• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA

122

123

berbagai tingkat perencanaan; pengembangan organisasi madrasah sesuai kebutuhan; kepemimpinan madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya madrasah secara optimal; mengelolah perubahan dan pengembangan madrasah menuju organisasi pembelajaran yang efektif; menciptakan budaya dan iklim madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik;

mengelolah guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal; mengelolah sarana dan prasarana madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal; mengelolah hubungan madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan madrasah, mengelolah peserta didik baru; penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik;

mengelolah pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional; mengelola keuangan madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien; mengelolah ketatausahaan madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan madrasah; mengelolah unit layanan khusus madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di madrasah; mengelolah sistem informasi madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan; memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen madrasah;

melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan madrasah dengan prosedur yang tepat serta merencanakan tindak lanjutnya.

124

Untuk mengetahui cara kepala madrasah menyusun rencana pengembangan madrasah yang berorientasi mutu, dapat dilihat pada hasil wawancara, observasi dan dokumentasi di MAN Kota Watampone sebagai berikut:

Sebagaimana penuturan H. Muslimin sebagai kepala MAN 1 Bone bahwa: Rencana pengembangan madrasah mencakup semua aspek meliputi perencanaan anggaran, pengembangan kurikulum, sarana dan prasarana, pengembangan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, dan kegiatan pengembangan kompetensi siswa. Dalam perencanaan madrasah selalu memperhatikan penerapan prinsip transparansi dan objektivitas. (2018, September 03). Sebagaimana yang dikemukakan juga H. Abbas selaku kepala MAN 2 Bone yang menyatakan bahwa: Setiap tahun diadakan rapat kerja dengan melibatkan stakeholder dalam penyusunan program beserta anggaranya, seperti program belajar mengajar, gaji PNS, gaji honorer, perbaikan sarana prasarana, kegiatan kesiswaan, dan lain-lain. Dalam penyusunan rencana kegiatan didasarkan juga pada analisis peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan madrasah. (2018, September 27).

Menurut penjelasan Tahar sebagai wakamad kurikulum MAN 1 Bone bahwa: Dalam rencana pengembangan madrasah, khususnya rencana pengembangan kurikulum, maka kepala madrasah bekerjasama dengan wakamad kurikulum dan Stakeholder yang terkait. (2018, Agustus 28). Senada penjelasan A. Salam Yusuf sebagai Wakamad Kurikulum MAN 2 Bone bahwa: Rencana pengembangan madrasah dilakukan dengan melibatkan stakeholder

125

madrasah. Masing-masing pemangku kepentingan diberikan kesempatan untuk mengajukan rencana pengembangan madrasah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Misalnya saya sebagai wakamad kurikulum, dimana kepala madrasah telah melimpahkan wewenangnya dalam hal pengurusan kurikulum dan pembelajaran, sehingga wakamad kurikulum mengusulkan mengenai hal-hal yang terkait dengan kurikulum dan pembelajaran. Begitupula kepala madrasah senantiasa menjalin komunikasi dalam pemberdayaan semua sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya yang ada di madrasah. Dengan pemberdayaan semua sumber daya, maka tidak akan terjadi kesenjangan, baik antara guru dengan guru, wali kelas dan orang tua siswa dan lainnya. Kepala madrasah senantiasa bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugasnya, sehingga sampai sekarang ini, belum pernah ditemukan kesenjangan- kesenjangan dalam kegiatan di madrasah. (2018, September 05). Oleh karena itu, dalam upaya meminimalisir kesenjangan pengelolaan madrasah maka hendaklah melibatkan stakeholder madrasah. Di samping itu, Menurut penuturan Agustan sebagai Wakamad Humas MAN 1 Bone bahwa: Dalam penyusunan perencanaan, kepala madrasah mengedepankan objektivitas dan transparansi. (2018, Agustus 29).

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dipahami bahwa kepala MAN Kota Watampone senantiasa melibatkan stakeholder dalam penyusunan perencanaan madrasah dalam segala aspek.

Sebagaimana yang dikemukakan Rahmadani Syarif sebagai pengelola

126

Laboratorium Bahasa MAN 1 Bone bahwa: Rencana pengembangan madrasah senantiasa melibatkan stakeholder diantaranya wakamad, guru, penanggung jawab laboratorium beserta laboran dan tekhnisi.

