B. Ketersediaan Tenaga Kerja
4.4 Kinerja Perusahaan
Kata penilaian sering dikaitkan dengan kata assessment yang merupakan suatu cara untuk menilai pencapaian objektif suatu perusahaan, sedangkan kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan. Dengan demikian penilaian kinerja perusahaan (Companies Performance Assessment) mengandung makna suatu proses atau sistem penilaian mengenai pelaksanaan kemampuan kerja suatu perusahaan (organisasi) berdasarkan standar tertentu (Kaplan dan Norton, 1996).
Empat faktor untuk sebuah tingkat kinerja perusahaan yang tinggi, yaitu:
a) Stakeholders
Untuk mencapai tingkat kinerja yang tinggi, bisnis harus menentukan stakeholder dan kebutuhannya. Bisnis modern akan semakin dihargai apabila mereka dapat mengutamakan, selain stakeholder internal-nya, namun juga stakeholder lainnya seperti pelanggan, pekerja, supplier, distributor, dan lainnya. Perusahaan yang bijak membuat tingkat kepuasan pekerjanya tinggi sehingga dapat meningkatkan nilai usahanya, meningkatkan kualitas produk dan pelayanannya, membuat tingkat kepuasan pelanggan tinggi, membawa pada tingkat pertumbuhan dan keuntungan yang tinggi, mencapai pada tingkat pertumbuhan dan keuntungan yang tinggi, mencapai tingkat kapuasan stakeholder yang tinggi, mengarahkan pada investasi yang lebih baik, dan lainnya.
b) Proses Bisnis
42
Perusahaan dapat menyelesaikan tujuan stakeholder-nya dengan mengelola dan menghubungkan proses-proses kerja. Tingkat kinerja bisnis akan meningkat apabila perusahaan berfokus pada proses bisnis utama seperti pengembangan produk baru,
daya tarik dan sesuatu yang diingat pelanggan dan pemenuhan pesanan. Dengan membangun aliran kerja dan tim lintas fungsi yang bertanggung jawab pada setiap proses.
c) Sumber Daya
Dalam menjalankan proses bisnis, perusahaan memerlukan sumber daya seperti pekerja yang tangguh, bahan baku, mesin, informasi, dan energy. Banyak perusahaan akhir-akhir ini melakukan outsource untuk mencapai kualitas yang lebih baik dan biaya yang lebih rendah akibat sumber daya yang tidak baik kinerjanya.
d) Organisasi
Organisasi perusahaan meliputi struktur, kebijakan, budaya perusahaan.
Perusahaan mempunyai visi yang jelas mempunyai bduaya kompetitif di pasar, meningkatkan produktivitasnya serta berupaya memberikan nilai dan kepuasan pada pelanggannya. Tingkat kinerja bisnis perusahaan yang baik dapat membuat dan memberikan nilai yang lebih tinggi dan kepuasan pada pelanggannya.
Kinerja perusahaan merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan mengacu pada standar yang ditetapkan.
Kinerja perusahaan hendaknya merupakan hasil yang dapat diukur dan menggambarkan kondisi empiric suatu perusahaan dari berbagai ukuran yang disepakati. Untuk mengetahui kinerja yang dicapai maka dilakukan penilaian kerja.
Tujuan penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personal mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar
43
membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam erncana strategic, program dan anggaran organisasi. Penilaian kinerja juga digunakan untuk menekan perilaku yang tidak sesuai dan untuk merangsang serta menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan, melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta penghargaan, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.
Mulyadi dan Setyawan (2001) berpendapat bahwa kinerja perusahaan merupakan sekumpulan ukuran kinerja yang mencakup empat perspektif yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis intern, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Kinerja merupakan salah satu faktor penting organisasi, karena dapat digunakan untuk menilai keberhasilan suatu organisasi. Kinerja perusahaan adalah penentuan secara periodik efektivitas operasi suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya.
Berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan. Kemudian dilanjutkan dengan analisis pekerjaan untuk mengetahui apa yang sebenarnya diharapkan oleh manajemen dalam melaksanakan tugas mereka. Pada akhir periode penilaian, penilai mengukur kinerja dan mengevaluasinya, selanjutnya dibandingkan dengan kinerja standar. Salah satu pengukuran kinerja organisasi sektor publik dilakukan melalui pendekatan balanced scorecard.
