BAB V. PEMBAHASAN
5.1 Keterlibatan Keluarga dalam Manajemen Gizi pada Pasien DM
Menurut Friedman, keluarga adalah sebuah dasar pemberian bantuan secara konkrit dan praktis, termasuk kesehatan pasien yang meliputi kebutuhan makan, minum, istirahat, dan menghindari kelelahan pada pasien.
Anggota keluarga yang memiliki masalah kesehatan dapat memengaruhi anggota keluarga yang lain, dan keluarga dipandang sebagai suatu sistem.56,57 Pemecahan masalah merupakan usaha tertentu dengan bertujuan memperbaiki keadaan yang dianggap menekan diikuti dengan cara yang hati-hati, bertahap, dan analitis.
Pemecahan masalah merupakan suatu strategi koping untuk mengatasi masalah yang dihadapi pasien DM dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat memperbaiki kondisi yang diakibatkan oleh DM.58
Berdasarkan model adaptasi Roy, model ini berfokus terkait penyesuaian diri dengan berbagai koping yang akan termodel dalam empat bentuk modus adaptasi yaitu adaptasi fisik, konsep diri, fungsi peran, dan saling ketergantungan yang dilakukan untuk menciptakan suatu perilaku adaptif maupun maladaptif.56,59 Pada tahap ini, pasien akan menghadapi berbagai stimulus yang dapat menghasilkan suatu perilaku sehingga terjadi proses penyesuaian diri dalam
kelangsungan hidup. Mekanisme koping yang dilakukan dapat mengatasi perubahan lingkungan sehingga memengaruhi perkembangan dan perilaku seseorang sebagai sistem adaptasi.59 Respon adaptif atau respon positif adalah respon yang mendukung integritas dan menolong individu dalam mencapai tujuan adaptifnya sendiri, seperti bertahan hidup, dan beradaptasi dengan perubahan gaya hidup yang dialami individu ataupun lingkungan. Sedangkan, respon maladaptif atau respon yang tidak konstruktif dapat mengancam atau menggagalkan tujuan adaptasi tersebut.58,60,61
Perilaku adaptif dapat berupa pasien menerima keadaan dirinya dengan mampu mengikuti perubahan yang terjadi pada dirinya sedangkan perilaku maladaptif ditunjukkan dengan pasien tidak mampu melakukan adaptasi pada dirinya yang mengalami kondisi tersebut.58 Perilaku suportif keluarga diperlukan dalam meningkatkan adaptasi dalam kesehatan keluarga.62 Pasien DM yang memperoleh perilaku suportif dari keluarga baik memiliki koping adaptif yaitu dengan rutin melakukan perawatan dan pengobatan termasuk kontrol gula darah, sedangkan pasien DM yang kurang memperoleh perilaku suportif dari keluarga memiliki koping maladaptif yang dapat berdampak pada kondisi stress yang berkepanjangan, serta kurang adanya kepatuhan dalam menjalankan perawatan dan pengobatan penyakit DM.63
Keterlibatan keluarga yang dapat dilakukan dalam merawat pasien diantaranya mengenal masalah, mengambil keputusan, merawat anggota keluarga, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan lingkungan.13 Keluarga pasien DM di wilayah kerja Puskesmas Periuk Jaya Kota Tangerang pada hasil penelitian ini
menunjukkan lebih banyak pasien memiliki keterlibatan keluarga dengan perilaku non suportif. Penelitian ini sesuai dengan penelitian Waluyo dan Satus pada tahun 2015 bahwa sebanyak 23 orang (51,1%) memiliki dukungan keluarga yang tidak mendukung.64 Keluarga belum mampu mengenal penyakit pasien secara keseluruhan dan belum bisa menetapkan tindakan yang tepat bagi pasien DM.65 Keluarga kurang berminat atau tidak sepenuh hati untuk meningkatkan perilaku sehat, membiarkan pasien berpikir keras atau menghadapi stress.66 Keluarga memberikan social pressure atau tekanan sosial yang dapat memberikan efek pada perubahan pasien dalam melaksanakan perawatan DM.67 Peilaku non suportif yang diberikan akan mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan pasien dan berdampak bagi kesehatan pasien.68 Keluarga tidak sabar dalam membimbing dan tidak mengendalikan makanan atau minuman yang sesuai untuk pasien DM.13 Anggota keluarga tidak menyusun pola makan atau diet pasien, keluarga tidak menyisihkan makanan anggota keluarga lainnya dengan pasien, keluarga tidak mencegah pasien memakan makanan dengan kadar gula tinggi, keluarga tidak melarang pasien memakan makanan siap saji.66 Keluarga menyamakan makanan untuk pasien dengan anggota keluarga lainnya.69 Keluarga menyiapkan makanan untuk pasien namun belum terpenuhinya kebutuhan energi yang diperlukan.20