(2018, Agustus 30). Begitupula: Kepala madrasah senantiasa bertanya kepada pengelola laboratorium kimia mengenai rencana pengembangan laboratorium yang meliputi ketersediaan sumber daya di laboratorium kimia. Oleh karena itu, maka setiap tahunnya, atau setiap semester, kepala laboratorium dibantu oleh laboran yang ada mengajukan proposal tentang bahan-bahan yang dibutuhkan dalam laboratorium kimia. Bahan-bahan yang ada dalam laboratorium kimia secara umum adalah bahan-bahan yang habis pakai, seperti zat-zat kimia yang mudah menguap, sehingga dibutuhkan pengadaan bahan secara berkala, untuk pelaksanaan praktikum siswa. (Muh. Syukur sebagai Kepala Laboratorium Kimia MAN 1 Bone, 2018, September 30).

Begitupula perencanaan madrasah memperhatikan skala prioritas dan kebutuhan madrasah. Sebgaimana penuturan Muhammad Rafi sebagai wakamad Humas MAN 2 Bone bahwa: Rencana pengembangan madrasah dilakukan dengan memperhatikan skala prioritas. Misalnya, pada tahun ajaran baru 2018 terjadi peningkatan jumlah pendaftar siswa baru sekitar dua rombongan belajar. Oleh karena itu, kepala madrasah berusaha melakukan pengadaan mobiler seperti bangku dan kursi siswa. (2018, September 06). Dilain pihak Nurhaedah kepala TU di MAN 2 Bone bahwa Penyusunan rencana

127

kegiatan madrasah sesuai dengan kebutuhan madrasah. (2018, September 08).

Dari hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa perencanaan di MAN Kota Watampone, meliputi semua aspek yaitu perencanaan anggaran, pengembangan kurikulum, sarana dan prasarana, pengembangan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, dan kegiatan pengembangan kompetensi siswa. Perencanaan pengembangan madrasah melibatkan stakeholder madrasah seperti wakamad, guru-guru, pegawai, dan komite madrasah. Perencanaan dilakukan dengan melakukan analisis kondisi dan kebutuhan madrasah serta menerapkan prinsip transparansi, partisipatif, adil, dan obyektif. Perencanaan pada dasarnya memutuskan apa yang diinginkan dan apa akan dilakukan. Berdasarkan perencanaan madrasah yang meliputi semua komponen madrasah dan disusun dengan melibatkan stakeholder madrasah, maka meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu ciri madrasah yang baik apabila memiliki perencanaan yang jelas. Berdasarkan obdervasi maka dapat diketahui bahwa di MAN Kota Watampone memiliki perencanaan berupa visi dan misi yang tertulis di gedung madrasah, serta berdasarkan pemeriksaan dokumen maka diketahui bahwa telah tersedia dokumen Rencana Kerja Madrasah.

Jika ingin lebih detail, perencanaan harus bisa menjawab beberapa pertanyaan yang lebih familiar disingkat dengan 5W+1H.

Pertama what, what menyangkut apa yang ingin diperoleh madrasah.

Oleh karena itu perencanaan madrasah harus menjelaskan tujuan yang

128

ingin dicapai, baik dalam jangka waktu pendek, menengah, dan panjang, karena jawaban atas pertanyaan tersebut dijadikan dasar dalam perumusan perencanaan. Contohnya dalam perumusan visi, misi, tujuan, dan rencana kerja madrasah pertahunnya. Kedua why, why adalah lanjutan dan penjelasan mengenai "what" tujuan yang ingin dicapai oleh madrasah. Oleh karena itu, perlu dianalisis mengapa tujuan itu ditetapkan sehingga tujuan yang ditetapkan tersebut merupakan tujuan yang realistis sesuai dengan kebutuhan madrasah. Ketiga where, where berhubungan dengan dimana kegiatan–kegiatan madrasah akan dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam rencana kerja madrasah harus jelas tempat pelaksanaan kegiatan yang nantinya mudah dipedomani dalam pelaksanaan kegiatan, karena tempat merupakan salah satu faktor penentu dalam mewujudakan efektivitas dalam pelaksanaan kegiatan. Keempat when, when menjelaskan serinci rincinya terhadap waktu pelaksanaan setiap kegiatan yang direncanakan. Perencanaan waktu kegiatan hendaklah juga mempertimbangkan skala prioritas kegiatan karena dalam madrasah banyak kegiatan yang harus dilaksanakan guna mendukung pengembangan madrasah yang berorientasi mutu. Kelima who, who berkaitan dengan personel yang akan melaksanakan pekerjaan ataupun kegiatan. Oleh karena itu, berikanlah pekerjaan kepada orang yang memiliki keahlian, bakat, minat dalam melaksanakan pekerjaan.

