BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
Pengelolaan atau sering disebut dengan manajemen yaitu secara umum yaitu segala aktivitas yang ada didalam organisasi yaitu berupa perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,dan juga pengawasan.
Adapun fungsi dari dari pengelolaan itu sendiri yaitu sebagai berikut:
a) Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah pemilih fakta dan juga penghubungan fakta-fakta serta pembuatan dan penggunaan perkiraan-perkiraan atau asumsi- asumsi untuk masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam mencapai hasil yang diinginkan.
b) Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian ialah, penentuan pengelompokkan, dan penyusunan macam- macam kegiatan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan, penempatan orang-orang (pegawai), terhadap berbagai kegiatan dan penyediaan faktor-faktor yang cocok bagi keperluan kerja dan penunjukkan wewenang, yang dilimpahkan terhadap setiap orang dalam hubungannya dengan pelaksaan setiap kegiatan yang diharapkan.
c) Pelaksanaan (Actuating)
Pelaksanaan adalah menggerakkan serta membangkitkan dan mendorong semua anggota kelompok supaya berkehendak dan berusaha dengan keras untuk tujuan dengan ikhlas serta serasi dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian dari pihak pimpinan.
d) Pengawasan (Controlling)
Pengawasan dapat dirimuskan sebagai proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standar, yang sedang dilakukan seperti pelaksaanaan, menilai pelaksanaan, dan melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga sesuai dengan rencana dan selaras dengan standard (ukuran).14
Pengelolaan destinasi wisata yaitu rangkaian atau tindakan dalam upaya untuk meningkatkan kapasitas destinasi melalui perencanaan yang telah disusun secara matang.Implementasi yang dijlankan secara konsisten dan pengendalian yang cermat untuk mengoptimalkan daya tarik, aksebilitas, aksebilitas, dan fasilitas masyrakat dalam rangka memperoleh manfaat yang ekeologis, sosial dan ekonomis.Salah satu model dalam pengelolaan destinasi yaitu lokalitas
14 George R. Terry “Prinsip-Prinsip Manajemen” ( Jakarta: Bumi Aksara 2006), hlm. 10.
dari masyrakat tersebut yang berada didestinasi, ini merupakan salah satu kunci skses untuk meningkatkan dari keberlanjutan kualitas dari sebuah destinasi wisata.15
Pengeloaan objek wisata yaitu mengembangkan berbagai macam potensi yang dimiliki alam yang ada dan mampu bersaing dengan daerah lain. Dengan adanya pengelolaan yang baik, yang disertai dengan sara dan prasana yang baik, maka akan mampu menarik minat wisatawan untuk dapat berkunjung.
Fungsi pengelolaan dapat dikatakan sama seperti dalam fungsi manajemen karena pengelolaan juga termasuk kedalam proses jalannya pengatur sebuah organisasi. Pengelolaan dilakukan untuk meraih tujuan secara efektif dan efisien melalui perencanaan, pengirganisasian, pengarahan dan pengendalian sumberdaya dalam sebuah organisasi.16
Ada tiga faktor penting yang dalam melakukan pengelolaan pariwisata kepariwisataan yaitu, pengembangan, pengaturan dan kelembagaan.
a. Pengembangan
Dalam melakukan pengembangan kepariwisataan, hal yang diperhatikan adalah:
1. Perencanaan pariwisata
Perencanaan pariwisata ini merupakan pengorganisasian secara menyeluruh dalam pengembangan atau dalam proses pembangunan dalam fasilitas-fasilitas pariwisata. Dalam hal ini dilakukan
15 Yohanes Sulistyadi DKK, “Pariwisata Berkelanjutan, Pengelolaan Destinasi Wisata Berbasis Mayarakat”. (CV Anugrah Utama Raharja: Bandar Lampung 2013), hlm 99.
16 Richard, “Management”, ( Jakarta: Salemba Empat 2007), hlm 13.
dengan cara pendekatan pelestarian lingkungan. Dalam hal ini sudah diatur sesuai pasal 67 UU No.32 Tahun 2009 yang menyatakan setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi limgkungan hidup serta mengendalikan pencemaran atau kerusakan hidup.
2. Pelaksanaan
Dalam hal pelaksanaan ini melibatkan semua pihak yang terlibat dalam hal pengelolaan (pemerintah atau swasta).
