Bab III Akuntabilitas Kinerja
A. CAPAIAN KINERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2015
4. Kinerja Program Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian
Selain program prioritas nasional sebagaimana ditetapkan dalam RPJMN Tahun 2015–2019, Kementerian Perindustrian juga melaksanakan program pengembangan industri lainnya. Capaian program-program tersebut sebagaimana diuraikan berikut ini.
a. Klaster Industri Hilir Kelapa Sawit
Program pengembangan industri yang mendukung klaster industri hilir kelapa sawit, selama tahun 2015 telah terealisasi hasil-hasil sebagaimana dijelaskan berikut ini.
1). Rapat fasilitasi dan koordinasi pengembangan industri hilir kelapa sawit di Sumatra Utara dalam rangka pengembangan klaster hilir kelapa sawit di Sumatera Utara, Riau Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Papua.
2). Melaksanakan promosi investasi di Batam, Kepulauan Riau dan pelaksanaan business forumdi Rotterdam, Belanda dalam rangka promosi Investasi produk Hilir Kelapa Sawit (IHSK) untuk pengembangan Klaster Oleochemical di Sumatera Utara, Riau Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Papua.
3). Melaksanaakan pembahasan rapat teknis terkait penyelesaian permasalahan dispute kepabean untuk industri hilir kelap sawit termasuk penguatan lembaga pengujian melalui bantuan mesin peralatan laboratorium untuk Balai Besar Industri Kimia dan Kemasan Jakarta yang dianggarkan oleh Ditjen Industri Agro.
4). Melakukan rapat teknis RSKKNI terkait penyusunan rancangan standar kompetensi SDM Industri Hilir Kelapa Sawit dan Bahan Bakar Nabati.
5). Terlaksananya bimbingan teknis bagi industri hilir kelapa sawit dan workshop pembinaan teknis standarisasi hilir kelapa sawit dalam rangka pembinaan teknis standardisasi dan teknologi industri hilir kelapa sawit dan bahan bakar nabati.
6). Telah melakukan rapat pembahasan teknis, penyampaian laporan sementara dan laporan akhir kajian penyusunan dokumen teknis lestari berkelanjutan pada industri hilir kelapa sawit nasional.
b. Industri Furnitur
Industri furnitur merupakan program hilirisasi industri berbasis industri agro.
Pengembangan industri furnitur yang telah dilaksanakan Kementerian Perindustrian telah menghasilkan beberapa capaian berikut.
1). Telah dilaksanakan Rapat Fasilitasi Pengembangan Klaster Industri Furniture di Jawa Timur
2). Telah dilakukan pelaksanaan lomba desain furnitur, klinik desain furnitur di Cirebon, dan klinik desain furnitur di Jepara.
3). Telah dilaksanakan pelatihan desain di Jawa Barat untuk 40 orang SDM industri furnitur.
4). Telah dilaksanakan rapat pra konvensi RSKKNI di Semarang dan rapat konvensi di Jawa tengah yang menghasilkan 20 (dua puluh) RSKKNI yang telah diserahkan kepada Kementerian Ketenagakerjaan untuk disahkan menjadi SKKNI dalam rengka menyusun suatu rancangan SKKNI industri furnitur.
5). Telah diberikan pendampingan dalam rangka sertifikasi SVLK untuk 80 Perusahaan untuk memonitoring dan mengevaluasi industri furnitur dan kerajinan kayu dan untuk memenuhi kewajiban mengaplikasikan penerapan SVLK yang diwajibkan pada akhir tahun 2015
6). Telah diberikan bantuan sertifikasi untuk wilayah Jawa dan Bali sebanyak 80 perusahaan dengan hasil 75 perusahaan lolos untuk mendapatkan sertifikat SVLK.
7). Telah dilakukan serah terima mesin dan peralatan pengembangan industri Furniture di Sukabumi (Jawa Barat), Nganjuk (Jawa Timur), dan Jepara (Jawa
dalam rangka terlaksananya bantuan mesin peralatan untuk meningkatkan industri pengolahan kayu setiap daerah tersebut.
c. Industri Hilir Karet
Program pengembangan industri hilir karet yang telah dilaksanakan Kementerian Perindustrian telah menghasilkan beberapa capaian berikut.