Perilaku non suportif keterlibatan keluarga dalam manajemen gizi pada pasien DM dalam penelitian ini dapat ditunjukkan dengan perilaku selalu makan makanan yang bukan bagian dalam diet diabetes pasien dan keluarga kadang-kadang memarahi pasien karena tidak mengikuti dietnya. Keluarga mengingatkan makan pasien DM bervariasi semisal dengan memarahi atau
menyindir pasien ketika gula darah darah tinggi dan makan sembarangan.70 Di samping itu penelitian lain menyatakan bahwa perilaku keluarga seperti omelan atau debatan terkait perilaku kurangnya manajemen gizi pasien DM diketahui dapat memperburuk kesulitan dan ketidakpatuhan pasien terhadap anjuran perawatan DM seperti terapi diet dan farmakologis. Kurang perilaku suportif yang diberikan pada pasien berhubungan dengan perasaan kecewa dan sendirian sehingga dapat menambah beban pada penyakitnya.70
Keluarga tidak bisa menegur pasien ketika tidak mematuhi petunjuk diet yang diberikan karena ketidaktahuan keluarga mengenai manajemen gizi yang harus dijalani pasien yang menyebabkan kurang mendukungnya keterlibatan keluarga.71 Pasien dapat menghindari sebagian interaksi dengan keluarga dan teman saat acara makan bersama karena pasien merasa banyak godaan terutama godaan makanan karena makanan yang disajikan di lingkungan sosial tidak sesuai dengan anjuran DM.70 Hal tersebut terjadi bila pasien tidak memberitahu bahwa dirinya memerlukan bantuan dalam manajemen gizi yang dilakukan, terdapat pasien ketika membutuhkan pertolongan tidak cukup asertif, karena perasaan mengharuskan mandiri dan tidak ingin memberatkan orang lain serta perasaan tidak nyaman jika harus berbagi terkait manajemen gizi yang dilakukan.72 Keterlibatan keluarga dapat dipengaruhi oleh faktor internal seperti emosi, tingkat pengetahuan, tahap perkembangan, dan spiritual sedangkan faktor eksternal seperti praktik keluarga, sosial ekonomi, dan latar belakang budaya.73 Dalam penelitian ini, karakteristik anggota keluarga pasien DM dalam berbagai
aspek seperti usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, penghasilan keluarga, dan hubungan anggota keluarga dengan pasien.
Hasil penelitian ini menunjukkan lebih banyak pasien dirawat atau didampingi oleh anggota keluarga dengan jenis kelamin perempuan dan banyak berperan sebagai istri. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan Utami pada tahun 2018 bahwa anggota keluarga yang berperan sebagai caregivers utama adalah berjenis kelamin perempuan (66,7%).74 Perempuan dapat memberikan asuhan primer dalam memainkan peran utama pada anggota keluarga yang masih bergantung karena keterbatasan fisik akibat suatu penyakit.75 Karena perempuan dapat berperan menjadi seorang ibu, sehingga rerata perempuan memiliki ketahanan dan ketekunan dalam menjaga keluarga yang sakit dan pasien paling sering melakukan interaksi dengan pasangan sehingga pasien yang dirawat menjadi lebih patuh dalam manajemen gizi.76,74 Selain itu, karakteristik usia anggota keluarga yang mendampingi rerata usia berada direntang usia dewasa tengah. Usia anggota keluarga di rentang paling muda berada di usia 18 tahun dan usia paling tua berada di usia 66 tahun.