Ada berbagai metode penilaian kinerja yang digunakan selama ini. Penilaian kinerja perusahaan dapat diukur dengan :
1. Ukuran keuangan
Ukuran keuangan untuk mengetahui hasil tindakan yang telah dilakukan dimasa lalu ukuran keuangan menunjukkan akibat dari berbagai tindakan yang terjadi diluar non keuangan. Yaitu peningkatan financial returns yang ditunjukkan dengan ukuran ROS merupakan akibat dari berbagai kinerja operasional seperti:
44
Meningkatnya kepercayaan customer terhadap produk yang dihasilkan perusahaan.
Meningkatkan produktivitas dan cost effectiveness proses bisnis/intern yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk barang dan jasa.
Meningkatnya produktivitas dan komitmen personel.
2. Non keuangan
Ukuran non keuangan tentang kepuasan customer, produktivitas dan cost effectiveness proses bisnis/intern serta produktivitas dan komitmen personel yang akan menentukan kinerja keuangan masa yang akan datang.
Jadi, jika manajemen puncak berkehendak untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaannya, maka manajemen puncak harus memantau kinerja pada perspektif keuangan di masa lampau sebagai acuan, karena dari segi tersebut kita dapat mengetahui produktivitas dan ROE keuangan perusahaan apakah meningkat atau menurun sehingga dapat dilakukan perbaikan dan strategi perusahaan guna peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
Menurut Gasperz (2002), kinerja dari organisasi diukur tidak hanya berdasarkan aspek financialnya saja, akan tetapi juga melibatkan aspek non finansial. Mengukur kinerja perusahaan melibatkan empat aspek, yaitu :
1. Perspektif Keuangan (financial perspective)
2. Perspektif Kepuasan pelanggan (customer perspective)
3. Perspektif Efisiensi Proses Internal (internal process efficiency), dan
4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan (learning and growth perspective)
45
Dari keempat perspektif diatas terlihat bahwa dalam pengukuran kinerja ada keseimbangan (balance) antara ukuran finansial dan ukuran non finansial.
Pengukuran ini bertujuan memberi manajemen organisasi suatu pengetahuan, ketrampilan dan system yang memungkinkan karyawan dan manajemen belajar dan berkembang terus menerus (perspektif pembelajaran dan pertumbuhan) dalam berinovasi untuk membangun kapabilitas strategis yang tepat serta efisiensi (perspektif proses bisnis internal) agar mampu menyerahkan nilai spesifik ke pasar
(perspektif pelanggan) dan selanjutnya akan mengarah pada nilai saham yang terus menerus meningkat (perspektif finansial).
Pendapat lainnya juga dikemukakan oleh Mulyadi dan Setyawan (2001) mengukur kinerja pada suatu perusahaan mencakup empat perspektif yaitu keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Dalam pengukuran kinerja harus terdapat keseimbangan antara ukuran keuangan dan ukuran non keuangan (ukuran operasional). Manajer dituntut untuk menghasilkan kinerja keuangan yang diakibatkan dari kinerja operasional.
Menurut Kaplan dan Norton (2000), dalam mengukur kinerja perusahaan melibatkan 4 aspek, sebagai berikut :
a) Perspektif Keuangan (financial perspective)
Perspektif Keuangan ini dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan perusahaan yang meliputi laporan neraca dan laporan laba rugi. Tujuan dari laporan keuangan itu sendiri adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Ukuran keuangan biasanya diwujudkan dalam profitabilitas, pertumbuhan dan
46
stakeholder value. Alat ukur yang dapat digunakan adalah rasio keuangan yang meliputi rasio likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas.