1). Pembangunan pabrik ban Hankook kapasitas 5,3 juta ban KBM roda 4 per tahun dan ditargetkan menghasilkan hingga 16 juta ban per tahun sampai tahun 2018 dengan nilai investasi USD. 1,1 Miliar di Jawa Barat.
2). Realisasi perluasan pabrik PT. Bridgestone Tyre Indonesia di Pondok Ungu Bekasi untuk ban bias kapasitas produksi 144.000 ban/tahun dan investasi Rp.
600 Miliar telah beroperasi sejak tahun 2014.
3). Realisasi Pembangunan Pabrik Ban Sepeda motor Evoluzione Tyre yang merupakan Joint Venture antara PT. Astra Otoparts Tbk. dengan Pirelli Spa di Subang, Jawa Barat dengan kapasitas sebesar 2.000.000 ban sepeda motor dengan nilai investasi awal sebesar US$ 130 Juta.
4). Tersusunnya kajian pengembangan industri karet terpadu di Sei Bamban yang direncanakan akan terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus, Sei Mangkei.
5). Fasilitasi dan Koordinasi Pengembangan Klaster Industri karet dengan 30 (tiga puluh)stakeholders.
6). Pelatihan peningkatan konservasi energi industri karet remah di Pontianak dan Palembang.
7). Peningkatan Teknologi Alat Pengolahan Karet (Crumb Rubber) untuk Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan.
8). Fasilitasi pengembangan industri karet karet hilir untuk meningkatkan kemampuan pembuatan kompon karet dan produksi vulkanisir ban melalui bantuan mesin pengolahan barang karet di Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat.
d. Industri Hilir Kakao
Produksi rumput laut nasional mencapai 2,6 juta ton dimana Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia. Dalam mewujudkan berkembangnya industri diperlukan pendekatan penguatan dan pengembangan industri rumput laut yaitu dengan melakukan peningkatan kemampuan industri lokal, pembinaan SDM industri, pemanfaatan serta survey dan pemetaan SDA. Mengingat keterbatasan kemampuan daerah dalam pengembangan industri pengolahan berbasis SDA daerah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, diperlukan pengembangan teknologi melalui pemberian bantuan peralatan dan atau mesin serta kajian survey.
Sampai dengan tahun 2015, program pengembangan industri hilir kakao yang telah dilaksanakan Kementerian Perindustrian telah menghasilkan beberapa capaian berikut.
1). Dalam rangka fasilitasi dan koordinasi pengembangan industri pengolahan kakao, telah dilaksanakan Rapat Teknis Penyusunan Kajian Revisi Bea Keluar Biji Kakao, Rapat Koordinasi dan Rapat terkait persiapan Hari Kakao Indonesia dan Rapat Koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka Hari Kakao Indonesia 2015 di Yogyakarta, rapat koordinasi terkait rencama import back cocoa powder.
2). Telah berpatisipasi dalam Sidangthe 18th Meeting of the Nasional Focal for ASEAN Cocoa Club (ACC) on Join ASEAN Cooperation in Agriculture and Forest Product Promotion Sceme
3). Pelaksanaan Hari Kakao Indonesia 2015 di Yogyakarta, dan berpartisipasi pada siding the 92 Regular Session of the Internasional Cocoa Council and Other ICCO Meetings.
4). Telah dilaksanakan pelatihan peningkatan SDM industri pengolahan rumput laut pada tahun 2015.
e. Industri Rumput Laut
Produksi rumput laut nasional mencapai 2,6 juta ton dimana Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia. Dalam mewujudkan berkembangnya industri diperlukan pendekatan penguatan dan pengembangan industri rumput laut yaitu dengan melakukan peningkatan kemampuan industri lokal, pembinaan SDM industri, pemanfaatan serta survey dan pemetaan SDA. Mengingat keterbatasan kemampuan daerah dalam pengembangan industri pengolahan berbasis SDA daerah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, diperlukan pengembangan teknologi melalui pemberian bantuan peralatan dan atau mesin serta kajian survey.