Penelitian lain menyebutkan bahwa faktor penentu tahap perkembangan seseorang berupa usia sehingga pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan dapat berbeda tergantung rentang usia. Kemampuan integratif seseorang dan pemecahan masalah dapat ditingkatkan pada usia dewasa tengah.77 Friedman juga menyebutkan bahwa pemberian asuhan keperawatan keluarga berdasarkan usia yang berupa faktor utama dalam memengaruhi struktur peran, sehingga keterlibatan keluarga yang diberikan sesuai dengan kedewasaan usia akan
semakin baik.75 Bila hubungan anggota keluarga sebagai anak, biasanya anak memiliki kepatuhan seperti rasa hormat terhadap orangtua, kakek/nenek dan orang yang lebih tua. Keluarga Asia tradisional menerapkan sebagai suatu nilai yang dijunjung dengan tinggi. Hal tersebut mengungkapkan bahwa anak harus membayar kembali cinta dan asuhan orangtua dengan merawat keluarga yang sakit selama masa tua.78
Pendidikan terakhir anggota keluarga dalam penelitian ini rata-rata berada di SMA (Sekolah Menengah Atas). Pendidikan keluarga dapat berpengaruh pada pengetahuan terkait penyakit pasien yang dapat memengaruhi kemampuan dalam memilih dan memutuskan perawatan maupun manajemen gizi yang sesuai dengan kondisi pasien.70 Faktor penting dalam memahami penyakit, pengelolaan dan perawatan diri maupun anggota keluarga berupa pendidikan.79 Pendidikan dapat membuat keyakinan seseorang terhadap adanya perubahan kesehatan yang dialami keluarga.77 Pekerjaan anggota keluarga pada penelitian ini lebih banyak bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Pekerjaan yang dilakukan berhubungan dengan perilaku dan beban keluarga sebagai caregivers utama.
Sebagai care giver utama tentunya memerlukan waktu luang yang cukup, sehingga dapat merawat pasien DM.74
Dalam penelitian ini, banyaknya penghasilan yang didapatkan keluarga pasien DM berada dibawah UMR. Keterbatasan finansial yang dialami akan membatasi pasien dan keluarga dalam memperoleh informasi terkait penyakit DM. Dengan adanya penghasilan yang lebih tinggi dapat memberikan kemudahan bagi keluarga dan pasien dalam melakukan perawatan yang lebih
komprehensif.80 Seseorang yang memiliki tingkat ekonomi lebih besar maka biasanya akan lebih responsif dalam menghadapi gejala penyakit yang dialami dan segera mungkin melakukan deteksi pencegahan supaya penyakit dapat diatasi dengan mencari pertolongan pada saat mengalami gangguan pada kesehatannya tanpa bimbang memikirnya.78 Keluarga dapat dipengaruhi oleh penghasilan yang tidak seimbang pada saat menjalani perawatan dan terapi pada anggota keluarga yang menyandang DM. Keuangan merupakan salah satu masalah keluarga yang tidak mampu dalam memenuhi tugas kesehatan dan perawatan yang membuat tidak seimbangnya sumber-sumber yang ada dalam keluarga.81 Adapun yang memengaruhi pasien tersebut menjalankan diet salah satunya adalah karena adanya keterlibatan keluarga secara positif sehingga pasien lebih antusias dalam menjalankan diet, dan juga memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan pengobatan ke tenaga medis.76 Namun, pasien DM meremehkan penyakitnya dan menciptakan penghalang bagi keterlibatan keluarga dalam manajemen DM.