b) Perspektif Pelanggan (customer perspective)
Dalam perspektif ini kinerja diukur dari bagaimana perusahaan dapat memuaskan pelanggan. Sebelum tolak ukur kinerja pelanggan ditetapkan (Kaplan dan Norton, 2000) menyarankan agar perusahaan menetapkan terlebih dahulu segmen pasar yang akan menjadi target atau sasaran serta mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan para calon pelanggan yang berada dalam segmen tersebut, sehingga tolok ukurnya dapat lebih terfokus. Langkah selanjutnya adalah menentukan kepuasan pelanggan, dalam kaitan ini diperlukan kegiatan penelitian terhadap kepuasan konsumen. Perusahaan yang ingin berkembang atau paling tidak bertahan hidup harus dapat memberikan pelanggan produk yang bermutu lebih baik, harga lebih murah, penyerahan lebih cepat / tepat waktu dan pelayanan yang lebih baik dibandingkan para pesaingnya. Pelanggan memang harus bias dipuaskan agar tidak meninggalkan perusahaan dan menjadi pelanggan perusahaan lainnya yang dapat memberikan kepuasan. Makin banyak pelanggan yang beralih menjadi pelanggan pesaing, dapat diramalkan bahwa hasil penjualan akan menurun dan pada gilirannya, keuntungan atau laba juga akan turun.
c) Perspektif Efisiensi Proses Internal (internal process efficiency)
Setiap organisasi memiliki seperangkat proses penciptaan nilai yang unik untuk konsumen. Berbagai ukuran kinerja dalam perspektif pelanggan harus diterjemahkan ke dalam ukuran-ukuran tentang apa yang harus dilakukan oleh organisasi untuk memenuhi harapan pelanggan. Manajer terus memfokuskan perhatiannya kepada proses bisnis internal yang menjadi penentu kepuasan pelanggan. Dalam hal ini perusahaan berfokus pada dua proses bisnis utama, yaitu :
47
Proses Inovasi. Proses inovasi mengidentifikasi kebutuhan pelanggan masa kini dan masa mendatang serta mengembangkan solusi baru untuk kebutuhan pelanggan itu. Misalnya, solusi yang dilakukan adalah meluncurkan produk (barang dan/atau jasa) baru, menambah features baru pada produk yang telah ada, memberikan solusi yang unik, mempercepat penyerahan produk ke pasar, dan lain-lain. Proses inovasi dapat dilakukan melalui riset pasar untuk mengidentifikasi ukuran pasar dan preferensi atau kebutuhan pelanggan secara spesifik, sehingga perusahaan mampu menciptakan dan menawarkan produk sesuai kebutuhan pelanggan dan pasar.
Proses Operasi. Proses operasi mengidentifikasi sumber-sumber pemborosan dalam proses operasional serta mengembangkan solusi masalah yang terdapat dalam proses oprasional itu demi meningkatkan efisiensi produksi, meningkatkan kualitas produk dan proses, memperpendek waktu sikuls sehingga meningkatkan penyerahan produk berkualitas tepat waktu dan lain-lain.
Proses Pelayanan. Proses pelayanan berkaitan dengan pelayanan kepada pelanggan, seperti pelayanan purna jual, menyelesaikan masalah yang timbul pada pelanggan dalam kesempatan pertama secara cepat, melakukan tindak lanjut secara proaktif dan tepat waktu, memberikan sentuhan pribadi dan lain-lain.
d) Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan (learning and growth perspective) Ukuran kinerja dari perspektif customer atau masyarakat, personel organisasi dimotivasi untuk menghasilkan value terbaik bagi customer atau masyarakat.
Dengan kinerja perspektif proses bisnis internal, personel organisasi untuk senantiasa melakukan improvement terhadap proses yang digunakan untuk menghasilkan value terbaik bagi customer atau masyarakat.
48 B. Co-Processing
Co-processing adalah penggunaan bahan bakar dan material alternatif dalam industri semen yang diharapkan dapat menjadi solusi penyediaan energi dan pengurangan emisi CO2 yang ada di industri semen. Co-processing telah terbukti mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dalam industri semen dan menghemat biaya bagi industri semen (Guereca, 2012; Hasanbeigi, 2012; Baidya, 2016). Selain itu, co-processing merupakan solusi hemat biaya dan ramah lingkungan dalam penanganan limbah yang dapat membahayakan lingkungan serta telah diterapkan di berbagai negara maju (Li, 2012; Hasanbeigi, 2012; Reza, 2013).