Unsur-unsur pokok yang teribat dalam pelaksana ini yaitu, pengesahan rencana, yang terdiri dari beberapa sasaran yang diinginkan, tujuanya, kebijakan-kebijakan umum, dan juga pertahapan program dalam pengembangan yang termasuk kedalam fasilitas, sarana dan prasarana, serta koordinasi dan kerjasamanya.
3. Pembiayaan
Dalam hal ini pembiayaan menjadi salah satu faktor utama dalam hal keberhasilan suatu pengelolaan wisata disuatu Negara/daerah. Pembiayaan ini dikelompokkan menjadi empat golongan besar yaitu: biaya persiapan (pemerintah, swasta, dan kerjasama), Pembangunan prasarana (objek wisata, dan daya tarik wisata). Pembangunan sarana/usaha dan terakhir yaitu biaya pajak (biaya pemantauan).
4. Pengendalian
Pengendalian berupa semua pelayanan yang terlibat dalam semua program.Hal ini berupa tanggung jawab tenaga kerja, kegiatan yang ada, dan pelaksanaan pengawasan proyek yang sedang dilaksanakan maupun yang sudah ada. Selain itu juga, pengendalian disini termasuk kedalam bagian pemasaran tentang jumlah wisatawan yang datang berkunjung, tingkat kepuasan masyrakat dan bagaimana sistem promosi yang dijalnkan.
b. Kelembagaan
Didalam aktivitas kelembagaan ini terdapat beberapa hal yang menyangkut dalam sebuah organisasi meliputi; struktur, koordinasi, pelaksanaan setiap program pelatihan yang dilaksanakan yang menyangkut dalam hal memberikan pendidikan dan terakhir peraturan yang beraku.Dalam hal pembangunan pariwisata, menyentuh segala aspek peraturan yang termasuk kedalam kelembagaan yang melibatkan masyrakat.Selain itu juga, dapat mengembangkan kerja-sama dan perhubungan.
c. Pengaturan
Pengelolaan lingkungan hidup dapat dilakukan dengan pendekatan hukum lingkungan administratif.Pendekatan hukum lingkungan administratif terdiri dari dua hal, yaitu instrumen perizinan dan instrumen perekonomian.Instrumen perizinan ini berfungsi utuk mengatur dan melindungi segala
yang terdapat dalam lingkungan objek wisata tersebut.Sedangkan instrumen ekonomi merupakan semua hal yang berkaitan dengan keuangan atau pembayaran, seperti modal, anggaran, dan sanksi.17
2.Kendala- kendala dan hambatan pengelola wisata a. Kendala pengelolaan wisata
Dalam melakukan pengelolaan suatu daya tarik wisata yang ada, tidak akan terlepas dari kondisi maupun pihak yang dapat menghambat dan menjadi kendala dalam mengembangkan pariwisata, baik di suatu daerah maupun negara.18
Banyak Negara berkembang di seluruh dunia yang menaruh harapan dan perhatian besar terhadap pembangunan dan pengembangannya. Berbagai caradilakukan agar bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun lokal.
Namun dalam hal ini, tidak seumudah itu karena masih harus menghadapi berbagai kendala-kendala atau permasalahan yang ada.
Adapun berbagai kendala-kendala atau permasalahan pariwisata yang dihadapi oleh suatu Negara yaitu:
1. Kualitas pelayanan yang kurang baik
Rendahnya kualitas pelayanan yang disebabkan sumber daya manusia yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang
17Andi Mappi Sameng,”Cakrawala Pariwisata”, ( Jakarta : Balai Pustaka 2001), hlm 261.
18 Marlin Rosanti Mellu dan Juita L.D Bessi, “Analisis Faktor Penunjang Dan Penghambat Pengembangan Objek Wisata (Studi Pada Objek Wisata Alam Bola Palelo, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan)”
Jurnal of management (SME’s) Vol.7, No. 2, 2018, hlm.273.
kurang memenuhi standar kompetensi untuk
bagian pekerjaan dibidang
pariwisata.Pelayanan wisata ini meliputi pelayanan akomodasi, restaurant, dan pemandu wisata. Para pekerja layaana wisata kebanyakan dari masyrakat lokal yang mendapat pelatihan paling lama selama 3 bulan, sehingga memberikan pelayanan yang kurang dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan kurangnya pembenahan karakter, sehingga sangat diperlukan tindak lanjut pendidikan dibidang pariwisata dan juga para pemerintah daerah untuk memberikan fasilitas serta pelatihan terhadap setiap pelayanan di daerah tujuan wisata tersebut.
