya keadaan ini terjadi karena pertimbangan dan dipikirkan, namun kemudian melalui praktik terus- menerus, menjadi karakter.25
Sedangkan menurut thomas lickona, karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, meninginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik. 26
Dengan makna seperti diatas, berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas dari seseorang yang bersumber dari bentukan- bentukan yang diterima dari lingkungan, seperti keluarga pada masa kecil dan bawaan sejak lahir. Karakter bisa dibentuk dan diupayakan sehingga pendidikan karakter menjadi bermakna untuk membawa manusia berkarakter baik. 27
25 Ibnu Miskawaih, Tahdzib Al-Akhlaq, terj. Helmi Hidayat, Cet. Ke-iv (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 56
26 Thomas Lickona, Educating for Charakter, Terj, Jum Abdu Wamaungu..., hlm. 82.
27 Marzuki, Pendidikan Karakter Islami (Jakarta: Amzah, Februari 2015), hlm. 19.
19
Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun karakter (character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demkianlah orang-orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya
Proses membangun karakter itu memerlukan disiplin tinggi karena tidak pernah mudah dan seketika atau instant. Diperlukan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral) dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi praksis, refleksi, dan praktik. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang.28
3. Internalisasi nilai
Menurut Drikarya dalam bukunya yang berjudul tentang pendidikan yang dikutip Zaim Elmubarok menjelaskan bahwa mendidik juga berarti memasukkan anak ke dalam alam nilai-nilai, atau memasukkan dunia nilai-nilai ke dalam jiwa anak.29 sementara itu, menurut theodore bramelt, pendidikan harus mampu menjadi agen
28 Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai..., hlm. 103
29 Ibid., hlm. 15.
20
perantara yang menanamkan nilai-nilai yang ada dalam jiwa stake holder.30
F. Metode Penelitian 1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan kualitatif-naturalistik. penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari objek penelitian yang selanjutnya disebut informan atau responden melalui instrumen pengumpulan data.31
2. Subyek dan sumber data
Subyek penelitian adalah orang yang mengetahui, berkaitan, dan menjadi pelaku dari suatu kegiatan yang diharapkan dapat memberikan informasi. Adapun yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah pimpinan pondok pesantren Al-Mumtaz patuk kab Gunung Kidul, para asatidz dan santri.
Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian adalah sebagai berikut:
d. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mumtaz (Kiyai Haji Khoiron Marzuqi) e. Para asatidz wal ustadzah (Ustadz Aji dkk)
f. Santri
30 Ibid.
31 Abudin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 125.
21
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik atau metode pengumpulan data merupakan cara mendapatkan data, dalam penelitian ini akan menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu:
a. Wawancara
Wawancara merupakan cara mengumpulkan data penelitian dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan langsung kepada subyek penelitian atau responden.32 Untuk mendapatkan data-data dari pondok pesantren Al-mumtaz, penulis akan menggunakan wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur (mendalam) adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis- garis permasalahan yang akan ditanyakan.33
Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data dalam rangka mengetahui sejauh mana perkembangan karakter islami pada santri. Wawancara mendalam juga akan peneliti gunakan dalam rangka menggali informasi tentang sistem yang dibangun oleh
32 Umi Zulfa, Metodologi Penelitian Sosial (Yogyakarta: Cahaya Ilmu, 2010), hlm. 125.
33 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 140.
22
pimpinan beserta para staf asatiznya dalam melakukan perbaikan dan pembenahan sistemnya.
Wawancara mendalam akan peneliti lakukan untuk mendapatkan data terkait dengan judul penelitian yang penulis angkat, dalam hal ini penulis mewawancarai pimpinan yayasan pondok pesantren Al-Mumtaz, para asatiz ustazahnya serta beberapa santrinya.
b. Observasi
Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan cara mengamati dan memperhatikan obyek penelitian, baik secara langsung maupun tidak langsung serta mengadakan pencatatan tentang hasil pengamatan tersebut secara sistematis.34
Observasi yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini berupa observasi partisipasi yaitu peneliti turut mengambil bagian yang aktif atau mengikuti kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan observi (yang diamati)35 atau bisa juga dikatakan terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan,
34 Anas Sudijono, Metode Riset dan Bimbingan Skripsi (Yogyakarta: ud. Rama. 1981), hlm. 31.
35 Amin Abdullah, dkk, Metodologi Penelitian Agama; Pendekatan Multidisipliner (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2006), hlm. 205.