Co-processing diharapkan dapat menghilangkan permasalahan lingkungan dari pengelolaan limbah di masyarakat dan menjadi solusi pemenuhan energi yang ada di industri semen. Co-processing merupakan salah satu upaya penurunan emisi gas rumah kaca di industri semen dalam Permen Perindustrian Nomor 12 Tahun 2012.
Contoh bahan bakar alternatif yang digunakan untuk kegiatan co-processing adalah biomasa, refuse derived fuel (RDF) (Guereca, 2012), sampah perkotaan, limbah lumpur, oli bekas, plastik, limbah kertas, dan ban bekas. Jenis bahan bakar alternatif lainnya masih sangat mungkin untuk digunakan dalam co-processing. Pemanfaatan limbah sebagai sumber bahan bakar alternatif dapat menjadi solusi yang sangat baik bagi penyediaan energi yang ramah lingkungan. Co-processing dapat melestarikan sumber daya alam yang tidak terbarukan, reduksi limbah dan reduksi emisi yang menguntungkan secara lingkungan. Co-processing dapat menjadi solusi pengelolaan limbah di masyarakat yang selama ini menjadi masalah karena limbah yang dibuang di tempat terbuka dan tidak dimanfaatkan. Pengelolaan limbah seperti itu dapat menyebabkan masalah lingkungan dan sosial di masyarakat. Selain menguntungkan secara lingkungan dan sosial untuk masyarakat, penggunaan material dan bahan bakar alternatif pada industri semen dapat memberikan dampak
49
pada berkurangnya biaya produksi yang dapat menguntungkan secara ekonomi.
Selain dampak positif, aktivitas co-processing dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif yang membuat permasalahan baru. Permasalahan tersebut berkaitan tentang besarnya konstribusi emisi dan kemungkinan dampak lingkungan baru yang dihasilkan oleh penggunaan material dan bahan bakar alternatif dalam industri semen (Harjanto, 2012). Pelaksanaan co-processing tanpa perhitungan yang baik dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Hal ini dikarenakan limbah atau biomassa yang digunakan dapat mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) sehingga dalam pengelolaan limbah B3 diperlukan peraturan dan izin khusus agar tidak menyebabkan kerusakan lingkungan. Proses perhitungan secara menyeluruh dan mendalam perlu dilakukan pada proses co- processing. Proses perhitungan dilaksanakan agar dapat diketahui dampak yang ditimbulkan sesudah dan sebelum co-processing dilakukan sehingga dampak baru yang ditimbulkan dapat teridentifikasi dan terkuantifikasi dengan baik. Mekanisme co-processing dalam industri semen dapat menjadi solusi alternatif yang tepat untuk melakukan substitusi secara bertahap terhadap pemakaian bahan bakar fosil (Ewall dan Nicholson, 2005). Sementara itu, bagi para penghasil limbah yang mengalami kesulitan dalam pengelolaan limbahnya dapat bekerja sama dengan industri semen untuk pemusnahan limbah menggunakan teknologi bersih ini (Chandelle, 2009).
Teknologi co-processing dalam industri semen didefinisikan sebagai teknik pemakaian kembali limbah suatu industri sebagai substitusi bahan bakar fosil dan bahan baku semen (bahan galian C) dengan tujuan untuk memanfaatkan nilai energi dan nilai bahan yang masih terkandung di dalam limbah tersebut. Di Eropa teknologi co-processing dikenal juga sebagai co-incinerator dan telah berkembang pesat.
Sementara di Indonesia pemusnahan limbah masih dilakukan terpisah dan
50
menggunakan teknologi incinerator yang masih menghasilkan residu yang harus dilakukan pemusnahan kembali. Industri manufaktur besar yang menggunakan sistem reaktor pembakaran seperti semen, besi / baja, pembangkit listrik sangat mungkin memanfaatkan teknologi co-processing dalam strategi jangka panjangnya dalam mengelola pemakaian bahan bakar.