Sampai dengan tahun 2015, revitalisasi dan penumbuhan industri hasil laut dilakukan melalui beberapa hal, antara lain:
1). Terkait pengembangan teknologi pengolahan rumput laut, pada tahun 2015 telah dilaksanakan penandatangan kontrak, penyampaian laporan tahap awal, penyampaian laporan antara, FGD dan penyampaian laporan akhir.
2). Telah dilaksanakan pelatihan peningkatan SDM industri pengolahan rumput laut pada tahun 2015.
f. Industri Baja
Program pengembangan industri baja merupakan salah satu fokus program hilirisasi industri berbasis migas dan bahan tambang mineral. Proyeksi konsumsi baja (crude steel) pada tahun 2025 sebesar 70 kg perkapita, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan konsumsi saat ini sebesar 36 kg perkapita.
Faktor penggerak cabang industri baja adalah sektor transportasi, konstruksi bangunan, permesinan, infrastruktur, kemasan dan energi. Tahun 2013 produksi crude steeldalam negeri sekitar 6,8 juta ton, sehingga dengan target konsumsi 70 kg perkapita kebutuhan baja kasar yang akan mencapai 20 juta ton, memerlukan tambahan produksi sebesar 14 juta ton. Pada tahun 2015 terdapat tambahan kapasitas sekitar 4 juta ton crude steel yang diperoleh dari PT. Krakatau Posco, PT.
Indoferro dan PT. Meratus Jaya Iron & Steel. Target tambahan kapasitas produksi berikutnya sebesar 10 juta ton. Sehingga sampai tahun 2025 akan memerlukan bijih besi sebesar 250 juta ton dan pasir besi sebesar 110 juta ton. Untuk mencapai target kebutuhan di tahun 2025 diperlukan tambahan energi sebesar 1.120 MW dan investasi sebesar Rp. 140 Triliun.
Hasil-hasil yang telah dicapai selama tahun 2015 sebagaimana diuraikan berikut ini:
1). Telah beroperasinya PT. Meratus Jaya Iron & Steel secara komersial. Pabrik ini berlokasi di Batulicin, Provinsi Kalimantan Selatan yang mengolah Bijih Besi menjadi Sponge Iron dengan kapasitas 315 ribu ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp. 1,17 Triliun.
2). Telah beroperasinya PT. Indoferro secara komersial yang berlokasi di Cilegon, Provinsi Banten yang memproduksi Pig Iron dengan kapasitas 500 ribu ton/tahun dan Nickel Pig Iron dengan kapasitas 250 ribu ton/ tahun dengan nilai investasi sebesar USD. 110 Juta.
3). Telah dilakukannya Ground Breaking PT. Batulicin Steel pada bulan Juli 2012 yang rencananya akan memproduksi baja dasar sebesar 3 juta ton/tahun dengan nilai investasi sebesar USD. 1,5 Miliar termasuk Pembangunan Pembangkit Listrik (Power Plant) dengan kapasitas 100 MW dengan rincian Besi Beton sebesar 1 juta ton/tahun dan Ferro Nickel sebesar 600 ribu ton/tahun pada tahap awal serta H-Beam Steel dan Pelat Baja sebesar 2 juta ton/tahun pada tahap selanjutnya.
4). Telah beroperasinya PT. Krakatau-Posco Tahap 1 yang memproduksi slab baja 1,5 Juta Ton/Tahun dan plat baja 1,5 Juta Ton/Tahun dengan nilai investasi USD. 3 Miliar.
5). Rencana pembangunan Pabrik Pengolahan Pasir Besi menjadi Pig Iron (Main Concentrator Plant dan Pig Iron Plant) di Kulon Progo, Provinsi DI Yogjakarta yang akan dilakukan oleh PT. Jogja Magasa Iron dengan
6). Rencana investasi PT. Sebuku Lateritic Iron & Steel untuk pembangunan Pabrik yang memproduksi Pig Iron dengan kapasitas 3 juta ton per tahun di Sebuku, Provinsi Kalimantan Selatan dengan nilai investasi sebesar USD. 1 Miliar.