Begitu pula harus ditentukan siapa sasaran dari kegiatan tersebut.

Keenam How, How menjelaskan bagaimana cara pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan yang sudah ditetapkan dilaksanakan.

129

Pelaksanaan pekerjaan didahului oleh perencanaan yang matang sehingga memudahkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Oleh karena itu, langkah-langkah pelaksanaan kegiatan secara garis besar perlu diuraikan dan dipedomani dalam pelaksanaannya.

Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam madrasah, perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh kepala madrasah dan para pengelola yang lain. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan madrasah akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan madrasah. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur‟an Surat Al Hasyr Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Perencanaan tersebut harus tersusun secara rapi, sistematis dan rasional agar muncul pemahaman yang cukup mendalam terhadap perencanaan itu sendiri. Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam madrasah tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target

130

kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang, sebagaimana madrasah adalah lembaga pendidikan Islam maka orientasinya bukan hanya di dunia tetapi juga diakhirat.

Untuk mengetahui cara kepala madrasah mengembangkan organisasi madrasah sesuai dengan kebutuhan, dapat dilihat pada hasil wawancara penulis dengan beberapa narasumber dan observasi di MAN Kota Watampone sebagai berikut:

Pengorganisasian merupakan suatu fungsi manajemen yang dilakukan setelah perencanaan, Pengorganisasian dilakukan dengan cara membagi tugas dan wewenang, menempatkan personel madrasah, dan penetapan dalam struktur organisasi dalam berbagai unit di madrasah. Sebagaimana penuturan H. Muslimin sebagai kepala MAN 1 Bone bahwa: Hal penting yang dilakukan untuk mengembangkan madrasah adalah melakukan pembagian kerja secara jelas dan menempatkan seseorang sesuai dengan pengalaman serta kemampuan yang dimilikinya. (2018, September 03). Begitupula Sebagaimana penuturan H. Abbas sebagai kepala MAN 2 Bone bahwa: kegiatan pengorganisasian di madrasah adalah melakukan Pendelegasian kewenangan dan tanggung jawab, mengarahkan pembina organisasi dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, kepala madrasah tidak terlalu sulit dalam melaksanakan tanggung jawabnya disebabkan adanya pembagian tanggung jawab yang baik. (2018, September 27). Berdasarkan penjelasan kepala MAN Kota

131

Watampone, maka dapat dipahami bahwa Kegiatan pengorganisasiaan berupa pembagian kerja, pemberian kewenangan dan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan serta pengarahan secara jelas dari kepala madrasah. Oleh karena itu, pembagian tanggung jawab yang baik akan memudahkan kepala madrasah dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Tugas pokok dan fungsi di madrasah saling terintegral dengan fungsi-fungsi yang lain.

Pengelola di MAN Kota Watampone mengetahui secara jelas bidang pekerjaan yang akan dilakukan di madrasah, Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ridwan Rahmat sebagai guru BK dan pengelola masjid MAN 2 Bone bahwa Kepala madrasah senantiasa menyampaikan uraian tupoksi masing-masing Unit. (2018, September 07). Senada hal tersebut diungkapkan oleh Suhaeni kepala TU MAN 1 Bone bahwa: Dalam pengorganisasian madrasah dilakukan dengan penempatan dan pemberian tugas dan fungsi (tupoksi) secara jelas untuk masing-masing pegawai, sehingga setiap pegawai yang ada di madrasah melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tupoksinya. (2018, Agustus 29). Oleh karena itu, dengan pemberian tugas yang jelas maka akan memudahkan dalam melaksanakan pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Baharuddin sebagai Kepala Laboratorium Komputer MAN 1 Bone bahwa: Dalam pengelolaan laboratorium ini dibantu oleh beberapa laboran/teknisi Hal ini ditetapkan oleh kepala madrasah dan setiap pegawai memiliki tugas yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

132

(2018, Agustus 29). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rahmadani Syarif sebagai Pengelola Laboratorium Bahasa MAN 1 Bone bahwa:

Sistem pembagian kerja yang dilakukan disesuaikan dengan bidang masing-masing. Misalnya untuk pengelolaan laboratorium bahasa dikelolah oleh beberapa guru mata pelajaran bahasa, seperti guru Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. (2018, Agustus 30).