Teknologi co-processing yang dilakukan secara konsisten dapat membantu penghematan energi fosil, mengurangi pemanasan global yang diakibatkan oleh peningkatan emisi CO2 dan mempunyai dampak lingkungan yang lebih bersih dalam hal pemusnahan limbah industri. Dalam industri semen, kunci keberhasilan teknologi co-processing adalah penentuan lokasi dan sistem pengumpanan limbah, konsistensi kualitas nilai energi dan nilai bahan dari limbah dan pengelolaan limbah yang memperhatikan sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta Lingkungan Hidup (K3LH). Hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan teknologi co- processing adalah komposisi, bentuk dan ukuran serta kandungan air dan zat pengotor yang bervariasi antara berbagai jenis limbah agar tidak mempengaruhi kestabilan operasi dan kualitas produk. Teknologi co-processing adalah teknologi bersih karena dengan pembakaran pada temperatur tinggi (di atas 1450°C), material limbah dapat musnah tanpa meninggalkan residu dan gas buang yang keluar cerobong menjadi satu dengan gas hasil pembakaran dan reaksi kalsinasi (Verhagen, 2006; Claude, 2006; Nørskov, 2009). Pemakaian teknologi ini dapat menurunkan pemakaian energi batubara apabila dikelola dengan baik dan melalui perhitungan dapat diajukan untuk memperoleh “kredit karbon” yang dapat diperjual- belikan dalam pasar karbon dengan nilai 10 hingga 20 dollar AS per satu ton CO2 (van der Meer, 2007). Diperkirakan menjelang habisnya masa protocol Kyoto pada tahun 2012 harga carbon akan naik. Jenis limbah yang dapat dipakai dalam
51
teknologi co-processing ini memang harus selektif dan dipersiapkan mulai saat pengelolaan awal, dari transportasi limbah sampai ke lokasi pengumpanan. Untuk jenis limbah yang mudah meledak, bersianida, radioaktif, infeksius, klorin tinggi tidak dapat diterima sebagai alternatif energi dan alternatif material. Apabila teknologi co- processing dilaksanakan secara konsisten oleh semua industri pemakai energi besar di Indonesia dan dipayungi oleh regulasi hukum yang kuat dari pemerintah maka tiga persoalan besar dapat diselesaikan. Ketiga persoalan besar itu yaitu penghematan sumber daya alam termasuk bahan bakar fosil, pengelolaan lingkungan bersih yaitu pengurangan emisi CO2 dan penambahan lapangan kerja (van der Meer, 2007).
C. Kegiatan Produksi Semen 1. Proses Produksi Semen
Semen adalah hasil industri dari campuran bahan baku : batu kapur/gamping sebagai bahan utama dan lempung/tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir berupa padatan berbentuk bubuk/bulk, tanpa memandang proses pembuatannya, yang mengeras atau membatu pada pencampuran dengan air. Bila semen dicampurkan dengan air, maka terbentuklah beton. Istilah dalam bahasa asingnya, concrete-diambil dari gabungan prefiks bahasa latin com, yang artinya bersama-sama, dan crescere (tumbuh), yang maksudnya kekuatan yang tumbuh karena adanya campuran zat tertentu. Batu kapur/gamping adalah bahan alam yang mengandung senyawa kalsium oksida (CaO), sedangkan lempung/tanah liat adalah bahan alam yang mengandung senyawa: silika oksida (SiO2), aluminium oksida (Al2O3), besi oksida (Fe2O3) dan magnesium oksida (MgO). Untuk menghasilkan semen, bahan baku tersebut dibakar sampai meleleh, sebagian untuk membentuk clinkernya, yang kemudian dihancurkan dan ditambah dengan gips (gypsum) dalam
52
jumlah yang sesuai. Hasil akhir dari proses produksi dikemas dalam kantong/zak dengan berat rata-rata 40 kg atau 50 kg. Dalam pengertian umum, semen adalah suatu binder, suatu zat yang dapat menetapkan dan mengeraskan dengan bebas, dan dapat mengikat material lain. Abu vulkanis dan batu bata yang dihancurkan yang ditambahkan pada batu kapur yang dibakar sebagai agen pengikat untuk memperoleh suatu pengikat hidrolik yang selanjutnya disebut sebagai “cementum”.