Pasien lebih memilih mengelola sendiri dan mempertahankan fungsi keluarga sehingga menganggap bahwa fungsi keluarga tidak ada kaitannya secara signifikan dalam manajemen penyakitnya.25
Akses terhadap kesehatan dan makanan dapat dilihat dari aspek ekonomi pasien. Beberapa pasien mengalami kesulitan ekonomi ketika ingin mengubah gaya hidup yang sehat seperti harus memikirkan biaya saat akan menyediakan makanan sesuai anjuran diet DM atau saat akan melakukan tes gula darah secara rutin. Aspek ekonomi tersebut dapat berupa hambatan ketika akan membeli obat dan tes laboratorium dikarenakan merasa harganya yang mahal.
Selain itu, pasien juga merasa khawatir bahwa uang yang dimiliki terkadang cukup dan tidak cukup untuk membeli bahan makanan yang dianjurkan. Aspek ekonomi merupakan faktor yang dapat menghambat penerapan anjuran perawatan DM dan pasien yang memiliki peran dalam mengatur keuangan keluarga memiliki tanggung jawab untuk mengolah keuangan keluarga agar cukup dalam membeli bahan makanan dan kebutuhan lainnya dalam keluarganya. Akses terhadap kesehatan dan makanan ini akan memengaruhi penyediaan makanan dalam rumah apakah sesuai atau tidak sesuai dengan anjuran diet/makanan untuk DM sehingga juga akan berdampak pada pengontrolan gula darah pasien.70
Keluarga berperan sebagai partner dalam perubahan perilaku dan ketaatan dalam penerapan anjuran manajemen gizi maupun anjuran DM lainnya.
Pasien yang mendapatkan perilaku suportif akan mendapatkan nasihat atau saran ketika mengalami kesulitan sehingga secara tidak langsung dapat memperbaiki komunikasi yang positif untuk perawatan DM. Hal tersebut akan berdampak positif pada pasien dan anggota keluarga dalam perubahan perilaku manajemen diri DM yang mengarah pada ketaatan manajemen gizi.70 Perilaku suportif yang diberikan oleh keluarga dapat membantu pasien dalam manajemen DM terutama anjuran manajemen gizi dan dikaitkan dengan perasaan kebersamaan.70
Penelitian ini memiliki perbedaan hasil dengan penelitian yang telah dilakukan Bertalina dan Purnama pada tahun 2016 bahwa sebanyak 20 orang (66,7%) mendapat dukungan keluarga yang mendukung dan memiliki hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien DM dengan nilai p = 0,002.71 Dari hasil penelitian tersebut sebagian dari keluarga
memiliki keterlibatan dalam mendukung pasien DM. Keterlibatan keluarga dalam bentuk suportif merupakan hal penting yang dapat diberikan dalam proses perawatan yang akan memberikan efek positif pada kualitas hidup, kesehatan psikologis, dan kesejahteraan fisik.82,83 Perilaku suportif yang diberikan oleh keluarga sangat efektif dalam memperbaiki perilaku manajemen diri DM.70
