• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Kesulitan Belajar Siswa

70

mengenal angka. Kedua S3, ada beberapa siswa yang belum bisa berhitung karena belum menguasai hitungan dasar, Ketiga S4, ada sebagian siswa yang mengalami kesulitan berhitung, Keempat M1, ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan berhitung karena minat terhadap pelajaran matematika kurang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Sosyawati, 2019, hal. 355), untuk mengatasi kesulitan belajar matematika siswa yang belum mengenal angka yaitu dengan permainan engklek. Permainan engklek tidak dapat lepas dari mengenal bentuk, angka, serta kerjasama dan disiplin dalam bermain. Penerapan permainan engklek dalam pembelajaran mengenal angka dapat memberikan hasil yang positif terhadap proses pembelajaran siswa dan juga dapat meningkatkan pemahaman siswa serta meningkatkan hasil belajar. Menururt penelitian yang dilakukan oleh (Fitriantini et al., 2020, hal. 278), dengan menguasai konsep matematika dasar, siswa akan memahami mengenai tanda dari operasi hitung bahkan siswa akan mampu melakukan operasi perhitungan dasar. Jika siswa sudah menguasai konsep matematika dasar, maka tidak akan timbul masalah-masalah lain yang berhubungan dengan kesulitan belajar matematika. Minat dan motivasi siswa yang mengalami kesulitan berhitung masih rendah karena siswa belum memahami materi yang menyebabkan siswa tersebut kesulitan dalam menyelesaikan operasi hitung seperti perkalian dan pembagian. Upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi kesulitan berhitung siswa yaitu dengan pengajaran perbaikan, memperbanyak latihan soal, mengadakan bimbingan baik individu maupun kelompok serta kerja sama guru dengan orang tua siswa (Anindya et al., 2022, hal.

126).

3) Kesulitan Menulis

Dari hasil penelitian di SD/MI Kelurahan Pengarasan peneliti menemukan satu sekolah yang siswanya mengalami

72

kesulitan dalam menulis. Siswa tersebut sudah disebutkan juga diatas dalam kesulitan membaca, berhitung, dan sekarang menulis.

Hal tersebut disebabkan siswa belum memahami sama sekali tentang huruf, aksara dan angka yang menyebabkan siswa tidak bisa membaca, berhitung dan juga menulis. Menurut Martavia (2016) dalam (Rinawati et al., 2020, hal. 88) ada beberapa permasalahan yang muncul dalam keterampilan menulis siswa yang disebabkan kurangnya keterampilan membaca salah satunya siswa menjadi kesulitan dalam menulis karena kurang memahami dengan baik mengenai tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ketiga kondisi tersebut seperti yang ditemukan dalam penelitian (Susanti, 2018, hal. 153) dan (Chan et al., 2019, hal. 180) yaitu di Sekolah Dasar siswa sering mengalami kesulitan belajar akademik yang meliputi membaca, menulis dan berhitung. Untuk mengantisipasi dan menyelesaikan permasalahan tersebut, guru harus memiliki strategi khusus mengenai penyelesaian masalah kesulitan belajar siswa.

b. Bentuk Kesulitan Belajar 1) Memahami Konsep

Dari empat guru kelas III di SD/MI Kelurahan Pengarasan, mereka sepakat mengatakan bahwa siswa tidak bisa menyelesaikan soal yang diberikan guru karena belum memahami konsep materi yang sedang dipelajari. Jika siswa sudah menguasai dan memahami konsep materi matematika, maka akan mudah dalam mengerjakan soal dan tidak kesulitan ataupun menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit.

2) Berhitung Matematika

Hasil penelitian dari empat SD/MI di Kelurahan Pengarasan menunjukkan bahwa siswa kelas III S3 dan M1 mengalami kesulitan dalam operasi pembagian. Berbeda dengan siswa kelas III

di S1 dan S4 yang mengalami kesulitan dalam operasi perkalian dan juga pembagian.

Dapat disimpulkan bahwa bentuk kesulitan belajar matematika diatas yaitu tidak memahami konsep materi dan juga kesulitan siswa dalam perhitungan, kondisi tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Mukminah et al., 2021, hal. 14) yaitu kesulitan belajar yang dialami siswa pada mata pelajaran Matematika diantaranya siswa yang kesulitan dalam memahami konsep matematika dan kesulitan dalam perhitungan.

c. Faktor Kesulitan Belajar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kesulitan belajar siswa disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang muncul dari dalam diri siswa, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang muncul dari luar diri siswa

1) Faktor Internal

Faktor internal penyebab kesulitan belajar siswa di SD/MI Kelurahan Pengarasan diantaranya intelektual siswa yang berbda- beda, minat belajar yang kurang, karakter siswa ketika proses pembelajaran berlangsung dan juga siswa yang tidak mau bertanya ketika ada materi yang tidak dipahami. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Anggraeni et al., 2020, hal. 29–30), siswa yang memiliki minat untuk belajar maka akan mengikuti pembelajaran dengan baik. Sikap belajar siswa dalam proses pembelajaran juga akan berpengaruh pada hasil belajarnya, jika siswa bersikap positif maka akan membuat hasil belajar yang baik, begitupun sebaliknya.

2) Faktor Eksternal

Faktor eksternal penyebab kesulitan belajar siswa di SD/MI Kelurahan Pengarsan yaitu lingkungan keluarga yang kurang mendukung dan fasilitas sekolah yang terbatas. Bimbingan dan perhatian dari orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam

74

keberhasilan belajar siswa. salah satu contoh kurangnya perhatian orang tua yaitu siswa sering tidak mengerjakan PR dirumah.

Fasilitas sekolah yang terbatas juga bisa menghambat proses pembelajaran siswa. Sekolah perlu mengontrol fasilitas diruang kelas seperti kelengkapan dan kelayakan kelas agar siswa nyaman serta fokus belajar (Andri et al., 2020, hal. 237).

Kedua hal tersebut sejalan dengan penelitian (Toyyibah, 2017, hal. 10–13) dan (Mukminah et al., 2021, hal. 6–9) faktor internal penyebab kesulitan belajar siswa yaitu memiliki kesulitan pada intelektualnya (kognitif), karakter siswa ketika belajar, minat siswa yang kurang dalam pembelajaran matematika dan faktor eksternalnya meliputi terbatasnya perhatian orang tua terhadap urusan belajar siswa.

d. Ciri Kesulitan Belajar

Ciri-ciri siswa yang mengalami kesulitan belajar kelas III di SD/MI Kelurahan Pengarasan berbeda-beda. Ada yang tidak paham huruf, angka, aksara, dan juga siswa yang bermain sendiri serta nilai siswa yang dibawah KKM. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Moh. Surya (Suryawati,2010) dalam (Rubai et al., 2015, hal. 33–34) yaitu hasil belajar siswa kurang, nilai dibawah standar yang diperoleh oleh kelompoknya atau dibawah potensi yang dimilikinya, mengekspresikan gerak-gerik yang tidak biasa, memperlihatkan perbuatan yang berkelainan, mengeluarkan gejala sentimental yang tidak biasa.

Dokumen terkait