Semen yang digunakan dalam konstruksi digolongkan kedalam semen hidrolik dan semen non-hidrolik. Semen hidrolik adalah material yang menetap dan mengeras setelah dikombinasikan dengan air, sebagai hasil dari reaksi kimia dari pencampuran dengan air, dan setelah pembekuan, mempertahankan kekuatan dan stabilitas bahkan dalam air. Kebanyakan konstruksi semen saat ini adalah semen hidrolik dan kebanyakan didasarkan pada semen Portland, yang dibuat dari batu kapur, mineral tanah liat tertentu, dan gypsum, pada proses dengan temperatur yang tinggi yang menghasilkan karbon dioksida dan berkombinasi secara kimia yang menghasilkan bahan utama menjadi senyawa baru. Semen non-hidrolik meliputi material seperti batu kapur dan gipsum yang harus tetap kering supaya bertambah kuat dan mempunyai komponen cair. Contohnya adukan semen kapur yang ditetapkan hanya dengan pengeringan, dan bertambah kuat secara lambat dengan menyerap karbon dioksida dari atmosfer untuk membentuk kembali kalsium karbonat. Penguatan dan pengerasan semen hidrolik disebabkan adanya pembentukan air yang mengandung senyawa-senyawa, pembentukan sebagai hasil reaksi antara komponen semen dengan air. Reaksi dan hasil reaksi mengarah kepada hidrasi dan hidrat secara berturut-turut. Sebagai hasil dari reaksi awal dengan segera, suatu pengerasan dapat diamati pada awalnya dengan sangat kecil dan akan bertambah seiring berjalannya waktu. Setelah mencapai tahap tertentu,
53
titik ini diarahkan pada permulaan tahap pengerasan. Penggabungan lebih lanjut disebut penguatan setelah mulai tahap pengerasan.
Jenis-jenis semen berdasarkan bahan utama, antara lain :
1. Semen Abu atau semen Portland adalah bubuk/bulk berwarna abu-abu, dibentuk dari bahan utama batu kapur/gamping berkadar kalsium tinggi yang diolah dalam tanur yang bersuhu dan bertekanan tinggi Semen ini biasa digunakan sebagai perekat untuk memplester. Semen ini berdasarkan prosentase kandungan penyusunannya terdiri dari 5 (lima) tipe, yaitu tipe I sampai tipe V.
2. Semen Putih (white cement) adalah semen yang lebih murni dari semen abu dan digunakan untuk pekerjaan penyelesaian (finishing). Semen jenis ini dibuat dari bahan utama kalsit (calcite) limestone murni.
3. Oil Well Cement atau semen sumur minyak adalah semen khusus yang digunakan dalam proses pengeboran minyak bumi atau gas alam, baik di darat maupun di area lepas pantai.
4. Mixed & Fly Ash Cement adalah campuran semen abu dengan Pozzolan buatan (fly ash). Pozzolan buatan (fly ash) merupakan hasil sampingan dari pembakaran batubara yang mengandung amorphous silica, aluminium oksida, besi oksida dan oksida lainnya dalam variasi jumlah. Semen ini digunakan sebagai campuran untuk membuat beton, sehingga menjadi lebih keras.
Sedangkan, berdasarkan prosentase kandungan material penyusunnya, semen Portland terdiri dari 5 tipe yaitu :
1. Semen Portland tipe I merupakan perekat hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling klinker yang kandungan utamanya kalsium silikat dan digiling bersama- sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat (Ca2SO4).
54
2. Semen Portland tipe II Dipakai untuk keperluan konstruksi umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan awal, dan dapat digunakan untuk bangunan rumah pemukiman, gedung-gedung bertingkat dan lain-lain.
3. Semen Portland tipe III Dipakai untuk konstruksi bangunan dari beton massa (tebal) yang memerlukan ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, misal bangunan dipinggir laut, bangunan bekas tanah rawa, saluran irigasi, bendungan.
4. Semen Portland tipe IV Dipakai untuk konstruksi bangunan yang memerlukan kekuatan tekan tinggi pada fase permulaan (awal) setelah pengikatan terjadi, misal untuk pembuatan jalan beton, bangunan-bangunan bertingkat, bangunan-bangunan dalam air.
5. Semen Portland tipe V Dipakai untuk instalasi pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan, terowongan, pelabuhan dan pembangkit listrik.