Perilaku suportif keterlibatan keluarga dalam manajemen gizi pada pasien DM dalam penelitian ini ditunjukkan dengan perilaku sering makan pada waktu yang sama dengan yang pasien lakukan dalam beberapa kali dalam seminggu., keluarga sering memberikan pujian kepada pasien untuk mengikuti tentang makanan yang dianjurkan dan kadang-kadang membelikan pasien sesuatu yang mengandung gula untuk dibawa jika terjadi reaksi insulin. Adanya perilaku suportif yang diberikan dapat membuat pasien memperoleh keyakinan bahwa dirinya berharga dan merasa dicintai yang akan meningkatkan keberhargaan dirinya sehingga menyebabkan pasien mendapatkan kekuatan untuk menjaga kesehatan dan mengendalikan manajemen gizinya.84 Pentingnya makan malam bersama keluarga telah dikemukakan oleh Wardyaningrum tahun 2010, bahwa berdasarkan penelitian terdahulu ditemukan tingginya perilaku positif berkaitan dengan banyaknya frekuensi makan malam bersama keluarga. Adanya makan malam dengan setiap anggota akan memperoleh makanan yang lebih sehat dibanding jajan diluar rumah. Makan malam yang baik seharusnya dilakukan di meja makan bersatu dengan anggota keluarga yang lain, dan tidak perlu dilakukan disebuah restoran, hal ini cukup dilakukan di rumah saja. Namun, kecenderungan anggota keluarga terutama anak lebih menyukai makanan di depan televisi.85
Keluarga memberikan pujian pada pasien merupakan suatu perilaku penghargaan dengan menunjukkan respon positif. Perilaku tersebut dapat meningkatkan status psikososial pasien dan perawatan DM pasien akan meningkat.84 Kejadian hipoglikemia pada pasien DM dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Kondisi ini dapat dijumpai sebelum makan, khususnya jika waktu makan tertunda atau bila pasien lupa makan camilan.86 Keluarga perlu memberikan bantuan yang memiliki sifat nyata dan langsung dalam bentuk finansial, waktu, tenaga sehingga bentuk perilaku yang diberikan secara langsung dapat mengurangi beban stress dan menyelesaikan masalah pasien DM.56 Perilaku suportif yang dilakukan keluarga akan optimal di satu situati tetapi belum tentu optimal dalam situasi lain dan lamanya perilaku suportif yang diberikan tergantung pada kapasitas keluarga.73
Keterlibatan keluarga yang suportif dapat diberikan pada seluruh anggota keluarga baik sehat maupun sakit.87 Keterlibatan keluarga yang suportif dapat memengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalani manajemen gizi DM.88 Anggota keluarga dapat mendorong pasien, mengubah jenis makanan yang disiapkan atau dikonsumsi, dapat menikmati makanan serupa di lingkungan yang nyaman, terlibat dalam aktivitas fisik, menghadiri kunjungan medis dengan pasien, memprioritaskan keuangan keluarga, dan membuat perubahan gaya hidup yang diperlukan. Semua tindakan suportif ini akan membantu memperbaiki kebiasaan makan, kepatuhan terhadap pengobatan, perawatan kesehatan dan hasil
klinis pasien. Keterlibatan anggota keluarga secara positif dapat membantu pasien dalam mengidentifikasi dan mengatasi hambatan kepatuhan.89
Pasien sangat membutuhkan keluarga agar tidak melanggar aturan makan meskipun menginginkannya dengan mengawasi serta mengingatkan pasien.71 Pasien yang diberikan asuhan keperawatan oleh perawat perlu lebih banyak melibatkan keluarga dalam bertugas memberikan pelayanan keperawatan.