7). Telah beroperasinya PT. Delta Prima Steel untuk pembangunan Pabrik yang memproduksi Sponge Iron dengan kapasitas 100ribu ton per tahun di Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan dengan nilai investasi sebesar Rp. 1,2 Miliar.
8). Rencana investasi dan perluasan 8 (delapan) perusahaan penghasilpig iron, cold rolled coil &hot dipped galvanized, dan lain-lain dengan nilai investasi sekitar Rp. 52,44 Triliun.
9). Rencana investasi pabrik penghasil cold rolled coil &hot dipped galvanized dengan kapasitas sebesar 480.000/tahun yang merupakan joint venture antara PT. Krakatau Steel dengan Nippon Steel Sumikin di Banten dengan nilai investasi sebesar USD. 300 Juta
10). Rencana investasi pabrik penghasil besi beton & batang kawat baja dengan kapasitas sebesar 500.000/tahun yang merupakan joint venture antara PT.
Gunung Gahapi Sakti dengan Nanjing Iron & Steel Company di Sumatera Utara dengan nilai investasi sebesar USD. 200 Juta.
11). Rencana investasi pabrik penghasilcold rolled coil & hot dipped galvanized untuk industri otomotif dengan kapasitas sebesar 300.000 ton/tahun dari PT. JFE Steel Galvanizing di Karawang dengan nilai investasi sebesar USD. 325 Juta.
12). Rencana investasi pabrik penghasil bar and section dengan kapasitas sebesar 500.000 ton/tahun yang merupakan joint venture antara PT. Krakatau Steel dengan Osaka Steel di Banten dengan nilai investasi sebesar USD. 200 Juta.
g. Industri Aluminium
Fokus program hilirisasi industri berbasis migas dan bahan tambang mineral selanjutnya adalah industri aluminium. Proyeksi konsumsi alumina pada
tahun 2025 sebesar 10 kg perkapita, sedangkan saat ini sebesar 2,9 kg perkapita.
Tahun 2013 produksi aluminium dalam negeri sekitar 250 ribu ton, sehingga dibutuhkan tambahan produksi sebesar 3,1 juta ton untuk memenuhi kebutuhan di tahun 2025. Sampai tahun 2025 diperlukan bauksit sebesar 74,4 juta ton, ketersediaan energi sebesar 11.200 MW dan investasi sebesar Rp. 24 Triliun.
Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 sebagaimana diuraikan berikut.
1). Rencana pembangunan Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat yang akan dilakukan oleh PT. Antam dengan kapasitas 1,2 juta ton/tahun dan nilai investasi sebesar USD. 1 Milyar yang ditargetkan beroperasi pada Kuartal 1 Tahun 2016.
2). Telah beroperasinya PT. Indonesia Chemical Alumina kapasitas 300 ribu ton CGA/tahun dan investasi USD. 500 juta di Kalimantan Barat.
3). Pembangunan PT. Well Harvest Mining dengan kapasitas 2 Juta ton alumina/tahun dan total investasi USD 1,1 Miliar di Ketapang, Kalimantan Barat.
4). Telah diambilalihnya PT. Indonesia Asahan Aluminium kapasitas 225 ribu ton aluminium ingot/tahun dan investasi USD. 920 Juta di Sumatera Utara oleh Pemerintah Indonesia.
5). Pembangunan industri aluminium di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara oleh PT. Inalum (Persero)dengan kapasitas aluminium ingot 250 kilo ton/ tahun, kapasitas slab/sheet 50 kilo ton/ tahun, kapasitas billet 30 kilo ton/ tahun, kapasitas wire rod 50 kilo ton/ tahun, dan kapasitas aluminium alloy 90 kilo ton/ tahun serta total investasi USD. 91 Juta.
h. Industri Tembaga dan Nikel
Fokus lain program hilirisasi industri berbasis migas dan bahan tambang mineral selanjutnya adalah industri tembaga dan nikel. Proyeksi konsumsi
2,2 kg perkapita. Tahun 2013 produksi aluminium dalam negeri sekitar 280 ribu ton, sehingga dibutuhkan tambahan produksi sebesar 1,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan di tahun 2025. Sampai tahun 2025 diperlukan bauksit sebesar 202 juta ton, ketersediaan energi sebesar 2.900 MW dan investasi sebesar Rp. 110 Triliun.
