• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

2. Kinerja Guru

Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Pasal 1 ayat (1) butir 1 tentang Guru dan Dosen dinyatakan bahwa, “Guru adalah pendidik 16 profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.35 Sedangkan menurut Suparlan mengatakan bahwa Guru adalah seseorang yang memiliki tugas sebagai fasilitator agar siswa dapat belajar dan atau mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, melalui pendidikan sekolah, baik yang didirikan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat atau swasta. 36

35 Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Pasal 1 ayat (1) butir 1 tentang Guru dan Dosen

36 Suparlan. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing 2006. Hal 10

Menurut Ivor K. Davies mengatakan bahwa seseorang mempunyai empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerja seorang guru, adalah sebagai berikut :

1) Merencanakan

Yaitu pekerjaan seorang guru menyusun tujuan belajar 2) Mengorganisasikan

Yaitu pekerjaan seorang guru untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar dengan cara yang paling efektif, dan seekonomis mungkin.

3) Memimpin

Yaiu pekerjaan seorang guru untuk memotivasikan, mendorong dan menstimulasikan siswa-siswanya, sehingga mereka siap mewujudkan tujuan belajar.

4) Mengawasi

Yaitu pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinyadalam mengorganisasikan dan memimpin di atas telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang dirumuskan.

Jika tujuan belum dapat diwujudkan, maka guru harus menilai dan mengatur kembali situasinya dan bukunya mengubah tujuan.37

Dengan demikian, penulis menyimpulkan dari pengertian di atas, bahwa kinerja adalah kemampuan seorang untuk melaksanakan tugasnya yang menghasilkan hasil yang memuaska, guna tercapainya tujuan organisasi kelompok dalam suatu unit kerja. Jadi kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar yang memiliki keahlian mendidik siswa dalam rangka membina peserta didik untuk mencapai institusi pendidikan.

37Ivor K . Devies. Pengelolaan Belajar . (Jakarta : PT. Rajawali Pers. 1987) Hal. 35 – 36

b. Pengertian Sertifikasi

Menurut Masnur Muslich ada beberapa pasal yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai berikut : 38

a. Pasal 1 butir 11: Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru dan dosen.

b. Pasal 8: Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendididk, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

c. Pasal 16: Guru yang memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji, guru negeri maupun swasta dibayar pemerintah.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, dikemukakan bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Menurut Mulyasa, sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai tenaga professional, sedangkan sertifikasi guru adalah suatu proses pemberian pengakuan bahwa seorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi.39 Jadi 14 sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi yang dirancang untuk mengungkapkan penguasaan kompetensi yang dirancang untuk mengungkapkan penguasaan kompetensi seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik.

38 Muslich, Mansur. KTSP. Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Panduan Bagi Guru. Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. (Jakarta : Bumi Aksara, 2007), hal 2

39 Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. (Bandung : Rosdakarya, 2007), hal 33

Menurut Syaiful Sagala guru wajib mengikuti sertifikasi, karena dengan sertifikasi seorang guru akan meningkatkan kemampuan dan keterlibatannya dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Undang-Undang Tahun 2005 Nomor 14 Guru dan Dosen menyatakan bahwa sertifikasi sebagai bagian dari peningkatan dari mutu guru dan peningkatan kesejahteraannya.40 Masnur Muslich mengatakan bahwa dengan sertifikasi diharapkan guru menjadi pendidik profesional, yaitu berkompetensi sebagai agen pembelajaran yang dibuktikandengan pemilikan sertifikat pendidikan setelah dinyatakan lulus uji kompetensi. 41Oleh karena itu, lewat sertifikasi ini diharapkan guru menjadi pendidikan yang profesional, yaitu yang berpendidikan minimal S-1/D-4 dan berkompetensi sebagai agen pembelajaran yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik setelah dinyatakan lulus uji kompetensi. Atas profesinya itu, guru berhak mendapatkan imbalan (reward) berupa tunjangan profesi dari pemerintah sebesar satu kali gaji pokok.

Dari uraian sertifikasi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sertifikasi adalah dalam proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat 15 jasmanai dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Peningkatan mutu guru lewat program sertifikasi ini sebagai upaya

40 Syaiful Sagala. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. (Bandung:

Alfabeta, 2009). Hal 30

41 Ibid. hal 7

peningkatan mutu pendidikan. Rasionalnya adalah apabila kompetensi guru bagus yang diikuti dengan penghasilan bagus, diharapkan kinerjanya juga bagus. Apabila kinerjanya bagus maka KBM-nya juga bagus. KBM yang bagus diharapkan dapat membuahkan pendidikan yang bermutu. Pemikiran itulah yang mendasari bahwa guru perlu disertifikasi.

c. Indikator kinerja guru

Kinerja merefleksikan kesuksesan suatu organisasi, maka dipandang penting untuk mengukur karakteristik tenaga kerjanya.

Kinerja guru merupakan kulminasi dari tiga elemen yang saling berkaitan yakni keterampilan, upaya sifat keadaan dan kondisi eksternal. Tingkat keterampilan merupakan bahan mentah yang dibawa seseorang ke tempat kerja seperti pengalaman, kemampuan, kecakapan-kecakapan antar pribadi serta kecakapan tehknik.