Perawat dalam mengembangkan kompetensi dengan memberdayakan keluarga dapat dimulai sejak perawat baru atau dapat dilaksanakan dalam pembimbingan dan pengembangan staf. Kinerja perawat dapat ditingkatkan dengan program bimbingan yang baik sehingga hal tersebut dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.90 Hal ini merupakan tantangan utama bagi profesional kesehatan untuk meyakinkan pasien tanpa gejala tentang pentingnya manajemen diri untuk diet sehat dan olahraga bekerja sama dengan keluarga.25
Keterlibatan keluarga yang baik akan memengaruhi seseorang untuk melakukan dan mematuhi diet yang dianjurkan. Pasien sangat membutuhkan perilaku suportif dan pengawasan dari keluarga dalam menjalankan manajemen gizi serta tidak melanggar manajemen gizi yang dianjurkan. Keluarga menjaga kesehatan psikis pasien dengan memberikan motivasi untuk terus berjuang dan semangat dalam menghadapi penyakitnya serta selalu memperhatikan keluh kesah pasien sehingga tidak dapat memperburuk kondisi pasien.71 Keluarga mempunyai rasa empati yang tinggi terhadap anggota keluarganya yang menyandang DM. Keluarga mampu memberikan perilaku yang suportif secara optimal dalam memfasilitasi semua kebutuhan pasien baik secara
fisik ataupun secara psikologis dengan lebih perhatian dan lebih memahami kekhawatiran pasien.91 Mayoritas keluarga turut mendukung terkait pengobatan dan manajemen gizi karena mengetahui yang harus dilakukan pasien setelah bersama dengan pasien dalam waktu yang lama. Beberapa anggota keluarga mengikuti konseling bersama pasien sehingga pengetahuan terkait manajemen gizi cukup baik.71 Keluarga menjadi kelompok pendukung dan menghilangkan godaan pada ketidaktaatan untuk mencapai kepatuhan dan dapat membantu menurunkan ketidakpedulian yang disebabkan oleh penyakit tertentu.71
Perilaku suportif keluarga terhadap manajemen DM dapat memulihkan kualitas hidup pasien meskipun memiliki komplikasi dan keparahan pada diri pasien. Segala perencanaan kesehatan masyarakat yang sesuai harus dirancang untuk memotivasi dan mendidik anggota keluarga untuk memberikan perilaku suportif yang lebih besar untuk pasien. Perilaku suportif seperti pengelolaan manajemen waktu, tindakan dan perawatan teratur. Sehingga komplikasi yang disebabkan akan mengalami penurunan risiko keparahan dan mampu untuk meningkatkan taraf hidup pasien.92 Semua perencanaan terkait penatalaksanaan DM bersifat personal sehingga perlu dipertimbakan terhadap umur pasien, gaya hidup, kebutuhan nutrisi, kematangan, tingkat aktivitas, pekerjaan, dan kemampuan pasien dalam mengontrol gula darah secara mandiri.92
Prinsip manajemen gizi pada pasien DM tidak berbeda dengan pedoman masyarakat luas, yaitu setiap individu dapat makanan yang sesuai serta seimbang dengan kebutuhan kalori dan zat gizi. Manajemen gizi merupakan suatu hal penting yang dapat membantu pasien dalam mengikuti aturan manajemen
gizinya untuk dapat mengembangkan rutinitas (kebiasaan).83 Pengaturan makan adalah pengelolaan makan yang dijalankan oleh pasien DM berupa anjuran makanan seimbang yang pada umumnya seperti makanan yang dilarang untuk pasien DM hanya yang dibatasi sesuai kebutuhan (tidak berlebih). Pengaturan makan yang tepat bisa membantu mengurangi akibat lanjutan (komplikasi).20 Pasien DM terutama pasien yang mengonsumsi obat patut diberi pemfokusan terkait pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori untuk meningkatkan terapi insulin atau sekresi insulin.93 Pengaturan makan berdasarkan jumlah energi ditujukan untuk mencapai berat badan yang ideal sehingga membantu penurunan kadar glukosa. Pengaturan makan berdasarkan jenis makanan dimaksudkan untuk memilih bahan makanan yang bersumber dari karbohidrat kompleks karena karbohidrat lama proses penyerapannya dan bahan makanan tinggi serat yang bisa membentuk gel sehingga memperlambat kenaikan kadar gula. Jadwal makan juga perlu diperhatikan yaitu 3 kali makanan selingan.