Fokus utama dari roadmap industri nikel adalah meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan bijih nikel menjadi ferronikel (jangka pendek, 2014) dan mengolah ferronikel menjadi stainless steel (jangka panjang, 2020) sehingga sampai tahun 2025 diperlukan bijih nikel sebesar 274 Juta Ton dan investasi sebesar Rp. 60 Triliun.
Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut ini.
1). Pembangunan industri nikel di Morowali, Sulawesi Tenggara oleh PT. Sulawesi Mining Investment dengan kapasitasferronickel300 ribu ton danpower plant 130 MW serta total investasi USD 569 Juta.
2). Pembangunan industri nikel di Halmahera Timur oleh PT. Ferro Nickel Halmahera Timur dengan kapaitas ferronickel 270 ribu ton dan kapasitas stainless steel600 ribu ton serta total investasi CAPEX USD 16 Triliun.
3). Rencana investasi PT. Weda Bay Nickel untuk pembangunan Pabrik yang memproduksi Nickel dengan kapasitas 65 ribu ton per tahun dan Cobalt dengan kapasitas 3,5 ribu ton per tahun di Maros, Provinsi Sulawesi Selatan dengan nilai investasi sebesar USD. 700 Juta.
4). Rencana investasi 8 (delapan) perusahaan yang memproduksi feronikel, nickel matte, dan nickel pig iron dengan nilai investasi sekitar 123 Triliun.
5). Telah beroperasinya PT. Vale Indonesia untuk pembangunan Pabrik yang memproduksi Nickel Matte dengan kapasitas 120.000 ton per tahun di Sulawesi Selatan dengan nilai investasi sebesar USD. 2 Miliar.
6). Pembangunan industri nikel di Morowali, Sulawesi Tenggara oleh PT. Sulawesi Mining Investment dengan kapasitasferronickel300 ribu ton danpower plant 130 MW serta total investasi USD 569 Juta.
i. Industri Semen
Industri semen merupakan prioritas revitalisasi dan penumbuhan industri bahan bangunan dan konstruksi. Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut ini.
1). Adanya penambahan 5 (lima) pabrik baru semen, seperti PT. Semen Bosowa dengan kapasitas produksi sebanyak 3 juta ton per tahun, PT Semen Holcim Indonesia Tbk (SMCB) dengan kapasitas produksi sekitar 1,7 juta ton per tahun, Semen Merah Putih 3 juta ton per tahun, Semen Jawa 1,7 juta ton per tahun, dan Anhui Conch Cement sebanyak 1,7 juta ton per tahun.
2). Unit pengantongan semen di Sorong, Papua Barat oleh PT. Semen Gresik yang direncanakan mulai beroperasi pada awal tahun 2013.
3). Realisasi pembangunan oleh PT. Semen Gresik Group dan PT. Semen Bosowa.
4). Unit pabrik baru PT. Semen Gresik di Tuban, Jawa Timur (Tuban IV) dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun, telah beroperasi pada pertengahan tahun 2012.
5). Unit pabrik baru di Maros, Sulawesi Selatan dengan peningkatan kapasitas menjadi 2,5 juta ton per tahun. Pembangunan dimulai bulan November 2012, direncanakan selesai tahun 2014.
6). Realisasi pembangunan pabrik oleh investor baru, saat ini sedang proses pembebasan lahan, yaitu State Development and Investment Cooperation (SDIC) di Manokwari, Papua Barat dengan kapasitas 1 juta ton per tahun dan Anhui Conch Cement Co., Ltd. di Tanjung, Kalimantan Selatan dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun.