Di lain pihak A. Salam Yusuf sebagai Wamad Kurikulum MAN 2 Bone mengemukakan bahwa pengorganisasian madrasah senantiasa berorientasi pada pengembangan madrasah. Oleh karena itu, kepala madrasah sering menyampaikan contoh, kiat-kiat kesuksesan pengelolaan organisasi madrasah lain. Berdasarkan contoh tersebut setidaknya akan dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam pengembangan madrasah. Kepala madrasah memberikan peluang kepada bawahannya untuk berinovasi dan mendorong terbangunnya proses kerjasama dengan berbagai pihak. Contohnya dalam menertibkan pelaksanaan pembelajaran maka guru wajib mengisi absensi kehadiran setelah mengajar, kelengkapan materi dan buku- buku mata pelajaran (2018, September 05).

Dari hasil wawancara di atas, bahwa cara yang ditempuh dalam pengorganisasian madrasah, adalah menyusun struktur organisasi berdasarkan kebutuhan melalui musyawarah; melakukan pembagian kerja sesuai dengan bidang keilmuan, pengalaman;

pembagian kerja berdasarkan aturan pengelolaan madrasah, serta menerapkan prinsip hirarki secara prosedural. Hal tersebut

133

memberikan gambaran tentang adanya kemampuan kepala madrasah dalam mengarahkan penyusunan struktur organisasi berdasarkan kepentingan madrasah. Sebagaimana pengorganisasian merupakan proses terciptanya penggunaan secara tertib terhadap seluruh sumber daya yang dimiliki oleh system manajemen. Oleh karena itu ketertiban menekankan bahwa penggunaan sumber daya tersebut berdasarkan pada tujuan sehingga tidak mengakibatkan pada pemborosan sumber daya dalam pencapaian tujuan madrasah. Proses pengorganisasian yang harus dilaksanakan dalam madrasah adalah pembagian pekerjaan, pemberian tugas kepada orang-orang untuk mengerjakan pekerjaan dengan memperhatikan kemampuannya, bakat dan kiat, mengalokasikan sumber daya yang dimiliiki, serta mengkoordinasikan upaya-upaya yang akan ditempuh. Organisasi sendiri bisa dilihat dari dua sudut pandang yaitu sebagai kesatuan dan sebuah proses. Sebagai kesatuan, organisasi merupakan kumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu tata hubungan yang formal untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, di madrasah perlu ada struktur organisasi yang permanen sehingga tergambar fungsi yang ada dalam madrasah dan dengan struktur tersebut akan memperjelas system arus komando, perintah, dan system kordinasi. Dengan demikian, maka dengan pengorganisasian yang bagus maka dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Selain pengumpulan data dengan wawancara juga dilakukan dengan observasi dan melalui dokumentasi. Berdasarkan observasi maka dapat dilihat dengan jelas adanya struktur organisasi MAN di

134

Kota Watampone secara permanen, serta adanya dokumen tupoksi masing-masing setiap bagian yang ada di madrasah.

Fungsi pengorganisasian mempunyai peranan yang sangat penting di dalam system manajemen, hal ini karena proses pengorganisasian adalah mekanisme utama yang digunakan oleh para manajer untuk menggerakkan rencana yang sudah disusun.

Pengorganisasian yang baik akan menciptakan serta memelihara hubungan antara seluruh sumber daya organisasi dengan menunjukkan sumber daya mana yang harus digunakan untuk suatu aktivitas tertentu, kapan harus digunakan, dimana, dan bagaimana cara menggunakannya. Upaya pengorganisasian yang tersusun secara baik akan menghindarkan kepala madrasah dari penduplikasian sumber daya dalam pelaksanaan kegiatan. Oleh karena itu, dalam pengorganisasian perlu diterapkannya prinsip-prinsip yaitu;

Kekuasaan dan tanggung jawab, disiplin, keterpaduan arah, kesatuan perintah, subordinasi kepentingan, remunerasi, keteraturan, inisiatif, rantai berkala, stabilitas hubungan kerja, keadilan, team work yang cerdas. Begitupula, tahapan proses pengorganisasian perlu diperhatikan, yaitu; merefleksikan tujuan dan rencana, menetapkan tugas-tugas utama, membagi tugas-tugas, mengalokasi sumber daya serta arahan untuk pelaksanaan tugas, dan mengevaluasi hasil-hasil dari strategi pengorganisasian yang sudah dilakukan.