Konsumsi makanan sesuai kebutuhan energi dan jenis makanan yang dianjurkan serta dengan jadwal yang teratur akan dapat menjaga kadar gula dalam batas normal.20 Pasien DM perlu mengurangi makanan dari jenis gula, minyak dan garam. Makanan untuk pasien DM biasanya kurang bervariasi sehingga banyak pasien merasa bosan. Menyediakan makanan yang bervariasi perlu dilakukan supaya pasien tidak merasa bosan. Hal itu diperbolehkan yang penting kombinasi bahan makanan yang digantikan mempunyai kandungan gizi yang sama dengan makanan penukar.94,95
Pola makan merupakan suatu bentuk kebiasaan konsumsi makanan dalam pengaturan jumlah dan jenis asupan makanan untuk mempertahankan kesehatan, status gizi, mencegah atau membantu proses kesembuhan penyakit.68,96,95 Pembentukan pola makan merupakan reaksi individu terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial di lingkungan sekitarnya.95 Adat makan adalah cara individu memutuskan makanan apa yang dikonsumsi sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologi dan sosial budaya. Adat makan merupakan pengungkapan setiap individu dalam menetapkan makanan yang akan membangun pola perilaku makan berdasarkan kemauan dan rasa suka.
Oleh karena itu, ekspresi setiap individu dalam menentukan makanan akan berbeda satu sama lain.97 Pasien tidak memperdulikan penyakitnya pada saat itu juga karena menurut pasien apabila kadar glukosa naik dapat meminum obat penurun kadar glukosa dan dapat kontrol ulang ke rumah sakit.97 Pola makan yang baik dan benar harus dipahami oleh para pasien DM dalam pengaturan pola makan sehari-hari agar kadar glukosa tetap terkendali.68
Perilaku pasien yang disarankan untuk mencapai kepatuhan berupa pola makan dan ketepatan makan pasien seperti memperhatikan 3J (jenis, jumlah, dan jadwal makan).98,99 Pola makan pasien dapat dipengaruhi pada saat menikmati makan bersama dengan anggota keluarga secara tradisi dan rutinitas.89 Kebiasaan manajemen gizi yang buruk secara konsisten dapat merugikan kesehatan pasien.
Perubahan pola makan yang rumit dan sulit diterima oleh anggota keluarga ataupun masyarakat yang dapat menyebabkan ketidakpatuhan pada pasien DM.89 Terdapat beberapa hal yang masih sering diabaikan oleh pasien yaitu tidak
membatasi konsumsi makanan yang manis meskipun telah menggunakan gula pengganti, jarang mengonsumsi sayuran, tidak mengontrol berat badan, dan tidak berolahraga.71 Penelitian yang dilakukan Senuk dan lainnya menyebutkan bahwa adanya keterlibatan keluarga yang suportif dapat berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam menjalani manajemen gizi DM.88
Tahap pertama dari perubahan perilaku yaing dapat dilakukan berupa kepatuhan dimana pasien akan membutuhkan pengawasan untuk mengubah perilakunya. Hal tersebut dapat menjadikan salah satu anggota keluarga sebagai pengawas dalam hal mengikuti arahan ataupun pengobatan yang diberikan oleh tenaga medis. Keluarga dapat memengaruhi pasien kearah positif untuk patuh terkait pengaturan makan yang diinstruksikan oleh ahli gizi. Hal tersebut sangat penting untuk meningkatkan ketaatan pasien DM dalam pengaturan makan yang diinstruksikan ahli gizi. Keberhasilan perawatan pasien DM ini bergantung pada kolaborasi pasien, keluarga dan petugas kesehatan.100 Ada beberapa faktor terkait dengan ketidakpatuhan yang berhubungan dengan pasien, seperti pemahaman tentang penyakit, mekanisme koping, motivasi untuk mengontrol, faktor terkait keluarga, seperti dukungan sosial atau keuangan, terkait pengobatan, seperti kesederhanaan dan efektivitas rejimen atau terkait perawatan kesehatan dalam kemudahan akses ke dokter yang kompeten dan hubungan dengan profesional perawatan kesehatan.89
Penelitian ini, pasien DM memiliki usia rerata di rentang usia 55,6 tahun. Usia termuda pasien DM berusia 21 tahun dan usia tertua berusia 90 tahun.
Usia pasien dapat memengaruhi kepatuhan penggunaan pengobatan non