2. Rendahnya nilai investasi
Rendahnya jumlah nilai investai ini disebabkan karena adanya kebijakan yang tumpang tindih atau tidak sngkron dan kurangnya koordinasi diantara pemangku kepentingan yang sepenuhnya belum mendukung kemudahan penanaman modal baik asing maupun luar negri.Selain itu juga anggaran untuk melakukan berbagai kegiatan serta promosi belum memadai.
3. Interprestasi, promosi dan komunikasi yang belum efektif
Permasalahan ini mengacu pada SDM pariwisata yang kurang terampil dalam hal komunkasi dan juga kurangnya keterampilan dalam hal promosi.
4. Disparitas pembangunan kawasan wisata
Disparitas yaitu perbedaan dalam hal pembangunan antar suatu wilayah dengan bebrapa wilayah lainnya baik secara horizontal dan juga vertical yang menyababkan dispartas atau tidak ratanya pembangunan. Ketidakrataan pembangunan tersebut disebabkan oleh beberapa hal yakni, jauh dari ibu kota wilayah, kawasan yang masih terisolir dari infrastruktur jalan dan aksebilitas yang sulit dijangkau.
Pembangunan infrastruktur yang belum merata ini disebabkan oleh terbatasnya anggran masing-masing daerah.Akibat dari hal tersebut akhirnya aksebiltas menuju daerah yang belum baik menjadi sangat terhambat.
5. Peran serta para pelaku usaha wisata masih kurang optimal,
Hal ini bisa berdampak pada wisatawan yang tidak dapat merasakan kenyamanan sesuai dengan apa yang diharapkan. Selain itu juga, peran masyrakat masih kurang dikarenakan sebagain masyrakat ada yang masih menimbulkan pemikiran negatif, contohnya terjadinya pergaulan bebas, pengambilan lahan secara dipaksa, dan lainnya
6. Masih lemahnya pengelolaan kepariwisataan.
Lemahnya suatu pengelolaan wisata ini melibatkan beberapa pihak yaitu masyrakat lokal, pemerintah, dan industri pariwisata.
Banyak masyarakat lokal yang belum sadar terhadap potensi wisata diderahnya, selain itu juga banyak masyrakat yang memiliki tanah di area objek wisata yang memiliki potensi tinggi dan tidak mau memberikan tananhnya untuk
dikelola menjadi objek wisata. Pihak pemerintah daerah provinsi ataupun kabupaten masih belum memprioritaskan pariwisata untuk dijadikan sumber pendapatan daerah, sehingga tidak memprioritaskan pembangunan pariwisata atau infrastruktur pengembangan pariwisata.
Industri pariwisata khusunya di bidang pengelolaan objek wisata dan akomodasi belum memiliki pengelolaan yang baik dikarekan banyak keterbatsan pengetahuan dan juga modal usaha yang kurang untuk mengenbangkannya.19
b. Hambatan pengelolaan wisata
Dalam pengelolaan suatu objek wisata tidak akan bisa lepas dari yang namanya hambatan, ha ini selalu terjadi dan dapat mengakibatkan perkembangan suatu objek wisata tidak berjalan dengan baik dan lancar.
Berikut ini hambatan dan tantangan pengelolaan pariwisata yang diakui oleh kementrian pariwisata:
1. Kurangnya konektivitas, pelayanan dan infrastruktur untuk melayani wisatawan.
2. Kompleksitas dan ketidakpastian investasi dan iklim bisnis.
3. Kebersihan dan kesehatan.
4. Terjadinya bencana alam yang mengakibatkan ditutupnya pintu masuk ke Indonesia.
5. Kurangnya penerbangan langsung dari target pasar ke destinasi wisata.
19A.J Muljadi dan Andri Warman, “Kepariwisataan dan Perjalanan”.
(Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 98.
6. Kurang baiknya amenitas di destinasi wisata misalnya ketiadaan kamar kecil.
7. Jauhnya jarak antar objek wisata.
8. Kurangnya pemandu wisata berbahasa asing, khususnya selain bahasa inggris.
9. Jumlah sertifikat profesi (LSP) pariwisata yang belum merata diseluruh provinsi di Indonesia.
10.Kualitas pendidikan tinggi bidang pariwisata diupayakan setara dengan kualitas internasional.
11.Terbatasnya tenaga kerja terampil dan standar kualitas perusahaan.20