Cara kepala madrasah memberdayakan sumber daya madrasah secara optimal dan mengelolah perubahan dan pengembangan

135

madrasah, dapat dilihat pada hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi di MAN Kota Watampone sebagai berikut:

Sebagaimana penuturan H. Muslimin sebagai kepala MAN 1 Bone bahwa: Semua sumber daya madrasah meliputi, keuangan, sarana prasarana, sumber daya manusia, dan tekhnologi informasi diberdayakan secara maksimal. Bukti pemberdayaan sumber daya yaitu mempergunakan anggaran sesuai dengan kebutuhan dan aturan yang berlaku; melakukan pembagian kerja yang jelas, memanfatkan dan memelihara sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan; serta pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi. Khusus dalam rangka meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya maka senantiasa dimotivasi dan diberikan pelatihan sesuai dengan bidangnya. (2018, September 03). Dilain pihak H. Abbas sebagai kepala MAN 2 Bone menuturkan bahwa: Pemberdayaan sumber daya tersebut melalui perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan pengawasan. Bentuk pemberdayaan sumber daya manusia diawali dengan perencanaan sesuai dengan kebutuhan, perekrutan, penempatan sesuai dengan keahlian, minat dan bakatnya. pengarahan dan pemberian motivasi, pengawasan, dan pelatihan-pelatihan.

Penempatan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat dimaksudkan untuk menumbuhkan motivasi kerjanya. Pengawasan dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan dari suatu tugas dan fungsi yang sudah dibebankan kepada personel madrasah sehingga bisa membangun kedisiplinannya dalam bekerja. Sementara pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilanya

136

dalam bekerja sehingga terwujud efisiensi dan efektivitas kerja.

Adapun pemberdayaan sarana prasarana ditandai dengan difungsikannya seluruh sarana prasarana sebagaimana mestinya.

Kemudian pemberdayaan sumber daya keuangan melalui perencanaan, realisasi anggaran, pengawasan dan laporan pertanggung jawaban penggunaan anggaran tersebut. Kemudian sumber daya informasi dikelolah sebaik-baiknya dalam hal pengambilan keputusan.

(2018, September 27).

Dari penjelasan tersebut maka dapat dipahami bahwa dalam upaya mewujudkan pemberdayaan sumber daya maka perlunya diterapkan fungsi-fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Sebagaimana pula dikemukakan oleh Tahar sebagai Wakamad Kurikulum MAN 1 Bone bahwa pengawasan senantiasa dilakukan terhadap perencanaan dan pelaksanaa proses pembelajaran. Salah satu tujuan dilakukan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kedisiplinan guru dalam melaksanakan tugasnya. (2018, Agustus 28). Senada yang dikemukakan oleh Suhaeni kepala Tata Usaha (TU) MAN 1 Bone bahwa pengawasan terhadap guru dan pegawai bertujuan untuk mengoptimalkan menjalankan tugasnya. Kemudian mengoptimalkan anggaran sesuai dengan peruntukannya, serta melengkapi dan memanfaatkan sarana dan prasarana sesuai dengan fungsinya. (2018, Agustus 29).

Begitupula berdasarkan hasil observasi dan wawancara maka dapat diketahui bahwa semua unit-unit yang ada di MAN Kota

137

watampone dimaksimalkan dalam pengelolahannya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sudirman Abu sebagai Kepala Perpustakaan MAN 1 Bone bahwa Unit perpustakaan senantiasa berusaha memberikan pelayanan optimal kepada siswa dan guru guna menunjang kelancaran proses pembelajaran. Oleh karena itu, disediakannya buku-buku sesuai dengan kebutuhan serta menyesuaikan dengan kesiapan anggaran. (2018, Agustus 28).