Sedangkan kondisi eksternal adalah tingkat sejauh mana kondisi eksternal mendukung produktivitas kerja.42

Ada beberapa indikator yang dapat dilihat peran guru dalam meningkatkan kemampuan dalam proses belajar-mengajar. Indikator kinerja tersebut adalah:

1) Kemampuan merencanakan belajar mengajar

a) Menguasai garis-garis besar penyelenggaraan pendidikan b) Menyesuaikan analisa materi pelajaran

42Sulistyorini, Hubungan antara Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah dan Iklim Organisasi dengan Kinerja Guru, 2001, hal. 62-70.

c) Menyusun program semester

d) Menyusun program atau pembelajaran

2) Kemempuan melaksanakan kegiatan belajar mengajar a) Tahap pra intruksional

b) Tahap intruksional

c) Tahap evaluasi dan tidak lanjut 3) Kemampuan mengevaluasi

a) Evaluasi normative b) Evaluasi formatif c) Laporan hasil evaluasi

d) Pelakanaan program perbaikan dan pengayaan.43 d. Ukuran kinerja guru

Menurut Hamid Darmadi “ukuran kinerja guru terlihat dari rasa tanggungjawabnya menjalankan amanah, profesi yang diembannya, rasa tanggung jawab moral dipundaknya. Semua itu akan terlihat kepada kepatuhan dan loyalitasnya di dalam menjalankan tugas keguruannya di dalam kelas dan tugas kependidikannya di luar kelas.

Sikap ini akan dibarengi pula dengan rasa tanggung jawabnya mempersiapkan segala perlengkapan pengajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran”.44

Menurut Isjoni yang dikutip oleh Lusia dalam Basrowi ukuran kinerja guru dapat dilihat dari beberapa hal yaitu:

43Moh. Uzer Usman, Menajdi Guru Profesiona, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2003), hal. 9-10.

44 Hamid Darmadi, Profesi Keguruan, (Surabaya: Afabeta, 2010), h. 60-61.

1) Rasa tanggung jawabnya dalam menjalankan amanah, 2) Profesi yang diembanya,

3) Rasa tanggung jawab moral yang diembannya

4) Kepatuhan dan loyalitas dalam menjalankan tugas keguruan didalam maupun di liar kelas,

5) Mempersipkan semua kelengkapan pengajaran, dan

6) Mempertimbangkan metodologi pengajaran, media pengajaran, dan alat penilainan yang di gunakan dalam pelaksanaan evaluasi.45

Sementara itu, Rusman mengungkapkan bahwa berkenaan dengan kepentingan penilaian terhadap kinerja guru, Geogia Depatement of Education telah mengembangkan teacher performance assement instrument yang kemudian telah dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian ini menyoroti tiga aspek utama kemampuan guru, yaitu: (1) rencana pembelajaran (teaching plans and material) atau sekarang disebut dengan renpen atau RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (2) prosedur pembelajaran (classroom procedure), dan hubungan antar pribadi (interpersonal skill); (3) penilaian pembelajaran.46

Guru yang memiliki kinerja tinggi akan bernafsu dan berusaha meningkatkan kompetensinya, baik kaitanya dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembelajaran, sehingga diperoleh hasil kerja yang optimal. Setidaknya terdapat sepuluh faktor yang dapat

45 Isjoni & Lusia, Kinerja Guru, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2010), h. 63.

46 Rusman, Profesionalisme Guru, (CV Pustaka Setia, 2011), h. 75.

meningkatkan kinerja guru, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Kesepuluh faktor tersebut adalah dorongan untuk bekerja, tanggung jawab terhadap tugas, minat terhadap guru, penghargaan atas tugas, peluang untuk berkembang, perhatian dari kepala sekolah, hubungan interpersonal dengan sesama guru, (MKMP) dan (KKG), kelompok diskusi terbimbing dan layanan kepustakaan.47

Dalam bukunya Veitzal dan Ahmad yang dikutip oleh Basrowi menyebutkan hal-hal yang perlu dilakukan dalam mengukur kinerja adalah sebagai berikut.

1) Indikator kerja yang baik, yaitu:

a) Terikat pada tujuan program dan menggambarkan pencapaian hasil,

b) Pada hal-hal tertentu mendapat prioritas,

c) Terpusat pada hal-hal yang vital dan penting bagi pengambilan keputusan, dan

d) terbatas terkaitnya dengan system pertanggung jawaban yang memerlukan hasil.

2) Pertimbangan utama penetapannya bahwa indikator kinerja harus:

a) Menggambarkan hasil atau pencapaian hasil, b) Merupakan indikator di dalam wewenangnya, c) Mempunya dampak negatif yang rendah,

d) Digunakan untuk menghilangkan insentif yang sudah ada, dan

47 Ibid, h. 102-103.

e) Ada pengganti atau manfaat yang lebih besar jika menghilangkan insetif.

3) Keberhasilan atau kegagalan manajemen dapat diukur dengan melakukan:

a) Perbandingan antara kinerja nyata dengan kinerja yang direncanakan,

b) Perbandingan antara kinerja nyata dengan kinerja yang diharapkan,

c) Perbandingan antara kinerja tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya,

d) Perbandingan kinerja suatu sekolah dengan sekolah lain yang lebih unggul, dan

e) Perbandingan pencapaian tahun berjalan dengan rencana dalam trend pencapaian.48

Dokumen terkait