23
peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya.36
Dalam bukunya CI. Selltiz et al yang berjudul Research Methods in Social Relations yang dikutip Moh Nazir menjelaskan bahwa Pengamatan yang tergolong sebagai teknik pengumpulan data, jika pengamatan tersebut mempunyai kriteria berikut37:
1) Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik;
2) Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah direncanakan;
3) Pengamatan tersebut dicatat secara sistematis dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik perhatian saja;
4) Pengamatan dapat dicek dan dikontrol atas validitas dan reliabilitasnya.
Dalam observasi ini, penulis akan mengamati karakter serta akhlak para santrinya lebih dalam dengan cara ikut dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan. Bukan hanya itu, penulis juga akan mengamati karakter para asatiz yang ada di lingkungan pondok pesantren tersebut selaku pengembang sistem pondok pesantren dalam upaya penanaman karakter islami dalam diri santri.
36 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D..., hlm. 145.
37 Moh Nazir, Metode Penelitian (Ciawi: Ghalia Indonesia, 2005), hlm. 175.
24
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan mencari data tentang hal-hal atau variabel-variabel yang berupa buku, transkrip, catatan, surat menyurat antar instansi, media cetak dan elektronik yang berhubungan dengan objek penelitian dan lain sebagainya.38
Dalam penelitian ini peneliti akan mengumpulkan dokumen- dokumen yang memiliki keterkaitan dengan tema yang akan diteliti, berupa modul yang dibuat pesantren, maupun madrasah, arsip-arsip yang terkait dengan kurikulum pondok pesantren dan madrasah, majalah dan artikel yang memuat tentang pesantren Al-Mumtaz Patuk serta brosur dan pemberitaan lain yang terkait dengan permasalahan yang menjadi fokus penelitian.
d. Triangulasi data
Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. 39
38 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Bina Aksara, 1980), hlm. 62.
39 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D..., hlm. 241.
25
Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.
4. Teknik analisis data
Menurut S. Nasution (1992) analisis data kualitatif adalah sebagai berikut.
a. Analisis data adalah proses menyusun, mengkategorikan data, mencari pola atau tema, dengan maksud untuk memahami maknanya.
b. Analisis data adalah kegiatan kreatif. Tidak ada langkah-langkah yang terinci, sehingga setiap peneliti harus mencari cara sendiri c. Untuk mendapatkan makna, peneliti harus mengambil jarak,
mempunyai cukup waktu berpikir inovatif, divergen dengan menggunakan analog dan metafor.
d. Analisis data telah dilakukan sejak awal penelitian. Sejak mulanya peneliti telah membentuk hipotesis kerja yang diuji kebenarannya degnan memperoleh data melalui observasi, wawancara dan dokumen.
26
e. Data dalam penelitian naturalistik-kualitatif harus cukup banyak dan merupakan thick description40
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data Miles dan Hubermen atau deskriptif-eksploratif dengan melibatkan tiga komponen analisis. Yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Ketiga komponen analisis ini bersifat interaktif.41
a. Pada tahap reduksi data dilakukan kategorisasi dan pengelompokan data dalam skala prioritas, mana yang lebih penting, bermakna dan yang relevan dengan objek yang diteliti, sehingga kesimpulan- kesimpulan finalnya mampu ditarik dan diverivikasi.
b. Display data adalah langkah mengorgansiasi data dalam suatu tatanan informasi yang padat atau kaya makna sehingga dapat dengan mudah dibuat kesimpulan. Display data biasanya dibuat dalam bentuk cerita atau teks.42
c. Adapun penarikan kesimpulan dilakukan dengan teknik mencari pola, tema, hubungan, persamaan, dan hal-hal yang sering timbul.43
Penulis akan menganalis data menggunakan teknik tersebut di atas karena relevan dengan judul penelitian penulis tentang strategi
40 Amin abdullah, dkk, metodologi penelitian agama..., hlm. 218.
41 Imam Suprayogo dan Tobroni, Metode Penelitian Sosial-Agama (Bandung: Rosda, 2001), hlm. 193-197.
42 Mohammad Ali, Memahami Riset Perilaku dan Sosial, Cet. Ke-1 (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 441
43 Ibid
27
internalisasi nilai-nilai karakter islami di pondok pesantren Al-Mumtaz Patuk Kab Gunung Kidul