Begitupula menurut Wahyu sebagai Kepala Unit BK MAN 1 Bone bahwa: Senantiasa dilakukan Pelayanan Bimbingan Konseling di madrasah, baik terhadap siswa yang bermasalah maupun siswa yang tidak bermasalah secara optimal. (2018, Agustus 30). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Baharuddin MAN 1 Bone sebagai Kepala Laboratorium Komputer bahwa: Pegawai laboratorium komputer senantiasa memberikan bimbingan komputer kepada siswa dengan melakukan penjadwalan yang disesuaikan dengan jumlah siswa sehingga semua siswa terlayani dengan baik. Terlebih lagi proses bimbingan komputer dilakukan mulai pagi sampai sore pada saat menjelang Ujian Nasional. (2018, Agustus 29).

Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat juga dipahami bahwa optimalisasi pelayanan di unit-unit tidak terlepas dari semangat dan gairah kerja pengelola unit tersebut. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sukri sebagai Operator Keuangan MAN 2 Bone, bahwa penempatan pegawai sesuai dengan latar belakang pendidikan, bakat dan minat maka hal tersebut mempengaruhi semangat kerja. Hal itu disebakan karena adanya pengetahuan untuk melakukan pekerjaan

138

tersebut. (2018 November 2017). Dengan demikian, bahwa penempatan pegawai sesuai dengan latar belakang pendidikan, bakat, dan minat maka akan mempengaruhi semangat kerja.

Menurut penjelasan A. Salam Yusuf sebagai Wakamad Kurikulum MAN 2 Bone bahwa Kepala madrasah telah melimpahkan kewenangan dalam hal pengurusan kurikulum dan pembelajaran Oleh karena itu sebagai wakamad kurikulum senantiasa berusaha untuk memberdayakan segala sesuatu yang terkait pengembangan kurikulum di madrasah, termasuk guru, sarana dan prasarana, perangkat pembelajaran, dan pengawasan dengan menyertakan jurnal mengajar guru yang dibawa oleh tenaga kependidikan setiap jam pelajaran. (2018, September 05).

Berdasarkan pernyataan Asdar sebagai operator data EMIS MAN 2 Bone bahwa: Dengan tersedianya fasilitas penunjang dalam melaksanakan pekerjaan seperti komputer, jaringan wifi, meja kerja yang bagus, serta ruangan yang luas maka akan membangun motivasi kerja. (2018, September 05). Dengan demikian, motivasi kerja dipengaruhi oleh fasilitas yang memadai.

Salah satu aspek yang seharusnya mendapat perhatian oleh setiap pengelolah lembaga pendidikan adalah mengenai fasilitas yang secara langsung dipergunakan dalam menunjang proses pendidikan, seperti gedung, ruangan belajar, alat atau media pendidikan, mobiler, taman, lapangan olahraga, taman bermain, wifi, dan sebagainya. Jadi secara umum sarana prasarana sebagai penunjang keberhasilan pendidikan.

139

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wakamad Kesiswaaan MAN 2 Bone yaitu Muh. Nur Musbir bahwa: Kepala madrasah menerapkan sistem pembagian kerja secara jelas dengan memperhatikan kemampuan, bakat, dan minat. Contonya; Pembina organisasi ditetapkan melalui rapat dengan warga madrasah. (2018, September 05).

Menurut Hj. Nurhaedah sebagai Wakamad Sarana dan Prasarana MAN 2 Bone bahwa: Sarana prasarana madrasah diberdayakan secara optimal. Akan tetapi sarana dan prasarana di madrasah ini masih perlu ditingkatkan namun hal tersebut sangat terkait dengan kesiapan anggaran di DIPA madrasah. (2018, September 27). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Maryana sebagai Kepala Perpustakaan MAN 2 Bone bahwa: Dalam pemberdayaan sumber daya dalam mewujudkan perubahan di madrasah adalah pengadaan sarana dan prasarana, perbaikan sarana dan prasarana, misalnya renovasi terhadap ruangan Wakamad- wakamad, ruang BK, serta pengadaan taman baca disetiap belakang ruang kelas. Sedangkan untuk perubahan yang ada diperpustakaan adalah tersedianya LCD di perpustakaan berdasarkan permintaan yang diajukan oleh pengelola perpustakaan. Dengan adanya LCD tersebut diharapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran, misalnya ketika ada kelas yang tidak belajar karena guru tidak hadir dengan alasan tertentu, maka siswa dapat digiring ke perpustakaan dan dengan media LCD itu, diputarkan video-video yang bernuansa pendidikan.

Keberadaan LCD ini, tidak hanya dipakai oleh perpustakaan, tetapi

Dokumen terkait