7). Pembangunan Unit pabrik baru PT. Semen Tonasa di Pangkep, Sulawesi Selatan (Tonasa V) dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun telah diresmikan pada tanggal 19 Februari 2014.
8). Realisasi pembangunan pabrik baru oleh PT. Holcim Indonesia di Tuban, Jawa Timur, dengan kapasitas 1,7 juta ton per tahundan telah diresmikan tanggal
9). Realisasi pembangunan Unit penggilingan semen di Banyuwangi, Jawa Timur dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun. Pembangunan dimulai bulan Mei 2012, dan direncanakan selesai pada Triwulan I tahun 2015.
10). Realisasi pembangunan pabrik baru PT. JUI SHIN Indonesia di Karawang Jawa Barat, dengan kapasitas produksi 2,5 juta ton per tahun dan saat ini sudah berproduksi mulai tahun 2014.
j. Industri Garam
Industri garam menjadi salah satu industri yang menjadi fokus program pengembangan industri dari Kementerian Perindustrian. Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut ini.
1). Peningkatan produktivitas lahan pegaraman melalui program intensifikasi lahan pegaraman termasuk pemasangan geomembran pada petak kristalisasi di Madura. Sampai saat ini produktivitas telah meningkat dari 60 ton/ha menjadi 70 ton/ha dan diprediksi akan terus meningkat.
2). Perluasan lahan pegaraman melalui program ekstensifikasi lahan pegaraman di daerah-daerah yang berpotensi yaitu di Madura-Sampang 2.000 ha, NTB- Bima 500 ha, NTT-Flores 2.000 ha, dan Kupang 6.000 ha.
3). Intensifikasi Lahan Pegaraman di Madura-Sumenep dalam tahap penandatanganan kontrak dan Peningkatan Kualitas Lahan Pegaraman melalui Intensifikasi Lahan Pegaraman di NTT.
4). Telah tersusunnya rencana aksi industri pengembangan industri garam beryodium.
k. Industri Tekstil, Produk Tekstil, dan Alas Kaki
Program pengembangan industri Kementerian Perindustrian juga mencakup industri tekstil, produk tekstil dan alas kaki. Hasil-hasil yang telah dicapai industri ini sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut ini : 1). Telah diberikan bantuan potongan harga dalam rangka restrukturisasi permesinan industri TPT, alas kaki dan penyamakan kulit sebanyak 115
perusahaan dengan nilai bantuan sekitar Rp.99,96 Miliar yang mendorong investasi sebesar Rp.1,19 Triliun.
2). Sebanyak 15 perusahaan Industri TPT, Alas Kaki dan Penyamakan Kulit tidak dapat direalisasikan bantuannta karena anggaran yang tidak mencukupi dengan perkiraan nilai bantuan sebesar Rp. 17,43 Miliar dan nilai investasi Rp 175,3 Miliar.
3). Telah dilatih tenaga kerja siap pakai di industri tekstil, alas kaki dan barang jadi kulit sebanyak 650 orang di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Sumatera Barat dan Jawa Barat.
4). Perluasan investasi dan pembangunan pabrik baru Indorama Synthetic dengan total nilai investasi US$ 400 juta untuk memproduksi PET Resin 88 Ribu Ton/Tahun, benang filamen polyester 389,6 Ribu Ton/Tahun, dan 500 Ribu Ton/Tahun PTA (bahan baku serat polyester dan botol plastik).
5). Investasi dan pendirian pabrik Sritex yaitu PT Rayon Utama Makmur senilai Rp.
5,9 Triliun di Solo untuk memproduksi serat rayon 80 Ribu Ton/Tahun, benang 700 RibuBales of Yarn, dan apparel 16 Juta pcs/tahun.
6). Pemberlakuan SNI Wajib telah dilaksanakan untuk produk sepatu pengaman dan Korek api gas pada tahun 2013, serta Mainan anak dan Pakaian bayi pada tahun 2014 dan telah disiapkan infrastruktur pendukung serta regulasi terkait pemberlakuan SNI wajib untuk handuk dan pakaian jadi.
7). Fasilitasi Bantuan Mesin dan Peralatan untuk Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta berupa Mesin penunjang Uji Lab.
8). Penyusunan Roadmap Industri Tekstil dan Alas Kaki Tahun 2015 – 2020 terkendala oleh permintaan dari pihak otoritas pengalokasi anggaran untuk terlebih dahulu melakukan Evaluasi Pelaksanaan Program Restrukturisasi terlebih dahulu sehingga waktu yang tersedia sudah tidak mencukupi.
l. Industri Permesinan
Salah satu fokus program pengembangan logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika adalah industri permesinan. Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut.
1). Pembangunan gedung Pusat Pengembangan Teknologi Industri Mesin Perkakas dan Alat Kesehatan.
2). Promosi kemampuan industri permesinan dan alat mesin pertanian (termasuk komponen) dalam rangka pengembangan akses pasar dalam negeri dan luar negeri.
3). Penyusunan RSNI Konverter Kit dalam rangka mendukung Program Konversi BBM ke BBG dan penyusunan RSNI Alat Mesin Pertanian;
4). Dalam rangka AEC 2015 telah diterbitkan SNI Wajib untuk regulator tekanan tinggi setelah dinotifikasi ke WTO dan telah disusun SKKNI bidang industri permesinan dan alat mesin pertanian sebanyak 3 (tiga) naskah.
5). Pengembangan kelembagaan (Alsintan Center) di daerah–daerah potensial pertanian di Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Pada provinsi Sumatera Barat dan Kalimantan Timur, Alsintan Center telah berdiri sedangkan pada provinsi Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan masih dalam proses penentuan lokasi.
6). Peningkatan kompetensi SDM industri permesinan dan Alsintan dibidang pengelasan, pengecoran, metal working dan Alsintan sebanyak 320 orang.
m. Industri Perkapalan
Program penumbuhan industri unggulan berbasis IPTEK yang dilaksanakan Kementerian Perindustrian mencakup 2 (dua) industri prioritas, yaitu industri perkapalan dan industri elektronika dan telematika. Hasil-hasil yang telah oleh dicapai industri perkapalan sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut.
1). Peningkatan kapasitas SDM melalui diklat dan sertifikasi pengelasan kapal, pengelasan bawah air, pelatihan coating, pengelasan non-ferro, Pelatihan manajemen galangan kapal serta pelaksanaan sertifikasi SDM juru las kapal sesuai amanat MoU Antara Dirjen IUBTT dengan Dirjen Binalantas sebanyak 400 orang.
2). Telah diterbitkannya PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 69 Tahun 2015 tentang Impor dan Penyerahan Alat Angkutan Tertentu dan Penyerahan Jasa Kena Pajak Terkait Alat Angkutan Tertentu Yang Tidak Dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Yang didalamnya termasuk PPN tidak dipungut untuk industri perkapalan.
n. Industri Elektronika dan Telematika
Industri prioritas kedua pada program penumbuhan industri unggulan berbasis IPTEK yang dilaksanakan Kementerian Perindustrian industri elektronika dan telematika. Hasil-hasil yang telah oleh dicapai industri perkapalan sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut.
1). Masuknya investasi baru dibidang industri elektronika dan telematika sebanyak 34 Perusahaan (PMA dan PMDN) dengan nilai investasi sebesar US$
215.415.984,- untuk PMA dan RP. 110.320.200.000,- untuk PMDN.
2). Selama Tahun 2015 terealisasi sebesar 4 usulan SNI dengan total produk yang diatur sebanyak 24 Jenis Produk, yaitu
a) SNI IEC 60335-2-14-2011 Peralatan listrik rumah tangga dan peralatan serupa – keselamatan - Bagian 2 -14 : Persyaratan khusus untuk peralatan dapur dengan mengusulkan 6 Jenis produk yang diberlakukan secara wajib
b) SNI IEC 60335-2-15-2011 Peralatan listrik rumah tangga dan sejenisnya – Keselamatan – Bagian 2-15: Persyaratan khusus untuk peralatan pemanas cairan dengan mengusulkan 6 jenis produk